Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.


.:things we've shared:.

.

i;

(so, give me one reason.)

.


Levi tahu ini bukan cerita romantis.

Ia dan Hanji tidak akan pernah menjadi subjek dari cerita-cerita itu, tidak. Sekali pun, ia tak pernah berpikir, akan ada hal-hal seperti itu di kehidupannya yang bersama Hanji. Mereka terlalu jauh dari itu, dua entitas beroposisi yang Levi yakin, katastrofe positif ketika untuk pertama kalinya ia bertemu dengan perempuan itu, yang kemudian jadi rekannya, yang kemudian jadi partner kerjanya, yang kemudian (ia tak pernah mau mengakui ini di hadapan Hanji, tidak) jadi sahabatnya. Mungkin ia mulai mengakui, tapi tak pernah lebih dari itu. Atau jika ingin lebih agresif, label musuh akan dengan senang hati ia tandaskan. Alih-alih "hal-hal lain yang lebih dari sahabat".

"Gila." Hanji menggumam kecil, namun menusuk. Netra cokelatnya berkilat, segala humorisme yang kasualnya terpancar dari sana hilang entah ke mana. "Kau gila, Levi."

Levi, yang dituding, menyilangkan kedua lengannya. Ia yakin sudah melepas jas dan dasi yang mengikatnya, menyisakan kemeja putih bersih yang ia gulung sampai lengan, yang ia buka sampai kancing kedua, tapi-masih menyesakkan sesuatu di dadanya.

"Dengar," Levi mengujar pendek. "Kau membutuhkanku." Mencuri satu langkah mendekat, mencari mata Hanji. "Aku membutuhkanmu."

Hanji mundur dua langkah. Menjauh.

Hampir lima tahun mengenal Levi, inilah kali pertama Hanji merasa terintimidasi. Kepada mata gelap Levi di hadapannya, yang kemudian menghunjam tepat di sienna-nya. Tak boleh. Hanji meyakinkan. Ia tak boleh tenggelam.

"Well, kita tidak akan meneruskan pembicaraan ini." Final, Hanji berpaling, merampas tas tangannya di sofa Levi, memutuskan segala tensi keduanya.

Levi tak menahan. Ataupun membantah. Ia terlalu Levi untuk melakukan semua itu. Meski dalam hati menghitung, setiap langkah yang Hanji ambil, mendekat kepada pintu keluar kamarnya, ada harap-harap yang terbersit sejumlah onomatope langkah itu.

Levi tak menahan. Levi tak membantah. Ia hanya tahu, Hanji akan berhenti dan—

"Berikan satu,"

—kembali berpaling padanya.

Ketika ia menangkap mata Hanji lagi, ia melihat kilat itu. Keraguan yang beraversi dengan keyakinan. Mungkin ia sudah terlalu lama mengenal Hanji, begitu pun sebaliknya. Namun yang Levi tahu pasti, ini tidak cukup. Ratusan hari ini dan bahkan ribuan hari-hari kemudian tetap tidak akan cukup untuk satu sama lain.

"Berikan satu alasan kalau begitu." Sienna Hanji menusuk kelabunya. Hingga terkadang, Levi membutuhkan adjektif lebih dari cantik untuk mendeskripsikan pandang-pandang Hanji itu. "Berikan satu alasan mengapa pernikahan ini harus kita lakukan."

Levi sudah lupa rasanya tersenyum. Yang ia tahu, belah bibirnya akan bergerak kepada beberapa hal menarik, dan ia tak akan menyebut itu sebagai senyuman. Sebab sudah lama ia tak merasa personifikasi senyum yang hidup dari dasar belah dadanya, untuk kemudian menyambang pada belah bibirnya.

Tetapi kali ini, ia ingin tersenyum. Jenis senyum refleks yang kemudian Levi sadari, tidak memerlukan alasan. Ia ada dan dengan begitu saja hadir, tak memerlukan saraf hati ke otak, atau sebaliknya, senyuman jujur di mata yang diperuntukkan untuk metafora-metafora perasaannya.

"Kau tak perlu ke bank sperma untuk ... mewujudukan keinginan masa depanmu?"

.

[tbc.]


a/n: another story and yes more drama. it will become short-multichapter fic with less than 1k words in every chapter, but more heavy than con amore (not so heavy, but i mean, it will contain some mature clonflict and stuff) and yes, hanji and levi are an adult here. she's 27 and he's 32. i hope you okay with that :) anddd i'm so sorry con amore (and some of my mc story) not finish yet but i can't help it to write another one ;_; hope this one going well.

thank you for always having me!