Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.
Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.
.:things we've shared:.
.
ii;
(i see forever in your eyes.)
.
Terkadang, independensi bagi beberapa orang adalah salah satu penentangan takdir, kodrat, atau apa pun itu yang disebut oleh orang-orang tradisional. Meski kesetaraan gender sudah digaungkan ke mana-mana, tetapi masih dan akan selalu ada bagian-bagian orang tradisionalis yang menganggap semua itu omong kosong, tak perlu dibantah lagi kekeliruannya.
Hanji hidup di kota yang bukan tradisionalis, meski tidak sesekuler New York dan pesisirnya, tapi Tokyo adalah bagian dari itu. Jadi, Hanji tak merasa terkungkung akan pemikiran-pemikiran modernnya. Ia bukan tak menghargai tradisi, tapi bumi akan terus berputar dinamis, sedang kita tak akan bisa statis berdiri di satu sisi yang sama seperti waktu-waktu sebelumnya.
"Mike bilang siang nanti kita sudah bisa mencoba trial cake dan mengecek keperluan buket bunga yang diperlukan." Levi menatap kepada layar laptopnya, meski ujar-ujarnya ia tunjukkan kepada Hanji yang duduk statis di sofa ruang kerjanya. "Kau bisa mengosongkan waktu, atau minta bantuan Petra menjadwal ulang jika ada meeting yang harus kau hadiri."
Hanji menipsikan bibir. Tangannya terlipat di depan dada. Tidak ada yang berubah. Ia di ruangan kerja Levi, mencuri waktu untuk sekadar mengobrol, menukar tawa dan sesekali berbicara tentang klien mereka, melupa dengan sengaja bahwa waktu brunch seharusnya hanya tiga puluh menit.
"Tenang saja, aku kosong sesiangan ini." Hanji menjawab tenang, masih memerhatikan Levi di hadapannya. "Dan akan kosong terus-menerus karena siang-siangku nanti akan diisi segala tetek bengek pre-wedding ini—" Hanji berhenti sejenak, merasa mual. "—sial, topik ini masih mengganggu sistem lambungku."
"Good." Levi menjawab dan terlihat tak mengindahkan potongan kalimat terakhir Hanji. "Aku akan mulai mengosongkan jadwal siangku juga mulai hari ini." Ia menghela napas dan menutup laptopnya.
Kemudian menatap Hanji.
Hanji balas menatapnya lama, mempelajari bahwa ekspresi Levi masih seabu itu. Ia perlu menggali dalam kepada matanya supaya ia bisa membaca segala ujaran Levi Ackerman. Hal-hal yang tak pernah ia pikirkan, bahwa akan menjadi hal penting selama hidupnya mengenal Levi.
"Kurasa kita perlu membeli cincin." Akhirnya terujar ketika Levi memutus pandangannya. "Kita perlu cincin."
Hanji mengerling kepada rekannya itu. Merasa familier dan tidak familier. Sebab profesionalisme akan pernikahan ini memberatkan relasi keduanya. Memecahkan kasualitas yang biasa mengalir lancar; tak peduli topik apa yang mereka bicarakan, tak peduli satu sama lain, namun tersirat saling mengatensi. Hanya itu, dan Hanji yakin segalanya berjalan sempurna. Bahwa pada akhirnya, ia punya Levi di segala bisnis dan nonbisnisnya, kantor dan rumahnya, formal dan informalnya, independensi dan mimpi-mimpinya.
"Kita bisa memakai cincin pernikahan ibu dan ayahku, kalau kau mau," balas Hanji kemudian.
Konversasi mereka mengalir kemudian, kepada topik-topik yang sebelumnya tak pernah mereka sentuh, peraturan post-marriage, daily marriage rules—oh yaampun, Hanji merasa konyol, sebab hal-hal seperti ini hanya ada di picisan-picisan belaka. Bahkan ia dan Levi jauh dari hal-hal itu.
Tapi—Hanji masih ingin punya anak. Meski tanpa menikah pun. Itulah yang orang-orang tau. Dan Levi tahu baik. Hanji punya mimpi-mimpi yang eksentrik, dan tak terlihat biasa. Ia ingin punya anak—tanpa melakukan sexual intercorse apa pun. Hanji berencana datang ke bank sperma, dan membayar sperma dengan kualitas terbaik. Bukan berarti ia takut berhubungan seksual, sebab Levi tahu, beberapa kali, Hanji melakukan one night stand dan relasi-relasi no string attach lainnya. Tapi, ia tak ingin terikat relasi. Ia ingin punya keluarga, tanpa harus terikat pada relasi-relasi tradisionalis ini. Setidaknya, itu yang Levi tahu, ketika Hanji bercerita sambil menangis tentang trauma personnya; Erwin Smith.
Sejak saat itu, Hanji tak pernah memiliki hubungan serius dengan pria mana pun.
Sedang Levi?
Levi tak pernah merasa akan ada masa di mana ia melamar seorang wanita dan menawarkan satu kehidupan baru. Terbersit, mungkin pernah, hanya, Levi tak menyangka akan secepat ini. Ia tiga puluh dua, dan masih ada tiga sampai lima tahun lagi untuk mencapai batas usia siap untuk itu semua.
Jika Hanji mengalami post-traumatik di satu relasi bertahun-tahunnya, Levi tak pernah merasa perlu membangun relasi-relasi itu. Hidupnya berputar antara satu wanita ke wanita lainnya, hubungan tanpa label yang bisa kapan saja Levi tinggalkan; tanpa tuntutan, tanpa meminta lebih. Ia akan menghargai siapa pun yang hadir di malam harinya, memenuhi kebutuhan work out-nya, untuk kemudian pergi sebelum sempat ia terbangun di pagi hari. Menghindari pertemuan kedua atau ketiga, dan selanjutnya. Sebab bagi Levi, jatuh cinta tidak ada di dalam kamus hidupnya.
Dan menikah pun tidak ada di dalam rencana waktu jangka pendeknya.
Mungkin, Kenny Ackerman—ayahnya, punya andil besar akan keputusannya ini.
Ketika di suatu larut malam, pintu apartemennya diketuk, disambut dengan senyum tua yang lama sekali tak Levi lihat. Levi hampir bertemu ayahnya setiap hari (karena bagaimanapun, ia bekerja di tempat yang sama, di bawah nanungan Ackerman Enterprise), tetapi melihatnya dengan tatap sayu dan sendu khas ayah, tak jarang ia temukan.
"Kau tahu Levi, terkadang, hidup itu mengajak kita berlari," mulainya ketika itu. Levi tak menyukai konversasi penuh metafora seperti ini. "Dan ketika kau tak sanggup berlari, kau hanya bisa berjalan lambat, terseok-seok, menunggu kapan akhirnya kau harus berhenti."
Levi menatapnya enggan. "Kau yakin kita punya waktu untuk berbicara penuh perumpamaan di tengah malam seperti ini?"
Kenny tertawa kencang, sampai terbatuk. Sekali lagi mengingatkan Levi akan waktu yang terus-menerus berputar.
"Aku tak hidup selamanya, son," ujar Kenny kemudian. "Aku akan mati, entah dalam waktu dekat, atau sangat-sangat dekat." Levi menangkap lagi senyumnya yang sendu. "Ackerman Enterprise membutuhkan CEO baru, toh, ketika aku mati. Dan sudah jelas, itu bukan Isabel, adikmu."
Pada akhirnya, Levi paham arah pembicaraan ini. Tiga puluh dua tahun hidupnya, terkadang ia menyesali menjadi sulung dan anak laki-laki.
"Cepat atau lambat, kau harus menggantikan posisiku. Dan kau tahu, faktor terbesar untuk menyukseskanmu—membuat orang-orang percaya akan kredibilitasmu, bagaimana kau berkomitmen pada suatu jabatan dalam pekerjaanmu ...," Kenny menghela napas. "Harus dimulai dengan kau membangun komitmen dengan satu wanita." Levi tahu ujaran selanjutnya, bahkan sebelum Kenny kembali melanjutkan.
"... dengan kata lain, kau harus menikah."
Dan begitulah.
Ketika pada akhirnya, Levi tak punya wanita lain yang ia pikirkan untuk ia tawarkan masa depannya, selain kepada Hanji Zoe.
.
[tbc.]
a/n: two chapters in one day because why not? :)
