Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.


.:things we've shared:.

.
iii;
( see was trouble, once.
but then, she's smile. )

.


Ini bukan kali pertama Hanji bertemu Kenny Ackerman, ayah Levi, yang secara teknis, merupakan bos utamanya.

Hanji menghabiskan sisa lima tahun belakangan untuk bekerja pada Ackerman Enterprise, sebuah perusahaan farmasi Internasional yang secara tidak langsung memenuhi renjananya. Hanji bercita-cita menjadi dokter, namun kemudian menyadari bahwa mengabdi dan menangani pasien secara langsung bukanlah hal yang ia inginkan. Ia pernah mengubah tujuannya menjadi scientist, kemudian penulis, kemudian ilustrator, sampai-sampai Mike menyebutnya gila ketika di suatu malam Hanji menggumamkan profesi impian barunya; menjadi astronaut.

Tapi, kemudian, ia bertemu Isabel Ackerman. Bungsu Ackerman. Isabel mengenalinya pada Ackerman Enterpraise, mengenalinya pada profesi yang selama ini bahkan tak pernah ia sadari, mengenalinya pada dunia farmasi, yang tidak hanya tentang kedokteran, tidak hanya tentang obat-obatan, profesi yang mengombinasikan passion serta ketertarikannya sebagai seorang farmasis.

Melalui Isabel juga, ia mengenal Levi.

Levi yang dulu punya jabatan di atasnya, bos tidak lanngsungnya, sampai kemudian menjadi rekan ketika bertahun-tahun kemudian Hanji diberikan promosi jabatan. Dan menjadi partner. Dalam pekerjaan, ataupun di luar pekerjaan. Menjadi Levi yang menahannya pulang suatu malam ketika mereka lembur rapat, menariknya makan malam secara impulsif. Menjadi Levi yang suatu pagi bertandang ke ruangannya, memuntahkan segala umpatan untuk klien mereka yang kabur dari proyek. Menjadi Levi yang kemudian statis menculiknya makan siang, makan malam, larut malam. Menjadi Levi yang mengantarnya sampai kamar tidur ketika Hanji terlalu mabuk untuk menyetir, atau, ketika ia sibuk menjadi wingwoman untuk Levi dan malah berakhir menghancurkan malamnya dengan wanita-wanita lain karena mereka selalu salah paham menganggapnya lebih dari teman.

Menjadi Levi yang kini, duduk bersama di sampingnya, menghadap kepada Kenny Ackerman bukan secara profesional, namun lebih dari personal.

"Zoe. Hanji Zoe. First level production manager Ackerman Enterprise." Kenny mengamati Hanji. "Benar?"

Dan ketika akhirnya Levi membuka suara, tentang rencana mereka, tentang keputusan final yang Levi ambil, tentang seberapa besar Levi yakin akan keputusannya, untuk pertama kalinya, Hanji merasakan hatinya menghangat. Menghangat karena tatap-tatap Levi yang tak pernah ia lihat, yang terlalu berbeda dengan tatap-tatap kasual yang selama ini Hanji kenal.

Meski sedikit banyak, hal-hal personal tentang simbiosis mutualisme antara ia dan Levi tak terucap di depan Kenny, namun, Hanji melihat keyakinan di tatap abu itu. Tatap yang tak pernah ia lihat lebih dari sebatas pertemanan, relasi zona nyaman yang tak memerlukan perubahan.

"Kau tahu, Zoe? Dua tahun lalu ketika kau berkunjung ke rumah kami bersama Isabel di malam tahun baru, namun berakhir menghabiskan waktu dengan Levi, kukira aku sudah salah mengartikan relasi kalian." Kenny tertawa dalam seraknya, atensinya menghangat. "Tapi kurasa intuisi seorang Ayah tak pernah salah."

Hanji hanya tersenyum kecil, menahan perasaan taksa yang kini menghunjam belah dadanya. Ia tak pernah melihat Ackerman senior sehangat ini, dan entah mengapa, ini membuatnya segalanya terlihat lebih mudah.

"Kau tahu intuisimu tak sebagus itu," Levi menjawabnya malas, memutar netra.

Kenny tertawa lagi, "Terima kasih kembali, son." Hanji refleks tertawa, gugup, ketika Kenny berdeham dan melanjutkan. "Yang perlu kalian ingat, relasi khusus di dalam satu lingkup profesional bukanlah sesuatu yang dianggap baik." Hanji merasakan ekspresi Levi yang menegang. "Tapi kalian harus bersyukur, Ackerman Enterpraise tak punya aturan-aturan itu. Terlebih, ketika Levi sudah menggantikanku nanti, mungkin tatap muka profesional kalian tidak akan sesering saat-saat ini." Kenny melanjutkan. "Tetap jaga kualitas kerja kalian, profesionalisme, apa pun itu. Aku tidak akan menoleransi kesalahan sekecil apa pun."

Sedikit banyak Hanji tahu, mengonvergenkan relasi pekerjaan dengan pribadi bukanlah suatu hal yang dianggap baik. Meski perusahaan tersebut tak memiliki peraturan-peraturan itu, meski Ackerman Enterprise bukanlah stereotipe perusahaan yang beroposisi pada hal semacam itu. Tapi, yang Kenny katakan adalah logis, bagaimanapun, relasi profesional mereka dipertaruhkan di sini.

"Aku mengerti. Terima kasih, Ackerman-san," Hanji menemukan suaranya.

Kenny menatapnya. "Kau wanita pintar, Zoe. Aku yakin kau dan Levi sama-sama mengerti dengan baik posisi kalian."

Satu senyuman, lelaki tua itu pun meninggalkan mereka berdua.

Hanji menghela napas.

Levi mengempaskan tubuhnya.

Hening mendominasi.

"Kurasa kau benar, mata empat," Levi mendesis. "Aku memang gila."

.

[tbc.]