Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.


.: things we've shared :.

.

iv;

(i want you.)

.


"Peduli menjelaskan padaku tentang semua ini, Levi-nii?"

Levi menghela napas, memijat pangkal hidungnya yang tetiba pening. Inilah yang kemudian terlambat ia sadari; Isabel. Dan relasi-relasi kelewat akrabnya dengan Hanji. Maka dari itu, Levi punya ribuan eksplanasi untuk segala karut-marut rencana pernikahannya kepada adik bungsunya ini.

"Isabel,"

"—tidak, no." Isabel menarik kursi di depan Levi, melipat kedua lengan di atas dadanya. "Jelaskan. Dari. Awal."

Jika ada satu orang yang berani memerintah Levi di dunia ini selain ayahnya (dan Hanji). Itu adalah Isabel. Dan terkadang, Levi tak mengerti, dari seluruh entitas di muka bumi ini, mengapa soft spot yang pada akhirnya ia miliki jatuh kepada adik perempuannya ini.

Merepotkan.

"Kau bisa mendatangi Hanji—"

"—Aku. Minta. Penjelasanmu. Aniki."

Levi menghela napas berat. Lagi. Dan lagi.

"Kalau ada orang yang harus disalahkan dari rencana pernikahan diam-diam antara kalian berdua ini," Mata Isabel masih menuntut. "Kau adalah orangnya, Levi-nii."

Dan begitulah. Pada akhirnya, Levi menjelaskan rencana pernikahannya kepada Isabel.

Dengan latar belakang palsu yang telah mereka siapkan.


"Kurasa Isabel berhak marah." Hanji menarik kursinya mendekat pada Levi, memerhatikan sosok itu yang kini menenggelamkan wajah pada meja kerjanya. Dari sini, Hanji dapat mendengar erangan kesal dari pria itu.

"Funny," Hanji mendengar Levi membalasnya. "Karena ia hanya marah padaku, dan tidak denganmu?" Levi mengangkat wajah dan menatap Hanji kesal. "It's so fcking funny."

Hanji ingin melepaskan tawa, hanya saja, ini bukan saat yang tepat. Hanji tahu, Isabel hanya kesal, dan ia dapat membaca kekesalan itu di mata bungsu Ackerman itu ketika menatapnya. Namun Hanji memang selalu menjadi soft spot bagi Isabel, Hanji mengerti bagaimana bersikap tenang dan menjelaskan dengan hal-hal logis, dan bukannya balas impulsif seperti balasan yang Levi ujarkan kepada adiknya itu.

Isabel hanya butuh pengakuan, toh. Sebab selama ini ia merasa telah menjadi salah satu sosok yang dekat dengannya, juga dengan Levi. Menjadi adik manja yang terkadang egois. Jadi, itulah mengapa Hanji menganggap kemarahannya adalah suatu kewajaran.

"Percaya padaku, ia tak akan bertahan lama marah denganmu." Hanji berkata lagi, dengan ringan menyentuh bahu Levi dengan telunjuk dan memainkannya di sana. "Lagi pula, ini risikomu, kan?" Hanji terkekeh kecil. "Memang kau tak bisa memberitahunya lebih awal, toh. Sebab ide pernikahan ini tidak pernah ada dalam rencana awalmu."

Levi membekap mulut Hanji, main-main mengancam dalam dekapan. "Jaga ucapanmu, mata empat." Levi membiarkan Hanji menggigit tangannya. "Kau tak tahu siapa yang bisa mendengar suara berisikmu itu."

Levi melepaskan Hanji setelah wanita itu mulai memberontak lebih jauh. Wajah Hanji memerah menahan napas, mentransfer tatapan tajam kepada Levi yang kembali tak mengacuhkannya. "Why did I married you again?"

"Karena kau juga ingin, kan?"

Hanji terdiam. Levi menyeringai.

"Because you want me too."

"Jangan membuatku tertawa, Ackerman." Hanji merotasikan netranya. Kembali duduk di tempatnya. Akhir-akhir ini, ia begitu sulit membaca Levi. Tiba-tiba saja, ia berubah menjadi seseorang yang sulit Hanji pahami. "Dan sekarang kau bilang kau ingin aku, begitu?"

Levi tak segera menjawab. Lelaki itu mulai melarikan netra pada tumpukan dokumen-dokumen di meja kerjanya. Hanji tahu Levi mendengar, dan Hanji tahu Levi akan menjawab.

Dan ia menunggu.

Sampai akhirnya, Levi benar-benar menjawab. "Karena memang aku ingin kau."

Levi berhenti menatap dokumennya. Mata kelabu itu kini menatap cokelat di mata Hanji. Tatapannya statis, penuh akan yakin-yakin, yang membuat Hanji sendiri takut akan tatap terlalu jujur itu.

"Aku menginginkanmu, Hanji Zoe."

.

[tbc.]