Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.


.: things we've shared :.

.

v;

(make me)

.


Hanji tak pernah bertanya, dan tak pernah ingin bertanya. Meski Levi pernah menjadi yang paling mengerti, yang menggenggam jemarinya, memeluknya, mengacak rambutnya, Hanji tak pernah bertanya tentang hal-hal di luar keplatonikan relasi ini. Dan ia tak perlu bertanya. Sebab tentu saja, sudah jelas, Hanji tak pernah merasa lebih, dan begitupun Levi. Mereka hidup dalam lingkaran infiniti yang memang tak memerlukan batas. Mereka mengontrol kehidupan dengan amat baik, dan segalanya baik-baik saja. Sebab kepada waktu yang telah berlalu, menurut Hanji ini sudah cukup, lima tahun, cukup untuk memutuskan bahwa mereka tak pernah melihat satu sama lain lebih dari relasi platonik.

Levi mengerti tentang perasaan Hanji kepada Erwin, dan Hanji mengerti perasaan Levi kepada kebebasan. Ia tak pernah menuntut Levi menjadi pribadi yang lain. Bahwa ia tahu Levi tak menyukai komitmen, dan itu tidak masalah. Sebab Levi selalu bisa mengontrol diri, membawa dirinya satu tingkat di atas Hanji yang terkadang lepas kontrol. Levi di sana, menjadi dinding yang kemudian selalu ia pegang, menjadi yang penuh logika, berpikir di atas fakta-fakta dan objektivitas. Yang tak pernah melakukan cacat kesalahan.

Namun kali ini, Hanji tak mengerti. Seberapa keras ia mencari-cari jawaban, mencari-cari arti ketika kelabu Levi menghunjam dengan ekspresi penuh yang tak pernah Hanji lihat, ketika Levi melepaskan emosi tentangnya, ketika mereka beroposisi atas nama relasi yang semakin taksa, ketika Levi memeluknya tidak seperti biasa, menariknya mendekat, tak ingin melepas, melarikan kedua tangan pada tubuh-tubuh Hanji, merasakan napas mereka berkonversi, mengecup di belah-belah bibir, di tengkuk dan dada, melepaskan desah nama Hanji, mengecupnya sekali lagi, dan lagi, lagi, lagi.

Sampai Hanji merasa pikirannya berkabut. Tak lagi bisa ditoleransi. Hingga ia melepaskan pertahanannya, membalas kecup-kecup itu, balas mendesahkan namanya, mengikuti irama Levi, membebaskan tubuh-tubuh yang hampir bereksplosi.

"L-Levi ...,"

Dan keduanya saling berkonvergensi.

"Kau milikku."

Satu empasan yang Levi bisikkan, memberatkan netra Hanji. Membuat pikirannya kembali melayang, merasakan perasaan senang yang sementara, namun kemudian ... taksa.


"—ji, Hanji. Oi, Hanji."

Hanji membuka kelopak netra dan tak siap akan serangan spektrum yang membuat matanya kembali mengejap.

"Hei, kau ketiduran, ya. Sudah lewat dari jam lima, Levi menunggumu dari tadi, tuh."

Ketika mendengar suara tipikal yang begitu akrab di telinganya, Hanji kembali membuka mata. Mike—berdiri di sana, dengan tatap-tatap malas dan tak sabar.

"Mike—"

Mike menggaruk kepalanya. "Yo. Sudah cepat, tidak ada waktu untuk mengulet dan cernalah semua sambil berjalan."

Hanji refleks menurut, mengangkat tubuh yang telungkup pada meja kerjanya. Ia usap wajahnya sekali, mematikan laptop dan membereskan sekilas meja kerjanya, mencari-cari tas kerja dan ponsel yang masih berkedip-kedip (ah, pasti Levi yang sudah menunggu terlalu lama), dan akhirnya menyusul Mike melangkahkan kaki keluar dari ruangannya.

Hak sepatu milik Hanji mendominasi ruangan yang sudah sepi. Ketika mengecek arloji di pergelangan tangan kirinya, keningnya mengerut, hampir setengah enam sore dan ia benar-benar tak habis pikir bagaimana waktu bisa secepat ini, bahkan ia tak ingat kapan dirinya mulai tertidur; ketika sedang menghitung data produk, atau mungkin ketika laptopnya tak sengaja menampilkan foto lama ia dan Erwin, atau mungkin ... ketika Hanji terlalu lelah, mendefinisikan pernyataan Levi sesiangan itu.

... Levi.

Shit. Hanji mengumpat dalam hati. Kilas balik bayang-bayang kolase yang mengganggunya kembali lagi. Apa itu tadi? Hanji mengatupkan belah bibir dan mempercepat langkah. Namun langkahnya kembali melambat, sebab kemudian ia sadar, bahwa yang akan ia temui saat ini adalah Levi.

Hanji mengingat jelas detail bayangan itu; ekspresi Levi yang mengeras, matanya yang tak mau berhenti menatap, sentuhannya yang memanas. Hanji mengingat sebagaimana ia mengingat jelas kata-kata Levi tadi siang, "Aku menginginkanmu, Hanji Zoe." dan Hanji yang terlampau kaget hanya menggeleng pelan, berkata "Yang benar saja," terlampau pelan dan memutuskan untuk pergi dari hadapan Levi. Kembali ke ruangannya, memfokuskan diri untuk kembali bekerja, namun didistraksi oleh galeri lama yang tak pernah lagi ia lihat, dan kemudian ... tertidur.

Dan bermimpi.

Mimpi yang sangat-sangat nyata dan kurang ajar.

"Oi, lama sekali, sih."

Levi bersandar di kap mobil, memerhatikan Hanji dari sana, dengan jasnya yang sudah dilepas. Matanya tetap tak mau meninggalkan Hanji. Dan Hanji yang kemudian memilih untuk mengalihkan tatapan.

"Aku ketiduran."

Dan bermimpi erotis tentang kau.

Hanji melewati Levi dan segera membuka pintu mobil. Masuk tanpa mau lagi melihat Levi di sana.

"Masih marah?"

Levi datang menyusul, di sebelahnya, menutup pintu meyisakan kubikel mobil menjadi sesak dan lebih dingin dari biasanya. Levi menyalakan mesin mobil, mengendalikan setirnya, masih menunggu Hanji berbicara.

"Oi, mata empat—"

"—sebentar." Hanji menyela, kemudian. Sebelum Levi berhasil menyelesaikan ujarannya. Sebelum Levi sempat bertanya apa-apa. Sebelum Levi melangkah lebih jauh. "Aku agak pusing." Hanji memijat pangkal hidungnya, menatap Levi lewat sudut mata. "Boleh aku teruskan tidur dulu selama perjalanan?"

Dan Levi, hanya mampu mengakseptasi permintaan Hanji dengan satu anggukan.

Bagi Hanji, ini terlalu bertubi-tubi. Pernyataan Levi di siang hari, "Aku menginginkanmu," juga pernyataan Levi di mimpinya yang kurang ajar, "Kau milikku," bersamaan dengan tangannya yang merajalela, mengecupnya di mana-mana, dan Hanji sampai lupa, bahwa yang terakhir itu cuma mimpi. Mimpi yang terlampau begitu nyata.

Hanji memejamkan matanya, mendengarkan suara khas jalan malam dengan sayup klakson-klakson yang berbunyi, juga deru napas Levi di sampingnya. Levi itu predictable, meski kompleks dan misterius. Tapi, Hanji tak pernah kesulitan untuk menanggapi semua perkataannya yang terlampau singkat itu. Seharusnya, perkataan Levi siang tadi juga bisa ia tanggapi dengan tawa-tawa tipikalnya, atau seruannya yang biasa, "Kau bercanda ah, Levi! Kurang ajar!" Namun alih-alih menanggapi, Hanji justru merasakan segala indera pengecapnya terkunci begitu saja. Ia tak mampu berkata apa-apa.

Masih memejamkan mata, Hanji merasakan jemarinya disentuh seseorang, sekilas. Kemudian sentuhan itu pindah ke helai-helai rambutnya, menelusuri belah pipi, kemudian rahang-rahangnya. Ia membuka mata. Dan figur Levi dari samping, tak pernah terlihat semenyilaukan ini.

"Kita tak perlu berubah." Levi tak menatapnya, namun sentuhan itu masih di sana. "Tetap seperti ini saja."

Ketika sepersekian menit terlewat dan Levi tak berkata apa-apa lagi, Hanji memutuskan untuk mengangkat tangannya, menangkup tangan Levi yang masih statis menyentuhi sisi rahangnya, dan kembali memejamkan mata.

"Jangan banyak bicara, Ackerman." Hanji melesapkan kekehannya. "Coba, buat aku menginginkanmu juga."

.

.

[tbc.]


a/n: halo, all fellow levihan shippers! sebelumnya, melalui note ini saya mau minta maaf, kalau ada dari kalian yang suka baca levihan lastmelodya, dan pernah kirim pm, tapi pm-nya nggak pernah saya balas ;_; saya baru nyadar hari ini setelah download app ffn, ternyata ada banyak pm yang masuk dan belum saya read sama sekali ;_; dan pm-pm tersebut sudah bertahun-tahun huhu. selama ini saya jaaaaarang sekali cek pm, karena on ffn hanya via browser, dan itu pun ketika publish story aja. jadi, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya yaa jika ada pm dari kalian yang tidak saya balas ;,;; /nangisbanget. mungkin, untuk yang mau reach up, saya lebih aktif di akun twitter (at) lastmelodya. dm aja yaa kalau mau temenan. sekali lagi mohon maaf yaaa huhu. merasa bersalah sekali ;;_;;anyways, see u on the next chapter!