Disclaimer: Naruto is not mine. I do not own Naruto. I own nothing except some OCs. I made no money off this story. Time travel here was inspired by many fanfics in FFn.
Warning: Pasangan utama di cerita: HashiMada, TobiIzu and SasuNaru. OOC. SLASH/YAOI/BL. Selebihnya cek keterangan chap 1!
Chapter ini gak ada SasuNaru, cuma HashiMada dan TobiIzu.
Madara berniat lari untuk mencari Izuna tapi terhenti begitu Hashirama menahan tangannya. Dia menghardik, "Apa?!"
"Jangan terburu-buru, Madara," Hokage Pertama tersenyum singkat sebelum bertanya serius, "Tidakkah menurutmu kita perlu bicara berdua?"
"Untuk?"
"Pernikahan kita," ucap Hashirama dengan tenang. Madara membeku. Perlahan, dia berbalik dan menghadap Hashirama. Dia mendapati keseriusan di wajah Senju tersebut mengenai ini. Hashirama tidak mengeluh atau tertawa seperti sebelumnya ketika dia mengutarakan pernikahan antara mereka di depan para remaja dari masa depan.
"Kau... serius...?" Kepala Klan Uchiha berbisik.
Madara terkejut saat Hashirama menyatakan perasaannya di depan adik-adik mereka dan remaja asing. Ini pertama kali teman masa kecilnya mengakui ada perasaan tertentu pada Madara. Awalnya dia tak tahu harus menanggapi apa karena Hashirama bilangnya sambil tertawa dengan Naruto, jadi dia pikir itu cuma candaan belaka. Tapi sekarang, melihat Hashirama mengangguk yakin dengan wajah bak seorang ninja dalam perang, Madara pun akhirnya menyadari betapa seriusnya situasi ini.
"Ayo ke menara Hokage, di sana kita bisa bicara tanpa diganggu," Hashirama berjalan duluan dan Madara mengikuti.
—000—
Ketika mereka sudah berada di menara dan masuk ke kamar pribadi yang disediakan untuk Hokage, Hashirama mengunci pintu sebagai tindakan jaga-jaga tidak ada yang datang menganggu di tengah pembicaraan mereka. "Maaf, Madara, aku tidak bermaksud untuk memintamu menikah denganku di depan kedua adik kita dan dua anak muda tadi," Hashirama tersenyum canggung. "Itu terucap begitu saja setelah aku mendengar kita adalah reinkarnasi kakak-beradik Otsutsuki. Aku panik kalau-kalau tidak bisa menikah..."
"Hashirama..."
Dia terus bicara sambil menunduk ke tanah, "Tapi tentu saja, aku harusnya bertanya dulu. Atau bahkan, aku harusnya menjelaskan dulu perasaanku. Aku tidak tahu para Tetua membuat keputusan itu, jadi sebenarnya aku berencana untuk melamarmu di makan malam setelah desa kita lebih stabil..." Hashirama makin depresi di tiap detik terlewati. "Agak melenceng dari rencana sih, dengan dua anak muda dan cerita tentang masa depan, lagipula, aku tidak tahu kalau kau—"
"Hashirama!" Madara memendekkan jarak antara mereka dan berdiri di depan si Hokage. Dia meraih bagian lengan atas Hashirama, menatap ke coklat kembar sebelum berkata pelan, "Lupakan soal Tetua, reinkarnasi atau desa, cukup..." Madara berbisik, "...biarkan aku mendengar apa yang ingin kau bilang. Aku mendengarkan."
"Madara..."
Hashirama berkedip beberapa kali untuk mencegah jatuhnya air mata yang sudah terkumpul di sana. Madara terlihat menawan di mata Hashirama. Dia tidak melihat Hashirama dengan sharingan yang penuh kalkulasi seperti dalam perang, tapi dengan pengertian terpancar dari mata Madara. Dalam mata itu, tercermin bagaimana bercampur aduk perasaan Hashirama dan Madara tahu ini kebiasaan buruk Senju tersebut dari kecil. Sudah terlalu lama dia tidak melihat pengertian tersebut di mata Madara. Salah satu sifat baik Madara, ia merupakan orang yang pengertian dan bisa sangat sabar. Hashirama tahu dan mungkin seorang lagi yang tahu hal itu adalah Izuna. Tapi, Hashirama tidak tahu bahwa kesabaran Madara hanya untuk orang special dan penting bagi Uchiha tersebut.
Oh, betapa lama dia tak melihat dengan Madara yang ini. Teman masa kecil. Bukan Kepala Klan Uchiha. Tanpa sadar, dia tersenyum dan berbisik penuh rindu.
"Aku mencintaimu..."
Kedua mata si Uchiha terbelalak seraya melepaskan tangan Hashirama. Hokage ini menyingkirkan setengah rambut yang menutupi wajah Madara. "Kau tahu, 'kan?"
"Kau tidak kelihatan menyembunyikan itu, Hashirama," Madara menaikkan alis.
"Sudah kucoba kok."
"Gagal, kalau begitu," Madara tertawa kecil. "Tidak susah 'kan?"
Hashirama merapat, "Ya, karena kita tidak dalam pertarungan."
"Tak ada bantahan untuk itu," Madara tersenyum. Hashirama membingkai wajah Uchiha satu ini dengan lembut. "Jadi, maukah menikah denganku?"
"Harusnya, kalau tidak para tukang ikut campur tua bangka tidak akan diam soal ini."
Hashirama tertawa kecil, "Maksudku, bagaimana dengan perasaanmu? Aku tidak mau kau menikahiku karena alasan politik." Si Hokage menempelkan dahi mereka berdua. Bersamàn menutup mata, keduanya merasakan ada ketenangan merasuki mereka hanya dengan berada dekat seperti ini. Seolah ada tarikan kasatmata antara mereka berdua. Mereka tidak tahu jika ada hubungan antara tarikan ini dan soal reinkarnasi atau ini hanya murni perasaan cinta? Satu yang pasti, Hashirama tahu, "Aku menginginkanmu sejak kita pertama bertemu di sungai dulu. Jauh darimu sangat menyiksaku..."
"Aku tahu," nada tersiksa juga dikeluarkan Madara sebagaimana Hashirama barusan mengutarakan. Dia mecengkram pelan kimono Hashirama dan tersenyum sedih. Setiap kali mereka bertemu, selalu dalam perang. Memegang senjata, menyakiti satu sama lain. Menyedihkan dan lebih menyakitkan dari luka manapun yang pernah ditanggung tubuhnya. Madara berbisik pelan, "Jangan pikir kau sendirian merasakan itu, Hashirama... aku juga..."
Hashirama tidak tahan mendengar nada tersiksa dan sedih itu sehingga dia mendekatkan wajah lalu mencium Hashirama. Pelan, awalnya. Ciuman pertama mereka. Dipenuhi dengan kerinduan terpendam. Bertahun-tahun... dan itu mematahkan mantra. Begitu Madara balas mencium, Hashirama jadi lebih tak sabar. Kedua tangannya merengkuh Madara sedemikian rupa sehingga terasa mengekang tak ingin melepas tapi ada kelembutan dalam dekapan tersebut. Mereka berciuman seolah tak ada hari esok, hanya melepas ketika butuh udara untuk bernafas.
Keduanya terengah tapi ada senyum puas di bibir mereka.
Hashirama senyum lebar, "Nikahi aku?"
Madara tertawa dan mengangguk, "Lagipula, kau tidak akan menerima 'tidak'."
—000—
"Apa itu tadi?" Izuna memutar badannya menghadap ke Hashirama setelah menginspeksi kamar di mana mereka tiba. "Apa itu... Hiraishin no Jutsu?" Izuna mau tak mau merasa agak kagum. Dia selalu melihat Tobirama menggunakannya di peperangan.
Senju ini berkedip, "Itu kesan pertamamu? Setelah aku mengambilmu dari kakak tersayangmu?"
Pipi memerah sedikit, "Kalau kakakku mau, dia bisa menemukanmu di manapun." Izuna percaya penuh kemampuan kakaknya mendeteksi cakra sudah jauh meningkat sejak mereka masih kecil. Tobirama setuju soal itu sebab dia berkomentar, "Poin bagus." Izuna melipat tangan di depan dada, "Lagipula, ini pertama kalinya kau menggunakannya denganku, bukan untuk melawanku. Jadi, ya maaf kalau aku penasaran."
"Benar," Tobirama merengut sekilas sebelum menutup jarak antara mereka dengan mendekap Izuna, "Aku tidak akan menggunakannya untuk melawanmu lagi, Izu..."
Izuna kaget, dia menaruh tangannya di dada Tobirama, "Apa? Tobi—!"
Telinganya mendengar bisikan lemah Tobirama bersamaan dekapan yang mengerat, "Aku tidak akan membunuhmu... tidak akan..."
Uchiha ini berkedip. Soal ini rupanya, batin Izuna.
Tobirama masih memikirkan cerita di masa depan dua pemuda tadi. Itu mengejutkan Izuna juga. Sasuke memang tidak menekankan tapi tidak terelakkan masa depan Sasuke dan Naruto terjadi karena kematian Izuna. Jika dia (Izuna di masa Sasuke dan Naruto) tidak mati, Madara tidak akan kehilangan akal sehat dan memulai proyek Mugen Tsukuyomi. Tobirama mungkin tidak akan membuat edo tensei no jutsu atau mendiskriminasi Klan Uchiha setelah menjadi Hokage Kedua. Dia tidak pernah tahu dirinya bisa menyebabkan masa depan seperti itu.
"Tobi..." Izuna berkata pelan, "Sejarah sudah berubah. Aku tidak mati." Dia menyisipkan kedua tangannya di tubuh Tobirama lalu menetap di belakang pria Senju. "Aku di sini, Tobi..." Izuna menutup matanya, memeluk Tobirama lembut.
Ia bisa merasakan Tobirama lebih tenang dan tidak setegang sebelumnya. Izuna menghela nafas lega begitu Tobirama membenamkan wajah di bahu kirinya. "Ya... aku sangat merindukanmu, Izu," bisik Tobirama. Izuna tertawa kecil, mengistirahatkan pipi kirinya di surai perak, "Benarkah? Kita 'kan selalu bertemu setiap pertarungan sejak kita kecil."
"Aku tahu...tapi itu berbeda," suaranya tercekat penuh emosi tersiksa membuat Izuna tersenyum sedih. Dia membelai punggung Tobirama seraya berbisik, "Aku tahu... aku juga..."
Mereka saling mendekap satu sama lain dalam kebisuan untuk waktu yang lama. Menikmati kehangatan tak hanya secara fisik tapi juga ke dalam hati mereka. Susah diungkapkan bagaimana mereka melewati tahun-tahun tanpa bisa sedekat ini. Dari waktu ke waktu, keduanya mencapai titik dimana mereka frustasi dengan situasi Senju-Uchiha ini dan kehilangan semua harapan bahwa kasih yang mereka jalin menjadi tanpa arti dan tak akan pernah berbuah. Namun, tidak satupun dari mereka membuang janji.
Dia meregangkan dekapannya sebelum menjauh sedikit, mengunci pandangan dengan Izuna. Mata merah bertemu hitam. Ada lega, kerinduan, harapan dan cinta terpancar dari mata mereka. "Terima kasih," ucap Tobirama.
Izuna bertanya, "Untuk?"
"Memegang janjimu."
"Kau juga begitu."
"Aku punya alasan sendiri."
Alis Izuna berkedut. "Apa alasannya?"
"Aku tidak bisa bilang sekarang."
Izuna menekuk muka, "Serius nih? Setelah hampir 20 tahun kita memegang janji antara kita? Demi Rikudou Sennin! Kau curi ciuman pertamaku bahkan sebelum kita remaja dan BAM—17-18 tahun berlalu, kau masih tidak akan mengatakannya!" Dia menekan-nekan dada Hashirama dengan ujung telunjuk. "Senju Tobirama! Apa sih masalahmu?!"
Tobirama menghela nafas. "Secara adat, aku bicara dulu dengan pemimpin klanmu, di kasus ini kakakmu, untuk minta persetujuannya sebelum bilang apapun ke dirimu."
"Persetujuan?" Mata Izuna terbelalak ketika ia sadar. "Maksudmu..."
"Aku berencana untuk menemui Madara secepat mungkin sejak Tetua membuat keputusan itu, tapi, dua anak muda dari masa depan itu menggagalkannya. Kau juga tidak mempermudah."
Tobirama menatap lurus ke mata Izuna.
"Ayo, menikah, Izu."
Pria Uchiha itu terpana.
Senju Tobirama mau menikahinya. Dia. Seorang Uchiha. Konsep perdamaian kedua klan memang belum mengakar di pikirannya. Yah. Desa baru berusia satu minggu jadi bukan salahnya kalau dia masih beranggapan buruk tentang klan lain. Perlahan, pipinya memerah di saat Tobirama membelainya. Dia melanjutkan dengan pilu, "Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Izu. Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku tidak mau terpisah darimu lagi. Aku tidak ingin masa depan tanpa dirimu seperti asal dua anak muda itu."
Uchiha Izuna merasakan matanya semakin basah sewaktu mendengar tiap kata dari Tobirama.
"Aku akan melakukan apapun untuk melindungi desa ini karena aku bekerja keras untuk membangunnya supaya aku bisa bersamamu walaupun kita Senju dan Uchiha."
Ia terus mengedipkan mata mencegah air mata untuk jatuh.
"17 tahun... itu sangat lama. Aku nyaris tidak bisa bertahan dan tak terlalu kaget waktu dua anak muda itu bilang bahwa aku (dalam sejarah mereka) membuat jurus untuk menghadirkan kembali orang yang telah mati. Kalau... kau memang terbunuh... aku akan pastikan aku masih bisa melihatmu."
"Tobi..." Izuna tersenyum sedih.
Wajah tak bereskpresi itu mulai runtuh, sebuah penderitaan merupakan pemandangan yang tak pernah dilihat Izuna di wajah Tobirama lagi setelah mereka mengikrar janji dulu. Berat untuk Izuna melihatnya. Walaupun mereka sekarang sudah dewasa, perasaan mereka masih sama. Izunw membingkai wajah Tobirama. Menempelkan dahi mereka.
"Di satu tituk, aku pikir aku akan jadi gila hanya karena jauh darimu selama hampir 2 dekade ini. Walaupun aku tidak punya DNA yang terkenal menjadi sebab mereka kehilangan akal sehat."
Izuna tertawa kecil, menepuk-nepuk pelan pipi Tobirama seraya menegurnya dengan canda, "Hei, kau akan menikahi satu dari mereka. Tidak baik mengejek keluarga calon suamimu."
Rubi kembar terbelalak.
Tobirama menggenggam tangan Izuna di pipinya, mencium satu dengan lembut, "Jawabanmu 'iya', Izu?"
Izuna mengangguk, membahagiakan Tobirama sebelum ia mencium Izuna. Pelan, lembut, penuh rindu tak tertahankan. Dua dekade. Nyaris 2 dekade sejak ciuman pertama mereka. Lalu, mereka mencoba menutupi waktu yang hilang dengan mencium lebih dalam. Tobirama melingkarkan kedua tangan di pinggang Izuna sementara tangan si Uchiha di leher Tobirama. Beberapa menit lewat, tanpa berhenti memagut bibir satu sama lain, mereka pindah ke futon.
"Satu pertanyaan," Izuna terengah ketika punggungnya menyentuh futon, "ini kamarmu?"
Tobirrama berada di atas Izuna, "Ya, kenapa?"
"Beresiko sekali, Senju. Bahkan untukmu," Izuna tersenyum jahil. "Aku berdoa untuk keselamatanmu waktu kau menghadap kakakku soal ini, Tobi." Ia tertawa kecil.
"Oh, baik sekali, Izu, sangat menenangkan," ucap Tobirama dengan sarkastik. Izuna tertawa lepas. Terlihat sangat bahagia. Sungguh menawan. Membuat Tobirama terpana. Ia membiarkan tubuhnya jatuh di atas Izuna, "Untuk jaga-jaga, kalau aku tidak keluar hidup-hidup dari pembicaraan dengan kakakmu... kurasa kau harus tahu..."
Tobirama berbisik di bibir Izuna yang tersenyum manis, "Aku mencintaimu, Izu..."
TBC
Makasih sudah baca! Review ya kalo mau chapter selanjutnya!
Guest: Makasih review-nya! Penulisan yang kayak mana ya? Aku uda lama ga belajar sih jadi uda lupa juga penulisan yang baik dan benar itu gimana hehe! versi cewek? Ini maksudnya semuanya dijadiin cewek? Jadi female slash gitu ya?
Kalo mau ini sampai end, review terus ya! Gak ada review ya gak dilanjutin hehe kalo bisa sih kasih tahu dong suka bagian mana pas review ya!
Kan nana: uda di-update! Tolong review juga yaaaa
