Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto was created by Masashi Kishimoto. I own nothing except the OCs.

Warning: HashiMada. TobiIzu. SasuNaru. YAOI/BL/SLASH. Selebihnya cek warning chapter 1!


Hashirama mengerutkan alis dan hendak menghentikan mereka lagi namun tertahan oleh tekanan di kedua pundak. Ia melirik dan menemukan bahwa pemilik masing-masing kedua tangan di bahunya adalah Madara dan Tobirama. Madara menggelengkan kepala sementara Tobirama berbisik, "Ini sudah diluar tanggung jawabmu. Mereka harus bicara satu sama lain dan memutuskannya. Kita tak bisa melakukan apapun sekarang."

Hashirama terlihat akan protes namun dia mengerti maksud Tobirama sehingga hanya menghela nafas. "Biarkan mereka sendiri," ucap Madara sebelum memimpin yang lain keluar dari kamar kedua remaja. Hashirama membetulkan pintu yang dirusak Madara dengan mokuten tanpa suara lalu pergi menyusul ketiga lainnya.

Remaja pirang fokus pada Sasuke jadi tak memperhatikan sekitar bahwa mereka sudah berdua saja. Tapi, Sasuke sadar.

"Kau berniat meninggalkanku lagi, 'kan?" Amarah Naruto tak tertahankan. "Kau mau mengirimku sendirian ke masa depan 'kan?!" Dia meninju si Uchiha sekali lagi. Serangan ini terjadi beberapa kali dengan Sasuke terus menghindar sebisanya tapi Naruto dengan pengalaman serta tambahan insting Kurama memberi Uchiha muda kesulitan sehingga beberapa kali kena.

Berbeda dengan Taijutsu-nya yang biasa, serangan Naruto lebih efektif hasil dari mengikuti insting dan tak cukup bisa diprediksi Sasuke. Beberapa menit mereka saling baku hantam meski Sasuke sebisa mungkin tak menyerang balik hanya menahan serangan. Gerakan Naruto bagaikan Kyuubi sendiri sehingga mau tak mau Sasuke mengaktifkan sharingan dan mengunci gerakan Naruto dengan menahan kedua tangan jinchuriki tersebut. Mereka berhadapan dan mata hitamnya kembali begitu ia melihat safir kembar dipenuhi air mata.

"Naruto..."

Putra Hokage Keempat itu tak menghalangi kesedihan mewarnai wajahnya, bahkan terdengar kala ia menyuarakan, "Kau tidak peduli 'kan?"

Sasuke terdiam.

"Kau sama sekali tidak peduli kalau kita tak pernah bertemu lagi!" Tangis amarah mengalir deras di pipi Naruto. "KAU TAK PERNAH PEDULI! Tidak masalah 'kan bagimu baik itu desa lain atau kembali ke masa lalu atau pergi ke dimensi lain! Kau selalu lari PENGECUT! Itu kebiasaanmu, 'kan?!"

Sasuke mulai terlihat emosi.

"Kau tahu?" Naruto menarik tangannya dari cengkraman tangan Sasuke. "Silakan, lakukan saja kebiasaanmu itu. Tapi aku bukan pengecut! Dan aku bebas melakukan apa yang kumau! Aku tak mau terpisah darimu lagi! Kau dengar, Sasuke?! Kau dengar?!"

Uchiha muda ini hanya bungkam tanpa melepaskan pandangan dari Naruto yang melanjutkan tanpa peduli air matanya sendiri.

"Aku akan membawamu kembali ke Konoha! Tak peduli apakah kau di desa lain, dimensi lain atau masa lain karena aku akan menemukan cara untuk itu!" Ia tak menahan perasaannya sama sekali, "Kau tahu kenapa, hah?! TAHU TIDAK?!"

Mata Sasuke terbelalak.

"Karna aku mencintaimu, TEME!"

Nafas Naruto yang tak berarturan memenuhi keheningan antara mereka setelah pernyataan barusan. "Sial!" Jinchuriki pirang menaikkan lengan untuk menutupi mata dan setengah wajahnya. Dia tak bermaksud untuk menyatakan perasaan secara spontan seperti tadi tapi untuk seseorang yang dinilai jenius dan keturunan Klan dengan pemahaman tinggi tentang cinta, Sasuke cukup bodoh di mata Naruto. Ia masih menyumpahi Uchiha muda itu di kepalanya ketika ia merasakan sepasang tangan memeluk pinggangnya.

Safir kembar melebar.

Naruto menurunkan lengannya dan mendapati Sasuke menunduk sebelum menempelkan dahi mereka. Terpana, Naruto tak tahu apa yang harus dilakukan. Jarak kedua wajah mereka begitu dekat sehingga pandangan mereka mengarah ke lantai. Terakhir kali mereka begitu dekat seperti ini tanpa bertarung adalah ketika berciuman beberapa tahun lalu. Mengingat itu menambah kesedihannya dan ia mulai terisak sebelum sepasang ibu jari mulai menghapus air matanya pelan. Sekali lagi, ia terpana.

Namun, kali ini... ada ketenangan merasuki sanubari sejak Sasuke mengelus kedua pipi Naruto penuh kasih. Setiap sentuhan memberinya sesuatu yang ia dambakan dari Uchiha terakhir di masa mereka. Isakannya mereda lalu Sasuke mendekapnya dengan kelembutan. Disusul sebuah ciuman di bibir, Naruto nyaris tak mendengar bisikan Sasuke, "Aku tahu..."

Sasuke mengerutkan alis dalam.

Ia mundur sedikit agar bisa bertatapan dengan Naruto, "Aku tahu perasaanmu, Naruto. Kau tidak menyembunyikannya sama sekali. Orang buta pun tetap bisa melihatnya," Sasuke menghela nafas. Naruto tersipu.

Sasuke mencium kening Naruto dalam satu kecupan lama nan manis. Sekalipun tanpa kata, Naruto bisa merasakan apa yang hendak Sasuke ungkapkan. Dari dekapan hangat mengelilingi, kecupan lembut menyiratkan kasih, suara lembut serta pandangan mesra. Semuanya bagaikan berteriak kepada Naruto seolah ini pertama kalinya Sasuke membiarkan perasaannya terlihat.

Naruto memeluk balik, wajahnya merah padam. Sedikit terbuai oleh afeksi yang ditunjukkan Sasuke. Dia menaruh pipinya di bahu Sasuke, menghela nafas dan meminta manja, "Jangan lakuin kebiasaanmu kalau begitu, Teme."

"Itu untuk membantumu, Usurantonkachi." Sasuke mengeratkan pelukannya ke Naruto. "Aku tidak mau jadi penghalang mimpimu menjadi Hokage." Kau layak mendapatkannya, lanjutnya dalam hati.

"Kau seharusnya tahu jawabanku untuk itu," Naruto berbisik yakin. "Aku tidak akan menyerah."

Sasuke tertawa kecil, "Ya, memang itu kebiasaanmu." Ia mencium pelipis Naruto dengan tersenyum. Remaja pirang itu tersipu malu dan merapat ke Sasuke.

—000—

"Tak pernah terpikir olehku kalau bakal ada segunung pekerjaan dengan dokumen waktu kita masih memimpikan membuat desa ini," komentar Hashirama sedikit merengut tapi tetap melakukan tugasnya. Membaca semua proposal dari tiap unit sebelum memberikan tanda pribadinya sebagai persetujuan dan itu akan dijalankan oleh para shinobi Konoha.

Madara, tanpa kehilangan ritme dari memerika gulungan proposal miliknya hanya bergumam, "Hm."

Hashirama melirik ke Madara yang duduk di kursi di depan meja kerjanya dalam kantor Hokage, Uchiha tersebut melanjutkan, "Butuh waktu untuk membiasakan diri dengan pekerjaan seperti ini dibanding bersdu shuriken atau kunai di... pertempuran..."

"Hm?" Hokage menyadari alis Madara berkedut kala membaca satu gulungan. Ekspresinya datar tapi Hashirama selalu bisa membaca emosi Madara. "Ada apa?" Ia berdiri waspada dan memutari meja antara mereka untuk berdiri di sisi kekasih Uchihanya. Siap mendapati gulungan mencurigakan. namun yang ia baca hanyalah proposal mengenai pasukan khusus yang harusnya berada langsung di bawah perintah Hokage. Ditulis oleh...

Tobirama Senju.

"Oh, aku ingat Tobirama menyebutkan soal ini kemarin setelah pembicaraan kita dengan remaja-remaja itu," Hashirama mengambil gulungan itu dari tangan Madara dan membaca dengan seksama. "ANBU..." Menyatukan alis, mereka ingat itu posisi kakak Sasuke di masa depan. Tetapi, perhatiannya teralih ke suara yang terdengar marah di samping.

"Aku masih belum memberi adikmu pelajaran," desis Madara.

"Pelajaran untuk apa?"

"DIA. MENIDURI. ADIKKU."

Cengo, Hashirama menaruh gulungan kembali ke meja dan menghela nafas. "Apa yang kau harapkan? Mereka pacaran bahkan sebelum kita."

"Dia bisa membunu—"

Hokage menegaskan, "Tidak, dia tidak akan. Sudah berubah. Kau dengar kedua remaja itu."

Madara melotot ke Hashirama yang menatap dengan tenang. Hokage berlutut depan kursi Madara, menengadah lalu mengambil tangan kekasihnya dengan pelan.

"Dara, dengarkan aku," tatapan Hashirama melembut, "Aku tahu adikku sejak dia lahir. Tobirama mungkin terlihat dingin di luar, tak terpengaruh bahkan oleh badai sekalipun. Tapi, aku tahu dia sangat mencintai adikmu. Aku melihat cara dia memperlakukan adikmu seolah Izuna ada hal terpenting di dunia."

"Para Peminang Izuna selalu memperlakukannya seperti itu bertahun-tahun," Madara mengangkat satu alis. Tak terkesan sama sekali. Dia sudah melindungi adiknya seumur hidupnya. Tak hanya secara fisik tapi juga masalah hati.

"Apa dia pernah menerima seseorang?"

"Dia bahkan tidak tahu."

"Kenapa?"

"Aku tak memberi izin pada mereka untuk melakukan pendekatan dengan adikku," jawab Madara dengan angkuh. "Mereka akan berada dalam tsukuyomi-ku kalau ada yang terlalu bodoh dan berani menyentuh Izuna."

Hashirama terdiam. Dia tak tahu harus merasa atau berpikir apa. Dari indikasi yang diucapkan Madara, ada beberapa orang yang terlibat hubungan intim dengan Izuna dan mereka tak cukup waras untuk menceritakannya di kemudian hari. Level bro-com di Uchiha sungguh diluar standar. Dia mengerti perasaan ingin melindungi saudara tapi dia tak pernah ikut campur di kehidupan cinta adiknya.

"Apa Izuna tahu?"

"Dia tidak perlu tahu."

Hokage menghela nafas. Entah kenapa, ini mirip cerita kakak Sasuke yang melakukan segalanya dari balik layar untuk melindungi si adik. Apa semua Uchiha seperti itu? Apa mengalir dalam gen mereka? Atau ini karma karena Madara melakukannya maka di kehidupan selanjutnya, yakni Sasuke, diperlakukan seperti itu oleh saudaranya juga?

"Kalau begitu, kenapa Tobirama tidak terkna Tsukuyomi-mu?"

Madara menyipitkan mata, "Belum! Tapi, akan! Dia sudah dalam daftarku! Jika aku punya waktu, ak—"

Hashirama menghentikan ocehan dengan suara lembut namun tegas, "Dara."

Mata mereka bertemu dan Madara merasakan dirinya diinvasi oleh Hashirama melalui itu. Tak terelakkan tapi sejak mereka kecil, Hashirama mengerti dirinya lebih dari keluarganya. Dia bisa bohong tapi Hashirama akan tahu dengan sekali lihat. Mereka berdua tahu jika Madara serius dan berusaha menyerang Tobirama, tak ada yang bisa menghalanginya. Yah, mungkin cuma Izuna dan Hashirama yang bisa.

Maka, ia menghela nafas dalam kekalahan.

Bagaikan tertulis di wajah, Hashirama tersenyum kecil sementara kerutan di dahi Madara semakin dalam. Hokage tahu apa artinya tapi dia menunggu dengan sabar untuk Madara melisankannya. Bukan sebagai tanda kalah tapi sebagai pengakuan. Madara tidak bodoh dan seperti semua Uchiha, mereka sensitive untuk perihal satu ini tapi berpura-pura sebaliknya. Terlebih, mengenai orang-orang terkasih mereka.

Sama seperti Hashirama bisa mendeteksi tanda-tanda Tobirama jatuh cinta, Madara juga menyadari hal tersebut di Izuna.

"Aku... tak pernah melihat Izuna sebahagia ini setelah adik-adikku yang lain meninggal," gumamnya.

Ada nada kalah dalam suara Madara dan Hashirama mengeratkan genggaman tangannya. Sebagai pengingat bahwa dia tak sendiri. Hashirama juga di sini. Di sampingnya. Senju ini tahu rasa marah si Uchiha lebih dikarenakan kehilangan adik yang ia lindungi selama ini ke orang lain. Izuna mungkin tak mati (semoga tak seperti sejarah remaja dari masa depan) tapi dia bukan milik Madara lagi untuk dilindungi.

Merasa asing dengan kejadian ini, Madara tak pernah terpikir bahwa akan ada seseorang yang merebut hati Izuna. Bahkan Tobirama mendapat kesempatan itu di kala masa curi-curi waktunya dengan Hashirama saat mereka kecil dulu, tak melegakan Madara. Hashirama mengerti, sebab itu ia mendekap Madara erat karena dia tahu tak akan ada kata yang membuatnya merasa lebih baik.

Hokage hanya mengingatkan lewat aksinya bahwa dia mengerti dan akan berada di samping Madara.

Selalu.

—000—

"Anjing!"

Itu reaksi pertama Naruto ketika pertama kali menginjakkan kaki di persembunyian terdalam Klan Senju. Yah, dia juga teriak "Taik!" waktu masuk ke persembunyian Klan Uchiha tapi intinya sama. Pirang Uzumaki ini tak pernah melihat lautan gulungan selain gulungan terlarang di masanya ketika belajar tentang jurus andalannya, Taju Kage Bunshin no Jutsu. Dia pikir itu sudah yang terbesar dan terluas dia lihat tapi sekarang terbukti dia salah. Dia melihat sepanjang mata melihat hanya ada gunung gulungan. Bahkan dengan matanya yang sekarang bisa melihat jauh sekalipun karena bantuan Kurama!

Kita tidak akan baca semua 'kan?" Tanya Naruto ke Sasuke dengan ragu.

"Kita tidak punya waktu untuk itu," jawab Remaja Uchiha, "kita cek tanggal semuanya dan yang paling tua baru kita baca seksama."

Naruto memucat. Dia tak suka pilihan ini sama sekali.

TBC


Makasih uda baca! Review ya kalo mau ini lanjut! Versi english dari ini uda setengah jalan menuju ending dan ini sekitar seperempat dari ending jadiii kalo mau ini lanjut, review-nya duong~~~!

katakuri mino: akunya semangat kalo dapet review hihi jadi review lagiiiii~~~ ditunggu review-nyaaaa!!

sasayachen: iyaaaa khaaaan?!?! Kelihatan banget kan kalo mereka tuh dah saling bucin~ ngegemesin banget~~ ya ampuuun, aku tuh mau nulis itu tuh ujung dari salah satu ekornya Kurama, sorry ya jadi ambigu gitu hehe makasih dah ngingetin~ jeli deh kamu~! *cubit2 gemes* aih, seneng aku tuh kalo ada yang rajin review *menangis bahagia* semangat juga ya review-nyaa~~ btw yang di wattpad dengan nama sama itu dirimu juga?

Isa83: Perlu digampar emang seme satu itu *ikutan tepuk tangan lalu kabur dikejar Susanoo ungu*

Ay03sunny: Sekali-sekali gapapalah mwahahaha

Guest: makasih! Lanjut juga review ya! No review no update!

lalalala-chan desu: Jangankan yang indo, yang english juga langka tenan TobiIzu mah, padahal fanart-nya buanyak banget...