Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto was created by Masashi Kishimoto. I own nothing except the OCs.

Warning: HashiMada. TobiIzu. SasuNaru. YAOI/BL/SLASH. Selebihnya cek warning chapter 1!


Tobirama mengetuk pintu kantor Hokage.

"Masuk,"ucap Hashirama tanpa melihat dari menandatangani kertas di meja kerja. Pintu terbuka lalu keempat tamu masuk. Hokage menoleh ke mereka setelah mengesampingkan kertas terakhir yang baru ditandatangani. "Oh, kalian sudah pulang. Bagaimana? Beruntung kali ini?"

"Ya, kami menemukan sesuatu," jawab Tobirama pendek tapi cukup membuat Hashirama siaga. Mereka tak bisa leluasa mendiskusikan perihal ini jadi sulung Senju berdiri, "Kapan kalian mau pergi?" Ini merujuk pada kunjungan ke alam dimana Kurama tinggal dalam Naruto menggunakan sharingan. Mereka tak pernah membicarakan asal kedua remaja ini tanpa semacam kode.

"Secepatnya."

"Aku sudah selesai untuk hari ini, hanya menyambut beberapa tamu dari desa lain yang baru tiba dan nanti aku akan ke kamar mereka langsung."

"Dimana kakakku?" Tanya Izuna.

Hashirama menjawab, "Dia ada di kediaman Uchiha, memeriksa persiapan pernikahan."

"Aku akan memberitahunya," Izuna berbalik untuk keluar setelah ia melempar pandangan ke Naruto sambil menaruh jari telunjuk di depan bibirnya. Naruto melihat dan mengangguk. Sasuke sadar tapi tetap diam meski ia tak tahu apa artinya.

"Jika Madara tidak di sini menemanimu menyambut tamu, aku akan pergi denganmu, Kak," tawar Tobirama. Ada seseorang yang dia butuh untuk pastikan datang ke pernikahan. Hashirama mengangguk dan mereka pergi bersama. Meninggalkan Sasuke dan Naruto berjalan ke kamar berdua saja.

Sasuke bertanya, "Apa itu tadi?"

"Hah? Maksudnya?" Naruto bingung.

"Izuna menyuruhmu diam tentang sesuatu," Sasuke melirik Naruto, "Aku lihat tadi."

Si pirang senyum, "Oooh, itu, iya emang bener dia minta aku jangan kasih tahu siapapun dulu."

"Tentang?"

Naruto terkekeh jahil, "Ada deh~!"

—000—

"Kakak," panggil Izuna setelah dia mengetuk pintu kamar Madara, Dia mendengar kata, "Masuk," sebagai izin. Izuna menemukan kakaknya berdiri di depan kedua pasang kimono untuk pernikahan mereka digantung dengan dinding.

Madara melirik, "Kau sudah balik, bagaimana?

"Kami menemukan sesuatu."

Madara menangkap maksud dengan cepat lalu mengangguk. "Begitu," ia membalikkan badan ke Izuna dan berjalan ke pintu tapi terhenti ketika mendengar adiknya memanggil.

"Kak."

Tanpa menoleh ke belakang, Madara bertanya, "Ada apa?"

Si Uchiha yang lebih muda ragu sesaat. Mereka tak punya waktu banyak untuk berbicara sebagai saudara dan kadang hanya melihat satu sama lain di acara resmi desa. Ini pertama kalinya kedua Uchiha bersaudara bertemu tanpa calon suami mereka sejak hubungan Izuna dan Tobirama terkuak.

Izuna tahu bahwa dia sudah dewasa dan dengan siapa dia tidur bukan urusan kakaknya. Tapi, ia tahu Madara seumur hidupnya. Ia mengerti dan menerima ketika Madara menjadi sangat protektif dengan dirinya. Terlebih, Madara adalah idolanya sejak kecil. Izuna haus perhatian serta penerimaan sang kakak untuk hampir semuanya dan mengikuti jejak Madara tanpa ragu. Dia tahu jauh di dalam hatinya, Izuna menyalahkan kenyataan bahwa dia juga jatuh cinta ke seorang Senju karena Madara duluan mencintai seorang Senju. Sekalipun, dia terpesona dengan Tobirama secara pribadi.

"Aku..." Izuna membungkuk dalam. "Aku minta maaf, Kak."

Madara terkejut. Dia membalikkan badan mendekati adiknya, "Untuk apa, Izuna?"

Tanpa bergerak, Izuna melanjutkan, "Maafkan aku tak pernah memberitahu hubunganku dengan Tobirama."

"Aku juga tak pernah memberitahumu tentang pertemuan rahasiaku dengan Hashirama."

"Tapi, aku tahu," kesunyian mencekam hadir seusai pernyataan barusan. "Aku melihatnya dengan Tobirama. Kami tahu tentangmu dan Hokage tapi kalian berdua tidak tahu tentang kami."

Untuk Izuna yang sangat mengagumi Madara, dia merasa tidak adil dengan kakaknya. Mengetahui rahasia rahasia sang kakak tapi tak pernah memberitahu rahasianya sendiri. Lagipula, ternyata hubungannya dengan Tobirama jadi serius terkait pernikahan mereka minggu depan dan bukan cinta monyet anak baru remaja. Sebagai Kepala Klan dan satu-satunya keluarga, Madara berhak tahu karena pernikahan bukan hanya penyatuan dua orang tapi dua keluarga juga.

Madara mengerti itu.

Dia menghela nafas dan menepuk pelan pundak Izuna. "Tak apa," Izuna menegakkan posisi dan melihat Madara dengan rasa bersalah. "Jangan berwajah begitu, Izuna," Madara mengelus pipi adiknya, senyum lembut terukir di bibirnya.

Di waktu mereka jauh karena pekerjaan, itu memberikan kesempatan pada Madara untuk berpikir mengenai asiknya dan Tobirama. Seperti yang dikatakannya pada Hashirama, Madara mendapati bahwa Izuna sungguh bahagia dengan adik Hokage dan dia puas menyaksikan kebahagiaan adiknya. Dia sedikit merasa sedih karena sadar Izuna sudah dewasa sekarang and akan memulai keluarga sendiri. Dia bukan lagi 'Zuzu' kecilnya yang selalu mengekor kemanapun Madara pergi. "Aku tahu ini sudah ditetapkan tapi," Madara bertanya serius, "apa kau sungguh yakin mau menikah dengan Tobirama Senju?"

Pandangan mereka terkunci.

Madara mencari keraguan apapun di mata Izuna. Dia tak peduli jika ini akan membawa kehancuran ke klannya tapi kalau Izuna menolak lamaran pernikahan ini, dia akan memutuskannya demi si adik. Dia tak ada dendam pribadi dengan Tobirama selain dari kenyataan di masa depan berdasarkan kisah dua remaja yang melakukan perjalanan waktu. Diluar itu, ketika Madara menganalis Tobirama, dia kesulitan menemukan celah untuk menghapusnya sebagai peminang Izuna.

Pencipta jurus-jurus, rasional, tenang, ninja tercepat di masa ini, adiknya Hashirama (ya, ini nilai tambah di mata Madara) dan dia mencintai Izuna sejak mereka masih kecil. Dia membuktikan dari dia tak pernah menyelakai Izuna dengan serius sebelum Konoha dibangun. Tak pernah ada peminang sebaik Tobirama yang datang ke Madara untuk meminta izin menikahi Izuna. Apalagi—

"Ya, aku yakin, Kak," Izuna tersenyum sedikit malu, tapi tak ada keraguan di suaranya yang menyatakan, "Aku mencintainya."

itu.

Apa ada yang tidak mengindahkan itu? Madara tentu tidak bisa. Izuna tak pernah menyatakan dia mencintai seseorang sebelum ini. Hal itu saja sudah mempengaruhi keputusan Madara tentang pernikahan ini lebih dari apapun. Ia menghela nafas dan memeluk adiknya pelan. Madara senyum. "Kapan saja kau berubah pikiran, kasih tahu aku," bisik Madara. "Aku tidak peduli sekalipun aku harus melawan seluruh dunia tapi akan kulakukan. Bilang saja ya." Izuna tertawa ketika balas memeluk.

"Akan kuingat," ucapnya dan mengeratkan pelukan sedikit, "Terima kasih, Bang. Aku hanya ingin restumu untuk pernikahanku."

Sang kakak tersenyum tulus mendengar panggilan itu. Terakhir kali ia tersenyum seperti ini mungkin sekitar masa-masa pertemuan berduanya sembunyi-sembunyi dulu dengan Hashirama. Mendengar saudara satu-satunya menginginkan restu darinya itu menyenangkan.

Ketika mereka melepas pelukan, dengan jarak sedekat ini, Madara sadar betapa pucat Izuna. "Apa kau tidak apa-apa, Izuna?" Madara khawatir. "Kau terlihat pucat."

"Ah, tentang itu..." Izuna menceritakan keluhannya belakangan seperti yang dia jabarkan ke Naruto. Juga kecurigaan mereka tentang itu. "Bisa Kakak minta Hokage untuk memeriksaku?" Menyebalkan sekalipun, Hashirama adalah ninja medis terbaik dan Izuna menambahkan, "Aku mau yakin dulu sebelum bilang ke Tobirama."

Madara yang terpana dengan telapak tangannya di perut Izuna hanya mengangguk lalu terdian untuk waktu lama dan itu mengkhawtirkan Izuna. Ia tak tahu harus mengartikan diam ini sebagai pertanda bagus atau buruk. Di masa ini, memang tergolong biasa jika ada kehamilan di luar pernikahan. Mereka sibuk bertahan hidup di pertempuran jadi tradisi punya anak setelah menikah dilonggarkan karena orang mati tiap saat. Sekalipun begitu, jika memang memungkinkan, pernikahan akan dilangsungkan terlebih untuk mereka yang butuh pewaris seperti pemimpin klan.

"Kakak, kau baik-baik saja?"

"Ya, aku hanya..." mencoba menenangkan diri dari fakta bahwa adiknya dihamili. Walaupun dia benci seseorang sudah meniduri adik tersayangnya, dia tahu kalau dia marah dan memburu Tobirama sekarang, Izuna akan merasa stress dan itu tak baik untuk orang hamil.

Lagipula—

"Apa Kakak mau jadi Paman Madara untuk..."

—itu. Pertanyaan sekaligus pandangan mengharap Izuna sambil mengelus perutnya... meluluhkan emosi negatif Madara.

"Tentu saja, aku mau..." Madara menghela nafas lalu tersenyum pada adiknya. "...Aku bahagia kau akan punya keluargamu sendiri, Zuzu," ia tersenyum hangat. Inilah yang ia perjuangkan. Hal terpenting dia bertahan hidup di zaman perang. Menanggung beban sebagai pemimpin klan, bertarung di pertempuran dan membuat kesepakatan dengan orang-orang tak berlogika... semuanya itu untuk melindungi Izuna. Untuk melihat adik kecilnya bahagia.

Izuna tahu dan merasakan itu. Air mata tergenang karena hormon tak seimbang. Ia memeluk kakak sulung dan satu-satunya dengan erat. "Kau juga keluargaku, Bang," bisiknya pelan tapi emosi tak tertahankan. Satu-satunya yang selalu ada untuknya dan melindunginya sudah menjadi panutan hidup sepanjang Izuna bisa mengingat. Dia menyayangi Madara sebesar Madara menyayanginha dan dia tahu dia tak akan jadi Izuna yang sejarang kalau bukan karena Madara.

Sudah lama sekali sejak Izuna memanggil Madara dengan sebutan barusan. Terakhir kali mungkin ketika mereka baru meninggalkan usia balita dan itu membawa kenangan kembali. Madara gagal melindungi adik-adiknya yang lain tapi dia berhasil melindungi Izuna. Dia berhasil.

—000—

"Kau menemukan ninjutsu ruang dan waktu, Bocah Tobirama?" Tanya Kurama. Mereka kembali ke alam bijuu dalam Naruto untuk mendiskusikan kemungkinan cara mengembalikan para remaja ke masa depan setelah meneliti gulungan tua yang ditulis cicit cucunya Indra, Onamuji Otsutsuki dan cicit Asura, Suseri otsutsuki.

"Tidak secara harfiah. Tapi, menurutku kita bisa buat satu jurus," ujar Tobirama yang duduk antara Izuna dan Sasuke. Naruto yang di sisi lain Sasuke mengedipkan mata dan memiringkan kepala, mengulangi ke Senju yang lebih muda, "Uhmmmm... kita?"

Dia yakin kalau soal menciptakan jurus, dia akan disisihkan. Bukannya dia keberatan, dia bahkan tak akan tersinggung karena Naruto tahu kemampuannya sangat baik. Jurus original yang dia buat adalah Harem no Jutsu. Tentu saja, dia bangga dengan itu tapi... membuat jurus terkait ruang dan waktu... itu diluar bidangnya. Bukan keahliannya deh. Dia tak bisa berpikir bagaimana memulai.

"Ya," Tobirama mengingatkan lagi ingatan mereka tentang jurus Kaguya yang membutuhkan cakra para bijuu untuk membangkitkan Juubi atau Kaguya sendiri. "Jika analisis Sasuke benar yaitu mereka terbawa oleh ninjutsu gagal Kaguya, kalau begitu kita tidak perlu melakukan jurus asli Ame no Minaka. Kita bisa membuat yang mirip jadi secara teori kita tidak perlu semua cakra para bijuu. Dengan begitu, kita tidak membukan segel Juubi."

"Kau tahu cara membuatnya?" Madara bertanya.

"Aku tak pernah membuat tapi aku ada pemikiran bagaimana ini bisa dibuat dan dilakukan."

"Terangkanlah, Tobirama," kata Hashirama.

Tobirama menjelaskan, "Akan membantu kalau kita punya seseorang dengan dimensi teleportasi seperti Si Obito yang diceritakan Sasuke dan Naruto. Karena tidak ada, taruhanku bergantung pada membuat jurus tiruan seperti punya Kaguya. Ada tiga faktor untuk membuat jurus ini. Pertama, cakra para bijuu."

"Jadi, kita masih butuh cakra mereka?" Sasuke memastikan.

Tobirama mengkonfirmasi, "Ya, tak banyak. Bahkan tidak butuh seperempatnya. Seperenambelas saja sudah cukup."

"Wow! Apa itu artinya kita akan bertemu dengan para bijuu di zaman ini?!" Naruto sumringah. Tobirama mengangguk kaku. Safir kembar berbinar. "Wah, bagaimana kabarmu dan yang lain di masa ini ya, Kurama?"

Kyuubi menjawab, "Mungkin terasa lama untuk manusia tapi seratus tahun bagi kami tak lebih lama dari sebulan kalian, Naruto."

"Kedua faktor lainnya apa?" Tanya Izuna.

"Karena Kaguya juga merupakan ibu dari Rikudou Sennin, kita butuh sesuatu yang mendekati cakra beliau. Dengan kata lain," ia menatap keempat reinkarnasi, "gabungan cakra Indra dan Asura."

Naruto mengikuti arah pandang Tobirama, menebak, "Kami berempat?" Naruto bingung, "Apa punyaku dan Sasuke tidak cukup?"

"Sekali lagi, aku tidak tahu secara pasti tapi lebih baik sedia payung sebelum hujan. Perjalanan waktu bukan kejadian yang tiap hari terjadi, bisa kubayangkan ini membutuhkan cakra yang sangat banyak. Lagipula, kita mengurangi jumlah cakra dari para bijuu, lebih baik kalau kita meningkatkan cakra di bagian lain karena ada dua pasang cakra Indra dan Asura."

"Yah, benar juga..." Naruto tak tahu harus merasa apa tentang itu. Bagaimanapun, dia, bukan, mereka tak punya banyak pilihan dalam hal ini.

Sasuke bertanya, "Faktor ketiga?"

Tobirama diam untuk beberapa lama. Mengambil seluruh perhatian dari mereka di sekitar. Menutup mata sesaat sebelum rubi kembar menatap lurus onyx milik Sasuke. "Terpikir olehku ada satu doujutsu yang sangat kuat untuk mengubah ilusi menjadi kenyataan dengan satu kesempatan saja."

Semua Uchiha membelalakkan mata.

Mereka tahu persis jurus yang belum disebutkan oleh Tobirama sementara kedua reinkarnasi Asura masih tidak nyambung jurus apa yang dimaksud. Hashirama tak pernah menerima jurus itu juga hingga tak tahu arah pembicaraan meski ia menyadari reaksi ketiga Uchiha secara tanpa kata lebih dari cukup mengumumkan bahwa jurus ini bukan jurus biasa.

Menunggu penjelasan lebih lanjut namun tak kunjung datang, Naruto mengedarkan pandangan ke yang lain sebelum bertanya, "Jurus yang mana, Kek?" Si Pirang belum pernah menyaksikan langsung jurus itu sendiri dan hanya pernah mendengarnya sekali jadi dia tidak tahu apa yang dibicarakan Tobirama.

Bahkan ketika nama jurus itu disebutkan.

"Izanagi."

TBC


Makasih uda baca! Kasih review ya kalo mau chapter selanjutnya!

Namikaze Ichilaw: Emang disitu ditujukan untuk lucu hehe aku ngakak banget baca 'tekdung' LOL udah ga ting-ting HAHAHAHA iya, Madara keduluan hehe kurang cekatan kali ya si Hashirama di ranjang XD oh, Si L toh XD

Guest: selamat datang kembali! iya makasih semangatnyaa! yep! Izuna uda 'isi'~

Funyaaa: makasih juga uda bilang ini menarik!!! hahahaha silakan kalo mau baca yg inggrisnya, monggo~ belum tamat tapi hehe iya butuh asupan kita kan ya sebagai fans wkwkwkwk

Guest: eh? maksudnya author lain jarang tulis? bagian apanya emang? okeee ntar ya abis lebaran aku publish yang TobiIzu untuk versi Indonesianya yaaa

Ay03sunny: hmmm... kurang panjang? review yang kudapat juga kurang panjang sih hehe

sasayachen: iya langka banget emang ya hashimada ma tobiizu, beneran deh. yang fandom english juga dikit, apalagi yg indo, beh, makaciiihhh semangatnyaaaaaa!!!

princess pink: Wah, maaf banget tapi permintaannya gak bisa dikabulkan. Kenapa?

Secara pribadi, menurutku gak mungkin usia kakek-nenek Naruto (asumsiku maksudmu muda itu berarti mereka uda nikah) di masa Hokage Pertama. Kenapa? Logika aja, Jiraiya umur 50 tahunan di canon. Umumnya beda umur antara guru dan murid 13-20 tahunan di canon seperti Minato dan Kakashi serta Kakashi dan Naruto. Dari jarak umur itu, aku menyimpulkan setidaknya umur ortu Minato dan Kushina seusia Sandaime Hokage dkk. Sementara Sandaime di ceritaku ini masih bocah baru masuk Akademi Ninja.

Ceritaku berputar di awal banget jaman Konoha dibentuk lho dan kemungkinan besar Klan Namikaze belum bergabung. BISA emang kubuat aja muncul Klan bapaknya Naruto tapi ya itu, kakek neneknya bakal masih bocah banget. Bisa jadi masih balita karena melihat jarak usia antara Minato dengan Sandaime, kayaknya lebih muda 5-6 tahun dari Sandaime si ortunya Minato. Di sini Sandaime kutarok usia 7-8 tahun gitu (korupsi dikit, seharusnya Sandaime 6 tahun pas Konoha di bentuk) jadi masih balita banget seandainya ada ortunya minato. PLUS! Kushina datengnya dari Uzushiogakure. Desanya bahkan masih berdiri di zaman dia pindah ke Konoha untuk jadi Jinchuriki jadi sangat besar kemungkinan ortunya Kushina di Uzushiogakure bukan di Konoha dimana ceritaku berkembang... Semoga alasanku bisa dimengerti ya :) Idenya bagus! Menarik banget! Jujur, aku juga kepikiran itu pas mulai cerita ini tapi aku menghitung ulang umur-umur yang di canon, kayaknya gak memungkinkan jadi ortu Minato ama Kushina gak kumasukkan dan fokus ke cara mereka bisa balik ke masa depan.

lalalala-chan desu: yep! uda ada tanda-tanda~ bentar lagi nyampe ke chapter nikahan kok, review terus aja ya~!