Disclaimer: I do no own Naruto. The creator is Masashi Kishimoto.
Warning: Cek chapter sebelah!
Tengah malam, setelah selesai memakai kimono tipis untuk tidur, Naruto mengeluarkan dua futon dari lemari geser dan membentangkannya di tatami. Kelihatannya pengadilan dan investigasi dari penyerangan ini mengambil waktu hampir seharian. Mereka mendengar suara ketukan dan Sasuke yang selesai menata futon-nya membuka shoji. Ia mendapati Tobirama masih dengan pakaian pengantin berdiri di sana. Jelas mereka baru saja selesai.
"Bagaimana?" Sasuke bertanya ketika mereka duduk di zabuton.
"Hukuman mati," jawab Tobirama.
"Semuanya?" Naruto bertanya ragu.
"Ya."
Hening mencekam memenuhi ruangan. Walaupun Naruto merasa itu terlalu kejam tapi dia tahu menyerang seorang Kage akan dihukum berat. Kelihatannya targetnya adalah Hashirama dan Tobirama. Jadi, Sasuke memastikan dengan pertanyaan terpenting, "Apa mereka semua Uchiha?"
"Tidak semua. Sebagian, iya. Takumi Uchiha adalah pemimpin sekaligus otak dalam penyerangan ini. Dia mengumpulkan para pemberontak dari klan-klan lain yang menolak sistem desa dan para Uchiha yang dendam tidak berkesudahan terhadap Senju, terutama padaku dan kakakku."
"Jadi, kesepakatan antara Senju dan Uchiha akan batal?" Pirang Uzumaki bertanya serius.
Tobirama menggelengkan kepala, "Tidak, para Tetua dan Kage yang lain mengambil kesimpulan bahwa para kriminal akan dihukum tapi klan mereka yang tidak ikut penyerangan tidak akan dihukum. Begitu juga dengan keluarga mereka. Suami Takumi sekarang hamil dan akan melahirkan kapan saja di bulan ini."
Naruto menghela nafas lega. Itu berita bagus kalau perang bisa dihindari. Harga untuk pemberontakan seperti ini bisa memicu perang baru. Para Kage sadar ini dan sebagai Kage, mereka tahu posisi mereka bukan untuk membuat perang melainkan untuk melindungi kedamaian di desa mereka. Hukuman mati seharusnya cukup jadi pengingat buat yang lain pemilik niatan sama. Naruto mengedipkan mata, ia baru sadar Tobirama datang sendirian, "Dimana Izuna?"
"Aku minta dia istirahat di kamar. Madara mau Izuna dekat dengannya setelah penyerangan ini jadi kami akan tinggal di sini juga," pria bermata rubi menghela nafas berat. Dia tidak senang untuk tinggal di satu bangunan dengan kakaknya sendiri apalagi setelah menikah. Tapi, dia tahu Madara khawatir dengan Izuna jadi tak ada yang bisa dia lakukan. "Terima kasih untuk bantuan kalian, Naruto, Sasuke," ucap Tobirama. Dia mungkin salah satu tipe sensor terbaik di masa ini tapi dia tak bisa merasakan niat buruk seperti Naruto. "Aku mengantisipasi hal seperti ini akan terjadi tapi kalian berdua sangat membantu."
Naruto tersenyum lebar, sedikit tersipu, "Bukan masalah besar, Kek!"
"Apa ada yang curiga denganku dan Naruto?" Sasuke bertanya. Mereka mungkin tak mengeluarkan seluruh kekuatan tapi tetap saja bertarung di publik sangat riskan.
"Untungnya, para tamu dan Kage berfokus ke para penyerang serta efek yang akan melanda desa-desa. Mereka akan rapat besok. Kami berempat tidak bisa bersama kalian jadi jangan berpergian jauh-jauh. Kusarankan kalian tetap di Kediaman Hokage."
"Seriusan? Bisa bosan banget nih!" Keluh Naruto.
"Mau bagaimana lagi," komentar Sasuke tapi tak dilanjutkannya karena Tobirama melanjutkan. "Tapi, Kazekage, Raikage dan Mizukage bersikeras ke Madara untuk menjodohkanmu, Sasuke."
Mata Naruto terbelalak sangat lebar, "APA?!" Sasuke menjelaskan padanya bagaimana pertemuannya dengan para Kagedi pernikahan. Mendengus kesal, "Aku tidak mau. Sebaiknya Madara menolak lamaran mereka semua."
"Madara memang menolak semua tapi mereka bersikeras jadi kakakku bilang ke mereka kalau kau sudah tunangan dengan seseorang dan akan segera menikah."
"Dengan SIAPA?!" Pirang Uzumaki berang. Cemburu jelas terdengar dari suaranya. Sasuke menaikkan satu alis soal itu. Dia tahu Naruto lambat berpikir tapi dia seharusnya tahu bahwa putra Hokage Keempat tidak cukup cerdas untuk memasukkan hubungan mereka ke kategori spesial. Bertukar pandang dengan Tobirama, keduanya menjawab, "Kau."
"Hah?" Naruto cengo.
"Mereka menerima itu? Apa cerita latar belakang Naruto memangnya?"
"Narutsune adalah teman Hebisuke ketika hilang ingatan. Mereka punya ikatan sebagai korban perang yang mendalam hingga menjadi tunangan belakangan. Klannya tidak diketahui tapi itu wajar di masa ini sebab korban perang sangat banyak. Kecuali, ada hal khusus seperti sharingan, byakugan, rambut merah dan sebagainya."
Naruto memerah bak kepiting rebus begitu dia mengerti arah pembicaraan," A-A-Ap— tapi kami baru 17 tahun!"
"Ya, itu usia legal dan terhitung sebagai dewasa jadi kalian bisa menikah umur 17 tahun."
Pirang Uzumaki terlihat susah bernafas dengan wajah merah. Kasihan, Tobirama menenangkan, "Tarik nafas, Naruto, keluarkan. Ini hanya cerita untuk memalsukan asal-usul kalian. Kau tidak harus menikahi Sasuke sekarang. Kalian berdua bisa mendikusikannya jika kalian...mau... itu direalisasikan atau hanya..." rubi kembar menatap penuh arti ke mereka berdua.
Naruto membeku dan Tobirama batuk canggung.
"Istirahatlah kalian berdua," Tobirama berdiri dan berjalan ke shoji, dia berkata ke remaja Uchiha dari masa depan setelah mematikan lampu. "Aku bilang ke Mito untuk mengajari kita teknik segel. Setelah dia pilih hari, siap-siaplah, Sasuke."
Tobirama meninggalkan mereka sendirian dan untuk waktu yang lama mereka duduk dalam keheningan. Melihat Naruto menutup mulut untuk waktu lama seperti ini merupakan sesuatu yang tak lazim, jadi Sasuke memecah keheningan dengan berkata, "Sepertinya ada seseorang yang lebih suka aku menikahi orang lain."
Kepala Naruto menoleh ke Sasuke, cemberut, "Siapa bilang?"
"Kau tidak mau menikahiku," ujarnya langsung tanpa basa-basi ketika kembali ke futondan berbaring dalam selimut dengan memunggungi Naruto. Cahaya bulan dari jendela temaram menerangi.
"Aku tidak bilang begitu!" Pirang Uzumaki mengambil posisi yang sama dan menekuk muka.
"Tapi, kau memberi sinyal begitu."
"Bukan!"
"Kalau begitu, kenapa tadi kau terlihat panik waktu Nidaime membicarakan itu?"
"Aku..."
Kata-kata meninggalkan jejak semu di bibir Naruto. Mereka kembali dalam keheningan yang meraja. Sasuke menutup mata erat, dia yakin Naruto akan memberikan penjelasan tapi untuk kehabisan kata-kata seperti ini... memberikan asumsi Sasuke tadi untuk jadi benar. Dia pikir apa yang mereka miliki merupakan sesuatu yang istimewa melebihi waktu. Seperti kedua pendiri Konoha, tapi mungkin Sasuke salah paham. Mungkin Naruto...
"Aku tidak mau menikahimu di masa ini..." Naruto berbisik sangat pelan.
Hitam kembar terbelalak, Sasuke berbalik badan menatap punggung Naruto. Dia bertanya dengan nada yang sama, "Apa maksudmu?"
Kesepian terdeteksi di suara Naruto begitu dia menjawab, "Kita tidak punya siapa-siapa di sini..."
Sasuke mendengarkan dengan seksama.
"Aku tahu para Kakek orang baik, bahkan Madara dan adiknya juga. Tapi... kita tidak ada hubungan dengan mereka. Zaman kita berbeda. Teman-teman kita tidak ada di sini... Guru Iruka... Guru Kakashi... Sakura... Shikamaru... Gaara... yang lain..." Naruto menelan ludah sebelum melanjutkan dengan pahit, "Tidak ada yang kenal kita di sini..."
Mengerutkan alis sedikit, Sasuke sadar nafas Naruto tak berarturan dari suaranya. Putra Hokage Keempat menangis. Sasuke pindah ke futon Naruto, masuk ke selimut lalu memeluk Naruto dari belakang.
"Aku tidak akan punya orang untuk..." ia terisak di leher Sasuke setelah membalikkan badan, "...berbagi kebahagiaanku jika kita menikah..."
Sasuke memejamkan mata dan alisnya berkerut dalam. Sangat mudah melupakan betapa kesepiannya Naruto dengan sifat cerianya. Ia sangat mengistimewakan ikatan yang dia punya di masa asal mereka karena dia kerja keras untuk itu. Ia mendambakan pengakuan sejak kecil dan Naruto mendapatkannya saat perang. Perang mereka. Untuk seseorang yang terbiasa untuk tidak punya apa-apa, pengakuan semua orang dan Konoha mereka adalah rumahbagi Naruto.
Di sisi lain, Sasuke kehilangan semuanya di sana. Klan, keluarga dan sisa kepercayaan yang mungkin bisa dimilikinya. Sebagai shinobi yang lahir di Konoha, Sasuke memang merasa terikat dengan Konoha. Tapi, selain dengan Naruto, dia tak peduli dengan siapapun di Konoha sekarang. Di luar itu, dia hargai keinginan orang terkasihnya.
Sasuke mengangkat tangan kanannya dan menjauh sedikit sebelum mengetuk pelan jari telunjuk dan jari tengah di dahi Naruto. "Mungkin nanti..." tersenyum tipis, "...kita sebaiknya menikah setelah kembali ke masa depan..." ucap Sasuke pelan.
Isakan Naruto terhenti perlahan sebelum dia ikut memberi jarak wajah mereka untuk melihat ke mata Sasuke. Cahaya temaram bulan adalah satu-satunya penerangan di ruangan ini. Mata sedikit bengkak dan air mata bercucuran di pipi merupakan pemandangan yang menyapa Sasuke. "A-apa kau... a-apa omonganmu barusan... seperti yang kupikir kau bilang?"
Sasuke tersenyum tipis lagi sebelum mencium kening Naruto. "Aku rasa tidak ada gunanya kalau aku terus berpura-pura kau tidak berarti bagiku, Naruto." Dia mengencangkan pelukannya di pinggang Naruto. Menghirup aroma tubuh kekasihnya yang sanggup menenangkan di segala situasi. "Kau sangat penting bagiku." Sasuke berbisik setelah tenggelam dalam biru kembar yang mempesona. Suaranya sarat akan kejujuran perasaan seraya melanjutkan, "Aku mencintaimu..."
Kelopak matanya terus berkedip dengan hasil nihil untuk menahan air mata jatuh dari biru kembar. Dia sangat senang mendengarnya dari Sasuke sampai ke titik tak sanggup menghentikan air matanya begitu dia mendengar lanjutan dari kekasihnya yang bertanya, "...maukah kau menikah denganku, Naruto Uzumaki?"
"Kau tidak akan meninggalkanku lagi?"
"Tidak akan."
"Kau tidak akan melakukan kebiasaanmu tak peduli seberapa berat kehidupan kita berdua nanti?"
"Iya, aku janji," Sasuke mengerutkan alis sedikit atas kecemasan Naruto. "Jawabanmu, Usurantonkachi?"
Naruto tersenyum senang, "Teme! Tentu saja!" Dia mengelus pipi Sasuke lembut, menatapnya hangat dan tersenyum penuh sayang, "Aku mau menikah denganmu, Sasuke Uchiha."
Sasuke tersenyum dan memeluk hangat Naruto hingga tertidur. Mereka begitu bahagia dan tak terlalu peduli pada poin kecil dari rencana kembali ke masa depan mungkin tak berjalan sesuai keinginan. Mereka saling memiliki. Itu cukup untuk sekarang. Ketika Sasuke pikir Naruto sudah terlelap, ternyata terbukti salah begitu Naruto buka suara, "Hei, Sasuke..."
"Hm?"
"Kayak mana sih caranya dua cowok buat anak?"
Sasuke pura-pura tidur untuk menghindari pertanyaan tersebut.
—000—
Tiga hari setelahnya, mereka berkumpul di kamar dua remaja masa depan setelah sarapan. Tobirama berpakaian sederhana dengan kaos hitam tangan panjang dan celana panjang polos seperti yang biasa digunakan untuk latihan bersama murid-muridnya. Sasuke dipinjami baju yang sama. Hashirama masih dengan seragam Hokage sementara yang lain dengan yukata biasa.
"Jadi, latihan dengan Mito akan dimulai hari ini?" Tanya Hashirama. Kekacauan setelah penyerangan pemberontak akhirnya reda.
"Ya, lebih cepat lebih baik," ujar Tobirama.
"Siapa yang akan tinggal dengan Naruto?" Tanya Sasuke, mengacuhkan protes Pirang Uzumaki bahwa dia bukan bayi.
"Aku tidak bisa," jawab Izuna. "Aku punya pertemuan dengan tim lamaku untuk memberitahu soal penggantiku dalam misi setelah periksa kehamilan dengan Hokage."
"Kalau begitu, kita ada masalah, Madara dan aku punya rapat dengan para Kage—"
"Berhenti, Hashirama," Madara menginterupsi dengan tenang. "Aku sudah memberikan waktuku lebih dari cukup. Aku tidak akan hadir rapat apapun dengan mereka lagi."
Naruto terkikik ketika melihat Madara memasang wajah setan yang seperti dilihatnya di versi edo-tensei. Jelas, Madara kesal dan jijik dengan para Kage. Bisa dipahami sih. Bahkan Hashirama diam-diam setuju, tapi ini tugasnya sebagai Hokage untuk menjaga keamanan secara diplomatis jadi dia menghela nafas, "Baiklah, jadi kau akan tinggal dengan Naruto, 'kan?"
Madara membeku, entah bagaimana ia kehilangan suara ketika bertanya dengan nada tak percaya ke suaminya, "Apa?"
Kedua reinkarnasi Indra melihat ke Naruto yang tersenyum, "Yo! Madara!" lalu bertukar pandang sebelum bersamaan berkata, "Sebaiknya tidak..."
Mereka berhenti dan yang tua diantara mereka menaikkan alis, "Sebaiknya tidak kenapa?"
"Itu ide buruk," jawab Sasuke.
"Kenapa tidak? Kau takut aku akan mencoba mengkontrol Kyuubi seperti Aku di Masa Depan lakukan?"
"Aku hanya pikir kau tidak bisa menangani tingkat kebocahan Naruto."
Pirang Uzumaki menghardik, "HEI!"
"Dia hanya reinkarnasi Asura yang lain. Aku menikahi satu reinkarnasi Asura, ingat?"
"Mungkin luput dari perhatiannu, tapi suamimu itu tua."
"Cuma di selera baju."
Sang suami tersinggung, "HEI!"
Kedua reinkarnasi Indra melotot satu sama lain, mengabaikan protes dari dua reinkarnasi Asura. Keduanya membeku ketika Naruto tiba-tiba bertanya, "Hei, hei, kayak mana sih caranya dua cowok buat anak?" Naruto penasaran dan bertanya dengan polos. Malam dimana pembicaraannya dengan Sasuke berujung pernikahan membuatnya kepikiran tentang kemungkinan dia bisa hamil. "Aku tanya Kurama tapi dia bilang cara manusia kawin beda dengan dia jadi dia tidak kasih tahu."
Kedua pasang pengantin baru dan Sasuke melihat ke Naruto dengan menutupi kengerian mereka! Ada alarm bahaya berdering di benak mereka, mendesak untuk lari sejauh mungkin dari Pirang Uzumaki yang tak ternoda. Detik ini juga! Mereka sadar seseorang harus tinggal dan "bicara" ke Naruto.
Tobirama terbatuk canggung dan mendekat ke Sasuke pelan, "Ayo, Sasuke, kita perlu ketemu Mito dan memulai latihan." Diam-diam setuju, Uchiha muda mengangguk sebelum Tobirama menyentuh bahunya dan menggunakan hiraishin untuk berpindah tempat.
Ketiga lelaki yang tersisa kaget dengan kemungkinan untuk tinggal jadi lebih kecil. Hashirama meneguk ludah sebelum mengajak, "Oh, Izuna, bukannya kita harus periksa kehamilanmu? Aku harus memastikan pertumbuhan janinnya sehat." Menangkap maksudnya, Izuna setuju, "Iya, baiklah, Hokage. Sampai nanti, Kak." Izuna melambai singkat ke Madara disusul Hashirama melakukan hal itu juga sebelum keduanya ke kantor Hokage. Kedua mata Madara terbelalak.
Bukankah barusan suami dan adiknya meninggalkan dia untuk melakukan pekerjaan kotor?
PENGKHIANAT!
Naruto menaikkan saru alis. Bingung. Dia melihat Madara dan tak segan meminta, "Hei, Madara, kasih tahu aku. Kayak mana caranya dua cowok buat anak?"
Madara melirik ke biru kembar penuh ekspektasi dan ujung sudut mata kiri berkedut. Mereka bertatapan sangat lama sampai Naruto jengah!
"Madara?" Naruto melambaikan tangan ke depan wajah Uchiha tersebut tapi tak ada reaksi. "Apa ada yang menggunakan genjutsu ke dia, Kurama?"
Kurama terbahak-bahak melihat itu dari dalam Naruto.
—000—
"Pertumbuhannya bagus sesuai dengan usia kehamilan 12 minggu," kata Hashirama setelah selesai memeriksa. "Tapi, di awal kehamilan kusarankan untuk banyak istirahat dan jangan stress. Kehamilan laki-laki mengambil lebih banyak energi dari yang wanita karena secara alami kita tidak dibuat untuk itu. Aku aman mengurangi misimu dan tolong jangan lupa minum vitamin, Izuna."
"Ya, kau bilang itu juga di pemeriksaan sebelumnya," Izuna menghela nafas. Ia mudah kesal akhir-akhir ini dan menyalahkan homornya yang tidak stabil. Serius deh, kalau orang mengingatkan hal yang sama berulang-ulang, siapa sih yang tidak kesal?
Hashirama tertawa tapi membantu Izuna duduk setelah berbaring di futon. "Bagaimana lagi? Aku mau memberimu yang terbaik. Kau keluargaku sekarang," Hokage senyum girang, "dan aku akan jadi paman!"
Izuna menghela nafas, Hashirama terlihat lebih senang dibanding Tobirama yang akan menjadi ayah. Tak bisa dibayangkan apa yang Hokage lakukan kalau Hashirama di posisi Tobirama sekarang. "Aku tahu, kau sudah bilang itu ribuan kali, Hokage," alis Izuna berkedut emosi.
Si Hokage terbahak ketika Izuna berdiri dan dia pun mengikuti. Mereka menghabiskan beberapa menit ke depan berbicara serius dan di akhir, Hashirama bertanya, "Izuna, boleh kutanya sesuatu?"
"Kalau ini soal misi me Kumogakure, aku merekomendasikan temanku, Hikaku, sebagai penggantiku."
"Tidak, bukan soal misi tapi aku heran kenapa kau tidak menentangku menikahi Madara?" Hashirama sungguh penasaran.
Izuna bingung, "Apa kau mau aku begitu?'
"Ya, tidak sih. Tapi, aku tahu seberapa dalam sayangmu ke Madara dan aku berasumsi kau mau "bicara empat mata" denganku atau sejenisnya."
"Maksudmu mengancammu?"
"Kurang lebih," Hashirama tersenyum tidak keenakan.
Izuna menyeringai, "Kalau boleh jujur, ya, aku kepikiran buat itu. Ada dorongan besar untuk menghajarmu habis-habisan." Ia tertawa kecil melihat keringat mulai muncul di dahi Hokage. Hashirama teringat Tobirama yang dihajar Madara dan berkesimpulan bahwa dorongan itu mungkin ada di darah Uchiha.
"Kalau begitu, kenapa tidak?"
"Apa kau pikir aku bodoh?" Lelaki hamil satu ini tersinggung. "Aku tahu beda kekuatan antara kita walaupun dojutsu-ku akan membantuku menghadapimu tapi..." Tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
Hashirama sadar dan mengerti, "...kau hamil."
"Anak ini akan punya darah Senju juga dan kau akan menjadi pamannya. Aku... tidak mau anakku kehilangan anggota keluarga yang bisa ia miliki," kata Izuna murung karena mengingat masa kecilnya. Hashirama tersenyum sedih karena ia sangat mengerti begitupun generasi mereka mengalami kala perang.
"Begitu..." Hokage tersenyum hangat, "Terima kasih, Izuna. Aku senang punya kehormatan menjadi keluargamu."
Izuna merasa pipinya merona sedikit menerima ucapan jujur dari Hashirama. Dari pandangan luar, Izunalah yang seharusnya mengatakan itu karena Hashirama adalah shinobi terkuat di masa ini dan seorang Hokage. Orang paling rendah hati selama Izuna hidup. Yah, Naruto juga tapi mereka reinkarnasi orang yang sama yaitu Asura. Secara teknis ya mereka jiwanya sama jadi tak dihitung.
"Sama-sama, Kakak Ipar," dia terbatuk canggung dan segera keluar sebelum lebih malu lagi.
Hashirama terkekeh senang mendengar Izuna memanggilnya begitu.
—000—
Seorang wanita berambut merah dengan cepol kembar dan kimono santai datang ke ruangan dimana Sasuke baru masuk dengan Tobirama.
"Oh, kuharap kalian berdua tidak menungguku terlalu lama, "Mito berkata dengan senyum kecil. Tobirama menanggapi dengan sama, "Tidak, Mito. Aku berterima kasih kau menerima permintaanku."
"Aku mengerti, Tobirama," Mito mengangguk seraya mengingat alasan Tobirama seperti yang diterangkannya di pernikahan. Mito melirik ke Sasuke, "Sebelum mulai, aku tebak ini saudara jauh yang ditemukan lagi oleh Madara Uchiha."
"Ya. Mito, ini murid baruku," Tobirama melirik Sasuke, "Saudara Madara, Hebisuke Uchiha."
"Aku Mito Uzumaki, senang berkenalan," ia dan Sasume bertukar salam sopan sebelum memulai latihan.
Sementara, di sisi lain Madara sedang menderita
"Hah? Masukin apa ke mana?" Naruto serius bingung.
Madara membenturkan kepalanya ke dinding, berteriak dalam hati...
Bunuh deh, bunuh saja aku sekarang!
TBC
Makasih uda baca! Jangan lupa review ya kalo mau chapter selanjutnya!
Funyaaa: yeah, jadul emang tapi itu fandom pertamaku terjun ke ffn dulu wkwkwk sebelum vakum berapa tahun. Belum, belum baca, ntar kubaca kalo sempet hehe aku tuh kalo buat sekuel ini takutnya jadi kek Boruto, malah ga wah lagi hahaha iya pusing emang, uda kutulis sih ide2 takut lupa kan pas mau nulis ntaran. Rencananya uda fic ini tamat mau buar Drarry multichap. Buanget! Uhlala banget!
Guest: Oooh itu toh XD Wow aku juga suka buanget itu, gemesin banget deh Snape kebapakan kalo sayang ma Harry gitu~! Ooohh sayang ya...
sasayachen: oalaaah kirain uda ga baca lagi tau hahahaha awas di tsukuyomi ama Madara lho baru tau rasa wkwkwkwk ya selama reviewnya rame sih ya gak ku-stop cuma kalo reviewnya cuma 1-3, gak semangat deh translatenya hehe
Namikaze Ichilaw: Haduuuhh, dirimu kemanaaa aja kok ngilang hiks hiks ToT Kirain dah ga baca lagi hehe Sasuke gitu lho, ada peletnya tuh orang baru ketemu dah mau lamar aja wkwkwk sayang cuma bentar ketemunya hehe
katakuri mino: yaaaa soalnya kirain ga ada yg baca lagi kalo ga direview, kan meski angka hits tinggi bisa aja orang salah pencet ToT selama rame review gak distop kok, hehe
