Disclaimer: I do no own Naruto. The creator is Masashi Kishimoto.
Warning: Cek chapter sebelah!
"Hei, Madara, jawab dong!" Keluh Naruto selagi mereka duduk santai di atas zabuton di teras kamarnya yang menghadap ke kebun kecil.
Madara yang masih bisa bersabar setelah 'mengasuh' Naruto beberapa kali, hanya menaikan satu alis akan permintaannya. Hari pertamanya dengan Naruto dua bulan lalu bagaikan neraka. Dia memberikan edukasi seks yang berlangsung sangat canggung untuk Kepala Klan Uchiha. Kemampuan Naruto belajar dari mulut ke mulut sungguh tak bisa dipercaya. Siapapun gurunya di masa depan, Madara salut diam-diam. Dia bahkan harus menggunakan genjutsu untuk beberapa bagian karena Uzumaki pirang tersebut hanya mengerti kalau sudah melihat secara visual. Setiap Tobirama dan Sasuke tengah belajar teknik segel, biasanya Izuna yang menemani Naruto tapi dia dan Hashirama sekarang sedang melakukan pemeriksaan rutin kehamilan. Jadi, sekali lagi, Madara yang jadi 'pengasuh'.
"Oh, seru sekali kedengarannya," sebuah suara masuk setelah shoji ditutup. Madara dan Naruto berbalik ke sumber suara yang berjalan mendekati mereka. "Izuna!" Kaget Naruto. Madara yang merasakan cakranya tak terlihat kaget. Dia mengambilkan bantal duduk untuk sang adik yang duduk disamping mereka dengan Naruto memegangi tangannya untuk membantunya. Izuna berterima kasih kepada Madara dan Naruto setelah dibantu duduk. Kehamilannya memasuki 20 minggu dan tidak mudah bergerak dalam ukuran ini. Dia duduk disamping Naruto jadi pirang Uzumaki tersebut berada di tengah dua bersaudara.
"Kenapa kau di sini?" Tanya Naruto. Madara ikut bertanya, "Mana Hashirama?"
"Ada urusan Hokage. Dia menerima laporan dari ANBU terus bilang kalau malam nanti baru memeriksaku," jawab Izuna. "Apa yang kalian bicarakan?"
Madara menghela nafas, "Naruto terus bertanya tentang Klan Uchiha. Tradisi atau semacamnya." Si adik tertawa, "Dia memburuku juga dengan pertanyaan seputar kehamilan di waktu aku dengannya." Madara sedikit kaget. Bertukar pandang dengan Izuna yang berhenti tertawa setelah praduga hadir di antara dua bersaudara membuat mereka curiga bahwa ada maksud di balik ini. Keduanya menatap Naruto tak berkedip.
"Apa?"
"Apa ada alasan penting kenapa kau ingin sekali tahu tentang Klan Uchiha dan kehamilan?" Tanya Madara.
"Gak juga?" Jawab Naruto tak yakin.
"Kau yakin?" Izuna menatapnya penuh arti.
Si pirang Uzumaki balik bertanya, "Maksud kalian apa sih?"
"Apa kau..." Madara memulai namun Izuna yang mengakhiri pertanyaan terpenting, "...hamil?"
Mata Naruto terbelalak dengan menjauhkan wajahnya yang memerah padam! Ia terbata, "A-A-AP—!"
Madara memang tipe sensor yang handal tapi tidak seperti Naruto yang punya insting tajam Kurama, dia tak bisa merasakan cakra terkecil atau bayi di dalam tubuh seseorang. Untuk kasus Naruto sih, dia mencium si bayi. Kedua saudara ini mengambil kesimpulan berdasarkan topik yang Naruto sering tanya ke mereka.
"Tenang, Naruto. Tidak masalah kok kalau memang iya," Izuna menepuk pelan bahu si pirang Uzumaki untuk menenangkannya. Bahkan Madara berkata lembut, "Kau sudah di usia legal, mungkin terlalu muda tapi—"
"Bentar, bentar, BENTAR!" Naruto berdiri dengan dua tangan berayun di depan wajahnya. "Aku TIDAK hamil!" Teriaknya dengan wajah merah tapi kedua lelaki bersaudara ini menyadari Naruto berkata sebenarnya. Dia tak punya kemampuan bohong. Dua saudara ini bertukar pandang.
"Maaf, Naruto, kami pikir Sasuke menghamilimu," ucap Izuna tulus. Madara bertanya, "Kalau begitu, kenapa kau tertarik sekali dengan Uchiha dan kehamilan?"
"Itu...mmm..." Pirang Uzumaki tersipu dan memandang ke tanah sebelum duduk lagi dengan helaan nafas. Dia bergumam, "Di masaku, Uchiha cuma tinggal Sasuke saja. Dia... dia bilang salah satu mimpinya mau menghidupkan kembali klan Uchiha dan..." Pipi merah bak kepiting rebus, dia menambahkan dengan malu-malu, "2 bulan lalu... dia bilang... kami akan menikah setelah kembali ke Masa Depan... jadi, aku pikir... karena aku tidak akan punya orang dari Uchiha untuk memberitahuku soal beginian... makanya aku..."
Hening canggung hadir selepas kata Naruto barusan. Tiap detik lewat, mukanya semakin merah sampai dia tak tahan lagi dan berkata, "Oke, oke, kalau mau ketawa ya ketawa saja! Gak usah ditahan, aku sudah terbiasa kok!"
Sedikit terkejut, Izuna agak bingung, "Tidak, kenapa juga kami begitu?"
"Karena kalian diam seperti itu," disebabkan di masa lalunya tanpa seorang pun yang mendengarkan perkataannya terutama dari orang dewasa, Naruto beranggapan bahwa diamnya orang sebegai tindakan acuh atau penilaian buruk.
Madara sebagai yang tertua, dia biasa menemukan sikap seperti ini dari anak korban perang yang kehilangan keluarga walaupun dia tak tahu detail tentang masa lalu Naruto. Matanya menyipit karena sadar bahwa ia secara tidak langsung bertanggungjawab untuk itu. Izuna menyadari perubahaan di raut muka Madara dan menepuk ringan lengan sang kakak di belakang Naruto. Madara meliriknya dan mendapati simpati di senyum si adik. Itu menenangkan Nadara lalu Izuna bertanya ke Naruto.
"Maaf, kalau aku nanya ini, kenapa Sasuke sangat penting untukmu? Jangan salah, aku mengerti konsep jatuh cinta dan sejenisnya. Hanya saja..." Ia melirik Madara sebelum menatap biru kembar lagi. "Zamanmu beda dengan zaman kami. Waktu aku bertemu Tobirama dan kakakku bertemu Hokage, klan kami adalah musuh. Untuk kami terpisah dari mereka itu tidak bisa dinegoisasikan. Harus dilakukan bukan karena pilihan kami sendiri tapi situasi kami. Sementara Sasuke... dia... jangan tersinggung, Naruto, tapi dia meninggalkanmu 'kan? Dia pergi dari Konoha."
Naruto tersenyum tapi entah kenapa Madara dan Izuna melihat kesedihan di mata birunya saat menjawab, "Gak tersinggung kok, Izuna. Itu benar. Dia pergi dari Konoha. Dia meninggalkanku. Waktu itu... orang yang mengakui keberadaanku... yah, bisa dibilang satu tangan cukup untuk menghitungnya."
"Kenapa?" Tanya Madara.
"Oh, aku tidak bilang ya waktu kami cerita soal Masa Depan?" Naruto terkejut. Madara mengingatkan kalau mereka hanya cerita tentang kejadian besar yang berkisar seputar perang, Juubi dan tragedi Klan Uchiha. Naruto tidak menyebutkan tentang masa kecilnya.
Naruto pun menjelaskan masa kecilnya ke mereka. Diacuhkan orang dewasa, tak ada yang melihafnya dengan pandangan hangat dan ia haus pengakuan orang selama hidupnya. Dia juga menceritakan tentang Iruka dan tim 7.
"Begitu... tapi kenapa Sasuke?" Suami dari Hokage itu bertanya.
Pirang Uzumaki menutup matanya dengan sedikit mengerutkan alis, "Dia sangat dingin dan tidak peduli denganku. Arogan sekali! Aku benci dia dulu!"
"Semua Uchiha begitu," Madara membenarkan. Izuna menambahkan, "Sudah ada dalam darah kami."
Naruto setuju sambil tertawa kecil, "Ya memang sih." Lalu, ia tersenyum mengenang, "Tapi... seperti Guru Iruka, dialah yang selalu mengakui keberadaanku."
Kedua bersaudara terkejut, "Benarkah?"
"Susah dipercaya 'kan?" Naruto tertawa. "Aku juga. Aku pikir Sakura atau Shikamaru yang akan begitu. Mereka juga sih tapi... Sasuke lebih sering."
Madara dan Izuna mendengarkan Naruto yang terlihat bahagia dengan senyum di bibirnya.
"Pertama kali pas kami diuji untuk mengambil bel dari Guru Kakashi. Dia memberiku makan siangnya walaupun sudah dilarang. Receh emang, tapi tak ada yang pernah berbagi denganku. Itu segalanya bagiku. Melihat kebaikannya itu... terus di misi A kami yang pertama, dia melindungiku dengan nyawanya," matanya bersinar akibat air mata yang menggenang. "Waktu itu, aku bukan siapa-siapa di Konoha. Aku belum punya kekuatanku sekarang. Benar-benar usuratonkachi deh kayak yang dibilang Sasuke."
Dia tertawa sebelum melanjutkan, "Tapi, dia membuang nyawanya untuk melindungiku yang tidak berguna. Guru Iruka dan Sasuke. Saat itu juga... walaupun aku tidak tahu siapa orangtuaku atau kenapa aku harus jadi Jinchuriki, aku tahu aku beruntung. Sebelum orang lain di Konoha mengakuiku, Guru Iruka dan Sasuke sudah duluan. Karena itu, aku tidak sanggup kehilangannya sekalipun harga untuk itu adalah mimpiku jadi Hokage."
Madara berkomentar dengan senyum tipis, "Aku mengerti."
Izuna menyadari Naruto terlihat berpikir keras, maka ia bertanya, "Kenapa?"
"Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah tahu kenapa Sasuke tertarik sama aku? Jauh sebelum Kakek Rikudou bilang kalau kami reinkarnasi dua putranya, Sasuke spesial buatku karena yang baru kubilang barusan ke kalian. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang berarti deh ke dia kayak dia ke aku."
"Hah? Mungkin kakakku bisa jawab. Nikah sama Hokage, aku sih tidak mengerti apa yang dia lihat dari Hokage," Izuna melirik jahil ke Madara.
"Tolong berkaca. Perlu kuingatkan bahwa kau menikahi si adik Hokage dan sedang hamil, Izuna?" Balas Madara menaikkan satu alis lalu menatap ke perut Izuna yang sudah besar.
Naruto dan Izuna tertawa. Madara pun juga. Baginya, sudah lama sekali dia tidak bercanda dengan Izuna. Terkadang ini terasa tidak nyata bahwa masa damai ini ada. Untuk Naruto sendiri, berbagi tawa dengan Madara dan Izuna... aneh memang karena dia pernah bertarung dengan Madara Masa Depan tapi karena tak pernah mengalami hal normal jadi dia menikmati saja.
Ketika tawa mereka mereda, dua bersaudara bertukar senyum kecil sebelum menaruh tangan mereka di Naruto. Tangan kiri Izuna melingkari pinggang putra Yondaime Hokage sementara Madara menaruh tangan kanannya di pundak Naruto. Biru kembar melebar ketika Madara dan Izuna mendekat lalu menempelkan pelipis mereka ke Naruto.
"Jangan memusingkan dirimu dengan pertanyaan itu, Naruto," Izuna berkata pelan dengan senyum lembut.
Sama seperti adiknya, Madara juga, "Beda dengan yang banyak orang percaya, kami, Uchiha, menjunjung tinggi cinta lebih dari klan lain. Bahkan dari Senju sekalipun."
"Kami orang-orang sensitif tapi sangat menjaga orang terkasih kami lebih dari apapun," suara Izuna terdengar jenaka. Madara melanjutkan, "Kubagi rahasia klanku, Naruto. Kami biasanya tertarik dengan seseorang yang penyayang."
"Tapi, Kakek Nidai—"
"Tobirama bisa sangat penyayang seperti Hokage kalau tidak ada orang di sekitar aku dan dia," Izuna tertawa kecil. "Dia tidak terlalu suka begitu di depan umum."
Naruto protes lagi, "Tapi, Aku—!"
"Mereka yang mengacuhkan keberadaanmu dan mereka yang baru menghargaimu setelah sekuat ini tidak pantas mendapat perhatianmu. Jinchuriki atau tidak, kau punya hati emas," ucap Madara yakin dengan nada tenang.
Naruto tercengang. Bukan oleh kata kasar Madara yang kurang lebih bisa diprediksi mengenai orang-orang yang menjauhi Naruto sejak dia kecil. Ekspresinya datar tapi mata biru dipenuhi air mata tertahan. Dia tidak menyangka kata yang terakhir dari Madara tadi.
"Aku bisa bilang bahwa itu saja sudah lebih dari cukup untuk mengambil hati Sasuke," Izuna tulus dengan kata-kata dan Naruto merasakan itu. Air mata mulai jatuh dari biru kembar saat Madara menambahkan, "Siapapun dirimu, baik kau dipuja bagaikan Pahlawan atau dijauhi seperti kotoran, sekali Sasuke mencintaimu... sekali seorang Uchiha jatuh cinta, kami mencintai dengan dalam. Tidak ada yang akan mengubah itu dari hati kami."
Izuna menbuktikan, "Seperti kami dan suami kami. Perang diantara klan kami tidak menghentikan hati kami untuk mencintai mereka."
Madara sangat yakin, "Aku percaya orangtuamu akan sangat bangga padamu, Naruto."
Putra Yondaime Hokage menutup matanya erat. Menahan isak tangis. Orangtuanya selalu menjadi titik sensitif bagi Naruto.
"Tak peduli kekuatanmu, untuk tumbuh besar tanpa orangtua tapi punya hati sebaik hatimu... itu berkah," Izuna mengatakan dengan lembut.
Madara menepuk pelan bahu remaja ini, "Orang akan selalu punya penilaian baik kau melakukan sesuatu atau tidak tapi kau berdiri tegak dengan keputusanmu untuk tidak melepaskan Sasuke. Aku terkesan dan walaupun kau bukan saudara sedarahku tapi karena kau reinkarnasi Asura juga, kau sadaraku dari kehidupan yang lalu." Tanpa menahan senyum bangga, dia berkata pada remaja Uzumaki...
"Aku bangga padamu, Naruto," tak hanya oleh kata, Madara membiarkan nada bangga dan kagum menghiasi suaranya. Naruto pun sesenggukan.
"Kau punya banyak cinta di dalammu dan kami, Uchiha, menghargai itu. Ingat perkataanku. Aku, Madara Uchiha, sebagai Kepala Klan Uchiha menyambut ke klanku dan mengakuimu sebagai pendamping Uchiha , Naruto Uzumaki."
Ia pun memeluk erat dua bersaudara itu. Dengan sangat erat. Lalu, Naruto membiarkan Madara memangkunya dan menangis di dada Uchiha tersebut. Madara memanggilnya lembut sebelum mencium rambut pirang, "Otouto yo."
Naruto tak pernah sadar ada keinginan terpendam di dalam hatinya untuk dipanggil saudara oleh seseorang. Entah karena dia reinkarnasi Asura atau karena dia haus akan hubungan apapun yang bisa ia miliki (terutama hubungan keluarga), ia berbisik, sarat akan emosi, memanggil Madara bak anak kecil bermanja, "Onii-chan..."
—000—
Dua minggu berlalu, Sasuke dan Tobirama selesai menciptakan segel untuk menyegel sedikit dari tiap cakra bijuu. Latihan mereka dengan Mito selesai dalam 1,5 bulan dan melewatkan beberapa minggu setelahnya sampai sekarang untuk menciptakan segel baru. Karena itu, mereka berenam berkumpul di kamar Sasuke dan Naruto. Tidak pergi ke pikiran Naruto seperti sebelumnya karena kehamilan Izuna. Kehamilan laki-laki menggunakan cakra untuk melindungi bayi di dalamnya. Minggu ke-16 kehamilan dan setelahnya, mereka tak bisa menggunakan cakra besar seperti sebelumnya. Sasuke dan Madara masih bisa bertemu Kurama tapi Hokage dan adiknya butuh sharingan Izuna untuk membantu mereka.
Kurama berganti dengan Naruto setelah dia memastikan tak ada orang dekat sini. Maksudnya, manusia. Bukan makhluk yang terbentuk dari keinginan Kaguya. Mereka duduk dalam lingkaran dengan gulungan raksasa di tengah.
"Kami sudah selesai buat segel," Tobirama memulai sebelum membuka gulungan dan memperlihatkan 9 segel di dalam untuk para bijuu. "Sudah dirancang khusus untuk menyegel hanya sedikit cakra kaummu untuk mengecilkan kemungkinan kebangkitan kau-tahu-apa dan jaminan bahwa mereka tidak akan disegel di dalam kau-tahu-siapa."
"Tidak buruk, Bocah Tobirama," Kurama menyeringai dengan wajah Naruto. Mata merah dengan pupil vertikal menginspeksi segel dengan persetujuan. Hashirama bertanya, "Rencananya bagaimana?"
"Mudah. Kita temukan kaumku di zaman ini dan menyegel cakra mereka."
Yang lain bertukar pandang sebelum Madara menyuarakan pendapat, "Memang terdengar mudah tapi apa mereka mau memberikan cakra mereka sukarela ke manusia?"
"Tidak," Kurama tertawa.
"Harus bertarungkah?" Tanya Hashirama.
"Bisa disimpulkan begitu."
Sasuke buka suara, "Yang mana jadi target pertama?"
"Akulah. Kita temukan aku di zaman ini. Aku tahu dimana posisiku dulu jadi lebih cepat. Tapi, kusarankan Hashirama dan Madara untuk siap-siap menghadapi aku. Mereka bisa menghadapi kaumku satu lawan satu."
"Sudah lama mau kitanya," Izuna menatap Kurama. "Apa kau harus menemukan dirimu di masa ini? Bukannya kau bisa menyegel cakra di dalammu sekarang?"
"Tidak akan murni karena Naruto membuka segelnya jadi cakra kami menyatu. Apalagi Bocah Tobirama bilang jurus ini membutuhkan cakra mereka yang pastinya akan menguras energi Naruto kalau dia juga pakai cakraku. Lebih baik segel dari diriku di zaman ini."
"Maksudmu Shodaime dan Madara akan ikut kami memburu kaummu?" Sasuke menaikkan alis. Dia sangat percaya diri bahwa kemampuannya dan Naruto bisa mengatasi bijuu. Kurama menyeringai meremehkan.
"Terlepas dari kau dan Naruto menyegel Dewi-yang-namanya-tak-boleh-disebut, kalian masih bocah. Kurang pengalaman bisa jadi bahaya waktu melawan kaumku. Kekuatan saja tidak cukup, Sasuke."
Uchiha termuda mengerutkan alis. Madara menyadari pesan tersirat dari, "Kekuatan saja tidak cukup... itu berarti kau punya rencana meyakinkan kaummu untuk memberikan cakra mereka baik-baik, bukan?"
Kurama tersenyum, "Tajam seperti biasa, Madara."
"Bagaimana?" Hashirama penasaran. Bijuu terkenal dengan sisi liar dan tanpa ampun. Pertarungan memang diperkirakan dalam memburu bijuu tapi Hashirama pikir dia dan Madara dibutuhkan untuk menahan bijuu ketika dua remaja menyegel cakra bijuu. Ide bahwa mereka memberikan dengan sukacita itu terlalu muluk.
"Jurus khusus Naruto, jurus Dakwah." Kurama terkekeh ketika mendapat pandangan bingung. Bahkan Naruto bertanya apa maksudnya. Dia tak pernah dengar jurus itu. Jurus yang membuat hampir semua musuh jadi teman. Yah, Sasuke tidak terlalu terpengaruh dengan jurus itu (mungkin karena dia dibesarkan oleh pengguna jurus Dakwah yang lebih mahir yaitu Itachi) dan seseorang perlu merasakan langsung jurus ini walaupun jarang ada yang sadar mereka terkena jurus ini, kecuali Kurama. "Aku akan buat Naruto bicara ke kaumku dan kita lihat hasilnya," kata Kurama tapi keyakinan tingkat tinggi terdengar disuaranya.
"Jadi, kami cuma menahan kaummu terus Naruto yang meyakinkan dengan jurus Dakwah-nya?" Madara mengharapkan kesimpulan ambigunya ditolak tapi Kurama hanya memastikan, "Tepat."
Pendiri Konoha dan Sasuke cengo tapi karena Kurama sangat yakin, mereka terima saja. "Baiklah, kita akan memburu kaummu." Hashirama menyimpulkan seraya melirik ke suaminya, dua remaja lalu ke Tobirama dan Izuna.
"Aku akan tetap di Konoha," ucap Tobirama. Lagipula, dia perlu tinggal dekat Izuna yang hamil. Hashirama bertanya mengenai perkembangan jurus peniru dan ia menjawab, "Aku masih belajar tentang teknik segel gulungan Suseri dan segel tangan dari Onamuji untuk menciptakan jurus imitasi ini. Masih setengah jalan untuk selesai."
"Baiklah," Hashirama mengangguk, "Kapan kita bisa mulai berburu?"
Tobirama membuka gulungan dari kantung celana untuk mengecek jadwal kakaknya, "Kau tidak ada kegiatan lusa jadi bisa pergi. Aku akan menahan tugas Hokage selama yang kubi—"
"Ah, soal itu?" Hashirama menaruh tangan di bahu Tobirama. "Aku mau kau jadi Hokage sementara," ia tersenyum. Tobirama memandangnya dengan tidak percaya.
"Apa?! Kak—!"
"Sudah kubilang ke Sarutobi kalau aku atau Madara tidak di Konoha, apapun yang terjadi, semuanya dilaporkan ke kamu sebagai Hokage sementara dan mereka akan mengikuti arahanmu," jelas Hokage.
"Kedengarannya seperti kau menunjukku jadi Nidaime Hokage kalo ada sesuatu terjadi padamu," Tobirama menyimpukan dengan nada datar. Kakaknya tertawa, "Apa masalahnya? Kau kan memang Hokage Kedua di sejarah zamannya Sasuke dan Naruto."
"Mungkin kau lupa, Kak, tapi di sejarah mereka, Madara tidak di Konoha. Sebagai pendiri desa ini, dia bisa jadi—!"
"Cukup disitu, Tobirama," Madara menginterupsi dengan tenang. "Aku tidak ada keinginan jadi Hokage dan tidak punya kesabaran berhadapan dengan yang jelek-jelek ataupun tukang ikut campur yang sudah tua bangka."
"Jelek?" Tobirama berkedip.
Madara mendengus, "Orang-orang lemah itu jelek."
Kurama terkekeh, "Walaupun sejarah berubah, ada yang tidak berubah." Dia ingat Madara Masa Depan juga mengeluhkan hal sama.
TBC
Makasih uda baca! Jangan lupa review kalo mau baca chapter selanjutnya! Mungkin bakal update lama ya soalnya aku mau fokus namatin versi english dari cerita ini, tinggal 5 chap lagi buat englishnya!
princess pink: eermm... coba dihitung lagi umurnya pemilik Ichiraku ramen dan apa poinnya kalo cuma ketemu leluhurnya itu? di sini aja Sandaime cuma cameo lho, muncul pun 5 paragraf doang. bukan apa ya tapi kalo kebanyakan momen ga penting, pembaca lho yg bosan. Ini cerita agak panjang mungkin 30-an chapter dan itu fokus ke plot tanpa filler. makasih buat masukannya tapi kayaknya belum bisa dipakai :(
secretsbetter: emang perlu prakter ya ga~? hihi!
Namikaze Ichilaw: ooh, bagus deh kalo gitu~! Iyeee akhirnya dilamar naru~ emang kepolosannya tingkat dewa hehe yuk dipukpuk aja si Madara wkwkwkwk
katakuri mino: okeh~ ditunggu selalu~ ditunggu banget keknya ya SasuNaru wkwkwk emang manis gak ketolongan mah mereka, greget!
LuBabyayu935: oh, ya kan bisa kasih tau aku dong bagusnya itu yang mana menurut kamu? Plotnya? pairnya? ato yang gimana? Kamu sukanya bagian mana dan kesan kamu baca ini kayak mana? Dijabarin aja, panjang juga gapapa hehe iya makasih, dirimu juga sehat-sehat yaaa
Guest: wah belum ada ide sih ntaranlah yaa hehe
fiarisa531: iyaaa gapapaaa asal kembali hoho~ semangat tugasnya! ooh gituu~ bagus deh kalo enjoy bacanya~! Wow apa ga bosan baca 22nya? Aku aja mulai bosan nge-translate ini wkwkwkwk anak 3? hahaha tanya naru dulu ya siap ga dia ngelahirinnya wkwkwkwkwk iya makasih yaaaa!
blmy: hah? apanya?
sasayachen: mari didoakan Madara hahahha rame banget chap kemaren reviewnya! seneng banget aku! iyaaa makasih yaaa!
Null: Oh ya ampun! Masih baca? Kirain udah ninggalin nih cerita soalnya ga review terus, akunya sedih *hiks* Wah, semangat ya tugasnya! yah satu hal menuju lain hal jadinya gitu hahahha iyaaa okeee ditunggu!
