"Ini salah paham, Bu, bisakah kita membicarakan ini di luar?"
Perkataan pria itu berhasil membuat pergerakan Mebuki terhenti. Ia sadar betul kalau saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian, tinggal tunggu waktu dan sebentar lagi bisa saja mereka dibawa oleh petugas keamanan rumah sakit.
Sayangnya ucapan Sasuke hanya bekerja selama hampir setengah menit. Kemudian Haruno Mebuki kembali menggila.
"Tidak bisa! Apa yang salah paham? Jelas-jelas kalian ke dokter kandungan bersama! Pantas saja kau semakin gemuk, Sakura! Sudah pokoknya Ibu tidak mau tahu, pria ini harus bertanggungjawab!" Mebuki kembali mencerocos seolah perkataannya adalah perkataan seorang pemimpin negara. Mutlak.
"Kalian harus menikah!"
Jadi, apa Uchiha Sasuke harus benar-benar bertanggungjawab sampai akhir?
.
.
.
Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')
Warning: AU, OOC, typo(s), slight sedikiiiit humor krenyes dan jauh dari kata sempurna ;)
Rate T+ semi M untuk bahasa dan beberapa pembahasan(?)
.
.
.
Responsible
.
.
Baik Sakura maupun Sasuke hanya mampu saling melempar tatapan nista. Dengan jalan yang terpincang Sakura menghampiri ibunya. Pria berambut raven di belakangnya dengan sigap merentangkan tangannya takut-takut kalau perempuan ini sampai jatuh.
"Bu, kubilang ini salah paham. Tolong dengarkan penjelasan kami dulu!"
Sang ibu mendelik, ia masih menutup telinga rapat-rapat. "Tidak. Hei, Bocah. Aku ingin bertemu dengan orangtuamu malam ini juga!" Kemudian Mebuki membuang wajahnya dan berlenggang anggun menghasilkan bunyi tap-tap dari heels Jimmy Choo-nya.
Udara mendadak terasa kering. Berbagai macam tatapan dari manusia kepo di ruang tunggu poli menghujam duo yang membuat keributan di sana. Perempuan bermarga Haruno mengacak-acak rambut merah mudanya frustrasi.
"Astaga. Ini bencana," gumam Sakura kemudian mengurut pelipisnya yang mendadak terasa beribu kali lebih pening dari biasanya.
"Hn. Bertemu denganmu adalah bencana," balas Sasuke kemudian.
Cih, manusia ini benar-benar. Dia pelit bicara, sekalinya bicara membuat lara. Dasar tukang cari perkara!
"Kau kira hanya kau yang terkena sial? Kalau kau tak menabrakku, kita tak akan berakhir begini, Tuan!" Sembur Sakura galak, darahnya mulai mendidih naik ke atas kepala. Untung tidak sampai berasap.
Sakura memejamkan mata, menenangkan diri sejenak agar dapat berpikir jernih. Ia menatap mata laki-laki di depannya, "Begini, untuk sekarang lebih baik kita mengurus urusan masing-masing dulu. Nanti sore setelah selesai kita bertemu lagi, bagaimana?"
"Hn," responsnya singkat. Ia hendak menghampiri tujuannya tadi dengan mulai membalikkan badannya tapi ...
Grep!
Tangan lawan bicaranya tadi menangkap pergelangan tangan Sasuke. Tatapan heran yang nampak datar diberikannya pada iris hijau yang menatapnya dengan melas.
"Setidaknya berikan nomor ponselmu sebagai penjamin agar kau tak kabur."
Terjadi keheningan selama beberapa detik. Namun, lelaki itu pada akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menjulurkannya pada perempuan itu. "Bukankah sudah kubilang akan bertanggungjawab sampai akhir?"
Sakura menerima ponsel itu dan mulai menekan serentetan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah selesai me-missedcallponselnya, ia mengembalikan ponsel touch hitam tersebut.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke lantai. Ia menundukkan kepalanya, "Maaf dan ... terima kasih," tuturnya lirih sarat akan rasa bersalah, nyaris berbisik.
"Sekali lagi mengatakannya akan kujamin kau tak akan melihat batang hidungku lagi."
Kontan ekspresi Sakura langsung berubah dalam sepersekian detik, "J-Jangan! Oke, aku akan pergi sekarang. Jangan lupa nanti sore!"
Sakura langsung berusaha kabur dengan kaki yang terpincang. Sementara itu Sasuke hanya menggeleng pelan sembari memandang punggung perempuan itu yang semakin menghilang dari pandangan matanya.
Ini aneh sekali. Dalam kepala Uchiha Sasuke sempat memikirkan maksud dari pertemuan mereka yang terbilang ajaib. Hanya sekilas ia mempertanyakannya, toh sifat dari pertemuan ini hanya sementara dan tak akan meninggalkan bekas. Eksistensi perempuan itu ... benar-benar bak buih yang tertiup angin bukan?
Ada yang jauh lebih penting dibandingkan perempuan stranger yang baru saja ia temui. Ya, ini sudah hampir dua jam semenjak wanita itu menghubunginya. Menyadari hal itu, Uchiha Sasuke pun segera mempercepat langkahnya menuju lantai tujuh ke ruangan di mana Uzumaki Karin dirawat.
"Kenapa lama sekali, Sasuke-kun?" Wanita itu menyambutnya dengan seulas pertanyaan yang berarti banyak bagi Sasuke begitu lelaki itu tiba di kamar rawat inapnya.
Kamar rawat inapnya merupakan sebuah kamar yang terletak di ujung lorong rumah sakit. Berkelas VVIP bertujuan agar Karin bisa beristirahat dengan nyaman. Kamar itu sangat besar dengan fasilitas yang menyaingi hotel bintang sekian.
Kenapa lama sekali? Tentu saja lama, karena Sasuke sendiri baru saja mengalami sebuah insiden kecil ber-impact fatal. Haruskah pria itu menjelaskan segalanya dari awal? Rasanya tak perlu. Yang penting sekarang ia sudah di sini 'kan?
"Ada sedikit urusan," jawabnya singkat. Sedikit, ya sedikit jika yang kau maksud adalah membuat kaki seorang wanita terkilir lalu mengantarkannya periksa ke dokter kandungan kemudian tidak sengaja bertemu dengan ibu dari gadis itu sehingga membuat ibu dari gadis itu salah paham dan menyuruh Sasuke untuk bertanggung jawab. Ha! Sedikit.
"Hm ... begitu, ya."
"Kau marah?"
Karin menggeleng lemah, "Tentu saja tidak!" Ia mengulaskan senyum lima jari, "Karena kau sudah datang aku tidak marah."
Sebenarnya alasan dari Karin bisa sampai dirawat begini adalah anemia. Ia terlalu lelah dan stres sampai membuat kadar hemoglobinnya turun sebanyak sekian persen gram sehingga kemarin ia mendapat transfusi darah.
Well, sudah sejak dulu Uzumaki Karin mengidap anemia seperti ini. Dia benar-benar seseorang yang gila kerja dan patut diacungi jempol. Sayangnya segala pekerjaan yang Karin lakukan hanyalah pengisi kekosongan hati akibat kesepian selama bertahun-tahun. Ya, semenjak orangtuanya meninggal, Karin menjadi seperti ini.
Tidak, tidak.
Bukan sepenuhnya salah Karin.
Semua adalah salah Sasuke.
Karena ... Sasuke lah penyebab dari meninggalnya ayah Karin. Disusul oleh kematian ibu perempuan itu akibat bunuh diri karena stress ditinggal oleh suaminya. Lalu yang terakhir ... Karin. Anemianya semakin parah karena Sasuke.
Uchiha Sasuke benar-benar petaka, iya 'kan?
Pria tinggi itu hanya mampu menatap temannya dari kecil itu dengan pandangan yang mengandung rasa bersalah yang amat sangat. Ia kembali buka suara, "... Bagaimana keadaanmu sekarang?" Sasuke melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Karin berbaring, ia mengeratkan selimut yang membungkus tubuh kurus perempuan itu.
"Aku sudah merasa lebih baik, hanya masih lemas saja. Tapi coba lihat, Sasuke-kun," ia memamerkan telapak tangannya, "Sudah mulai memerah 'kan?" kemarin telapak tangannya benar-benar berwarna putih karena kekurangan darah. Syukurlah kalau sekarang sudah membaik.
"Kalau begitu, istirahatlah."
Pria itu menarik bangku yang ada di sana ke dekat tempat tidur Karin. Ia akan berada di sini sebentar sampai keadaan perempuan ini bisa ditinggal.
Sampai perempuan ini bisa berdiri sendiri. Karena ini adalah janji, Sasuke tak bisa berpaling. Sasuke akan bertanggungjawab sampai akhir. Sesuai dengan janjinya pada ayah Karin dulu.
"Hai! Aku akan tidur setelah kau menyuapiku makan siang, oke?"
"Hn."
.
;;;;;
.
Menelepon orang yang baru beberapa jam kau kenal—oke, bahkan Sakura sendiri belum tahu siapa namanya—rasanya akan kurang sopan bukan?
Ia telah selesai menebus obat dan mengurus pembayaran dokternya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah kembali menghubungi pria menyebalkan itu agar dapat menemukan titik terang untuk masalah yang mereka hadapi sekarang.
Sakura mengeluarkan ponselnya, jam memang masih menunjukkan pukul dua siang tapi tidak ada salahnya bukan untuk mengajaknya bertemu sekarang? Pokoknya lebih cepat lebih baik. Cara jalan wanita itu masih timpang dan kakinya memang belum diurus sejak tadi. Sakura sendiri belum berniat untuk mengobati lukanya, dia tipe orang yang cuek yang berpikir nanti juga lukanya akan sembuh sendiri. Begitulah Haruno Sakura sampai terkadang membuat ibunya sendiri gemas. Gemas dalam artian lain tentu saja.
Masih ingat kalau kau akan bertemu denganku sore ini 'kan? Aku Haruno Sakura yang tadi pagi. Apa urusanmu sudah selesai? Kalau sudah, kutunggu di halte depan rumah sakit, ya! Aku tidak membawa kendaraan. Eh, bukan berarti aku bermaksud untuk menebengmu, ya! Aku akan naik kendaraan umum. Aku mengajakmu bertemu di halte agar mempermudahkanku untuk menemukan bus. Ah apa pun itu, pokoknya aku menunggumu. Tolong cepat selesaikan urusanmu ya agar kita bisa keluar dari masalah ini T^T
Suasana halte siang ini terbilang ramai bahkan sampai membuat perempuan itu kehabisan space untuk duduk. Padahal sejujurnya kakinya sudah terasa nyut-nyutan ... oke, tak apa. Sebentar lagi pria itu pasti akan datang 'kan?
Langit yang berubah warna menjadi keabu-abuan telah menjawab alasan halte yang mendadak ramai. Semilir angin membelai lapisan terluar kulit perempuan itu, mulai menjalar menusuk kulitnya perlahan membuatnya sedikit menggigil. Dalam hati ia menyesal kenapa memilih kemeja berbahan tipis yang lengannya hanya sampai siku. Lalu celana jins dan sneakers?
Sakura menyandarkan punggungnya ke salah satu tiang yang berada di halte, ia mulai mengeluarkan ponselnya lagi. Ia mendesah kecewa begitu mendapati serentetan notifikasi tidak penting yang bersumber dari grup dan beberapa akun jejaring sosialnya. Kok pria itu belum juga membalas pesan Sakura? Apa dia benar-benar sibuk?
Sesibuk apa pun dia, tapi dia 'kan sudah bilang kalau akan bertanggungjawab! Ayolah, urusan ini juga sama pentingnya dengan urusannya. Sakura mulai menggeser-geser layar ponselnya.
Kau di mana? Sebentar lagi hujan. Kasihanilah aku, Tuan ;_;
Hampir lima belas menit, belum juga ada jawaban. Langit mulai memuntahkan likuidnya, bukan dimulai dengan rintikan melainkan langsung deras. Kontan, Sakura yang tadinya menyandar di tiang sisi kiri halte langsung merapat ke dalam supaya tidak terlalu terkena cipratan air hujan. Namun, sayang sekali, bukannya tadi ia cepat-cepat ke tengah malah keasyikan menyandar sehingga tempatnya tidak strategis dan menjadi bulan-bulanan tetesan air mata langit.
Rupanya hari ini langit sangat sedih karena ia terlalu banyak menangis. Sudah hampir dua jam dan ia belum mau berhenti. Sakura menghela napas, kondisi tubuhnya sudah sangat lelah. Belum lagi ibunya dari tadi pundung dengan me-reject panggilan Sakura. Heran, bisa-bisanya ibunya mengira kalau ia hamil! Tadi apa katanya? Gemuk? Maklum saja, ini 'kan liburan! Dia adalah seorang dokter yang baru saja disumpah profesi kemarin! Masa tidak bisa menikmati liburannya yang merupakan langka barang sebentar? Sebentar lagi juga ia akan menjalani internship di Kiri, astaga! Mana sempat buat anak segala?
Lapar TT_TT
Tanpa sadar Sakura menuliskan perasaannya dan mengklik send pada ponselnya. Ia memekik terkejut agak panik. Sungguh memalukan! Ah biar deh, mungkin saja pria papan itu mendadak tersambar petir lalu mengasihani Sakura. Lalu dia akan datang dan membawa bungkusan makanan dan cokelat hangat. Aaah, indahnya ... mimpi.
Sakura berusaha mengabaikan cacing-cacing di perut yang sudah mulai konser. Ia pun berusaha mengabaikan rasa lelah plus kakinya yang sakit dengan memejamkan matanya. Punggungnya kembali disandarkan ke tempat tadi. Toh sudah terlanjur basah, biar deh.
Baru beberapa menit ia memejamkan mata tapi tanpa sadar ia mulai berkunjung ke taman bermain di bawah alam sadarnya. Salahkan kebiasaan buruknya yang suka tidur sembarangan maka tak heran ia tertidur dengan posisi berdiri sambil menyandar diterpa hujan. Memang tidak elit. Meski begitu, Sakura tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran. Siapa sih yang bisa tidur nyaman dalam keadaan begini?
Matanya mengerjap beberapa kali begitu air hujan tidak lagi menerpa tubuhnya. Ia harus bangun sekarang, mumpung hujannya mulai reda. Kedua indra penglihatannya tersebut melebar dengan pupil mengecil begitu terbuka dan disambut hujan yang ternyata masih sederas tadi. Ia memiringkan kepala merah mudanya, bingung.
Iris hijau ia lirikkan ke samping. Pertanyaan terjawab sudah. Di sebelahnya, pria tadi siang memegang payung abu-abu, memayunginya dan sedang menatap datar dirinya. Senyum lima jari Haruno Sakura berikan.
"Sudah dari tadi?" tanyanya sembari menggaruk tengkuk yang dipaksakan terasa gatal.
Uchiha Sasuke melirik jam yang melingkar kokoh di pergelangan tangan kirinya, "Sejak dua puluh satu menit lima belas detik yang lalu."
Sakura berdecak, "Perlukah aku katakan berapa lama aku menunggumu? Dua puluh satu menit belum apa-apa dibandingkan—"
"—Hn." Pria itu menginterupsi, ia menarik lengan perempuan itu secara perlahan.
Sayangnya si tampan bungsu anak keluarga Uchiha ini tidak sadar. Tidak sadar bahwa kegiatan kecil yang dilakukannya memberikan kehangatan yang menyebar sampai membuat perut terasa tercubit kecil-kecil. Ini pasti efek Sakura belum makan, 'kan?
"Kita mau ke mana?" seulas pertanyaan terlontar sebagai pengalih perasaan aneh yang Sakura rasa.
"Mobilku," balasnya singkat.
Selanjutnya, suara hujan lah pengisi keheningan di antara kedua orang beda lawan jenis ini. Diam-diam Sakura menenangkan jantung yang mendadak bertingkah, ia menghirup wangi petrichor dalam-dalam.
Perempuan itu yakin betul bahwa segala yang ia rasa sekarang merupakan sebuah perasaan aneh yang hanya menyambang sebentar. Pasti karena laki-laki ini tampan. Pasti karena Sakura belum pernah diperlakukan seperti ini oleh laki-laki. Pasti perasaan ini hanya ilusi berwujud harapan bukan?
Sasuke membantu Sakura untuk duduk dan memosisikan diri senyaman mungkin di passenger seat mobil hitamnya. Terbiasa membantu Karin melakukan ini-itu mempermudah urusannya sehingga ia tidak perlu merasa terlalu canggung berada dekat perempuan bernama Sakura ini.
"Jadi ... apa yang akan kita lakukan?" suara lembut Sakura mengalun, bertanya dengan kegundahan yang terpatri jelas pada wajahnya.
Sasuke yang sudah selesai memasang seat belt-nya terdiam sebentar. Ibu dari perempuan ini bukanlah sosok yang mudah diatasi. Sama seperti anaknya.
"Ah, pasti kau pun bingung ya," ujarnya pelan, ia merotasikan matanya ke segala arah secara perlahan, "Kau tak perlu menghubungi orangtuamu. Kita saja yang bertemu dengan ibuku, nanti aku yang membujuk dan berusaha menjelaskan semuanya.
Menilai peluang dari kemungkinan ymang sudah cukup jelas terlihat rasanya ... mustahil. Ibu Sakura terlalu keras kepala, ia tak mau percaya tanpa ada bukti akurat. Tapi dari sekian persen kemungkinan tersebut mungkin saja masih terselip nol koma sekian persen titik terang bukan? Tak ada salahnya jika dicoba.
Sebuah restoran sederhana menjadi opsi tempat bertemu untuk menjelaskan segalanya. Di sebuah meja di sudut ruangan duduk lah dua orang bergender wanita dan seorang pria. Kan
Wanita bersurai pirang gelap sebahu duduk menyilangkan kaki sembari memberi tatapan mengintimidasi yang mampu membuat orang lari terbiri-biri. Ia berlakon sebagai hakim, pemimpin acara sidang kali ini. Sedangkan pria berambut hitam berkulit pucat menjadi tersangka dan si wanita gulali menjadi pembela atau pengacaranya. Sempurna. Sidang siap dimulai.
Udara dingin yang dihasilkan oleh benda persegi panjang yang terletak di mana-mana memperkeruh suasana. Membuat Sakura menggigil ditambah dengan sensasi sakit perut grogi membuatnya duduk tak nyaman.
"Jadi, di mana orangtuamu, Bocah?" Mebuki bertanya, ia menentang oniks di depannya secara frontal.
"Begini, Bu. Ibu harus dengar penjelasanku! Tadi itu—"
"—Aku tidak berbicara padamu, Sakura." Mebuki memotong, ia melirik tajam pada Sasuke, "Kau bisu? Atau tunarunggu?"
Dengan tenang pria itu membuka suara, "Begini, Bu, izinkan kami untuk menjelaskan—"
"—Tidak. Aku mau orangtuamu sekarang. Cepat hubungi mereka!" Mebuki kini menyilangkan tangan, ia membuang wajah bak ratu-ratu drama.
Sakura dan Sasuke saling melempar tatapan bingung. Ini ... bagaimana ini? Sakura menggigit bibirnya, hatinya gelisah dan fisiknya lelah luar biasa. Ia semakin menambah kekuatan pada gigitan bibirnya kala matanya ikut berkaca-kaca. Ia lelah. Sungguh.
Sebuah genggaman Sasuke berikan pada tangan mungil Sakura. Ia bermaksud menransfer ketenangan untuk meminimalisir kegundahan perempuan itu. Ia menganggukkan kepalanya pelan, seolah berkata semuanya akan baik-baik saja.
Sebenarnya Sasuke sendiri menyerah, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai men-dial nomor ibunya. Setelah dua nada sambung, terdapat jawaban dari seberang sana.
"Ya, Sasuke? Ada apa?"
Baru pertama kali rasanya Sasuke tak sanggup untuk mendengar suara sosok yang melahirkannya. Masa iya dia gugup?!
"Halo?"
Lawan bicaranya kembali bersuara, memastikan teleponnya dengan sang anak masih tersambung.
"Kaasan ... bisakah kau ..." Sasuke bertanya dengan tempo yang sangat pelan karena ragu. Ia bolak-balik menatap Sakura dan ibunya secara bergantian.
Mebuki sudah memberikan kode tidak sabar. Dasar wanita penderita hipertensi, mudah marah-marah dan tidak sabaran! Tebak, apa yang Mebuki lakukan karena gemas tidak sabar?
Wanita itu mengambil paksa ponsel dari tangan Sasuke. Ia berdeham, "Apakah benar ini orangtua dari ... hei, Bocah, siapa namamu?"
Sakura melongo. Sasuke masih tercengang tapi terlihat lebih elit. Ia menjawab ragu-ragu, "Sasuke, Uchiha Sasuke."
Mebuki melanjutkan, "Apakah ini orangtua dari Uchiha Sasuke?" Nada bicara Mebuki terdengar sewot.
Mendengar suara wanita tak dikenal yang sewot melalui ponsel anaknya membuat Uchiha Mikoto mengernyitkan kening, "Iya, betul, ada apa ya?"
Bagai pemicu bom, ucapan Mikoto barusan meledakkan amarah Mebuki, "Ada apa? Begini, ya! Anakmu itu menghamili anak perempuanku! Aku menuntut pertanggungjawaban! Aku ingin kita bertemu di Restoran Y sekarang juga!" Ibu dari Haruno Sakura itu berapi-api meluberkan kobaran kemarahannya.
"..."
Hampir sepuluh detik belum ada jawaban. Uchiha Mikoto terlalu terkejut untuk merespons perkataan dari seberang sana. Ia menolehkan kepalanya sangat pelan untuk menatap suaminya yang sedang duduk menonton televisi. Jantungnya berdebar-debar, ia menelan ludah.
"Otousan," Mikoto mencicit pelan. Setelah mendapat atensi dari pria yang menyandang status sebagai suaminya, ia kembali berkata, "Sasuke ..., dia ..."
"...menghamili anak orang."
Kedua alis Uchiha Fugaku, sang kepala keluarga nyaris menyatu. Ia menghampiri istrinya, menatapnya dengan tatapan horor.
"Sasuke menghamili anak orang? Anak itu benar-benar ...!" Fugaku menahan emosinya, sepersekian detik kemudian ia menghapus likuid bening yang mendadak mengalir di sudut kiri matanya. Fugaku mengacungkan jempol, "Dia benar-benar luar biasa," ucapnya dengan ekspresi yang sangat datar.
"Ha ha ha! Benar, 'kan Tousan?! Ternyata dia tidak homoseksual! Aku turut bahagia, Sasu-chan!"
.
;;;;;
.
Meja yang tadinya hanya berisikan tiga orang sekarang bertambah dua menjadi lima orang. Dengan Mebuki yang memipin rapat, dua orang menjadi terdakwa dan sepasang orangtua menjadi tim iya-iya saja. Benar-benar tidak membantu.
"Aku tidak menuntut banyak. Aku hanya ingin bocah—maksudku, Sasuke-kun untuk menikahi anakku atas apa yang telah dia lakukan."
Dalam kubu keluarga Uchiha, Mikoto lah yang maju sebagai perwakilan. Ia membalas, "Sebelumnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, atas nama anakku dan keluargaku. Untuk soal itu ... Anda tidak perlu khawatir, Haruno-san. Akan kupastikan kalau kami bertangungjawab," jelasnya panjang lebar. Fugaku mengangguk-angguk kaku mendengar penuturan istrinya.
"Bagus. Aku sangat mengapresiasi pertanggungjawaban kalian, Uchiha-san." Mebuki mengulurkan tangannya, "Mohon bantuannya, ya."
Sebelum uluran tangan ibunya tersambut, Sakura menghentikan segalanya. Ya, harus! Ini tidak boleh terjadi. Ia membuka suaranya, "Tunggu, Bu. Aku mohon ... dengarkan penjelasan kami ...," ucapnya dengan suara parau. Ia nyaris menangis, sungguh. Salahkan hormon labil di kala datang bulan, membuatnya sangat sensitif.
Mebuki mengerutkan kening, pada akhirnya semua atensi tertuju pada dirinya. Dalam hati Sasuke mengasihani perempuan itu, ia merasa lega saat akhirnya perempuan itu mendapat kesempatan untuk menjelaskan segalanya.
"Sebenarnya begini, aku tidak—"
"—Ini, kepiting asam manisnya datang~."
Konsentrasi buyar begitu pelayan membawakan makanan di saat yang tidak tepat. Atensi para orangtua berpindah pada kepiting jumbo yang tersaji di depan mata mereka.
Perut Sakura bereaksi negatif begitu mencium percampuran bau amis dan saus seafood yang seharusnya menggugah selera. Perutnya bertingkah karena ia belum makan sejak siang. Dia merasa menggigil karena masuk angin dan ia juga telat makan. Ia berusaha keras menahan rasa mualnya dengan menutupinya dengan dehaman yanig bermaksud untuk mencuri atensi para orangtua lagi.
"Ehem, jadi yang kumaksud ...," Sakura berhasil mencuri perhatian mereka lagi. Hatinya jejingkakan bahagia. Ia kembali melanjutkan, "Aku ini tidak—"
"—hoeeek!"
Asam lambung naik di saat yang tidak tepat. Ia refleks menyuarakan rasa mualnya tanpa muntah. Ini membuat sepasang orangtua dan seorang single parent terkejut setengah girang dan seorang lelaki semi om-om terdiam tak percaya.
"Astaga! Kau mual, ya ampun! Adik di dalam tidak suka bau makanan laut, ya?" Mikoto lah yang lebih dulu berucap terlihat antusias. "Sasuke, cepat antar pacarmu pulang! Dia mungkin terlalu lelah, usia kandungannya 'kan masih muda. Jadi jangan biarkan dia terlalu lelah ..."
"Iya, tolong, ya, Sasuke-kun. Antar anakku pulang," timpal Mebuki yang mulai melunak. Iya lah melunak, keluarga Uchiha tidak kabur dari tanggung jawab. Urusan selesai dan hati pun tenang. Setidaknya itu lah yang dipikirkan oleh single parent ini.
"Pulang ke rumah kami saja, Haruno-san. Rumah kami dekat dari sini, hitung-hitung sekalian Sakura biar bisa beradaptasi," Mikoto memamerkan senyum manis yang nampak mengerikan di mata sang anak bungsu.
"Nah, Sasuke-kun, yoroshiku ne!"
Sakura menjerit frustrasi dalam hati. Sasuke membantu perempuan itu berjalan dengan menggandeng lengannya. Segala perasaan gondok, marah, sedih dan perasaan bersalahnya berkumpul di tenggorokan, ia merasa gagal. Padahal tadi Sakura yang menjanjikan Sasuke akan membujuk ibunya dan membuat mereka keluar dari masalah ini. Nyatanya? Semua bertambah rumit karena dia pakai mual segala!
Bahkan perempuan itu kehilangan abilitas untuk menatap mata oniks pria menyebalkan yang sebenarnya baik di sampingnya. Sakura hanya mampu menangis dalam diam selama perjalanan menuju rumah pria itu. Entah, akan bagaimana nasibnya selama beberapa waktu ke depan nanti.
.
.
.
.
.
tbc
.
29/01/16 - 01/02/16 10:15
.
a/n: Kembali lagi di chapter dua :) gimana? Aku pribadi, suka banget sama scene Papi Fugaku nangis WQWQWQ SEKARANG AKU NISTAIN BAPAKNYA SASU LHO, ADA KEMAJUAN—plak. Lupa bilang, fic ini emang mengandung sedikit humor hehe. Sasuke belum ke-reveal banget emang. Seiring dengan berjalannya cerita ini, akan kebuka satu-satu kok. Tentang dia dan tanggung jawab lain yang bener-bener menghantuinya x)
Eniwey, kemaren ada yang bilang kalo tulisan ini ... kayak bukan punyaku. Katanya ada yang berbeda, bener? Berbeda ke arah negatif kah? Well, kalo ke arah negatif, aku pribadi mohon maaf m(_)m aku akan berusaha lebih baik lagi untuk ke depannya :) terima kasih atas masukannya~ ;)
Untuk balasan review, mohon maaf gak bisa dibales satu-satu ;_; tapii makasih banyak, banyak, banyaaaak, yaa! Serius gak nyangka sama responnya :")))) oke aku sudah banyak batjot. Berminat buat meninggalkan jejak? ;3
