Disclaimer: I do no own Naruto. The creator is Masashi Kishimoto.
Warning: Cek chapter sebelah!
"Hati-hati, Kak," Izuna memeluk Madara di depan gerbang Konoha dua hari kemudian setelah mereka semua selesai sarapan. Madara mengenakan pakaian khas Uchiha sebagaimana biasanya untuk tidak menimbulkan kecurigaan walaupun gunbai juga terikat di punggungnya. Hashirama juga memakai pakaian latihan yang biasa dipakai Senju. Celana panjang hitam, kimono pendek coklat muda diikat ikat pinggang kain warna hitam. Gulungan raksasa untuk menyegel cakra bijuu disandang di belakang.
"Kau juga, Izuna," Madara melepas pelukannya setelah mencium pipi si adik. "Jangan memaksakan diri. Jangan melakukan apapun. Suruh Tobirama kalau kau butuh sesuatu."
"Aku dengar itu," Tobirama menyipitkan mata tajam ke Madara.
"Sebaiknya kau dengar seksama dan lakukan kalau kau masih mau hidup," ancam Madara dengan serius.
Alis si Senju yang diancam berkedut kesal sementara Izuna tertawa. Terlepas dari ancaman barusan, cukup jelas bahwa Madara mempercayakan Izuna ke Tobirama selagi dia pergi dan itu sebuah restu untuk pernikahan sang adik. Di saat suami dan kakakknya sedang beradu pelototan, Naruto mendekati Izuna.
Pirang Uzumaki mengenakan kimono jingga pendek dengan tali pinggang kain hitam. Tersenyum, "Dah, Izuna." Tangannya melambai ke arah adik ipar Hokage. Izuna membalas dengan swnyum juga sebelum memeluk Naruto pelan, berhati-hati dengan perutnya yang sudah besar. Suami, Hokage dan Sasuke kaget. Hanya Madara yang tidak bahkan terlihat tidak heran. Izuna berpesan, "Hati-hati, Naruto." Naruto tercengang begitu pipinya dicium lembut.
Tersipu, ia berkata, "Y-ya, oke."
Hokage senang melihat itu, ia mendekati keduanya, "Izuna." Ketika semua menoleh ke Hashirama, mereka mendapati kedua tangan terangkat dan terbuka ke arah Izuna seolah berharap dipeluk juga. Alih-alih pelukan, dia harus mundur menghindari shuriken dan kunai dilempar ke arahnya. "Hah?" Dia melihat suami dan adiknyalah yang melempar kedua senjata tadi barusan. Mereka menatap tajam dengan ancaman bahwa ia tidak boleh menyentuh Izuna.
"Aku mau pelukan juga," keluh Hashirama, ia mengarahkan tangan yang terangkat ke adiknya, "Tobirama—"
"Pergi!" Kata Tobirama kesal dengan muka ditekuk.
Kemudian, para reinkarnasi Indra dan Asura meninggalkan Konoha. Mereka berlompatan di ranting pepohonan meninggalkan Konoha. Sasuke yang mengenakan pakaian Uchiha seperti Madara dengan pedang Kusanaginya di punggung, bertanya ke Hashirama, "Shodaime, apa ada ANBU mengikutimu?"
"Tidak," Hashirama tersenyum kecil. "Aku menyuruh mereka untuk mengikuti Tobirama dan Izuna karena aku mau berdua saja dengan Madara."
"Apa mereka tahu?" Sasuke tidak yakin kedua adik pendiri Konoha suka dengan keputusan itu. Hashirama tertawa, "Tidak." Bertukar pandang dengan Madara, Kepala Klan Uchiha ini sadar suaminya mengikuti jejaknya untuk melindungi sang adik tanpa kata. Yah, kan memang pasangan yang sudah menikah sering mengikuti kebiasaan satu sama lain. Ia hanya tersenyum tipis ke Hashirama mengingat itu.
"Kok Kakek bisa melakukan perjalan ini? Apa jadi Hokage bisa sebebas itu?" Naruto penasaran. Seingatnya baik Kakek Sandaime ataupun Nenek Tsunade selalu di kantor Hokage. Jarang keluar Hokage. Hashirama tertawa. "Tetua dari Klan Uchiha resah karena kami belum punya anak. Jadi, aku menawarkan ke mereka untuk mengambil hari libur bersama Madara supaya bisa cepat punya momongan. Mereka setuju membiarkan kami honeymoon."
Sasuke menaikkan alis, "Tapi, kalian membawa kami. Apa alasan kalian untuk itu?"
"Aku cuma bilang kalau aku mau mengeratkan hubungan keluarga dengan Hebisuke yang masih memulihkan ingatannya." Adalah hal lumrah bagi Klan Uchiha untuk menikmati libur dengan keluarga mereka. Uchiha terkenal sebagai klan yang mementingkan keluarga mereka walaupun klan lain melihatnya sebagai anti-sosial karena mereka jarang sekali punya hubungan sosial di luar klan atau keluarga mereka. "Izuna seharusnya juga ikut, tapi karena dia hamil jadi aku mengajakmu dan Narutsune yang diketahui akan menjadi suamimu di kemudian hari."
"Hah?!" Naruto memerah bak kepiting rebus, terdistraksi, kepalanya terbentuk dahan pohon, "—OW!"
Hashirama menoleh untuk mengecek apa Naruto tidak apa-apa tapi tertawa kecil setelah ia menyusul. Naruto mengusap hidungnya yang merah karena terbentur tadi. Sasuke dan Madara hanya melirik. "Arah mana, Naruto?" Tanya Sasuke. Dijawab dengan, "Kurama bilang kita ke selatan, 5 hari jalan kaki dari Konoha. Tapi, kalau kita percepat, bisa setengahnya saja sudah sampai."
"Aku bisa merasakan cakra besar dari arah selatan," Madara bergumam. "Kyuubi-kah?"
"Ya," ujar Naruto.
"Hmm... mungkin kita butuh lebih dari 5 hari," Hashirama tersenyum tipis sebelum menghindari kunai-kunai yang dilempar dari segala arah. Yang lain pun begitu. Hanya Naruto yang bingung, "Lho? Kenapa ini?"
"Karena," Hashirama membuat segel tangan mokuton, "kita akan mendapat 'kunjungan' seperti ini."
Mereka berhenti di pohon tertinggi. Hening mengelilingi mereka. Tatapan tak terlihat terasa dari berbagai arah. Madara dan Naruto merasakan cakra di sekeliling mereka sebelum memberitahu jumlah musuh ke Sasuke dan Hashirama. Kedua Uchiha mengaktifkan Mangekyou Sharingan tanpa Susanoo. Sasuke mengeluarkan Pedang Kusanagi. Naruto menggunakan Sage Mode setelah Hashirama berbisik, "Waspada."
Hening mencekam... ada bunyi 'krak' menjadi tanda para penyerang memulai gerakan.
Mereka berempat bertarung dengan ninja yang tak terhitung jumlahnya selama beberapa jam. Selama perjalanan ini, mereka terus bertarung. Sasuke dan Naruto yang hanya pernah mengalami satu perang di masa mereka, cukup kelihatan lelah. Bukan tak ada stamina atau kemampuan, mereka bisa mengimbangi tapi sesungguhnya mereka jarang berhadapan dengan lawan lebih dari satu sebagaimana umum terjadi di perang. Walaupun, Naruto dengan bantuan Kurama dan Sasuke dengan kepintarannya bisa mengatasi hal tersebut. Setidaknya mereka menang dan melanjutkan perjalanan. Ketika malam tiba, Hashirama menyarankan mereka istirahat dekat air terjun.
Naruto menyembuhkan Sasuke, begitupun Hashirama ke Madara saat mereka terluka. Hashirama membuat 2 gubuk kecil dengan Mokuton. Madara menbuat api unggun dengan Katon untuk memasak ikan-ikan yang disetrum oleh Raiton-nya Sasuke. Naruto yang mengawasi ikan karena dengan hidung tajamnya dia bisa tahu kapan ikan siap dimakan.
"Sudah matang!" Teriak Naruto dan yang lain berkumpul. Mereka duduk di dua dahan pohon besar yang tak terlalu lapuk dengan api unggun di tengah. Hashirama dan Madara duduk berhadapan dengan Sasuke dan Naruto.
"Itadakimasu~!" Naruto mulai makan dengan senang sementara ketiga lainnya lebih tenang. "Ah, coba ada cup ramen di zaman ini," keluhnya penuh rindu selesai makan.
Sasuke berkomentar, "Kau harus makan 'makanan asli', Usurantonkachi!"
"Berisik, Teme!"
"Cup ramen bukan makanan asli?" Hashirama penasaran. "Imajiner? Hasil Genjutsu?"
Naruto terbahak-bahak sebelum menjelaskan ke Hokage apa sebenarnya itu. Dia menyebutkan kalau itu makanan kesukaannya di akhir penjelasan, ia tutup dengan, "Payahnya harus nunggu 3 menit! Tapi, itu bener-bener pucuk dicinta ulam pun tiba deh! Waktu dengan Petapa Genit, kami—" Ia tertegun di keheningan mengambil perhatian ketiga orang di sekitarnya. Kedua pendiri Konoha menoleh ke Sasuke yang menggelengkan kepala atas pertanyaan tak terucap. Menjawab kecurigaan mereka bahwa orang disebut Naruto sudah meninggal.
Hashirama bertanya ke Naruto pelan, "Gurumu?"
"Yah... secara resmi, guru kami adalah Guru Kakashi tapi," dia melirik dengan senyum jahil sambil menunjuk Sasuke dengan jempolnya, "ada masalah terjadi. Ditambah, Petapa Genit dulu gurunya ayahku."
"Apa dia dibunuh aku di Masa Depan?" Tanya Madara tanpa basa-basi. Naruto bungkam beberapa saat. Hanya suara api unggun yang terdengar sebelum Naruto menatap ke api tersebut.
"Tidak," jawabnya pelan. "Bekas muridnya yang dulu yang membunuhnya."
Sekali lagi keheningan menyelimuti mereka. Hashirama melirik ke suaminya dan dua remaja sebelum menghela nafas. Mungkin terlihat sebagai usaha mencairkan suasana tapi Hashirama tulus di kala ia berkata, "Dia pasti guru yang hebat. Aku bisa lihat dari pertarunganmu hari ini, Naruto."
Tersenyum bangga dengan rona pipi sedikit merah, Naruto senang dengan pujian barusan. Sasuke menatap Naruto sekilas sebelum beralih ke Hashirama lagi yang menyebutkan, "Hei, aku baru sadar kalau ini pertama kalinya kita berempat menghabiskan waktu bersama."
"Apa? Kita kan biasa bertemu di kamar mereka," Madara menaikkan satu alis.
Hashirama tertawa, "Maksudku, cuma kita. AIR Squad saja. Tanpa Izuna dan Tobirama."
"AIR Squad?" Naruto bingung. Madara dan Naruto juga sama.
"Asura Indra Reincarnations (Reinkarnasi Asura dan Indra) Squad," Hashirama tersenyum bangga.
Mata biru bersinar antusias, "Nama yang keren, Kek!" Naruto tertawa bersama Hashirama setelah mengacungkan jempol ke Hokage. "Ya 'kan?" Hashirama sangat girang Naruto sepikiran dengannya.
Kedua reinkarnasi Indra bergumam bersamaan, "Norak... "
"Oh, apa kalian punya nama lain untuk Squad kita? " Hashirama menantang kedua reinkarnasi Indra yang bertukar pandang kesepakatan. Mereka pikir sangat menggelikan untuk memikirkan sebuah nama apalagi menyuarakan seperti Hashirama tadi.
Mengacuhkan pertanyaan sebelumnya yang dinilai tidak pantas dijawab, Sasuke bertanya ke Hashirama, "Penyergapan hari ini, apa akan terjadi selama sisa perjalanan kita?"
Hashirama menghela nafas, "Begitulah."
"Perang atau tidak, setiap pemimpin dari sesuatu organisasi akan menjadi target pembunuhan," Madara membuang tulang ikan sisa miliknya ke api unggun. "Itu salah satu bagian dari menjadi pemimpin." Mereka terbiasa dengan hal seperti ini bahkan sebelum Konoha dibentuk. "Terutama, untuk seseorang dengan status seperti Hashirama."
"Maaf menyeret kalian ke masalah ini," ucap Hashirama tersenyum dengan rasa bersalah."
"Jangan dipusingkan, Kek!"
"Kau harus siap dengan hal seperti ini kalau kau mau jadi Hokage, Naruto," Hokage mengingatkan. Pirang Uzumaki mengangguk serius.
Madara memperingatkan ke Sasuke, "Kau juga." Remaja Uchiha menatap Madara. Kalau ia mau melindungi Naruto ketika sudah menjadi Hokage, Sasuke harus mempersiapkan diri juga. "Hubungan dekat seperti keluarga, sahabat atau pasangan sering jadi target juga."
Sasuke menutup mata, bergumam, "Aku tahu.
—000—
Mereka melewatkan satu minggu seperti ini. Satu-satunya waktu bisa istirahat adalah di antara percobaan pembunuhan Hokage selama perjalanan. Semakin mereka jauh dari Konoha, semakin berkurang penyerangan yang terjadi. Sekarang mereka hanya berjarak satu hari dari Kyuubi di masa ini. Bermalam di dekat danau, mereka melakukan rutinitas yang biasa dilakukan. Duduk di rumput sekitar api unggun.
"Sudah siap~!" Naruto mengumumkan ikan siap disantap.
Mereka makan dalam diam lalu Hashirama menyadari suaminya tidak mengambil bagian. "Madara?" Hokage memanggil setelah minum air usai ikan bagiannya habis. Ia bertanya, "Kenapa belum makan?"
"Tidak lapar," jawab Madara. Dia memasang wajah tanpa ekspresi walaupun matanya melihat ke ikan-ikan bakar dengan jijik. Aneh, batin Hokage. Madara bukan orang yang pilih-pilih makanan. Seorang ninja tidak bisa begitu. Mereka bisa punya makanan kesukaan tapi bisa makan semua kecuali memang ada alergi makanan. Terlebih, selama perjalanan ini mereka makan yang beginian kok. Burung, kelinci, ikan. Sudah biasa.
Namun, jika ditilik lagi belakangan, memang Madara makan kurang dari biasanya dibanding di awal mereka memulai perjalanan. Hokage mengerutkan alis dan bergeser ke suaminya. "Kau tidak apa-apa?" Ia mulai khawatir. Madara melirik sekilas dan menjawab, "Ya."
Bohong.
Hashirama tahu itu.
Memperhatikan suaminya dengan seksama, dia menyadari air muka yang pucat dan posisi badan kaku sebagaimana biasanya bila Madara menyembunyikan sesuatu dari seseorang. Hashirama tahu gerak-gerik suaminya setelah menikah. Bahkan, mungkin cuma dia dan Izuna yang bisa membaca bahasa tubuh Madara. Dia bertanya sekali lagi, "Ada apa, Dara?"
Madara menatap mata Hokage dan tahu bahwa tak ada gunanya berbohong karena Hashirama tak akan percaya. Menghela nafas, ia bergumam, "Ikannya..."
"Kenapa dengan ikannya?" Hashirama bingung.
"Bau... aku jadi mau muntah..."
Jawaban yang tak disangka. Bukan hanya bagi Hashirama tapi dua remaja itu juga. Ketiga bertukar pandang. Naruto meminum air dari wadah bambu seperti Hashirama tadi, Hokage ke Madara, "Bau? Seperti racun?" Dia menoleh ke Naruto, "Kau mencium bau mencurigakan dari ikannya, Naruto?"
Pirang Uzumaki menggelengkan kepala, "Tidak tuh. Sama kayak ikan biasanya. Kurama juga tidak mencium yang aneh-aneh."
Hashirama melirik ke Sasuke yang menggelengkan kepala juga. Sejujurnya, Hashirama jugà begitu. Tidak ada yang aneh. Madara memperhatikan mereka dengan kesal, "Maksud kalian yang mau muntah dari bau ini... hanya aku?!"
Dia berdiri dengan menekuk muka, "Aku bilang yang sebenarnya! Ikan-ikan itu beda! Baunya memuakkan!" Dia nampak pucat tapi marah untuk alasan tak diketahui bagi ketiga lainnya yang terkejut melihat Madara gusar hanya karena ikan. Hashirama berdiri dan mendekatinya.
"Santai, santai, Madara, aku percaya ucapanmu," Hashirama membujuk dengan tenang sambil mengenggam tangan Uchiha tersebut dengan lembut. Madara tidak bergerak dan sedikit kalem setelah sentuhan Hashirama.
Naruto menaikkan alis dengan bingung, "Kenapa sih denganmu, Mad—" terhenti, biru kembar membesar selagi dia mengendus udara di arah Madara.
Pendiri Konoha dan Sasuke bersiaga seketika. "Ada apa?" Sasuke bertanya sambil mengaktifkan Sharingan dan mengedarkan pandangan waspada ke sekitar. Hashirama dan Madara juga begitu, menunggu diserang tiba-tiba tapi tidak terjadi apapun. Madara juga tidak merasakan siapapun dekat mereka. Ketiga pasang mata mengikuti Naruto yang kini mendekati Madara dengan mengendus-endus.
"Ada yang aneh dengan Madara, Naruto?" Tanya Hashirama.
Berdiri depan Madara, Naruto mengerutkan alis, "Aroma khasmu berubah."
Madara dengan Sharingan-nya melebarkan mata, "Apa?"
"Aromamu bercampur dengan sesuatu," mengendus lagi, "kayak aromanya Kakek Shodaime."
Madara bertukar pandang dengan suaminya, "Tapi, semalam kami tidak..." Mereka tidak berhubungan seks selama perjalanan ini jadi mustahil Naruto mencium raksi kawin dari mereka.
"Bukan, bukan aroma yang itu," biru kembar fokus ke perut Madara. "Sumber aroma ini ada di..." Kedua pendiri Konoba dan Sasuke segera menangkap maksudnya. Hashirama dan Madara saling memandang dengan perasaan bercampur.
Madara berbisik ke Hashirama yang berdiri di sampingnya, "Apa kau berpikir seperti yang kupikirkan?"
"Biar aku cek dulu, oke?" Hashirama berkata lembut. Madara mengangguk. Hokage membuat meja pasien dari Mokuton untuk Madara berbaring dan Hashirama memulai pemeriksaan. Semuanya menahan nafas selama pemeriksaan berlangsung. Hashirama fokus ke tangan bercahaya hijaunya yang ditaruh di perut Madara. Matanya membesar sebelum dia menarik tangan dengan terpana. "Hashirama..." Gundah terdengar dari suara Madara.
Hokage menatap sayang ke suaminya, "Madara..." Senyum hangat terlukis di bibirnya.
"Apa aku...?"
Hashirama mengangguk, "Ya."
"Berapa lama aku..."
"Sekitar 12 minggu," Hashirama senyum sumringah. Dia memeluk Madara yang sudah duduk kembali. Bahagia sangat kental di suara tawanya. "Kita akan jadi ayah, Madara! Kita akan punya anak!"
"Wow, keren!" Naruto senyum antusias. "Selamat, Madara! Kakek juga!"
"Terima kasih, Nar—" Hashirama merasa Madara membeku di pelukannya dan senyum Hashirama perlahan redup begitu ia melihat ke Madara yang nampak lebih pucat lagi. Ini berita yang sudah ditunggu untuk Hokage, bahkan Klan Uchiha. Hashirama tidak mengeryi kenapa Madara malah terlihat murung bahkan sedih, "Madara... apa kau tidak apa-apa? Ada masal—"
"Kau tahu 'kan?" Sasuke yang sedari tadi diam mengambil perhatian. Sebelum yang lain bertanya, Sasuke melanjutkan, "Kau mengerti konsekuensinya. Benar bukan," ia menatap ke reinkarnasi Indra sebelum dirinya dengan penuh arti, menekankan, "Madara?"
TBC
Makasih sudah baca! Jangan lupa review yaaaa kalo mau tau kelanjutan di chapter selanjutnya! Chapter depan masih AIR Squad doang tanpa Tobirama dan Izuna lho! HashiMada sama SasuNaru fluff momen di chap depan!
Null: yey, masih dibaca! eh itu yang nikah HashiMada sama TobiIzu lho. Nikahnya barengan mereka. Sampe ini tamat sih, aku gak ada rencana buat SasuNaru nikah hehe memang harus digandeng Naruto wkwk gak mungkinlah lancar jaya pernikahan Hokage, musuhkan banyaaaak! Hoho sekarang versi english tinggal 4 chap lagi! oh lebih sreg yg Indo? kenapa? Aku sih prefer nulis yang versi English wkwkwkwk iya duoong polos! Gimana kagak? Uda baca buku Jiraiya aja dia masih gak ngerti bagusnya dimana LOL aku sukanya Naru yang polos sih hehe iya kaum Kurama itu bijuu kok dan makasih juga semangatnyaaa!
Funyaaa: Iya emang pusing nih, meski yah ide2nya uda beberapa kutulis di note hp meski entah kapan bakal dieksekusi ato gak haha duh ga tau ya, Drarry nih agak riskan hahaha aku uda namatin satu kumpulan drabble drarry dan banyak yg minta sequel jadi bingung juga hehe iya bakal Mpreg kalo aku yg bikin mwahahahaha
Namikaze Ichilaw: aku juga suka banget momen mereka QuQ fav deh! Pengen banyakin momen bortherly Madara ama Naruto wkwkwkwk
elLagark: iya emang itu diambil dari istilah di Harry Potter kok. Eh ini sama yg di wattpad dengan uname ini juga?
blmy: hah? males baca transletnya? maksudnya? kan yg versi ini versi translet ke b.indo?
Guest: hoho makasih, ditunggu aja yaaaa
LuBaByayu935: oh ya? makasiiiiihhhh!!! seneng banget kalo ada yang sukaaaaa
katakuri mino: haha... liat aja ya, aku ga janji bakal banyakin momen SasuNaru. Semua pairnya sama rata ya di fic ini bagiannya...maaf...
sasayachen: Uchiha mana sih yang gak ngegemesin? hoho iya bisa jadi tapi gak jamin juga wkwkwk
