Disclaimer: I do no own Naruto. The creator is Masashi Kishimoto.

Warning: Cek chapter sebelah!


Kedua reinkarnasi Asura bolak balik memandang kedua reinkarnasi Indra. Naruto tidak punya petunjuk apa yang dimaksud Sasuke tapi Hashirama menangkap arti dibalik itu ketika melihat Madara menaruh telapaknya di perut. Mengerutkan alis, Hashirama mengerti kenapa Madara terlihat terbeban dengan berita menggembirakan ini.

"Apa maksudmu, Sasuke?" Naruto serius bingung.

Butuh privasi, Hashirama mendahului Sasuke menyuarakan permintaan, "Naruto, Sasuke, bisa aku bicara empat mata dengan Madara?"

"Oh," Naruto menoleh ke Sasuke yang sudah berbalik dan menjauh, "Oke." Pirang Uzumaki mengikuti Sasuke dan pergi. Mereka berjalan ke sisi lain danau untuk memberi Pendiri Konoha privasi. Sasuke terus berjalan ke arah hutan tapi Naruto berhenti. "Apa yang kau katakan dengan tanya Madara mengerti tidak? Apa sih maksudnya, Sasuke?"

Pertamanya, Uchiha muda mengabaikan dan terus berjalan tanpa tanda kalau dia mendengar Naruto. Putra Yondaime Hokage merengut. "Sasuke!" Dia melompat ke depan Uchiha tersebut. Mereka berpandangan dan Sasuke tahu dia harus menjawab kalau determinasi di mata Naruto menjadi patokan. Ia menghela nafas.

"Rinnegan."

Naruto berkedip, satu alis naik dan memiringkan kepala sedikit ke kanan, "Rinnegan?"

"Kau bilang sendiri, Rikudou Sennin memberitahumu kalau Madara di masa kita bisa membangkitkan Rinnegan karena dia menanamkan daging Shodaime ke tubuhnya. Akibatnya, cakra Indra dan Asura bersatu. Itu kunci untuk membangkitkan Rinnegan."

"Aku ingat, tapi apa hubunga—"

Mata Naruto melebar tatkala mulai paham. Sasuke diam memberikan Naruto waktu mencerna situasi. "Maksudmu... Madara akan membangkitkan Rinnegan pas dia hamil?"

"Bukan."

Pirang Uzumaki kembali bingung jadi Sasuke menjelaskan, "Dia butuh lebih DNA Shodaime yang lebih dari sperma didalamnya." Naruto berkedip dan tersipu sebentar mendengar kata 'sperma' tapi Sasuke melanjutkan, "Yang akan punya Rinnegan adalah anak mereka."

"Bayi didalamnya?"

Sasuke mengangguk lalu menoleh ke danau yang memisahkan mereka dengan reinkarnasi Otsutsuki bersaudara sebelum mereka. "Bukan anak mereka saja... anak kita berkemungkinan mendapatkan Rinnegan juga."

"Hah?"

"Apa kau ingat waktu Izuna bertanya ke Tobirama apa anak mereka akan punya Rinnegan atau tidak dan Tobirama menjawab 'tidak'? Dia menerangkan walaupun mereka keturunan Indra dan Asura tapi cakra mereka bukan seperti cakra kita dan Shodaime serta Madara," mereka memandang kedua lelaki di seberang danau. "Kita berempat punya cakra Indra dan Asura. Tiap anak dari Shodaime dan Madara atau anak kita... mereka akan bisa membangkitkan Rinnegan."

Naruto terdiam dan menatap Sasuke selama dia menjelaskan. Satu yang disadarinya, Sasuke tak menunjukkan emosi di wajahnya tapi suaranya terdengar bertentangan. Ia tak mengerti jadi langsung ditanya, "Kau tidak terdengar senang saat menyebutkan soal anak kita? Apa ini caramu untuk bilang kalau kau tidak mau... punya anak denganku?" Gelisah kentara di pertanyaan barusan.

Sasuke menoleh balik ke Naruto, "Dari mana kau dapat pikiran bodoh itu?"

Pirang Uzumaki marah, "Ya, KAU! Jadi, benar 'kan?"

"Apa?"

"Kau baru bilang kalau itu bodoh untuk punya anak denganku!"

"Naruto, kenapa aku memintamu menikahiku kalau aku tidak mau kita punya anak?" Ia berasalan dengan pelan seraya mendekati Naruto. Biru kembar terlihat takut akibat konklusinya tadi.

"Tapi, sepertinya tadi kau tidak suka dengan ide anak kita atau anak Kakek Shodaime dan Madara punya Rinnegan!" Balas Naruto. Sasuke menghela nafas.

"Bukan urusanku kalau nereka mau punya anak di masa ini tapi... Zetsu Hitam pasti akan memanipulasi anak mereka demi rencananya. Tidak mungkin tidak," ia menggenggam kedua tangan Naruto. "Kita mengubah sejarah tapi tidak berarti mqsa depan kita akan punya perubahan drastis selama Zetsu Hitam masih berkeliaran bebas."

Naruto berkedip. Butuh beberapa saat untuknya paham kata-kata Sasuke. Tidak harus Madara yang punya Rinnegan, siapapun yang punya akan dimanipulasi Zetsu Hitam seperti Madara di masa mereka. Entah itu Madara atau anaknya. Masa depan tak akan berubah walau mereka membuat perubahan di masa ini.

"Aku mengerti," Naruto bergumam setelah diam lama mencerna pokok pembicaraan. Dia memalingkan wajah dan terlihat sedih, "Aku pikir... kau benci pemikiran untuk punya anak denganku..."

"Benci? Aku mau membangun klanku di masa depan denganmu, Naruto," Sasuke memeluk mesra Naruto. "Apa kau siap?" Dia mencium pelipis Pirang Uzumaki.

Muka memerah padam, Naruto membenamkan wajah di pundah Sasuke. Suaranya tak menutupi betapa malunya dia mengatakan, "Aku tidak yakin aku bisa membantu banyak di bagian itu..."

"Omong kosong," Sasuke menyeringai. "Kau berasal dari Uzumaki yang terkenal dengan kekuatan tubuh dan stamina penuh."

"Nonsense," Sasuke smirked, "You are an Uzumaki which are a famous clan to have excellent body strength and stamina."

"Tunggu," Naruto mengerutkan alis, menjauhkan wajah dari Sasuke, "Apa kau mau bersamaku hanya karena aku Uzumaki?"

Sasuke menaikkan alis, "Apa kau serius berpikir aku seperti itu? Aku kenal Uzumaki perempuan kalau aku hanya mau menggunakan seseorang melahirkan anak-anakku."

"Apa?!" Naruto yang cuma bertemu Karin Uzumaki sekali, terkejut bukan main. "Jadi, kau selingkuh denganku?" Konklusinya dengan nada terluka sangat terdengar di suara serta terlukis di air muka.

"Tidak, Bodoh," Sasuke menghela nafas berat. "Dia cuma teman satu timku sewaktu aku mencari kakakku. Kami tidak punya hubungan dekat seperti kita."

"Tapi, kau bil—"

"Yang kubilang adalah," Sasuke membingkai wajah Naruto dengan kedua tangannya pelan sehingga mata mereka bertatapan dekat, suaranya melembut dengan senyum tipis, "aku mau kita membangun keluarga bersama."

Naruto terpana. Pipinya bersemu merah dan biru kembar melebar mendengarkan Sasuke melanjutkan, "Aku bisa menghidupkan kembali klanku dengan siapa saja. Tapi, aku hanya ingin punya anak-anak denganmu. Bukan karena kau Uzumaki atau Jinchuriki atau koneksi dari kehidupan lampau. Hanya saja... ini harus dengamu. Tidak akan ada artinya kalau bukan dengamu, Naruto."

Kata-kata itu menjadikan Pirang Uzumaki merah bak kepiting rebus sebab malu sekali dari ujung kepala sampai kaki. Sasuke menyebutkan itu tanpa keraguan sedikitpun yang membuat Naruto sangat bahagia tak terkira! Terlebih, Sasuke tak seperti Itachi. Sasuke tidak pernah berbohong selama Naruto kenal dia. Selalu mengatakan sesuatu secara langsung tanpa memaniskan kata-kata atau peduli orang terlika atau tidak saat kata-katanya terlalu kasar. Sasuke bukan pembohong ulung... salahkah jika Naruto meleleh saat ini?

Naruto tak pernah tahu atau ada bayangan seberapa dalam perasaan bernama cinta berpengaruh ke Uchiha. Contohnya, Itachi yang melakukan segalanya demi kedamaian, bahkan membantai klan sendiri, Itachi tak sanggup membunuh Sasuke. Orang terpenting yang keberadannya melebihi kesetiaan Itachi pada Konoha. Sama saperti Itachi, Sasuke tidak pernah sanggup membubuh Naruto. Walaupun Itachi telah memberitahunya untuk membunuh teman terdekat demi mendapatkan Mangekyou Sharingan, Sasuke tak pernah serius membunuh Naruto. Sasuke terbilang masih setengah waras setelah kehilangan seluruh klan dengan tragis, tapi... kalau dia kehilangan Naruto...

"Kelemahanku, kekuatanku... ada satu," suaranya berbisik kejujuran dan tak terelakkan, "Hanya dirimu."

...apa yang dilakukan Madara di masa mereka akan tak berarti apa-apa. Dalam beberapa pengertian, Sasuke lebih berbahaya daripada Madara di Masa depan.

Naruto secara insting sadar keberadaanya adalah alasan Sasuke masih waras. Walau telah banyak orang mengakuinya, Sasuke merupakan satu-satunya yang mencuri hatinya. Mungkin ia memang ditinggalkan bertahun-tahun tapi sekarang ia tahu... Sasuke menyayanginya dalam hati.

Padahal, Naruto pikir dia ahli jurus Dakwah yang seperti Kurama bilang. Orang yang mengalahkannya dalam jurus ini adalah Itachi Uchiha. Kakak Sasuke. Tak heran Sasuke mampu membuat Naruto meleleh dengan kata-kata. Mungkin bakat dalam keluarga. Jika dipikir lagi, perkataan Sasuke yang mengakuinya ketika mereka Genin adalah awal dari cintanya pada Uchiha satu ini.

Sebentar.

Apa Sasuke bilang... "Anak-anak?" Naruto bertanya ragu nan malu.

"Anak-anak," Sasuke mengkonfirmasi dengan seringai kecil. "Aku harus menghidupkan kembali klanku, ingat?" Muka Naruto masuk ke tingkat warna merah paling gelap. Sasuke menaikkan alis, "Takut, Usuratonkachi?"

Naruto membantah, "Enak saja, Teme!"

"Bagus," Sasuke menghapus jarak mereka dan mencium bibir Naruto.

—000—

Setelah berdua saja, Hashirama duduk di bangku panjang bersama Madara. Keheningan menyelimuti. Keduanya memandang danau beberapa saat sebelum Hashirama memecah keheningan di antara mereka.

"Apa kau tidak senang dengan kehamilanmu, Dara?"

"Masalahnya bukan sesederhana itu," gumam Madara.

Hashirama mengerti jalan pemikiran Madara. Dia punyan pemikiran sama seperti Sasuke perihal ini. Kemungkinan anak mereka akan membangkitkan Rinnegan mencegah Madara menikmati masa sekarang. "Kau terbeban?"

Madara bungkam.

Jawabannya tak terelakkan. Tanpa diketahui Madara, dia membuka alasan kenapa dia mengubah topik tiap kali Hashirama mencoba membahas penyembuhan untuk penglihatannya. Hashirama tak pernah tahu alasan kenapa Madara selalu menolak matanya disembuhkan. Awalnya, Hashirama pikir karena ini terkait klan jadi orang selain Uchiha tak boleh memberikan penyembuhan apapun untuk aset terbaik klan. Ia pun membiarkan saja karena mau menghormati keputusan Madara. Namun, kehamilan ini membuktikan prediksinya salah.

Madara tak pernah bicara soal ini jado Hashirama beranggapan suamimya hanya terganggu dengan kematian Izuna dari cerita masa depan kedua remaja. Kelihatannya... bukan itu saja...

"Apa kau mau aborsi?"

"Apa?" Madara mengerutkan alis. Tangannya menutupi perut dengan protektif. "Tentu saja TIDAK!" Hashirama tersenyum lembut, dia tahu Madara akan bilang begitu. Dia merangkul suaminya dengan satu tangan, menyandarkan kepala Madara di bahunya.

"Kalau begitu, tidak masalah," ucapnya pelan. "Putra kita belum lahir dan kau berasumsi dia akan jadi antagonis? Kasihan 'kan?" ucap Hashirama pelan.

"Bukan itu maks—" Mata melebar kala tersadar ucapan suaminya barusan, dengan saling mengunci pandangan, ia pun bertanya. "Putra?"

Hashirama hanya tersenyum. Madara bertanya setengah berbisik, "Bukannya... terlalu cepat untuk tahu jenis kelaminnya?"

"Yah, tapi aku ada firasat kuat kalau anak kita laki-laki," tangannya yang bebas diletakkan di atas tangan Madara yang masih berada di atas perut. "Aku tahu kau cemas tentang anak kita akan dimanipulasi Zetsu Hitam kalau punga Rinnegan dan sejarah Sasuke maupun Naruto terulang. Tapi... itu tak akan mengubah apapun kalau kita tidak melakukan sesuatu."

Hashirama berdeterminasi, "Kita akan melakukan yang terbaik untuk menemukan Zetsu Hitam. Aku tahu kemungkinannya kecil mengingat Rikudou Sennin sendiri tidak menyadari eksistensinya. Kalau tidak bisa, kita akan menceritakan soal Zetsu Hitam sehingga anak kita bisa waspada."

Madara mengangguk.

"Aku aman melindungi anak kita dari bahaya apapun, Dara. Kau tidak sendirian. Kita bersama akan menghadapi ini," Hashirama memeluk Madara. "Tolong, jangan cemas. Tidak baik untukmu stress atas hal yang tidak bisa kita kontrol. Itu bisa mempengaruhi bayi kita."

Madara mengangguk dan memeluk balik. Tidak ada seorang pun yang bisa dia percayai keselamatan anaknya lebih daripada Hashirama dan adik mereka. Sangat menenangkan mendengar suaminya akan melakukan itu sekalipun keduanya tahu mereka memang akan melakukan segala cara untuk melindungi anak mereka. Lagipula, Hashirama benar. Mereka tidak bisa melakukan sesuatu terkait Zetsu Hitam sekarang jadi tak ada guna stress soal itu. "Terima kasih..." Madara menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya lagi.

Hashirama tersenyum riang, "Aku yang harusnya bilang itu, Dara. Kau membuatku jadi lelaki paling bahagia!" Ia mencium kening Madara penuh sayang. "Ini seperti mimpiku terwujud! Kita menghentikan perang. Membangun desa dan menikah. Sekarang, kita akan punya anak." Ia menghela nafas lega. "Apalagi yang bisa kuminta dari hidup ini? Aku sangat senang!" Dia mengeratkan pelukannya, "Terima kasih, Dara. Terima kasih."

Madara terpana.

Ah, jadi ini yang orang bilang 'hitung nikmatmu bukan masalahmu', pikir Madara. Kalau ditilik, yang dikatakan Hashirama barusan benar. Kehamilan ini merupaman nikmat bukan musibah. Zetsu Hitam memang sumber masalah. Namun, bagaimana orang bisa menikmati hidup jika hanya khawatir soal masalah dan mengabaikan nikmat yang dipunya? Masalah akan hadir di kehidupan. Itu bagian dari kehidupan. Begitu juga nikmat. Seseorang tidak bisa melarang masalah, itu akan datang bagaimanapun juga. Namun, orang bisa mengontrol diri mereka bagaimana siap menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Hashirama lelaki yang bijaksana dan Madara sangat beruntung bisa punya suami sepertinya.

"Aku mencintaimu..." Dia berkata penuh rasa syukur dan mencium pipi Hashirama.

Hashirama terbelalak. Itu mengejutkannya. Biasanya, Madara lebih suka memperlihatkan cintanya di tindakan dibanding kata-kata. Tidak keberatan, tentu saja. Hashirama lebih dari senang mendengar hal tersebut dan menghargainya. Maka, ia tersenyum hangat, "Aku juga mencintaimu..."

Kemudian mencium bibir Madara.

—000—

Keesokkan paginya, Naruto masih tertidur di rumah kayu buatan Hashirama. Sasuke berpakaian dan keluar untuk menemukan Madara di balik semak cukup jauh dari posisi berkemah mereka. Madara selesai muntah apa yang dimakannya semalam. Saat dia hendak minum dari wadah bambu yang dia bawa, ternyata kosong. Sasuke mendekati dan menawarkan miliknya.

Madara merasakan kehadiran Sasuke sebelumnya tapi dia sibuk dengan mual serta muntah sehingga baru sekarang dia melihat ke arah remaja Uchiha itu. Tanpa kata, dia menerima wadah bambu Sasuke dan minum air dari situ. Beberapa teguk, baru dia merasa baikan dan berhenti minum. "Aku ragu kau di sini untuk memberiku selamat," ucapnya sambil berdiri tegak lagi dan menoleh ke Sasuke.

"Kenapa tidak?" Balas Sasuke. "Naruto dan aku bertarung denganmu di Masa Depan... dimana kau jadi sangat kuat. Tak pernah terlintas di pikiranku akan melihatmu muntah dan bisa kubilang bahkan terlihat menyedihkan?"

"Hebat sekali itu datang darimu yang melarikan diri dari menjelaskan apa itu seks kepada pacar yang polos setelah berani-beraninya melamar dia, kau sepertinya yakin sekali kalau kau tidak menyedihkan."

"Tak buruk, Madara."

Madara hanya menaikkan satu alis dan bertanya ke si remaja, "Kenapa kau di sini?"

"Mana Shodaime?"

"Dia pergi memetik tanaman herbal untuk membuatkanku minuman. Sebentar lagu kembali."

Sasuke menatap Madara beberapa saat, "Shodaime adalah medi-nin terbaik di sejarah Konoha bahkan di masaku. Tak ada yang melebihinya dalam ninjutsu penyembuhan."

"Lalu?" Madara mulai kembali berjalan ke arah perkemahan mereka.

"Naruto mungkin tidak di tingkat yang sama dengan Shodaime untuk penyembuhan tapi dia bisa melakukannya cukup baik," Sasuke mengikuti Uchiha yang lebih tua. Dia berjalan di samping Madara.

"Poinmu?"

"Penglihatanku memburuk setelah menggunakan Mangekyou Sharingan sering-sering sebelum aku memutuskan mentransplantasi mata kakakku. Aku tahu seberapa buruk penglihatanmu dan bertanya-tanya," ia tak melirik atau menoleh ke Madara, "kenapa kau tidak meminta salah satu dari mereka untuk menyembuhkan matamu?"

Keduanya berjalan dalam keheningan tanpa ada tanda dari Madara akan menjawab. Sejujurnya, Sasuke tak mengharapkan dijawab. Dia tahu apa yang Madara akan katakan atau rasakan. "Kau dihantui oleh fakta jika cakra Shodaime atau Naruto berada di dalam tubuhmu, Rinneganmu akan terbangun." Madara berhenti, Sasuke berjalan tiga langkah lagi sebelum berhenti juga. "Kau mencoba untuk mencegah masa depan kami untuk terjadi." Itu pernyataan, bukan pertanyaan. "Tapi, kau hamil sekarang."

Madara menatap punggung Sasuke di depannya.

Tak ada guna untuk membantah pernyataan barusan. Ia tak pernah mengatakan pada siapapun, tidak juga ke Hashirama walaupun nampaknya sang suami paham, tapi itu adalah fakta. Madara juga tahu Sasuke secara tak langsung mengatakan bahwa anaknya akan punya Rinnegan. Itu berkebalikan dengan usahanya untuk tak pernah membangkitkan Rinnegan sendiri. Mengerutkan alis, Madara tak suka kemana arah pembicaraan ini sehingga ia berkata, "Kalau kau menyarankan untuk membunuh janinku, kau berpikir terlalu muluk, Sasuke."

Uchiha termuda berbalik badan. Manatap lurus mata Madara.

"Bukan. Itu sama saja seperti membunuh anakku sendiri. Kita punya jiwa Indra walaupun berbeda generasi." Sasuke melanjutkan, "Kau harus bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Dalam hal ini, kau harus punya rencana kalau ada skenario terburuk terjadi."

"Kuasumsikan kau punya rencana dan mau memberitahuku."

Sasuke mengangguk, "Aku punya satu Rinnegan, pemberian Rikudou Sennin ketika aku melawan Kaguya. Naruto juga punya cakra Rikudou dari beliau tapi keduanya hilang setelah kami tiba di sini."

"Kenapa?"

"Aku pikir itu karena Kaguya hendak menggunakan jurus perpindahan dimensi setelah menyerap cakra kami," jelas Sasuke. "Hanya sebentar tapi aku tahu kemampuan Rinnegan. Aku akan memberitahumu jadi kau bisa mengantisipasi bagaimana menghadapinya bila ada seseorang dengan Rinnegan muncul."

Akan sangat mematikan kalau melawan pengguna Rinnegan tanpa tahu apapun. Edo tensei Hashirama dan Tobirama membuktikan itu. Apalagi, jika Madara mencoba sejarah terulang maka Sasuke bersedia membantu karena ia tak menikmati masa depan dimana dia dan Naruto berasal.

Madara diam beberapa saat sebelum menjawab, "Tidak. Aku sebaiknya tidak tahu karena ada kemungkinan aku yang membangkitkan Rinnegan dan bisa bahaya karena sejarah masa depanmu bisa terulang."

"Saranmu?"

"Beritahu orang yang bisa dipercaya untuk mengambil tindakan apapun demi hasil terbaik tak peduli metodenya"

Sasuke paham. "Siapa menurutmu?"

Madara membuka bibir dan menyebutkan sebuah nama lalu mereka kembali.

—000—

Naruto keluar dari rumah kayu dan menemukan Hashirama membuatkan minuman dengan aroma yang membuatnya menutup hidung.

"Aaah!" Hentaknya, "Racun apaan tuh, Kek? Menyengat banget baunya!"

"Teh herbal, Naruto," Hashirama tertawa. "Ini untuk Madara biar perutnya enakan dan mengurangi mual-mual."

"Mual-mual?" Naruto bingung.

"Iya, itu biasa di beberapa bulan awal kehamilan," jawab Hashirama. "Saat hamil, hormon jadi tak berarturan dan mempengaruhi indra penciuman. Makanya, Madara tidak mau makan ikan kemarin. Aromanya membuat mual."

Naruto memucat, "Kurasa aku juga mual..." Ia mengambil langkah jauh dari Hashirama dan teh herbal. Hokage hanya tertawa sambil melempar apel. "Sarapanmu."

Remaja pirang menangkap dan memakan apelnya. Hashirama sadar Naruto terlihat pucat. "Kau tidak apa-apa, Naruto? Biasanya, kau masih tidur," ujar Hokage. Naruto selalu jadi yang terakhir bangun di antara mereka berempat.

"Ya," ia menguap sesekali, "Masih ngantuk sih tapi panas banget jadi gerah."

Hashirama cengo.

Ini belum musim panas dan ditengha musim semi. Tidak sepanas itu untuk keringatan hanya dengan tiduran. Hokage sedikit ragu dengan deskripsi Naruto. Melihat lebih dekat, Naruto memang berkeringat dan wajahnya lebih merah dari biasanya. Hashirama mengerutkan alis. Ciri-ciri remaja ini sama dengan demam. "Apa kau yakin? Kau terlihat tidak sehat, Naruto. Apa kau sakit?"

"Hah? Tidak tahu ya, aku tidak pernah sakit selain dari luka pertarungan, itupun juga cepat sembuh," Naruto betulan kaget.

Hashirama bertanya, "Tidak pernah? Bagaimana bisa?"

"Cakra Kurama melindungiku dari penyakit jadi aku tidak pernah batuk, flu, demam atau sejenisnya," jawab Naruto. Hashirama menaruh teh herbal dan berjalan ke Naruto yang duduk di depan rumah kayu. Berlutut di depan si remaja, ia menyimpulkan, "Menurutku, kau demam."

Biru kembar terbelalak.

"Buka kimono-mu biar kuperiksa," saran Hashirama. Naruto yang kaget karena tidak pernah akhirnya menurut. Tangan Hokage memeriksa tubuhnya sambil ditanya, "Apa ada yang terasa aneh? Sakit mepala? Atau nyeri di bagian lain?"

"Ehmmm... selama perjalanan kita, aku merasa udara panas lebih dari biasanya. Cakraku juga terasa aneh. Masih bisa kugunakan... tapi rasanya beda."

"Cakramu? Sudah tanya Kyuubi?"

"Sudah tapi dia juga tidak tahu kenapa. Dia bilang dia tidak pernah cakra jadi aneh begini dengan para Jinchuriki sebelum aku."

Hashirama terdiam, "Menurutmu, apa bukan karena kita dekat dengan Kyuubi masa ini? Seperti cakra kita beresonansi hingga menarikmu dan Sasuke ke zaman ini dari jurus Kaguya?"

"Wow! Aku tidak kepiki—" ucapan Naruto terpotong sebab ia merasakan niat membunuh dari belakang Hashirama. Menengadah, ia menemukan dua pasang Mangekyou Sharingan melotot ke arah Hokage.

"Hashirama..."

Madara memasang wajah keji seperti yang Naruto lihat kala melawan Edo-Tensei Madara di Perang Besar Dunia Ninja ke-4. Anehnya, Sasuke juga berekspresi sama persis. Naruto tidak mengerti kenapa kedua reinkarnasi Indra memasang wajah itu tapi Hashirama menyadarinya. Pemandangan dimana Naruto membuka kimono setengah telanjang dan tangan Hashirama di tubuh tersebut, jelas mengacu ke satu konklusi yang bukan pemeriksaan kesehatan. "Bisa kujelaskan, ini bukan seper—"

Ucapannya terpotong dengan terbentuknya dua Susanoo. Yang Ungu mengarahkan panah Amaterasu ke Hashirama.

"Kata terakhirmu, Shodaime?" Tanya Sasuke dingin. Matanya penuh kebencian.

"Tunggu, Sasuke! Aku TIDAK bermesuman dengan Naru—" tanpa basa-basi, Susanoo Ungu melepas anak panah dan tanah berguncang hebat akibat ledakan dahsyat.

Jauh dari mereka berempat, Kyuubi di masa ini merasakan cakra dari ledakan barusan. Menajamkan mata, ia berdesis, "Cakra ini..."

TBC


Makasih sudah baca! Versi englishnya dah tamat jadi yg versi Indo ini juga akan tamat dalam 2 bulan menurutku. Chap depan bakal muncul Kurama di masa Shodaime! Review ya kalo mau baca!

Namikaze Ichilaw: Ada satu momen mereka lagi ntar, tunggu aja~ Madaranya cemas hoho~

Ay03sunny: Bagus kalo penasaran~ review dong biar dilanjut hihi

Guest: Belum gawat2 amat, cuma cemas aja hoho

mutii: Makasih! Bakal lanjut selama masih ada yang review kok! makanya review terus yaaaa!

Uchiuzuraa: Harus dong~ biar kekinian gitu lho hahahaha

Null: Tetep jadi kok, hamilnya belum besar jadi tetep nemuin Kurama. Dibanding menonjol sih, lebih ke emang bagian porsi TobiIzu duluan sih difokusin, baru HashiMada dan terakhir SasuNaru. Yang english baru tamat beberapa hari lalu. Review lagi yaa!

katakuri mino: iya, ini bukan SasuNaru-centric ya.