Kembali
An Attack on Titan Fanfiction made by Rizuki
.
.
"Annie Leonhart." Wanita itu mengulurkan tangannya padamu. Kau hanya menatapinya dalam diam. Menatapi tangan yang masih sama kecilnya dengan yang kau ingat sambil menerka-nerka apakah akan masih sama hangatnya dengan saat terakhir kali tangan itu berada dalam genggamanmu. Dan tak lupa meratapi kebodohanmu yang membiarkan tangan itu lepas dari genggamanmu, menapaki jalan kehidupan sendirian tanpa dirimu di sisinya-
"Permisi Tuan, saya kemari untuk memastikan apakah saya berada di ruangan yang tepat untuk rapat anggota direksi. Menatapi saya seperti itu adalah bentuk pelecehan. Saya yakin anda mengerti maksud saya." Kau terkejut mendengar perkataannya. Dengan gelagapan kau menggaruk belakang lehermu.
"Ma-maaf. Maafkan ketidaksopananku. Armin. Armin Arlert." Kau berdiri dari dudukmu dan mencoba bicara padanya. Kau yang gugup ini pasti merupakan sebuah kebodohan di matanya. Kau yang gugup ini pasti masih sama di mata-
"Salam kenal, Tuan Arlert. Anda memberikan kesan pertama yang tidak terlalu baik ya untuk sesama kolega bisnis. Saya tidak menyangka orang kikuk seperti anda memimpin sebuah perusahaan besar." Ah, kesan pertama... ya?
Kau mengulum senyum getir dan kembali duduk. Posisi kalian kini saling berhadapan dengan meja besar berbentuk huruf U yang memisahkan. Dalam pandanganmu, dia jelas sekali masih dia yang sama dengan yang membekas dalam ingatanmu. Dia yang menemani harimu dari matahari terbit sampai sang surya itu tenggelam dan terbit kembali esok hari. Dia yang bahkan mungkin pernah lebih dekat dari nadi. Tapi sekarang? Bahkan jarak Bumi ke Mtahari tidak lebih jauh dari jarak yang tercinta di antara kalian. Itulah kenyataannya dan kau sangat paham dengan itu. Dari segi alasan sampai sejak kapan. Kau sama sekali tak punya hak untuk marah apalagi menyalahkannya untuk itu. Karena semua ini terjadi juga atas andilmu di dalamnya.
.
.
"Annie, bisa kita bicara?" Kau memberanikan dirimu mencegat langkahnya sebelum ia keluar dari ruangan rapat setelah membereskan semua barangnya. Padahal temanmu sudah sejak tadi memberikan kode untuk segera keluar dan bergabung dengannya untuk merayakan keberhasilan kalian memenangkan tender. Tapi kau menolak untuk segera menemuinya di kafetaria. Kau merasa sesuatu dengan wanita pirang di hadapanmu ini harus dibereskan lebih dulu. Karena kalau tidak, entah harus bagaimana lagi kau menghadapi kesendirian dan kekosongan di hatimu.
"Ann-" ia mengangkat sebelah tangannya yang tidak digunakan untuk mendekap map berisi berkas. Ia memintamu menahan atau bahkan membatalkan apapun itu yang hendak kau ucapkan padanya dan kau menurutinya. Setidaknya ia akhirnya memberikanmu respon yang berarti. Tidak diam seperti benda mati atau berlagak seolah kalian tak saling mengenal-
"Aku merasa tidak nyaman. SANGAT TIDAK NYAMAN dengan tindakan anda saat ini. Kita tidak cukup dekat untuk dapat memanggil satu sama lain dengan nama depan." Ah- kau kehilangan kata-kata mendengarnya mengatakan itu dengan tenang dan tegas. Sungguh! Kau telah ditolak bahkan sebelum memulai apapun. Tapi itu bukan tindakan yang salah darinya. Sama sekali tidak salah. Justru sangat benar. Tapi kau juga tidak bisa mundur sekarang. Karena jika kau mundur sekarang, kau tidak tahu kapan kesempatan seperti akan datang kembali. Jadi-
"Annie- maksudku Nona Leonhart, kita perlu bicara." Ia mempererat genggamannya pada map yang ia dekap. Kau bisa melihatnya lewat sudut matamu. Dia pasti sedang mati-matian menjaga sikapnya kini dihadapanmu. Tak ingin goyah barang sedikitpun.
"Silahkan." Ia berkata begitu dengan nada berat. Tampak sekali ia enggan untuk mengiyakan.
"Berdua-"
"Kita sedang berdua sekarang. Katakan di sini saja. Aku tidak punya banyak waktu, Tuan Arlert." Kau mengepalkan tanganmu. Membulatkan tekad dan menetapkan hati. Sayangnya, seorang Annie Leonhart tidak sesabar itu untuk menunggumu menetapkan hati sambil menghela nafas berkali-kali. Di matanya kini, kau mungkin adalah orang menyebalkan yang sok akrab dan sama sekali tidak penting. Terbukti dengan dirinya yang mendengus kesal lalu meraih gagang pintu. Bersiap keluar, menolak lebih lama bersama denganmu dalam atmosfer tidak mengenakkan ini.
"Aku- aku tidak tahu kita ini apa atau bagaimana. Tapi aku selalu merindukan saat-saat kita bersama dulu. jadi-"
"Kita bukan apapun." Kau mendongakkan kepalamu yang tadi tertunduk sembari bicara padanya. Matamu menatapnya bingung sekaligus tak percaya. Bagaimana bisa ia berkata begitu setelah semua yang telah terjadi di antara kalian? Bagaimana bisa-
"Karna kita memang bukan apapun. Kita bukan teman. Bukan musuh. Kita... hanya orang asing." Annie mengambil jeda untuk menarik nafas. kau tau dia sedang mencoba menahan luapan emosinya dan kau juga paham bahwa ini sepenuhnya karenamu. Kau lagi-lagi mengambil langkah yang tidak tepat dan mungkin akan kembali kau sesali sepanjang hidupmu.
"Ya. Kita hanya orang asing yang... KEBETULAN memiliki kenangan bersama. Jadi, kumohon jangan pernah berpikir bahwa kita akan kembali ke masa-masa itu lagi. karena itu tidak mungkin." Annie mendorong pintu keluar setelah mengatakannya. Ia sepertinya juga sudah memantapkan hati dan membuat keputusan. Sayangnya, kau tak bisa membiarkan semua ini terjadi begitu saja. Kau sungguh tak bisa menerima kenyataan ini. Tidak akan pernah bisa. Karenanya,
"Kenapa? Katakan padaku alasannya. Kenapa kita tidak bisa kembali?" kau mencegatnya, kau menahan daun pintu sekaligus menggenggam tangannya yang menggenggam gagang pintu besi yang dingin. Tak lupa, kau menatapnya dalam. Berharap dengan begitu ia akan luluh padamu lagi. Namun, angan selamanya akan tetap jadi angan. Karena suara berat seorang pria kemudian datang menyambangi pendengaranmu. Beserta sosok pria tinggi kekar yang berwajah garang. Pria itu berkata,
"jauhkan dirimu darinya, Armin." nada tegas dari suaranya yang berat itu bercampur dengan rasa marah dan tidak senang. Membuatmu membalas dengan rasa tidak senang yang sama besarnya.
"Atas dasar apa kau berhak menyuruhku begitu, Reiner?" meski sama-sama berbalut rasa tak senang, kau memberikan sedikit perbedaan. Kau menambahkan tatapan sinis padanya, pada pria yang lebih tinggi darimu itu. Kau melihat pria itu menautkan alisnya. Ia memandang rendah dirimu yang memang lebih rendah darinya dalam hal proporsi tubuh. Perlahan ia membungkukkan badannya sedikit untuk menyamakan tinggi denganmu dan mendekatkan wajahnya dengan wajahmu. Lalu tepat di depan wajahmu ia berkata,
"DIA. ISTRIKU."
"Itu tidak-" Reiner memperlihatkan tangan kirinya padamu. Di jari manisnya terdapat cincin bermata batu zamrud. Sebuah cincin elegan yang sama dengan yang kau lihat berada di jari manis tangan kiri Annie saat ini. Pria besar itu kemudian menegakkan tubuhnya kembali seraya melepaskan cincinnya. Ia memberikan cincin itu padamu setelahnya.
"Cincin itu seperti sudah cukup untuk jadi sebuah bukti, kan?" kau menghela nafas berat sesaat setelah melihat nama yang terukir di bagian dalam cincin tersebut. Kau menggenggam erat gcincin itu sebelum menyerahkannya kembali pada Reiner dengan enggan.
"Terima kasih kembali." Setelahnya, pria itu menarik Annie pergi dengannya. Meninggalkanmu yang masih berdiri di tempatmu. Ditatapi dengan tatapan kasihan oleh Annie.
Kau tahu yang kau lakukan ini sudah terlambat. Tapi kau tidak pernah sekalipun menyangka bahwa kau akan seterlambat ini. Pepatah mungkin berkata bahwa sesuatu yang tercipta untukmu pasti akan kembali padamu. Dan nampaknya, Annie bukanlah bagian dari itu.
.
.
"Terima kasih sudah pernah jadi bagian dari hidupku. Terima kasih karena sudah menorehkan luka di hatiku. Karena dengan itu, aku bisa mencintai dengan lebih baik lagi." -Annie Leonhart, sudah berdamai dengan masa lalunya.
.
.
I
