"Tousan, ohisashiburi," sapa Sakura dengan suara yang lirih dan juga bergetar.
Entah kenapa Sasuke menahan napasnya saat mulai mencermati tanggal kematian yang tertera di atas batu.
Dari semua tanggal ... kenapa ayah Sakura harus meninggal di hari dan tahun yang sama dengan ayah Karin? Apakah ini ... murni sebuah kebetulan?
Kening pria itu menciptakan sebuah lipatan halus. Dadanya terasa sesak karena kenangan traumatis masa lalu secara otomatis terputar dalam kepala. Masa lalu yang sampai sekarang masih buram dalam ingatannya. Masa lalu yang tak pernah siap ia ingat. Masa lalu yang mengubah hidupnya ...
... tanggung jawabnya.
Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')
Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)
Rate T semi M untuk bahasa dan beberapa pembahasan(?)
.
.
Responsible
5. A Free Coupon to Runaway
.
.
.
Mau berapa kalipun melihat tempat peristirahatan terakhir ayahnya, ia, Haruno Sakura tetap saja tak mampu menghilangkan perasaan ini. Hatinya sampai detik ini pun belum kuat membentuk barikade kokoh untuk menghadapi ini. Meskipun delapan belas tahun sudah berlalu ... nyatanya ia masih lemah, ya?
Perempuan itu menarik napas, ia menggelengkan kepalanya kuat. Ingat, saat ini ia ke sini bersama dengan Uchiha Sasuke. Laki-laki yang beberapa hari yang lalu adalah seorang stranger dan sekarang—dengan cara yang aneh—malah berubah status menjadi calon suaminya. Ia pun menolehkan kepalanya ke belakang.
Di tempat laki-laki itu berdiri, terlihat sekali wajah yang biasanya tenang dan hampir sukar dibaca nampak pucat. Air wajahnya sangat aneh. Tubuh laki-laki itu seperti mematung. Napasnya terlihat mulai tidak stabil.
Sakura mendekatkan dirinya pada Uchiha Sasuke.
Puk.
Ia menepuk pelan bahu laki-laki itu. "Sasuke-san...?"
Suara lembut Haruno Sakura yang sarat akan kekhawatiran seolah menarik Uchiha Sasuke dari dunia lainnya. Tanpa sadar laki-laki itu mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat entah sejak kapan. "Hn?"
"Tarik napas, dan buang secara perlahan. Atur napasmu," balas Sakura sembari menepuk-nepuk bahu Sasuke dengan pelan, mengirimkan serpihan kekuatan.
Sejujurnya, Sakura sama sekali tidak tahu apa yang membuat laki-laki di hadapannya seperti ini. Perempuan itu baru mengenal Uchiha Sasuke kurang dari seminggu. Pengetahuannya soal laki-laki ini adalah nihil. Apa mungkin jangan-jangan Sasuke memiliki trauma dengan pemakaman? Atau Sasuke sebenarnya percaya dengan mitos-mitos hantu makanya ketakutan? Astaga. Kenapa Sakura sok tahu tanpa memastikan terlebih dahulu?! Benar. Uchiha Sasuke pasti takut hantu 'kan?!
Onyx Sasuke menatap lekat perempuan yang sedang menepuk-nepuk bahunya dengan memajang ekspresi super khawatir. Entah Sakura merapalkan mantra apa, tiba-tiba saja perlakuan kecil perempuan itu berhasil membuat perasaannya nyaman dan hangat sampai membuatnya penuh dan turut membuat organ kardiovaskularnya bekerja dua kali lebih keras.
Sudah delapan belas tahun berlalu. Dalam satu hari terdapat jutaan angka kelahiran dan kematian yang terjadi bersamaan. Uchiha Sasuke tidak boleh seperti ini. Tidak semua hal yang terjadi saat ini selalu berkaitan dengan trauma dan tanggung jawabnya. Ini pasti murni sebuah kebetulan. Ya, ini sebuah kebetulan 'kan...?
Lagipula, kalau Haruno Sakura memang memiliki keterkaitan dengan trauma dan tanggung jawabnya, apakah Uchiha Sasuke siap menanggungnya? Bahkan sekedar mengingat kronologisnya dengan utuh saja ia tak mampu. Saat ini yang tersimpan oleh otaknya adalah potongan-potongan besar kejadian itu. Bukan kepingan detailnya. Seperti kata ibunya dulu, jangan memaksakan diri. Ya, Sasuke tidak boleh memforsir hal tersebut.
Sasuke menangkap pergelangan tangan Sakura yang masih setia menepuk-nepuk pelan bahunya. "Maaf," tuturnya pelan.
Sakura mengulaskan senyum tipis. Dalam hati ia sangat lega bahwa Sasuke sudah terlihat lebih baik daripada tadi. Tidak pernah Sakura meyangka bahwa Uchiha Sasuke setakut itu pada hantu. Oke, Sakura tidak akan bertanya karena pasti laki-laki ini malu.
Perempuan itu kembali menghadapi tanah tempat peristirahatan terakhir ayahnya. Sekarang ia yang menarik napas, seolah mengumpulkan sebongkah kekuatan.
"Tousan..." Baru saja ia memanggil ayahnya tapi barikadenya sudah retak. "Maaf semenjak ujian kompetensiku aku baru ke sini lagi." Sakura menelan ludahnya, "Aku tidak menyangka bahwa banyak sekali yang terjadi dalam beberapa hari. Beberapa hari yang lalu aku pergi ke dokter kandungan dan saat ingin ke kamar mandi malah jatuh dan terkilir. Yang terjadi selanjutnya terdengar seperti lelucon, Tousan."
Jika berurusan dengan ayahnya sepertinya Haruno Sakura adalah perempuan yang paling lemah. Sorot emerald itu sangat sayu, tiap tutur kata yang Sakura ucapkan sangat lembut. Dalam indera pendengaran Sasuke, suara Sakura berubah semakin berat saat melanjutkan ceritanya. Sepasang mata itu membendung air mata tapi bibirnya memaksakan senyum lebar. Sakura benar-benar menceritakan alur pertemuannya dengan Sasuke lalu kesalahpahaman ibunya dan yang terakhir soal bagaimana Sakura tidak mampu mengatakan kebenarannya pada Uchiha Mikoto, ibunya. Karena ibunya terlihat sangat antusias akan pernikahan mereka, sesimpel itu.
Perempuan itu menolehkan kepalanya, membuat surai-surai yang diikat bergoyang ringan. Ia mempertemukan iris emerald-nya dengan sepasang onyx yang setia memakukan pandangannya. "Jadi, ini dia Sasuke-san, Tousan."
Sakura menyikut Sasuke sembari melotot galak, "Cepat, sapa ayahku!" serunya berbisik.
"Hajimemashite," ucap Sasuke lalu ber-ojigi rendah. "Aku akan menjaga putri Anda dan bertanggungjawab penuh atas semua yang kulakukan." Ia melanjutkan sembari menepuk kepala merah muda Haruno Sakura.
Gawat. Sakura merasa bahwa air mata yang sejak tadi ia bendung akan lolos. Kenapa ucapan Sasuke barusan bisa membuatnya semakin ingin menangis? Kenapa Uchiha Sasuke selalu menyalahkan dirinya sendiri? Kenapa ia merasa sangat dihargai? Apakah boleh ia merasa seperti ini?
Setelah membersihkan makam dan meletakkan bunga, Sakura dan Sasuke berpamitan pada Haruno Kizashi. Sejak tadi Sakura sudah menggigit bibirnya, pertahanan Sakura yang sudah retak sejak tadi siap hancur berkeping-keping. Perempuan itu buru-buru mengambil langkah di depan Sasuke. Ia sama sekali tidak memedulikan rasa sakit di kakinya.
Memikirkan bahwa ia benar-benar akan menikah tanpa ditemani oleh ayahnya di altar adalah sebuah kenyataan yang sangat menyakitinya. Kalau saja ayahnya masih ada, apakah ayahnya bisa menenangkan ibunya agar tidak seenaknya seperti itu? Jika saja ayahnya masih ada, apa yang akan ayahnya lakukan? Jika saja ayahnya masih ada—Jika saja...
Bahu Sakura sudah naik turun. Suara isak tangisnya sudah mulai menyapa telinga Sasuke yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Emosi Sakura sudah tak lagi dapat dibendung. Saat sedang membiarkan keluar segalanya, tiba-tiba saja ini terjadi. Pandangannya yang sudah buram oleh air mata tiba-tiba menggelap—ditutupi oleh coat hitam.
Seluruh wajahnya ditutupi oleh coat panjang milik Uchiha Sasuke. Wangi maskulin khas yang ia kenali memenuhi indera penghidunya.
Tanpa satu patah kata pun Sasuke menggendong Sakura a la bridal style layaknya putri di negeri dongeng. Tidak mungkin 'kan Sasuke membiarkan Sakura berjalan dan menyiksa kakinya yang terkilir terus-menerus? Dan perlakuannya ini disambut oleh tangisan Sakura yang semakin keras.
Siang itu, ditemani oleh Uchiha Sasuke, Haruno Sakura memuntahkan seluruh perasaan yang beberapa tahun ini sudah dipendam.
.
;;;;;
.
Uchiha Mikoto mengedarkan onyx-nya ke seluruh penjuru kamar rawat calon menantunya tapi tidak ada sosok menantunya tertangkap oleh matanya. Perempuan itu menghela napas.
"Mencari Sakura, ya, Basan?"
Perempuan dua anak yang membawa sebuah tentengan hanya mengulaskan senyuman tipis sebagai responsnya atas pertanyaan Karin.
Karin menggigit mukosa bibirnya, "Sakura-san sedang keluar bersama Sasuke-kun, Basan. Katanya ada keperluan penting yang harus diurus."
"Aa, begitu." Perempuan itu membalikkan badannya, "Terima kasih," ujarnya tanpa emosi.
Lagi-lagi, ini terjadi. Selalu saja begini. Berbeda dengan Uchiha Sasuke yang selalu memperlakukan Karin bak putri, Karin selalu merasa Mikoto-basan—entah kenapa tidak menyukainya. Akan sangat indah jika ini hanya murni sekedar intuisinya.
Sebenarnya kemarin Karin tidak tertidur sama sekali. Saat Mikoto datang mengunjungi Sakura dan dengan baiknya memberikan segala wujud perhatian. Kenapa Haruno Sakura bisa mendapatkan hati Uchiha Mikoto padahal mereka belum lama kenal?
Kemarin Karin sudah mulai bisa menerima kondisi ini. Namun, ternyata hal sekecil ini mampu membuatnya terpicu. Maksud Karin, mereka sama-sama kehilangan ayah mereka dalam suatu kecelakaan. Mereka sama-sama dibantu oleh seseorang untuk bangkit. Haruno Sakura tentu tahu bukan arti dari seseorang yang sudah membantunya berdiri?
Sakura sudah memiliki ibunya yang sangat memihaknya. Lalu Mikoto-basan pun ternyata memihak Sakura. Ditambah dengan Uchiha Sasuke...? Apa semesta benar-benar memihak Haruno Sakura? Mengapa Tuhan begini tidak adil pada dirinya? Jika semua orang pergi dari sisinya, apakah Karin akan terjatuh satu kali lagi? Pada akhirnya, ia memang akan selalu sendirian. Bukan begitu? Sejak awal ... apa arti eksistensinya di muka bumi ini?
"Kenapa harus Haruno Sakura?" Refleks Karin menyuarakan sebuah tanda tanya besar yang sangat mengganggunya.
Sebaris kalimat tanya tersebut berhasil membuat pergerakan Mikoto terhenti. Ia yang tadinya sudah hampir meraih pintu keluar kembali memutar badannya. Ia menyerang Karin dengan onyx-nya yang tajam. "Haruskah aku menjelaskannya padamu?"
Tentu saja balasan tersebut sama sekali tidak membuat Karin puas. "Maksudku, Basan baru kenal dengan Sakura bukan? Mengapa bisa semudah itu Basan memberikannya perhatian? Apa karena Sakura hamil? Memangnya—"
Uchiha Mikoto menyilangkan kedua lengan di atas dada, "—Mudah? Dengar, Karin. Semua ini sudah terlalu sulit. Aku tidak perlu menjelaskan semuanya padamu. Kenapa? Apa kau dan aku bahkan terikat akan suatu relasi?"
"Apa delapan belas tahun adalah waktu yang masih kurang untuk membangun suatu relasi denganmu, Basan?"
Sakit sekali mendengar kenyataan pahit ini secara langsung. Karena Karin sudah terlanjur melepaskan emosinya, ia membiarkan dirinya yang sudah basah untuk turun lebih dalam ke air.
Mikoto terkekeh miris. Matanya berkilat, berkaca-kaca. "Delapan belas tahun, eh?" Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, manik matanya seperti memandang jauh ke masa lalu. Ia menarik napas, "Sebelum kau mengoceh omong kosong tidak bermanfaat seperti ini, bagaimana kalau kau pelajari dulu apa yang terjadi delapan belas tahun yang lalu?"
Mikoto melangkahkan kakinya, membuat sol Prada hitamnya menghasilkan derap yang bunyinya pelan namun memenuhi ruang kamar rawat Karin. Sebelum Mikoto meraih gagang pintunya, ia menolehkan wajahnya sekali lagi pada Karin.
"Satu lagi, mau Sakura hamil atau tidak, kami akan tetap menerimanya," tuturnya lembut namun penuh dengan penekanan. Kemudian Mikoto tersenyum sangat manis sebelum kembali melemparkan bom pada Karin.
"Tentu saja, parasit yang sudah terbiasa menerima seperti dirimu tidak akan mengerti, Karin."
Blam.
Karin menerima bom tersebut mentah-mentah. Ia mematung dibuatnya oleh serangan terakhir Mikoto sebelum pergi. Dadanya terasa sangat sesak, tenggorokannya benar-benar sakit. Perempuan itu pun melolong frustrasi sendirian di dalam kamar rawatnya.
Memangnya kebenaran apa sih yang tersembunyi di balik kejadian delapan belas tahun yang lalu itu?
.
;;;;;
.
Haruno Sakura melepaskan coat yang sejak tadi menutupi wajahnya. Napasnya masih tidak beraturan pasca acara menangisnya selama satu jam lebih. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, sebelum menginspeksi area sekitar. Ya, tadi Sasuke menghentikan mobilnya dan Sakura mendengar suara pintu mobil dibuka dan ditutup pada saat ia masih menangis dan bersembunyi di balik jubah Sasuke. Ternyata laki-laki itu ke minimart, toh.
Benar saja, tak lama kemudian Uchiha Sasuke kembali bersama sekantung belanjaan. "Sudah lebih baik?" tanya Sasuke sembari mengaduk-aduk isi kantung belanjaan.
Sakura menggigit bibirnya, ia tersenyum malu-malu. "Hm," cicitnya pelan.
Laki-laki itu menyodorkan sebotol air minum, "Pertama-tama, minumlah ini. Lalu," Sasuke menggantungkan kalimatnya sejenak sebelum mengeluarkan eskrim stroberi dalam berbagai wujud; mochi ice-cream, cone ice-cream, cup ice cream dan stick ice-cream yang semuanya rasa stroberi. "Silakan pilih, mana yang kau suka?"
Sakura termangu dibuatnya. Ia terkekeh geli, "Rumahku bukan warung atau restoran. Jangan bawel dan makanlah." Ia menirukan gaya Uchiha Sasuke beberapa hari yang lalu saat Sakura sakit dan diberi bubur dan susu. Kemudian Sakura tertawa kencang. Lucu saja, waktu itu laki-laki ini protes dan sekarang dia memberikan Sakura pilihan.
Sasuke hanya menggelengkan kepalanya singkat. Ia mengambil tisu, mengelap jejak-jejak air mata yang masih bertengger manis di atas wajah Sakura. Refleks membuat perempuan itu terdiam. Ia tanpa sadar menghela napas. Dasar womanizer! Sakura 'kan masih belum terbiasa akan perlakuan Sasuke...
"Cepat pilih sebelum meleleh." Uchiha Sasuke mencairkan suasana.
"Padahal tidak perlu repot-repot begini, Sasuke-san ... aku sudah terbiasa melakukannya sendiri," balas Sakura berkontradiksi dengan tangannya yang merampas strawberry mochi ice-cream dari kantung belanjaan Sasuke.
Sasuke pun turut mengambil eskrim stick dari dalam kantung tersebut, mulai membuka bungkusnya. "Setelah menangis seperti tadi, memangnya apa yang biasanya kau lakukan?"
Perempuan itu menggigit mochi ice-cream-nya, sambil mengunyah, ia menjawab, "Hmm, makan lalu ... tidur, mungkin?"
Suara perempuan itu terdengar kurang jelas akibat terlalu banyak menangis dan sedang mengunyah. Lagi-lagi Uchiha Sasuke hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sakura yang jika didefinisikan adalah seorang lima tahun yang terjebak dalam tubuh 24 tahun.
Sakura terkikik saat teringat salah satu memori dari masa kecilnya. "Jadi teringat, dulu aku pernah terbentur tembok dan aku menangis lama sekali. Maaf, aku sangat cengeng dulu—"
"—Bukankah masih?" interupsi Sasuke sembari mengendikkan bahu dan memasang smirk tipis.
Segera saja Sakura mencebik, sebelum melanjutkan. "Lalu Tousan mengelus-elus keningku, meniup lebam di sana dan memberikan beberapa mantra aneh sebelum akhirnya mengecupnya." Ia menghela napas panjang. Matanya seolah menerawang kejadian lampau yang jauh di sana.
Ketika Sasuke bersiap-siap karena mengira Sakura akan menangis lagi, Haruno Sakura justru memamerkan deretan gigi-geliginya. Ia tersenyum sangat lebar sampai matanya yang sudah bengkak semakin menyipit. "Kau tahu, bagian lucunya adalah Tousan mengomeli dinding itu lalu ujung-ujungnya aku yang disuruh minta maaf pada tembok."
Detik berikutnya, Uchiha Sasuke merengkuh perempuan itu dalam dekapannya. Sakura merasa jantungnya bisa berhenti di momen ini juga. Wajahnya mulai terasa panas. Perutnya menggelitik aneh, ratusan kupu-kupu virtual mengepakkan sayap mereka di sana, eh? Tunggu. Sejak kapan Sakura menelan kupu-kupu?!
Sakura amat sangat berusaha tenang. Ia mendorong pelan dada laki-laki yang sedang merengkuhnya. Sayangnya, lengan Sasuke semakin kuat memeluknya.
Dengan baritonnya, ia berbisik rendah, "Kerja bagus karena sudah bertahan selama ini..." Lalu Uchiha Sasuke melepaskan pelukannya, disusul dengannya yang mengacak-acak rambut Sakura sembari menarik sedikit sudut bibir kanan atasnya.
Tatapan onyx itu kala emerald-nya
bersirobok dengan mereka sangatlah hangat. Jantungnya berdebar sangat kuat pada momen ini. Tiap dentumnya bagai menyalurkan energi listrik ratusan volt. Perutnya terasa aneh. Perasaannya campur aduk; antara terharu, senang dan sampai ingin menangis.
Apakah ia sedang jatuh cinta?
Tidak, jangan berpikir sejauh itu dulu. Sakura mendoktrin dirinya sendiri menghasilkan sebuah tekad. Ia tidak boleh membawa dirinya terbuai oleh perasaannya. Karena pondasi dari terciptanya relasi ini sangatlah rapuh. Dia bahkan bukan siapa-siapa bagi Uchiha Sasuke melainkan hanya seonggok beban berlabel tanggung jawab yang terpaksa laki-laki itu tanggung.
Sakura menggenggam tangan Sasuke yang masih mengacak-acak rambutnya.
"Terima kasih," tuturnya lirih nyaris berbisik.
Yang kemudian dibalas dengan anggukan singkat dari Uchiha Sasuke.
Setelahnya, mereka melanjutkan agenda mereka dengan menghabiskan sisa es krim stroberi yang tadi dibeli Sasuke. Sakura merasa perutnya sangat penuh. Sepertinya, ia tidak akan memakan es krim stroberi dalam waktu dekat. Sementara, Sasuke, ekspresi wajahnya sangat lucu karena dia dipaksa mengkonsumsi makanan manis dalam jumlah banyak pada satu waktu. Ini rahasia, tapi diam-diam Sakura sangat menikmati ekspresi wajah Uchiha Sasuke.
Mereka sampai ke rumah sakit satu jam kemudian. Langit sudah memamerkan gradasi oranye keunguan. Sakura hanya memamerkan gigi-geliginya saat tiba di nurse station.
"Acara kencannya sudah selesai?" Sang perawat menyambut sembari tersenyum geli. Tentu saja ia mengetahui maksud tujuan Sakura adalah mengunjungi makam ayahnya karena ingin menikah.
Lagi-lagi, Sakura hanya tersenyum lebar. "Aku sudah tak perlu diinfus lagi 'kan?"
Perawat itu menganggukkan kepalanya. "Tadi sudah kukonsultasikan ke dokter, katanya kalau kau sudah tidak demam tidak apa-apa. Untuk antibiotik nanti akan diberikan oral."
Sakura mengacungkan jempolnya. "Terima kasih banyak. Itu berarti aku bisa segera pulang 'kan?"
Perawat tersebut menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Sepertinya besok juga sudah bisa pulang. Nanti akan kukonsultasikan pada dokternya."
Sasuke yang sejak tadi ber-cosplay menjadi batu, akhirnya bergerak dan memberikan ojigi. Namun, ucapan perawat yang selanjutnya berhasil membuatnya kembali membatu.
"Uchiha-san? Tadi siang Nona Karin minta pulang paksa, ia sendiri yang menandatangani berkasnya. Apa kau sudah mengetahuinya?"
Rasa panik berhasil disembunyikan di balik topeng baja Uchiha Sasuke yang tetap tenang. Tapi refleks tubuhnya justru berkata sebaliknya. Kedua ekstremitas bawahnya langsung melangkah lebar menuju kamar rawat Karin, meninggalkan Sakura di tempat.
Anak tunggal Haruno itu terpaku di tempat. Ia terkejut, tentu saja. Kenapa tiba-tiba ... Uzumaki Karin meminta pulang? Perasaannya mulai campur aduk tak nyaman. Ia menelan saliva-nya. Dadannya mendadak terasa penuh, apalagi saat melihat Sasuke yang barusan. Sakura sendiri tidak mengerti, kenapa sepercik rasa cemburu itu menyapa hatinya?
Sakura menggeleng kuat. Ia mengembalikan rasionalitas yang mulai meninggalkan. "Tapi kondisi Karin-nee sudah baik-baik saja saat pulang tadi 'kan?"
"Nona Karin sudah cukup lama dirawat di sini. Kondisinya sudah mulai stabil tapi raut wajahnya nampak tidak baik, makanya aku khawatir," jelas perawat itu berusaha membuat Sakura tidak panik.
Sakura menganggukkan kepalanya. Ia berterimakasih sebelum akhirnya mengekor Uchiha Sasuke menuju kamar rawatnya.
Sesungguhnya, apa yang baru saja terjadi? Benar 'kan ... Haruno Sakura baru saja meresmikan statusnya sebagai villain. Tentu saja saat ini pasti Karin merasa tidak punya tempat untuk pulang. Bagaimana bisa pulang kalau rumahnya direbut tanpa peringatan?
Rumah yang menopangnya, membantu Karin bangkit, menemaninya selama delapan belas tahun terakhir. Coba bayangkan kalau seseorang merebut rumahnya begitu saja. Rasanya Haruno Sakura tak mampu untuk membayangkannya. Jika rumahnya—ibunya—hilang begitu saja ... Sakura rasa ia akan terjatuh satu kali lagi.
Haruno Sakura ... lancang sekali, bukan?
"Sasuke-san...?" panggil Sakura memecah keheningan.
Sakura mengedarkan emerald-nya dan mendapati bed tempat Karin dirawat benar-benar sudah bersih tanpa jejak.
"Maafkan aku," tutur perempuan itu pelan, sarat akan rasa bersalah yang sangat kental.
Suara Sakura terdengar sangat tipis dan retak. Uchiha Sasuke bahkan merasa bahwa ia bisa secara impulsif merengkuh perempuan itu dalam pelukannya. Padahal bungsu Uchiha itu sendiri tidak mengerti, permintaan maaf barusan atas dasar apa?
"Kurasa, akan sangat egois jika kita melanjutkan pernikahan ini. Aku tahu kalau aku baru saja memberikan harapan palsu pada keluargamu—tapi, dibandingkan aku ... Karin-nee lebih membutuhkanmu." Perempuan itu mulai menuangkan pikiran yang mengganggunya dalam kalimatnya.
Karena sesungguhnya, Haruno Sakura tak mau menyakiti Karin. Ia pernah mengalami hal berat di masa lalu. Jika ibunya, rumahnya, penopangnya tak ada di sisinya ... sudah pasti Sakura tidak seperti saat ini. Masa depannya pasti hancur dan bahkan hilang. Mengingat masa sulit itu ... jika Sakura jatuh sekali lagi, ia rasa ia tak akan mampu menanggungnya.
Maka dari itu, Sakura tak mau membiarkan Karin terjatuh mengarungi neraka yang sama untuk kedua kalinya.
Onyx Sasuke menyelami iris giok milik perempuan itu. Ia menatap Sakura lekat-lekat. Ia tahu bahwa saat ini, dirinya memiliki satu tanggung jawab yang sangat penting dan seharusnya menjadi prioritasnya saat ini. Tapi...
"Karin memang membutuhkanku, dia tanggung jawabku," Laki-laki itu memegang bahu, Sakura. "Dan kini, kau juga adalah tanggung jawabku."
Lagi.
Sakura sangat membenci ini. Ia sangat membenci Uchiha Sasuke yang seenaknya melabeli Sakura dengan cap tanggung jawab.
Perempuan itu menepis kedua tangan Sasuke di bahunya. "Aku bukan tanggung jawabmu, Sasuke-san. Aku memaafkanmu. Kulepaskan rantai tanggung jawabmu padaku. Kau bebas, Sasuke-san. Aku begini karena tidak mau semakin menyusahkanmu..."
Pelan-pelan Sakura kembali memecah hening yang sempat terjadi beberapa saat. "Mari kita bicarakan baik-baik pada keluargamu dan ibuku. Kalau kau mau, sekarang pun aku bisa melakukan pemeriksaan USG dan meminta keterangan tidak hamil. Lalu sambil membawa surat tersebut, kita perjelas semua kesalahpahaman ini. Bagaimana, Sasuke-san?"
Karena tekad Haruno Sakura sendiri pun kuat. Determinasinya bergema dalam kepala. Bahwa ia tak mau membuat Karin jatuh. Bahwa ia tak mau semakin terbawa dalam arus perasaannya pada Uchiha Sasuke. Bahwa ia tak mau menghancurkan laki-laki itu, Uchiha Sasuke.
Sebelum Haruno Sakura terbawa semakin dalam...
...masih ada waktu untuk berenang ke permukaan. Keluar dari jerat air tak berdasar ini dan melarikan diri untuk mengembalikan semuanya pada tempatnya yang seharusnya.
"Lalu bagaimana denganku, Haruno?"
Sebaris kalimat tanya tadi menghempaskan Sakura dengan kuat kembali ke dalam air tak berdasar. Menjadi tanggung jawab bagi Uchiha Sasuke memang menyakiti laki-laki itu, tapi siapa yang menyangka kalau meninggalkannya justru membuatnya hancur?
Sedikit-sedikit, Sakura bisa memahami situasi Sasuke. Posisi Haruno Sakura yang katanya tanggung jawab ternyata hanyalah sebuah kedok. Karena Sakura adalah free coupon dari Tuhan untuk melarikan diri sejenak dari jerat rantai tanggung jawab Sasuke.
Kedua sklera Sakura mulai berkaca-kaca. Perasaannya yang sejak tadi bercampur aduk semakin kacau. Ternyata tanpa sadar ia malah melukai Sasuke. Kenapa melukai orang asing yang baru ia kenal bisa memberikan impact sebesar ini padanya? Kenapa dadanya harus terasa sakit sampai ingin menangis? Dari mana datangnya keinginan untuk menjaga Uchiha Sasuke?
Uchiha Sasuke membiarkan egois mengambi alih akal sehatnya.
"Aku tidak bisa melepasmu."
Dan tentu saja deklarasi barusan tak mampu membuat Sakura lari. Karena beberapa hari setelahnya, mereka benar-benar melangsungkan pernikahan. Pernikahan sederhana yang dihadiri oleh kerabat dekat. Pernikahan sederhana, tanpa ayah Sakura dan Karin juga janjinya untuk memeluk Sakura.
Pernikahan sederhana yang nantinya akan menarik keluar yang sembunyi.
Pernikahan sederhana yang meluruskan segala tali kusut yang menjerat.
Sebuah pernikahan sederhana yang ...
sama sekali tidak sederhana.
.
.
.
.
.
tbc
.
a/n: HAIIII! *digebukmassa* Aduh dateng-dateng nge-drama enak ya HEHEHE /dibakar. Et, et maaf Mas Sasu-nya OOC tapi aku luv ;-; dia rapuh banget guys aku nggak tega :( dan akhirnya mereka nikah aku ikut seneng u,u
Sebelumnya maaf baru update lagi ;-: mulai dari chapter ini mungkin kerasa ya perubahan gaya menulisku wkwk semoga nggak aneh, ya, jatohnyaa semoga feel-nya tetap terasa dan nggak membosankan :"( mana sekarang tiba-tiba per-chapter berjudul pulaa... (akhirnya impianku nulis bikin sub-judul kesampean wkwk abis dulu ngga bisa bikin judul ;-; /rim).
Untuk chapter selanjutnya akan ku-update sekitar 2 minggu lagi ;-; aku mohon maaf hehehe soalnya buat nyeimbangin di lapak oren sebelah juga. Aku republish ini di sana juga dan baru nyampe chapter 3. Mohon bersabar, yaaa ;-;
Tentu aja aku amat sangat berterimakasih buat yang udah sabar menunggu, fave follow, review dan yang juga neror aku lewat mana pun. Makasih banyak pokoknyaa! Yang sudah mampir di chapter ini juga, makasih pokoknyaa ;-;
Semoga kaliansemua sehat-sehat selaluuu m(_)m
