Pada akhirnya, pernikahan mereka benar-benar terjadi secara ajaib. Upacara pernikahan sederhana itu dihadiri oleh kerabat dekat dan teman terdekat saja. Acara ini benar-benar dilangsungkan di tempat rekomendasi teman Mikoto kemarin. Untungnya, meskipun penyewaan dilakukan sangat dadakan tapi mereka berhasil mendapatkannya. Well, karena ternyata sang pemilik hotel adalah menantu temannya Mikoto.

Satu-satunya orang yang nyaris merobohkan kue pernikahan adalah Yamanaka Ino. Teman dekat Sakura yang satu itu mengamuk karena temannya yang jomblo tiba-tiba saja menikah tanpa tanpa aba-aba. Selama acara, Sakura rasa Sakura nyaris gundul karena Ino terus-menerus menatapnya tajam.

Maafkan Sakura, Ino. Sesungguhnya Sakura juga tidak menyangka bahwa pernikahan ini benar-benar terjadi. Mungkin kalau waktunya sudah tepat, Sakura akan menceritakan kronologis pernikahannya yang sangat konyol itu nanti.

Teman Uchiha Sasuke yang datang adalah Uzumaki Naruto yang ternyata kerabat jauhnya Karin. Laki-laki blonde yang dari awal datang menertawakan Uchiha Sasuke terus sama sekali tidak mengetahui keberadaan Karin saat ditanya oleh Sasuke.

Kemudian, Haruno Mebuki. Selama upacara berlangsung, ibunya tak banyak berbicara. Meski begitu, orang yang melahirkan Sakura itu terus-terusan menangis deras. Sakura memeluk erat ibunya, sementara Mebuki yang suaranya bindeng, berucap. "Semoga kau bahagia, Nak. Kaasan yakin, Tousan pasti sedang tersenyum turut mendoakanmu dari atas sana."

Karena Sakura tak mau menghancurkan riasannya, ia pun menahan mati-matian air matanya. Sementara, Uchiha Sasuke terus-terusan mengelus punggung Sakura. Apa laki-laki itu tidak tahu ya kalau yang Sasuke lakukan itu hanya akan semakin membuat Sakura menangis?

Di satu meja yang sama, seberang tempat duduk Mebuki, Uchiha Mikoto dan Uchiha Fugaku pun terlihat menahan tangis mereka. Sst, ini rahasia tapi Sakura menyaksikan effort keras ayah mertuanya menggigit bibir bawahnya sambil mengalihkan pandangannya dari Sakura dan Sasuke. Apalagi pada saat Fugaku menggandeng lengan Sakura untuk mengantarnya sampai altar. Kedua mata Fugaku melotot sambil berkaca-kaca menahan tangis—meskipun outcome-nya terlihat menyeramkan sih. Ayah mertuanya itu menampakkan ekspresi antara menahan mulas dan kerasukan. Meskipun begitu, berkat ayah mertuanya Sakura berhasil tidak menangis saat berjalan menuju altar, lho.

Lalu ibu mertuanya? Uchiha Mikoto, masih dengan tatapan sendunya menyambut Sakura ke dalam keluarga Uchiha. Ia juga meminta maaf mewakilkan Uchiha Itachi. Ternyata Sasuke itu anak bungsu dan memiliki seorang kakak, toh. Karena acara pernikahan mereka terbilang sangat tiba-tiba, Uchiha Itachi tak bisa menyesuaikan jadwalnya untuk hadir.

Sebentar. Apa kalian penasaran bagaimana Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura menghadapi ritual wajib setelah resmi dinobatkan sebagai suami istri dengan ciuman di bibir? Sayangnya, tidak ada yang istimewa dari ciuman mereka. Hanya kecupan ringan dengan nilai awkward nyaris maksimal. Bahkan Sakura sampai ingin menggali gyrus otaknya untuk menciptakan lubang dan mengubur memori itu di sana dalam-dalam.

Well, kurang lebih begitulah garis besar agenda pernikahan sederhana Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke hari ini.


Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')

Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)

Rate T semi M untuk bahasa dan beberapa pembahasan(?)

.


.

Responsible

6. First Day With The Uchihas

.


"Biar aku yang tidur di sofa, Sasuke-kun." Sakura mengambil inisiatif, mengajukan diri untuk tidur di sofa depan kamar mandi kamar Sasuke.

Sementara Uchiha Sasuke nampak mengeluarkan sebuah bed cover dan bantal fluffy dari dalam lemarinya. Kedua tangannya memeluk atribut untuk tidur itu dengan erat. "Tidak," sanggahnya dengan tegas.

Tapi Haruno Sakura juga tidak menerima kata kalah. Menyaingi flash, ia menyambar bantal yang berada di kasur Sasuke kemudian ia segera memosisikan dirinya di atas sofa. "Aku tidur duluan. Selamat malam, Sasuke-kun," ocehnya cuek sembari memejamkan matanya erat-erat.

Oh, tentu saja tidak semudah itu, Sakura.

Uchiha Sasuke meletakkan bantalnya di atas kasur. Ia melebarkan selimut yang baru saja ia bawa dari lemarinya. Tanpa ekspresi, Sasuke menutupi seluruh tubuh Sakura dengan selimut lalu membungkusnya dengan bed cover tersebut.

Sakura masih terkejut dan Sasuke memanfaatkan momen tersebut untuk membopongnya seperti karung beras di atas bahunya. Tanpa menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, Sasuke melempar Sakura ke kasurnya—seperti atlet gulat yang membanting lawannya di atas ring.

Sakura membuka bed cover yang membungkus tubuhnya tadi. "Jadi begini caramu memperlakukan istrimu di malam pertama?!"

Laki-laki yang secara ajaib resmi menjadi suaminya tadi pagi hanya mengendikkan bahu cuek sembari berbaring di atas sofa. Momen di mana Sasuke memamerkan smirk tampannya, perasaan Sakura mendadak tidak enak.

"Jadi, kau ingin aku memperlakukanmu sebagai istri di malam pertama?"

Begitu dinamit dilempar, wajah Sakura langsung memerah menyaingi kepiting rebus. Organ vitalnya melakukan senam jantung dengan sangat semangat membuat hawa di sekitar terasa lebih panas.

Sakura segera menyembunyikan diri di balik selimut. "Selamat tidur!"

Yang tidak Uchiha Sakura ketahui adalah fakta di mana detik ini Uchiha Sasuke mati-matian menahan pride Uchiha-nya agar tawanya tidak meledak. Fakta di mana detik ini Uchiha Sasuke menikmati perubahan air wajah Sakura yang sangat menghibur.

Untuk malam ini, boleh 'kan Uchiha Sasuke melupakan sejenak tanggung jawabnya?

Membungkus tubuh dengan selimut tatkala hawa di sekitar mengalami kenaikan suhu bukanlah solusi yang bagus. Sakura merasa bahwa ia harus mendinginkan kepalanya. Hampir setengah jam ia memejamkan mata tapi tubuhnya menolak untuk tidur. Menghitung domba juga sudah ia lakukan sampai hampir seribu tapi ia masih belum bisa terlelap.

Sakura menyibakkan bed cover dengan gusar. Ia melirik ke arah kanan dan mendapati suaminya sudah terlelap. Sakura bangkit dengan hati-hati, ia melangkahkan kedua kakinya perlahan. Seberusaha mungkin, ia meminimalisir menciptakan suara agar suaminya tidak terbangun.

Setelah menutup pintu kamar dengan hati-hati, perempuan itu melarikan diri ke dapur. Tidak, saat ini Sakura tidak merasa lapar. Hanya saja, ia menemukan jawaban kenapa ia tak bisa tidur.

Susu cokelat.

Tentu saja karena Uchiha Sakura belum minum susu cokelat dingin malam ini. Meskipun pernah ke sini tapi Sakura benar-benar buta soal kediaman Uchiha. Sakura bukanlah manusia super yang hanya dengan sekali lihat mampu mengingat mendetail. Waktu itu 'kan Sakura ke sini hanya untuk makan bubur dan mengobati kakinya—ujung-ujungnya ia malah tak sadarkan diri pula.

Perempuan yang memakai piyama nyaman berbahan satin itu berusaha membuka pintu demi pintu lemari dapur. Tahap pertama sukses. Ia sudah menemukan gelas tapi masalahnya, di mana Sakura bisa menemukan bubuk susu cokelat? Atau bubuk cocoa juga tidak apa-apa deh! Ia akan tahu diri dan berusaha tidak pilih-pilih untuk saat ini.

Sakura berjinjit, meraih pintu lemari dapur yang letaknya agak tinggi. Sedikit lagi dan ia akan berhasil menyentuh gagang pintunya.

"Mencari apa, Sakura?"

Suara ibu mertuanya membuat Sakura hampir melompat karena terkejut. Perempuan itu kembali menggunakan senjata andalan. Jurus pamer gigi-geligi, senyum lima jari. "Maaf Basan, mungkin ini terdengar sangat kekanakan—tapi, apakah Basan punya susu cokelat bubuk? Atau cocoa powder? Susu cokelat kalengan juga tidak apa-apa, Basan!"

Mikoto mengulum senyum geli. "Aku punya tapi karena kau memanggilku Basan, aku jadi mengurungkan niatku untuk memberikannya." Wanita itu menyilangkan tangan di atas dada.

Hal tersebut membuat Sakura panik seketika. "Kaasan! Maaf, Kaasan!"

Ibu mertuanya itu mengambil gelas kaca yang Sakura pegang. Ia membuka pintu lemari dapur dekat kulkas. Tentu saja Sakura benar-benar menandai tempat itu demi kesejahteraan tidurnya kelak.

Mikoto menyendokkan bubuk susu cokelat ke dalam gelas. Ia bertanya, "Kenapa tiba-tiba ingin susu cokelat, Sakura? Atau ngidam?" Ibu mertuanya tersenyum tipis tapi kilatan sendu belum mau meninggalkan iris onyx miliknya.

Nyaris saja Sakura tersedak saliva-nya sendiri. Ia lupa kalau keluarga Uchiha mengiranya sedang mengandung!

"Bukan, Kaasan. Ini hanya kebiasaanku sejak kecil. Karena Tousan-ku tidak pernah absen membuatkanku susu cokelat dingin sebelum tidur makanya ... tanpa itu aku tak bisa tidur."

Jawaban Sakura berhasil membuat Mikoto menghentikan pergerakannya. Membahas ayah perempuan itu membuat ngilu itu menggeliat dalam hati. Membuat bersalah itu beraksi, semakin menekan vertebra wanita itu.

Sakura hendak bertanya pada ibu mertuanya apakah beliau sakit tapi niatnya kalah cepat oleh pergerakan Mikoto. Wanita itu menjulurkan segelas susu cokelat dingin ke arah Sakura.

Uchiha dan kilatan sendu memang belum mau berpisah rupanya. Kenapa semua Uchiha yang ia kenal selalu datang dengan sendu sarat akan rasa bersalah yang kental? Sesungguhnya ... apa yang dialami oleh keluarga ini?

Meskipun Uchiha Mikoto mengulaskan senyum tapi topengnya tetap tercipta dengan defek. Karena matanya menolak topengnya untuk ikut tersenyum sampai Sakura tidak bisa tertipu.

Sakura menerima gelas kaca tersebut. Kenapa menerima susu cokelat rasanya seberat ini...?

Mikoto mendekatkan dirinya pada Sakura, merengkuh perempuan itu dalam pelukan erat. "Maafkan keegoisanku, Sakura. Kutitipkan anakku, Sasuke padamu," bisiknya rendah dengan napas yang amat sangat berat. "Sekali lagi, aku minta maaf," lanjutnya lirih dengan suara yang pecah.

Meski jutaan tanda tanya bergelantungan di gyrus otak Sakura sampai turut mengganggu neuron-neuron-nya, pada akhirnya Sakura sendiri tak mampu berbuat banyak. Ia hanya mampu membalas pelukan ibu mertuanya dengan satu tangannya, membiarkan ibu mertuanya menyalurkan kegundahan dan perih hatinya.

Uchiha Sakura kembali ke kamar tidurnya setelah berbagi rasa dengan ibu mertuanya, menghabiskan susu cokelat dan tenggelam dalam pikirannya. Atensinya segera terfokus pada sosok Uchiha Sasuke yang terlelap di sofa.

Pelan-pelan ia meghampiri suaminya. Ia duduk di lantai beralaskan karpet dekat sofa. Ia memandangi lekat-lekat sosok suaminya. Kedua alisnya sedikit berkerut dan tanpa sadar Sakura pun ikut mengerutkan alisnya. Sakura mengacungkan telunjuknya, menyentuh alis Sasuke yang berkerut seolah telunjuknya memiliki abilitas untuk mengembalikan ekspresi suaminya itu.

Dirapatkannya bed cover yang membungkus tubuh suaminya. Sakura menopang dagunya dengan telapak tangan di sofa. Apakah tanpa Sakura ketahui, sesungguhnya Uchiha Sasuke sedang terjebak dalam neraka yang sama seperti Sakura lalui dulu? Sesungguhnya, beban apa menggantung di setiap sentimeter raganya?

Sudah berapa lama ia menanggungnya?

Kenapa laki-laki itu terus-terusan menyalahkan dirinya dan mengaitkan segala hal dengan tanggung jawab?

Sakura mengelus kepala Uchiha Sasuke dengan sangat hati-hati. Ia berbisik pelan di telinga laki-laki itu. "Semoga kau bisa segera melupakan semuanya dan terus berbahagia." Sebelum akhirnya perempuan itu ikut terlelap dalam posisi terduduk dengan tangan yang menumpu kepala di atas sofa dekat badan Uchiha Sasuke.

.

;;;;;

.

Pagi ini adalah sarapan pertamanya dengan keluarga Uchiha. Mikoto nampak sibuk mengisi lembaran roti panggang dengan telur mata sapi. Khusus untuk Sasuke, diberikan ekstra irisan tomat. Sementara Fugaku nampak menikmati kopi sembari membaca tabloid gosip di meja makan.

Sasuke mengurut pangkal hidungnya, wajahnya terlihat suntuk. Meskipun tadi malam tidurnya cukup tapi begitu bangun, realita menyambut dan menampar telak. Kepalanya seketika terasa seperti disumpal kenyataan bahwa Karin menghilang dan Uchiha Sasuke harus bertanggungjawab atas itu.

"Ck. Kau bagaimana sih, Sasu-chan. Habis enak malah kusut begitu. Kau bisa melukai perasaan istrimu lho."

Karena sudah kebal, Sasuke tak mengindahkan ucapan ibunya. "Hn."

Yang segera disambut Fugaku dengan pukulan manja tabloid gosip di kepala Sasuke.

Laki-laki itu hanya mengusap ringan kepalanya. Pokoknya yang harus ia lakukan saat ini adalah ke rumah sakit tempat Karin bekerja dan mencari keberadaan perempuan itu. Biar bagaimanapun juga ... Karin adalah tanggung jawabnya. Jutaan kali Sasuke ingin melepaskan Karin tapi kalau mengingat pesan ayah perempuan itu dulu...

Karin adalah prioritas tanggung jawabnya nomor satu dan Sasuke tidak boleh lepas tangan. Ingat. Karena satu nyawa telah ia, Uchiha Sasuke, renggut.

"Sasuke-kun. Apa kopi buatanku terlalu manis?"

Pertanyaan Sakura barusan berhasil membuat Sasuke menarik diri dari jurang pikirannya. Ia menggeleng singkat tanpa bersuara.

Sakura belum menyerah. "Atau kau sedang tidak enak badan mungkin? Mau kuantar ke kantor?"

"Aku tidak apa-apa." Sasuke membangkitkan badannya, mengambil tas kerja. "Kalau sedang hamil muda di rumah saja, jangan gatel."

Sakura melotot galak. Sial, lagi-lagi ia kalah dibuatnya.

Kemudian, Uchiha Sasuke berpamitan ke kantor. Setelah itu, Sakura membantu Mikoto untuk merapihkan meja makan. Baru saja mengangkat satu piring bekas makan, ibu mertuanya langsung bernyanyi.

"Tidak, tidak. Kau tidak perlu repot, Sakura. Orang hamil jangan terlalu lelah, lebih baik istirahat saja, oke?" ucap Mikoto sembari mengedipkan sebelah matanya.

Sekarang Sakura semakin merasa bersalah. Sakura mengakui, dia memang sedang hamil sih. Hamil makanan dan timbunan lemak, tapi. Kalau begitu Sakura tidak boleh membiarkan kondisi ini terus berlanjut. Setidaknya, ia harus mengatur timing dan berdiskusi dengan Sasuke soal klarifikasi berita kehamilannya agar keluarga mereka tidak semakin berharap.

Dengan bahu yang jatuh karena tiba-tiba merasa murung, Sakura pun memutuskan untuk duduk di sebelah ayah mertuanya. Fugaku tidak memberi respons karena kedua matanya setia memaku di layar kaca. Karena ayah mertuanya fokus, mau tak mau Sakura terpaksa ikut menyimak tontonan ayah mertuanya.

Kedua alisnya mengerut dalam. Jadi sinetron ini berkisah tentang seorang yang jago masak dan memiliki suami tapi bercerai karena kehadiran orang ketiga. Pemeran utama wanita itu diusir dari rumah dan akhirnya meniti usahanya di bidang makanan lalu bertemu dengan laki-laki lain yang sangat baik. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Tapi orang yang sebelumnya menghancurkan rumah tangga pemeran utama itu datang lagi dan berniat menjadi orang ketiga dalam hubungan baru si pemeran utama. Suami baru pemeran utama sangat garry stu dan kaya juga sangat mencintai istrinya sehingga orang ketiga tidak mempan menyelinap di antara mereka berdua. Tapi sayangnya, petaka lain datang. Suami istri itu mengalami kecelakaan mobil, si pemeran utama hilang dan suaminya hilang ingatan. Orang ketiga tadi mengaku-ngaku sebagai istri dari suami pemeran utama tadi.

Sakura mengernyit dalam. Mulutnya melongo tidak elit. "Sampah sekali sinetron ini..." celetuknya sinis tanpa sadar.

Fugaku melirik tajam ke arah Sakura. Ayah mertuanya nampak tidak setuju. Wajahnya terlihat lebih seram dari biasanya. Fugaku memandangi menantunya selama beberapa saat sebelum membangkitkan badannya dari sofa ruang tengah.

Sakura menggigit bibirnya. Ia memukul-mukul mulutnya yang lancang. Astaga, baru juga dua hari jadi menantu kenapa dia sudah membuat masalah? Sudah bagus ia diterima sebagai menantu orang—jalur salah paham—jangan sampai dia diusir dari sini! Aduh, bagaimana ini? Apa nasibnya harus sama seperti lead female di sinetron tadi?!

Hampir lima belas menit, Uchiha Sakura menunduk sambil sesekali mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia harus minta maaf pada ayah mertuanya! Aduh punya mulut kenapa barbar sih.

Ting.

Suara piring yang diletakkan di atas meja kaca membuat Sakura mendongakkan kepalanya. Jalur visualnya disambut oleh irisan apel yang dibentuk kelinci unyu plus Uchiha Fugaku yang kembali duduk di sampingnya.

"Menonton tanpa camilan, pasti akan hambar rasanya."

Sakura terdiam dibuatnya. Ia merasa bahwa air matanya bisa jebol kapan saja. Seorang ayah baru saja memberikan perhatian padanya dan perempuan itu benar-benar tersentuh meskipun ini sangat sepele. Sakura menahan air matanya. Sebal juga kenapa Tuhan menciptakannya sebagai manusia dengan duktus lakrimalis mudah bocor sehingga ia gampang sekali menangis.

"Kau tidak suka apel? Atau mungkin alergi? Mau buah yang lain?" Fugaku, meski dengan pembawaan tegasnya ia terus-terusan memberikan perhatiannya.

Sakura menggelengkan kepalanya secara repetitif. Ia segera melahap sebuah bunny apple-nya dengan cepat. "Aku sangat menyukai apel. Terima kasih banyak, Tousan," ucapnya sembari mengulum senyum.

Siang itu, Uchiha Fugaku kembali melanjutkan acara nonton sinetron bersama dengan menantunya sampai sore.

.

;;;;;

.

Uchiha Sasuke benar-benar mengalami buntu. Tadi ia baru dari rumah sakit tempat Karin kerja dan mereka bilang bahwa Karin telah mengundurkan diri sejak dua hari yang lalu. Sasuke juga sudah mendatangi rumah Karin tapi begitu bel dibunyikan, tak ada jawaban dari dalam sana. Laki-laki itu sudah berusaha melakukan segala upaya yang dapat ia lakukan untuk menemukan Karin tapi hasilnya masih nihil.

Sesungguhnya, ke mana Karin pergi? Apa yang membuat perempuan itu menghilang begitu saja? Pasti ada yang memicu Karin sampai melarikan diri seperti ini. Apa ini karena Sasuke menikah? Rasanya hal tersebut sangat sepele untuk dijadikan alasan. Tidak ada yang tahu sih, karena kemarin Karin pun ketakutan saat mendengar bahwa Sasuke akan menikah.

Tapi tetap saja ada yang terasa janggal. Sesunggunya, apa yang terjadi pada saat ia dan Sakura berkunjung ke makam ayah Sakura waktu itu? Apa yang Karin dengar atau siapa yang Karin temui sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang paksa?

Yang lebih penting. Apa yang harus Sasuke lakukan saat ini?

Bukankah terlepas dari tanggung jawabnya adalah hal yang paling Sasuke inginkan sejak lama? Apakah Tuhan memberikannya momen untuk melepaskan rantai tanggung jawabnya sekarang...? Apakah hal ini benar untuk dilakukan?

Bolehkah ia...?

.

.

.

.

.

tbc

.

25/08/2020

.


a/n: Halo x) kembali lagi di chapter 6 hehe. Sasuke pusing, aku juga semakin pusing /gimana. Untuk yang review kemarin sudah kuketuk PM-nya, ya! (gila anak twt bgt gatuh xD) Ih aku teh btw rajin bales review lewat PM (situs) kalo lagi agak luang. Tapi mungkin kalian ngga sadar kubales gapapa :"))

Okayy. Semoga chapter ini tidak membosankan dan bisa menghibur. Terima kasih bagi yang sudah mampir, semoga sehat-sehat selalu dan semoga hari kalian menyenangkan! X)

.


Balasan review buat yang nggak login:

islamadina: HAIII! HAHAHA ya ampun makasih banyak di sini juga dimampiriiiin T_T maaf aku belum sempat balas-balasin komentar di sebelah ;-; hihihi senengnyaaa akhirnya mulai keliatan ya, alurnyaa. Tetep ditunggu yaa supaya makin paham xixixi (halah). Anw, makasih banyak udah mampiiir! Semoga sehat-sehat selalu, yaa! :)

Gitazahra:Haloo! x) Sebelumnya makasih banyak udah dimampirin juga di sinii ;-; aku langsung cek di dua situs pas kamu kasih tau. Asli aku belum nemu mana yang hilang T_T aku cek dan samain-soalnya samaa. Nanti kucoba cek lagi. Terima kasih banyak udah dikasih tauu. Maafkan human error ini u,u Pokoknya terima kasih banyak udah mampir, yaa! Semoga sehat-sehat teruuuus :)

Buat yang login cek PM-aku bales di situs hehehe xD

.

Special thanks untuk reviewers chapter 5: Nemurehana , IndahDwiNR , Jkl , ft-fairytail , reevrsh , keyfava , adora13, oshpusky , nurvieee96 , Arisa Ezakiya , sitilafifah989 , Soerum Regal , islamadina, Gitazahra