Disclaimer dan warning: Chek chapter sebelah!

Aku membuat SasuNaru Challenge, cek di profilku ya!


Hokage menghindari shuriken-shuriken yang dilempar ke arahnya dan menghentikan beberapa dengan shuriken juga. Hashirama memperhatikan Sasuke melempari shuriken tanpa niatan berhenti dari segel senjata di kedua pergelangan tangan meski satu tangan memeluk Naruto dengan protektif sementara yang lain melempar shuriken. Naruto yang menyadari hal tersebut berteriak padanya, "SASUKE BERHENTI!"

Membeku.

Sasuke melihat ke sumber suara di pelukannya dan tampak sedikit terpana seolah baru sadar Pirang Uzumaki di sana. "Naruto?" Matanya kembali ke warna hitam sebelum melihat seseorang berdiri di pintu masuk. "Shodaime...?"

"Ya, ini kami, lepaskan aku," pinta Naruto merengut. Sasuke melepasnya dan tanpa sadar menutupi ketelanjangan Naruto dengan salah satu pakaian kimono pendek, pakaian mereka yang berserakan di sekitar. Hashirama melihat itu. Sasuke dan Naruto kaget sendiri dengan sikap Uchiha muda barusan, bahkan bingung. Sasuke mengambil celana terdekat dan memakainya. Hashirama memilih tidak bijaksana jika ia berkomentar tentang sikap Sasuke yang terlalu protektif ataupun bau sperma semerbak di seluruh ruangan yang kentara sekali sehingga dia diam saja. Ia hanya bertanya, "Kelihatannya tidak ada telinga rubah atau sembilan ekor lagi dan suhu tubuhmu terlihat normal, bisa kuasumsikan siklusmu sudah berakhir, Naruto?"

"Hah?" Putra Yondaime Hokage berkedip beberapa kali sebelum menyentuh kepala dan bagian belakang tubuhnya untuk mengkonfirmasi observasi Hashirama adalah benar. "Kayaknya iya... aku tidak merasa badanku terbakar dari dalam seperti kemarin-kemarin... tapi... sekitar pantatku..." dia meringis kesakitan.

"Coba kuperiksa," Hashirama prihatin, dia mendekat ke Naruto untuk mencoba lihat, "Sakitnya seperti apa? Perih ata—" namun terhenti sebab Sasuke yang hanya memakai celana berdesis bagaikan ular sedang marah memperingati musuh seraya memeluk Pirang Uzumaki kembali. Niatnya terbaca jelas. Sasuke jelas tidak suka seseorang mendekati miliknya. Naruto yang tubuh bagian depannya tertutupi atasan kimono pendek, tersipu. "Hei, hei, Sasuke? Kenapa denganmu?" Pipi Naruto memerah tapi juga heran.

"Jangan mendekat lagi, Shodaime," nada mengancam kentara sekali. Tidak ada ampun. Berbeda nada dengan dimana Sasuke salah paham tentang pelecehan seksual kala mereka mencari bijuu bulan lalu. Hashirama yang sudah lama kenal Klan Uchiha tahu untuk tidak meremehkan nada tersebut. Keprotektifan Klan Uchiha terhadap orang tersayang mereka sangat terkenal, maka ia mengangguk sambil mengangkat kedua tangan sebagai tanda dia tak bermaksud buruk. Pirang Uzumaki terkejut bahwa Sasuke berniat serius melukai Hashirama. Dia tahu nada itu karena dia memperhatikan Sasuke sejak mereka kecil. Tak hanya itu, dia bisa merasakan rasa protektif Sasuke padanya dan Naruto merasa senang bercampur kaget. Seolah ada koneksi langsung antara hati mereka dan mereka mampu saling merasakan satu sama lain.

Naruto merasa tenggelam dalam luapan perasaan yang diterima.

Semua perasaan Sasuke bisa dirasakannya dan membuatnya merah padam. Sasuke tak mau siapapun menyentuh Naruto. Jangankan sentuh, melirik ke Pirang Uzumaki pun tak boleh. Terlebih dengan kondisi minim pakaian menutupi. Sasuke yakin Naruto adalah miliknya. Untuk dilindungi. Untuk disayangi. Untuk dicintai. Yah, Naruto tahu Sasuke mencintainya tapi tidak sampai sedalam ini! Ia bagaikan dibanjiri cinta tak terbatas yang selama ini ditutupi Sasuke. Tanpa sadar, dia tersenyum hangat sebelum mencium manja dan menggesekkan pipinya yang bersemu merah ke pipi Sasuke.

Berkedip, Sasuke menahan nafas.

Seperti baru saja tersadar dari kondisi mencekam yang tak dimengerti sama sekali. Namun, afeksi Naruto mengembalikannya lagi ke realita. Pandangannya kentara melembut dan menatap safir kembar Naruto dengan penuh cinta. Dia merasakan betapa bahagia Naruto saat ini dan hal tersebut menenangkannya. Kebahagiaan mate-nya. Sasuke mencium kening Naruto dengan penuh perasaan

"Ahem."

Hashirama pura-pura batuk sebagai pengingat pada kedua remaja bahwa dia masih ada.

Secara refleks, keduanya menjauhkan wajah meski masih dalam posisi sama seolah memang telah melupakan keberadaan Hokage tersebut. Mereka merasa malu, terlihat dari muka yang merah padam menoleh ke Hashirama yang tersenyum. "Hei, abaikan saja. Aku sangat mengerti kalian masa bulan madu. Yah, musim kawin lebih tepatnya," canda Hokage. "Aku senang semuanya aman. Selain, 'momen' Sasuke tadi."

Sasuke memalingkan wajah, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, rasanya seperti—"

"—insting," Hashirama melengkapi. "Itu wajar, Sasuke. Jangan cemas. Setelah kalian berdua bersetubuh, kau akan punya protektif berlebih untuk sementara waktu. Karena kalian adalah mate sekarang. Resmi."

Naruto bingung, "Dari mana Kakek tahu?"

"Apa ini termasuk di gulungan Okuninushi juga?" Tanya Sasuke.

"Tidak. Bijuu tak pernah punya mate, kecuali Kyuubi. Yang kubilang barusan dari pengetahuan umum biasa. Yang dominan akan melindungi submisif, itu alami," jelas Hashirama.

Sasuke penasaran, "Berapa lama ini akan berlangsung padaku?"

"Aku tidak tahu pasti karena Naruto adalah jinchuriki dan bukan sepenuhnya bijuu. Cuma waktu bisa menjawab."

"Apa kau tahu berapa kali Naruto akan mengalami siklus seperti kemarin?"

"Aku tanya Kyuubi Masa Lalu soal itu sebab hanya dia dan Susanoo yang punya pengalaman. Ternyata, mereka tidak bersama dalam waktu lama. Maksudku, mereka tidak hidup bersama seperti kalian jadi siklus birahi Kyuubi terpicu kalau mereka bertemu. Kita tidak bisa mengacu pada kebiasaan musim kawin rubah pada umumnya karena Naruto tetap manusia. Siklus Kyuubi dan Naruto berbeda. Kyuubi 7 hari sementara Naruto hanya 3 hari."

Sasuke terdiam berpikir tapi ia tahu Hashirama benar. Setelah hening lama, Hashirama mengambil konklusi, "Aku sangat senang kalian baik-baik saja. Karena aku tak bisa menyentuh atau memeriksa kalian sekarang, bisakah aku dan Madara kembali ke Konoha duluan? Kurasa kalian mau punya waktu berdua saja, bukan?"

Sasuke mengangguk. Naruto mengedarkan pandangan, "Mana Madara?"

Hashirama tersenyum agak dipaksakan, "Dia kelelahan dan sekarang tidur di ekor Kyuubi. Yang Masa Lalu, maksudku. Begitu dia tak merasakan Susanoo Ungu lagi, dia menghilangkan Susanoo miliknya dan tertidur 3 jam lalu."

"Kyuubi Masa Lalu di sini?" Tanya Sasuke. Naruto khawatir, "Apa Madara tak apa-apa? Bayinya bagaimana?"

"Mereka baik-baik saja, Naruto," Hashirama menenangkan Pirang Uzumaki. "Kyuubi merasakan cakra Naruto kacau dan datang tiga hari lalu. Dia tinggal bersama kami membantu Madara dari kelelahan selama kalian di dalam sini. Dia hanya butuh istirahat karena menggunakan banyak cakra untuk waktu lama saat sedang hamil."

Naruto bermuka sedih, "Maaf... jika aku..."

"Tidak, Naruto, ini memang akan terjadi, jelas bukan salahmu. Lagipula, hei, kita memiliki jiwa yang sama jadi sama saja seperti menolong diri sendiri. Tak ada yang rugi," Hashirama berkata lembut. "Tapi..."

Jeda di antara mereka mengambil perhatian kedua remaja. Hashirama melanjutkan dengan nada diplomatis tapi Sasuke dan Naruto bisa mendeteksi permohonan dan khawatir dibalik kata-kata, "... Aku dengar dari Tobirama, jurusnya sudah selesai... bisakah kalian menunggu sampai Madara melahirkan sebelum kita coba?"

Sasuke dan Naruto terbelalak.

"Aku tahu kalian mau pulang ke masa depan secepatnya tapi bahaya bagi Madara untuk menggunakan cakra selama kehamilan. Aku belajar dari kejadian ini. Kupikir cakra Madara spesial, bisa melewati ini tapi aku salah..." Hashirama menghela nafas.

Sasuke dan Naruto bertukar pandang. Para reinkarnasi mungkin dari generasi berbeda tapi asal muasal jiwa mereka adalah sama. Anak dari Pendiri Konoha terasa seperti anak mereka sendiri di satu sisi jadi mereka pun tak ingin ada kejadian buruk menimpa janin tersebut. Terutama, jika mereka alasannya. Pirang Uzumaki mengangguk. Sasuke menegaskan, "Kami akan tunggu."

Hashirama sumringah, "Terima kasih! Silakan menikmati waktu berdua. Hati-hati dalam perjalanan ke Konoha nanti."

"Kami bukan anak kecil lagi," Sasuke merengut.

"Jelas bukan," Hashirama melirik ke tanda-tanda merah bekas ciuman di seluruh tubuh Naruto. Wajah kedua remaja memerah lagi. Sasuke berdesis. Hashirama tertawa, "Tobirama datang kemarin dan kami membuat onsen darurat diluar rumah ini jadi kalian bebas menggunakannya kalau mau. Izuna mengirimi kalian bento melalui Tobirama tadi pagi. Kalian bisa makan dulu sebelum kembali ke Konoha biar ada tenaga." Dia berbalik dari keluar. Saat hendak menutup pintu, reinkarnasi muda bertanya.

"Buat onsen?"

Hashirama nyengir, "Aku membuat bak besar dengan Mokuton, lalu Tobirama mengisinya dengan Suiton. Terakhir, Madara menggunakan Katon supaya airnya panas dan siap sebagai onsen." Lalu, ia pergi. Naruto merasakan cakra Hokage, Madara dan Kyuubi menjauh.

"Mereka sudah pergi," kata Naruto.

Sasuke menghela nafas lega.

Desakan tak terkatakan untuk melidungi Naruto... sebenarnya sudah ada sejak mereka masih kecil. Sasuke tidak sadar dia sudah melakukannya berulang kali. Bukan karena Naruto lemah, hei, Naruto merupakan jinchuriki. Dia bisa menghancurkan desa kalau dia mau. Tapi... setelah kejadian tiga hari berturut selesai, dia . enjadisepulih kali lipat lebih protektif. Sesuatu yang dipikirnya tak akan terjadi. Naruto merasakan lega dari Sasuke dan menaikkan satu alis dengan bingung. Dia tak mengerti apa yang terjadi ada Sasuke tapi merasakan mate-nya tenang, Naruto tersenyum. Sasuke merasa terekspos melalui ikatan batin mereka dan mencoba menutupi rasa malu dengan, "Ayo, mandi."

Naruto nyegir, "Ayo!"

Namun, ketika Naruto mencoba berdiri, ia menjerit kesakitan lagi. "Perih! Kenapa pantatku sakit sekali sih?" Air matanya jatuh tak terkontrol. Sasuke terkejut, "Kyuubi belum menyembuhkanmu?" dan ia mengangkat Pirang Uzumaki dengan kedua tangannya perlahan sebelum melangkah keluar rumah. Uchiha muda pikir semua bekas dari kegiatan intim mereka sudah hilang sekarang. Dia tahu taraf penyembuhan dari Kyuubi. Satu waktu, dia menusuk Naruto di Lembah Terakhir dan lubang akibat tusukannya menutup dalam hitungan detik. Berdasarkan itu, seharusnya efek dari bersenggama selama 3 hari berturut dan tanda-tanda lainnya akan mudah disembuhkan Kyuubi.

"Energiku sudah kembali dan bisa bergerak tapi rasa perih dan panas di pantatku tidak berubah sama sekali," keluh Naruto.

Sasuke mengerutkan alis.

Begitu mereka keluar, mereka melihat bak kayu besar dan tercengang. Tak mereka kira akan sebesar ini. 20-30 orang mungkin muat beredam bersamaan di bak ini. Sasuke meminta Naruto melepas pakaian mereka. Tanpa memalingkan pandangan dari onsen buatan di alam, ia melepas kain di badannya dan celana Sasuke. Sebelum ia sadar, mereka sudah telanjang lagi dan Sasuke masuk ke dalam air panas.

"Tu-tunggu, Sasu—!" Ia tersipu malu.

Sasuke duduk dengan Naruto di pangkuannya, "Apa? Kau bilang pantatmu sakit waktu duduk di lantai kayu?"

"Emang, tapi! Tapi!" Safir kembar melebar dan muka memerah kala kulitnya bersentuhan langung dengan milik Sasuke yang setengah mengeras. Sasuke merasakannya juga dan ada rona merah muda tipis di kedua pipinya.

"Apa yang kau harapkan? Kau telanjang dan duduk di pangkuanku," Sasuke membela diri. "Aku tidak pernah mengklaim sebagai orang suci."

"Kan kan, kita sudah melakukannya tiga hari! Mesum!" Naruto makin merah padam. Hal-hal intim adalah area baru baginya. Dia tak pernah mengerti masalah beginian sebelumnya. Walaupun, ya, dia membaca buku Jiraiya tapi karena tak pernah terjadi padanya, bagi Naruto itu seperti membaca buku rumus matematika yang penuh kalkulasi rumit. Sementara, sekarang... setelah berhubungan intim selama 72 jam tanpa henti... barulah Naruto paham apa yang dimaksud dengan nafsu birahi. Dia merasa seharusnya dia mempersiapkan diri sebelumnya. Naruto menyesal tak mempelajari hal ini dengan baik dari gurunya yang mesum-mesum, seperti Jiraiya dan Kakashi.

"Aku tidak mau dibilang begitu oleh orang yang tak berhenti mengerang keenakan waktu kita melakukannya, Usuratonkachi!" Sasuke tersinggun, meski rona merah muda semu tetap di pipi. Naruto berkedip, "Mengerang keenakan? Seperti apa tuh?"

Sasuke menghela nafas. "Lupakan. Poinku adalah kau masih kesakitan, kupikir Kyuubi sudah selesai menyembuhkanmu sekarang."

"TEME!" Pirang Uzumaki terkesiap. "Kau pasti ada niatan lain kalau aku tidak kesakitan!" Tuduh Naruto.

"Bukan itu maksudku, Dobe!" Bantah Sasuke, sebelum rona merah tipis di pipi hilang diganti kerutan alis. "Aku hanya bilang kalau aku mau tahu kenapa Kyuubi belum menyembuhkanmu?" Matanya mengarah pada bekas ciuman dan gigitan di seluruh leher, pundak dan dada Naruto. Sisa tubuh mereka terendam dalam air panas berwarna susu. Beberapa jam telah lewat dari selesainya aksi mereka. Cakra Kyuubi seharusnya sudah menyembuhkan semuanya sekarang. Sasuke mau tahu apa cakra Kyuubi dan Naruto masih diluar kontrol. "Apa kau tidak tanya Kyuubi?"

Naruto menghela nafas, "Sudah kutanya..."

"Jawabannya?"

Safir kembar mengalihkan pandangan dan wajahnya masih merah.

"Naruto?" Sasuke merasa tak beres. "Apa katanya?"

Pirang Uzumaki menggumamkan sesuatu dalam bisikan rendah, Sasuke berkata, "Aku tidak dengar. Lebih keras."

"Kurama bilang tidak akan sembuh karena ikatan kita sebagai mate terbentuk."

Sasuke menatap dalam keheningan kemudian bertanya, "Apa maksudnya?"

"Dia bilang perih di pantatku dan ini, tanda-tanda gigitan di badanku," safir kembar menelusuri tangan dan dadanya, "terhitung sebagai bukti persatuan kita. Dia tak bisa menyembuhkannya karena ini tanda klaim darimu. Kelihatannya... bagi bijuu, ini dianggap sebagai tanda kalau aku..." tergagap," ...a-aku... milikmu."

Safir kembar mengunci pandangan dengan sepasang permata hitam.

"Tidak akan sembuh sama sekali?"

"Kurama bilang akan sembuh secara alami seiring waktu."

Naruto tidak tahu bagaimana Sasuke akan bereaksi. Memang, dia bisa merasakan perasaan Uchiha tersebut melalui ikatan batin mereka sebagai mate tapi itu bukan jaminan bahwa Sasuke akan menyambut kenyataan ini dengan tangan terbuka. Sasuke tak pernah suka berbagi hal berbau privasi seperti membiarkan perasaannya diketahui. Sementara ikatan batin mereka melakukan sebaliknya. Naruto terbiasa berbagi pikiran dan perasaan dengan Kurama jadi dia tak terlalu terganggu dengan hal ini.

Tanpa disadari Naruto, Sasuke merasakan keraguan dan alur kebimbangannya. Melalui ikatan batin mereka, dia bisa merasakan kekhawatiran Naruto. Tapi, jalan pikirannya bisa ditebak karena Sasuke tahu Naruto luar dalam. Tak persis seperti telepati tapi ada kemungkinan untuk itu terjadi antara mereka menggunakan ikatan batin ini. Sasuke mendekatkan wajah ke Naruto.

"Kelihatannya ada seseorang yang tidak suka dengan klaim jadi milikku." Uchiha muda berbisik pelan.

Naruto cengo, "Hah?"

"Kau terdengar ragu waktu bilang kau milikku."

"Bukan," Naruto memalingkan wajah, "bukan itu."

"Kau tahu, aku bisa merasakan perasaanmu melalui ikatan batin kita, 'kan?" Safir kembar melebar sebelum alisnya menyatu. Sasuke membingkai wajah Naruto dan mengarahkannya agar mereka sepandangan. "Naruto."

Naruto memejamkan mata erat, "Aku tidak tahu tanggapanmu soal menjadi mate." Sasuke tetap diam sebab merasa Naruto belum selesai. Dia menunggu dengan sabar untuk Naruto mengungkapkan kegelisahannya. "Kurama menjelaskan padaku dan bahkan sebelum itu juga... aku tahu ikatan batin antara kita ini... bukan hubungan biasa seperti pasangan lain. Karena aku jinchuriki, keberadaanmu memicu musim kawin bijuu... kita tidak akan jadi pasangan biasa..."

Keraguan mewarnai suara Naruto yang melanjutkan, "...tidak seperti pernikahan yang punya pilihan cerai... menjadi mate... pilihan berpisah tak akan ada..."

Mereka tenggelam dalam keheingan beberapa saat tanpa bergerak, lalu Sasuke bertanya, "Kau berniat pisah dariku?"

Safir kembar terbuka cepat, ia menghardik setelah menoleh balik ke Sasuke, "Tentu saja tidak!"

"Lalu, kenapa kau memusingkan soal perpisahan?" Sasuke menatapnya penuh arti, "Kau pikir aku mau pisah darimu?"

"Itu yang kau lakukan bertahun belakangan, ingat?" Sindir Naruto. "Seperti yang lakukan Itachi padamu juga."

Sasuke terdiam. Kedua tangannya perlahan turun, melepas kedua pipi Naruto. Entah bagaimana, ia mengerti perasaan Itachi. Seperti sang kakak, Sasuke melangkah pada hal yang dianggapnya benar. Sebelumnya, dia tak pernah mengerti alasan Itachi. Namun, detik ini, dia mengerti. Itachi tak berharap Sasuke mengerti alasannya ataupun memaafkannya, dia hanya berharap adiknya lepas dari bahaya. Persis seperti yang diharapkan Sasuke pada Naruto ketika ia meninggalkan Konoha. Kelihatannya, sifat tersebut turunan di keluarganya. Menjauh dari orang yang dicintai untuk melindungi mereka. Berdasarkan kesadaran ini, ia mengerti perasan Naruto.

"Aku tak melakukannya karena mau," jujur Sasuke. "Aku harus melakukannya agar kau selamat."

"Aku tahu. Kebiasaan keluargamu kedengarannya." Naruto merengut. Bergumam, "Jujur, aku tidak bisa mengerti."

"Aku tak memintamu mengerti alasanku," Sasuke menghela nafas. "Aku hanya ingin melindungimu, Naruto."

Mata biru Naruto melebar begitu merasakan sebuah perasaan melakui ikatan batin mereka sesuai dengan pernyataan Sasuke. Perasaan mendalam ingin melindungu Naruto. Dia membuka mulutnya untuk protes, "Aku tidak butuh perlindunganmu. Aku kuat, Sasuke! Kita bertarung di perang sama-sama!"

"Aku tahu kau kuat, Naruto."

"Tuh! Aku bisa mengatasi apap—"

Sepasang permata kelam menatap dalam safir kembar, Naruto menghentikan protesnya di saat ia merasakan kejujuran mewarnai ikatan batin mereka, "Yang tidak bisa menghadapi kenyataan kalau sesuatu terjadi padamu..." diikuti pengakuan Sasuke, "...itu aku."

Naruto tercengang.

"Aku kehilangan klanku. Orangtuaku. Kakakku," Sasuke membelai pipi Naruto dengan satu tangan. "Aku mendedikasikan hidupku untuk membalas dendam atas kehilangan itu semua karena aku yak punya apapun lagi saat itu." Bisiknya pelan, "Apa lagi yang harus hilang dari hidupku?"

Senyum tipis sarat akan kesedihan terbentuk di bibirnya kala melanjutkan," Tapi... saat kau masuk dalam kehidupanku, Naruto... aku tahu aku tak bisa kehilanganmu juga."

Perasaan cinta begitu besar membanjiri Naruto melalui ikatan batin mereka. Mendekap lembut Naruto tapi terselimuti oleh dedikasi kuat berisi rasa ingin melindungi yang membuat Pirang Uzumaki merasa aman lebih dari apapun. Kedua matanya terasa panas, penglihatannya tertutup air mata tertahan. Perasaan hangat menyebar, tak hanya secara verbal tapi juga batiniah.

"Kita kehilangan orangtua dan kau nyaris tak tahu apapun soal klanmu, tapi..." Ada sedikit kesedihan dan kecemburuan hadir di ikatan batin mereka, "...kau punya teman-teman dan mimpi. Kau tidak sendirian."

Jeda sebentar sebelum dia mengakui dengan suara rendah, "Sementara aku..." secara fakta, nyatanya, "...hanya memilikimu..." Air mata semakin memenuhi pandangan safir kembar.

"Kau adalah satu-satunya orang terdekatku."

Dan air mata pun jatuh di pipi Naruto.

Hatinya berdetak kencang, terutama mendengar Sasuke menambahkan, "Kau adalah sahabatku. Sainganku. Saudaraku. Keluargaku, kekasihku..." Sasuke menyentuh tanda cinta berupa bekas ciuman di leher Naruto, "Pasangan takdirku..." dia mendekatkan wajah mereka, berbisik, "Cintaku..." bibir Sasuke menyentuh bibir kekasihnya lembut. Menyiratkan betapa tulus nan mendalam cinta Sasuke pada Naruto tanpa ditahan lagi.

Menutup mata, Naruto balas mencium Sasuke dengan intensitas sama akan perasaan mereka dengan air mata haru bercampur kebahagiaan tetap mengalir. Dia mengirimkan seberapa dalam cintanya pada Sasuke lewat ikatan batin. Membiarkan perasaan bahagianya mengalirm Ia merasakan kedua tangan Sasuke memeluk pinggangnya hingga ia pun melingkarkan kedua tangan di leher Sasuke. Tersedu sedan tertahan di bahu kekasihnya. "Andai kematian atau hal lain memisahkan kita," Sasuke berbisik di leher Naruto, "Aku akan benar-benar sendirian..."

Naruto mengeratkan pelukannya sebelum ia bergumam dengan nada kesal, "Apa kau pikir aku tak akan merasakan hal yang sama kalau benar-benar terjadi?"

"Tapi, kau punya teman lai—"

Naruto menjauhkan kepalanya dari Sasuke dengan menyatukan alis, "Mereka bukan dirimu! Perasaanku pada mereka tak seperti bagaimana aku mencintaimu! Tidak akan pernah sama!"

Hening antara mereka hadir kala saling menatap satu sama lain. Naruto berkata, "Kau harus berhenti berpikir ini hanya hubungan sepihak. Berhenti mengambil keputusan sendirian kalau ini menyangkut kita berdua. Dalam hubungan ini, kita berdua itu sama."

Pirang Uzumaki menatap ke bawah, "Memang, aku tak bisa memintamu berubah. Kau ya kau dan aku mencintaimu. Aku tahu kau selalu melindungiku. Aku sadar itu... sungguh..." Naruto terisak.

Dia ingat sejak masa awal menjadi Genin di Tim 7, Sasuke selalu melindunginya. Itu bukanlah hal yang bisa dilupakan Naruto seumur hidupnya karena jarang orang memperlakukannya begitu. Telebih, di Perang Dunia Ninja ke-4... Sasuke berulangkali melindunginya dari apapun walaupun Minato sebagai ayah Naruto dan Yondaime Hokage juga di sana. Naruto kerap menemukan dirinya di dalam Susanoo Ungu dengan punggung Sasuke di depannya. Melindunginya. Tak terhitung entah sudah keberapa kalinya. Bahkan setelah Rikudou Sennin memberikan mereka kekuatan sama besar.

Naruto masih menemukan dirinya di belakang Sasuke dalam Susanoo Ungu.

Kalau bukan cinta, lalu itu apa?

Sasuke memeluk Naruto lembut, membiarkan putra Yondaime Hokage menangis di bahunya. Naruto memeluk balik, "Jangan... tinggalkan aku kalau kau mau melindungiku..." Mengeratkan pelukan, Naruto menekankan betapa takutnya ia jika Sasuke pergi lagi. "Aku bisa berperang lagi... tapi... aku tidak sanggup melewati hari..." dia melanjutkan dengan sedih, "...tanpamu, Sasuke..."

Setetes air mata mengalir di wajah Sasuke.

Ia merasakan betapa dalam dan besarnya cinta Naruto padanya dari ikatan batin mereka. Cukup untuk membuatnya meneteskan air mata. Ia tahu di lubuk hatinya, sekalipun klannya masih hidup, Naruto tetap menajdi prioritas Sasuke. Selalu.

Sekarang dan selamanya.

Ia mencium dahi kekasihnya, "Terima kasih, Naruto..." Ia berbisik dengan sebuah janji, "Aku tidak akan meninggalkanmu..."

Sasuke bersungguh-sungguh dan Naruto merasakan itu.

TBC


Makasih uda baca! Jangan lupa review ya kalo mau baca chap selanjutnya!

Uchiuzuraa: Yep! mereka dah mating! Gimana chap ini?

Namikaze Ichilaw: Hoho ada gak ya dedek bayi~? Review terus deh biar ketahuan di chap depan hahaha nasib emang si Hashirama wkwkwkwk

Ay03sunny: iya nih gak sopan ya hahaha

Achan Jeevas: yah, let gone be by gone deh wkwkwk. salah sendiri sih ga baca author's note hehe oh? masih ketawa juga? ikutan deh, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! XD kesel emang aku tuh ama canon makanya aku ga mau hashimada ama tobiizu-ku setragis canon hihi Iya makasih uda mau suka! Review jugalah di Perfect Time kalo emang suka *todong kunai* hoho!

elLagark: eh? EEEEEEHHHHHH?!?!?!?!