Disclaimer dan warning: Chek chapter sebelah!
"Hn? Izuna tidak di sini? Kakek Shodaime mana?" Tanya Naruto setelah Sasuke menutup shoji (pintu kayu dengan lapisan kertas) dibelakang mereka.
Enam minggu telah lewat setelah kejadian Naruto mengalami musim kawin bijuu. Hashirama menyatakan bahwa Madara membutuhkan istirahat penuh untuk sisa masa kehamilannya. Penggunaan cakra berlebih saat dalam mempertahankan Susanoo bulan lalu. Madara mengikuti saran suaminya terkait kondisi sekarang. Sejak itu, Izuna dan Naruto biasanya mengunjungi Madara di kamar pribadinya. Yah, Naruto sih datang dengan plus one ya, sebut saja Sasuke.
Walaupun sudah sebulan setengah, overprotektif yang dimiliki Sasuke sama sekali belum menghilang. Dia jarang meninggalkan sisi Naruto ataupun membiarkan orang lain mendekati Pirang Uzumaki. Hanya dengan Madara, ia tak punya masalah membiarkan Naruto dekat-dekat dengan Uchiha senior tersebut. Hashirama berpendapat bahwa hal ini dikarenakan Madara juga reinkarnasi Indra jadi Sasuke merasa aman dengan mereka dekat. Lagipula, Madara menghabiskan hampir seluruh waktunya di atas futon dan hamil tua. Ia juga tak terlalu keberatan dengan Izuna dekat Naruto. Tapi, Hashirama dan Tobirama jelas tidak ditanggapinya dengan baik.
"Kontraksinya mulai sejak semalam," jawab Madara. Ia duduk di futon seperti biasa dengan kimono tipis untuk tidur dan membaca gulungan. "Hashirama bilang Izuna akan melahirkan hari ini jadi dia bersiap untuk itu."
"Hah?" Naruto kaget seraya duduk di zabuton (bantal duduk) sebelah futon Madara. "Bukannya Izuna masih 8 bulan ya hamilnya? Apa uda 9 bulan?" Naruto bingung.
"9 bulan? Naruto, ap—" Madara tetiba sadar alasan ketidaktahuan Pirang Uzumaki mengenai kehamilan laki-laki. "Benar juga, kau tidak tahu soal kehamilan pada laki-laki karena di zamanmu sudah tidak ada," Madara menghela nafas.
Ia menutup gulungan di pangkuan dan menatap Naruto. Sasuke duduk di belakang Pirang Uzumaki.
"Tak seperti wanita, biasanya dibutuhkan 8 bulan untuk laki-laki mengandung bayi. Kita tak diciptakan untuk ini jadi jangka waktu mengandung pun berbeda. Oleh sebab itu, kehamilan pada laki-laki menyerap banyak cakra dari indungnya untuk melindungi rahim dan bayi di dalam," dengan kata lain, laki-laki yang hamil lebih lemah dari wanita yang hamil tapi itu merupakan rahasia umum. Madara melanjutkan, "Cara melahirkan juga berbeda. Meski lebih dikarenakan kondisi perang, tapi laki-laki hamil sangat jarang melahirkan alami. Biasanya, medi-nin akan melakjkan operasi untuk mengeluarkan bayi dari rahim setelah kontraksi teratur."
"Operasi?" Naruto menaikkan satu alis.
"Mereka akan memotong di sini," Madara menunjuk perutnya yang lebih besar dari bulan lalu. Sudah hamil 25 minggu. Naruto memucat begitu paham maksud pemotongan ini. Tergagap, "A-a-ap—?! Po-po—"
"Apa yang kau khawatirkan? Sebagai ninja, wajar bagi kita untuk dipotong sedikit atau luka sana-sini," Madara gagal paham apa masalahnya. Tambahan luka lagi, itu saja. Apa masalahnya? Apalagi, kalau Hashirama yang menangani, tidak akan ada bekas luka. "Kau 'kan punya Kyuubi untuk menyembuhkan lukamu," ujar Madara.
"Ah, aku tidak yakin soal itu," Naruto senyum ragu. "Kyuubi tak bisa menyembuhkan apapun terkait mate pilihanku." Ia sedikit tersipu kala mengingat butuh beberapa hari untuk bekas gigitan dan ciuman dari Sasuke di badannya pudar sepenuhnya. "Dan..." Naruto melirik ke arah Sasuke tapi tak pernah melanjutkan kata-katanya. Madara menatap kedua remaja. Ia menangkap bahwa Naruto mau bicara sesuatu tapi enggan mengatakannya di depan Sasuke.
Memutuskan untuk membantu reinkarnasi Asura, Madara berkata pada Uchiha muda di belakang Naruto, "Sasuke, bisakah kau pergi ke Izuna sebagai penggantiku?"
Sasuke menatap Madara datar.
"Seharusnya aku bersamanya karena umumnya keluarga akan menemani untuk memberikan dukungan mental, terlebih aku satu-satunya keluarga," sangatlah umum dalam Klan Uchiha untuk melakukan ini sebab mereka alaminya mementingkan keluarga atau klan. "Tapi, aku sedang istirahat total. Orang pasti mengharapkan kau menemani Izuna menggantikan aku karena mereka tahunya kau keluargaku juga. Tak akan ada yang pertanyakan itu. Para Senju juga akan mengerti."
Menghela nafas diam-diam, Sasuke tahu kalau kehadirannya tak diharapkan di sini dan Madara secara tersirat mengusirnya dengan permintaan barusan. Ia berdiri dan melirik ke Naruto yang hanya menengadah menatapnya. Biasanya, Sasuke akan membawa Naruto tapi melalui ikatan batin mereka, dia merasa Naruto mau tinggal dengan Madara jadi ia pergi tanpa sepatah kata pun pada keduanya.
"Jadi, Naruto," Pirang Uzumaki balik menoleh ke Madara setelah Sasuke keluar dan menutup shoji, "Ada alasan apa kau mau bertemu Hashirama tanpa Sasuke?"
"Hah?" Terkejut, ia hanya bisa berkata, "Apa?"
"Biasanya, kau tak pernah menanyakan kehadiran Hashirama kalau ke sini."
"Oh." Naruto menunduk, menatap tatami (tikar Jepang) di bawah dengan mengerutkan alis. "Aku hanya ada beberapa pertanyaaan tapi aku tak tahu mau dengar jawabannya atau tidak."
Madara menyadari betapa cemas wajah Naruto dan bertanya, "Apa yang membuatmu resah, Naruto?"
"I... itu... Aku merasa tidak enak badan sejak minggu lalu..." Muka tampak gugup, "Rasanya capek terus seharian. Badan terasa berat... ada bau makanan tertentu bikin mau muntah. Kayak nasi... Aku gak bisa makan nasi soalnya pasti muntah. Bahkan ramen baunya saja sudah buat perutku mual. Tidak pernah aku menolak ramen sampai mual..."
Jelas, terdengar seperti sakit masuk angin biasa. Tapi, perlu diingat bahwa Naruto tak pernah sakit Kyuubi selalu menjaga kesehatan tubuhnya sejak bayi. Madara teringat pengakuan Sasuke akan masa kecil Naruto tak pernah demam atau sejenis ini. "Apa kau sudah tanya Kyuubi?" Meski, Madara ada dugaan terkait hal ini.
"Sudah."
"Apa ini pertanda lain siklusmu akan datang lagi?"
"Bukan."
Namun, Naruto tak menjelaskan lebih lanjut jadi Madara bertanya lagi, "Apa yang dikatakannya?"
"Dia... " Menelan ludah, "... Aku... " Jantungnya berpacu seraya telapak tangan kanan terangkat dan diletakkan di atas kimono oranye bagian torso atau, "Ka-kami... merasakan kehadiran cakra lain di..." bagian perut, lebih tepatnya.
Safir kembar menyiratkan ketakutan bercampur sedikit kegirangan yang terlihat oleh mata Madara. Ia tahu apa yang dimaksud Naruto meski kata-kata tadi tak jelas. Mata hitamnya melebar sekejap sebelum menatap telapak tangan Naruto berada. Kecurigaannya benar. Madara kehilangan kemampuan berkata untuk sementara dan mereka diselimuti hening mencekam. Safir kembar menampakkan air mata yang siap jatuh kapanpun kala ia terbata-bata mengungkapkan, "A-apa yang harus kulakukan... Onii-chan?" Nada tak berdaya membangkitkan insting kakak dalam diri Madara.
"Kemarilah," ia mengundang Naruto mendekat. Setelah Pirang Uzumaki tepat di sebelahnya di atas futon, Madara memeluk Naruto pelan sebab perutnya telah membesar. Naruto pun balas memeluk dan membiarkan air matanya menetes berisi perasaan berkecamuk akan kenyataan yang baru ia temukan. Bahwa, Naruto tengah hamil saat ini.
Awalnya, dia bingung. Tak banyak yang diketahuinya soal kehamilan pada umumnya apalagi kehamilan yang ia alami. Hanya berdasarkan observasi dan informasi dari Madara dan Izuna. Lalu, ia merasa takut. Dibesarkan tanpa orangtua, dia hanya bisa mengira-ngira bagaimana mengasuh sekaligus membesarkan anak. Dan tak dipungkiri, Naruto juga merasa senang. Untuk mempunyai keluarga sendiri adalah mimpinya juga sejak masih bisa mengingat. Semua menyerang sekaligus memenuhi pikirannya. Ditambah, ketidakseimbangan hormon bekerja sangat apik hingga ia merasa gundah gulana sendiri.
"Tak apa, Naruto," Madara berkata lembut dan membelai surai pirang. "Seperti yang kubilang beberapa bulan lalu... mungkin terlalu muda untukmu buat menjadi seorang ayah tapi aku percaya kau akan menjadi ayah yang hebat. Jangan ragukan itu, Otouto yo."
Safir kembar melebar terpana dan air matanya terhenti. Menjauhkan sedikit wajah hingga mereka berpandangan, dia melihat kilau kepercayaan dan kejujuran dari sepasang permata hitam Madara. Naruto terharu. Sebagaimana ia rasa tiap ada orang yang mengakui keberadaannya. Perlahan, senyum terukir di bibir Pirang Uzumaki. Ada rasa percaya diri berkilau di safir kembar. Madara lega melihat itu hingga ia mencium pipi Naruto dengan sayang untuk pertama kali, "Selamat, Naruto." Putra Yondaime Hokage tersipu dan menyusul tawa kecil seperti Madara yang sudah duluan.
"Apa Sasuke sudah tahu soal kehamilanmu?" Tanya Madara pelan.
Naruto menggelengkan kepala, "Belum. Aku belum bilang..." Ia nampak sedih dan Madara menangkap kesedihan di mukanya.
"Kenapa belum? Apa masalahnya?"
Ia menghela nafas, "Aku tidak tahu bagaimana dia akan bereaksi. Aku tak tahu haru berkata apa untuk memulainya..."
"Bukankah kalian punya ikatan telepati setelah siklusmu selesai?"
"Ya, kami punya ikatan batin. Tapi, itu tidak berarti kami bisa saling berkomunikasi verbal dengan ikatan batin seperti para bijuu berbicara satu sama lain walau jarak memisahkan di kenyataan. Hingga detik ini, kami hanya berbagi perasaan. Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan dan sebaliknya."
Madara menaikkan alis, "Kalau begitu, bukankah dia pasti tahu soal sakitmu atau bagaimana kau tidak nyaman belakangan ini?"
"Memang, tapi dia tidak ada bilang apapun. Dia hanya menatap dalam seolah banyak pikiran tapi aku tak merasakan apapun dari ikatan batin kami. Seperti... dia bisa mengontrol perasaannya dengan sangat baik. Aku... takut untuk bilang kalau aku hamil..." Naruto menghela nafas lagi sebelum menyadari ada kalung di leher Madara. Penasaran, ia pun bertanya, "Apa itu?"
"Hm?" Madara menoleh ke kimono bagian dadanya di mana arah mata Naruto terpaku. "Oh, ini, Hashirama membuatnya untukku minggu lalu," dia mengeluarkan kalung dengan 3 kristal hijau berbentuk prisma memanjang secara vertikal dari kimono yang terlihat familiar bagi Naruto. "Kami menemukan kristal ini saat masih kecil. Di sungai tempat kami pertama bertemu. Aku tidak tahu Hashirama menyimpannya sebagai kenang-kenangan masa persahabatan kami sebelum kami tahu klan masing-masing. Ternyata kristal ini bisa menyimpan cakranya. Jadi, ia memodifikasi ini untuk menyimpan cakranya dan memberitahunya kalau aku dalam bahaya atau sejenisnya. Apabila dia terlalu jauh dariku selama masa kehami—" Madara menyadari mata Naruto melebar. "Ada apa?"
"Aku tahu kalung ini! Aku memakainya sampai tahun lalu. Kurang lebih 3 tahun," Naruto pun menceritakan bagaimana ia memilikinya dan kalung itu hancur saat melawan Pein tahun lalu. Madara dengan tenang bertanya, "Jadi, Hashirama Masa Depan punya cucu perempuan?"
Anggukan sebagai jawaban, "Iya, dia yang memberikannya padaku."
Madara terdiam beberapa saat mengontrol emosinya yang sebenarnya bukan salah Naruto jika Hashirama di masa depan punya cucu. Ia harus mengingatkan dirinya bahwa sejarah sudab berubah jadi ia memilih kembali ke topik awal, "Kupikir Sasuke tahu cara menggunakan jurus untuk mencegah kehamilan. Apa dia tidak melakukannya?"
"Hmm... Kurama bilang Sasuke menggunakan jurus itu karena Kurama menemukan jejak segelnya tapi dia juga bilang itu tidak mempan. Aku jinchuriki, butuh lebih dari sekedar jurus pencegah kehamilan agar berfungsi di badanku."
"Aku mengerti," Madara membelai kembali surai keemasan dengan senyum menenangkan, "Tapi, kurasa Sasuke tidak akan bereaksi buruk tentang kehamilanmu, Naruto." Safir kembar bersinar penuh harapan, Madara melanjutkan, "Kabarkanlah padanya. Ini anaknya juga, dia berhak tahu."
Terpana, Naruto mengangguk, "Ya, benar juga. Malam ini akan kubilang padanya." Naruto memeluk Madara lagi dan berbisik, "Arigatou, Onii-chan..."
Madara tersenyum, "Daijobu da, Otouto yo..."
—000—
"Selamat, Tobirama, Izuna," Hashirama tersenyum bangga dalam balutan pakaian medis dan ditangannya, bayi baru lahir baru saja dibersihkan. Terbungkus rapi dalam kain biru. "Kalian memiliki putra sekarang," ia memberikan bayi tersebut pada adiknya.
Izuna yang tampak pucat sehabis operasi untuk melahirkan, tersenyum lemah begitu melihat suaminya menggendong bayi mereka. Tobirama terpukau. Dia duduk di dekat ranjang Izuna agar Izuna bisa melihat anak mereka. Dengan luka sayatan di perut, Izuna butuh berbaring 12 jam penuh tanpa bergerak supaya cepat lukanya sembuh setelah Hashirama menutupnya. Beberapa lapisan dari kulit perut hingga dinding rahim memiliki waktu berbeda untuk tersambung kembali sekalipun dengan bantuan ninjutsu medis. Tak akan ada luka tapi tetap butuh waktu untuk sembuh. Hokage juga memberikan cakranya untuk mengurangi nyeri dalam proses penyembuhan. Bahkan dengan itu semua, Izuna masih merasa lemah sehingga suaminyalah yang akan mengurus bayi mereka.
"Putra," ulangnya lemah tapi senyumnya sangat menampakkan betapa bahagia dan bersyukur dirinya kini. Tobirama mengangguk lalu menatap Izuna. Ia berkata, "Rambutnya dua warna seperti mendiang adikku, Itama." Tobirama menunjukkannya ke Izuna. Bagian atas rambut bayi ini keperakan seperti milik Tobirama dan bagian belakang hingga leher, warnanya hitam seperti rambut Izuna. "Dia mewarisi kedua warna rambut kita." Mata Izuna tergenang air mata haru selama ia menatap putranya. Tak bisa dipercaya bayinya telah lahir. Ia akan merindukan tendangan-tendangan kecil dari dalam perutnya. Namun, kebahagiaannya tiada tara untuk melihat putranya hidup.
Izuna sadar satu hal, "Wajahnya mirip denganmu."
"Yah," Tobirama menghela nafas dan menggerutu, "Maaf soal itu."
Izuna tersenyum namun sebelum berkata lagi, terdengar bunyi ketukan di pintu yang akhirnya dibuka Hashirama. "Sasuke," sapa Hokage. Sasuke melirik ke ruangan rumah sakit dan menyadari ini ruangan khusus setelah melahirkan sehingga tidak ada orang jadi dia berkata, "Madara mengirimku ke sini untuk memberi dukungan menyal ke Izuna dan melengkapi cerita bahwa aku saudara jauh mereka." Tentu, ia tak akan mengakui kalau ia didepak dari kamar Madara secara halus.
"Ah, ya, masuklah," Hashirama membiarkannya masuk lalu menutup shoji.
Ia melihat Izuna terbaring di ranjang rumah sakit sementara Tobirama duduk di kursi sebelahnya dengan bayi ditangan. Beberapa detik berlalu dengan pandangan penuh arti, lalu Sasuke berkata pada pasangan berbahagia, "Selamat, Nidaime, Izuna."
Keduanya terkejut namun menutupi dengan, "Terima kasih, Sasuke."
Mereka tak menyangkan akan mendapat ucapan selamat dari Sasuke. Hashirama menyuarakan keterkejutannya seperti yang dirasakan Tobirama dan Izuna, "Aku tak menyangka kau akan memberi mereka selamat. Jangan tersinggung, hanya saja ini diluar ekspektasiku mengenal sifatmu beberapa bulan ini."
Sasuke melirik Hashirama, Tobirama dan Izuna sebelum matanya terpaku pada bayi dengan rambut dua warna. Ia tak menyalahkan atau tersinggung dengan komentar Hokage. Aslinya, jika ini orang lain, Sasuke tak akan peduli ataupun mau mengucapkan selamat. Tapi...
"Sewaktu Madara di masa depan menusukku dan aku sekarat," Sasuke memulai, "Edo-tensei Nidaime meminta Madara untuk tidak membunuhku. Dia memohon demi nyawaku. Dia bahkan menyesal karena tak punya cukup kekuatan menyelamatkanku dan sayup-sayup aku mendengar dia menyebut nama Izuna dengan penuh duka..."
Izuna tak mampu menahan air matanya selama cerita Sasuke. Ia tahu kalau ia dan Sasuke mirip tapi dia tak tahu bagaimana itu berefek pada Edo-tensei Tobirama. Mendengar cerita ini, mengetuk hatinya. Sasuke melanjutkan, "Dari mengalami itu dan sekarang melihat kalian berdua punya bayi..." Aku ikut senang, tak diucapkannya karena memalukan. Namun, ketiga lelaki dewasa di sini menangkap maksud dan kata-kata tersirat tersebut serta tak ingin menambah malu remaja Uchiha lebih jauh. Sasuke mengakhiri dengan, "... aku hanya ingin bilang selamat pada kalian."
Tersenyum lembut sebab ucapan tersebut menghangatkan hatinya, Izuna berkata, "Terima kasih. Aku hargai itu, Sasuke."
Dia menangguk, namun kala melihat wajah bayi baru lahir, komentarnya adalah, "Dia tidak mirip aku."
Hokage terbahak mendengar itu. Bahkan Tobirama tertawa kecil teringat dulu Izuna menduga anak mereka akan mirip Sasuke saat mengabarkan kehamilannya pertama kali. Izuna meringis kesakitan sebab tertawa membuat luka di perutnya bergerak. Sakitnya luar biasa. Hashirama mengingatkan, "Santai, Izuna. Bahkan dengan cakraku membantu meredakan nyeri dan perih, kau masih tak boleh bergerak 12 jam ini. Termasuk tertawa. Normalnya, butuh 24 jam untuk bisa bergerak lagi tanpa cakraku."
"Aku tahu, aku tahu," balas Izuna lemah. "Suruh mereka jangan buat lelucon," candanya.
Hashirama tersenyum, dia bertanya ke Tobirama dan Izuna, "Apa kalian sudah punya nama?"
Bertukar pandang senang, Izuna mengangguk. Tobirama mengumumkan, "Perkenalkan, putra kami, Toshizo Senju."
—000—
Malam tiba, saat Hashirama kembali ke kamar pribadinya dengan Madara, dia memeriksa kesehatan suaminya sebelum masuk ke selimut bersama di futon.
"Naruto mau bertemu denganmu," ucap Madara selagi Hashirama membelai lembut perutnya pelan. Terkaget, Hokage bertanya "Benarkah? Aku bertemu Sasuke hari ini tapi dia tak menyebutkan kalau Naruto mau ketemu."
"Sasuke belum tahu. Mungkin malam ini dia baru akan tahu."
Hashirama berkedip bingung, "Tahu apa?"
"Naruto hamil."
Coklat kembar melebar dan membeku. "Sungguh? Aku pikir Sasuke tahu cara melakukan jurus mencegah kehamilan." Madara menjelaskan pada suaminya apa kata Kurama berdasarkan pengakuan Naruto sore tadi. Hashiramamengangguk, "Masuk akal. Jinchuriki ada aturan sendiri untuk masalah begini."
Madara diam sebentar lalu bergumam, "Dia tahu."
"Tahu?" Hashirama penasaran.
"Naruto tahu soal kalung ini," Ia menggenggam kalung kristal di dadanya. "Ia menerimanya dari cucumu."
Sekali lagi, ia membeku, "Cucu—"
"Kau di masa depan punya cucu dengan Mito..."
Mengerutkan alis, Hashirama pelan-pelan mengingatkan, "Kau tahu masa ini berbeda. Mito baru saja melahirkan anak perempuan Uzumaki bulan lalu. Koto Uzumaki. Kau lihat sendiri foto yang dikirimnya. Rambut merah. Itu bukan anakku. Aku bahkan tak pernah menyentuh Mito seperti itu."
" Aku tahu..." Madara menghela nafas. Hashirama melingkarkan lengan kanan di pinggang Madara dari belakang. Ia mencium suaminya mesra lalu Madara menyandarkan kepala di bahu Hokage. "Hanya saja... Aku terus didera pikiran bagaimana perubahan di masa ini berpengaruh pada masa depan Sasuke dan Naruto? Apa akan berubah berdasarkan situasi kita sekarang? Apa mereka tetap akan lahir? Atau tidak sama sekali?"
Hashirama menutup mata. Dia tak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan barusan. Tak juga ia tahu apa yang akan terjadi. "Apapun itu..." Hashirama menautkan jemari mereka, "... kita tetap jadi alasan masa depan mereka terjadi."
—000—
"Kalau ada yang mau kau katakan, bilang saja, Naruto," tetiba Sasuke bicara setelah mereka merebahkan badan dalam selimut.
Naruto kaget dan menjauh sedikit, ia pun tergagap menoleh ke kiri, "E-eh? Ap-apanya?"
Sasuke menoleh ke Naruto di sisi kanan. "Sejak aku menjemputmu dari kamar Madara, kau melamun dan membungkam serta sesekali melirik ke arahku setiap kau pikir aku tidak sadar. Terlebih rasa gelisah memuncak semakin waktu berjalan. Aku merasakannya dari ikatan batin kita. Berhenti menunggu waktu yang tepat dan bilang saja sekarang."
"A-apa-Ak—!"
"Ada sesuatu yang mau kau sampaikan padaku jadi berbohong pun tak ada gunanya."
Naruto merengut, "Aku bukan mau bohong kok!"
Sasuke menghela nafas, "Baiklah, jadi apa yang mau kau sampaikan?"
"Itu...ehm..." Perlahan Naruto merasa pipinya panas seraya ia bergumam malu-malu, "...aku merasa... tidak enak badan belakangan..." Sasuke diam saja membiarkan Naruto melanjutkan, "...y-yah, Kurama bilang... jurus pencegah... yang kau lakukan wa-waktu kita... kita..." Wajahnya memerah jelas.
"Seks?"
"Ya, itu," Naruto memalingkan wajah dengan malu sambil agak gugup.memainkan selimut tipis di jemari. "Dia bilang jurusnya tidak berfungsi... buat jinchuriki... jadi... jadi... kami merasakan... cakra lain... selama aku sakit..." Tanpa sadar, dia menyeret selimut lebih dekat ke dada dan memeluknya. "Ta-tapi, aku belum... tanya Kakek untuk memeriksa lebih pasti... da-dan..Madara bilang... aku harus memberitahumu dulu... karena..."
"Maksudmu kau mau bilang kalau..."
Naruto tak menjawab. Mereka dikunjungi keheningan canggung sebelum Sasuke mendengar suara pelan namun tak menangkap kata-kata, hingga ia memanggil, "Naruto?"
"Akuhamilanakmudankauakanjadiayahsebentarlagi!"
Sasuke terbelalak. Hening lebih lama dari sebelumnya mengelilingi mereka dan membuat Naruto makin resah. Dia menatap Sasuke dengan penuh kekhawatiran. Sasuke masih kehilangan kata-kata namun detik berikutnya perasaan gundah Naruto membanjirinya lewat ikatan batin dan ia pun tersadar untuk kembali pada realita. Menggeser untuk mendekat, kedua tangannya memeluk hangat Naruto.
"Terima kasih," bisiknya penuh kejujuran.
Naruto cengo, "Eh?"
"Aku tahu lebih dulu tapi aku tak yakin apa kau sadar dengan kemungkinan hamil dan memikirkan bagaimana sebaiknya memberitahumu."
"Apa? Kau tahu?" Naruto tak percaya. "Kau memikirkan bagaimana memberitahuku? Kenapa?"
"Apa kau tidak ingat? Kau pingsan waktu pertama kali tahu bahwa kau bisa hamil," Sasuke memaparkan kejadian pas mereka baru sampai di masa ini dan memberitahu para pendiri tentang masa depan. Naruto pun teringat dan tak memiliki balasan untuk itu.
"Bagaimanapun, kau membuat mimpiku untuk membangkitkan klanku terwujud," Sasuke tersenyum. "Kita kehilangan keluarga tapi sekarang kita akan menjadi keluarga." Safir kembar tergenang air mata. "Kita akan punya anak bersama. Aku janji aku tak akan membiarkan anak kita mengalami masa kecil pahit seperti kita dulu. Kita akan bersama dalam tiap langkah." Air mata pun akhirnya turun di pipi Naruto saat Sasuke mengakhiri dengan, "Aku mencintaimu, Naruto. Aku mencintaimu..."
Tiap kata beriringan dengan perasaan sama yang diterima Naruto melalui ikatan batin. Ia merasa lega teramat begitu Sasuke menerima berita kehamilan ini dengan baik terlepas dari niatan Uchiha tersebut yang telah menggunakan jurus pencegah kehamilan tapi Sasuke tak terlihat keberatan. "Aku juga mencintaimu, Sasuke..." Naruto menangis di pelukan kekasih Uchihanya. Mereka tidur nyenyak dengan tangan mereka di perut Naruto.
TBC
Makasih sudah baca! Jangan lupa review ya kalau mau baca chapter selanjutnya!
Makin dikit ya yang review? Udah pada bosenkah? Tidak mau dilanjutin lagi ya?
Uchiuzuraa: *puk puk*
elLagark: Eh? *kabur*
Namikaze Ichilaw: iya iya, emang ada hihi
