Disclaimer: I do not own Naruto. I own nothing except the OCs and the plot.
Yang lain terkesiap.
Naruto memucat, "Namikaze? Itu klan ayahku..."
"Ya, Kakek Minato masih hidup di masaku. 5 tahun lalu, dia mundur jadi Hokage dan digantikan oleh pamanku, Itachi Uchiha."
"Masa depan yang lain?" Tobirama bertanya.
Menma mengangguk. "Tak ada pembantaian Uchiha di tempat asalku. Memang jumlahnya jadi lebih sedikit setelah kejadian Shiki tapi tidak punah atau langka dengan hanya satu orang yang hidup. Kakekku, Fugaku Uchiha, sekarang menjadi Ketua Klan Uchiha."
"Jika ayahku dan ayah Naruto adalah kakekmu, berarti kau memang anak kami. Bukan begitu?" Tanya Sasuke. Naruto menaruh telapak tangannya di perut tanpa sadar, "Hasil tes DNA kita adalah kau anak kami."
Gerakan yang tak luput dari Menma. "Secara biologis, ya. Orangtuaku juga reinkarnasi Indra dan Asura tapi kenyataannya, mereka adalah diri kalian yang lain. Yang hidup di masa depan yang lain. Kenyataan yang terbentuk berdasarkan perubahan sejarah di masa ini dengan keterlibatan kalian." Dia melirik ke perut Naruto, "Apa kau hamil, Ayah?"
Naruto tersentak sedikit, "Ya." Menma nampak berpikir dalam beberapa detik sambil bergumam, "Bisa jadi anak itu adalah diriku yang lain..."
Madara bertanya, "Bagaimana bisa kau yakin orangtuamu bukan Sasuke dan Naruto di sini yang kembali ke masa depan setelah perubahan sejarah terjadi?
"Ayahku sangat kaget waktu dia membuka gulungan keramat. Dia bukan pembohong, tak berbakat dalam itu dan orangnya spontan," Menma menatap Naruto, "Itu, ekspresinya persis seperti itu."
Naruto bergidik menemukan semua mata ke arahnya. Pipinya memerah. "Apa? Ini pengalaman pertamaku diceritakan oleh pendatanh dari masa depan, maksudku masa depan yang lain," canggung Naruto. Hashirama tertawa kecil, bahkan Madara, Izuna dan Menma tersenyum tipis. Anak itu menambahkan, "Dan dia menceritakan ulang isi gulungan kepada kakek-kakekku dan pamanku. Kurasa ayahku tak akan seheboh itu kalau yang di sini adalah ayahku di masaku."
Sasuke menyipitkan mata, curiga, "Jika memang benar begitu, diriku yang lain adalah ayah kandungmu, kenapa kau tidak menggunakan nama Uchiha melainkan Namikaze?" Kecurigaannya bertambah, "Aku perhatikan kau menyebut soal Yondaime, ayahku dan kakakku. Tapi, kau sepertinya menghindar untuk membicarakan keberadaan diriku yang lain." Ia masih tak lupa cara bertarung Menma dan penasaran tentang alasan kenapa anak itu menyerangnya begitu saja.
"Oh, ya, dia dan diriku yang lain memakai nama klan ayahku," gumam Naruto. Mengingatkannya bahwa ayahnya pernah menceritakan kalau Naruto memakai 'Uzumaki' dibanding 'Namikaze' wadalah untuk melindunginya dari musuh Minato setelah kematiannya. Jika Menma seperti dia, alasannya memakai nama klan orangtuanya yang lainm... Naruto menarik nafas ngeri! Suaranya terdengar tak percaya, "...Apa Sasuke di masamu... mati?"
"Apa?" Sasuke bingung. Naruto pun menceritakan kenapa dia menggunakan nama Uzumaki dan bukan Namikaze. Masuk akal bila dirinya yang lain memakai nama Namikaze karena Minato di sana masih hidup. Sasuke menatap Menma, "Apa itu benar?" Jika ya, memang bisa diterima kenapa tak ada sedikitpun gaya tarung Sasuke mewarnai gaya tarung anak tersebut. Namun, tetap tak menjelaskan alasan penyerangan tadi.
"Aku juga ingin tahu," Menma menutup mata. Sasuke mendesak, "Apa maksudmu?"
Ia meminum tehnya lalu menghela napas. "Terus terang, kami tak tahu dimana dia sekarang. Aku tak pernah bertemu Sasuke Uchiha," aku Menma. Ia menambahkan dengan berbisik, "Tak sekalipun."
Hening mencekam memenuhi ruangan. Tak ada yang berkata apapun karena mereka merasa Menma belum selesai dan menunggu anak itu menjelaskan bila siap. Menma memulai, "Itu terjadi sebelum aku lahir dan ayahku baru sadar kalau dia hamil waktu hampir berusia 17. Terakhir kali Sasuke Uchiha di Konoha... adalah waktu gilirannya membuka gulungan keramat."
Mata anak itu menatap cangkir tehnya. Para pria dan remaja menyatukan fakta dan bisa menebak apa yang terjadi. "Dia dan ayahku sudah pacaran sejak mereka di Tim Kakashi. Sasuke Uchiha adalah ANBU dan ayahku masih Chunnin waktu itu terjadi. Mereka berniat menikah di ulang tahun ke-17 ayahku. Dua keluarga sibuk mempersiapkan pernikahan. Saat 23 Juli tahun itu, ayahku berencana memberitahu kehamilannya pada Sasuke Uchiha setelah ia kembali dari ruangan gulungan keramat sebagai kado. Tapi..." Menma mengerutkan alis dalam dan penuh kebencian. "...dia tak pernah kembali."
Kesedihan mewarnai suaranya, "Tak ada tanda-tanda pembunuhan, penculikan atau pertarungan. Yang bisa disimpulkan hanya... dia meninggalkan Konoha dengan kesadaran penuh." Menma mengeratkan pegangannya ke cangkir, "Dia meninggalkan ayahku yang sedang hamil 3 bulan tanpa perkataan apapun. Itu waktu terberat ayahku. Dia stress dan depresi. Hampir saja keguguran karena tekanan psikologis. Aku lahir prematur dan dia juga hampir kehilangan nyawa melahirkanku tapi Nenek Tsunade menyelamatkan kami berdua."
Naruto terkaget, "Nenek Tsunade?! Cucu Kakek Shodaime 'kan?"
Menma menggeleng pelan, "Bukan. Tsunade Senju adalah cucu Kakek Buyut Tobirama dan Kakek Buyut Izuna. Sepupu dari Nenek Mikoto."
Pasangan Uchiha dan Senju bersaudara serta Sasuke melotot kaget. Naruto berkomentar ringan, "Oh, bagian itu juga berubah." Sasuke menyela, "Tunggu, maksudmu, Mikoto Uchiha, adalah cucu dari Nidaime dan Izuna di masa depanmu?"
Menma menaikkan satu alis dan tak terkesan, "Bukannya sekali lihat kelihatan? Kupikir sudah sangat jelas karena kau mewarisi paras yang sama sengan Kakek Buyut Izuna dan nenekku, Mikoto."
Izuna dan Sasuke saling melirik seraya Tobirama bertanya, "Kau bilang Tsunade Senju dan Mikoto Uchiha adalah sepupu? Keduanya adalah cucuku dan Izuna?" Anggukan dari Menma sebagai jawaban. Tobirama dan Izuna saling memandang. Menma membaca pertanyaan tanpa kata mereka. "Ya. Itu berarti kalian akan punya 2 anak berdasarkan sejarah di masaku."
"Jadi, dia bukan cucuku?" Hashirama bertanya hati-hati. Menma mengkonfirmasi sekali dan Hokage menghela nafas lega. Madara melirik suaminya sekilas sebelum bertanya ke anak itu, "Jadi, kau dibesarkan tanpa Sasuke tahu soalmu?"
Menma, setengah emosi menatap Madara, menjawab, "Kurasa begitu. Ayahku tak pernah memberitahu kehamilannya pada siapapun karena dia mau Sasuke Uchiha yang pertama tahu." Menutup mata, Menma menenangkan diri. "Aku dibesarkan di rumah ayahku. Kediaman Yondaime Hokage. Kakek Fugaku menawarkan ayah menikah dengan pamanku dan memakai nama Uchiha karena kehamilannya tapi ayahku menolak. Karena itu, aku tetap memakai Namikaze begitu juga ayahku." Penekanan kata dan lirikan penuh amarah sekaligus benci ke arah Sasuke membuat yang lain sadar satu hal.
Tobirama bergumam, "Karena itu kau menyerang Sasuke..."
"Ayahku tak pernah menikah," Menma menggertakkan gigi menahan amarah. "Sasuke Uchiha meninggalkannya 13 tahun lalu tapi ayahku tak menginginkan orang lain selain dia," mata birunya menggelap. "Aku sering melihat ayahku menangis, mengantarkannya ke sesi terapi Nenek Tsunade, dia menderita karenanya tapi masih menunggunya!"
"Menma," Naruto memanggilnya pelan dan menaruh tangannya di atas tangan anak itu. Mata mereka bertemu. Menma merasakan Naruto melihat sampai ke dalam jiwanya. Safir kembar yang menatapnya dengan hangat, berempati dan ada setitik kesedihan bersembunyi di balik tatapan hangat. Sama seperti safir kembar ayahnya. Jika milik Naruto disebabkan masa kecilnya kesepian, ayah Menma memilikinya setelah kepergian Sasuke Uchiha. "Ck," anak ini memalingkan muka. Kehangatan yang menyelimuti tangannya milik ayahnya tapi bukan ayahnya. Menma mengenggam balik tangan Naruto dengan erat namun pelan.
Hashirama mengerutkan alis melihat itu. Menma tak mengalami perang seperti mereka ataupun Sasuke dan Naruto tapi ekspresi pahit di wajahnya saat menggenggam tangan Naruto sungguh pemandangan sedih. "Apa kau tahu alasan aku di masa depanmu meninggalkan Konoha?" Sasuke bertanya tiba-tiba. Hashirama menyarankan, "Cukup untuk hari ini, Sasuke."
"Tidak," Sasuke menegaskan. "Dia memulainya dengan datang ke sini. Dia harus menyelesaikan ceritanya."
"Sasuke!" Naruto dan Hashirama tidak setuju bersamaan.
Remaja Uchiha mengabaikan protes dari kedua reinkarnasi Asura dan lurus menatap Menma. "Aku yakin kau tahu harga yang kami korbankan karena kedatanganmu." Sasuke menyipitkan mata. Mereka seharusnya sudah kembali ke masa depan sekarang kalau bukan karena Menma datang. Ditambah, setelah Naruto mendengar cerita masa depan yang lain, mustahil meminta untuk lupakan saja dan kembali ke masa depan secepatnya.
Mata Menma terbelalak. Dia tahu sindiran Sasuke mengenai kehamilan Naruto karena di masanya, kehamilan laki-laki adalah hal wajar. Ia pun tahu sifat ayahnya sebagaimana Sasuke paham sifat Naruto dan mengetahui arah pemikirannya. Akan berbahaya bagi kehamilan Naruto jika menunda kepulangan mereka lebih lama. "Selesaikan," nada Sasuke tak memberi ruang untuk membantah.
Menma menunduk dan merengut. Ia melanjutkan, "Awalnya, kami tak tahu alasannya. Saat aku tumbuh besar, aku membangkitkan Sharingan di usia 6 tahun, membangkitkan Mangekyou Sharingan 5 tahun lalu dan minggu lalu di misi pertamaku sebagai Jonin... aku kehilangan timku sekaligus sahabatku," suaranya kembali sedih, "lalu, Rinneganku bangkit. Sebelum aku, ada orang lain yang membangkitkannya di masa ini karena itu ayahku mencari gulungan tentang orang itu dan tak sengaja menbuka gulungan keramat yang disimpan di ruangan yang sama."
Semua mata mengarah pada Madara yang mengerutkan alis. Izuna bertanya dengan was-was, "Apakah orang itu kakakku?"
Semua orang mengira begitu sebab Madara di masa depan Sasuke dan Naruto adalah satu-satunya yang bisa melakukannya. Hashirama berwajah keras. Dia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu tapi Menma mengagetkan mereka dengan, "Tidak. Bukan dia."
Tobirama bertanya hati-hati, "Jadi, siapa?"
Madara melebarkan pandangannya di saat Menma menatapnya sebagai jawaban bisu. Hashirama menyadari 'siapa' sewaktu pandangan Menma pun jatuh padanya. Keterkejutan di wajah Pendiri Konoha menjadi tanda dan ia pun menjawab, "Putra dari Para Pendiri Konohagakure, Hashirama dan Madara Uchiha. Hiko Uchiha."
Semua bungkam.
Menma bertanya pelan, "Kalian semua kelihatan tahu nama itu. Apa dia sudah lahir sebelum aku tiba di masa ini?" Naruto mengangguk. Dia menceritakan singkat pada Menma bahwa 3 minggu lalu Hiko lahir dan ia membantu kelahirannya. "Oh... kalau begitu, Toshizo Senju juga sudah lahir, bukan?" Menma bertanya ke para kakek buyut. Izuna mengangguk. Menma menghela napas berat.
"Kenapa dengan itu?" Tanya Sasuke.
"Berat untuk kukatakan karena tak berakhir bagus di sejarahku," ia melirik ke para pendiri dan adik mereka. Keempatnya merasa tak akan menyukai apapun itu, namun Hashirama memutuskan, "Ceritakanlah."
Tak ada yang bersuara sebelum Menma mulai dengan, "Yang aku tahu, saat Hiko berumur 10 tahun, dia diculik oleh musuh Kakek Madara dan Shodaime." Walaupun lahir sebagai anak keduanya, dia tak memiliki keistimewaan orangtuanya. Pintar tapi bukan dalam tingkat jenius Uchiha kebanyakan. Terlebih tingkat Madara. Dia tak bisa menggunakan Mokuton. Para musuh melihat ini sebagai kesempatan emas lalu menculiknya. Hokage datang menolong. Bertarung dengan ninja tak terhitung jumlahnya. Sharingan Hiko bangkit untuk pertama kalinya. Namun, dia masih bocah 10 tahun dan Uchiha yang dikategorikan tak berbakat jadi mudah menjadikannya sandera. Shodaime kehilangan nyawa melindungi Hiko. Madara sedang di rumah saat itu karena hamil tapi keguguran karena berduka atas kehilangan Hashirama. Hiko membangkitkan Mangekyou Sharingan di hari yang sama dengan kematian ayahnya.
Menma menatap dengan simpati ke pasangan pendiri Konoha. Ia melanjutkan, "Setelah kematian Kakek Shodaime, Kakek buyut Tobirama menjadi Nidaime Hokage." Madara melatih Hiko dengan tangan besi supaya anak itu bisa melindungi dirinya sendiri. Hal itu memicu pertengkaran antara Madara dan Tobirama. Hokage Kedua berpikir bahwa akan lebih baik jika Hiko berhenti menjadi ninja karena satu langkah lagi ia bisa membangkitkan Rinnegan. Madara tidak setuju karena ia tak mau membiarkan putranya tanpa perlawanan sekalipun jika harus mati sebab ia kerap menjadi target dari musuh Madara. Keduanya bersitegang tapi tak pernah bertarung serius karena Izuna selalu melerai. "7 tahun setelahnya, tragedi itu terjadi," Menma menyatukan kedua alis. Berat untuknya menyampaikan ini.
"Apa yang terjadi?" Izuna tahu pasti bukan hal yang baik melihat Menma berwajah sedih. Anak itu menutup kedua mata erat, "Kakek Madara ditemui oleh Zetsu Hitam."
"Makhluk hitam itu..." Sasuke berdesis.
Menma mengangguk, "Suatu hari, Kakek Izuna cemas kenapa Kakek Madara belum juga kembali setelah misi diplomatisnya selesai." Ia meminta Tobirama mencari Madara karena ia tak diperbolehkan mencari sendiri. Putri mereka, Tsubaki Senju, berumur 6 tahun pada saat itu dan belajar dari pengalaman kakaknya, Tobirama tidak mau membiarkan putri mereka sendirian. Anak dari Hokage sering menjadi target dari musuh Konoha. Karena itu, ia pun mencari Madara. Sayangnya, sudah terlambat...
Zetsu Hitam meracuni Madara karena ia butuh kematian Madara agar Hiko membangkitkan Rinnegannya. Tobirama menemukan Madara bersimpah darah dan terbatuk parah. Napasnya nyaris tak ada tapi Madara berhasil menceritakan apa yang terjadi. Ironisnya, Hiko yang ikut mencari ayahnya setelah tahu ia belum kembali, bertemu Zetsu Hitam. Makhluk itu berbohong padanya dengan mengatakan Tobirama membunuh Madara dalam pertarungan. Hiko tahu ayah dan pamannya tidak dalam hubungan yang baik sehingga ia sedikit percaya. Namun, saat sampai ke tempat Madara tewas dan Tobirama juga di sana. Hiko dikuasai emosi. Rinnegan bangkit sesuai rencana Zetsu Hitam.
Hiko menyerang Tobirama tanpa ampun akibat amarah. Tobirama yang mengetahui kemampuan Rinnegan dari Sasuke nyaris tidak selamat. Hiko hampir membunuhnya tapi pengalaman Tobirama dalam perang dan pengetahuan mengenai Rinnegan membantunya menang dengan membunuh keponakannya itu. Ia menghancurkan Rinnegan dan membawa pulang tubuh kakak ipar dan keponakannya. Izuna marah kepada suaminya tapi dia tahu resiko Rinnegan, lagipula... Tobirama tak bertahan hidup lama. Sehari setelah kembali dan memberitahu Izuna serta menunjuk muridnya menjadi Hokage Ketiga, ia pun menghembuskan napas terakhirnya.
"Itulah yang terjadi..." Menma mengakhiri dengan berbisik. Yang mendengar hanya bisa mematung dan memucat. Kehilangan kata-kata. Sasuke bertanya pelan, "Bagaimana kau tahu semua ini?"
"Semuanya tertulis di gulungan keramat. Kakek Tobirama menuliskan tentang Hiko sebelum kematiannya dan menambahkannya ke gulungan. Aku dengar dari Ayahku yang membacakannya," Menma mengambil napas dalam. Dia menjelaskan bahwa Izuna yang meminta hanya yang sudah berumur 17 tahun yang boleh mencoba membuka gulungan itu karena dia tak mau ada anak-anak menanggung beban seperti keponakannya atau Sasuke dan Naruto dari masa depan.
Tetiba, Madara beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Hashirama berkata, "Cukup untuk hari ini," dan mengikuti suaminya. Tobirama dan Izuna pun juga pergi. Hanya mereka bertiga di sana. Diselimuti keheningan yang berat. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
—000—
Hashirama menemukan Madara di kamar mereka menggendong Hiko di tangannya. Ia menutup shoji dan berjalan ke suaminya yang menatap anak mereka dengan lembut namun berkecamuk terpancar. Ia berhenti di sebelah suaminya, "Apa dia bangun?"
"Tadinya, tapi sekarang ia tertidur lagi," jawab Madara. Hashirama tersenyum pada Hiko seraya membelai rambut hitamnya. Lahir prematur membuat Hiko lebih kecil dari bayi normal Hashirama memberinya perawatan intensif sehingga ia sehat walaupun kecil. Mereka memandangi penuh kasih putra mereka dalam diam sebelum Madara bergumam, "Ini keputusanku..."
Hokage berkedip, bertanya, "Dara?"
"Aku meminta Tobirama melakukan apapun yang dibutuhkan jika Hiko mebnagkitkan Rinnegan dan dimanipulasi Zetsu Hitam," aku Madara. Hashirama terkejut. "Apa?"
Madara memberitahu Hashirama tentang pembicaraannya dengan Sasuke saat mereka berburu bijuu dulu. "Aku memintanya memberikan informasi mengenai Rinnegan ke Tobirama jadi bila kemungkinan terburuk terjadi, ia akan mengambil keputusan tepat," suaranya menjadi sedih, "Ternyata, kemungkinan terburuk memang terjadi di masa depan Menma..."
Hashirama merengut, "Bukankah seharusnya kau membicarakan ini denganku dulu?"
Madara terdiam lama lalu bergumam, "Maaf..."
Keduanya tahu Hashirama benar tapi mereka juga sadar penuh alasan atas keputusan itu. Hokage menghela napas, dia melingkarkan lengan kanan di bahu Madara dan mencium kepala suaminya lembut. "Tak apa, aku tidak menyalahkanmu."
Airmata pun mengalir.
Ia merasa bersalah tak berpikir untuk memberitahu Hashirma atas keputusan tersebut. Hashirama berhak tahu karena ia juga ayah Hiko. Bagaimanapun, yang bersangkutan justru tak menyalahkannya. Ia tahu suaminya berhati emas seperti Naruto dan itu menyentuhnya lebih dari apapun.
"Seharusnya kau menyalahkanku," Madara menyatukan alis, "kelihatannya apapun keputusan yang kuambil, hanya akan berakibat buruk seperti yang terjadi di masa depan Sasuke dan Naruto atau Menma." Ia menutup kedua mata erat, "Kenapa aku begini?"
"Aku rasa itu kebiasaan Indra," Hashirama tersenyum tak yakin atas analisis tak berdasarnya. "Kedengarannya kedua Sasuke, baik di masa depan Menma ataupun yang di sini, membuat keputusan sama tanpa mendiskusikan dengan orang lain, apalagi reinkarnasi Asura. Ingat Kyuubi bilang apa waktu pertama muncul di depan kita saat bertukar tubuh dengan Naruto? Indra sering mengambil kesimpulan dengan cepat dan memutuskan secara sepihak. Dari cerita Sasuke dan Naruto tentang masa lalu Indra, jujur, kupikir itu kebiasaannya untuk melakukan segala sesuatu sendirian karena dia pikir dia bisa tanpa orang lain."
Madara membuka mata dan menatap suaminya yang tersenyum lembut, "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kebiasaan lama sulit hilang, kau tahu itu." Memang tak terbukti pasti namun tak berarti kemungkinan analisis Hashirama mengenai kebiasaan Indra adalah nol sama sekali. Seharusnya perkataan barusan membuatnya merasa lebih buruk tapi sesungguhnya ia merasa bebannya diringankan mengetahui dirinya di kehidupan sebelumnya ataupun reinkarnasi di masa mendatang mengambil keputusan yang sama. Madara tersenyum pahit, "Mungkin saja."
Nada senang mewarnai suaranya, "Bisa kukatakan bahwa memaafkan memang mengalir di jiwamu... Sama seperti Naruto. Kurasa itu kebiasaan Asura, bukan?" Hashirama terbelalak sekilas sebelum tertawa. "Mungkin saja."
Mereka memandang wajah tidur Hiko sekali lagi, Madara bertanya, "Apa yang harus kita lakukan?"
"Melindunginya," Hashirama membulatkan tekad. "Dia tak akan mewarisi Mokuton-ku karena itu kemampuan Asura. Jenius atau tidak, dia putra kita. Percayalah pada Hiko, Madara."
"Apa menurutmu ini harga yang harus kita bayar karena mengubah sejarah?" Madara bertanya pelan.
Hashirama diam sesaat sebelum menjawab, "Aku tidak tahu tapi memang tak terhindarkan. Menurutku, tak ada yang mengacaukan sesuatu dan bebas dari akibat. Begitulah hukum sebab-akibat. Yang pasti," Hokage mencium kening bayinya, "kedatangan tiga orang dari masa depan berbeda serta memperingatkan kita merupakan sebuah berkah. Sebaiknya jangan disia-siakan."
Madara menangkap maksud Hashirama dan mengangguk, "Aku tahu."
—000—
Izuna mengayukan perlahan Toshizo di gendongannya sebelum menidurkannya di futon dan menyelimutinya. Ia memandang wajah tidur putranya dengan senyum di bibir. Lalu, ia melihat Tobirama duduk depan chabudai (meja berkaki pendek) di sudut ruangan yang sering ia jadikan meja kerja. Khawatir, ia pun bertanya, "Tobi, apa kau baik-baik saja?"
"Kelihatannya... apapun jurus yang kuciptakan, akan membawa masalah di masa depan," gumam Tobirama. Ia membenamkan wajah di kedua telapak tangan yang bertumpu pada siku di atas meja. "Edo-tensei... ninjutsu melintasi waktu..."
"Tobi..."
"Tak hanya aku di sejarah Sasuke dan Naruto membunuhmu, tapi di sejarah Menma aku membunuh keponakan kita..."
Izuna berdiri lalu berjalan ke suaminya sebelum berlutut di belakang Tobirama. Ia memeluk dari belakang dengan lembut. Membiarkan dadanya menekan punggung belakang Tobirama. Pemilik mata rubinterpana. Izuna mengalungkan tangan di lehernya. "Izu?"
"Masa depan terbentuk dari apa yang kita lakukan di masa sekarang, Tobi."
Tobirama membatu. Izuna melanjutkan dengan lembut, "Bukan salahmu atau salah kakak-kakak kita atas terbentuknya masa depan seperti milik Menma atau Sasuke dan Naruto. Dari dua masa depan ini, jelas terbukti bahwa apapun yang kita putuskan akan memberikan dampak. Kita tak bisa menghindari itu. Semua pilihan memiliki hasil berbeda. Kau seharusnya tak mengkhawatirkan itu dan lihat sisi baiknya."
"Sisi baik?"
"Setidaknya, di masa depan Menma tidak ada Juubi atau Perang Dunia Ninja. Aku tak akan bohong ataupun berdelusi tapi konfrontasi dengan Klan Uchiha memang tak terhindarkan mengingat klan kami sangat bangga atas klan sendiri dan sering membutakan. Setidaknya, klan tak akan diambang kepunahan seperti di masa depan Sasuke," jujur Izuna.
Tobirama bergumam, "Tapu, Hiko—"
"Kita adalah shinobi," Izuna mengingatkan dengan tegas. "Orang yang sanggup menahan kesulitan untuk tujuan kita. Mungkin terdengar kejam baginya tapi tanpa Rinnegan miliknya, tak ada perang di masa depan Menma."
Tobirama diam dalam pemikiran. Izuna tersenyum "Dan apa kau tidak dengar cerita Menma? Dia bilang kita akan punya dua anak dan cucu-cucu perempuan. Bahkan, Sasuke dan Menma adalah keturunan kita."
Mereka tertawa kecil bersama.
Izuna mencium kepala Tobirama penuh sayang, "Kau tidak melakukan kesalahan, Tobi. Aku paham betapa berat pilihanmu dan kau memilih yang terbaik. Aku yakin itu. Kau sangat berani," ia berbisik jujur, "aku mencintaimu."
Rubi kembar terbelalak dan airmata menetes darinya. Ia belum melakukan apapun kepada keponakan mereka namun ia sudah merasa bersalah hingga menyalahkan diri sendiri. Kata-kata cinta Izuna berisikan pesan memaafkan yang ia damba sejak mendengar cerita masa depan Menma. Tobirama berbalik badan dalam pelukan Izuna. Begitu wajah mereka berdekatan, Tobirama menciumnya lembut. Mendekap Izuna hangat dan membenamkan wajah di leher suaminya.
"Terima kasih," suaranya tertutupi tapi Izuna mendengar. Ia membelai lembut rambut perak suaminya.
—000—
Di waktu yang sama, Naruto merasa kesal. Ia melotot ke Sasuke dan Menma yang duduk di sisi dinding saling bersebrangan dalam kamar. Membuang muka agar tak bertemu pandang. Alis Naruto berkedut.
"Hentikan kontes mengambek kalian, Menma, Sasuke."
TBC
Yak! Makasih sudah mau baca dan review! Nah, kan enak kalo banyak yg respons gitu, soalnya kan ga tau ada yang baca gak kalo review dikit. Aku tuh sedih kalo review dikit jadi males ngelanjutin ini...
, _ ,
Semua penjelasan Menma uda 90% kelar, kalo ada yang kurang paham, tanya aja ya.
bbreal: Hah? Saingan Sasuke? Siapa? Wah, barbar ya? Gak nyangka...
princess pink: hah? kudu ikhlas gak dapet review? ya situ jadi reader juga kudu ikhlas kalo author discontinued dong. Emang terserah reader mau review atau gak, tapi tolong diingat bahwa terserah author juga mau nerusin apa gak. Ikhlas gak ikhlas itu masalahku, bukan masalahmu. Kalian minta update, aku ya minta review, apa salah? Kalo salah, kalian juga ga berhak dong minta update. Adil kan? Iya makasih buat pujiannya.
Uchiuzuraa: kalo ada yang ga dimengerti, tanya aja ya.
elLagark: Somewhere over there.
Namikaze Ichilaw: Iya, datang dari masa depan beda dimensi gitu! Pemberontakkah? Hmm...
the25: Baru kali ini dirimu review di sini kan ya?
Kirei Hana593: Gak berasa dinantikan kalo gak direview jadi review ya
kimcop98: 8 chapter lagilah tamat, review terus kalo mau ini tamat!
Nana: Iya makasih! Dilanjut kalo banyak review ya jadi review terus!
Yareyar3: Hmmm... kayaknya gak ada deh, sorry!
