Disclaimer: I do not own Naruto. I own nothing except the OCs and the plot.
"Aku tidak ngambek," bantah Menma. Sasuke tetap bungkam.
Naruto mendengus, "Ya, ya, kalian sudah begini sejak sejam lalu para kakek keluar dari sini." Baik Sasuke dan Menma tak mengatakan apapun. Naruto pun mengerutkan alis dalam. Ia bergumam, "Tak heran kalian ayah dan anak..."
Tak ada pergerakan dari mereka berdua. Naruto menggelengkan kepala, "Oke, terserah kalian. Aku lapar jadi aku mau cari makan. Selamat menikmati kontes ngambek ini deh." Ia berbalik ke arah shoji (pintu geser) tapi terhenti ketika Sasuke berdiri dan mendekatinya.
"Kau akan meninggalkanku berdua saja dengannya?" Bisik Sasuke tak percaya. Naruto tidak mengerti arah pembicaraan kekasihnya. "Kenapa tidak? Aku lapar, Sasuke," rengeknya. "Aku hamil, makan untuk dua orang nih."
Sasuke menatapnya lembut namun mengeras lagi waktu Naruto menambahkan, "Lagian, dia kan cuma anak-anak."
"Kau bisa bilang itu karena dia tidak menyerangmu tadi," balas Sasuke pahit. Naruto menaikkan satu alis, "Emang apa salahnya dengan itu?"
Permata gelap kembar melebar, "Dia tidak tahu aku, bahkan tak pernah bertemu aku di masanya sendiri yang merupakan ayah kandungnya dan dia menyerangku sekuat tenaga. Tentu saja itu salah!"
"Sebagai pembelaanku," Menma menginterupsi dari tempatnya dengan tenang, "kau melawan musuh sekuat Rikudou Sennin jadi aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku untuk memberikan pukulan ke wajahmu."
Sasuke berdesis, "Dengar 'kan?"
Naruto menelengkan kepala sedikit, "Kurasa tidak salah. Dia sangat marah pada Sasuke di masanya atas penderitaan diriku yang lain. Aku juga akan melakukan hal yang sama kalo aku jadi Menma. Yah," ia mengaku, "aku juga begitu sebenarnya. Aku meninju ayahku waktu pertama kali melihatnya pas Kurama mau terlepas dari badanku di penyerangan Pein. Itu juga pertama kalinya aku tahu kalau dia ayahku."
Sasuke membeku. Ia tak menyangka itu. Dibesarkan oleh kedua orangtua dengan tata krama ketat, sulit dibayangkan dirinya menyerang orangtuanya sendiri. Ia pun bertanya, "Kenapa?"
"Dia yang menyegel Kurama di dalam badanku sejak aku baru lahir. Kau lihat sendiri masa kecilku tidak senormal anak lain karena itu," tutur Naruto. Sasuke yang mengerti alasannya berkata, "Yondaime melakukannya untuk melindungimu!"
Sekali lagi, Menma menginterupsi dengan pandangan penuh arti. "Itu alasannya," gumamnya.
Naruto bingung, ia dan Sasuke menoleh ke Menma, "Hah?"
"Berdasarkan ayahku, alasan Sasuke Uchiha pergi... adalah tidak mengulangi kejadian Hiko," jawab Menma datar. Sasuke meminta, "Jelaskan."
"Di hari ia membuka gulungan keramat, karena dia juga reinkarnasi Indra, dia membaca semuanya. Uchiha tengah bersitegang tahun itu karena Shiki menyebutkan orang yang akan mewarisi ambisi balas dendamnya akan muncul tahun itu. Tapi, Sasuke Uchiha tak berniat soal balas dendam Shiki sebab ia mewarisi gen Senju dari Kakek Buyut Tobirama. Ia lebih terfokus pada kejadian Hiko. Dia yakin ayahku juga reinkarnasi Asura dari nama kalian yang sama."
Sasuke menaikkan satu alis, "Kau bilang kau tak pernah bertemu diriku yang lain tapi kedengarannya kau tahu niatannya dengan baik."
"Surat..." Jawabnya setelah terkaget sekejap. "Sasuke Uchiha menulis sebuah surat yang ia masukkan di gulungan keramat. Dia pikir, ayahku akan membukanya 3 bulan kemudian di ulang tahun ayahku ke-17. Bukan 13 tahun setelahnya. Ayahku memiliki komplikasi kehamilan di ulang tahunnya dan semua keluargaku fokus mengurusnya jadi mereka mengabaikan aturan gulungan keramat hàrus dicoba buka oleh yang berumur 17 tahun." Suaranya melembut kala menjelaskan, "Ayahku... menangis setelah menemukan dan membaca surat itu. Ia merasa lega tahu alasan Sasuke Uchiha meninggalkan Konoha."
"Apa alasannya?" Naruto masih mencerna. "Dan apa hubungannya dengan Hiko? Aku tidak mengerti."
Menma menerangkan, "Sasuke Uchiha memprediksi bahwa anaknya dengan ayahku, yah—maksudnya aku— akan membangkitkan Rinnegan seperti Hiko. Dia... tidak mau anaknya yang manapun dengan ayahku mengalami tragedi seperti Hiko jadi... dia memburu Zetsu Hitam sendirian. Sebagai reinkarnasi Indra, dia tahu Zetsu Hitam akan mendekatinya. Ia tidak tahu ayahku hamil dan ayahku percaya Sasuke Uchiha pikir dia harus menghadapi Zetsu Hitam sendirian agar ayahku tidak disakiti. Kurasa ayahku berdelusi soa—"
"Pffft—" Naruto terbahak-bahak.
Menma menelengkan kepala menatap Naruto. Bingung. Sasuke merengut lalu menutup mata. Menma menatap mereka satu persatu seolah dia tahu ada sesuatu terlewat dari pemahamannya yang menimbulkan reaksi ini. "Ayah?" Bingung mewarnai suaranya.
"Oh, itu lucu sekali!" Pirang Uzumaki masih tertawa. Menma mengakui, "Aku tidak paham..."
Naruto nyengir, ia menunjuk Sasuke yang berdiri di sebelahnya, "Sasuke di masamu dan Sasuke yang ini tidak ada beda. Aku jamin itu."
Terbelalak, hanya butuh sepersekian detik untuk menangkap maksud tersirat dari kalimat barusan. Ia beranjak dari duduknya dan mendekati mereka. Menma melotot marah ke Sasuke sebelum bertanya ke Naruto, "Dia meninggalkanmu juga?!"
Pirang Uzumaki mengangguk dengan senyum pahit, "5 tahun." Naruto tersenyum geli ke Sasuke tanpa menutupi air muka penuh kemenangan, "Untuk alasan yang sama."
"Melindungimu?" Menma tak percaya. "Ayah... aku tahu usiamu lebih muda dari ayah di masaku dan aku tak bermaksud tidak sopan karena itu. Tapi, gunakan kepalamu."
"Maksudmu aku bodoh?" Naruto menjitak Menma lalu tertawa dan mengacak-acak surai hitam anak tersebut. "Kurasa memang sudah mendarah daging bahkan diriku di masamu juga sama. Mungkin itu juga sudah mendarah daging di Sasuke untuk melakukan kebiasaanya."
"Hah?" Menma cengo.
Naruto menceritakan tentang hubungan balas dendam Sasuke dan Itachi di masanya. "Kau tahu Sharingan akan meningkat kemampuannya kalau orang terdekat si pengguna mati?" Tanya Naruto dan Menma mengangguk. "Sasuke meninggalkanku karena dia tak bisa membunuhku. Aku orang terdekatnya selain Itachi. Jadi, dia pergi untuk mencari cara lain agar memperkuat doujutsu-nya tanpa harus membunuhku," Naruto tersenyum lembut ke Sasuke yang memalingkan wajah.
"Tidak mungkin," komentar Menma masih tidak percaya. Naruto nyengir lagi, "Bener kok."
"Kau percaya itu karena cinta," tuduh anak itu. "Tidak objektif."
Naruto tersipu, "Memangnya kau tidak?" Balasnya. "Kau terdengar benci Sasuke karena dia pergi dari Konoha tapi sebenarnya kau merasa sedih sebab tak hanya karena aku di masamu menderita tapi juga kau merindukannya hadir di kehidupanmu meski tak pernah bertemu Sasuke."
Menma terkejut, tanpa sadar dia mengambil satu langkah mundur dari Naruto. Safir kembar melembut dengan suara hangat ia melanjutkan, "Tak peduli kau menilainya sebagai orang terburuk karena perilakunya di masa lalu, kau masih berpikir bagaimana hidupmu jika dia di sana sewaktu kau lahir, bukan? Atau di setiap ulang tahun?" Anak itu terpana. Ia pikir dia sudah menutupi perasaannya dengan sempurna. Namun, Naruto tahu tiap detail hal yang ia pikirkan tanpa memberitahu siapapun termasuk ayah kandung di masanya karena tak mau membebani sang ayah.
"Seranganmu barusan adalah bentuk frustasimu yang bertumpuk seumur hidupmu, bukan?" Mata Menma bersinar oleh air mata tertahan. Naruto tersenyum, bergumam, "Kau dengar kami tadi 'kan? Aku pernah di posisimu. Aku tahu bagaimana rasanya berandai-andai tentang orangtua yang tak pernah kulihat."
Sasuke menatap keduanya bergantian.
"Tak masalah apakah kami dari realita yang berbeda karena... bagimu," Naruto menatapnya hangat, "bagaimanapun juga, Sasuke masih ayahmu. Kau tahu itu. Karena itu juga kau memanggilku 'Ayah'."
Berkedip beberapa kali sebagai upaya mencegah jatuhnya air yang tergenang di mata, Menma membeku.
Naruto memeluk anak tersebut dengan penuh sayang. Safir kembarnya pun memiliki air mata tertahan. "Aku tidak bisa bilang Sasuke di masamu atau ayahku mengambil keputusan yang salah. Aku tahu maksud mereka dan paham alasannya. Kau anak pintar, Menma. Kau Jonin, bukan? Aku tahu kau mengerti," ia berbisik menenangkan. Naruto tertawa kecil sambil melirik ke Sasuke, "Yah, tapi bukan berarti mereka tak berhak mendapat pukulan dari putra mereka. Aku setuju denganmu untuk bagian itu."
Nada bangga mewarnai suara Naruto yang menyatakan, "Kau sungguh putraku, Menma. Aku bangga padamu."
Hancur sudah pertahanan Menma dan air mata jatuh membasahi pipi tatkala tangannya memeluk Naruto. Ia membenamkan wajah di bawah leher Pirang Uzumaki. Suaranya tertutupi pakaian Naruto tapi terdengar, "Ayah... maaf... aku datang ke masa ini... aku tak bermaksud menunda kepulanganmu ke masa depan..."
Sasuke dan Naruto bertukar pandang sebelum bertanya, "Apa maksudmu?"
"Aku... seharusnya tidak tahu soal gulungan keramat. Aku menguping pembicaraan ayahku waktu ia memberitahu Kakek Fugaku, Kakek Minato dan Paman Itachi," jujur Menma. "Paman menyadari keberadaanku dan aku nyaris tidak bisa lari lagi jadi waktu aku menemukan gulungan berisi jurus ninja melintasi waktu, aku langsung ikuti intruksinya dan tiba di sini."
Naruto bingung, "Kenapa kau mau gunakan gulungan itu untuk lari dari Itachi?"
Menma tidak menjawab selama beberapa detik dan menengadah menatap Naruto serta Sasuke yang di sampingnya. Ia nampak putus asa dan bersalah, "Bukan untuk lari. Aku mau kembali ke 13 tahun lalu dari masaku untuk..."
Segera, keduanya tahu maksud Menma. Anak itu mencoba membuat masa depan dimana dia memiliki 2 orangtua. Harapan bocah tapi apa yang mereka harapkan? Jonin ataupun bukan, Menma masih 12 tahun. Bahkan keduanya paham sekali alasan Menma sebab keduanya kehilangan orangtua di usia belia. Menma meminta maaf lagi, "Maafkan aku... Ayah... maaf..."
Naruto tersenyum hangat, membelai pipi anak itu, "Tidak apa-apa. Kita akan melakukan sesuatu. Ya 'kan, Sasuke?" Ia menoleh ke Uchiha di sebelahnya dengan pandangan penuh arti. Peringatan bisu agar Sasuke tak memperburuk suasana dengan komentar tak berperasaan khasnya. Jelas, Menma tidak tahu bahwa gulungan itu hanya bekerja sekali untuk satu orang dan dia tak butuh informasi itu sekarang karena akan membuatnya makin terpuruk. Tentu, ia menangkap pesan bisu dari Naruto. Tapi, Sasuke ya Sasuke. Dia tak akan bermulut manis.
"Apa kau tahu kau terjebak di era ini?" Sasuke memulai. Menma tersentak. Naruto melotot dan membentak, "Sasuke! Jangan!"
Sasuke tak mengindahkan Naruto dan menjelaskan pada Menma apa yang dikatakan Tobirama beberapa hari lalu. Anak itu memucat. Terbata, "A-aku... tidak bisa pulang?"
Naruto mencoba menenangkan anaknya, "Tak apa, Menma. Kita bisa tanya Kakek Nidaime besok, dia pasti punya solusi."
Menma masih pucat, tak percaya bujukan sang ayah. Naruto tetap mencoba menenangkan tapi Menma tak bergeming dari murungnya. Sasuke menghela nafas dan memotong, "Aku bisa membuat jurus untuk membantumu kembali."
Naruto tergagap sementara Menma terbelalak dalam kaget. Sasuke memalingkan wajah dari mereka. Naruto terlalu syok untuk berkomentar. Menma menatap Sasuke dengan kagum. Canggung untuk Sasuke karena ia tak percaya kata-katanya tak akan memperburuk jadi ia memilih diam. Jarinya terangkat dan mengetuk dahi Menma dengan ujung jari tengah serta telunjuknya sebelum menambah dengan canggung, "Lain kali hati-hati," ia menatap anak itu dengan lembut, "Menma."
Terpana, Menma menggerakkan tangannya untuk menggenggam kimono Sasuke. Baik Naruto maupun Sasuke terbelalak sekejap sebelum Naruto nyengir dan memeluk keduanya sekaligus. Sasuke dan Menma terkaget namun mereka pun memeluk balik.
—000—
Tengah malam, Hashirama bekerja di kantornya ketika Tobirama masuk. Hokage berhenti membaca gulungan laporan dan tersenyum pada adiknya.
"Tobirama," panggilnya, "Ada laporan penting yang harus aku cek sekarang juga?"
Senju yang lebih muda menjawab, "Tidak. Aku ke sini bukan untuk itu."
"Oh," akhirnya sadar, Hashirama bertanya dengan khawatir, "Apa kau baik-baik saja? Bukan hal menyenangkan yang kita dengar hari ini."
Si adik seharusnya tahu kalau Hashirama tak akan menaruh dendam padanya bahkan setelah mendengar perubahan masa depan dari Menma tapi hatinya terasa hangat mengetahui tak ada yang bisa merubah kebaikan hati kakaknya. Ia menghela napas, "Seharusnya aku yang bertanya itu."
Hashirama tersenyum sedih, "Yah, bisa dibilang sama denganmu."
Tobirama mengangguk, "Bagaimana dengan Madara?"
Hashirama hanya menghela napas berat dan terdiam menatap ke arah meja. Tobirama tidak bertanya lebih jauh karena dia bisa menduga bagaimana efek berita Menma kepada kakak iparnya itu. "Aku mau bicara soal Menma."
Hokage menatap lagi adiknya. "Aku mendengarkan," balasnya. Mereka bicara selama sejam penuh.
"Mungkin ini kesempatan kita satu-satunya," simpul Tobirama.
Hashirama setuju, "Kupikir juga begitu."
—000—
Di waktu yang sama di kamar para pendatang dari masa depan hendak bersiap tidur, Menma bingung, "Aku tahu kita ada hubungan darah atau takdir atau apapun itu tapi..." dia menunduk melihat selimut tipis. Duduk di futon (kasur) yang sama dengan Sasuke dan Naruto di tiap sisi, mereka berada di dalam selimut yang sama pula. Ia bertanya, "... kenapa kalian ada di futon-ku?"
"Buat tidur dong," Naruto menjawab ringan. Anak itu menelengkn kepala, "Kenapa tidak di futon kalian sendiri?"
Naruto menoleh ke Menma, "Kenapa?"
"Aku bukan anak kecil lagi jadi aku bisa tidur sen—"
Pirang satu-satunya di antara mereka berwajah sedih dan air mata tergenang, ia bertanya dengan tidak percaya, "Kau tidak mau tidur dengan kami?"
Menma terkejut, "A-aku..." Ia tak tahu apa yang salah dengan ucapannya hingga Naruto mengeluarkan air mata. Sasuke melihat kegelisahan Menma dan berbisik di telinga anak itu, "Naruto sangat sensitif sejak hamil, sebaiknya melakukan apa yang dia mau atau dia akan menangis berjam-jam."
Melirik ke Sasuke sebentar, kemudian ia menjawab Naruto, "Aku... hanya pikir kalau aku terlalu tua untuk itu." Tanpa diniatkannya, ia justru menyuarakan perasaan aslinya yang ingin ia tutupi sejak ia masih kecil. Pipinya bersemu merah. Naruto nyengir lebar, "Apa masalahnya? Kita 'kan keluarga," is pun berbaring dan menepuk bantal di sebelahmya sebagai isyarat agar Menma juga berbaring.
Anak itu melirik ke Sasuke yang perlahan berbaring juga. Meninggal sisi kosong di antara mereka. Dengan canggung, Menma pun merebahkan badan diapit oleh keduanya. Naruto tersenyum dan memeluk Menma. "Oyasumi, Menma," Naruto mencium pipi sang anak. Menma terkesiap dalam kebisuan ketika ia merasakan tangan dari sisi sebelahnya yang lain memeluk juga. Ia menoleh ke arah Sasuke yang kemudian mencium keningnya seraya membisikkan, "Oyasumi, musuko yo (Selamat tidur, putraku)."
Wajah memerah dan kedua mata berbeda miliknya tergenang air mata tertahan. Secara biologis, mereka adalah ayah dan anak walau dari lintasan waktu yang berbeda. Namun, masa kecil tanpa orangtua membuat Sasuke dan Naruto paham kesepian Menma tanpa diutarakan anak tersebut. Ada ikatan antara mereka dimana orangtua asli Menma mungkin kurang mengerti sebab memiliki masa kecil normal dengan kedua orangtua masih hidup. Tak seperti Sasuke dan Naruto yang ini. Mereka tahu keinginan Menma tanpa bertukar kata-kata seperti tidur bersama ini atau ciuman selamat tidur. Menma pikir dia seharusnya merasa malu tapi... sejujurnya... dia sangat bahagia. Memiliki kedua orangtua menemaninya, memeluknya dan menciumnya sebelum tidur. Menma tahu ini kekanakan mengingat usianya memasuki masa remaja. Akan tetapi... ia menginginkan ini sejak dulu. Memimpikannya. Ia mungkin tak mendapatkan ini dari orangtua aslinya sebab Sasuke Uchiha entah berada dimana. Mereka menemukan suratnya di gulungan itu, tak berarti jadi jaminan Sasuke Uchiha akan kembali ke Konoha. Maka, ia membiarkan dirinya meresapi momen ini dimana mimpinya jadi kenyataan.
Kali ini saja.
Ia tak mau memikirkan hal lain selain tidur didampingi kedua orangtuanya.
Air mata jatuh dalam diam dan ia menahan isakan tapi Sasuke dan Naruto tahu Menma sedang menangis. Keduanya mengeratkan pelukan dan melihat anak itu menangis hingga tertidur. Sungguh menusuk hati keduanya untuk menyaksikan putra mereka begitu dewasa dan piawai tapi juga polos sebagaimana anak pada umumnya. Mereka mencium surai gelap Menma penuh sayang.
Dia masih anak-anak...
—000—
Di pagi hari, seseorang mengetuk shoji (pintu geser dari kertas) kamar para pendatang dari masa depan. Sasuke dan Menma membuka mata hati-hati. Uchiha remaja duduk dengan waspada. Menma mencoba duduk tapi tangan Naruto di atas perut anak ini menahannya. Usahanya kabur berbuah nihil. Dia menoleh ke Sasuke dengan putus asa yang kemudian tangan Sasuke menepuk ringan kepalanya agar ia tetap di tempat. Sasuke beranjak ke pintu lalu membukanya.
"Pagi," sapa Hashirama dengan senyum cerah.
Sasuke mengeluh, "Matahari belum bersinar, Shodaime."
"Naruto mungkin belum tapi aku sudah," balas Hashirama dengan tawa kecil. Sasuke merengut, "Maksudku bukan reinkarnasi Asura yang manapun. Di luar masih gelap. Tapi, memang Naruto masih tidur."
Tobirama yang berdiri samping Hashirama menjelaskan, "Kami tak bisa menemui kalian seharian nanti karena sudah menunda-nunda pekerjaan kami sejak Menma datang. Kami harus bekerja dari pagi buta maka kami ingin bicara dengan kalian sesegera mungkin."
"Seperti yang kubilang, Naru—"
Mereka mendengar Menma di dalam berteriak kaget, "Ayah!"
Kepala menoleh mendapati Pirang Uzumaki berlari ke toilet dan muntah. Hashirama berkata pada Sasuke, "Aku membawakan minuman buatanku untuk meredakan mual-mualnya Naruto." Ia menyodorkan nampan kayu berisi segelas air beraroma herbal dan sperangkat alat minum teh ke Sasuke. Uchiha muda menghela napas dan mengambilnya lalu masuk diikuti dua saudara tadi. Sasuke menaruh minuman di tatami dan pergi ke toilet dimana Naruto berada.
Ia menemukan Menma berwajah cemas berlutut di samping Naruto yang baru selesai muntah. Pusing, Naruto nampak pucat. Sasuke berlutut dan membersihkan keringat sekaligus air ludah di wajah Naruto dengan handuk bersih. Ia memeluk Naruto pelan. Menma menyuarakan kecemasan, "Apa dia baik-baik saja?"
Naruto tersenyum lemah namun tak menjawab. Sasuke mengambil alih, "Cuma mual biasa. Dia sudah seeprti ini beberapa minggu terakhir."
"Berapa umur kehamilannya?" Tanya anak itu lagi.
"14 minggu."
"Tapi, biasanya di usia kehamilan 12 minggu... seharusnya sudah tidak mual separah ini lagi," kaget Menma.
"Ayahmu istimewa," Sasuke tersenyum tipis ke Naruto. " 'Normal' tak ada di kamusnya."
Naruto tertawa pelan dan mencubit lemah tangan Sasuke. Menma terpukau dengan interaksi orangtuanya (dari masa yang lain). Aneh baginya. Pertama, versi remaja dari orangtuanya hanya berjarak 5 tahun lebih tua darinya. Kedua, dia tak pernah melihat ayah aslinya telihat intim dengan siapapun. Hanya sehari sejak ia bangun di masa ini. Ia tak tahu harus merasa bagaimana.
Sasuke mengangkat Naruto di kedua tangannya dan berdiri. "Shodaime dan yang lain mau bicara, ayo kita dengarkan."
Mereka kembali ke kamar tidur di waktu bersamaan dengan Izuna membawa 3 ozen (nampan meja) bertumpuk di tangan. Madara di belakangnya. Saling bertukar sapa dan setelah menutup shoji, merekaberkumpul dekat futon dimana Sasuke mengistirahatkan Naruto.
"Masih mual-mual?" Tanya Izuna dengan simpati. Naruto mengangguk lambat. "Kubuatkan sup untukmu, Naruto. Tenang, bukan nasi kok. Pasti kau tidak mau makan nasi sekarang," senyum Izuna menaruh tiap ozen di depan para pendatang dari masa depan.
Sasuke menyuapi Naruto karena dia masih lemah. Mereka duduk berdekatan dengan Menma di sisi kanan Sasuke. Menma yang memandangi mereka, menolehke Izuna yang menepuk singjat pundaknya. "Makan sarapanmu, Menma. Aku membuatnya sendiri," tutur Izuna.
Menma menunduk ke ozen di depannya. Mirip dengan punya Sasuke. Sup miso, nasi, salmon rebus, 3 potong tamagoyaki dan brokoli. Hanya menu Naruto yang berisi sup ayam. Menma tak melihat ozen di depan para pendiri, "Bagaimana dengan kalian, Kek?"
"Kami sudah sarapan sebelum kemari, " jawab Izuna. Tobirama menambahkan, "Kami akan langsung kerja setelah pembicaraan selesai."
Hashirama mengatakan, "Jangan pikirkan kami, Menma. Makanlah sebelum dingin."
Anak itu mengangguk dan mulai makan dengan mengucapkan, "Itadakimasu." Mereka makan dalam diam. Sasuke makan setelah Naruto selesai. Ia hanya menghabiskan setengah mangkuk supnya. Izuna menuangkan teh dari seperangkat alat teh yang dibawa Hashirama tadi. Setelah semua selesai makan, Menma meminum tehnya dan berterima kasih ke Izuna. "Sangat enak... rasanya mirip masakan Nenek Mikoto," komentar Menma.
Izuna yang membereskan ozen, menoleh ke Menma. "Mikoto... itu cucuku 'kan?" Memastikan saja. Menma mengangguk. Ia membantu Izuna menaruh ozen ke dekat shoji.
"Kurasa itu wajar karena kau membesarkannya sendiri sampai ia berumur 8 tahun," mereka duduk bersama yang lain lagi. Saling berhadapan. Izuna duduk di samping Tobirama dan Menma kembali ke posisi awal di samping Sasuke. Izuna penasaran, "Kenapa?"
"Nenek buyutku, ibunya nenekku sekaligus anak kedua Kakek buyut berdua, mengalami proses melahirkan yang sulit dan tak bertahan hidup tak lama setelahnya. Nenekku bilang kalau dia belajar masak darimu sebelum kakek menutup usia."
Hati Izuna terasa hangat mendengar kisah cucunya di masa depan. Walau tak memberikan reaksi apapun, Tobirama juga merasakan hal yang sama kala bertukar pandang dengan suaminya. Madara dan Izuna menyadari bahwa di masa depan asal Menma... Izuna hidup lebih lama dari Pendiri Konoha dan Tobirama. Kebalikan dari masa depan dimana Sasuke dan Naruto berasal. Madara lega mendengarnya.
Sasuke bertanya ke dua pasangan di hadapannya, "Jadi, apa yang mau kalian bicarakan?"
TBC
Makasih sudah baca! Review ya kalo mau ini lanjut! Namikaze Ichilaw: Ouh, bukan gitu. Sasuke dan Naruto memang ke masa lalu dari timeline mereka (canon) tapi karena mereka buat perubahan di zaman awal Konoha terbentuk, kayak Izuna ga mati, pernikahan Senju-Uchiha terlaksana dll, maka tercipta masa depannya Menma. Jadi masa lalunya tuh sama cuma masa depan tercipta 2, yaitu canon (Sasuke ma Naruto vs Kaguya dll) dan masa depan Menma. Jadi, kayak Trunks di Dragon Ball. Nyambung ga? Iya mah, Sasuke dah kebiasaan gitu hihi
Uchiuzuraa: Yep! Ada 2 masa depan. Selama review banyak, masih lanjut sampe tamat kok. Kalo kering review, nah baru ga dilanjut lagi.
Nana: Semoga terjawab ya di chap ini!
elLagark: dah tradisi~
Kirei Hana593: Makasih! Oh? berbelit dibagian mananya? Topiknya susah atau pemaparan plotnya yang berbelit?
WolfieHunie... : (sorry panjang bets pennamenya) Makasih!
runcharanda: Yep~ debaynya lahir di chapter2 depan! Haha aku suka Naruto yg polos sih~
Awy77 Andrian: Kontes ngambekan ala Uchiha wkwkwkwk
someuw: Makasih! Review terus ya kalo mau ini lanjut!
