Disclaimer: I do not own Naruto. Its belong to Masashi Kishimoto. I own the OCs and the plots.
[ Dia disampingku tapi hanya aku yang bisa hadir di sini karena kalungku dan kalung Menma terhubung. ]
Menma menyadari kadang perhatian ayahnya nampak bukan padanya saja sebab Naruto Dewasa menolehkan kepala ke sisi dimana tak ada orang di sana namun ayahnya terlihat mendengarkan sesuatu sebelum mengangguk.
[ Ah, ya, jadi teringat di lintasan waktu mana ini? Waktu asal kaliankah? Maksudku masa depan yang lain? ]
Tobirama tetiba menjawab, "Tidak, dia ada di masaku. Di masa lalu. Beberapa bulan setelah Konoha didirikan." Naruto Dewasa terkesiap terbelalak menatap Pendiri Konoha dan kedua adik mereka yang tak terlalu diperhatikannya sedari tadi sebab kelewat lega melihat Menma selamat. Ia tak menyembunyikan kekagetan dalam suaranya.
[ Tunggu! Tunggu! Nidaime Hokage? Shodaime Hokage? Oh! Itu Madara Uchiha? Berarti... Woah... Kalau diperhatikan, lelaki di sana dengan wajah mirip Bibi Mikoto dan Sasuke... Mungkinkah Izuna Senju? ]
Izuna tersenyum kecil, "Ya."
[ Karena Sasuke yang remaja di dekatmu, jadi kelihatan sekali kalian sangat mirip! Seperti kembar! ]
Sasuke dan Izuna bertukar pandang sebelum adik Madara mengatakan, "Kami sering mendengarnya setelah kedatangannya dan Naruto di zaman ini." Naruto Dewasa tersenyum. Lagi-lagi, ia menoleh ke arah dimana tak ada orang dan nampak mendengarkan sesuatu.
[ Tahu, aku tahu, Ayah, Paman Fugaku. Aku akan beri salam pada Pendiri Konoha. ]
Ia nampak malu sebab baru diperingatkan ayahnya dan calon ayah mertuanya untuk berlaku sopan. Lalu, Naruto Dewasa menatap Pendiri Konoha. Ia membungkuk canggung.
[ Salam kenal, Shodaime Hokage, Madara Uchiha. Saya Naruto Namikaze. Ayah dari Menma dan putra dari Yondaime Hokage, Minato Namikaze. ]
"Jangan terlalu kaku, Naruto. Ini pertemuan pertama kita tapi kami sudah hidup dengan Naruto yang ini," Hashirama tersenyum ramah melirik ke Naruto Remaja, "hampir setahun. Dari caramu bicara dan tersipu menyebutkan Sasuke, sangat mirip dengannya waktu dia membicaranya Sasuke-nya juga."
Kedua Naruto mukanya menjadi merah padam tergagap bersamaan, [ "A-APA?!" ]
"Reaksi ini yang kumaksud," Hashirama nyengir. Kedua Naruto kembali bertukar pandang agak malu. Menma berkomentar, "Sepanjang hidupku... Aku tidak pernah melihat Ayah tersipu semerah ini..."
[ Menma... A- ]
"Aneh memang, tapi bagus," Menma melirik ke Naruto yang lebih muda dan tersenyum tulus. Naruto Dewasa mengikuti arah pandang putranya dan menyadari bahwa terdapat ikatan antara putranya dengan dirinya yang berasal dari masa depan lain. Pandangannya berpindah ke Pendiri Konoha begitu Madara buka suara.
"Menma menceritakan pada kami tentangmu dan masa depan kalian." Safir kembar Naruto Dewasa terbelalak. Ia melirik putranya.
[ Kau menceritakan semuanya? ]
"Tak ada pilihan. Mereka harus tahu asalku dan bagaimana aku tiba di zaman ini," jawab Menma.
Naruto belum sempat menjawab, Hashirama masih di topik sebelumnya, "Ditambah, kita bertiga reinkarnasi Asura jadi tidak perlu formal begitu."
[ Ah! Soal itu! Aneh, 'kan? Kita punya jiwa yang sama sepanjang pengertianku dari baca gulungan keramat. Tapi sekarang, kita bisa bicara satu sama lain terlepas lahir di generasi berbeda. ]
"Aku tahu, aku tahu," Naruto yang lebih muda mengangguk setuju. "Aku kadang merasa aneh terlebih Kakek Shodaime mengajariku ninjutsu medis. Cakra kami beresonansi. Rasanya hebat tapi sangat sangat sangaaaat aneh."
[ Shodaime mengajarimu ninjutsu medis? ]
Naruto Remaja mengangguk lagi lalu menjelaskan pada yang lebih tua mengenai kemampuan Asura yang bisa jadi mereka miliki juga. Ia menceritakan secara singkat kehidupa Indra dan Asura berdasarkan yang diperlihatkan Rikudou Sennin saat ia dan Sasuke nyaris mati di perang. Hashirama menyebutkan leluhur Senju, Okuninushi Otsutsuki, mempunyai gulungan yang berisikan keahlian menyembuhkan khas Asura jika Naruto Dewasa ingin mempelajarinya juga.
Hashirama tertawa kecil, "Kalian pikir bagaimana rasanya mendengar cerita tentang masa depan saat aku pertama mendengarnya?" Kedua Naruto tertawa, paham maksudnya. Hashirama nyengir lebar pada Jonin pirang, "Tentu saja, kau dan Sasuke-mu juga bagian dari AIR Squad, Naruto. Kau perlu tahu itu."
[ AIR Squad? ]
Sasuke dan Madara menghela napas. Naruto Dewasa bingung. Hashirama menerangkan, "Itu kepanjangan dari Reinkarnasi Asura Indra (Asura Indra Reincarnation) Squad."
Naruto yang lebih muda sumringah dengan nada bangga, "Keren 'kan?!" Kedua Naruto terbahak tapi tak membantah. Naruto Dewasa bahkan memberitahu Sasuke Dewasa yang tak terlihat mereka.
Reinkarnasi Indra mengeluh bersamaan, "Hentikan soal squad itu!"
[ Oh! Oh! Sasuke di sini juga punya ekspresi yang sama dengan kalian berdua! ]
"Kebayang!" Naruto tertawa lagi. Mereka melihat Naruto Dewasa terdistraksi sekali lagi sebelum tawa hilang dari wajahnya dan nadanya serius.
[ Maaf, aku tak punya banyak waktu. Tolong beritahu aku secara detail lokasi kalian sekarang. Tahun, bulan, tanggal dan jam berapa. Menit dan detiknya juga termasuk. Dimana kalian berdiri. Kalau bisa, di kantor Hokage atau atap kantor Hokage karena tempat itu tidak berubah sejak Konoha didirikan. Jadi, kami bisa memanggil Menma kembali dengan selamat. ]
Tobirama memberitahukan tahun dan bulan. Namun, sebelum sempat memberitahukan hari, Menma menginterupsi. Ia menyebutkan tanggal keesokan harinya untuk memanggilnya pulang di pagi hari dan tempatnya bakal di atap kantor Hokage. Ketiga pasangan sedikit terkejut tapi membiarkan Menma membuat keputusan sendiri.
[ Ok. Tunggulah, Menma. Kami akan memulangkanmu. Dan, aku mau berterimakasih pada kalian semua di zaman ini. Aku harap dia tidak membuat masalah. ]
"Tidak, sama sekali tidak. Sebaliknya, dia sangat membantu," jujur Tobirama. Izuna tersenyum, "Dia anak yang baik dan berbakat. Kau membesarkannya dengan baik, Naruto. Kau adalah ayah yang hebat."
Walaupun tak tahu maksudnya apa, Naruto Dewasa tersenyum bangga pada putranya. Lalu, ia menatap dirinya yang lain lebih muda bersama Sasuke Remaja. Terdengar ketulusan dari suaranya kala berterimakasih.
[ Terima kasih untuk kalian berdua. Aku baca dari gulungan keramat, masa depan asal kalian jauh dari kata cerah. Seandainya kalian tidak datang dan mengubah sejarah, tragedi mungkin akan terulang lagi. Untuk itu, terima kasih. Walau aku tidak tahu alasan Sasuke pergi untuk satu dekade lebih, juga mengalami komplikasi saat hamil dan membesarkan anak, Menma adalah hal terbaik yang terjadi padaku dalam kesusahan itu. ]
Naruto Remaja nyengir, "Aku tahu!" Sasuke tersenyum tipis. Menma merasa malu dan tersentuh. Ia menunduk dengan pipi merah.
[ Sekarang, aku sebaiknya per- ]
"Naruto," Madara memanggil yang dewasa. Ia merebut semua perhatian. Dengan tenang, Madara melanjutkan, "Mungkin ini kesempatan terakhir kita bisa bicara, aku ingin menyambutmu ke dalam klanku." Naruto Dewasa cengo namun pipinya memerah kala mendengar kata-kata itu.
"Aku, Madara Uchiha, sebagai Kepala Klan Uchiha, menyambutmu, Naruto Namikaze, ke dalam klan kami."
Hati Naruto Remaja tersentuh sebab ia menerima penerimaan serta penyambutan yang sama dari Madara beberapa bulan lalu. Safir kembarnya tergennag oleh air mata haru tertahan dan hatinya sangat senang sampai Sasuke juga merasakan lewat ikatan batin mereka. Uchiha Remaja mendekat dan menggenggam jemari Pirang Uzumaki.
"Selamat, Naruto," ucap Hashirama tulus. "Kudoakan hidupmu selalu bahagia."
Izuna tersenyum, "Tolong beri Menma adik secepatnya, biar dia tidak kesepian." Tobirama menyarankan, "Mungkin kau butuh membuat satu kalung lagi untuk jaga-jaga Sasuke 'merantau' diam-diam lagi."
[ A-A... ]
Naruto memulai, "Kuakui, aku sedikit iri denganmu yang tumbuh besar bersama ayah dan ibu. Mereka di sisimu waktu kau terpuruk... Tapi..." Ia tersenyum tulus, "... Kau, aku yang lain. Kita keberadaan yang sama. Aku senang bisa tahu bahwa di suatu kehidupan yang lain, ada diriku yang lain punya kehidupan sedikit lebih baik."
"Jika aku yang di sana pergi lagi, tanya Kyuubi dimana dia. Kyuubi dan Susanoo milik Indra ataupun reinkarnasi Indra adalah mate. Jadi, mereka bisa saling merasakan keberadaan satu sama lain. Keputusanmu sangat baik untuk menghubungi Kyuubi sewaktu mencarinya," tutur Sasuke.
Yang lebih tua meneteskan air mata seraya penampilannya mulai memudar.
[ Terima kasih... Kalian semua... ]
Ia melirik ke Menma yang menatapnya dengan senyum getir dan melambaikan tangan, "Sampai jumpa lagi, Ayah." Naruto Dewasa mengangguk dan dia menghilang. Kalung Menma kembali jadi dingin.
Hashirama menghela napaa, "Menma akan kembali ke zamannya besok," ia menoleh ke Sasuke dan Naruto, "Lalu, kalian berdua bagaimana?"
"Kami pun akan kembali setelah Menma berhasil dipanggil orangtuanya dengan jurus baru itu," jawab Sasuke. Naruto yang penasaran, bertanya ke Menma, "Mereka akan memulangkanmu besok. Kenapa bukan hari ini? Kenapa kau memberi tanggal besok?"
Menma terdiam beberapa saat sambil menunduk sebelum menegakkan kepala, melirik Naruto lalu menoleh ke Izuna. "Bisakah aku memakan masakanmu lagi selama di sini, Kakek Buyut Izuna?"
Izuna berkedip, mengangguk, "Tentu, tapi... Bukankah Mikoto bisa memasakanmu setelah kau kembali ke masa depan?"
Mata anak ini menutup rapat, "Tidak. Nenek tak akan melakukan itu."
"Kenapa?"
"Nenek telah tiada..."
Menma menjelaskan, "Waktu aku berumur 8 tahun, ayahku pergi jauh melakukan misi jadi aku dititipkan pada Nenek Mikoto dan Nenek Kushina. Sayangnya, kami diserang oleh musuh dan keduanya tewas melindungiku..."
Hening mengikuti sebelum dipecah lagi oleh Menma, "Itu... Pertama kalinya... Mangekyou Sharinganku bangkit..."
Walaupun tahun telah berlalu, Menma masih menyalahkan dirinya atas kematian kedua neneknya. Kejadian ini mendorongnya makin giat berlatih agar cepat kuat dan bisa melindungi orang terkasih yang berbuah dalam promosi jabatannya menjadi Jonin. Yang lain bisa melihat bagaimana kejadian tersebut mempengaruhi Menma, Izuna mendekati cicitnya lalu memeluk dengan lembut. "Kalau begitu... " Ia berkata pelan, "... Beritahu aku makanan kesukaanmu, biar kubuatkan untukmu."
Anggukan sebagai jawaban lalu ia memeluk kakek buyutnya.
—000—
"Woaaaah! Tidak seterang Konoha di zaman kita!" Naruto terkejut.
Kakinya menginjak bagian atas kepala dari patung wajah Hashirama di Gunung Batu Hokage. Sasuke di sebelah kanannya sementara Menma sebelah kiri. Karena mereka besok akan kembali ke zaman asal mereka, Naruto mengusulkan mereka bertiga untuk jalan-jalan menikmati Konoha di zaman ini untuk terakhir kali. Para Pendiri Konoha dan adik mereka kembali ke pekerjaan mereka. Setelah selesai berkeliling, Naruto mengajak yang lain ke atas patung wajah Hokage untuk menikmati senja.
"Apa yang kau harapkan? Konoha baru didirikan hampir setahun lalu bukan beberapa dekade lewat," komentar Sasuke. Naruto terkekeh. Ketiganya duduk bersama. Tetiba, Menma buka suara, "Maaf..."
"Hm?" Naruto menoleh ke kiri. "Apa?"
"Aku minta maaf," ulang Menma.
"Untuk?" Pirang Uzumaki bingung.
Menma menunduk menatap ujung kakinya, "Karena melindungiku, Nenek Mikoto dan Nenek Kushina meninggal..."
Sasuke dan Naruto menatap Menma dalam diam. Jelas terlihat kalau anak ini masih terbebani kematian kedua neneknya. Baik Sasuke maupun Naruto kehilangan orangtua mereka di umur sangat muda dan mereka senang mengetahui ayah mereka masih hidup di masa depan Menma. Memang sedikit menyedihkan ibu mereka sudah tak ada tapi mereka tak menyalahkan Menma.
"Aku dulu sempat benci Yondaime Hokage karena menyegel Kurama di dalam tubuhku. Memang aku belum tahu dia ayahku saat itu," tutur Naruto sambil mata memandang Konoha yang terbentang di depan mata. "Aku sangat marah waktu tahu ternyata dia ayahku sendiri karena aku tak mengerti kenapa dia membuat hidupku menderita kalau memang dia ayahku. Dia bahkan tak mencoba bertahan hidup untukku. Tentu saja, aku memukulnya di saat kami pertama bertemu," senyumnya menjadi pahit.
"Setelah aku dengar dari ibuku bagaimana mereka mengorbankan nyawa agar aku hidup, aku juga menyalahkan diri sendiri karena menjadi alasan kematian mereka. Seperti yang kau rasakan sekarang. Parahnya, ulang tahunku adalah peringatan kematian mereka." Ia melanjutkan dengan lembut, "Tapi, ibuku bilang dia mencintaiku. Ayahku bilang dia mempercayaiku. Mereka... Segalanya untukku."
Ia merangkul Menma dengan tangan kiri, "Ditambah, sekarang aku hamil dan kita bertemu. Pandanganku tentang orangtua sangat berubah." Naruto tertawa, "Ada satu dorongan besar untuk melindungi yang sangat berbeda dari yang kurasakan untuk Sasuke atau siapapun yang aku tahu." Suaranya jadi lebih lembut, "Aku yakin ibuku dan ibu Sasuke di masamu melakukannya karena mereka mencintaimu. Aku yakin berat, hei, aku juga pernah di posisimu tapi jangan terlalu menyalahkan dirimu dan tenggelam di situ."
"Tapi, jika aku..."
"Kau sangat mirip Sasuke dalam cara berpikir walaupun tak pernah bertemu dengannya di masamu," jujur Naruto. Menma bingung.
"Apa?" Dia tak mengerti.
"Kau mencoba menanggung semuanya. Sendirian. Persis seperti Sasuke yang pergi mencari Zetsu Hitam," jelasnya. "Dia berniat melindungi diriku yang lain, sementara kau tak ingin membebani ayahmu. Bukannya tindakan kalian sama?"
Menma terpana. "I-Itu..."
Naruto menghela napas, "Kalian berdua meremehkan aku yang lain. Sasuke, kau juga sama. Apa kalian pikir kami tak bisa menghadapinya?"
Sasuke menerangkan, "Bukannya kami meremehkan kalian berdua," Menma dan Naruto menatapnya, "tapi, ingat. Cinta memberikan efek beda pada darah Uchiha, Naruto. Kehilangan orang terkasih sangat mempengaruhi cakra kami sampai doujutsu bisa meningkat. Diakui atau tidak, kami memiliki ketakutan untuk kehilangan atau menyakiti yang terkasih hingga menyimpan perasaan kami dalam-dalam. Susah dijelaskan detail tapi kurang lebih begitu."
"Jadi, karena itu Itachi di masa kita melakukan semuanya sendirian... Kebiasaan Uchihakah?" Konklusi Naruto. Sasuke hanya memejamkan mata sebagai jawaban. Naruto mengaku, "Aku tak terlalu mengerti karena bukan Uchiha dan kurasa Asura juga tidak mengerti karena ia tak memiliki doujutsu meski ayah dan kakaknya punya. Tapi..."
Naruto berkata dengan nada serius nan sedih, "Sekali, aku mencoba menanggung takdirku sebagai Jinchuriki sendirian dan mencoba melindungi semua orang di perang melawan Obito supaya tidak ada yang mati. Aku bertemu edo-tensei Itachi dan dia bilang bahwa aku tak seharusnya menanggung semua sendirian. Kurasa, dia benar."
Safir kembar menatap Menma dan Sasuke bergantian, ia tersenyum lembut lalu memeluk keduanya bersamaan. Naruto mengingatkan, "Kalian berdua tidak harus menanggungnya sendirian."
Ia menoleh ke Menma, "Tak peduli depresi, aku yakin aku yang lain tak merasa terbebani atau menyalahkanmu jika kau menceritakan perasaanmu, Menma. Kau anaknya, anakku juga. Sangat normal kalau kau berkeluh kesah pada ayahmu. Dibanding mencoba membahagiakannya dengan keputusan bijakmu untuk tak memperlihatkan kegelisahan, menurutku ia justru merasa kesepian karena kau tak percaya mencurahkan kegelisahanmu. Kau akan menjadi dewasa seiring waktu tapi kau masih anak-anak. Tidak ada yang salah dengan berperilaku sesuai umurmu. Kau memang Jonin tapi di mata kami, kau tetap putra kami."
Menma membenamkan wajah di bahu Naruto seraya air mata mengalir dari matanya. Ia tak tahu kenapa dia bisa dengan mudah mengeluarkan isi hati ke versi muda ayahnya. Mungkin karena jarak umur mereka tak jauh atau karena ini kesempatan terakhir mereka bersama sebab mereka tak akan bertemu lagi. Yang manapun, dia merasa bisa menjadi diri sendiri. Menjadi anak kecil 12 tahun yang menangis dipelukan ayahnya.
Kepada Sasuke, Naruto berkata, "Dan kau, Sasuke. Aku pasanganmu. Melalui ikatan batin kita, aku tahu apa yang kau rasakan jadi kau tidak harus menanggungnya sendirian seperti dulu. Mengerti?"
Uchiha muda ini tersentuh dan tersenyum ke Naruto, "Mengerti."
"Bagus," Naruto tersenyum puas dan mengacak-acak sayang surai hitam Sasuke dan Menma.
Detik berikutnya, Tobirama muncul di belakang mereka menggunakan Hiraishin. Ia bertanya, "Naruto, kakakku mau tahu apa kau ingin cek kehamilanmu sekarang. Dia ada waktu luang sampai makan malam."
"Ah," Naruto melepas pelukan pada keduanya. "Bagus kalau bisa sekarang. Karena besok kami akan kembali ke masa depan. Aku mau memastikan semua baik-baik saja." Ia pun mendekati Tobirama. Menoleh ke dua pemilik surai hitam, ia bertanya, "Kalian ikut?"
Sasuke melirik Menma yang diam dan menjawab mewakilinya, "Kami akan di sini dulu." Naruto tertegun tapi mengangguk lalu teleportasi bersama Tobirama. Hening mencekam mengelilingi kedua pengguna Sharingan ini. Menma telah menghapus air matanya dan menatap desa di bawah patung. Sasuke membiarkan keheningan mereka beberapa saat hingga terasa nyaman sebelum buka suara.
"Kau mau memakan masakan Izuna sekali lagi karena mirip masakan nenekmu yang meninggal bertahun lalu untuk melindungimu," Mulainya, "memang bisa dipercaya. Tapi..." Permata gelap kembar miliknya fokus menatap Menma yang tak bergeming, "mendengar bahwa aku yang lain sudah kembali dan mengingat betapa keras usahamu menyerangku waktu pertama bertemu, aku pikir kau mau segera menghajar dia juga. "
Anak yang diajak bicara masih tak merespon.
Sasuke tahu Menma masih menyalahkan dirinya sendiri atas kematian neneknya tapi dia cukup yakin kemarahan anak ini terhadap Sasuke yang lain melebihi alasannya untuk tinggal.
"Aku tidak percaya alasanmu tinggal satu malam lagi hanya untuk makanan."
Perlahan, pandangan mereka bertemu dan saling mengunci.
"Apa alasanmu sebenarnya menunda pulang ke masa depan, Menma?"
TBC
Makasih sudah baca dan review! Sudah mau tamat nih, jangan ga review biar ya!
Yang mau polling dukung aku di IFA, bisa ke link ini: bit. ly/ pollingIFA20 di bagian kategori Author Best Summary!
Uchiuzuraa: Sensitif dia, kan lagi hamil~
elLagark: ...hah?
Guest: Oh kirain dah ga baca lagi, iya makasih dukungannya! Bagus deh kalo humornya kerasa, takutnya krik krik
Awy77 Andrian: Oh? Ini baru pertama kalinya review kan ya? Rasanya belum lihat penname ini di kolom reviewku O_o Makasih ya! Dukung ya kalo berkenan!
