Disclaimer: I do not own Naruto. Its belong to Masashi Kishimoto. I own the OCs and the plots.


Tobirama dan Naruto tiba di depan pintu kantor Hokage. Naruto tersenyum, "Makasih, Kek." Ia pun memegang gagang pintu, hendak membuka namun terhenti kala Senju berambut keperakan itu memanggilnya.

"Naruto."

Pirang Uzumaki menoleh kemudian Tobirama mengucapkan, "Maafkan aku."

"Hah?" Berkedip, Naruto membalikkan badannya menghadap Senju tersebut.

"Aku mempertaruhkan keselamatan Menma dengan strategiku hari ini," tuturnya jujur. Secara pribadi, Tobirama pikir strateginya demi hasil maksimal dan memang begitu kenyataannya. Resiko pasti ada di setiap pilihan. Hanya tinggal memilih akan menanggungnya demi hasil terbaik atau tidak. Ia paham hal itu sedari kecil sebab tumbuh besar di masa peperangan dan berpikir Naruto sebaiknya mengerti bahwa beginilah kehidupan shinobi. Pilihan yang mereka punya tak selalu menyenangkan.

Naruto merengut. Ia melotot ke Tobirama dalam diam selama beberapa saat meski safir kembar terang-terangan menampilkan emosi yang dipendamnya. Besok akan menjadi hari terakhir Naruto di sini dan Tobirama ingin mereka mengakhiri dengan damai saat berpisah besok karena mereka tak akan bisa bertemu lagi. Karena itulah ia mengantarkan Naruto di depan pintu ruangan Hokage, tidak langsung ke dalam.

"Kurama menjelaskan padaku soal keuntungan strategi itu. Aku bisa mengerti," jujur ia akui sebelum menambahkan, "tapi, tidak berarti aku suka strategi Kakek."

Tobirama mengangguk, "Sudah kuduga."

Naruto menghela napas dalam dan bersidekap, "Aku tidak pintar atau jenius seperti Kakek atau Sasuke. Awalnya, aku marah sesudah mendengar strategi itu. Aku tidak pernah tahu kalau Kakek berdarah dingin. Harusnya ada yang bisa kita lakukan tanpa membahayakan seseorang, terlebih anak-anak."

"Selalu begitu, kau harus berhenti berpikir naif, Ka—!" Untuk sesaat, rubi kembar terbelalak seolah kaget dan disadari oleh Naruto. "Apanya?"

"Aku seharusnya tahu kau juga berprinsip itu karena kalian dari reinkarnasi orang yang sama," ungkap Tobirama. Naruto bingung, senyum pun terlukis di paras Senju. "Tapi, tetap saja aku tak mengira kalau kau sama naifnya dengan kakakku. Sesaat tadi, aku seolah mendengar keluhan kakakku dan hampir kubantah dengan 'Kau itu Hokage, harus tegas!' padamu."

"Maksudnya?" Naruto sama sekali tidak nyambung dan Tobirama tetap tersenyum tipis.

"Kau punya hati seperti kakakku. Berargumentasi denganmu, rasanya sama seperti aku bicara dengannya. Kenaifanmu menyaingi kenaifan saudaraku. Ditambah, kalian berdua memilih orang yang sama yaitu reinkarnasi Indra untuk menjadi pasangan hidup kalian," Tobirama bisa melihat Naruto akan menjadi Hokage yang baik di masa depan. Tanpa diketahui Pirang Uzumaki yang merasa tak yakin harus merespons bagaimana dan hanya memiringkan kepala. Dengan ragu, ia bilang, "Makasih...?

Lelaki bermata rubi menghela napas dan mengacak pelan rambut pirang Naruto. Ia berkata, " Izuna bilang kalau dia akan membawa makan malam kalian ke kamar, dia memasak kesukaan Menma," sebelum pergi dari sisi Naruto.

Masih bingung, remaja ini bergumam, "Aku tidak mengerti Kakek Nidaime," tapi tak terlalu dipusingkan dan membuka pintu kantor Hokage. Hashirama yang duduk di belakang meja kerjanya menyambut hangat

"Akhirnya datang juga," ia memberikan isyarat agar Naruto masuk. Pirang Uzumaki menyadari bahwa ada dua gulungan yang sedang ditulis Hashirama.

"Kupikir Kakek sudah tidak bekerja jam segini," matanya terarah ke gulungan yang ditulisi. Ia pikir itu laporan buat Hokage.

Hashirama tertawa, "Ya, aku memang sedang jam istirahat. Ini bukan perkerjaan tapi untukmu."

"Untukku?"

Naruto menunduk ke atas meja agar bisa membaca lebih jelas isi gulungan. Hashirama menerangkan, "Ya, ini catatan medis sejak pertama aku tahu kau hamil. Aku yakin ninja medis di masa depan akan butuh ini sebab yang menangani kehamilan ibumu atau Mito di waktu mereka masih Jinchuriki Kyuubi mungkin sudah tutup usia. Sebagai Jinchuriki, cara para medis memperlakukanmu akan berbeda dari menangani pasien biasa."

"Wow," Naruto terkagum, "Aku tidak kepikiran itu."

Tertawa kecil, Hashirama melanjutkan, "Tenang saja, sudah kuurus semua catatan medis yang penting. Mungkin, catatan medis ibumu dijaga ketat karena ia Jinchuriki, sebagai jaga-jaga kutuliskan rinci mengenai kehamilan pada laki-laki karena di masa depan hal itu sudah punah 'kan? Aku cukup yakin kau Jinchuriki laki-laki pertama yang hamil. Akan sangat beresiko merawatmu, tak hanya buat medis di masamu. Bahkan aku juga."

Naruto kaget, "Kakek juga?"

"Aku tak pernah merawat Jinchuriki lain, Naruto. Tidak ada Jinchuriki di masa ini, ingat?"

"Ah, iya juga," angguknya. "Tapi, Sasuke bilang kalau Orochimaru tahu soal kehamilan pada laki-laki."

"Aku tak akan bergantung padanya kalau aku jadi kau," saran Hokage. "Aku tak bilang Orochimaru ini akan salah atau apa tapi dia belajar dari gulungan terlarang yang disegel. Jujur, itu tidak akan cukup untuk dibandingkan dengan pengalaman orang yang menangani langsung kehamilan pada laki-laki di kesehariannya."

"Terdengar rumit," Naruto bergumam. Safir kembarnya melihat satu gulungan sudah terikat rapi. "Yang itu sudah selesai ditulis untukku juga?"

"Hm?" Hashirama mengikuti arah pandangan safir kembar, "Oh, itu untuk Naruto yang lain. Namikaze, ayah kandung Menma di masa depan."

Safir kembar melebar kaget, "Benarkah? Apa isinya?"

"Catatan latihan yang kita lakukan beberapa hari lalu. Latihanmu mempelajari ninjutsu medis milik Asura," senyumnya. "Kupikir, kalau dia berniat mencobanya, gulungan ini akan membantunya. Ia terlihat berminat saat kita menyebutkan soal latihan itu."

"Keren! Mungkin dia akan mempelajarinya juga," Naruto tersenyum sumringah. Hashirama pun membalas dengan senyum antusias yang sama.

Mereka pindah ke ruangan periksa untuk mengecek kehamilan Naruto. Pirang Uzumaki terbaring di meja periksa dan Hashirama dengan tangan berlapis cakra menyentuh perut Naruto. "Ada keluhan terbaru?"

"Hmm... Aku merasakan cakra bayiku semakin besar. Kurama juga bilang begitu. Apa normal?"

"Yah, di beberapa kasus, ada yang lahir dengan cakra besar sekalipun cakra orangtuanya hanya rata-rata. Kalian berdua punya cakra besar jadi tidak aneh kalau cakra anak kalian juga besar."

"Ah, bisa juga ya. Kupikir bayinya makan cakraku atau sejenisnya."

Hashirama senyum, "Mereka butuh cakramu tapi tubuhmu yang menyediakan itu secara alami sesuai kebutuhan bayi selama kehamilan. Mungkin akan terasa melelahkan karena cakramu ikut melindungi rahim yang tertanam sebab tak disediakan tubuh laki-laki pada umumnya."

"Pantas aku merasacapekterus seperti melakukan jurus Tajuu Kage Bunshin berulang kali..." aku Naruto. Ia melirik ke perutnya lalu menyuarakan rasa penasaran, "Kek, menurut Kakek, perutku lebih bulat dan besargak? Mual-mualku juga kok belum reda?"

Hashirama tertawa, "Memang harusnya perutmu membesar karena kau hamil, Naruto. Yah, harus kuakui, gejala mual-mual di atas 14 minggu...memang tidak biasa."

"Aku tahu," Naruto merengut, "Tapi, seingatku, waktu Madara dan Izuna hamil 14-15 minggu, tidak sebesar ini. Lebih kecil dari perutku."

Hokage memeriksa lebih teliti dan menemukan kalau Naruto benar. Berkonsentrasi, Hashirama memasukkan tangan ke rahim Naruto dan menyentuh janin di dalam. Dengan sangat perlahan, dia menggerakkan jarinya melewati janin dan menyentuh sesuatu yang bergerak seperti janin tadi.

Matanya melebar... bertatapan dengan Naruto yang bingung.

"Kenapa, Kek?"

Hashirama membuka mulut dan menyuarakan penemuannya. Safir kembar terbelalak hingga nyaris keluar dari rongga.

—000—

Menma butuh waktu untuk membangun keberanian membuka suara dan menjawab alasannya tetap tinggal. Dia memang rindu masakan neneknya, tapi seperti yang dicurigai Sasuke, itu tidak cukup kuat untuknya menunda kesempatan untuk kembali ke masa depan. Bibirnya terbuka dan suaranya menyiratkan kejujuran yang dipendam.

"Aku... tidak pernah berpikir Sasuke Uchiha akan kembali ke Konoha..." Gumamnya. Sasuke mendengarkan dalam diam.

"Kupikir dia meninggalkan ayahku selamanya. Entah karena sudah usia atau dia melupakan ayahku untuk bersama orang lain. Selama ini, aku pikir dia tak akan pernah tahu aku ini putranya ataupun kepikiran bertemu denganya..." Suaranya melembut, mengindikasikan ada rasa bersalah seraya melanjutkan, "Karena itu aku menyerangmu sebisaku dua hari lalu."

"Sudah kuduga kau menganggapku pengganti yang harus menerima kemarahanmu," komentar Sasuke.

"Tapi," Menma merengut, ia berbisik, "Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya kalau aku kembali ke masa depan."

Sasuke tetap diam.

"Aku benci dia," aku Menma. "Ayahku sengsara karena dia. Aku tidak peduli alasannya pergi dari Konoha untuk melindungi kami atau apa. Kenyataannya dia pergi. Aku tidak bisa memaafkannya. Jangan tersinggung, tapi Sasuke Uchiha brengsek."

Remaja Uchiha masih tak mengatakan apa-apa. Bohong kalau dia bilang dia tidak tersinggung sedikit atas pendapat seseorang mengenai tindakannya diluar niatannya melakukan itu. Terlebih, anak sendiri. Ia merasa kasihan untuk Sasuke Dewasa. Sejatinya, Sasuke tidak peduli pendapat orang lain mau menilainya bagaimana atau benci padanya. Mana pernah dia peduli. Namun, kalau itu keluarganya, tentu saja beda. Uchiha merupakan klan berisikan orang yang memandang keluarga atau klan mereka sebagai prioritas utama. Atensinya kembali ke Menma yang suaranya menyiratkan kesedihan.

"Tapi, tadi, ayahku tersipu waktu mengabarkan Sasuke Uchiha sudah pulang," wajahnya makin kusut. "Aku tak pernah melihatnya seperti itu... Dan itu terjadi karena..." Menma terdiam lama. Jujur, "Aku tak tahu harus merasakan apa. Di satu sisi, amarahku masih ada. Sementara di sisi lain, ada rasa senang melihat ayahku ceria..."

Ia menutup kedua mata erat, "... Dan beberapa hari di sini... Aku melihat bagaimana kalian berdua selalu berdekatan... Aneh rasanya karena seperti melihat masa muda orangtuaku. Kau tak bisa membayangkan keanehannya bagiku... Kak Ryuichi pasti kaget kalau aku cerita."

"Ryuichi?"

"Putra sulung Paman Itachi. Kami tumbuh besar sama-sama jadi lebih terasa seperti kakak sendiri daripada sepupu."

Merasa masih ada yang ingin dikatakan, Sasuke tetap diam. Menma melanjutkan dengan alis bertaut dalam, "Aku bisa melihat kalian berdua bahagia... Aku.. Mau ayahku juga bahagia tapi... Aku tidak tahu kalau aku bisa memaafkan Sasuke Uchiha atau tidak..."

Keheningan hadir di antara mereka. Sasuke mungkin tak di posisi Menma untuk memahami penuh dilema ini. Keduanya menatap desa di bawah patung wajah Hokage. Matahari sudah tenggelam setelah Naruto pergi dan malam mengelilingi. Angin bermain dengan surai hitam mereka selagi Sasuke memulai...

"Aku pernah bimbang sewaktu mendengar kebenaran misi kakakku," Ia pun menceritakan pengorbanan Itachi dan misi yang dipikul sulung Uchiha di masanya. "Aku membenci Konoha dan para Tetua atas beban yang diemban kakakku. Aku ingin menghancurkan Konoha. Satu-satunya yang dicintai kakakku lebih dari klan Uchiha. Tidak biasanya ada anggota klan meninggikan yang lain selain klan."

Ia sadar Itachi memberikan hidupnya untuk membebaskan sang adik dari Tanda Kutukan Orochimaru tapi seandainya Konoha tidak mendesak Klan Uchiha terlalu jauh, pemberontakkan mungkin bisa dihindari. "Awalnya, aku benci kakakku karena aku pikir aku kehilangan kakak yang baik hati itu selamanya. Tapi, setelah mendengar kebenaran dari Sandaime Hokage, aku tidak kehilangannya. Kakakku melakukan apa yang ia pikir terbaik untukku."

Sasuke menoleh ke Menma yang masih menatap desa, "Aku tahu kasus kita berbeda. Aku bisa memaafkan kakakku dan menerima kenyataan karena masa kecil kami. Aku mengenalnya sebelum semua terjadi. Sementara, kau tidak pernah bertemu aku yang lain. Tidak ada ingatan atau ikatan terbentuk antara kalian. Kau tidak punya dasar untuk mempercayainya ataupun memaafkannya. Dan sangat bisa dimengerti bahwa susah memaafkan orang yang menyakiti orang terpenting dalam hidup kita. Memaafkan dengan mudah itu tidak ada dalam kamus Klan Uchiha."

Menutup mata, ia melanjutkan, "Madara di masaku mengatakan bahwa Klan Uchiha ditakdirkan untuk membalas dendam. Itu karena di saat seorang Uchiha cinta akan sesuatu atau pada seseorang, cintanya dalam. Mengalir dalam darah kita. Aku bisa mengerti keresahanmu dan itu wajar karena ada darah Uchiha di dirimu. Akan tetapi..."

Menma menatap balik Sasuke yang membuka kembali matanya.

"Kau juga anak Naruto. Memaafkan sudah merupakan sifat bawaannya sejak lahir. Bahkan sebelum ia lahir di masaku atau masamu. Jiwa Asura tidak pudar dimakan waktu ataupun reinkarnasi. Dengan Rinnegan dan Sharinganmu, jelas kau memang berdarah Uchiha tapi Naruto yang melahirkanmu. Dia membesarkanmu. Darahnya juga mengalir di nadimu," Sasuke menaruh tangannya di kepala Menma dengan sayang. "Jadi, tidak ada salahnya kalau kau mau memaafkan aku yang lain, Menma."

Anak itu terpana, kekagetan terpeta jelas di wajah. Ia memang merasakan kemarahan besar pada Sasuke Uchiha di masanya. Sangat menggila dan dia pikir dia akan sungguh gila kalau tidak dikeluarkan. Namun, seperti yang Sasuke barusan sebut atau prediksi, ada benih pikiran asing berbisik di hati untuk memaafkan ayahnya satu lagi. Pandangannya memanas dan air mata tergenang.

"Tidaklah salah untuk seorang anak bertingkah sebagaimana usianya, Menma," Sasuke mengulangi perkataan Naruto tadi. Air mata pun menetes di pipi sang anak.

Masalah mereka memang tak sama persis tapi Sasuke pernah punya ayah sewaktu masih kecil. Ia haus pengakuan dari ayahnya karena kejeniusan Itachi selalu terdepan. Jadi, kurang lebih ia merasakan keresahan Menma. Sasuke membiarkan Menma menangis di bahunya dengan memeluknya pelan.

Malam itu, setelah Naruto kembali dari pemeriksaanya, mereka makan malam bersama untuk terakhir kali. Hanya mereka bertiga karena keempat orang dewasa lainnya ada urusan masing-masing. Begitu waktu untuk tidur tiba, Menma bertanya dengan ragu, "Boleh... aku tidur bersama kalian lagi?"

Ia merasa malu menanyakan ini. Bahkan ke versi remaja dari orangtuanya. Umur mereka tak terpaut jauh. Mereka bisa dianggap saudara tapi mereka tetap orangtua bagi Menma. Bagaimanapun, mereka mungkin tak akan bertemu lagi setelah malam ini jadi dia membiarkan rasa egoisnya sekali ini untuk tidur bareng orangtuanya. Salah satu alasan juga, ia menunda kepulangannya.

Naruto tersenyum hangat, "Tentu saja."

Sasuke mengangguk. Ketiganya tidur dalam satu selimut, saling berpelukan.

Untuk terakhir kalinya.

—000—

Pagi berikutnya, mereka bertujuh sarapan di Menara Hokage sebelum menuju atap dari menara tersebut. Yang mana Naruto Dewasa sebutkan dan mereka hanya tinggal menunggu sampai Kuchiyose digunakan dari masa depan untuk memanggil Menma kembali. Sasuke, Naruto dan Menma mengenakan pakaian asli mereka. Tidak lagi kimono di masa ini. Sementara keempat lelaki lainnya mengenakan pakaian kasual mereka sesuai klan Uchiha dan Senju. Baik Tobirama dan Izuna membawa gulungan raksasa yang berisi diagram ninjutsu perjalanan melintasi waktu.

Hashirama mendekat dan memberikan sebuah gulungan ke Menma seperti yang dijelaskannya pada Naruto semalam. Anak itu terkejut, "Untuk ayahku?"

"Ya, untukmu. Dia terdengar tertarik waktu kami mengatakan tentang ninjutsu media milik Asura. Karena kami bertiga adalah reinkarnasi Asura, kami memiliki kekuatan dan beberapa keahliannya," ucap Hashirama. Ia menambahkan, "Ah, tidak berarti dia harus belajar itu. Aku hanya memberikannya sebagai terima kasih sudah membantu kami menyegel Zetsu Hitam, Menma. Kalau ayahmu tak berminat, tak masalah kalau gulungan ini hanya menjadi pengingat tentang kami."

"Ini suatu kehormatan, Tuan Shodaime," Menma berterima kasih dengan membungkuk dalam setelah ia menerima gulungannya. "Terima kasih banyak."

Hashirama tak terlalu peduli kalau orang bersikap formal padanya. Tetapi, Menma yang baru 12 tahun menunjukkan didikan sikapnya membuat Hashirama terkesan. Sebab itu, agar tidak mengejek hal tersebut, Hashirama mengangguk dan tidak membantah.

Menma menegakkan tubuh dan melihat Madara menatapnya. Uchiha tertua di sini mengatakan, "Kau tak berniat datang kemari dan tak ada pilihan akan itu tapi aku bersyukur kau membantu kami. Kau anak yang berani. Terima kasih, Menma."

Pipinya bersemu merah muda tipis. Terlepas seberapa dewasanya keputusan atau kejeniusannya, ia masih anak-anak. Apalagi, yang baru saja memujinya adalah Pendiri Konoha! Keduanya! Hashirama dan Madara. Terkuat di zaman ini. Menma terpana. Izuna bisa melihatnya. Tobirama menambahkan, "Aku minta maaf untuk kekacauan yang aku, atau aku di masa depan, buat dengan meninggalkan gulungan untuk generasi selanjutnya."

Menma menengadah menatap Tobirama dengan pengertian. "Aku tidak berpikir itu salahmu, Kakek Buyut. Aku yakin diri Kakek di masa depan harus melakukannya karena itu pilihan terbaik."

Terkesima dengan kedewasaan Menma, Tobirama dan yang lain tertegun. Menma tak dibesarkan di era peperangan tapi ia dewasa dengan cepat seperti klan Senju dan Uchiha di masa ini. Tobirama tersenyum bangga dan mengacak rambut hitam Menma, "Aku senang bisa bertemu anaknya cicitku."

Izuna mendeteksi kebangaan di nada dan senyum suaminya. Iapun tersenyum selagi mendekat dan berkata ke Menma, "Aku akan rindu ada yang menantikan masakanku."

Menma memiringkan kepala ke Izuna, "Kan ada Kakek Buyut Tobirama?"

"Dia gila kerja. Makan bersama saja sudah langka apalagi makan masakanku," sindir Izuna sambil menghela napas. Tobirama tersinggung, "Aku makan masakanmu."

"Bisa dihitung jari," balas Izuna menaikkan alis. Menma bergumam, "Di buku sejarah memang ditulis kalau Nidaime Hokage sangat disiplin bekerja. Jadi, memang benar ternyata."

Izuna mengangguk sebagai jawaban. Tobirama hanya memalingkan muka, tak bisa membalas. Hashirama tertawa dan bertanya ke Menma, "Apa buku sejarahmu juga menyebutkan aku begitu?"

Semua mata ke Hashirama. Anak itu bertanya bingung, "Begitu...?"

"Gila kerja, seperti Tobirama."

Semuanya terdiam. Bersamaan, membatin dalam hati: serius?

"Apa? Aku juga disiplin bekerja kok!" Protes Hashirama. Madara menghentikan dengan, "Kita bicara itu nanti." Menma tertawa bersama Izuna karena ia kaget melihat tingkah kedua Pendiri Konoha. Tak terbayangkan olehnya bahwa mereka akan seperti ini. Di waktu bersamaan, ia merasakan tatapan seseorang. Menoleh, ia mendapati Naruto menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Senyum Menma memudar seiring Naruto mendekat.

Tanpa diketahui Menma, ini pertama kalinya bagi Naruto melihatnya tertawa. Menma memberikan aura kedewasaan dalam sikap dan tutur katanya walaupun ia bahkan baru akan jadi remaja. Maka, saat Menma tertawa tadi, Naruto sadar bahwa anak ini belum pernah tertawa sejak mereka bertemu. Kemungkinan tertinggi disebabkan oleh keberadaan Sasuke. Terkadang, Menma bersikap sesuai umurnya di dekat Naruto tapi dia menampilkan kedewasaannya di sekitar Sasuke. Entah apa yang terjadi sewaktu Naruto meninggalkan mereka berdua kemarin di patung wajah Hokage, tapi sepertinya Menma tidak canggung lagi depan Sasuke.

Naruto tersenyum dengan air mata tertahan, "Kau seharusnya sering tertawa, Menma. Aku yakin diriku yang lain akan suka melihatnya."

"Ayah..." Menma berwajah sedih lalu memeluk pinggang Naruto. "Aku akan merindukanmu, Ayah..."

Menutup safir kembar, Naruto memeluk balik dengan air mata menetes. Ia terbata, "Bo-bodoh... Kau akan bertemu ayamu yang asli nanti..."

Menma membenamkan wajah di bahu Naruto, "Kau juga ayahku..."

Tetesan air mata mulai membanjiri di pipi Naruto dan rambut Menma, ia mengeratkan pelukannya. Keduanya tahu bahwa mereka ayah dan anak walaupun beda lintasan waktu. Mungkin berbeda tapi darah lebih kental dari air. Mereka merasa kalau mereka tak akan bisa bertemu lagi selamanya. Ini akan menjadi terakhir kalinya dan membuat mereka sedih. Menma menggerakkan wajahnya sedikit, matanya yang berkaca-kaca bertemu pandang dengan Sasuke disamping Naruto. Tangannya terangkat satu ke arah Sasuke.

Sasuke menggengam tangan Menma pelan dan mendekat. Ia menunduk untuk mencium pelipis anak itu. Ia berbisik sangat pelan hingga hanya Menma dan Naruto yang mendengar, namun kejujuran nan kasih sayang terdengar dari pernyataan, "Kau juga anak kami, Menma."

Mendengar itu, ia terisak tertahan di pelukan Naruto. Sasuke membelai-belai surai hitam Menma setelah anak itu melepaskan genggaman tangan mereka dan menarik erat baju Sasuke seolah tak ingin melepasnya. Di saat seperti ini, Naruto terkesiap. Ia merasakan cakra tak terlihat mulai berputar dan menyebar menyelimuti Menma yang merasakannya juga. Mereka saling melepas pelukan. Sasuke bisa melihat perputaran cakra itu juga.

Jurus pemanggilan telah dimulai.

"Ini waktunya berpisah..." Ucap Naruto membingkai wajah Menma yang tahu bahwa waktu mereka tidak sedikit.

Sasuke dan yang lain melihat jurus sekitar Menma mulai membawanya pergi. Sekali lagi, Naruto memeluk Menma erat dan berbisik, "Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Menma... Aku menyayangimu, putraku..."

"Aku... Menyayangimu juga, Ayah..."

Menma mulai memudar dan dia memisahkan diri lalu saling bertukar pandang dengan Sasuke yang tersenyum sedih. Sesungguhnya, dia tidak tahu apa yang harus dikatannya pada Uchiha Remaja tapi seraya ia merasa mulai ditarik oleh jurus pemanggilan, ia membuka mulut tapi Sasuke mendahuluinya dengan, "Sasu ga da, ore no ko da."

Anakku memang hebat.

Kata-kata dari mendiang sang ayah, Fugaku Uchiha, ini diterima Sasuke sepuluh tahun lalu dan sangat berarti bagi Uchiha muda tersebut. Pengakuan atas kemampuannya sudah sesuai ekspektasi beliau. Menma tidak tahu sejarah di balik kata-kata barusan tapi dia merasakan bangga tak terkira, bahagia dan kagum. Disaat waktunya sudah habis, dia menghilang dari zaman berdirinya Konoha dengan meninggalkan ucapan tak selesai ke Sasuke...

"Pap—!"

WHUSH!

"Menma!" Ia merasakan dipeluk ayahnya begitu membuka mata. Naruto yang lebih tinggi dan dewasa memeriksanya dengan cemas, "Apa kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?"

Anak itu berkedip. Ia melihat pemandangan dari atas Menara Hokage sudah berubah. Di gunung batu Hokage ada lima wajah terpahat dan tidak hanya satu. Ia perlahan menyentuh Jonin pirang dan menengadah menatap safir kembar, "Ayah...?"

"Ya?" Naruto Dewasa khawatir. "Kenapa kau menangis? Mana yang sakit?"

Menma menjawab pelan, "Aku tidak apa-apa... Hanya..." Ia mengedarkan pandangan. Ia menemukan kedua kakeknya berdiri di belakang ayahnya. Pamannya berdiri dalam diagram ninjutsu tak diketahuinya. Shisui dan Obito pun di dalam diagram yang sama. Keduanya terlihat lelah. Sepertinya mereka bertiga menciptakan atau memodifikasi jurus Kuchiyose melewati waktu untuk memanggilnya pulang. Lalu, tak jauh dari mereka bertiga...

Seorang lelaki berlutut seolah masih dalam posisi menggunakan jurus dengan tangannya masih membentuk segel. Lelaki bermata Sharingan yang tak pernah dikenalnya. Lelaki dengan umur sama seperti ayahnya. Seseorang yang hanya versi remajanya saja pernah ditemui Menma...

"Itu Sasuke Uchiha, ayahmu," ucap Jonin pirang disebelahnya setelah pandangan Menma terpaku pada seseorang. Anak itu hanya menatap tanpa berkomentar apapun. Naruto mengambil inisiatif.

"Sasuke, kemarilah. Ini anakmu, Menma."

Keduanya diperkenalkan satu sama lain.

—000—

"Maaf, Sasuke..." Naruto menghapus air matanya, "Aku menghabiskan bagianmu memeluk Menma..."

Sasuke memeluk Naruto lembut, "Tak usah pikirkan." Pirang Uzumaki memeluknya erat dan membenamkan wajah di bahu Sasuke. Kesedihan Naruto bercampur dengan kesedihan Sasuke dalam ikatan batin mereka. Keempat lelaki lainnya membiarkan mereka untuk mengatur perasaan akibat berpisah dari Menma. Naruto merasa sangat sedih sebab ia hamil, emosinya lebih tidak terkendali. Setelah ia tak lagi terisak dan melepaskan diri dari Sasuke, Naruto menghela napas, "Sudah tidak apa-apa..."

"Naruto," Izuna mendekatinya bersama Madara. Ia menaruh gulungan yang ia bawa di lantai dan di tangannya ada sebuah kotak dengan biru gelap furoshiki (kain bungkus khas Jepang). Lambang Uchiha tersulam di sana. "Ini untukmu," Izuna memberikan dengan senyum. Naruto menatap kedua saudara tersebut.

"Untukku?" Ia menerima bungkusan itu. "Apa isinya?"

"Baju bayi dengan lambang Uchiha," Jawab Izuna. Safir kembar melebar. Ia terpana mendengar lanjutan, "Ini dari beberapa bagian baju untuk Toshizo dan Hiko."

Madara menjelaskan, "Secara tradisi, saudara dari klan yang harusnya memberimu ini. Tapi, karena klan kalian berdua diambang kepunahan, kami memberikan ini sebagai ucapan terima kasih dan hadiah perpisahan."

"Lagipula, kami menganggapmu saudara meski kita berasal dari lintasan waktu berbeda," tambah Izuna. Madara mengangguk seraya menatap safir kembar. Air mata Naruto mengalir sekali lagi. Ia memeluk Madara dan memanggil, "Onii-chan...!"

Madara balas memeluk, "Otouto yo..."

Melihat mereka, Hashirama mendekati Sasuke. Uchiha muda menatap ke Hokage yang membentangkan tangan ke arahnya. "Sasuke," ia tersenyum dan memberikan isyarat dengan tangannya. Tak butuh jenius untuk tahu maksud Hashirama. Sasuke merengut, "Kau pasti bercanda."

"Ini akan jadi pertemuan terakhir kita," ujar Hashirama. "Kalau kau mau, aku tidak akan memanggilmu onii-chan."

Alis Saske berkedut tapi dia tak bergeming sesaat sebelum dengan langkah berat membiarkan Hashirama mendekat. Hokage memeluknya dengan senyum tenang, ia berbisik ke Sasuke, "Sehat selalu, Aniki." Permata hitam kembar melebar lalu ditutupnya sebelum berbisik juga, "Selamat tinggal, Otouto."

Izuna berkata pada dua remaja setelah mereka melepas pelukan dengan Pendiri Konoha, "Sasuke, Naruto. Aku mau berterimakasih atas kesempatan tak terduga yang membawa kalian melintasi waktu ke sini. Seandainya kalian tidak ke sini, aku mungkin sudah mati dan masa depan lain seperti punya Menma tak akan terjadi. Masalah tak pernah gagal menemukan tempatnya di kehidupan. Aku tidak bermaksud bahwa masa depan tempat Menma berada lebih baik dari punyamu karena mereka punya masalah juga. Jadi, jangan bandingkan milikmu dengan mereka."

Naruto mengangguk, Izuna tersenyum, "Mungkin kau memang tak dibesarkan oleh orangtuamu dan aku yakin kau masih butuh banyak belajar soal kehamilanmu tapi kau akan menjadi ayah yang hebat untuk anakmu. Aku yakin kau lebih dari cukup untuk membantu Sasuke membangkitkan lagi Klan Uchiha di masa depan."

Pirang Uzumaki tersipu tapi senyum lebar. Mata Izuna mengarah ke Sasuke, "Pastikan kau membangkitkan lagi klan kita tapi jangan mengulangi kesalahan pendahulumu, Sasuke." Uchiha muda itu tak berkata apa-apa dan hanya mengangguk. Izuna menambahkan dengan senyum sedih, "Terakhir... Jika... Tobirama, maksudku yang versi edo-tensei, masih di zaman kalian... Katakan padanya... Aku memaafkannya."

Tobirama terbelalak mendengar itu dari Izuna. Namun, ia mengerti. Tanpa kata, Tobirama menautkan jemarinya dengan Izuna. Mata rubinya menatap Sasuke dan Naruto, "Aku minta maaf untuk pilihan yang dibuat oleh diriku yang lain di zaman kalian memicu Klan Uchiha melakukan kudeta dan berakhir dengan Sasuke menjadi satu-satunya Uchiha tersisa. Termasuk soal penciptaan edo-tensei juga."

Ia diam saja, sebelum bisa bersuara, Hashirama mendahului Sasuke, "Aku juga ingin berterimakasih atas kedatangan kalian kemari. Kami semua," ia melirik ke suami dan adik mereka sebelum kembali bertatapan dengan kedua remaja, "bisa menikah, tak seeprti di sejarah asli kalian. Aku minta maaf untuk kenaifan diriku yang lain mengakibatkan Jinchuriki sepertimu dibutuhkan, Naruto." Ia mewakili keluarganya, "Kami minta maaf untuk semuanya..."

Sekali lagi, Sasuke tak berkata apa-apa. Naruto menghapus air mata yang menetes selama mendengar permintaan maaf dari empat bersaudara ini. Sasuke merangkul bahunya pelan. Naruto tersenyum pada mereka, "Tidak masalah, Kakek sekalian, juga Madara dan Izuna. Aku bisa mengatasinya karena aku akan menjadi Hokage!"

Hashirama nyengir lebar, Tobirama tersenyum tipis, Madara and Izuna mengangguk dengan pandangan bangga. Sasuke pun buka suara, "Kau bisa jadi Hokage tapi tidak di masa ini." Ia menatap keempat lelaki di hadapannya, "Yang sudah terjadi, tetap terjadi. Akan lebih baik sejarah di masa kami tak terulang lagi."

Keempat lelaki itu mengangguk. Sasuke menatap mereka beberapa saat sebelum melirik Matahari yang semakin meninggu. "Hari semakin siang," ucapnya. Tobirama mengerti.

"Kau mau mulai sekarang?" Tanya Tobirama. Izuna menambahkan, "Tidak harus pagi ini jika kalian mau."

Sasuke menegaskan, "Kami sudah menunda cukup lama."

Mereka mengangguk, mengerti. Sebelum kehamilan Naruto mencapai batas dimana dia masih bisa menggunakan jurus yang butuh cakra besar, mereka harus melakukan ini secepatnya. Tanpa kata, Tobirama dan Izuna membuka gulungan besar yang mereka bawa di lantai. Mereka sudah menggunakan satu set gulungan berisi cakra bijuuu ntuk memancing Zetsu Hitam jadi hanya tinggal satu set lagi.

Hashirama bersama Naruto berdiri di bagian Yang. Pirang Uzumaki menaruh bingkisan pemberian di kaki kanannya. Gulungan berisi catatan medis yang diberikan Hashirama tadi malam sudah dimasukkannya juga ke bingkisan itu sebelum meletakkan di kaki. Sasuke dan Madara berdiri di bagian Yin depan mereka. Keempat reinkarnasi menghadap Tobirama dan Izuna yang berdiri berdampingan, bersiap membuka segel cakra bijuu dengan berdiri di luar diagram Ba Qua. Tobirama mengingatkan mereka lagi urutan mengaktifkan jurus ini. Para reinkarnasi mengangguk.

"Ayo, mulai," Umum Tobirama.

Ia membuka segel cakra bijuu bersamaan dengan Izuna. Semua berjalan lancar dan cakra bijuu terbebas. Tobirama mengangguk kepada mereka sebagai tanda untuk memulai sinkronisasi cakra. Empat reinkarnasi membentuk ratusan segel tangan secara serentak begitu juga mengeluarkan cakra mereka. Segel tangan yang mereka gunakan bukan segel tangan biasa. Mengambil dari gulungan yang ditulis cucu Indra, mereka memilih segel tangan yang menggambarkan jenis fisik, habitat, tipe elemen dari kesembilan bijuu.

Selagi mereka mulai mengharmonisasikan cakra satu sama lain, Naruto dan Hashirama mulai merasakan keberadaan lain seperti yang mereka rasakan saat latihan bersama. Terasa akrab, hangat dan aman. Resonansi cakra mereka yang kian besar mengakibatkan mereka merasakan keberadaan Asura lebih kuat. Madara dan Sasuke pun begitu. Mereka merasakan keberadaan Indra!

Detik berlalu, lama-kelamaan keberadaan yang dirasakan para reinkarnasi tersebut tak hanya bisa dirasakan mereka, tapi perlahan terlihat dua sosok mengudara di depan mereka. Lebih tipis dibanding genjutsu Naruto Dewasa kemarin. Hanya penampakan tanpa tubuh asli.

Semua pandangan terarah pada dua sosok ini.

"Siapa...?" Izuna bertanya hati-hati.

Sosok berambut panjang namun diikat, berpakain serba putih dengan bordiran magatama di bagian kerah tak asing bagi Sasuke. Ia tahu siapa sosok ini. Matanya melebar mendengar sosok itu bersuara, "Wahai reinkarnasiku, Madara Uchiha, Sasuke Uchiha..."

"Indra Otsutsuki!" Sasuke tak menutupi kekagetannya.

Sosok lelaki berambut pendek dengan baju bermotif sama dengan yang berambut panjang juga berbicara, "Wahai reinkarnasiku, Hashirama Senju, Naruto Uzumaki..."

Naruto pun mengenal sosok itu dari ingatan masa lalu yang diperlihatkan Rikudou Sennin, "Asura Otsutsuki!"

TBC


bbhreal: ya kalo ga ada review kan gak tau ada yang baca? Silent reader kan ga terdeteksi

dwii05: bagus dong kalo cepet tamat, daripada dibiarin bertahun ga update lagi? mau?

blackrabbit: makasih!

elLagarak: gak suka ga usah baca. cari bacaan lain sana.

Uchiuzuraa: uda bakal balik ke masa depan kok

Awy77 Andrian : itu tuh yg mau diomongin mereka *tunjuk cerita* wah, berapa jam tuh marathon? wkwkwkwk review lagi ya!