"Sudah selesai, ya?"

Amuro Tooru—Furuya Rei, membiarkan gendang telinganya ditabuh oleh suara lembut—lega itu. Ia sedikit menunduk, membiarkan seluruh atensi kini berpusat pada seorang pemuda berwujud bocah yang memaku langkah tepat di sebelahnya.

"Ya," Rei menjawab. "Sudah."

Edogawa Conan menghela napas lega. Sudut-sudut bibirnya tertendang ke atas. Sifat yang kalem, teduh—serta begitu tanpa beban. Berbanding terbalik dengan seluruh tindak-tanduk sarat akan arogansi, determinasi, serta intimidasi yang ia arahkan terhadap musuh tadi. Tentu saja, itu diperlukan kala kau ingin menundukkan organisasi yang begitu lihai dan setara bersanding dengan entitas iblis itu sendiri.

Melihat pemandangan yang tak biasa di hadapan mereka, Rei hanya ikut mengukir kurva pada bibir. Siapa sangka—seorang Akai Shuichi dapat bertukar sapa dengan Kaito KID. Hattori Heiji, pun, dengan santai mengobrol akrab.

"Berarti tinggal menunggu Miyano Shiho-san untuk merumuskan antidote-nya, ya?"

Conan mengangguk. Ia melepas kacamata yang telah retak. Merasakan nyeri pada setiap sendi tubuhnya—tapi, itu wajar saja. Lagipula, meski bilur dan ruam ungu membikin dia terasa luluh lantak, Conan tetap merasa itu adalah luka selebrasi untuk kehancuran Organisasi Hitam.

"Enaknya," Rei berujar. "Sehabis ini, nikmatilah masa remajamu, Kudo Shinichi."

Shinichi tergelak. Ia mengirimkan senyum dengan sebelah alis yang terangkat. "Bagaimana dengan Furuya-san? Tidak ada Amuro Tooru lagi sehabis ini?"

Rei merotasi bola mata. "Aku butuh alias. Semua agen rahasia perlu—kau yang paling tahu itu. Tapi, yah …," Rei menghentikan kalimatnya di tengah. Untuk suatu alasan yang jelas, wajah empat sahabatnya terngiang dalam kepala. Imaji yang sebetulnya tak pernah lesap—hanya tersembunyi dalam, di kotak lobus pada memorinya. "Aku juga penasaran apa yang akan kulakukan sehabis ini."

Melindungi Jepang, tentu. Setelahnya?

Kudo Shinichi, dalam tubuh Edogawa Conan—mendapatkan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Memahami berbagai perkara yang barangkali jika ia adalah anak SMU normal, tak akan pernah ia pahami. Senyumnya kembali terbit—kali ini, suportif.

"Aku punya ide," sahut Shinichi. "Pertama-tama, ayo perbaiki banyak hal."

Rei kali ini mengalihkan iris secerah angkasa. Iris itu terarah pada Akai Shuuichi.

"Benar."


Detective Conan © Aoyama Gosho

Warnings! A lot of spoiler, Furuya Rei centric, setting waktu setelah BO dikalahkan, canon, friendship, drama, typo(s), possibly OOC, EyD semoga betul seluruhnya, dan sebagainya.

Afterwards by Saaraa


"Shuu, where are you! Our flight is in one hour, you better hurry up!"

Akai Shuichi reflek menjauhkan ponsel pintar dari telinga tepat saat mengangkat panggilan. Senyumnya hanya terukir simpul kala mendengar suara yang familiar, dibumbui oleh kekhawatiran serta rasa gemas yang kentara.

"Relax, Jodie. Will be there in 30 minutes. Shinichi asked me to meet him in this dock—we won't disappoint him now, will we?"

Shuuichi dapat mendengar helaan napas dari seberang sana. Kini, nada wanita bersurai pirang itu melunak, dan berujar, "Yeah. Alright. Send my regards to the Cool Boy."

"I will."

Panggilan telepon diretas. Shuichi menarik napas dan mengembuskan pelan dari mulut. Saat suara sepatu pantofel mengetuk jalan beraspal, lelaki di awal kepala tiga itu mempunyai ekspektasi akan menyambut seorang pemuda.

Namun saat menengadah, alih-alih Kudo Shinichi—lelaki lain berdiri tegap di sana. Ia mengenakan setelan kemeja-jas yang rapi hanya seperti biasa. Dasi hitam menggantung di antara jas keabuan. Sebab musim dingin perlahan merangkak ke permukaan, ada sebuah syal menghangatkan tengkuknya. Cakrawala biru gelap menjadi latar dan matahari subuh yang perlahan menyembul dari horizon tampak mempertegas siluet itu. Akai Shuichi menendang sudut bibir.

"Aku terkejut," ujarnya—tulus. "Kau tidak punya telepon?"

Sampai harus meminta tolong Shinichi-kun.

Furuya Rei memberikan dengusan. Ia melangkah mendekat. "Ada pun tidak akan kusimpan nomormu."

Shuichi terkekeh tipis. "Cukup adil. Jadi? Ada apa?"

"Ada apa?" Rei mengulang pertanyaan itu dengan tekanan pada silabel. Seringainya tercipta. Ah—benar. Ini dia, Bourbon yang pernah dikenal oleh Shuichi. Tidak, barangkali—memang beginilah sifatnya, mengesampingkan persona apa pun yang ia punya. Penuh arogansi, pendendam, persisten, tak lupa sarkasme di setiap yang ia lakukan. Pandai berpura-pura dan kirimkan senyum, namun mematikan terhadap mereka yang ia benci. Khas sekali. "Urusan kita belum selesai, kan?"

Shuichi harusnya sudah menduga ini. Yah, tetap saja—masa lalu memang butuh dilupakan, namun bukan berarti tak ada penebusan dosa. Maka dengan santai Shuichi bertanya, "Lalu, kau inginnya bagaimana, Furuya-kun?"

Kali ini, Shuichi yang mengeliminasi jarak. Ia meraih revolver yang bersembunyi di balik jaket hitam yang melekat pada busananya. Revolver perak itu diulurkan nihil keraguan. Gagangnya diarahkan pada Rei yang menatapnya dengan—sesuatu yang tak bisa Shuichi definisikan.

Murka? Jijik? Entahlah. Poker face yang bagus—seperti yang bisa diduga dari agen NOC.

Lalu pada akhirnya—setelah hening menguasai begitu mencekat, Rei mengempas napas. Mengacak surai pirangnya. "Tenanglah. Aku tidak ada minat membunuhmu. Untuk sekarang—setidaknya."

Shuichi mengangkat bahu. Kan, siapa tahu.

"Siapa namanya?" Shuichi bertanya.

Nah—kali ini, ia paham gurat ekspresi apa yang terbentuk. Itu adalah nyeri, rasa sesal, sekaligus lelah. Air wajah yang terbentuk begitu saja tanpa memungkinkan untuk dicegah. Seolah otot mukanya telah bekerja sama seluruhnya hanya untuk ingatan satu orang ini saja.

Yang terkasih—sahabat baiknya.

"Morofushi Hiromitsu," Rei menjawab, bagaimana pun. Getir. Tak akan berubah selama apa pun waktu melangkah jauh.

"Aku tidak membunuhnya. Aku menyesal akan apa yang terjadi padanya."

Tidak ada kata "tapi". Tidak ada pengelakan, atau alasan bertele-tele. Itu adalah sesal yang tulus, yang begitu dalam—yang paling rapuh yang bisa disuarakan oleh seorang Akai Shuichi.

"Aku tahu."

Shuichi mengerjap.

"Ia merasa tersudutkan ketika aku tahu, tapi—aku berusaha menenangkannya. Aku memberitahunya bahwa sama sepertinya, aku juga penelusup dalam organisasi."

Rei sunyi. Iris birunya masih menatap Shuichi—telak. Tidak teralihkan, tidak perlu.

Maka, Shuichi melanjutkan, "Lalu, ia tetap menarik pelatuknya karena takut oleh kemungkinan terburuk."

Rei mengangkat sudut-sudut bibirnya. Shuichi mengharapkan reaksi lain—sesuatu yang lebih dibalut oleh amarah dan penuntutan akan kejelasan. Namun sepertinya itu pun tak diperlukan.

"Karena Hiro mendengar langkah kakiku yang menaiki tangga—ya, aku juga tahu bagian itu."

Karena, karena—kau tidak perlu menerima realitasnya pada saat itu juga. Mengalihkan dendam pada orang lain terasa lebih baik, setidaknya untuk melanjutkan hidup.

Shuichi tidak mengubah isi hati menjadi verbal.

"Hiro-kun, ya?" Shuichi mengulang nama itu. Asing pada lidahnya—tapi jauh, jauh terdengar lebih bagus daripada menyebut Scotch. "Dia pasti bangga padamu."

Rei kembali mendengkus. "Akai Shuichi," ia memanggil. Dan bukan berarti Shuichi sempat mengalihkan perhatian sama sekali, bola mata limau itu terarah pada Rei. "Aku berdamai denganmu."

Uluran tangan. Shuichi sempat tertegun untuk beberapa sekon—tidak menyangka, sebelum akhirnya membalasnya.

Senyum Rei kembali mengembang—kali ini, betul-betul seperti Rei yang biasanya.

Dasar sengak.

"Tapi, ini dan itu adalah hal yang berbeda. Pergilah dari Jepangku dan tidak usah kembali."

Mendengar itu, sang penembak handal menggeleng-geleng. "Kau ternyata kekanakan, ya, Furuya-kun."

"Berisik."

Namun—meski mereka kaku, serta canggung, dan dibalut luka lama yang barangkali masih dapat terbuka sewaktu-waktu, kali ini, ada kedamaian yang nyata.

Dan ini terasa begitu … meneduhkan.

Saat Rei telah melepaskan genggamannya dan Shuichi izin pamit duluan agar tidak ketinggalan pesawat, Rei merasa yakin ia mendengar gumaman "Akemi" atau sesuatu semacam itu.

Dan Rei hanya tersenyum tipis.

.

.

.

"Amuro-Nii chan akan berhenti?" Ayumi bertanya polos di sela-sela menikmati kue cokelat.

Genta dan Mitsuhiko hanya mendengarkan, namun melihat wajah gadis yang loyal mengenakan bandana itu, mau tak mau ada rasa sedih yang familiar.

"Padahal, Conan-kun dan Ai-chan juga sudah pergi …."

Rei tersenyum tipis. Ia dapat melihat Agasa terhenyak oleh nada inosen yang tak memahami apa-apa soal mengapa dua sahabatnya harus "pergi ke luar negeri" untuk belajar. Akhirnya, sebelah tangannya terangkat untuk menepuk-nepuk puncak kepala gadis kecil itu.

"Aku hanya berhenti kerja sambilan di Poirot. Tapi, aku akan sering berkunjung."

Tak lama, bel kafe berdenting halus. Suaranya memantul hingga ke sudut-sudut ruangan dan seorang gadis remaja muncul dari balik pintu. Gadis berhelai secerah surai singa menghampiri Ayumi, Mitsuhiko, Genta, dan Agasa yang terduduk pada meja dekat kaca.

Miyano Shiho mengulurkan sebuah telepon, ia terduduk pada lututnya ketika melakukan itu. "Hei, Ai-chan dan Edogawa-kun menelepon, loh. Kalian mau mengobrol dengannya, tidak?"

"Mau!" Genta yang menyahut paling keras. "Makasih, Kakaknya Ai-chan!"

Rei mengangkat sebelah alis. Lalu kedikan dagu dari Shiho akhirnya membuat ia juga melangkah dari sana dan mendekati konter.

"Tenang saja, Kudo-kun sedang melakukan yang terbaik dengan Dasi Pengubah Suara untuk berperan menjadi dua orang."

Rei terkekeh. "Dia memang luar biasa."

Sebelum sunyi sempat mengambil alih dan sebagai insan yang tak sudi basa-basi, Shiho bertanya telak, "Kau mengenal ibuku?"

Rei, sesungguhnya, telah mengantisipasi ini. Bahkan saat kali pertama melihat gadis kecil dengan fitur wajah dan paras yang begitu mirip, ia telah memikirkan berbagai cara untuk bertukar kata ketika waktunya hadir.

"Ya. Hell's Angel—ibumu adalah orang yang … sebut saja, menyelamatkanku."

Kini, Shiho mendengus. "Aktingmu bagus juga ketika hendak membunuh putri dari penyelamatmu."

Rei tergelak rileks menanggapinya. Terkadang, bersahut-sahutan sarkasme memberikan rasa segar tersendiri padanya. "Apa boleh buat. Aku hanya berniat memisahkanmu menggunakan peron terakhir. Tapi Vermouth tidak punya ampun—perintah Renya juga, bagaimana pun."

Shiho menarik salah satu sudut bibirnya. Kala melihat ini, ah—Rei tidak pernah habis pikir seberapa serupanya ia dengan sang malaikat. Mulai dari caranya bersikap, kebaikan hatinya, senyumnya, keberaniannya, kecerdasan yang ada—sungguh, nyaris seluruhnya.

"Shiho," Rei memanggil. Tidak ada formalitas di sana. Berikutnya, sesuatu yang telah mengganjal relung, serta mendesak untuk jadi topik utama termuntah dari ujung lidah, "Aku minta maaf tidak bisa menyelamatkan Akemi."

Shiho membolakan mata. Namun di situasi apa pun, hanya sama seperti Rei—ia terlatih untuk tetap kalem. Meski ada hal yang mengunjunnya, atau dibanjur oleh kejadian tak terkira, ia tahu cara mempertahankan ketenangannya yang tak biasa—kecuali di waktu-waktu tertentu, kebanyakan kala melibatkan sang detektif muda dan Organisasi Hitam.

Namun, organisasi itu, kini—hilang. Ditaklukkan, ditundukkan, tak lain oleh mereka yang telah lama berusaha menghujam taring pada tengkuk para sialan. Dan kini rasa-rasanya tak ada alasan untuk selalu merasa was-was, siap siaga, serta mengambil langkah drastis. Shiho mengumbar senyum tipis. Dibalut memori sengkarut di baliknya, serta ada aksen pedih dalam ekspresinya.

Rei mengedip beberapa kali.

Aku penasaran, apa ekspresiku juga begini—setiap kali mengingat Hiro dan yang lain.

"Kami memilih hidup itu. Ada yang hilang, ada yang bertahan. Itu menyebalkan, itu membikin frustrasi, tapi—kurasa Nee-san ada di tempat yang lebih baik."

Ah. Benar. Ada luka tak pegari, ada rasa kehilangan, ada tragedi di balik seluruh kisah—namun bukan berarti juga harus tetap di sana. Melangkah maju jugalah jawaban.

"Lagipula, Dai— … Akai-san juga minta maaf untuk hal yang sama. Ini terasa aneh."

Rei mengangkat sebelah alis.

"Akai berkata begitu juga?"

"Ya," Shiho menjawab pertanyaan retoris itu. Senyum tak lesap dari bibir tipis yang lembut. "Ara? Kenapa? Kalian memang mirip, hanya saja ada di sumbu yang berbeda."

Rei kali ini tak segan menunjukkan ketidaksukaan. Shiho sekali lagi terpingkal tipis—lembut sekali. "Bourbon, mata nee."

Furuya Rei menghela napas singkat.

"Sampai jumpa, Sherry."

.

.

.

Lelaki pemilik helaian secerah surai singa itu membawa angin musim dingin pada pundaknya. Sepatu pantofel hitam mengetuk alas batuan di bawah kakinya dan menelusuri jalan kecil dengan barisan nisan pada pinggirannya. Seusai sampai pada sebuah nisan yang tampak relatif baru bila dibandingkan dengan yang lain, Rei mengukir senyum tipis.

Helaan napasnya timbulkan uap putih yang bergumul sebelum akhirnya memudar bersama udara. Butiran salju perlahan turun dari takhtanya di angkasa, jatuh, menyentuh permukaan buana, menjadikan temperatur suhu sebagai media pembeku tulang. Namun, Rei telah memakai busana yang tebal—selain hidungnya yang memerah, ia merasa hangat.

Rei melabuhkan kurva pada bibirnya.

"Lama tidak bertemu," ujarnya—seolah pada udara. "Hiro."

Helaan napas diembuskan. Rei menutup pelupuk. Bulu mata keemasan bergoyang kala angin bersemilir.

"Aku penasaran. Kira-kira, kalau kau masih di sini … kita mungkin sedang sama-sama sibuk di kepolisian, ya."

Kekehannya keterlaluan lembut—melayang begitu saja.

"Ah—tidak, bukan hanya kita, ya. Matsuda—si brengsek itu, kemudian Hanchou, dan Hagi … pasti semuanya lagi sibuk, ya."

Rei terdiam. Lagipula—apa lagi yang harus dikatakan? Semuanya terasa sudah berlalu. Selain itu, ia cukup yakin, di mana pun kawan-kawannya berada … entah bagaimana, pastilah—mereka melihat akan apa yang telah ia perjuangkan sejauh ini.

Rei mendongak. Cakrawala biru-keabuan menyambut area pandangnya. Sang surya terbalut awan, mencegah sinar berlebihan menelusup ke dalam retina. Matanya serasa memanas.

Dan saat bulir sebening kristal lolos dari ekor mata dan jatuh menembus tumpukan salju di bawah kakinya, Rei tersenyum.

Aku akan berjuang.

END


A/N: SKSKSKSS? Furuya Rei itu menarik banget. Sebetulnya pertama kali saya fans banget sama Conan mungkin kelas 6 SD, lalu ikutin lagi serinya setengah-setengah di internet … tapi meski setengah-setengah, saya memang sudah tertarik dengan karakter Rei. Terus sekarang baru baca lagi bener-bener dalemin and yeah, he's really an interesting character.

Bakal panjang kalau saya sebutkan satu-satu kenapa saya suka banget akhir-akhir ini sama Rei, tapi kalau bisa dipersingkat … mungkin karena in a way saya merasa mirip sama Rei. Sama-sama keras kepala, pendendam, arogan, goal-drivenand once again, in a way, manipulatif. Mengambil langkah yang cukup ekstrem untuk meraih sesuatu yang diinginkan. Well—bukan berarti saya adalah tipe yang menjatuhkan orang lain, tapi ini kompleks, ya. Intinya saya jatuh cinta sama Rei—tampaknya dia sama-sama Slytherin, sama seperti saya X"D

So, hope you guys enjoy this. Oh, ya, Boss BO, sudah sedikit terkuak, ya, Karasuma Renya … tapi, gosh—masih penasaran siapa sebenernya Karasuma Renya itu sendiri. Saya harap Gosho-sensei akan selalu diberkati kesehatan, kemakmuran, untuk menyelesaikan seri ini dan menikmati setiap waktu yang beliau punya untuk menggambar. I can see that Detective Conan is his whole life, and that's really admirable.

Dan, untuk kawan-kawan sekalian, selamat tahun baru! Saya senang bisa merilis ini di malam tahun baru. Meski hari ini saya tidak begitu sehat, tapi menulis dan menggambar adalah aktivitas yang akan saya dengan senang hati lakukan. Semoga, di tahun yang baru nanti, kita semua akan selalu diberikan kekuatan untuk menjalani. Semoga tahun yang baru nanti, akan ada seluruh kejadian yang baik, membikin senang, dan mengobati luka hati untuk kita. Amin!

Nah, sampai jumpa lagi di fanfiksi berikutnya. Cheers!

P.S: Ayo berteman! Saya akan senang sekali bila kalian mengirimkan review dan atau DM ke kontak saya.


Epilog

Kudo Shinichi menarik napas, lalu menghelanya lembut. Iris birunya menatap Ran yang terlelap pada bahunya. Setelah memutuskan bahwa kencan hari ini cukuplah di rumah dan menonton berbagai film, pada akhirnya—gadis beriris ungu itu terbuai oleh kantuk dan terlelap.

"Dasar," Shinichi menyeletuk. Senyum tipisnya terbit dan ia mengangkat sebelah tangan untuk menyingkap poni Ran ke balik daun telinga sang gadis. Detik berikutnya, gawainya timbulkan vibra. Melihat sebuah telepon masuk, Shinchi mengangkat panggilan itu—sedikip terkesiap kala menyadari bahwa itu adalah panggilan video.

Wajah Shiho muncul di sana, dengan kesegaran dan senyum usil yang tampak nyata. Shinichi mengangkat sebelah alis. "Ada apa, Hai—ah, Miyano, maksudku."

"Kau boleh memanggilku Haibara. Sulit menghilangkan kebiasaan lama, lagipula—"

"Makanya, kutanya kau lagi apa di sini."

"Harusnya itu pertanyaanku! Memangnya FBI tidak punya agen lain selain dirimu, hah!"

Shinichi mengerjap. Sahut-sahutan keras itu rasanya familiar. Lalu, pemuda itu melirik Ran dari pundaknya, dan mau tak mau perlahan memosisikan kepala gadis itu agar tiduran di sofa sementara ia menarik diri—agar suara telepon tak merisak gadisnya.

Shinichi pergi pada beranda di rumahnya dan melanjutkan rasa penasarannya, "Uh. Kau sekarang ada di bawah CIA, kan, menjadi ilmuwan di sana?"

"Yeah. Itu yang menarik, akhir-akhir ini, kami menemukan lagi organisasi yang mencurigakan."

Dalam sepersekian sekon, urat Shinichi menegang. Suaranya yang dikerahkan dari dasar tenggorokan terdengar hati-hati, "Organisasi?"

"Bukan Organisasi Hitam. Tapi, ini adalah organisasi yang baru berkembang akhir-akhir ini. Dan," Shiho memutus kalimatnya dengan dramatis, lalu denga ponselnya, ia menunjukkan latar ruangannya. Dua orang berdiri di sana, masih berdebat. "Tebak agen mana saja yang diutus untuk menelusup ke sana."

Shinichi mengedip ketika melihat layar ponselnya. Selanjutnya, tawanya pecah.

"Akai Shuichi!"

"Furuya-kun, berhenti membentak. Bukankah ini seperti mengenang waktu itu?"

"Mengenang kepalamu."

Shiho terkikik tipis. "Begitulah keadaan kami. Bagaimana denganmu, detektif?"

Shinichi menengadahkan kepalanya. Saat angkasa hitam yang diisi oleh serpihan bercahaya itu tampak olehnya, sang pemuda tersenyum.

"Aku ... baik. Hebat, malah."

"Hmnn … baguslah."

"Yeah. Haibara?"

"Ya?"

"Jaga dirimu, ya. Titip salam pada Akai-san dan Furuya-san."

"Tentu. Sampai jumpa."

"Hmn. Sampai jumpa."

Shinichi meretas telepon. Lalu, ia masuk ke dalam rumah hangatnya.