Twin
Summary: Punya kekasih itu normal. Namun, bagaimana jika kekasihnya saudari kembar? Pastinya akan jauh lebih menyenangkan.
Disclaimer: Naruto. Date a Live. Hanya dimiliki oleh pembuatnya masing-masing. Aku hanya meminjam beberapa unsur dari mereka demi memuaskan imajinasi liarku.
Warning:
Short Lemon. OOC. Minor threesome. Human.
I Hope You All Enjoy This Story :)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang harinya di lapangan sekolah ini, siswa dari kelas tertentu bermain bola dengan masing-masing tim berjumlah lima orang. Kedudukan skor adalah 6 - 6 dengan sisa waktu mendekati akhir. Posisi bola saat ini berada di tangan kiper Sabaku Gaara.
Gaara melihat sekitar dan mencari anggota timnya yang kosong tidak dijaga.
"Kiba!"
Kiba menerima bola dengan kakinya dan menggiring bola ke gawang lawan. Kiba mulai sadar saat posisinya terancam dengan kedatangan Sasori. Awalnya Kiba bisa melalui Sasori, tapi kegigihan Sasori dalam mengejar bola membuatnya cukup kewalahan.
Kiba menyadari Naruto kosong.
"Naruto tangkap!"
Kiba menendang bola dari tepi lapangan, meluncur menuju Naruto yang langsung diterima dadanya. Naruto mengabaikan sedikit rasa sakit dan menggiring bola mendekati gawang tim lawan. Tujuannya menambah angka untuk timnya tidak mudah terlaksana ketika Neji dan Lee siap menghadangnya. Namun tak butuh waktu lama bagi Naruto melewati mereka berdua.
Penjaga kiper bernama Chouji gugup melihat Naruto mendekati gawang yang dijaganya. Ada alasan spesial mengapa Naruto selalu menjadi striker andalan di tim sekolah.
Naruto langsung menendang bola yang meluncur cepat ke sisi kiri gawang lawan. Chouji dengan sigap melompat karena bermaksud menangkap bola. Sayang sekali, arah bola beralih ke kanan sehingga masuk ke dalam gawang itu.
"Goaaaaaalll!"
"Goal! Goal!"
Teriakan dan sorakan bisa didengar di kursi lebar di pinggir lapangan. Suara yang paling besar berasal dari pihak perempuan terutama dari dua gadis kembar dengan wajah yang bisa dibilang mirip. Namun, yang membedakan mereka berdua dari satu sama lain adalah warna rambut dan warna iris mata.
Satunya bernama Maria Arusu, memiliki rambut perak dan iris mata biru cerah. Satunya lagi bernama Marina Arusu, memiliki rambut hitam dan iris mata kuning eksotis.
Kakuzu sebagai wasit membunyikan peluit yang dicurinya dari anak tetangganya kemarin malam. Bahkan sampai sekarang Kakuzu bingung kenapa ayah anak itu selalu ingin menghajarnya setiap kali mereka bertemu.
"Permainan selesai! Skor akhir 7 - 6 dengan kemenangan tim NAMIKAZE!" seru Kakuzu. "Sesuai kesepakatan tim Hyuuga harus melunasi hutang kas kelas dengan bunga 1000%(senpasento). Bayarnya langsung tunai BANGSAT!"
Tim yang kalah langsung mengeroyok Kakuzu rame-rame.
Gaara dan Kiba menampar punggung Naruto.
"Tembakan bagus Naruto," puji Gaara.
"Haha! Itu baru sahabatku!" Kiba tertawa.
"Akhirnya aku bisa tidur di kelas sekarang," ujar Shikamaru, menguap.
Shino menggangguk pada Naruto.
Naruto terkekeh mendapat respon dari sahabatnya ini.
"Menang juga karena kerja keras kita berlima."
Keempatnya tersenyum mendengar perkataan sahabat pirang mereka ini. Mereka duduk di tempat berpisah. Naruto yang paling beruntung dari empat sahabatnya. Karena saat dia duduk di antara Maria dan Marina, dua-duanya langsung mengelap keringatnya dan memberikannya minuman dingin.
Naruto bertanya.
"Bagaimana aku tadi?"
Maria dengan Marina membalas.
"Kau mengesankan Naruto-kun," puji Maria.
"Pfft, wajar bila Naruto kita mengesankan," ujar Marina bangga, "dia yang terbaik!"
Naruto menggaruk rambutnya dan tertawa gugup.
"Kalian terlalu berlebihan 'ttebayo," balasnya.
Maria dan Marina tersenyum geli melihat tingkahnya. Maria menunjukkan kotak makan siang.
"Naruto-kun mau makan? Ini makan lah. Aku membuat bento tadi pagi."
Marina langsung mengambil sumpit.
"Dan aku akan menyuapi Naruto!" serunya.
Maria kesal.
"Marina! Itu curang namanya!"
Marina menjulurkan lidah pada Maria.
"Biarin. Siapa lambat dia gak dapat!"
"Kembalikan sumpit itu!"
Naruto memutuskan untuk melerai dua gadisnya dengan mencium bibir mereka masing-masing. Aksinya membuahkan hasil di saat Maria dengan Marina terdiam dengan kulit pipi merah. Mereka terkejut dengan tindakan Naruto tapi bukan berarti tidak menyukainya.
Naruto menghembuskan nafas, berbicara dengan halus.
"Tolong berhenti bertengkar. Kalian bisa melakukannya secara bergiliran tanpa perlu berebutan. Bagaimanapun juga aku suka melihat kalian berdua akrab dengan semestinya."
Maria dan Marina saling pandang satu sama lain. Mereka berpikir bahwa yang dikatakannya itu ternyata benar.
"Umm, oke."
"Baiklah."
Naruto berseri.
"Bagus."
Mereka dengan bergiliran menyuapi Naruto. Naruto yang tidak ketinggalan ikut menyuapi kekasih kembarnya itu. Siswa-siswi yang mengenal ketiganya menunjukkan reaksi berbeda-beda.
"Naruto-kun…."
Hyuuga Hinata ingin menangis melihat pemandangan itu.
Ino menghela nafas.
"'kan sudah kubilang Hinata. Kau kurang cepat jadinya Naruto diembat cewek lain," katanya lalu berkedip, "maksudku, diembat dua cewek kembar."
Kiba kesal sekaligus iri, melihat Naruto diperhatikan dua gadis yang termasuk dalam daftar siswi populer.
"Cih, dapat pacar. Kembar lagi. Aku tidak tahu harus membencinya atau bangga padanya," gerutunya sebal.
Shino menggeleng.
"Mungkin jika kau berhenti menggoda setiap cewek di sekitarmu akan ada gadis yang benar-benar menerimamu Kiba," katanya.
"Enak saja! Playboy adalah gaya hidup!" seru Kiba.
Sejumlah siswi menatap tajam Kiba setelah mendengar deklarasinya.
"Membosankan," kata Shikamaru, "wanita itu merepotkan. Lebih baik hidup nyaman seorang diri."
"Hooh… berarti aku juga termasuk merepotkan, benar, Shikamaru?"
Shikamaru baru sadar ada Temari di belakangnya dan menelan ludah.
"A-Aku hanya bercanda Temari. Perkataanku tadi jangan dibawa serius."
Naruto mengabaikan sekitarnya untuk sementara waktu, sibuk memanjakan diri dengan perhatian yang diberikan kekasih kembarnya itu.
[Skip]
Pulang sekolah tiba. Banyak murid yang tidak memiliki keperluan lagi di sekolah berjalan keluar gerbang. Naruto, Maria, Marina, ketiganya terlihat di antara lautan siswa-siswi ini. Apalagi ditambah Maria dan Marina menggenggam masing-masing satu tangan Naruto.
"Jadi, kalian berniat mengerjakan tugas seninya di rumah siapa?"
Marina bertanya.
"Rumahmu bisa Naruto?"
Naruto berkedip.
"Yeah, di rumahku bisa. Kalian yakin?"
Maria dan Marina mengangguk.
"Oke."
Keluar gerbang, ketiganya terus berjalan sampai menjauh dari kerumunan murid. Ini bukan berarti mereka tidak suka berjalan bersama teman sekolahnya, tapi memang jalur yang dituju ketiganya mengarah ke halte. Karena letak rumahnya yang memang jauh dan takutnya akan ada hujan, ketiganya memutuskan naik bus. Dengan posisi Naruto dan Marina duduk bersebelahan sedangkan Maria duduk di kursi di belakang keduanya. Bus itu kemudian melaju dengan kecepatan yang dianjurkan. Sambil mencegah kebosanan Maria bertanya pada Naruto.
"Kau akan membuat apa nanti Naruto-kun?"
Naruto tersenyum misterius.
"Nanti juga kau akan tahu."
Maria menatap Marina dengan senyuman. Marina menggeram, sadar yang direncanakan saudari kembarnya. Mereka berdua mungkin sepakat berbagi Naruto, tapi bukan berarti tak ada rasa persaingan. Setiap ada kesempatan, tak jarang satu di antara keduanya berniat terlihat 'lebih baik' di depan Naruto.
Marina mengamati keadaan di dalam bus dan sadar di sekitarnya sepi. Hanya sedikit penumpang selain ketiganya dengan keadaan tertidur pulas atau mendengar musik dari headset terpasang. Pemikiran aneh muncul di kepalanya.
Marina memanggil.
"Naruto."
"Ya, Marina?" Naruto merespon.
"Aku ingin membisikkan sesuatu. Boleh?"
"Boleh saja."
Marina berbisik di telinga Naruto. Selesai berbisik Marina menatap Naruto yang terkejut.
"Err... Bisakah… kita melakukannya di tempat lain saja?" tanya Naruto pelan, tapi masih bisa didengar Marina.
"Aku yakin kau akan sangat menyukainya," ujar Marina percaya diri.
Naruto tertawa gugup.
"Aku tahu maksudmu tapi bagaimana jika ada yang melihat kita?"
"Keadaan sedang sepi. Dan jangan bilang kau tidak merasa antusias melakukannya di sini, Naruto."
"..."
Naruto terdiam, mengamati sekeliling dan sadar yang dikatakan Marina itu kenyataan. Bahkan jumlah penumpang di bus ini bisa dihitung dengan jari. Naruto menghembuskan nafas, tapi ekspresinya mengundang rasa girang.
"Aku rasa tidak masalah."
Marina mengedipkan pada dia. Marina berlutut di depan Naruto dan membuka ritsleting celana-nya dan mengeluarkan penisnya yang masih lemas.
"Tidur terus tidak baik untuk kesehatan," candanya, mengocok penisnya sekaligus menjilat lubang penisnya.
Naruto memejamkan mata dan mengelus rambut Marina yang pusat perhatiannya tertuju pada penisnya. Marina begitu telaten memperlakukan organ intim kekasihnya, sampai Naruto dibuat geli sekaligus gemetar berkat lidahnya.
'Fufu, tidak sia-sia aku praktik dengan timun setiap malam hari.'
Marina puas melihat ekspresi Naruto.
'Sekarang waktunya menuju tahap berikutnya~'
Marina kali ini mengulum penisnya, menelan setengah bagian dari itu.
"M-Marinaah…"
Naruto mendesah sedangkan menyebut nama gadis rambut hitam ini. Kebetulan salah satu kekasihnya di kursi belakang mendengar persis yang dikatakannya.
'Ada apa dengan Naruto-kun?'
Maria curiga dan mengintip dibalik punggung kekasihnya.
'A-Apa yang….'
Maria melihat saudarinya memanjakan kemaluan Naruto dengan mulutnya. Kesal, Maria pindah ke kursi di samping Naruto dan mencium bibir Naruto.
"Mmmph?!"
Naruto terkejut, tapi kemudian mencium balik Maria. Maria meletakkan tangannya di leher Naruto, menekan kepala Naruto untuk memperdalam ciuman mereka berdua yang agresif dan menuntut. Marina yang tidak mau kalah menyedot penisnya, awalnya pelan tapi melihat keduanya berciuman membuat gairahnya naik dan menjadi ganas.
Selagi 'adik kecil'nya dimanja di bawah sana, Naruto dengan Maria menekan lidah masing-masing di saat berciuman. Sebagai laki-laki, Naruto begitu mudah mendominasi mulut lawan mainnya sampai membuat Maria tidak mampu menahan desahannya. Naruto juga merasakan akan ada sesuatu yang keluar dari penisnya. Namun, Naruto tak bisa mengatakan apapun saat bibirnya dikunci jadi dia menyemprotkan mulut Marina dengan sejumlah spermanya.
"*glup* *glup* puaahh…."
Marina menelan sperma yang didapatnya, mengeluarkan penisnya dan menjilat sisa sperma yang tertinggal di bagian kepala.
"Masih tetap keras," gumam Marina mengamati penis Naruto, menengadah dan melihat Maria dan Naruto masih berciuman, "hey Maria, mau bertukar tempat?"
Maria berhenti mencium Naruto, menengok ke Marina sebelum menatap Naruto.
"Boleh Naruto-kun?" tanya Maria dengan senyum manis.
Naruto menyengir dan mengangguk. Marina pindah ke kursi sementara Maria berdiri membelakangi Naruto. Maria menaikkan rok-nya sekaligus menarik cd-nya ke samping, memegang penis Naruto dan mengarahkan itu ke vaginanya dengan perlahan menurunkan pinggangnya.
"Ahnn.…"
"Oohhh…."
Mereka berdua melepas desahan saat penyatuan dua organ intim berbeda berhasil. Maria 'menungganggi' Naruto dengan posisi reverse cowgirl, memegang pahanya sebagai pegangan. Naruto mengalungkan satu lengannya di depan baju Maria dan memastikan Maria tidak jatuh dari pangkuannya.
"Naruto..." Marina cemberut, mengangkat rok-nya sampai memperlihatkan cd-nya, "…jangan lupakan aku juga."
Naruto tersenyum simpul dan menyerahkan lengan lainnya. Marina menuntun lengan kiri Naruto lalu Naruto memasukkan jari tengahnya pada vaginanya. Naruto berseri mendengar desahan Marina, puas dia bisa melakukan multi-tasking dalam kegiatan seks mereka bertiga.
"Haahnn~" Maria sedikit merah wajahnya, menaikkan dan menjatuhkan pinggulnya berulang kali. "…k-kau menikmatinya Naruto-kun?"
"Y-Yeah…" kata Naruto, menyukai posisinya sekarang, "…k-kau sungguh ketat Maria."
Maria berseri dan bangga mendapat pujiannya.
Sedangkan Marina menikmati sensasi jari tengah kekasihnya di organ intimnya. Naruto melihat ekspresi wajah Marina yang menggoda membuatnya langsung menciumnya.
"Mmphh!"
Marina tidak menolak dan mencium balik, terkadang mendesah karena vaginanya masih dipermainkan begitu antusias di bawah sana. Maria di sisi lain merasakan dirinya sudah mendekati puncaknya, karenanya cairan cintanya meletus sekaligus berjumpa cairan sperma Naruto yang ikut menyembur.
"Haah… haah..."
Maria menghapus keringat di wajahnya dengan tisu dari tas-nya, menunggu beberapa saat lalu turun dengan perlahan dari pangkuan Naruto. Maria menggunakan tisu lain untuk membersihkan vaginanya sekaligus penisnya.
"Marina, aku sudah selesai," ujar Maria.
Marina berhenti mencium Naruto.
"Bagus. Sekarang giliranku yang berkuda."
Marina menyengir pada Naruto.
"Bisa beritahu aku di mana lubang koinnya berada, Naruto?"
Naruto sweatdrop.
"Aku bukan wahana permainan Marina."
Marina tertawa kecil dan bertukar tempat dengan Maria. Namun tidak sepertinya, Marina memilih cowgirl dan dengan cepat menyatukan organ intimnya dengan organ intim Naruto. Marina mengelilingi leher Naruto dengan lengannya.
"Bersiap untuk guncangan Na…ru…to…." bisik Marina di telinganya.
Naruto terkekeh.
"Aku siap," balas Naruto.
Marina meletakkan kepalanya di bahu kanan Naruto, langsung mengangkat dan menjatuhkan pinggulnya. Naruto mengalungkan satu lengannya di punggung Marina untuk mencegahnya jatuh. Naruto menyadari Maria yang mulai membuka separuh dari jumlah kancing baju-nya. Maria mendekati Naruto dan menurunkan cup-bra bagian yang kiri.
Naruto mengemut puting merah mudanya yang membuat Maria mendesah. Naruto juga mengangkat pinggangnya dan merasakan nikmatnya lubang kewanitaan Marina. Naruto sadar mulut dan penisnya sedang dimanjakan oleh payudara dan juga vagina. Sementara Marina fokus mengincar klimaks untuknya dan untuk Naruto, Maria mengelus rambut Naruto dan membiarkannya mengisap putingnya sesuka hati. Keduanya begitu fokus menyenangkan Naruto dengan caranya masing-masing.
Tidak lama, Naruto dan Marina merasakan puncaknya semakin dekat. Sampai akhirnya keduanya mengalami klimaks. Naruto menjauhkan wajahnya dari buah dada Maria, tertawa gugup.
"Dua kali… entah kenapa terasa sedikit ngilu," ujarnya.
Maria tersenyum geli.
"Bukannya kau bisa bertahan lebih lama dari ini Naruto-kun?"
Naruto terkekeh.
"Kau sangat mengenalku Maria."
Maria tertawa kecil dan mencium bibir Naruto.
"Haaahh… sungguh melegakan," kata Marina, mengecup pipi Naruto dan melirik Maria yang sudah mengancing seragam sekolah-nya, "Maria, kau masih punya tisu?"
Maria mengangguk lalu mengambil sejumlah tisu yang dibutuhkan saudaranya.
"Ini Marina."
"Terima kasih Maria."
Setelah membersihkan masing-masing organ intimnya, mereka bertiga kembali duduk dengan posisi yang seperti semula. Naruto bersama Marina sedangkan Maria di belakang. Menunggu halte yang mereka bertiga inginkan terlihat, Maria dan Marina berbincang dengan Naruto.
"Tadi itu… menyenangkan," kata Naruto.
"Naruto-kun bilang begitu karena kau lelaki," canda Maria.
Naruto menggaruk rambutnya dan terkekeh gugup.
Marina tertawa kecil.
"Itu bukan hal buruk. Karena kau sendiri tadi seperti kegirangan menunggangi Naruto, Maria."
Maria tertawa canggung, wajahnya merah.
Setelah bus berhenti di halte yang mereka inginkan, ketiganya turun dari bus. Mereka berjalan kaki menuju rumah Naruto.
[Flashback]
"Lebih cepat lagi Maria!"
"Tunggu aku Marina!"
Sepasang saudari berlari di sisi jalan dan baru pulang dari sekolah. Awalnya mereka akan ke mall, tapi mengalami perubahan rencana akibat hujan yang turun. Sekarang keduanya berniat mencari tempat berlindung yang terdekat.Mengambil arah ke kiri, Maria dan Marina masih terus berlari hingga melihat halte. Dengan perasaan lega keduanya duduk di bangku kosong dan meletakkan tas yang basah di samping.
Marina melirik Maria.
"Tadi itu seru juga," sahut Marina menyengir.
"Jika saja kau tidak merusak payung ibu mungkin kita tidak akan kesusahan."
Maria mengerutkan keningnya.
Marina mengangkat bahu. "Eh, salahkan saja reporter yang tidak tepat melaporkan keadaan cuaca hari ini."
Maria menghela nafas, mengamati sejumlah kendaraan lewat dengan jenis yang berbeda-beda. Maria berharap hujan cepat berhenti supaya dia bisa langsung menyelesaikan PR-nya.
"Ngomong-ngomong, bajumu basah, Maria?" tanya Marina.
"Sedikit," balas Maria.
"Hmm begitu."
Diam tanpa ada kegiatan, pada akhirnya Maria dan Marina mengeluarkan masing-masing ponsel. Satu bermain game sisanya mengecek berita perkiraan cuaca.
""Perkiraan hujan akan berhenti sebelum malam hari tiba"," kata Maria, mengutip kalimat yang dibacanya.
"Paling itu berita tipuan lagi," balas Marina tanpa menengok ke saudaranya.
Maria sweatdrop dengan sikap Marina, mengamati sekeliling dan baru sadar hanya ada dia dan saudaranya di tempat ini. Jarang tapi tidak aneh bila halte sepi.
Bunyi aneh berasal dari perut mereka berdua. Marina melirik Maria.
"Kotak makan siangmu masih ada sisa makanan, Maria?" tanya Marina.
Maria menghela nafas.
"Bukannya kita sama-sama menghabiskan bekalku karena kotak makan siangmu ketinggalan di rumah? Sudah ingat?"
"….."
Marina menyengir lebar.
"Hehe. Maaf?"
Maria cemberut.
Tidak terasa berapa banyak menit yang terbuang, mereka berdua melihat pemuda pirang mendekati halte. Salah satu siswa yang populer karena kehebatannya di lapangan. Sangat sulit melupakan wajahnya sebab dia punya tanda unik di pipinya.
"Akhirnya ada tempat untuk bersantai juga."
Pemuda pirang sadar kehadiran Maria dan Marina.
"Oh, hai Arusu."
"Hai juga Namikaze-kun," sapa Maria balik dengan nada baik.
Marina sedikit kesal.
"Kalau kau ingin menyapa kami sebut nama depan kami juga, Namikaze," kata Marina.
Namikaze Naruto berseri, tidak berbicara lalu duduk di kursi lain. Karena perutnya berbunyi dia mengeluarkan kotak makan siang dari tas-nya. Berisikan onigiri panas yang sempat dibelinya dari vending machine.
Naruto mengambil satu onigiri dan mulai makan, sensasi kecap asin ditambah gurihnya nasi hangat membuatnya puas.
"Hm?"
Naruto mendengar bunyi aneh dari samping, melirik Maria dan Marina yang terlihat gugup karena ketahuan lapar.
"Kalian berdua lapar?"
Keduanya mengangguk.
"Kenapa tidak bilang," kata Naruto, tersenyum saat menunjukkan bekalnya pada mereka berdua, "jangan sungkan. Ambil lah beberapa."
Karena situasi yang *ehem* darurat, Marina dengan Maria menerimakebaikannya.
"Terima kasih Namikaze-kun," kata Maria malu-malu.
"Kau baik juga Namikaze," balas Marina menyengir.
Naruto mengangkat bahu, menghabiskan onigirinya dan minum dari botol air putih.
"Kalian mau?" tawar Naruto.
Marina mengangguk, menerima botol air dan minum dengan mendekatkan bibirnya dan ujung botol. Maria sedikit merah sekaligus kagum melihat saudaranya tanpa ragu minum dari bekas bibir laki-laki.
"Sekarang giliranmu minum Maria," ujar Marina lalu menambahkan, "tidak usah sepertiku, cara minum seperti air terjun ingat?"
Maria mengangguk, minum dengan ujung botol sedikit jauh dari bibir. Selesai Maria mengembalikan botol air pada punyanya. Tidak lama hujan pun mereda, tepat seperti yang dibaca Maria di internet. Mereka bertiga kebetulan berjalan ke arah yang sama.
"Huh, rumah kita satu arah rupanya," kata Naruto.
"Memangnya Namikaze-kun sering lewat sini?" tanya Maria.
Naruto mengangguk.
"Aku pikir Namikaze lewat sini karena khawatir dengan keadaan kami," canda Marina.
Naruto tertawa kecil.
"Bagaimana jika yang kau katakan sebenarnya kenyataan?"
Marina gelagapan dan tidak tahu harus merespon dengan apa. Saat menyadari senyuman Maria ke arahnya, Marina cemberut lalu mencubit lengannya.
"Ouch."
Walau sedikit sakit, Maria beranggapan kalau itu sepadan dengan melihat betapa malunya ekspresi saudarinya tadi.
Guntur menggelegar di langit.
""Kyaaaa!""
Mereka berdua menjerit dan tak sengaja langsung memeluk Naruto dari sisi berlawanan. Naruto sweatdrop, berdeham sekaligus menyadarkan Maria juga Marina dari rasa kagetnya tadi. Keduanya sadar lalu melepaskan tangan Naruto.
"M-Maaf Namikaze-kun."
"Y-Yeah, maaf Namikaze."
Maria dan Marina minta maaf dengan nada terbata-bata. Rasa malu benar-benar dirasakan mereka berdua.
"Tak apa. Kalian hanya terkejut," balas Naruto dengan nada halus.
Naruto menengadah sebentar, terkejut merasakan setetes air mengenai hidungnya sebelum bertambah dalam jumlah banyak. Naruto berinisiatif mengeluarkan payung dari tas-nya.
Maria dan Marina langsung mendekat pada Naruto… lagi.
"Kita harus berjalan dengan… hati-hati kali ini," ujar Naruto.
Mereka mengangguk, mengamati permukaan jalan yang sebagian basah karena hujan.
"Setuju," kata Marina.
Maria mengangguk.
Mereka berjalan lagi. Namun, tidak seperti sebelumnya, Naruto menahan diri untuk tidak melirik dua gadis cantik yang menempel padanya.
'Jika Kiba melihatku sekarang, mungkin dia akan berusaha membunuhku.'
Naruto sweatdrop membayanglan reaksi sahabatnya yang itu.
Tanpa peringatan, ada mobil lewat dan genangan air yang dilewati kendaraan tersebut terciprat ke arah Marina. Tidak sempat mengenai bajunya saat Naruto menarik dia. Sesaat setelah melingkari lengan kirinya pada sekitar pinggang rampingnya.
"A-Apa yang."
Marina gelagapankarena peristiwa yang baru dialaminya. Marina lalu menyadari bahwa dia baru saja ditolong Naruto.
"Terima kasih, Naruto."
Naruto berkedip, mengangguk ke arah Marina.
Maria mengerutkan keningnya melihat mereka, kebingungan karena dia sedikit tidak suka melihat kedekatan saudarinya dengan Naruto.
"Waa–"
Maria nyaris tergelincir jika bukan karena Naruto yang menahan lengannya.Rupanya Maria tidak sengaja menginjak kulit pisang.
"Tadi itu hampir saja. Kakimu sakit?" tanya Naruto khawatir.
Maria merona, menggeleng pertanda pemikiran Naruto salah.
"Bagus lah. Lain kali hati-hati jalannya saat ke depan," tegur Naruto lembut.
"Aku paham… Naruto-kun," kata Maria, nadanya mengecil saat mengucapkan nama depannya.
Naruto puas dan matanya beralih ke depan melihat jalan, tidak tahu kalau mereka mengamati pemuda yang sama.
Tidak perlu kata-kata untuk mengetahui perasaan keduanya terhadap siswa pirang ini.
[Flashback End]
Melukis adalah kegiatan yang dilakukan mereka di ruang tamu rumah Naruto. Tema yang dipakai ketiganya tentu saja berbeda satu sama lain. Baik itu mengambil inspirasi dari mitologi, mitos, legenda, non-fiksi dan pastinya fantasi.
"Selesai!"
Marina puas melihat hasil karyanya, beralih ke mereka.
"Bagaimana dengan lukisan kalian?"
"Sebentar lagi selesai," kata Maria.
"Hanya tinggal diberi sedikit warna," balas Naruto.
Karena penasaran Marina melihat lukisan keduanya. Lukisan tema burung merak dengan latar belakang matahari tenggelam. Kemudian lukisan bulan dengan ukiran wajah manusia yang menjulurkan lidahnya.
Marina berkedip.
"Aku penasaran reaksi Guru Kakashi nanti seperti apa," kata Marina.
"Pastinya senang," balas Naruto percaya diri.
"Senang menghukummu Naruto-kun," ujar Maria sweatdrop.
Naruto menyengir. Sadar biskuit dan air tehnya habis lalu ke dapur, Naruto kembali ke ruang tamu dengan teko dan piring kecil yang terisi.
"Terima kasih Naruto-kun."
"Terima kasih Naruto."
Naruto terkekeh lalu melirik Marina.
"Kau melukis apa, Marina?"
Marina menelan biskuit dulu lalu menunjukkan lukisannya pada mereka. Raut wajahnya begitu bangga dan percaya diri.
"Bagaimana? Bagus bukan?"
Naruto dan Maria kebingungan, karena yang dilihat hanya lukisan gelap tanpa ada warna lain.
"Marina, tema apa yang kau pakai?" tanya Maria.
"Kegelapan luar angkasa," balas Marina dengan antusias.
Naruto sweatdrop dan memilih minum teh, sempat beralih ke jam dinding.
"Huh, tidak terasa sebentar lagi malam."
Maria terkejut.
"Berarti sudah waktunya kami pulang," kata Maria.
Dia tidak ingin membuat ibu mereka cemas.
"Waktu begitu singkat jika tidak memikirkannya." Marina cemberut.
Mereka membereskan peralatan melukis dan menyimpannya ke tempat semula. Perhatian ketiganya teralihkan pada hujan yang tiba-tiba turun di luar. Sungguh timing yang tepat.
"Naruto-kun, kau ada payung?" tanya Maria canggung.
Naruto menggaruk pipinya lalu tertawa gugup.
"Payungnya tidak ada. Mungkin dibawa ayah atau ibuku."
Marina mengeluarkan ponsel-nya yang bergetar dan membaca pesan masuk.
"Maria, ibu bilang akan pulang dari pekerjaannya besok. Menurutmu lebih baik pulang… atau kita bisa memilih menginap di rumah lain?"
Marina melirik Naruto dengan senyum misterius.
Maria sadar yang dipikirkan saudarinya, perhatiannya pada Naruto.
"Karena di luar hujan jadi… boleh kami menginap?" tanya Maria dengan ekspresi berharap.
Naruto antusias karena alasan yang hanya diketahuinya.
"Boleh."
E-N-D
A/N: Halloooooo reader sekalian! Bagaimana dengan fic lemon yang ini? Bagus? Aku tunggu komentar kalian di kolom review :)
Untuk dua karakter ini adalah Spirit khusus yang bisa ditemukan di game Date a Live: Ars Install.
Tapi khusus untuk Maria, dia juga muncul di light novel sebagai MARIA, A.I. Fraxinus, awalnya hanya A.I. sebelum pada akhirnya diberikan wujud fisik lewat kekuatan Rasiel oleh Nia Honjou saat pertempuran terakhir menghadapi DEM.
Karena sudah lama tidak nulis ya, hanya bisa nulis segini. Tolong di maklum. Wkwk. Karena bosan juga aku publish fic ini jadinya.
See you next time on my another fic lemon.
{AegisNaked : Sign out}
