Mantan
An Attack on Titan fanfiction made by Rizuki
.
.
Hari menjelang petang saat Bertholdt bangun dari tidur siangnya yang nyenyak. Ia menatap langit-langit kamar cukup lama sebelum bangkit dan duduk di sisi ranjang guna mengingat kembali di mana ia meletakkan ponselnya. Saat tak ia temukan benda persegi itu sejauh matanya memandang dan sejauh tangannya meraih, ia beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Ia berdiri sejenak di depan pintu kamar setelah menutupnya. Matanya mencari-cari sosok yang bisa membantunya menemukan di mana ponselnya berada. Namun-lagi-lagi, sejauh matanya memandang, sosok itu tak tampak. Untungnya, aroma masakan yang tercium dari arah dapur memberikannya petunjuk.
"Selamat pagi." Bertholdt mengecup sebelah pipi wanita yang sedang mengaduk masakannya itu. Wanita itu tentu saja terkejut. Tapi rasa terkejut sama sekali tidak mengurangi konsentrasinya. Wanita itu benar-benar sudah jadi ibu rumah tangga yang sempurna. Khususnya bagi Bertholdt.
"Selamat sore, Putri Tidur. Apa yang membangunkanmu?" suara lembut dan wajah datar itu membuat Bertholdt kembali memberinya kecupan. Kini di pipi sebelahnya.
"Ponselku. Aku tidak bisa menemukannya." Wanita itu mengerutkan dahi mendengar jawaban Bertholdt. Kali ini sambil ia mengambil piring dan menyendok masakannya ke piring.
"Tidak bisa? Aku yakin kau hanya lupa manaruhnya di mana." Sambil berkata begitu, ia menyodorkan piring berisi masakannya pada Berthodt. "Makanlah dulu. Selama masih ada di rumah ini, benda apapun tidak akan hilang."
"Aye-aye, Ma'am." Bertholdt mengambil piring yang disodorkan padanya lalu membawanya ke meja makan.
"Ambil minummu sendiri." Bertholdt yang baru mendudukkan dirinya di kursi kini merengut.
"Nanti nasi gorengnya dingin-"
"Jadi kau lebih suka tenggorokkanmu kering lalu tersedak dan tidak bisa menikmati nasi gorengmu dari pada mengambil minum sendiri?" Wanita itu datang mendekat ke meja makan dengan piring berisi nasi goreng miliknya.
"Annie~" Annie mendelik mendengarnya. Alisnya menukik tajam tanda tak senang dengan rengekan Bertholdt. Pria itu benar-benar bertngkah layaknya bayi besar.
"Ambil sendiri!" keputusan final dan tegas itu membuat Bertholdt dengan enggan bengkit dari duduknya guna mencari gelas dan mengambil minum. Setelahnya, ia dan Annie makan dengan penuh kehikmadan. Setidaknya sampai,
"Babe," Annie menggumam sebagai jawaban. Ia menatap pada Bertholdt yang duduk di hadapannya sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya. "tolong tanya aku.-"
"Tanya apa?"
"Aku belum selesai bicara."
"Oh. Baiklah." Annie kembali fokus pada makanannya. Sambil menunggu Bertholdt merangkai kalimat.
"Coba tanya aku, apa yang akan kulakukan kalau kita berpisah." Annie yang hendak menyuapi dirinya sendiri kini mengurungkan niatnya. Ia memandang Bertholdt tak suka.
"Kenapa aku harus bertanya begitu padamu? Kau punya niat untuk mengakhiri hubungan kita?" tatapan tajam Annie tak ayal membuat Bertholdt merinding. Tapi ia berusaha tenang sebisa mungkin. Tak ingin panik apalagi kalap.
"Itu hanya pertanyaan, Annie. Hanya pertanyaan." Annie mendengus. Masih dengan raut tak senang dan nada ketus, ia mengikuti keinginan Berthodt.
"Apa yang akan kau lakukan kalau kita berpisah?"
"Kembali pada mantanku." Hening seketika setelah Bertholdt mengatakannya. Cukup lama hening sampai Bertholdt mulai berpikir untuk mengamankan dirinya sebelum Annie meradang. Tapi bukan amarah laksana badai yang Annie berikan kemudian. ia hanya beranjak dari duduknya sambil membawa serta piring bekas makannya. ia kemudian mencucinya dan meletakkan kembali piring itu di rak piring. Kegiatan yang biasa dengan yang selalu ia kerjakan setiap habis makan. Tapi yang berbeda adalah, ia tak sekalipun bicara atau bahkan melirik pada Bertholdt. Baginya, Bertholdt mungkin sudah tidak ada.
Dan hal itu terjadi selama seminggu penuh. Tanpa jeda. Tanpa libur. Setidaknya sampai suatu sore Bertholdt pulang kerja dan membawa serta Reiner bersamanya untuk meminta maaf lalu bersujud di hadapan Annie. Tentu saja dilengkapi dengan surat penyataan bermaterai bahwa ia tidak akan lagi mengikuti saran sesat seorang Reiner Braun yang bahkan menarik perhatian Historia Reiss saja tidak bisa.
.
.
"Kalau begitu, kutunggu di rumahku ya, malam ini." -Reiner Braun, meledek sahabatnya dengan suara mengoda yang menjijikkan.
"Najis." -Bertholdt Hoover, menendang sahabatnya yang sesat keluar dari ruang kerjanya. Tentu saja, dibalas oleh tawa menggelegar yang menyebalkan.
.
.
I
