Summary: Sebuah akhir yang berbeda. Di mana Neko punya pilihan untuk melindungi toshokan, atau jiwa para bungou yang dalam bahaya di Haguruma

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

Warning: AR, rada OOC--


Selesai membereskan para bungou di Onshuu no Kanata ni, Akutagawa kembali ke pustaka. Para bungou yang tersisa di toshokan dikepungnya dengan api, di mana kemudian mereka semua sensho ke Haguruma.

"Setidaknya di sini kita bisa pakai senjata," gumam Shuusei sambil menyiapkan panahnya. Dia dan Shimazaki tahu-tahu sudah terkirim ke atas kereta yang sedang berjalan.

"Hm," Shimazaki mengangguk kecil. "Ngomong-ngomong, Shuusei, Neko bagaimana, ya?"

"Kenapa?"

"Toshokan kebakar, kan. Apa Neko enggak akan jadi kucing panggang--"

Shuusei mengernyit, mendadak jadi kepikiran juga. "Neko pasti baik-baik saja, deh." Dia mencoba meyakinkan diri. Lagipula, pria berjas hujan tahu-tahu sudah ada di depan mereka, yang dipanah berapa kalipun tetap meleset.

Sret,

Tahu-tahu saja sosok berjas hujan tersebut sudah melompat ke belakang mereka. Shuusei dan Shimazaki mendadak merasa kaku, sadar sepenuhnya bahwa tidak sempat buat menoleh.

Lalu ada bunyi tebasan pedang, tetapi mereka tidak merasakan sakitnya. Membalikkan tubuh, kedua orang itu terpana melihat sosok bungou yang rupanya tiba-tiba saja sudah bergabung di atas kereta.

"Kyouka!"

Tampaknya si shinshokusha lumayan gesit juga untuk menghindari pedang Kyouka. Dia sempat mundur beberapa langkah, dan bersiap maju lagi, kalau bukan karena dua panah sudah keburu menembusnya dari belakang, melenyapkan eksistensinya jadi gumpalan asap.

"Kunikida, Katai." Shimazaki mengerjap. Sementara dua orang yang namanya disebut, melambaikan tangan dari atap gerbong di ujung, sambil tersenyum lebar.


"Seranglah kapan saja!" Saisei berseru, di sela-sela tepuk tangan pengunjung teater yang ditampilkan versi siluet.

"Suaramu terlalu keras, Sai," tegur Sakutarou gugup, menyiapkan jari di pelatuk dengan penuh waspada.

"Semuanya akan baik-baik saja, Saku. Ada aku soalnya." Saisei menenangkan.

Dor! Dor!

Sakutarou dan Saisei spontan menoleh ke arah bunyi tembakan. Mengingat belum satupun dari mereka yang menekan pelatuk.

"Hakushuu-sensei!"

Kitahara Hakushuu melompat turun dari atas panggung. Tersenyum kecil pada murid-muridnya, dia berkata, "Yang barusan itu nyaris sekali, ya."

Eksistensi sosok berjas hujan sebenarnya tidak benar-benar kuat. Dia bisa lenyap dengan mudah, tetapi juga muncul tiba-tiba tanpa disadari.

"Haku-san!" Saisei turut kaget. "Sejak kapan Anda dipanggil ke sini?"

"Nah, aku juga bingung karena tiba-tiba langsung muncul di sini."

Tampaknya kedatangan Hakushuu agak mirip dengan Dan yang tahu-tahu langsung masuk ke Ningen Shikkaku.

Sakutarou dan Saisei bergegas menghampiri guru mereka itu, menatap berbinar-binar yang membuat Hakushuu juga jadi tidak tahan untuk tidak turut merasakan suasana reuni. Meskipun waktu dan tempatnya benar-benar kacau, setidaknya mereka sungguhan bertemu lagi.


Di sisi jalan yang baru dilalui sebuah mobil dengan kecepatan rata-rata, Musha belum sempat menarik pedangnya, ketika tiba-tiba sadar bahwa sosok Akutagawa shinshokusha yang berjubah hitam, sudah muncul di depan mata.

Sebelum pedang Akutagawa shinshokusha lebih dulu menebasnya, pedang lain tahu-tahu sudah menangkis bilah tajam itu.

"Yo, Musha," sapa orang itu, yang membuat Musha buru-buru mengecek sakunya, dan memastikan bahwa gear yang dulu diberikan Dazai padanya sudah lenyap.

"Shiga ... kok bisa?!"

"Ceritanya nanti saja." Shiga menghunuskan pedang. "Jadi kau ... bukan Ryuu, ya?"

Akutagawa shinshokusha melompat mundur, sekalian menghindari peluru yang dilesatkan Chuuya dan Miyazawa Kenji, yang tampaknya juga begitu transmigrated, langsung ditransfer ke dalam sini.

Ekspresi beku sosok shinshokusha itu sesaat ragu kala bersitatap dengan Shiga. Mau bagaimana, dia adalah kepribadian yang didasarkan pada Akutagawa. Sejauh apa pun perkembangan karakternya, rasa hormat ke Shiga agaknya belum sepenuhnya sirna.

"Waktu itu, kau menangis, lho." Shiga tersenyum kecil. "Di Jigokuhen, kau masih 'Ryuu' sekali, ya?"

Masih bungkam, Akutagawa shinshokusha menoleh ke sekitar, tersadar bahwa bungou lain juga sudah berdatangan.

"Aku tidak akan membiarkan Akutagawa Ryuunosuke menderita lagi!" sentaknya. Begitu dia berseru demikian, para bungou jadi terlempar keluar dari buku, ditolak oleh haguruma. Atau lebih tepatnya, oleh Akutagawa shinshokusha.


Sementara itu, Dazai berjalan sambil berpegangan ke dinding. Ruang Neko jadi terasa jauh sekali, karena kondisi tubuhnya cukup parah untuk dibawa berjalan normal. Api yang memenuhi toshokan masih belum padam, membuatnya tambah sesak napas.

Klik,

Dazai membuka pintu kantor, sekilas dilihatnya cahaya di sisi batu, pertanda adanya bungou lain yang di-transmigrated. Namun, sebelum tahu siapa itu, dia keburu jatuh.

"Dazai!"

Samar-samar dia mendengar suara yang familiar memanggil namanya. Neko, lalu ...

Haruo-sensei?


"Jadi, situasi macam ini?" tanya Shiga, begitu dia dan bungou lainnya kembali ke toshokan yang terbakar. Api ungu itu mengingatkannya kembali pada pemandangan terakhir yang dia lihat sebelum lenyap. Ironisnya, dia melihat hal yang sama lagi begitu dipanggil kali ini.

"Ini adalah pilihan yang kubuat. Sekarang cepat padamkan apinya secara manual!" Neko langsung-langsung saja memberi instruksi. Mengetahui kembalinya para bungou, dia memang langsung cabut dari kantor ke ruang kumpul, tempat Haguruma melayang di tengah ketinggian, tanpa bisa tersentuh lagi.

"Api sebesar ini ... memangnya bisa?" Shuusei wajar sangsi, mengingat kebakaran di gudang tembakau tempo hari saja, gagal mereka tangani.

"Bisa. Kalau kalian para bungou yang melakukannya, pasti berhasil." Neko meyakinkan. "Api shinshokusha berbeda dengan api biasa." Seperti yang dia bilang, api ungu itu memang terlihat berfokus pada rak-rak buku.

Tujuannya sudah jelas, untuk mencemari literatur. Jika terus dibiarkan, kemungkinan terburuknya adalah pencemaran buku dalam jumlah masal. Bahkan dengan tambahan bungou yang baru muncul, kejadian semacam itu akan sangat sulit ditangani.

"Lalu, apa maksudnya 'pilihan' tadi?" Kali ini pertanyaan datang dari Shimazaki. Sambil bicara begitu, dia melepas jubahnya. Sementara Shuusei sudah duluan pergi, mengambil air.

Neko menghela napas. "Batu alkemis memberi pilihan, antara memadamkan api dengan energi yang besar, atau menggunakan energi tersebut untuk memanggil para bungou lain sebagai bantuan," tuturnya.

Keberadaan Kyouka dan yang lainnya di sini, otomatis menggambarkan pilihan macam apa yang diambilnya.

"Yah, kalau begitu, ayo padamkan segera!" seru Kenji, yang disambut anggukan dari yang lainnya.

Shuusei datang dengan menenteng dua ember air. Di belakangnya, Kyouka turut membawa beberapa kain tebal, yang Kunikida dan Katai buru-buru meminjam. Shimazaki sendiri mencelupkan jubahnya ke air, bersiap memadamkan api dengan itu.

"Masing-masing bagi per lantai, ya." Shiga mengkoordinir. Beberapa tim kecil sudah otomatis terbentuk tanpa perlu undian. Seperti Hakushuu Sakutarou Saisei. Walaupun beberapa juga ...

"Shuusei, kita bareng, kan?"

"Eh?" Shuusei mengerjap pada Kyouka. "Rencananya aku ikut bareng Shimazaki dan yang lain, sih ..."

"Tapi kan kau itu dari klan Ozaki!"

"Iya ... tapi aku juga penulis naturalis."

Shimazaki, Kunikida dan Katai menonton dengan seru, kalau saja Neko tidak kembali meneriakkan situasi darurat.

"Oke, sampai jumpa, Shuusei!" Shimazaki melambaikan tangan.

"Sampai jumpa apanya, kalian tepat di atasku." Shuusei menyahut dengan cemberut. Sementara Kyouka sedang ragu-ragu untuk melepas haorinya, mengingat kain-kain yang dia bawa sudah habis diambil bungou lain.

"Pakai saja," ucap Shuusei yang rupanya sadar. "Aku juga bakal pakai ini." Dia melepas kain yang sehari-hari terikat di pinggang. "Jadi sama."

"Ntar kotor--" Kyouka menggerutu, tapi mulai bergerak melepas. Kain yang coraknya hampir sama itu mereka basahi dengan air.

"Ya, kan bisa dicuci." Shuusei menyahut dengan lelah.

Sementara para bungou mulai bergerak memadamkan api, Chuuya melompat turun dari lokasi tempatnya bertugas. Tampaknya dia sempat izin dulu pada Kenji, karena rekan satu timnya itu tidak terlihat heran.

"Neko!" panggilnya menghampiri si kucing. "Mereka bagaimana? Apa masih di Onshuu no Kanata? Atau dah di ruang perawatan?" Rasa penasarannya sudah tidak tertahan lagi.

"Hah ..." Neko kembali menampilkan ekspresi sulit, yang mana pertanyaan Chuuya barusan juga membuat rata-rata bungou melirik. "Sayang sekali, bukan keduanya."


Bersambung ...

(Yang ini, beneran ingin kusambung, kok •_•)