Disclaimer : J. K. Rowling adalah pemilik frenchise Harry Potter. Penulis hanya menyumbangkan plot yang didasarkan pada imajinasi liar penulis. Penulis tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari tulisan ini.

First Arc : Childhood Arc

Chapter 2 : Malam dimana semua itu dimulai, part 2 (The Boy-Who-Lived).

Edgar Hoffman Home, Rider Claw, Great Britain.

Ekspresi James dan Lily Potter tiba-tiba tercekat. Sesaat lalu, di tengah-tengah pertemuan Orde, mereka merasa bahwa ward utama rumah mereka tiba-tiba hancur berantakan. Sesaat itu juga mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung berlari keluar dari ruangan. Anggota Orde yang melihat gelagat aneh suami istri itu segera ikut bangkit dari duduknya dan mengejar mereka.

"Lily! Ada apa? Apa yang terjadi?" Alice Longbottom yang duduk tidak jauh dari Lily segera berlari cepat mendekati sahabat karibnya itu.

Lily yang sama sekali tidak mengurangi kecepatan larinya menjawab dengan nada panik. "Anakku!.. Ward rumahku telah hancur!"

Alice yang mendengar ini menjadi sangat terkejut. Villa keluarga Potter yang saat ini ditempati Lily dan keluarganya ini mempunyai defensif ward yang sangat kuat. Hanya wizard dengan kekuatan tinggi sajalah yang mampu menghancurkan ward rumah mereka. Selain Professor Dumbledore, hanya Lord Voldemort sajalah yang mampu meluluh-lantakkan ward Villa keluarga Potter. Karena professor Dumbledore selalu di samping mereka malam ini dan beliau tidak mungkin menghacurkan ward yang dia sendiri ikut andil dalam pemasangannya. Maka yang tersisa hanya..

"Voldemort.. " Alice membisikkan satu-satunya nama yang dia yakini menjadi pelaku utama kegundahan sahabatnya.

"James! Lily! Tunggu dulu!" Alice mencoba menghentikan sahabatnya. "Kalian jangan bertindak gegabah! Ward rumahmu sangat kuat. Hanya Professor Dumbledore dan Lord Voldemort saja yang mampu menghancurkan ward kalian! Dan jika benar Lord Voldemort telah menemukan rumah kalian, bukankah akan sangat berbahaya jika kalian pergi ke sana sendirian?"

Namun usaha Alice tidak berhasil. Kedua suami istri itu tetap berlari dengan kecepatan tinggi untuk keluar dari rumah Edgar dan menuju titik poin yang memungkinkan mereka untuk ber apparate kembali ke rumah mereka.

Setelah keduanya berapparate, anggota orde yang lain berhasil mengejar Alice.

"Alice, ada apa? Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" Suaminya Frank bertanya dengan terengah-engah.

"Ward rumah mereka hancur. Lily khawatir dengan keadaan anak-anaknya." Dengan perasaan cemas Alice menjawab singkat pertanyaan suaminya. "Frank.. Aku khawatir Voldemort masih berada rumah mereka."

Sirius yang baru saja tiba langsung berteriak terkaget. "Ward rumah James hancur? Itu tidak mungkin, rumah mereka disembunyikan dengan mantra Fidelius. Voldemort tidak akan menemukan mereka, kecuali.." Sirius langsung memutih, dia segera memikirkan kemungkinan terburuk.

"Tidak ada gunanya kita berdebat disini. Sebaiknya kita segera pergi ke rumah Potter sekarang juga." Alastor Moody segera memotong pembicaraan mereka.

Seluruh anggota Orde yang berada di sana segera bergegas ke keluar dari ward rumah Edgar dan berapparate menuju ke rumah keluarga Potter.

-MC-

Potter Villa, Godric Hollow, Great Britain

Wajah James dan Lily Potter pucat pasi ketika melihat kondisi rumah mereka. Bagaimana tidak, rumah yang tidak sampai satu jam yang lalu mereka tinggalkan tanpa ada firasat apa-apa kini telah berubah menjadi sebuah reruntuhan.

Kedua suami-istri itu tidak mengambil banyak waktu dan segera berlari ke dalam rumah. Tanpa banyak berpikir, mereka langsung menuju ke lantai atas di mana kedua anak lelaki mereka tinggal. Setelah melihat kamar anak sulung mereka kosong, mereka berdua segera menuju anak bungsu mereka. Di sana mereka mendapati anak bungsunya tergeletak di pojok kamar, namun masih belum ada tanda-tanda anak sulungnya Harry.

Keduanya segera bergegas ke pojok kamar untuk memeriksa keadaan anak bungsu mereka. Ketika mendapati bahwa anak bungsunya masih bernafas dan hanya kehilangan kesadaran, keduanya menghembuskan nafas lega. Namun kelegaan itu langsung menghilang ketika menyadari bahwa mereka masih belum menemukan anak mereka yang lain.

"Harry!" James dan Lily berteriak bersamaan. Keduanya segera menoleh ke kanan dan kiri untuk menemukan anak sulung mereka, namun sepertinya anak sulung mereka tidak berada di kamar adiknya. Di pojok sudut pandangnya, mereka sebenarnya menemui sebuah jubah hitam yang merupakan sebuah benda asing di kamar ini, namun karena mereka mempunyai hal yang lebih penting maka benda asing itu pun terlupakan begitu saja.

Ketika tidak menemukan Harry di kamar ini, keduanya segera keluar dari kamar Daniel dengan James menggendong Daniel di pelukannya.

Kekhawatiran mereka semakin memuncak ketika mereka tidak menemui anak sulung mereka di manapun di dalam rumah ini. Segala pikiran buruk bermunculan di benak Lily, sambil terisak dan air mata bercucuran Lily berkata parau kepada James. "Ba-bagaimana jika mereka menculik Harry, James… A-atau.. Ba-bagaimana.. ji-jika Voldemort menggunakan Harry se-sebagai tumbal ritualnya.. Aku takut James.."

James hanya mampu memeluk Lily dan mencoba menenangkannya. "Tenangkan dirimu Lily.. Kita belum mencarinya ke seluruh rumah.. Mungkin Harry berhasil bersembunyi atau kabur dari serangan ini." James mengusap-usap rambut Lily. "Tenanglah, coba kita cari dulu di rumah ini secara menyeluruh."

Ketika pasangan itu kembali ke ruang depan, mereka mendapati teman-teman anggota Orde mereka telah berkumpul di ruang tamu.

Dumbledore yang melihat pasangan Potter datang dengan muka lesu langsung menghampiri mereka.

"James, Lily, bagaimana keadaannya?" Dumbledore bertanya sambil mengamati keadaan Daniel. James dan Lily hanya menggelengkan kepala mereka.

Dumbledore kemudian mengeluarkan tongkatnya dan mengayun-ayunkannya di sisi Daniel sambil menggumamkan beberapa mantra. Ketika dia mengamati lebih lanjut, terlihat sebuah luka seperti sambaran petir di kening Daniel. Setelah memastikan keadaan Daniel, Dumbledore menggangguk dan tersenyum kecil pada kedua pasangan itu.

"Aku rasa dia baik-baik saja. Hanya kehilangan kesadaran, mungkin karena kepalanya terbentur sesuatu." Kata Dumbledore sambil menenangkan keduanya. "Tapi untuk lebih aman, aku rasa lebih baik kita bawa Daniel ke Madam Pomfrey atau St. Mungo."

"Hagrid!" Dumbledore memanggil Ground Keeper nya sambil mengambil sesuatu dari dalam jubahnya. "Gunakan Portkey ini dan kau bawa Daniel kecil ke Madam Pomfrey, katakan bahwa keluarga Potter telah diserang."

"Tidak!" Lily mencegah Hagrid bahkan sebelum Hagrid menyetujui permintaan Dumbledore. "Aku tidak ingin berburuk sangka atau curiga. Tapi kejadian malam ini seharusnya tidak terjadi. Dan jika hal ini seperti yang aku duga, maka aku tidak dapat mempercayai siapapun di tempat ini untuk membawa anakku kecuali suamiku sendiri. Dan itu termasuk kau Professor Dumbledore." Lily berkata sambil berlinang air mata.

"Lily.." James tidak sanggup berkata apa-apa.

Dombledore menganggkat tangannya. "Maafkan aku Lily, James. Aku tadi tidak menyadari kesalahan bicaraku. Baiklah, Daniel akan tetap di sini bersama kalian. Tapi bagaimana dengan anak sulung kalian Harry? Apakah kalian menemukannya?"

Keduanya menggeleng dengan lemah.

Dumbledore mengangguk pelan. "Aku mengerti."

"Semuanya, kita akan mencari Harry di sekitar rumah ini. Kita akan bagi menjadi 3 tim. Ada yang mencari di dalam rumah, ada yang mencari di sekitar rumah dan ada yang mencari di luar area ini. Jika telah menemukan Harry segera kirim tanda." Dumbledore terdiam berpikir sejenak. "Mengingat Death Eater bisa saja masih berkeliaran di sekitar tempat ini, maka aku sarankan agar kalian selalu mewaspadai adanya serangan mendadak."

Para anggota Orde menggangguk dan segera berpencar ke daerah pencarian masing-masing.

Sirius dan kekasihnya Helen bergegas mencari Harry di sekitar rumah. Mereka memfokuskan diri untuk mencari Harry di sekitaran bawah ruang Daniel. Hal itu mereka lakukan karena mereka memprediksi bahwa ledakan yang terjadi di rumah sahabatnya itu bersumber di kamar ini. Mungkin saja Harry terlempar keluar dari kamar itu.

Tepat seperti dugaan mereka, selang 5 menit kemudian keduanya menemukan Harry tergeletak tak sadarkan diri di sekitar semak belukar tidak jauh dari kamar Daniel. Keadaannya cukup memprihatinkan. Pakaiannya compang camping dan badannya penuh luka. Di beberapa tempat juga terlihat sedikit gosong, mungkin akibat terkena efek ledakan.

Helen yang memiliki sedikit kemampuan medic segera menghampiri Harry dan memeriksa denyut nadi serta hembusan nafasnya. Dia menghembuskan nafas lega ketika merasakan sebuah denyut nadi lemah di leher dan lengan Harry, namun segera menjadi serius ketika melihat keadaan Harry.

"Sirius, keadaan Harry saat ini benar-benar serius. Cepat kita bawa dia ke dalam rumah." Ketika Serius mencoba mengangkat Harry, Helen segera memegang tangan Sirius. "Jangan, sebaiknya kita apungkan dia. Terlalu riskan untuk mengangkatnya secara normal."

Sirius menganggukkan kepalanya dan dengan gumaman "Mobilicorpus" tubuh kecil Harry melayang di udara dan mengikuti langkah Sirius. Helen yang melihat Sirius bergegas menuju ke dalam rumah segera mengangkat tongkatnya dan menembakkan bunga api ke udara yang menandakan bahwa mereka telah menemukan Harry.

Sesampainya di kamar tamu, Sirius segera membaringkan Harry di sofa. Setelah membaringkan Harry, dia segera mentrasfigurasi sofa itu menjadi sebuah kasur yang cukup lebar.

"Harry!" Lily yang mengetahui anak sulungnnya telah diketemukan segera berlari cepat dan berlutut di samping anak sulungnya. Ketika dia melihat kondisi anak sulungnya, tangisannya kembali pecah. Dengan terisak keras dia membelai rambut dan wajah anaknya itu.

Lily menolehkan perhatiannya ke arah Sirius dan mengajukan pertanyaan dengan cepat. "Sirius! Bagaimana keadaan anakku? Kau yang menemukannya bersama Helen, bukan? Bagaimana keadaan anakku?"

"Tenangkan dirimu Lily. Anakmu masih bernafas tapi kondisinya saat ini cukup buruk." Helen menjawab dari belakang Sirius. Dengan wajah serius dia menambahkan. "Aku sarankan agar kita segera membawanya ke St. Mungo atau ke Madam Pomfrey, jika tidak nyawanya bisa dalam bahaya."

"Tidak perlu, aku sudah ada di sini." Tiba-tiba saja Madam Pomfrey menjawab dari pintu kamar tamu.

Madam Pomfrey segera bergegas duduk di samping Harry. Dia mencabut tongkatnya dan melakukan mantra deteksi pada tubuh Harry. Setelah mengayun-ayunkan sejenak dia mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengayunkan tongkatnya lagi dan setelah berpikir sejenak dia menghembuskan nafas panjang.

"Salah satu dari kalian, segera ambilkan tas medic ku yang ada di depan rumah. Aku meninggalkannya di sana setelah melihat kalian histeris tadi." Madam Pomfrey berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Harry. "Dan James, letakkan anak keduamu di sini." Madam Pomfrey menunjuk tempat di sampingnya.

"Keadaan anak sulung mu dari luar memang terlihat cukup memprihatinkan, namun sebenarnya tidak begitu parah. Dia hanya menderita luka luar yang dapat disembuhkan kurang dari 3 hari." Pomfrey terdiam sejenak, dia seperti tidak yakin harus mengatakan ini atau tidak. Akhirnya setelah mengganggukkan kepalanya dia berkata. "Aku ingin bertanya pada kalian. Apakah anak sulung kalian ini sudah menunjukkan tanda-tanda Accidental Magic?"

James dan Lily saling berpandangan satu sama lain.

"Sampai saat ini Harry masih belum pernah menunjukkan tanda-tanda Accidental Magic Madam Pomfrey. Memangnya ada apa dengan anakku Harry?" Lily bertanya dengan nada sangat khawatir.

"Tidak-tidak apa-apa. Hanya saja ketika tadi aku coba mengukur kapasitas magic nya aku menemui bahwa kapasitas magic Harry tidak lebih besar dari anak berumur 1 tahun pada umumnya… Maaf James, Lily, namun jika hingga umur 8 tahun anakmu ini tidak menunjukkan Accidental Magic aku khawatir anakmu ini mungkin adalah seorang Squib." Madam Pomfrey menjelaskannya dengan perlahan-lahan pada kedua pasangan itu.

Sebenarnya Madam Pomfrey tidak ingin mengatakan kenyataan ini di saat seperti ini. Namun dia berpendapat bahwa lebih baik keduanya mengetahui ini sekarang dari pada terlambat di kemudian hari.

"Tentu saja itu hanya berdasarkan analisis hari ini. Masih tersisa beberapa tahun lagi hingga Harry kecil berumur 8 tahun. Semuanya masih dapat berubah." Madam Pomfrey cepat-cepat menambahkan ketika melihat Lily akan kembali menangis.

"A-apakah benar itu Madam Pomfrey?" Lily bertanya memelas.

Pomfrey tersenyum. "Tentu saja Lily. Seperti yang pernah kau katakan. Ini adalah dunia magic, tidak ada yang tidak mungkin."

Lily mengangguk-angguk tersenyum lemah sambil sesenggukan.

"Ini madam Pomfrey, tas medic mu." Helen berkata sambil memberikan tas itu ke Madam Pomfrey, di belakangnya terlihat anggota-anggota Orde sedang berkumpul disekitar pintu.

Pomfrey yang menerima tas itu langsung mengeluarkan beberapa peralatan dan segera memberikan pertolongan pada tubuh Harry. Untuk Daniel sendiri, Pomfrey telah memeriksa tubuhnya dan tidak menemui sesuatu yang buruk kecuali benjolan di belakang kepalanya dan sebuah luka mirip sambaran petir di dahinya.

Di saat semuanya sedang fokus pada pekerjaan Madam Pomfrey tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka. Itu adalah suara Albus Dumbledore.

"Saudara-saudara. Aku minta perhatian kalian sejenak."

Dumbledore berdiri di lorong depan ruang tamu dengan tongkat sihir di tangan kanan dan sebuah jubah hitam di tangan kiri.

"Aku baru saja memeriksa kamar Daniel. Dan aku menemukan ini." Dumbledore mengangkat jubah hitam di tangan kirinya. "Ini.. Adalah jubah Voldemort."

Beberapa anggota Orde seperti tercekat ketika mendengar nama Voldemort. Maklum saja, setelah diteror olehnya selama beberapa tahun membuat mereka cukup bergidik hanya dengan mendengar nama Voldemort. Mayoritas dari mereka menyebut Voldemort dengan Kau-Tahu-Siapa atau Pangeran Kegelapan.

Dumbledore mengangkat tangannya ketika ada beberapa anggota Orde yang ingin bertanya. "Aku tahu pasti ini adalah jubah Voldemort karena aku telah mengidentifikasi magic pattern yang ada baik di jubah ini maupun di kamar Daniel sebagai magic dari Lord Voldemort."

Dumbledore diam sejenak. "Dari berbagai magic yang berhasil aku deteksi. Selain killing curse milik Lord Voldemort aku juga mendeteksi magic dari Daniel Potter."

Pernyataan terakhir itu sebenarnya merupakan sedikit kebohongan. Dumbledore tidak mendeteksi magic yang sama dengan magic Daniel Potter, dia hanya mendeteksi pola magic aneh yang memudar dengan cepat. Saking cepatnya, dia sama sekali tidak sempat untuk menganalisa magic itu.

Dia hanya menerka bahwa magic itu adalah milik Daniel Potter, dia tidak mencurigai bahwa itu adalah magic Harry karena perkataan Poppy yang menyatakan bahwa kapasitas Harry lebih kecil dari anak berumur satu tahun. Dan juga, anak yang ada dalam ramalan itu juga menunjuk pada Daniel yang lahir pada akhir bulan ketujuh (juli) bukan pada Harry yang lahir pada pertengahan September. Oleh karena itu Dumbledore mengambil kesimpulan bahwa magic itu milik Daniel Potter.

"Dari analisa yang aku lakukan di kamar Daniel tadi, aku dapat menyimpulkan bahwa Lord Voldemort datang ke tempat ini untuk membunuh keluarga Potter, namun hanya mendapati kedua anaknya di rumah. Setelah tiba di kamar Daniel, Voldemort mementalkan Harry ke arah jendela dan kemudian mementalkan Daniel ke pojok kamar."

Dumbledore diam sejenak sambil berjalan masuk ke dalam ruang tamu. Anggota Orde lainnya secara otomatis menyibak dan memberi jalan wizard tua itu untuk masuk ke dalam kamar. "Setelah itu dia ingin mencoba membunuh Daniel muda dengan sebuah killing curse.. namun karena suatu hal kutukannya itu tidak mempan terhadap Daniel dan kemudian memental kembali ke arah Voldemort."

Dumbledore kembali diam dan memandang Daniel dari kacamata bulan-separonya. "Tubuh Voldemort yang telah banyak berubah oleh dark ritual tidak mampu menahan magic Daniel yang murni. Pada akhirnya, killing curse yang juga dibubuhi oleh kemurnian magic Daniel itu membuat konsentrasi magic di dalam tubuh Lord Voldemort semakin tidak stabil dan.. Hasilnya seperti yang kalian lihat, tubuh Lord Voldemort meledak berkeping-keping membawa serta sebagian besar rumah keluarga Potter, menghempaskan Harry Potter hingga keluar rumah dan membuat Daniel Potter pingsan."

Dembledore tersenyum dengan mata biru yang berkilau. Dia mengambil dan mengangkat tinggi Daniel Potter dengan kedua tangannya sembari berkata. "Aku persembahkan kepada kalian. Daniel Potter, The Boy-Who-Lived, orang pertama yang selamat dari killing curse dan pembasmi Lord Voldemort."

"Ini berarti.." Seorang anggota Orde berbisik.

Kilau di mata Dumbledore semakin cemerlang. Dengan tenang dia berkata. "Benar sekali. Voldemort telah berhasil di basmi. Perang ini telah selesai."

Suasana menjadi sunyi senyap.

"Selesai.. Perang ini telah selesai.. Kau-Tahu-Siapa telah mati.. Kita telah terbebas.. " Seorang wanita anggota Orde berkata setengah berbisik sambil air mata mengalir di kedua pipinya.

"PERANG SELESAI!... KAU-TAHU-SIAPA telah mati! Hidup Daniel Potter!" Teriak Arthur Weasley.

"HIDUP DANIEL POTTER! ANAK YANG BERTAHAN HIDUP!"

"HIDUP DANIEL POTTER! PEMBASMI KAU-TAHU-SIAPA!"

"HIDUP DANIEL POTTER!"

"HIDUP DANIEL POTTER!"

"HIDUP DANIEL POTTER!"

"HIDUP DANIEL POTTER!"

-MC-

[Epilogue]

Malam itu sebuah merupakan malam yang sangat mengharukan bagi sebagian besar penduduk magical Britain. Bagaimana tidak, perang yang berkecamuk di dunia mereka selama beberapa tahun ini, yang merenggut banyak nyawa orang-orang yang berharga bagi mereka telah berakhir dengan matinya pangeran kegelapan di tangan seorang anak kecil. Seorang anak kecil yang mulai hari ini namanya melegenda sebagai Anak Yang Bertahan Hidup, The Boy-Who-Lived.

Malam ini merupakan sebuah malam yang menjadi titik baru bagi semua penduduk Magical Britain.

Orang yang dalam beberapa tahun ini tidak pernah keluar dari rumah mereka karena takut akan menjadi korban dari keganasan perang, sekarang berani keluar untuk sekedar minum bersama kolega atau saudara mereka. Tidak hanya untuk sekedar menghilangkan trauma masa lalu mereka, mereka juga minum untuk bersulang akan kesehatan pahlawan baru mereka Daniel Potter, The Boy-Who-Lived.

Orang yang dalam beberapa tahun ini tidak ingin membuat komitmen untuk mengikat janji dengan pasangannya karena takut salah satu dari mereka dapat menjadi korban perang, sekarang sedang menjalin kasih dan mengikrarkan janji di restoran dan tempat-tempat romantis. Sambil bersulang untuk terikatnya janji suci mereka, mereka juga bersulang untuk pahlawan mereka Daniel Potter, The Boy-Who-Lived.

Malam itu juga menjadi sebuah titik awal bagi dua anak laki-laki keluarga Potter.

Bagi si anak bungsu, malam itu menjadi titik awal dari legenda namanya. Setelah malam ini, dia akan dipandang sebagai seorang pahlawan. Dia akan mendapatkan perhatian lebih dari semua orang, baik itu dari masyarakat sihir yang hanya pernah mendengar namanya maupun dari orang-orang terdekatnya, termasuk kedua orang tuanya.

Bagi si anak sulung, malam itu juga akan menjadi titik awal baginya. Bedanya dengan si adik, malam ini akan menjadi titik awal penderitaan dan kekecewaannya. Mulai malam ini, dia tidak akan mendapatkan lagi perhatian penuh dari kedua orang tuanya seperti di hari sebelum peristiwa ini terjadi. Perlahan naumn pasti, dia akan 'sendiri'. Mengarungi kehidupan masa kecilnya tanpa ada perhatian dari orang-orang terdekatnya. Namun beruntung baginya, karena dia tidak benar-benar sendiri. Malam ini Harry Potter juga mendapatkan sesuatu yang amat sangat berharga.

-MC-

==User Magic Capacity below 1%==

==Ideal Condition has been Reacehed==

==Sending Additional Package==

==Additional Package Received==

==Installing Additional Package==

==Installing Complete==

==Sending Package - Advance AI [Alfred]==

==[Alfred] has been Received==

==Installing [Alfred]==

==Installing Complete==

==Sending Additional Package==

==Additional Package Received==

==Installing Additional Package==

==Installing Complete==

==Estabilished Permanent Connection with Database==

==Asking Permission==

==Verified Permission==

==Complete==

==Permanent Connection with Database has been Estabilished==

==Connecting All Program==

==Rebooting User==

==User has been Rebooted==

==Copy Eidos Data from Last Point==

==Complete==

-MC-

Childhood Arc – Malam di mana semua itu dimulai (end)

Upload : 2 December 2015 (Next Update : 2-3 Minggu)