Disclaimer : J. K. Rowling adalah pemilik franchise Harry Potter. Penulis hanya menyumbangkan plot yang didasarkan pada imajinasi liar penulis. Penulis tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari tulisan ini.
Note : Cerita ini rawan macet, penulis banyak kesibukan di RL. Resiko tanggung penumpang.
Chapter 4 : Natal (2) - Pandemonium at Christmas Ball
'Hhmmm… Gagah dan tampan'
Suara lelaki tua terdengar dari sebuah cermin yang terpampang di sebuah kamar. Cermin itu terlihat tua, namun dengan dekorasi dan hiasan yang mengelilinginya membuat keunikan cermin itu memancar ke setiap orang yang melihatnya.
Cermin tua itu merupakan sebuah cermin ajaib warisan dari keluarga Potter. Rumornya, cermin di depannya yang dapat berkomentar dan menilai pesona pemakainya itu merupakan cermin yang dipakai 'Sang Ratu' dalam cerita Snow White.
+Ting+
[Kamu telah berdandan dengan modis. Untuk sementara waktu : CRM +3. Exp : +0.1%]
"Tentu saja." Ucap Harry kecil sambil tersenyum.
Sore ini Kementrian sihir akan mengadakan sebuah pesta Natal sekaligus merayakan kejatuhan Kau-Tahu-Siapa. Keluarga Potter diundang untuk menjadi tamu spesial di acara ini.
Harry mendengar dari Mummy dan Daddy bahwa acara ini sangat penting untuk keluarga mereka, karenanya Harry berdandan sebaik mungkin agar tidak mengecewakan orang tua nya.
Mummy nya sering berkata bahwa walaupun masih kecil, selera fashion Harry sangatlah bagus. Oleh karena itu, Mummy nya sering membiarkan Harry untuk berdandan sendiri tanpa Mummy nya.
Ketika kemampuan berdandan Harry dikombinasikan dengan Cermin Ajaib serta kemampuan 'notifikasi' membuat Harry kecil menjadi semakin menarik.
Selesai berdandan, Harry segera turun menuju ke ruang keluarga. Disana, Harry melihat Daddy nya sedang mempersiapkan perapian Floo sedangkan Mummy nya menggendong adiknya sembari membetulkan baju dan penampilan Daniel.
Harry yang baru datang segera duduk di sofa dekat perapian sambil mengamati Daddy nya yang selesai menaburkan bubuk Floo dan menyalakan perapian dengan api berwarna hijau.
"Oke, jaringan Floo sudah siap." Ujar James sambil melihat ke arah keluarganya.
"Harry , kau sudah siap?" tanya James yang dijawab dengan anggukan dari Harry.
"Lily, bagaimana dengan Daniel? Apakah jagoan Daddy sudah siap untuk hari besarnya?" Tanya James kepada istrinya. Sebuah senyum lebar terpampang di wajahnya.
"Oke, Daniel sudah siap. Kita bisa segera berangkat." jawab Lily sambil berjalan ke arah Floo.
"Kau dulu Lily, setelah itu Harry dan terakhir aku akan masuk sekaligus menutup jaringan Floo nya."
Keluarga Potter pun segera masuk bergantian ke perapian.
Setelah mengarungi pusaran api dan rasa tidak menyenangkan selama beberapa saat, Lily (dengan Daniel dalam gendongannya), Harry dan James pun keluar melalui perapian Floo yang ada di atrium Kementerian Sihir Britain.
"Hahh.. Walaupun sudah berkali-kali melakukannya, aku masih tidak begitu suka dengan perasaan berputar-putar yang dihasilkan transportasi Floo ini." keluh Lily sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan perasaan mual akibat transportasi Floo.
"Bagaimana keadaan Daniel? Ini pertama kalinya jagoan Daddy menaiki transportasi Floo." tanya James sambil melihat keadaan anak bungsunya.
"Sepertinya Daniel baik-baik saja. Mungkin hanya terguncang sedikit karena sensasi yang ditimbulkan transportasi ini." jawab Lily sambil memeriksa keadaan Daniel.
"Jagoan Daddy memang hebat dan berbakat." puji James sambil mencoba mengacak-acak rambut anaknya.
"James! Jangan kau acak-acak rambut Daniel. Perlu waktu lama untuk merapikannya." Lily melotot sambil tangannya menampar tangan James sebelum dia sempat menyentuh rambut Daniel.
"Oh, oke-oke. Tidak perlu marah Lily, aku hanya bercanda." kata James sambil cengengesan. Matanya menyiratkan sedikit ketakutan terhadap kemarahan istrinya.
Sambil mengecek kembali penampilannya, James dengan sangat bersemangat segera menggandeng tangan Lily untuk masuk ke dalam Kementrian Sihir.
Keduanya tidak sabar untuk memperlihatkan anaknya ke semua orang di komunitas Sihir. Rasa bangga menyelimuti dada keduanya.
Tentu saja, orang tua mana yang tidak bangga ketika anak keduanya merupakan Anak-Yang-Terpilih dan menjadi penyebab matinya Kau-Tahu-Siapa. Kebanggan dan rasa sombong memenuhi pikiran dan kesadaran mereka. Membuat cara jalan semakin tegak, dada membusung, dan kepala terangkat.
Dan secara tidak sadar membuat mereka lupa, bahwa mereka berjalan meninggalkan anak sulung mereka di belakang seorang diri.
Walaupun bukan pertama kalinya Harry menggunakan transportasi Floo, namun ini adalah kali pertama Harry mengunjungi Kementrian Sihir Britain.
Saat ini Harry sedang berdiri di salah satu dari sekian banyak Perapian Floo yang berderet di satu koridor yang sangat panjang dengan lantai kayu yang selalu mengkilap. Atap koridor berwarna biru bulu merak dengan simbol-simbol berwarna emas bertebaran dan bergerak silih berganti membuat Harry terpukau dan terus menengadahkan kepalanya melihat pertunjukan Rune Magic yang ada di atap koridor tersebut.
Jika saja Harry berdiri disana seorang diri tanpa ada yang mengganggu, mungkin Harry bisa lupa diri dan terus mematung sampai beberapa jam. Namun akibat dari mulai padatnya arus penyihir yang keluar dari perapian dan menuju ke atrium utama Kementrian Sihir membuat Harry menjadi terjaga dari lamunannya.
Ketika Harry telah tersadar dari lamunannya, dia mendapati dirinya terpisah dari keluarganya.
Harry menjadi panik dan kebingungan ketika melihat banyak orang asing di sekitarnya. Walaupun Harry mungkin lebih dewasa jika dibandingkan anak seusianya, namun bagaimanapun juga dia masih berumur 5 tahun. Jadi wajar saja jika dia panik ketika berada di tengah kerumunan orang asing dan terpisah dari keluarganya.
Harry segera mengambil nafas panjang. Dia tahan sebentar kemudian dikeluarkan. Hal ini merupakan kebiasaan Harry yang diajarkan oleh mummy nya. Ketika panik atau bingung segera ambil nafas panjang.
Setelah Harry tenang kembali, dia melihat ke sekelilingnya. Orang-orang yang keluar dari perapian ini semuanya memakai baju pesta. Harry menyimpulkan bahwa tujuan mereka juga ke pesta natal sama seperti keluarganya.
Dengan langkah kecil, Harry berjalan mengikuti arah mayoritas para penyihir ini berjalan.
Harry berjalan menyusuri koridor perapian floo hingga tiba di atrium utama Kementrian Sihir dimana terdapat sebuah kolam dengan 5 figur patung di tengahnya. Walaupun penasaran, Harry tidak ingin mengamati lebih lama kelima patung tersebut. Dia takut dirinya akan kembali berdiri mematung seperti saat di koridor tadi.
Setelah melewati atrium utama, Harry dan rombongan penyihir kembali memasuki sebuah koridor panjang hingga akhirnya tiba di sebuah aula besar dengan dekorasi yang sangat menawan.
Atap aula berupa pemandangan langit malam dengan hiasan bulan dan bintang-bintang yang bertebaran membentuk berbagai rasi bintang. Malaikat-malaikat kecil memakai pakaian khas natal berwarna merah putih sambil membawa alat musik harpa kecil berkeliling kesana kemari di antara awan yang melayang kurang lebih 10 meter di atas kepala. Meja-meja panjang dengan berbagai makanan dan minuman di atasnya tampak berderet di samping ruangan.
Harry mencoba berjalan memasuki ruangan mewah itu. Namun sebelum sempat masuk, dia dihadang oleh pria yang memakai seragam DMLE.
"Selamat petang anak muda. Kenapa kau sendirian, dimana orang tuamu?" Tanya pria itu pada Harry.
"Aku terpisah dari orang tuaku, paman. Mereka sudah masuk lebih dahulu." jawab Harry sambil menatap matanya.
"Oh, kau pasti baru pertama kali ini mengunjungi Kementrian Sihir ya? Tidak apa-apa, banyak juga anak yang terpisah dari orang tuanya karena melihat Kementrian Sihir untuk pertama kalinya." kata petugas DMLE itu sambil tersenyum pada Harry.
"Ini, ambillah pin ini, dan sematkan di sisi dada baju pestamu. Ini menunjukkan bahwa kau merupakan peserta pesta Natal ini." kata petugas sambil menyerahkan pin berbentuk bulat bergambar dua tongkat sihir yang disilangkan kepada Harry.
"Terima kasih, paman. Sekarang apa aku sudah boleh masuk?" Tanya Harry setelah menyematkan pin sesuai arahan paman petugas DMLE.
"Tentu saja, selamat bersenang-senang anak muda." jawab petugas DMLE sambil tetap tersenyum.
Harry masuk kedalam aula yang penuh penyihir itu. Dia berjalan melewati orang-orang dewasa yang sedang bercengkrama satu sama lain. Dari sudut matanya dia menemui banyak orang yang memandangnya dengan mengernyitkan dahinya.
'Hmm? Apa ada yg aneh ya dengan penampilan Harry?' pikir Harry kebingungan.
Tidak begitu lama kebingungan Harry segera mendapatkan jawabannya.
"Hei anak kecil, sedang apa kau disini? Tempatmu bukan disini! Kembali sana ke tempat teman-temanmu!" Hardik seorang pria berkulit putih berbadan kurus tinggi dengan rambut klimis dan kacamata stylish yang bertengger di tulang hidungnya. Secara penampilan, pria itu bisa dikatakan sebagai role model pria bangsawan yang banyak ditemui daddy Harry. Namun, ketika Harry amati lebih lanjut mata pria itu sedikit aneh. Seperti, ada sesuatu yang salah di pandangannya.
"Hei! Apa kau tidak dengar!?" Hardik pria itu lagi hingga membuyarkan lamunan Harry.
"Tempatmu bukan disini, kembalilah ke teman-temanmu!" kata pria itu sambil menunjuk ke arah pojok ruangan dimana banyak anak-anak berkumpul disana.
Harry kembali menatap pria itu, tanpa suara Harry hanya menganggukkan kepalanya dan segera bertolak dari tempat itu.
Sebelum pria itu memarahinya lagi.
Sesampainya di area khusus anak-anak Harry melihat ke sekelilingnya.
Dan tidak ada yang ia kenali.
Wajar saja sebenarnya. Karena walaupun keluarganya merupakan keluarga penyihir, Harry jarang sekali bertemu dengan keluarga penyihir lain. Tamu yang sering mengunjungi rumahnya, jika bukan keluarga paman Sirius atau Remus (dan Peter), hanya keluarga Longbottom saja yang relatif Harry kenal. Dan si kecil Neville yang seumuran dengan Daniel tentu saja tidak berada disini.
Mata Harry bergerak menyisir dari kanan ke kiri. Harry mengamati bahwa umur mayoritas anak-anak yang ada di tempat ini berkisar antara 9 hingga 15 tahun. Tentu saja ada beberapa yang (sepertinya) berumur sama seperti Harry, tapi mereka tidak sendiri disana. Ada anak-anak yang sudah dewasa yang mendampingi mereka.
Harry yang seperti berada tidak pada tempatnya langsung merasa bosan. Dia berharap segera menemukan orang tuanya dan meminta pulang. Jauh lebih menarik membaca buku di perpustakaan Potter Manor daripada berdiri di sini sendirian sepanjang malam.
Dalam kebosanannya Harry mengalihkan perhatiannya ke panggung yang ada di kepala ruangan. Disana dia melihat seorang wanita cantik berambut pirang lurus yang sepertinya akan menyampaikan sesuatu.
-MC-
"Sonorus" ucap Perdana Menteri Sihir Millicent Bagnold merapalkan mantra pembesar suaranya.
"Ehm.. Selamat Malam untuk anda Bapak Ibu sekalian. Selamat datang di Pesta Dansa Natal yang diadakan oleh Kementrian Sihir." Ucap PM Bagnold memulai sambutannya.
"Pesta Natal ini kami adakan selain untuk ajang kita bersosialisasi dan bersenang-senang, juga merupakan simbol berakhirnya masa-masa kegelapan yang menyelimuti dunia kita beberapa tahun ini." kata PM Bagnold sambil diiringi tepuk tangan dari beberapa hadirin.
"Benar!" jeda PM Bagnold seperti sedang meresapi sesuatu. "Masa kegelapan sudah kita lewati. Kau-Tahu-Siapa sudah binasa dan pasukannya sudah kalah!"
"Beberapa diantara kita tentu merasakan bagaimana kelamnya dunia sihir ketika Kau-Tahu-Siapa meneror kehidupan kita. Bagaimana pasukannya merampok, membunuh, membantai dan melakukan tindakan keji lainnya."
"Namun masa-masa itu semua sudah berakhir. Kau-Tahu-Siapa sudah dikalahkan oleh seorang anak ajaib. Anak-Yang-Terpilih, Anak-Yang-Bertahan Hidup. Dan saya rasa anda semua saat ini sudah mendengar namanya."
"Malam ini.. Saya persembahkan podium ini. Sebagai penghormatan tertinggi saya secara pribadi, maupun saya yang mewakili Kementrian Sihir Britain. Saya persembahkan kehormatan setinggi-tingginya kepada Daniel Potter, sang Anak-Yang-Terpilih. Beserta orang tuanya, sahabat saya James dan Lily Potter." Teriak PM Bagnold memanggil James dan Lily (dengan Daniel dalam gendongan) untuk naik ke panggung.
Diiringi tepuk tangan yang riuh bergemuruh dan flash kamera yang berpendar silih berganti, James dan Lily (serta Daniel yang ada di dekapannya) menaiki podium bersama PM Bagnold.
Sebuah senyum kebanggaan terpancar di kedua wajahnya.
Terutama James. Senyum bangga di wajahnya seperti membelah kedua pipinya. Walaupun sifat arogan, sombong dan rasa berpuas diri James sudah tidak seperti ketika dia remaja dulu. Namun ketika mendapati pencapaian anaknya di usia dini, tentu saja membuat sifat-sifat yang ada di dalam diri James itu muncul kembali.
James dan Lily melambaikan tangannya di antara suara riuh teriakan 'Potter, Potter' dan 'Daniel, Daniel'.
PM Bagnold mengangkat tangannya, dan melambai-lambaikan untuk menenangkan massa.
Setelah keramaian itu reda, PM Bagnold "Benar saudara-saudara, inilah Daniel Potter. Pahlawan kita semua. Namun …" ekspresi PM Bagnold tiba-tiba berubah bengis.
Tiba-tiba PM Bagnold menendang James keluar panggung, merangkul Lily dari belakang dan mengacungkan tongkat sihirnya ke leher Lily.
"PANGERAN KEGELAPAN BELUM MATI! DEATH EATER TIDAK AKAN PERNAH KALAH!" Teriak PM Bagnold dengan kegilaan di ekspresinya.
"BOMBARDA!" teriak PM Bagnold sambil mengibaskan tongkat sihirnya ke arah kerumunan tamu yang ada di depannya.
+BLLAAARRR+
Ledakan terjadi di tengah-tengah kerumunan. Hasil dari explosive curse spell yang dimuntahkan oleh PM Bagnold.
Sebagian dari kerumunan yang sigap berhasil melindungi diri maupun keluarganya dari ledakan itu. Namun bagi yang terlambat bertindak harus menanggung akibat mantra itu. Ada yang luka-luka. Namun ada juga yang tidak bergerak lagi. Selamanya.
Kekacauan besar pun terjadi. Para tamu berhamburan.
Sebagian dari mereka ada yang mencari posisi strategis sambil mengacungkan tongkatnya untuk bersiap terhadap resiko terburuk yang mungkin terjadi. Sedangkan sebagian lagi menjadi setengah gila seperti orang kesetanan dan memilih untuk berlari kencang keluar dari pintu.
Para orang tua berusaha mencari anak-anaknya di area anak-anak. Namun betapa kagetnya mereka ketika menyadari bahwa sudah tidak ada anak-anak sama sekali disana.
"Anakku! Dimana anakku!" Jerit para orang tua yang bertambah panik.
"ABBE! DEMI MERLIN! APA YANG SUDAH ENGKAU PERBUAT!" Teriak seorang wanita dari arah pintu.
Orang-orang segera menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk Aula.
Disana mereka melihat PM Bagnold bergegas masuk ke dalam Aula bersama dengan beberapa petugas DMLE berjubah hitam. Tongkat sihir mereka keluar dari sarungnya dan berpendar halus, siap memuntahkan spell spell offensive pada segala ancaman yang mungkin terjadi.
"Sh*t, Polyjuice! Impostor!" Teriak histeris seorang tamu yang gagal mencari anaknya.
"Abbe! Kau… Aku tidak menyangka!" ucap PM Bagnold dengan nada tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh, Hallo Millie.. Selamat malam." Ucap tiruan PM Bagnold dengan senyuman di wajahnya.
"Sesungguhnya aku tidak menyangka kau datang secepat ini. Aku kira aku masih punya beberapa waktu lagi untuk menyelesaikan tugasku disini." kata tiruan PM Bagnold sambil memasang mimik wajah kecewa. Namun mimik wajah itu hanya sebentar saja, sejurus kemudian mimik wajah impostor itu berubah menjadi gila kembali.
"Tapi lupakanlah, toh tujuan kami disini sudah tercapai." ujar impostor itu sambil nyengir sadis.
PM Bagnold hanya bisa melihat kawan baiknya itu dengan pandangan mata penuh kesakitan. Bagaimana tidak, Abbigail Griffith merupakan teman baiknya sejak dari kecil. Dia lah yang menemani di hampir 90 % kehidupan PM Bagnold. Mulai dari teman bermain sejak pra-Hogwarts, satu asrama di Ravenclaw, hingga meniti karir di Kementerian Sihir. Bahkan, Abbe lah yang menjadi juru kampanye Millicent Bagnold ketika dia mencalonkan diri menjadi Menteri Sihir.
Tidak dapat dipercaya.
Tidak kusangka.
Kenapa?
Sejak Kapan?
Itulah kalimat yang ada dan terus berputar-putar di otak PM Bagnold.
Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa Abbe yang dikenalnya dengan baik sejak kecil itu merupakan Death Eater, pelayan setia Kau-Tahu-Siapa. Benar-benar tidak dapat dipercaya.
Perasaan terkhianati itu akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan dan kecurigaan baru.
Apakah ini alasannya ketika tim Hit Wizard Kementerian Sihir melancarkan serangannya ke pasukan Kau-Tahu-Siapa selalu gagal. Inikah alasannya kenapa tim Auror dan Hit Wizard nya selalu menjadi sasaran empuk dan sering kali ada di posisi yang tidak menguntungkan.
Apakah karena ini?
Apakah karena mata-mata Kau-Tahu-Siapa berada di tempat yang paling dekat denganku?
Jika begitu, selain Abbe, siapa lagi? Seberapa dalam pengaruh Kau-Tahu-Siapa di dalam Kementrian Sihir?
PM Bagnold mulai timbul rasa curiga yang besar pada orang-orang kepercayaannya. Jika yang terdekat dan paling dia percayai ternyata musuh dalam selimut. Bagaimana dengan yang lain?
Kejadian hari ini jelas bukan kejadian spontan dan tiba-tiba. Kekacauan ini merupakan hasil dari perencanaan matang dan eksekusi dari banyak bagian di kementrian sihir. Abbe tidak mungkin merencanakan dan mengeksekusi kekacauan ini sendiri.
Di saat-saat stressnya ini PM Bagnold mengalami flashback. Teringat dirinya bagaimana Abbe meyakinkan dirinya bahwa suasana sudah aman karena kalahnya Kau-Tahu-Siapa. Pergerakan Death Eater juga sudah lumpuh akibat vakumnya kepemimpinan di organisasi itu. Dan bagaimana dengan menyelenggarakan pesta natal ini bisa mengembalikan keadaan psikologis masyarakat sihir yang sudah jenuh dengan perang saudara ini. Selain itu, pesta natal inimenurutnya juga dapat meyakinkan masyarakat sihir Britain dan dunia internasional bahwa ancaman Kau-Tahu-Siapa sudah berlalu.
Dan betapa menyesalnya saat ini PM Bagnold menuruti saran sahabatnya itu.
Sore ini, sebelum berangkat ke acara ini seperti biasa PM Bagnold berada di kantornya bersama Abbe. PM Bagnold duduk di kursinya sambil tetap mengerjakan paperwork yang menumpuk di mejanya, sedangkan Abbe ada di belakangnya. Mereka membicarakan situasi politik dan keamanan pasca tumbangnya Kau-Tahu-Siapa. Pemandangan yang biasa terlihat di kantornya. Sama seperti sore-sore di hari sebelumnya.
Namun PM Bagnold tidak menyangka kalau dia akan dia akan ditusuk dari belakang. Tiba-tiba saja pandangannya gelap gulita.
Namun ada yang Abbigail Griffith tidak ketahui. Sebagai politisi dan petarung, Bagnold tidak pernah membeberkan semua rahasianya. Sekalipun terhadap sahabat terdekatnya sendiri.
Sebenarnya, PM Bagnold mempunyai sebuah talisman sebagai tameng terakhirnya. Talisman itu akan hancur ketika PM Bagnold terkena magic spell yang merenggut nyawanya. Dia akan dalam kondisi koma selama beberapa jam sebelum kemudian kembali siuman.
PM Bagnold menggelengkan kepalanya, memaksa dia keluar dari flashback yang menyerbu dirinya.
Disana, dia melihat James Potter dan teman karibnya, Sirius Black, mengendap-ngendap di belakang Abbe. Sepertinya mereka mencoba melakukan surprise attack pada Abbe.
Setelah berpikir sejenak, Bagnold memutuskan untuk membantu mereka. Dia akan mengalihkan perhatian Abbe.
"Abbe! Apa sebenarnya tujuanmu? Apa kau benar-benar sudah menjadi pengikut Kau-Tahu-Siapa?" Tanya PM Bagnold pada Abbigail. Dia berusaha agar matanya tidak melihat ke arah James Potter dan Sirius Black. Takut apabila Abbigail menyadari rencananya.
"Millie.. Millie.. Aku selalu menjadi pengikut setia tuanku. Bahkan sejak di Ravenclaw. Semua ini sudah menjadi rencana tuanku. Semua gerakan ini, bahkan kau menjadi Menteri Sihir pun adalah bagian dari rencana tuanku. Kau saja yang bodoh tidak mengetahui ini"
PM Bagnold menggertakkan giginya. Rasa sakit karena terkhianati ini sangat menusuk dirinya.
"Buka lah matamu lebar-lebar Abbe! Kau-Tahu-Siapa sudah MATI! TAMAT! Dia sudah MUSNAH di tangan anak kecil!" Seru PM Bagnold sambil menekankan beberapa kata untuk mendapatkan efek yang diinginkannya.
Sangat beresiko memang, mengingat sandera yang dipegang Abbigail sekarang adalah yang dia maksud di dalam perkataannya. Namun PM Bagnold mengambil resiko itu. Karena semakin marah Abbigail, maka bisa semakin lancar surprise attack mereka.
Senyum kecil di muka Abbigail musnah, digantikan kembali oleh ekspresi gila. "PANGERAN KEGELAPAN BELUM MATI!" teriak Abbigail.
"Ini!? Ini!? Anak kecil seperti ini mampu membunuh tuanku!? Impossible!?" Hardik Abbigail menusuk-nusuk Daniel Potter dengan tongkat sihirnya, sedangkan tangan kirinya masih mencengkram leher Lily Potter.
Daniel yang merasa kesakitan karena ditusuk-tusuk segera menangis kencang di dalam dekapan Mummy nya.
"Hentikan! Hentikan! Sudah cukup! Tolong hentikan." Raung Lily sambil menangis mencoba untuk menghentikan aksi Abbigail.
"Abbe! Abbe! Cukup! Cukup! Tolong hentikan perbuatanmu. Kita bicarakan baik-baik. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Akan aku coba untuk memberikannya padamu." Pinta PM Bagnold mencoba menghentikan aksi sahabatnya itu.
"Keinginanku? Tentu saja Millie, yang kuinginkan hanyalah tuanku kembali. Aku ingin kalian mengembalikan tuanku." Jawab Abbigail dengan pandangan penuh senyum. Ekspresi Abbigail mirip seorang gadis yang sedang merindukan kekasihnya.
PM Bagnold mengerutkan dahinya. "Tapi Kau-Tahu-Siapa sudah tewas Abbe. Bagaimana mungkin kami mengembalikan tuanmu. Harusnya kau juga sangat mengerti itu. Jika Kau-Tahu-Siapa masih hidup, tentu kita berdua tahu hal itu."
Abbigail menyipitkan matanya. "Tentu saja Millie, tapi kita berdua juga tahu, Dumbledore dan Order of Phoenix nya banyak menyimpan rahasia dari Kementerian Sihir. Aku yakin saat ini merekalah yang menyembunyikan tuanku."
PM Bagnold melihat James Potter dan Sirius Black bersiap menyerang Abbigail. Sepertinya mereka akan melakukan serangan jarak dekat dengan mengandalkan perpaduan magic spell notice-me-not dan step silencer. Perpaduan yang sepertinya akan cukup efektif untuk keadaan ini.
Abbigail tiba-tiba nyengir.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan Millie? Kau naif sekali. Walaupun mereka memakai notice-me-not charm, tapi aku juga sudah memakai super-sensory charm."
"Selangkah lagi kalian melangkah, kau bisa ucapkan selamat tinggal pada istri dan anakmu, Potter." Kata Abbigail tanpa melihat ke belakang. "Oh, dan tentu kau juga, traitor Black!"
"Oh well, aku tidak akan mengambil sore berhargamu lagi Millie. Jika kau ingin pahlawanmu dan ibunya ini serta anak-anak lainnya kembali. Bicaralah pada Dumbledore dan kembalikan tuan kami. Jika tidak.." Abbe menyeret perkataannya.
"Aku tidak perlu mengatakan apa yang bakal terjadi kan? Aku serahkan sepenuhnya ke dalam imajinasimu." Kata Abbe santai sebelum menghilang dalam pusaran portkey.
"Lily! Lily!" Teriak James sambil mengangkat tangannya, mencoba meraih anak dn istrinya yang saat ini telah menghilang.
"Tenangkan dirimu Prongs." Kata Sirius sambil menggenggam pundak kiri sahabatnya.
"Bagaimana aku bisa tenang Padfoot! Dia menculik Lily dan Daniel! Bagaimana jika para bedebah menyiksa atau membunuh mereka berdua!" Jawab James nyaris histeris. Rasa deg-degan dan khawatir menyergap dan menguasai dirinya.
"Tenangkan dirimu Prongs!"
"Lihatlah, Perdana Menteri sedang menyiapkan Hit Wizard dan Auror untuk menyelamatkan Lily dan Daniel." ujar Sirius sambil menunjuk ke arah PM Bagnold yang saat ini sedang meneriakkan perintah ke arah Auror dan Hit Wizard.
"Ayo Prongs, kita harus ikut dalam misi penyelamatan ini. Semakin cepat penyelamatan ini dilakukan, semakin aman Lily dan Daniel." Sirius Black segera berjalan ke arah PM Bagnold untuk mendengarkan rencana aksi penyelamatan yang akan segera digelar itu.
James mengambil nafas panjang sambil menenangkan pikirannya. Dia harus tenang, komitmen dan fokus. Karena itu adalah modal minimal yang harus ia punya agar rencana penyelamatan ini berhasil.
"Lily.. Daniel.. Tunggu Daddy.. Daddy akan segera menyelamatkan kalian berdua." bisik James menyemangati dirinya sendiri.
James sangat mencemaskan keselamatan Lily dan Daniel.
Namun mereka berdua lupa, bahwa James masih mempunyai satu anak lagi.
Dia lupa pada Harry.
-MC-
==Host is unconscious==
==Scanning host's body eidos data==
==Critical damage has been detected at host body==
==Attempting forced connection with server data==
==Connected==
To be Continued.
