Akatsuki, The Students Council

.

.

.

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Hari itu para siswa baru KIS tengah berkumpul di lapangan sekolah berkeliling mengunjungi stand-stand yang memamerkan klub ekstrakulikuler yang terdapat di KIS. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sakura dan Ino. Keduanya sedari tadi berkeliling dan saat ini tengah menghampiri stand klub seni rupa yang memperlihatkan berbagai karya anggotanya dan piala serta penghargaan lainnya yang pernah mereka terima. Salah satu anggotanya memberikan brosur ke Sakura dan Ino. Baru saja melangkahkan kaki meninggalkan stand tadi, keduanya terhenti oleh panggilan seseorang.

"S-Sakura, bukan?" Panggil seorang siswi bersurai lavender dengan pelan.

"Ah, Hinata, bagaimana keadaanmu sekarang?" Balas Sakura dengan senyum ramah.

"Aku baik-baik saja, maaf kemarin sudah merepotkanmu, Sakura."

"Tidak usah dipikirkan, Hinata."

"Siapa ini, Sakura?" Ino menginterupsi percakapan keduanya.

"Ah, ini Hinata, Ino. Hinata, ini Ino" Hinata dan Ino bersalaman.

"Senang berkenalan, Hinata, aku adalah teman dekat dan teman serumah Sakura." Ujar Ino riang.

"Senang berkenalan juga, I-Ino" balas Hinata. Ketiganya kembali berjalan bersama. Berkeliling melihat-lihat hal yang dipamerkan setiap klub.

"Oh iya, Hinata masuk kelas berapa?" Tanya Ino.

"Etto, aku masuk kelas 1-2, bagaimana dengan kalian?"

"Wah, kita bertiga sekelas!" Ujar Sakura senang yang dibalas dengan anggukan senang dari Hinata dan Ino. Lelah berkeliling, ketiganya berjalan menuju sebuah bangku kosong yang terdapat di dekat pintu masuk gedung sekolah.

"Jadi Ino dan Sakura t-teman serumah?" Hinata buka suara setelah ketiganya duduk.

"Begitulah, keluarga kami berada di Suna, jadi kami patungan menyewa apartemen di sini." Jelas Ino. Mereka bertiga lanjut berbincang-bincang mengenai berbagai hal dan untuk saling mengenal. Tidak lama kemudian, Sakura berdiri yang mendapat tatapan bertanya dari kedua temannya.

"Aku ingin membeli minuman, kalian mau?" Pertanyaan Sakura dibalas gelengan dari Hinata dan Ino. Kemudian Sakura berjalan menuju sisi samping gedung sekolah yang terdapat sebuah mesin minuman. Sakura memasukkan uangnya dan memilih minuman, tidak menyadari dua orang yang tengah diam-diam mendekatinya.

Ketika ia berdiri setelah menunduk mengambil minumannya, tiba-tiba matanya ditutup dengan kain dan tangannya ditahan. Sakura mencoba memberontak namun ia kalah kuat dengan dua orang tersebut sehingga Sakura memutuskan berhenti melawan dan pasrah. Toh ini masih di lingkungan sekolah, mungkin ini hanya kerjaan iseng kakak kelasnya. Setelah itu tubuhnya diseret paksa menuju halaman belakang sekolah yang tengah kosong.

Setelah tiba di belakang sekolah Sakura didudukkan di sebuah kursi. Dengan mata yang masih ditutup kain, Sakura dapat merasakan ia berhadapan beberapa orang. Tidak lama kemudian, ikatan kain yang menutup matanya dilepaskan dan Sakura mendapati dia dan dua siswa lainnya tengah duduk berhadapan dengan beberapa kakak kelasnya.

"Selamat datang." Pein yang berdiri di tengah barisan anggota Akatsuki membuka suara.

"Apa yang kalian lakukan?" Tanya siswa bersurai kuning yang duduk di samping Sakura dengan marah.

"Kalian bertiga adalah murid pilihan yang kami anggap pantas untuk bergabung dengan Akatsuki" sambung Pein.

"Kalau hanya untuk mengatakan itu, untuk apa semua ini?" Tanya Sakura kalem yang diiringi dengan anggukan setuju dari siswa kuning di sebelahnya.

"Hanya kebiasaan iseng, seru bukan?" Ujar Deidara ringan.

"Apa-apaan, kukira aku akan diculik dan dijual." Jawab si kuning tadi.

"Gunakan lah otakmu sesekali, Naruto." Siswa bersurai raven di sebelah siswa kuning tadi memutar bola matanya malas.

"Apa maksudmu Sasuke." Siswa yang dipanggil Naruto tersebut berniat kembali marah namun dihentikan oleh suara Pein.

"Kami ini adalah Akatsuki. Kuyakin pada orientasi kemarin telah dijelaskan mengenai OSIS dan Akatsuki. Namun jika kalian lupa, Akatsuki adalah sebutan untuk anggota inti OSIS KIS. Mulai detik ini kalian bertiga juga akan menjadi anggota Akatsuki." Jelas Pein.

"Bagaimana kalo kami menolak?" Tanya Sasuke.

"Maka kalian akan berurusan dengan Bimbingan Konseling dan Kepala Sekolah" jawab Konan kalem namun terdengar horror di telinga Sakura, Naruto, dan Sasuke.

"Akatsuki memiliki kuasa penuh atas para siswa dan banyak hal di sekolah ini. Anggaplah kami perpanjangan tangan kepala sekolah." balas Sasori.

"Ini pemaksaan?" tanya Sakura pasrah yang dibalas dengan anggukan dari senior-seniornya yang berdiri di hadapannya.

"Jadi bagaimana, Sakura?" tanya Pein yang dibalas helaan nafas Sakura.

"Baiklah, aku akan bergabung." Jawab Sakura.

"Baik, selamat bergabung, Sakura. Bagaimana denganmu, Naruto?" Pein mengalihkan pandangannya ke Naruto yang duduk di sebelah Sakura.

"Ya ya baiklah, aku juga bergabung" balas Naruto setelah berpikir sebentar.

"Bagus, selamat bergabung, Naruto. Dan terakhir, kau Sasuke, bagaimana?" tanya Pein pada Sasuke yang duduk di sebelah Naruto.

"Hn, aku bersedia" jawab Sasuke singkat.

"Dan selamat bergabung, Sasuke. Perlu kuingatkan, dengan bersedia bergabung, kalian wajib bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kalian, paham?" ujar Pein yang dibalas dengan anggukan dari ketiga juniornya. "Sekarang berdiri dan letakkan tangan kalian di dada." Perintah Pein yang dipatuhi langsung oleh ketiganya.

"Ulangi perkataanku. Aku bersumpah untuk selalu bertangung jawab terhadap kewajiban dan tugas-tugasku selama aku menjabat di OSIS KIS.".

"Aku bersumpah untuk selalu bertangung jawab terhadap kewajiban dan tugas-tugasku selama aku menjabat di OSIS KIS." Ulang Sakura, Sasuke, dan Naruto serentak.

"Selamat, kalian resmi bergabung dengan Akatsuki sebagai bagian dari OSIS KIS. Tapi kalian harus merahasiakan ini hingga pelantikan pengurus OSIS dan klub ekstrakulikuler besok, kalian mengerti?" tanya Pein.

"Ya, Senpai." Balas Sakura, Naruto, dan Sasuke bersamaan.

"Dan satu lagi, kalian tidak bisa bergabung dengan klub ekstrakulikuler lain karena kalian adalah anggota inti, tidak seperti anggota biasa yang bisa bergabung dengan klub lain, kalian paham?" tanya Pein lagi yang dibalas dengan anggukan ketiga juniornya.

"Bagus, sekarang kalian bisa bubar" titah Pein. Para Akatsuki pun mulai meninggalkan halaman belakang diikuti oleh Sakura.

"Tunggu, kau Sakura, bukan? Salam kenal, aku Naruto, Naruto Uzumaki" suara dari kursi di sebelahnya menginterupsi Sakura yang berniat berdiri. Sakura mengalihkan pandangannya ke sebelahnya dan mendapati tangan yang terulur padanya.

"Salam kenal, Naruto, aku Haruno Sakura." Balas Sakura dengan ramah.

"Haruno? Oh kau Sakura Haruno yang itu." Naruto menunjuk Sakura sementara yang ditunjuk hanya menaikkan alisnya mengisyaratkan pertanyaan.

"Haruno yang mendapat ranking tertinggi di tes masuk dan yang bermasalah dengan Karin waktu masa orientasi, 'kan?" jawab Naruto dengan tawa kecil di akhir.

"Tidak kuduga masalah itu tersebar kemana-mana" respon Sakura dengan senyum miring.

"Tentu saja mudah tersebar, Sakura-chan. Jarang-jarang ada siswa kelas satu bertengkar dengan senpai-nya di masa orientasi, benar kan, teme?" balas Naruto kali ini mengalihkan perhatiannya ke siswa raven yang sedari tadi diam mengamati percakapan Sakura dan Naruto.

"Hn." Balas siswa raven tadi singkat.

"Oh iya, Sakura-chan, kenalkan, ini Sasuke, Sasuke Uchiha" ujar Naruto sambil menepuk bahu Sasuke pelan.

"Salam kenal, Sasuke" Sakura mengulurkan tangannya ke Sasuke yang dibalas dengan jabat tangan singkat oleh Sasuke.

"Well, aku duluan, Naruto, Sasuke" ujar Sakura berdiri dari kursinya yang diikuti oleh Naruto dan Sasuke.

"Ya, kami juga akan pergi, sampai jumpa lagi, Sakura-chan." Ujar Naruto membalas lambaian tangan Sakura yang sudah jalan menjauh. Sakura kembali ke halaman depan mendapati Ino dan Hinata yang masih duduk di bangku mereka tadi.

"Sakura, kau lama sekali" cetus Ino kesal setelah Sakura kembali duduk bersama mereka.

"Hehe, maaf Ino, Hinata." Sakura hanya memamerkan cengiran lebar.

"Tidak apa, Sakura" balas Hinata lembut.

"Terima kasih, Hinata. Jadi kalian berdua sudah memutuskan mau masuk klub apa?" tanya Sakura pada kedua temannya.

"Etto, aku sepertinya akan masuk klub seni rupa. Aku lumayan tertarik dengan memahat dan melukis" jawab Hinata setelah berpikir sebentar.

"Hebat sekali Hinata. Kalau aku sepertinya akan bergabung dengan OSIS dan klub basket perempuan." Ujar Ino.

"Wah, Ino seorang atlit basket ya?" tanya Hinata.

"Salah satu yang terbaik" celetuk Sakura menjawab sebelum Ino sempat mengeluarkan suara.

"Ah, kau bisa saja, jidat. Bagaimana denganmu?" tanya Ino ke Sakura.

"Etto, sepertinya aku tidak bergabung kemana-mana, hehe." Sakura menggaruk pipinya yang tidak gatal sama sekali.

"Kau serius Sakura? Padahal aku ingin mengajakmu ikutan ke OSIS berhubung kau punya pengalaman di OSIS."

"Be-begitulah, aku tidak tertarik. Kalian memangnya sudah mendaftar?" Sakura mengalihkan pembicaraan.

"Oh belum, tadinya kami mau menunggumu dulu baru mendaftar. Kalau begitu ayo kita mendaftar, let's go!" Ino menarik Sakura dan Hinata membuat mereka berdiri dan menggandeng kedunya menuju stand OSIS yang dijaga oleh Itachi dan beberapa anggota OSIS lain.

"Senpai, aku tertarik untuk bergabung dengan OSIS." Ujar Ino pada siswi bersurai merah yang duduk di meja memegang sebuah kertas berisi list calon anggota OSIS.

"Ah, ya tentu. Silahkan isi ini dan for- Kau!" teriak siswi tadi di tengah-tengah pembicaraannya sendiri dan menunjuk muka Sakura. Sakura yang mengenali siswi tersebut hanya menghela nafas pelan.

"Halo Uzumaki-senpai" balas Sakura sesopan mungkin.

"Psst, Sakura. Dia senpai yang itu?" bisik Ino pada Sakura yang dibalas dengan anggukan dari Sakura.

"Asal kau tahu saja, orang sepertimu tidak pantas dan tidak punya kualitas untuk bergabung di OSIS" ujar Karin angkuh masih dengan telunjuk menunjuk muka Sakura.

"Etto, temanku yang mau mendaftar, bukan aku, senpai." Balas Sakura tenang.

"Huh, ini. Isi namamu di sini dan isi formular ini." Karin dengan judes menyerahkan sebuah kertas berisi nama-nama calon anggota OSIS dan sebuah formular pendaftaran kepada Ino. Ino sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda akan marah pada Karin namun ditahan dengan Sakura lewat pandangan.

"Terima kasih, senpai" balas Ino dengan penekanan.

"Pengumuman penerimaan akan ditempel di mading dalam waktu dekat." Ino hanya mengangguk. Setelah dikembalikannya kedua berkas tadi ke Karin, Ino, Sakura, dan Hinata pergi menuju stand seni. Setibanya di sana, seperti di stand OSIS, Hinata diminta mengisi formular pendaftaran. Kemudian ketiganya ke klub basket dimana Ino mendaftar menjadi salah satu anggotanya. Setelah itu mereka bertiga berjalan menuju kantin untuk mengisi perut.

Sesampainya di kantin yang tidak terlalu penuh, ketiganya membeli roti dan minuman kemudian duduk di salah satu meja yang kosong. Ketiganya mulai makan dan mengobrol kembali dengan seru.

"Jidat, kenapa kau tidak bergabung dengan OSIS? Kau pasti diterima mengingat kau pernah jadi ketua OSIS di SMP. Biar nenek lampir merah itu tau diri." Ujar Ino emosi.

"Sa-Sakura-san pernah jadi ketua OSIS? Hebat sekali."

"Tidak sehebat itu kok, Hinata. Aku sedang ingin vakum saja, Ino."

"Kau yakin?" tanya Ino

"Yakin" ujar Sakura sebisa mungkin meyakinkan Ino.

'Maaf Ino, aku tak bisa mengatakannya sekarang'.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yo Yo Minna! Saya balik, ohoho.

Gatau mau bicara apa, pokoknya review yaa, kasih feedback sebanyak-banyaknya. Mau ngasih ide juga boleh, hehe. Saya juga mau nanya, ini alurnya lamban atau kecepatan ya? Bingung soalnya, ini lah author amatiran, huhu. Tapi semoga mudah dipahami dan dinikmati yaa.

Oh iya, cek juga Fanfic Sakura dan Akatsuki lainnya yang judulnya "Black, Red, and Pink", promosi, hehe.

Bye minna, doakan saya cepat siap skripsi biar bisa lanjut lagi nulis.

With Love

Sorachi Na-Chan