Disclaimer: Naruto Milik Masashi Kishimoto
.
.
.
Black, Red, and Pink
Main Chara: Sakura Haruno X Akatsuki
.
.
.
Sakura sadar ia tak berasal dari keluarga ninja dan belum mampu menggunakan ninjutsu hebat seperti teman-temannya yang lain. Namun tidak disangkanya selama ini ia dianggap tak berguna dan menyusahkan walaupun ia sudah berupaya sebisa mungkin menjadi lebih kuat. Tak ingin masalah mengenai dirinya berlanjut di Konoha, ia pun meninggalkan desa. Namun ternyata, dia harus terlibat dengan Akatsuki, kelompok kriminal paling ditakuti di dunia shinobi
.
.
.
Sakura tahu, ia bukanlah seorang shinobi yang hebat. Sakura tak terlahir dari keluarga ninja terpandang layaknya teman-temannya yang lain. Ia tak menguasai ninjutsu yang memiliki kekuatan sehebat teman ninjanya yang lain. Namun sungguh di luar dugannya bahwa dirinya dianggap sebagai beban dan tak pantas menyandang gelar sebagai seorang shinobi oleh teman-temannya. Selama ini ia mengira mereka menerimanya apa adanya dan bersedia memberinya waktu dan kesempatan untuk berkembang sehingga suatu hari ia mampu berdiri sejajar dengan yang lainnya.
Semua berawal ketika pagi ini Sakura bangun kesiangan dan terlambat datang ke lapangan untuk latihan mereka. Sesampainya di lapangan, Sakura menyembunyikan kehadirannya dengan menyembunyikan chakranya dan bersiap mengejutkan teman-teman satu timnya. Kemudian ia mengendap-ngendap menuju Naruto dan Sasuke yang tengah berbincang di bawah sebuah pohon. Niatannya untuk mengejutkan rekan setimnya urung ketika didengarnya pembicaraan keduanya.
"Latihan terasa lebih ringan dan menyenangkan tanpa Sakura, bukan?" Ujar Naruto.
"Hn" balas Sasuke cuek.
"Ah, kenapa harus dia yang menjadi perempuan di tim kita, bukankah lebih baik jika Hinata-chan setim dengan kita? Dia memiliki kekuatan dan tidak akan menjadi beban untuk kita, tidak seperti Sakura"
"Tumben Sakura terlambat latihan, biasanya dia paling awal" tanya Sasuke sedikit heran.
"Mungkin dia sudah menyerah untuk menjadi lebih kuat" ujar Naruto yang sedikit diiringi tawa kecil.
"Hn"
"Teme, ayo kita adu kekuatan lagi". Naruto dan Sasuke pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke tengah lapangan. Setelah itu keduanya mulai beradu kekuatan dengan serius. Sementara Sakura yang sedari tadi duduk di dahan pohon yang terletak beberapa meter dari tempat kedua rekannya duduk tadi hanya terdiam. Sungguh ia tidak menyangka Naruto yang selama ini ramah dan baik padanya berkata demikian. Dirasakannya matanya mulai memanas dan sedikit berair namun disekanya dengan kasar. Dialihkannya pandangan ke sisi lain lapangan untuk mencari gurunya, Kakashi Hatake, yang belum terlihat sejak tadi. Namun nihil, Kakashi tidak terlihat dimana pun dan Sakura tidak merasakan adanya chakra Kakashi. Kemudian ia melompati dahan menuju lapangan lainnya.
Masih bertumpu di dahan, Sakura melihat Shikamaru, Ino, dan Chouji tengah duduk di bawah pohon dengan wajah terlihat lelah. Sakura melompat ke dahan yang lebih dekat kemudian duduk dan menajamkan telinganya.
"Kemana Asuma-sensei?" Tanya Ino
"Katanya sedang ada rapat dengan hokage" jawab Chouji di sela-sela mengunyah keripik kentangnya.
"Begitu, apa ya yang kira-kira sedang dibahas?" Tanya Ino lagi.
"Kudengar mereka membahas perkembangan para ninja muda dan evaluasi tiap sensei" balas Shikamaru dengan malas.
"Kasihan Kakashi-sensei kalau begitu. Pasti berat mempertanggung jawabkan murid selemah Sakura yang tidak berkembang sama sekali." Celetuk Ino diiringi tawa cemooh. Sakura yang mendengarnya hanya tersenyum miring. Siapa sangka teman yang dianggapnya sahabat berbicara demikian di belakangnya. Sementara Chouji ikut tertawa dengan nada cemooh dan Shikamaru mengangkat bahunya tak peduli.
Sakura pun beranjak dan kembali melompati dahan menuju kantor Hokage. Di pertengahan jalan, didapatinya Kakashi dan Anko yang duduk di sebuah kursi taman. Sakura pun mengurungkan niatnya menuju kantor Hokage dan diam-diam mendekati Kakashi dan Anko untuk menguping.
"Kau disudutkan karena masalah Sakura lagi" ujar Anko pelan pada Kakashi yang terlihat menerawang langit. Tak dapat jawaban berarti, Anko lanjut berbicara.
"Apa sulitnya kau lepaskan saja Sakura seperti tuntutan yang lainnya. Dia hanya menghambat timmu. Dia juga tak memiliki bakat spesial, hanya anak dari keluarga biasa yang beruntung mampu mengendalikan chakra. Aku tidak tega melihat kau disudutkan setiap kali evaluasi perkembangan ninja muda." Ujar Anko panjang lebar. Kakashi menghela nafasnya pelan dan menatap ke depan.
"Sakura memiliki bakat yang hebat. Ia mampu mengendalikan chakranya dengan sangat baik, bahkan aku berani mengklaim bahwa pengendalian chakranya lebih baik dari semua ninja muda Konoha. Ia juga mampu berpikir dengan cepat dan menganalisis keadaan mungkin hampir menyamai Shikamaru. Namun aku yang salah. Aku tidak mampu membantunya mengembangkan bakatnya." Jelas Kakashi panjang lebar.
"Apa kau tidak ingat kalau kau sudah diancam akan dicopot dari posisi sensei tim 7 jika Sakura masih tidak berkembang? Melepaskan Sakura adalah satu-satunya cara" Kakashi menghela nafas lagi mendengar balasan Anko. Ia pun berdiri dan berjalan meninggalkan Anko.
"Aku ingin pulang dan istirahat" katanya sambil mengangkat tangan kanannya.
"Pikirkan lah apa yang kukatakan" teriak Anko. Anko pun berdiri meninggalkan taman tersebut. Sepeninggalan Anko, Sakura keluar dari persembunyiannya dan duduk di kursi tadi. Ia merenungi semua hal yang didengarnya hari ini. Sungguh, rasanya ia ingin menangis sekencang mungkin. Dadanya sesak dan nafasnya terasa berat. Semua yang ia dengar hari ini rasanya terlalu berat untuk diproses otaknya. Sakura tetap duduk tidak bergeming hingga langit mulai bewarna jingga.
Ia pun bangkit dan kembali memanjat serta menapaki dahan-dahan pohon. Kali ini ia menuju tempat pemakaman. Ditelusurinya barisan nisan hingga tiba dia dua nisan yang sama-sama bermarga Haruno. Sakura pun duduk di antara nisan tersebut dan menangis menumpahkan rasa sedihnya pada ayah dan ibunya yang terbaring di bawah nisan tersebut. Setelah selesai menangis, Sakura pun berpikir langkah apa yang harus diambilnya.
"Aku harus pergi, demi Kakashi-sensei, demi semuanya" putusnya dengan mantap. Ia pun bangkit setelah mengelus nisan kedua orang tuanya.
"Kaa-san, Tou-san, Sakura pamit untuk waktu yang sangat lama" ujar Sakura pelan. Kemudian ia berjalan pulang. Sesampainya di rumah, langit sudah gelap ditemani bintang-bintang. Tanpa membuang waktu, Sakura membereskan barang-barangnya. Dimasukkannya beberapa potong baju ke dalam sebuah ransel. Tak lupa dibawanya senjata ninjanya dan perlengkapan berpergian lain. Kemudian diambilnya jubah yang biasa ia kenakan saat melakukan perjalanan misi
Sebelum berangkat ditulisnya sebuah surat pamit. Ia pun keluar, berjalan menuju rumah Kakashi dan meninggalkan surat tersebut. Setelahnya diketuknya pintu rumah Kakashi kemudian ia menghilangkan jejak chakranya dan lompat ke atas sebuah pohon rindang yang bisa menutupi keberadaan Sakura.
Tidak lama kemudian, Kakashi keluar. Awalnya ia mengira hanya orang iseng, namun niatannya untuk langsung masuk batal ketika dilihatnya sebuah kertas di bawahnya. Diambilnya surat tersebut dan dibacanya. Kakashi terlihat terkejut dan khawatir. Ia langsung berlari menuju kantor Hokage. Sakura yang penasaran pun mengikuti Kakashi menuju kantor Hokage. Tidak lama kemudian ninja muda lainnya dipanggil ke ruangan Hokage.
"Ada apa malam-malam begini kami dipanggil sih?" Tanya Naruto dengan sedikit kesal.
"Sakura meninggalkan desa" jawab Tsunade. Mendengarnya, yang lain hanya menghela nafas kasar.
"Dia sudah dewasa, biarkan saja lah dia memilih jalannya sendiri." Balas Naruto ringan yang disetujui teman-temannya. Sakura yang menyaksikan berita ia meninggalkan desa ditanggapi dengan malas dan tidak peduli hanya tersenyum getir. Hatinya semakin mantap dengan keputusannya untuk pergi. Ia pun melompati gedung dan pohon mengarah ke pintu gerbang dan resmi meninggalkan Konoha.
.
.
.
Sakura sudah melakukan perjalanan sangat jauh hingga chakranya sudah menipis. Malam semakin larut dan bulan mulai menunjukkan cahayanya. Sakura pun memutuskan untuk beristirahat di tengah hutan. Pertama dicarinya kayu-kayu kering dan ia pun membuat sebuah api unggun. Setelah itu digelarnya kantung tidurnya dan ranselnya ia letakan dan ia masuk ke dalam kantung tidurnya.
Setelah memejamkan matanya selama beberapa menit, Sakura pun tertidur. Namun, tidak lama kemudian dirasakannya kehadiran chakra asing yang membuatnya bangun dan memasang kuda-kuda dengan waspada. Tak lama kemudian muncul dua orang berjubah hitam dengan motif awan merah di hadapan Sakura, yang satu bersurai pirang panjang, dan satunya lagi bersurai merah.
'Sialan, Akatsuki' batin Sakura gusar.
"Kau, ikut kami" perintah si surai merah dengan nada dingin dan memaksa.
"T-tapi aku bukan siapa-siapa, aku hanya ingin beristirahat dan tidak bermaksud mengganggu siapapun, kumohon tinggalkan aku sendiri" Sakura mencoba bernegosiasi dengan dua pria di hadapannya.
"Dengarlah Haruno, kami tahu kau siapa dan apa yang terjadi padamu, terserah kau mau atau tidak, kami tetap akan membawamu walau harus dengan cara kasar. Kuyakin kau cukup pintar untuk memilih" kali ini si pirang berbicara dengan sedikit nada mengancam.
"Kemana kalian mau membawaku? Apakah kalian berniat membunuhku karena aku ninja Konoha?"
"Kau akan tau nanti" jawab si merah. Sakura pun berpikir sebentar dan kemudian menghela nafasnya.
"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian."
"Gadis pintar. Sekarang berbenah dan ikuti kami" ujar si pirang. Sakura pun membereskan kantung tidur nya, mengangkut ranselnya dan menggunakan jubahnya.
"Aku siap berangkat". Kedua pria tadi pun menaiki dan melompati pohon diikuti oleh Sakura di belakangnya yang berdoa semoga tak ada marabahaya yang menantinya.
BRUK...
Setelah beberapa kilometer, Sakura terjatuh ke tanah dan membuat kedua pria tadi berhenti dan turun menghampiri Sakura. Sakura merasa lelah dan lemas. Dia sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh tadinya saat meninggalkan Konoha dan belum beristirahat dengan cukup sehingga chakranya habis.
"Maaf, sepertinya aku kehabisan chakra" ujar Sakura. Tanpa berkata apa-apa, pria merah tadi mendekati Sakura dan membentuk segel tangan. Tak lama terlihat cahaya biru keluar dari tubuhnya yang kemudian menghubungkan dirinya dengan Sakura.
'Teknik transfer chakra' batin Sakura. Tidak lama kemudian Sakura merasa tubuhnya kembali fit. Setelah beberapa detik Sasori menghentikan transfer chakra ke Sakura dan memberi kode untuk mereka melanjutkan perjalanan. Ketiganya pun kembali melompati pohon di tengah kegelapan malam.
Akhirnya mereka pun tiba di bagian hutan berupa padang rumput yang dikelilingi hutan. Di sana juga terdapat sebuah gua yang cukup besar. Mereka telah tiba di markas Akatsuki. Kedua pria tadi memasuki gua tersebut disusul oleh Sakura di belakangnya. Walaupun terlihat bobrok dari luar, ternyata markas ini cukup nyaman dengan adanya ruang depan, ruang makan, dapur, dan deretan ruangan di sisi lorong yang Sakura tebak sebagai kamar. Sakura dibawa ke salah satu ruangan di koridor tadi dan dipersilahkan masuk.
"Istirahatlah, besok pagi kau akan bertemu ketua" ujar si pirang. Sakura hanya mengangguk dalam diam, dan masuk ke dalam kamar yang disediakan untuknya. Setelah membereskan ranselnya, Sakura mengganti bajunya dan berbaring di atas kasur dengan pandangan menerawang langit-langit ruangan.
Banyak sekali kejadian hari ini yang menguras tenaga, hati, dan pikirannya. Mengenai kepergiannya dari Konoha dan posisinya saat ini yang ia rasa seperti menjadi tawanan Akatsuki. Ia jadi memikirkan apa yang sebenarnya ketua kelompok kriminal yang paling ditakuti di dunia ninja ini inginkan darinya. Sakura terus menerus memikirkan itu semua hingga ia tertidur.
.
.
.
Esoknya Sakura terbangun karena ketukan di pintu kamarnya. Dengan sigap Sakura turun dari kasur dan membuka pintu yang memperlihatkan seorang wanita bersurai biru.
"Ketua menunggumu di ruang rapat. Bersiap-siaplah, akan kutunggu di sini" ujar perempuan tersebut pada Sakura. Sakura mengangguk dan masuk kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah beberapa menit, ia keluar dan mengatakan ia siap bertemu ketua Akatsuki ke wanita tadi. Wanita tersebut pun menggiring Sakura ke ruangan rapat Akatsuki. Setelah tiba, ia mempersilahkan Sakura masuk karena ketua Akatsuki ingin berbicara empat mata denngan Sakura.
"Permisi" ucap Sakura pelan selagi ia membuka pintu. Ketika di dalam dilihatnya seorang pria bersurai jingga dengan tindikan di wajahnya tengah duduk dan di depannya ada sebuah meja kayu dengan satu kursi lagi yang menghadap pria tersebut.
"Duduklah" balas sosok tersebut. Sakura dengan ragu menghampiri kursi di hadapan pria tersebut dan duduk.
"Aku ingin kau menjadi anggota Akatsuki"
"A-APA?"
.
.
.
.
.
To Be Continued
Hai hai hai
Wah, udah lama banget saya ga publish cerita di situs kesayangan ini. Masih banyak utang fic MC pulak, duh. Maafin kalo fanfic ini ngebosenin dan agak maksa, huhu.
Gatau mau bilang apa lagi, pokoknya enjoy, dan jangan lupa review, fav, dan follow yaa, biar semangat ngerjain kelanjutannya. Makin banyak feedback positif, makin rajin nulis, dan mohon maaf typo dsb, karena buatnya pake hp, hehe.
Ohya, kalo ada ide-ide juga silahkan bilang aja, bisa nanti dipertimbangkan, hehe. Itu dulu deh, bye bye!
With Love,
Sorachi Na-chan
