Always be your side

Declaimer: Boku no Hero Academia (c) Kohei Hirokoshi

Always be your side (c) Elliz Rokuou

Pairing: Togata Mirio x Amajiki Tamaki

Warning: BL/Sho-ai

"Ne, ne kau tau, Hado-san tahun ini memenangkan kontes kecantikan loh"

"Tau tau"

"Tentu saja dia menang, cantik berbakat bahkan dia masuk sebagai big three"

"Walau tahun lalu gagal tapi ia tidak perna menyerah"

"Hnn sangat mengagumkan"

Obrolan gadis-gadis kelas 3 SMA Yuuei menghentikan langkah Amajiki Tamaki. Para gadis itu mengobrol sambIl menunggu temanya mengurus sampah kelas mereka di pembuangan sampah sementara.

SMA yuuei sama seperti sekolah-sekolah lain di jepang. Siswa-siswi disini memiliki tugas piket kelas sepulang sekolah dengan menyapu kelas, mengelap kaca, dan membuang sampah.

"Ne kalau Hado-san berpacaran dengan Togata-kun sangat cocok, tidak?" ucap salah satu siswi.

"Hnn betul-betul seperti double plus ultra"

"Mereka berdua sangat menyilaukan"

"Sifat mereka cocok, sama-sama kuat dan pahlawan yang hebat"

"Hnn hnn"

Sementara para gadis itu asik mengosip, Amajiki Tamaki salah satu dari big three hanya bisa canggung untuk tidak keluar. Pemuda berambut indigo itu hanya bisa berdiri menunggu di pertikungan.

'kenapa gadis-gadis ini suka sekali memasangkan sesuka mereka' piker Amajiki, ini membuatnya jadi semakin sulit untuk keluar

'Ayolah kalian cepat selesaikan, sampah kelasku sudah menunggu untuk dibuang' keluh amajiki dalam hati.

"Amajiki-kuunn" seorang gadis yang sedang bergosip itu menyadari kehadiran pria pemalu itu.

'GLEK' Amajiki terkejut.

"Maaf, bukan maksudku untuk menguping" Pemuda itu kaget keberadaanya disadari, ia takut disangka menguping pembicaraan mereka. Ia tau wanita itu sangat menyeramkan apalagi kalau marah, mereka akan mengejek dan memakimu. Amajiki baru akan menghadap tembok dan menerima sindiran dari mereka.

"Ne ne Amajiki-kun dekat dengan Togata-san kan? Bagaimana menurutmu Togata dengan Hado cocok bukan?" tanya murid perempuan lain.

Amajiki mengira mereka akan marah karena ia mendengar percakapan mereka. Gadis-gadis itu malah lebih memilih membawa Amajiki ke dalam obrolan. Tidak perlu ditanya lagi pemuda itu sudah paham arah pembicaraan mereka. 'Cocok'disini bukan dalam arti partner dalam kerjasama kepahlawanan melainkan dalam bentuk romansa ketertarikan antara pemuda dengan pemudi. Amajiki tidak menyangka bahwa kedekatan osananajimi-nya dengan sang putri kecantikan banyak dipasangkan.

"E—ee Mi-mirio dan Ha-hado" Amajiki enggan untuk menjawab.

Selain karena memang sifat pemalu dan nyalinya yang kecil, kalau tiba-tiba ditanya soal asmara seperti itu Amajiki juga akan kebingungan setengah mati.

"Me-menurutku co-cocok" jawabnya dengan gugup dan wajah yang semerah kepiting rebus.

"Benarkan" salah satu gadis itu puas mendengar jawaban Amajiki.

"Wah, bahkan didukung oleh salah satu Big 3" yang lain ikut menimpali.

'A-aku ingin pulang' Amajiki menangisi nasibnya yang tiba-tiba terseret arus obrolan gadis-gadis ini.

"Amajiki-senpaiiii" dari arah jendela lantai dua terlihat kohai 1A dengan rambut merah memanggil.

"Kirishima?" Amajiki melihat adik kelas penyelamatnya.

"Ayo kita ke tempat Fat Gummy" ucap Kirishima.

'Kirishima-kun, penyelamat' mata sang senpai berbinar karena bukan hanya reliable tapi Kirishima juga sangat membantu disaat terdesak seperti ini.


Amajiki Tamaki memikirkan perkataan gadis-gadis kelas 3 tadi siang. Mirio adalah seoarang lelaki yang akan menjadi seorang pahlawan yang hebat. Pria bersurai pirang itu bagaikan matahari baginya sangat bersinar dan menyilaukan secerah masa depanya. Bukan hanya karir Tamaki juga membayangkan Mirio akan menjadi seorang ayah yang hebat. Mirio sangat ahli mengurus anak-anak, istrinya juga pasti cantik, walaupun tidak pilih-pilih Mirio cukup populer dengan sifatnya yang ceria dan easy going juga gelar Big 3 yang bukan hanya nama tapi ia buktikan sendiri dengan kemampuanya.

'Mirio dan Hado ya'

Tamaki mengengam erat dadanya yang sakit. Ia sudah berjanji untuk memendam semua perasaanya kepada Mirio. Itu janjinya dari SMP untuk masa depan Mirio, ia tidak akan menjadi penghalang. Cukup sebagai penonton yang menyaksikan keberhasilan Mirio, cukup sebagai supporter dan pendukung bagi Mirio.

"Senpai? Senpai kau baik-baik saja" tanya Kirishima.

Sesuai perintah Fat gummy mereka berdua diberi tugas berpatroli di daerah pertokoan. Dengan sifat Kirishima yang semangat dan ceria membuat dia langsung dekat dengan warga sekitar. Berbeda dengan Amajiki yang gugup Ketika diajak bicara dengan dengan warga dan langsung bersembunyi dalam tudung kostum heronya.

"I-iya aku baik-baik saja" Apa yang Amajiki pikirkan, ini saatnya dia bertugas untuk masyarakat bukan malah melamun pikir pemuda itu.

"Kalau kurang sehat akan ku—"

"Ti-tidak ada apa-apa Kirishima-kun, maaf membuatmu khawatir" sanggah Amajiki.

'Aku memang memiliki kohai yang baik' pikirnya.


Malam hari di Asrama Yuuei.

'Tok tok'

"Mirio" Amajiki mengetuk pintu kamar Togata Mirio. Karena jadwal kelas 3 sangatlah padat wali kelas mereka membutuhkan laporan magang secepatnya. Walikelasnya meminta Amajiki untuk mengambilkan laporan milik Togata.

"Mirio, sensei meminta laporan magangmu" Amajiki mencoba memanggil Mirio.

'Seharusnya mirio tidak ada jadwal untuk magang hari ini, apa dia sedang tidur, Tapi ini belum jam makan malam' pikir Amajiki, tidak biasanya Mirio lama Ketika dipanggil.

Amajiki membuka pintu kamar Mirio, karena sudah menjadi teman dari kecil Amajiki sudah dekat dengan Mirio, Ia sudah terbiasa masuk ke kamar Mirio baik sebelum masa asrama dimulai ataupun saat Yuuei mengubah system menjadi sekolah asrama.

"Tidak dikunci" ucap Amajiki, mendapati kamar Mirio yang tidak dikunci berarti Mirio ada di asrama.

"Mirio tidak ada, apakah sedang di kamar mandi" Amajiki menengok ke kanan dan kiri sekeliling kamar. Ia tau bahwa Mirio biasanya meletakan tugas/pekerjaan sekolah yang sudah selesai di atas meja.

Pandangan Amajiki teralihkan ke sebuah benda di atas meja, bukan laporan magang ataupun PR melainkan sepasang cincin perak putih dengan batu permata sederhana.

"Cincin?"

'Apakah itu milik mirio? Atau bukan? Apakah ia akan memberikan cincin kepada seorang wanita? Siapa yang ia akan berikan? Beribu pertanyaan muncul di kepala pemuda berambut indigo itu.

"Tamaki?" Mirio yang datang dari arah pintu mendapati osananajimi-nya sedang berada di kamarnya, hal itu sudah biasa dan dimaklumi oleh pemilik kamar.

"Mirio"

"Sedang apa Tamaki" tanya Mirio.

"Ah, sensei meminta laporan magangmu" jawab Amajiki.

"Oh, maaf merepotkan akan kuambilkan" Mirio yang paham mengambil tas yang tidak jauh darinya. Ia ingat belum mengumpulkan miliknya karena belum diberi tanda tangan oleh Sr Nighteye. Akhir-akhir Sr Nighteye sangat sibuk sehingga sulit untuk meminta tanda tanganya.

"Mirio, cincin itu, kau akan memberikanya ke siapa?" Amajiki menutup mulutnya. Seharusnya ia tidak bertanya, biar Mirio yang memberitahukanya Ketika waktunya tiba. Saatnya tiba Ketika Mirio memperkenalkan gadis yang menjadi tembatan hatinya. Lagipula nada bicaranya aneh, biasanya teman lelaki akan bertanya sambil mengoda seperti "Ciee siapa wanita yang akan kau berikan cicin" bukan serius sepertinya.

Diam.

Tidak ada jawaban dari Mirio.

'Kenapa Mirio tidak menjawab?' pikir Amajiki, sesulit itukah mengucapkan nama teman wanitamu pada sahabat yang sudah kau kenal dari kecil.

"Apa itu untuk Hado?'' tebak Amajiki.

Wajah Mirio terkejut.

'Apa itu jawaban tepat'

"SEMUA MAKAN MALAM TELAH SIAP" Teriakan dari siswa kelas 3 mengintrupsi Mirio dan Tamaki.

Tamaki berjalan melewati Mirio tanpa menatap ke arah pemuda pirang itu tidak berani.

"Kenapa Hado?" tanya Mirio kepada Tamaki yang sudah di ambang pintu kamarnya.

"Tamaki, ayo kita ke tempat makan bersama"Ajak salah satu anak kelas 3 sambil merangkul Tamaki

Dan Tamaki pun terbawa arus penghuni asrama yang ingin makan malam tanpa menjawab pertanyaan Mirio.


Koridor asrama kelas 3 SMA Yuuei.

"Ah! Togita-kun, kamu ingin ke tempat makan" tanya Hado Nijire yang kebetulan bertemu di Lorong koridor.

"Ah, Hado-san, ya" jawab Mirio yang sedikit terkejut.

"Kira-kira makan malam hari apa ya? Hmm Kare? atau Kroket?" Gadis ceria yang selalu penasaran itu mulai menebak-nebak menu makan malam sambil mengisi waktu jalanya menuju tempat makan.

"Hado-san, setelah makan malam, apa kita bisa bicara?"


Sore hari di jalan setapak menuju asrama Yuuei.

"Senpai… senpai… TAMAKI SENPAI" Kirishima menggil senpainya yang kembali termenung. Kali ini mereka sedang kembali dari stasiun menuju asrama sehabis kerja magang mereka ditempat Fat gummy.

"Ah, maaf Kirishima-kun" ini sudah keduakalinya Tamaki meminta maaf karena melamun dihadapan kohai-nya. Percakapanya kemarin malam dengan Mirio memang membayangi dan tidak bisa lepas dari pikiranya.

"…."

"…."

Amajiki Tamaki terdiam, begitu pulan Kirishima.

"Tadi apa pertanyaanmu Kirishima-kun?" Tamaki bertanya kembali, karena ia benar-benar melamun tadi.

"Senpaiïiii, aku bertanya apa senpai baik-baik saja, daritadi senpai melamun saja" tanya Kirishima khawatir.

"A-ah, a-aku baik-baik saja"

"Tidakkk, senpai jelas-jelas tidak baik-baik saja" Tentu saja Kirishima tidak percaya dengan senpai-nya yang dari kemarin banyak sekali melamun, ia tau senpainya sangat pemalu dan tidak percaya diri tapi untuk melamun dan tidak memperhatikan itu sangat berbeda dari biasanya. Kirishima yakin senpainya pasti mengalami masalah, ia berharap pemuda berambut indigo itu mau menceritakan masalahnya.

"Amajikiiii-kuun!" Dari kejauhan terlihat gadis bersurai biru muda melambai dan menyapa mereka. Perempuan bernama Hado Nijire itu berlari kecil ke arah mereka.

"Hado-san"

"Hado-senpai"

"Amajiki-kun ke asramah bareng yuk!" Ajak Hado kepada Amajiki, mengingat Amajiki dan Kirishima harus berpisah karena gedung asrama mereka berbeda.


Amajiki Tamaki POV

Sore hari sebelum malam tiba langit jingga menghiasi bukit SMA Yuuei. Burung-burung berterbangan kembali ke sarang mereka. Begitupula denganku dan Hado-san.

Tidak banyak percakapan, hanya Hado-san yang sangat aktif berbicara mengenai pengalaman magangnya di tempat Ryukyu.

Apalagi yang kuragukan, Hado Nijire merupakan gadis yang baik dan hebat, seperti yang orang-orang ceritakan. Bahkan sikapnya yang ceriapun membuatnya makin berkilau, sama seperti Mirio. Hado-san pasti akan menjadi pasangan yang sepadan dan dapat berdiri sejajar dengan Mirio.

"Ne, Amajiki-kun ada yang mau kusampaikan"

Pandanganku menatap Hado bertanya.

"Aku dan Togita sudah bertunangan"

Seketika pandangan dan suasanaku berubah. Bukankah itu terlalu cepat? Baru kemarin ku menyadari keberadaan cincin itu. Apakah Mirio dan Hado sudah merencakan ini sudah dari lama?

Pemberitahuan ini terlalu cepat membuat mulutku tak bersuara. Tanganku ingin mengapai dadaku yang sakit, ku menyadari bahwa mengetahui kenyataan Mirio akan berakhir dengan orang lain akan menyankitkan tapi tidak kusangka akan sesakit ini. Tapi tidak boleh, kalau diriku bertindak aneh Hado-san pasti akan curiga. Kutampar kesadaranku untuk merespon Hado-san.

"Benarkah?" ku coba membuat wajah terkejut.

"Selamat ya Hado-san" ku membuat wajah tersenyum natural.

Ini semua demi Mirio.

Demi masa depan Mirio yang cerah.

"Amajiki-kun" Hado-san merespon.

"Kenapa kau menangis?" tanyanya.

'Menangis?' kuarahkan tanganku menyentuh pipi yang basah.

Kenapa air mata ini mengalir, padahal sudah berusaha kusembunyikan dengan baik.

"Bu-bukan apa-apa, ini hanya air mata Bahagia" buru-buru kuusap air mata yang tersisa.

"Bohong" Hado menyanggah.

Tangan lembut Hado meraih kedua pipiku. Ditatap mataku lurus.

"Matamu terlihat sedih Amajiki-kun, itu tidak terlihat bahagia" jelasnya yang masih menatapku lurus

Seburuk itukah aku dalam berbohong?

Entah apa yang dipirkan Hado-san, temanya sedih ketika dia memberikan kabar bahagia.

Apa Hado-san sudah menyadari perasaanku pada Mirio.

Kusudah kehabisan kata-kata untuk membalas Hado-san.

Pikiranku habis untuk menghentikan airmata yang terus mengalir, tidak bisa dihentikan.

"Amajiki-kun, apa kau menyukai Togata?"

Kemungkinan terburuk, benar-benar terburuk.

"…A-aku ha-hanya ingin terus Bersama Mirio…karena aku menyukai Mirio"

"A-aku tau aku tidak pantas dan sepandang dengan Mirio dan tidak bisa memberikan kebahagian pada Mirio, maka dari itu aku ingin meminta maaf, aku akan menjauh dari Mirio"

Akhirnya kuungkapkan semua luapan perasaan yang sudah kupendam. Bagaikan bendungan yang tidak menahan air, semuanya tersampaikan. Perasaanku jadi sedikit lega.

"Yappari, Amajiki-kun benar-benar bernyali kecil ya, kalau tidak didesak seperti ini tidak akan mengaku" Hado tersenyum kepadaku.

"Ya kan, Togata-kun?" Hado berkata sambil menengok ke semak disamping jalan.

"MI-MIRIOOO?" terlihat wajah mirio disemak-semak. Dia menggunakan quirk-nya untuk bersembunyi. Raut wajah Mirio terlihat banyak yang ingin ia sampaikan. Mirio menghilang, pasti ia ingin memakai bajunya, karena memang kalau menggunakan quirknya Mirio harus melepas bajunya.

"Amajiki-kun gomenne sebenarnya aku berbohong soal pertunangan dengan Mirio" penyataan dari Hado lebih membuatku terkejut. Tanganya meraih kedua tanganku.

"Setelah ini bicaralah dengan Mirio. Dan jangan kabur ya!" kata Hado sambil tersenyum. Tapi itu lebih terlihat sebagai ancaman.


"Kemana Hado-san?" tanya Mirio.

"Dia pergi duluan ke asrama" jawab Amajiki.

"Tamaki, maaf ini semua idenya Hado, aku tidak bermaksud untuk membohongimu" Mirio menggarukan kepalanya, bingung untuk memulai dari mana.

"Mirio"

Pria berambut pirang itu jalan mendekati Tamaki menggengam pundak pria yang lebih pendek darinya itu.

"Tamaki tolong dengarkan aku, A-aku juga sebenarnya menyukaimu."

"Kebahagian terbesarku adalah bisa terus bersama dengan tamaki, dan aku sendiri yang akan mewujudkan kebahagianku" lanjutnya sambil mengeluarkan kotak cincin yang Tamaki lihat kemarin.

"Maukah kamu bersama denganku selamanya" tanya Mirio sambil menyerahkan cicin kepada Tamaki.

"Tamaki, kau harusnya berhenti untuk merendahkan dirimu, karena kau adalah orang yang kupilih untuk menjadi kebahagianku" Mirio tersenyum sambil menunggu jawaban dari Tamaki.

"Ta=tapi aku bukan wanita" Tamaki ragu.

"Haha aku juga bukan wanita bukankah itu artinya kita sapadan" Pria pirang itu tertawa mecairkan suasana, supaya Tamaki tidak takut dan kabur. Sedangkan Tamaki sendiri melihat senyum dan Tawa Mirio sangatlah berkilauan bagai matahari yang menyapu badai dihatinya.

Dengan ragu Tamaki mengambil cincin yang diberikan Togata.

"Y-ya" jawab Tamaki dengan canggung, wajahnya menunduk malu tak berani menatap. Sedangkan Mirio menangis bahagia memeluk Tamaki hingga pemuda berambut gelap itu tenggelam dalam pelukanya.

"Terima kasih Tamaki!" kata Mirio.

"Mulai saat ini dan seterusnya kita akan terus bersama"

"Ya" Tamaki tersenyum dan membalas pelukan Tamaki.

Fin

Omake

Hado: "Ne ne hubungan kalian sudah sampai mana?"

Togata: "Huuh tamaki sangat pemalu, Ketika aku mencoba menciumnya tanganya langsung gemetar, akhirnya hanya dapat mencium dahinya saja"

Tamaki: "Mirioo st-stophhhh stopphh kenapa kau menceritakan ke Hado"

Hado: "Heee, aku tidak boleh tau"

Mirio: "Padahal aku mau xxx dan xxx dengan Tamaki sampai xxx"

Tamaki: "Aaaaa Mirio stophh STOPHHH"

Hado: "Kebetulan sekali aku belikan buku panduan how to sex with same sex, male version~ sebagai hadiah"

Tamaki: "AaaaaaaaaaaAAAAAAA"

Setelah ini Tamaki mengurung diri dalam cangkang kerangnya sampai makan malam.

Lanjut?

Review onegai 😉?