Naruto owned by and belongs to Masashi Kishimoto.
I didn't owned any of the characters below.
Pair: Ino Y. x Naruto U. x Hinata H.
Warnings: AU, typos, OOC..?
Tokyo, Jepang
Pertengahan Oktober
Bulan Oktober, artinya sudah memasuki musim gugur di Tokyo, maupun belahan bumi utara lainnya. Angin dingin menerpa pepohonan yang mulai menggugurkan daunnya. Tidak terkecuali helaian rambut seorang perempuan yang dibiarkan tergerai. Helaian pirang platinanya yang digerai memudahkan angin musim gugur untuk ikut menerbangkannya. Dan perempuan itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan helaian rambutnya yang menjadi berantakan karena terbawa angin.
Cardigan rajut tebal berwarna kremnya memeluk tubuh rampingnya, menghalau udara dingin malam yang hendak menerjang tubuhnya. Segelas sampanye menemaninya di balkon apartemennya pada malam hari itu. Tatapannya lurus menatap gedung-gedung bertingkat yang berada disekitar gedung apartemennya. Tokyo sebagai salah satu kota metropolitan dunia tentu saja sangat ramai, bahkan dirinya bisa mendengar sedikit hingar binger malam kota Tokyo yang masih dipadati penduduknya untuk bersenang-senang, melepas penat sepulang kerja atau mencari makan malam di luar.
Yamanaka Ino, nama gadis berambut pirang platina itu. Ino tengah menikmati kesendiriannya dengan tenang, setelah kejadian 2 minggu lalu yang membuatnya menyita pikirannya. Meski hingga kini pikirannya masih tersita pada kejadian 2 minggu lalu, barangkali sekarang Ino tidak terlalu begitu memikirkannya, toh sudah terjadi juga, tidak ada yang perlu disesali, kan?
2 minggu lalu, tepat pada hari ulang tahunnya, 23 September, kekasih yang sudah dia kencani selama 2 tahun melamarnya di sebuah taman hotel dimana pesta ulang tahunnya diselenggarakan. Ino yang saat itu tidak tahu apa-apa menjadi sangat terkejut, karena semua teman-temannya bahkan keluarga kekasihnya turut hadir di sana. Saat semua orang dengan semangatnya berteriak untuk Ino mengiyakan lamaran kekasihnya, justru kata-kata yang tidak disangka orang-orang yang terjun dari mulutnya.
"Maafkan aku, Naruto. Aku tidak bisa."
Dengan begitu semua yang hadir menutup mulutnya. Kekasihnya, Namikaze Naruto, bahkan tidak bisa menyembunyikan keterjutannya. Matanya melotot sempurna mendengar ungkapan dari gadis yang telah lama menjalin kasih dengannya. Dan dengan posisi Naruto yang merasa dia sudah siap untuk ke jenjang berikutnya bersama dengan Ino, dengan sudah mapannya kehidupan Naruto dan merasa sudah bisa bertanggung jawab untuk menghidupi Ino dan keluarga kecilnya nanti, justru penolakkan yang dilontarkan Ino membuatnya tidak percaya.
"Aku… aku belum siap."
Lelehan air mata mengalir dari mata beririskan biru aquamarin milik Ino. Tangan kanannya membekap mulutnya, menahan agar isakan kencang tidak keluar dari mulutnya.
Naruto berdiri dari berlututnya, mencoba untuk meraih gadis itu dalam pelukannya, namun Ino justru menepis pelan tangannya dan berlari keluar dari taman tempat ulang tahunnya dirayakan. Bahkan Ino belum sempat untuk meniup lilinnya.
Naruto berdiri terpaku tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Uchiha Sasuke, sahabat karibnya sedari kecil, menghampirinya dan menepuk-nepuk pundaknya, berusaha menenangkan Naruto.
"Apa yang salah?"
Naruto masih menunduk, tapi pertanyaan pelan yang barusan dia lontarkan kepada Sasuke, cukup didengar dengan jelas oleh pemuda itu.
"Tidak ada yang salah, dobe. Dia sendiri yang mengatakan kalau dia belum siap, kan?"
"Tapi ak–"
"–Naruto, kau baik-baik saja?"
Kushina, Ibu nya menghampiri Naruto, Sasuke mundur perlahan ketika kedua orang tua Naruto sudah mendekat. Merasa bahwa ada kedua orang tuanya yang akan menangani sahabat karibnya itu. Kushina mengusap kepala bermahkotakan pirang milik anaknya yang merupakan cerminan dari suaminya dengan penuh sayang. "Sakura-chan, Shikamaru dan Kiba tengah mengejar Ino-chan. Nanti kalian bicarakan baik-baik, ya?"
Naruto tidak menjawab apa-apa. Mendongakkan kepalanya menatap Ibunya yang tengah tersenyum lembut ke arahnya. Dirinya langsung menerjangkan tubuhnya pada tubuh Ibunya, memeluk Ibunya dengan erat. "Ada yang salah dariku? Kenapa Ino-chan–"
"Tidak ada yang salah darimu, dan dari Ino-chan, okay? Mungkin Ino-chan, terlalu terkejut dengan ini semua. Kalian hanya perlu membicarakan mengenai ini lagi, ya?"
Malam hari itu ditutup dengan kebingungan dari orang-orang. Sakura, Shikamaru dan Kiba berhasil mengejar Ino. Ino pulang ke apartemennya ternyata. Tidak ingin ditemui oleh siapa-siapa kecuali oleh Sakura. Sakura malam itu berusaha meyakinkan Shikamaru dan Kiba untuk pulang dan membiarkan dia menangani Ino, bahkan sempat menolak tawaran Shikamaru mengenai membawa serta Temari, tunangannya, untuk turut menemani. Namun Sakura menolak, dengan alasan pasti Ino hanya ingin membuka suara kepadanya.
"Ino…"
Setelah Shikamaru dan Kiba pulang, Sakura masuk ke dalam apartemen Ino. Mendapati sahabat sedari kecilnya tengah meringkuk memeluk lututnya di sofa miliknya. Gaun sederhana berwarna lilac yang dipakainya tadi masih memeluk tubuhnya dengan. Ino belum sempat berganti baju atau merapihkan riasannya. Sakura tidak berkata apa-apa, dia langsung duduk di samping Ino, dan memeluk erat sahabatnya itu.
"Aku menyakitinya. His heart was glass and I dropped it. Kau tahu, Naruto terlalu baik untuk ku tolak, kan?"
Ino berkata setelah tangisnya mereda. Ia mendongakkan kepalanya, melihat Sakura dengan pandangan sendu. Sakura menatap Ino dengan sedih.
"Aku tahu kalau bukan hanya Naruto yang tersakiti di sini. Kau juga, kan?"
Ino mengangguk.
"Aku tidak siap. Aku tidak siap dengan komitmen ini, Sakura. Menikah, terikat satu sama lain selamanya, memiliki anak. Bagaimana kalau pernikahanku berakhir seperti dengan pernikahan orang tua ku? Bagaimana kalau anak ku nanti menjadi korban seperti aku? Bagaimana kalau aku menjadi orang yang menghancurkan pernikahan ku sendiri? Aku tidak siap, aku tidak pernah siap."
Sakura memeluk Ino kembali dengan erat. Berusaha memahami rasa sakit dan trauma Ino, meski tidak bisa dan sulit rasanya. Masa lalu sahabatnya membuatnya skeptis dengan pernikahan dan komitmen, tumbuh besar melihat ketidak harmonisan dalam rumah tangga orang tuanya dan dimana dirinya menjadi korban dari ketidak harmonisan itu membuatnya takut dengan komitmen dan pernikahan.
Bukan karena Ino tidak mencintai Naruto, ia sangat mencintai pemuda itu. Hanya saja, sebagian besar dari hatinya belum siap, bahkan tidak akan pernah siap dengan pernikahan.
"Tidak udah dipikirkan sekarang. Menangislah. Baru nanti kau bicarakan dengan Naruto, ya?"
Ino menangguk. Tidak berkata apa-apa lagi kecuali suara isak tangis yang hanya bisa didengar mereka berdua di apartemen Ino yang sunyi.
2 hari setelahnya, Naruto datang ke apartemen kekasihnya. Berusaha menyiapkan hatinya untuk membicarakan mengenai hal ini. Jika Ino memang belum siap, dia akan menunggu, sampai Ino siap melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
Naruto masuk ke dalam apartemen Ino, mendapati apartemen kekasihnya terlihat sangat rapi, seperti biasanya. Ino baru keluar dari kamarnya, mengenakan pakaian santainya. Rambut pirang platina panjangnya tergerai dengan sempurna. Wajahnya polos dari riasan make up, sepertinya hari ini gadis itu memutuskan untuk bersantai di apartemennya saja seharian.
''Hai."
Naruto mendekat, menarik gadis itu dalam dekapannya. Menenggelamkan kepalanya pada perpotongan antara leher dan bahu Ino, menghirup dalam aroma bunga yang biasa menguar dari Ino, wangi favoritnya. Ino melingkarkan tangannya pada tubuh tegap Naruto, membalas pelukkan kekasihnya dengan erat.
Naruto mengendurkan pelukkannya, sedikit menunduk menatap kedua bola mata kasihnya dengan intens. Sedikit menurunkan kepalanya, mencium kekasihnya.
Ino menyudahinya dengan cepat, "Naruto…"
"Ya?"
"Bisa kita bicarakan yang kemarin?"
Naruto sedikit terkesiap. Sejujurnya dirinya belum siap untuk membicarakan hal ini, tetapi mau tidak mau mereka berdua harus membicarakannya.
Ino menarik tangannya untuk duduk di sofa tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama. Setelah keduanya duduk, Ino menghilangkan kecanggungan di antara mereka dengan menyelipkan poninya ke belakang telinganya.
"Aku bukannya belum siap…"
Naruto menunggu, dengan tidak sadarnya menahan nafasnya menunggu jawaban Ino.
"Aku tidak akan pernah siap dengan pernikahan, Naruto."
Naruto terkesiap mendengarnya. Dirinya refleks sedikit mundur mendengar pernyataan Ino.
Air mata mulai mengalir dari bola mata Ino. "Aku takut. Aku takut aku yang akan menghancurkan pernikahan kita nantinya. Aku yang tidak bisa mempertahankannya. Pernikahan orang tua ku gagal, Naruto. Dan itu sedikit banyaknya mempengaruhi ku dalam sudut pandang ku mengenai pernikahan, sedikti banyaknya menganggu mental ku dan meninggalkan lubang trauma yang cukup besar."
Naruto menelan ludahnya dengan susah payah. "Kau tahu kan kalau kita tidak perlu berakhir seperti itu?"
Ino menggeleng. "Memang, tapi pernikahan kita nantinya hanya akan dihantui oleh pemikiran-pemikiran ku sendiri. Aku yang akan menghancurkannya, aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh lagi dari apa yang aku lakukan pada malam ulang tahun ku."
Naruto terdiam. Bahu Ino bergetar, tangisnya semakin deras dan semakin tidak terkendali.
"Akan lebih baik kalau kau menikah dengan orang lain, Naruto. Kau pasti bisa berbahagia dengan orang lain."
Naruto terkejut, dirinya langsung memegang kedua bahu Ino, memaksa Ino untuk menatap dirinya. "Kau, Ino, yang benar saja? Selama ini apa arti hubungan kita? Kau tidak pernah mencintaiku?!"
Ino mengusap pipinya. "Aku… aku mencintaimu, sangat. Tapi percayalah, kau tidak akan bahagia bersama ku."
"Aku bahagia menjalani hubungan selama 2 tahun ini bersama mu, bagaimana kau mengatakan kalau aku tidak akan bahagia menjalani pernikahan denganmu?"
Ino tidak menjawab. Naruto berusaha mencari jawaban dari mata Ino. Dan tanpa berkata-kata, Naruto sudah mendapatkan jawabannya.
"Kau membiarkan ku pergi? Begini saja hubungan kita?"
"Maaf. Aku… aku tidak pernah tahu jawabannya, sampai malam itu kau sendiri yang langsung memintaku. Saat kau berlutut dan mengeluarkan kotak cincin itu aku tahu, aku tahu kalau aku tidak akan pernah siap dengan semua ini. Dengan komitmen dan pernikahan."
"Ibu dan Ayah menyayangimu dan sangat bersemangat untuk kau menjadi bagian dari keluarga Namikaze."
Ino tersenyum lemah. "Aku juga menyayangi mereka, tapi untuk yang ini, aku harus memintamu pergi."
Naruto tidak menjawab apa-apa. Dirinya bangkit, membalikkan badannya. Beranjak pergi dari hadapan Ino.
"Terima kasih atas 2 tahun penuh kebahagiaannya. Kau pasti bisa berbahagia dengan calon istrimu, siapapun dia nantinya."
Naruto tidak berkata apa-apa, membuka pintu apartemen Ino lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hatinya terluka. Menutup pintu apartemen Ino, bersandar lalu terjun terduduk. Menenggelamkan kepalanya, air mata mengalir dari bola mata biru lautnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi pada percakapan mereka. Percakapan yang ia kira akan berakhir dengan baik dan kembali seperti semula, nyatanya hanya percakapan yang mengantarkan kandasnya hubungan mereka.
Ino tidak jauh berbeda. Terduduk di sofanya dan kembali menangis. Satu hal yang perlu Naruto sadari, bukan hanya dia yang tersakiti, Ino juga tersakiti.
Tokyo, Jepang
Akhir Oktober
"Naruto sedang pergi ke Kyoto. Dia langsung memesan tiket ke Kyoto setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, dan mengajukan cuti panjang pada Ayahnya. Naruto tenggelam dalam semua pekerjaannya setelah hari kalian membicarakan mengenai hal itu."
Ino terdiam mendengar ucapan Sasuke. Hari ini, dia bersama dengan Sasuke dan Sakura tengah bertemu untuk makan siang bersama.
"Kau sudah berbicara dengan Bibi Kushina dan Paman Minato?"
Ino mengangguk mendengar pertanyaan Sakura. "Mereka mendukung keputusanku dan mengerti dengan pilihanku. Hanya saja mereka berharap kalau berakhirnya hubungan ku dengan Naruto tidak menjadi akhir dari hubungan dengan mereka berdua. Entahlah, butuh waktu untuk ini semua, dan merasa semua tidak seperti ada yang tidak baik-baik saja."
Sakura mengambil tangan Ino, menggenggamnya. "Apapun yang terjadi, aku selalu mendukungmu dan selalu berada di sisi mu."
Sasuke menatap kedua gadis di hadapannya dalam diam. Dia tahu betapa Naruto mencintai gadis pirang itu, pasti sahabatnya itu sudah sangat berharap untuk melanjutkan hubungannya dengan kekasihnya, membangun keluarga kecil mereka, dan berbahagia.
"Aku tidak mengerti."
Kedua gadis itu menolehkan kepalanya pada Sasuke.
"Kalian berdua saling mencintai. Kenapa tidak berkata iya saja?"
Pertanyaan polos dari Sasuke sukses membungkam Ino. Sakura sudah akan menyela untuk Sasuke tidak melanjutkannya, akan tetapi justru Ino yang menjawab pertanyaannya.
"Kau tumbuh dalam kasih sayang kedua orang tua yang lengkap, serta kakak laki-laki yang sangat menyayangi dan memanjakanmu. Kau terlahir, tumbuh, bahkan hingga dewasapun keluarga mu masih utuh, Sasuke. Sullit untukmu mengerti pilihanku."
Sasuke terdiam seribu bahasa. Apa yang Ino katakan merupakan sebuah kebenaran, masa kecilnya penuh dengan kebahagiaan, hingga sampai dewasa ini dia tumbuh dalam keluarga yang sangat menyayanginya, terlebih posisinya sebagai bungsu.
Sakura menatap Ino dengan sendu.
"Semua yang di dunia ini tidak sesederhana itu, terkadang banyak hal yang sulit dimengerti, bahkan hingga kita sudah dewasapun. Aku tahu konsekuensi dari membiarkan Naruto pergi. Dia yang biasa mengisi hari-hari ku pasti akan terasa kosong karena sehabis ini tidak akan ada lagi Naruto dalam hidupku. Tapi ini konsekuensi yang harus aku ambil dari pilihanku. Aku hanya berharap dia bisa berbahagia, dengan siapapun dia berakhir nantinya."
Sasuke menganggukkan kepalanya. Tidak berusaha untuk menyinggung hal itu lagi pada Ino.
"Aku akan pergi ke Los Angeles mulai bulan depan. Manajerku menawarkan pekerjaan berjangka setahun di sana."
Sakura dan Sasuke terkejut mendengar penuturan Ino. "Ino? Kau yakin?" Sakura menampilkan ekspresi khawatirnya.
Ino mengangguk. "Sangat yakin. Akan terasa lebih mudah pastinya untuk melepaskan ini. Kesempatan yang datang tiba-tiba ini sungguh datang pada timing yang pas. Aku akan pergi ke Los Angeles. Mungkin tidak akan sempat berpamitan dengan Naruto."
"Jaga dirimu baik-baik di sana."
Ino mengulas senyum kecil ke arah Sasuke. Meski terkadang tidak banyak bicara, namun Ino tahu, pemuda itu sangat peduli kepada teman-teman dekatnya.
Tokyo, Jepang
Setahun Kemudian
Setelah menghabiskan setahun di Los Angeles, Ino kembali ke tanah kelahirannya. Betapa dirinya begitu merindukan Tokyo dan segala kesibukannya. Kepulangannya kali ini ke Tokyo tidak hanya sebagai selesainya pekerjaanya di Los Angeles, namun juga untuk menghadiri upacara pernikahan mantan kekasihnya yang akan diselenggarakan seminggu lagi.
Ino tersenyum bahagia ketika mendapat kabar dari Sakura, kalau 6 bulan yang lalu Naruto melamar seorang gadis dan diterima. 2 Minggu yang lalu Ino sudah menerima undangan pernikahan mereka.
Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata.
Ino tahu siapa itu Hyuuga Hinata. Gadis itu merupakan teman satu kampusnya yang telah lama mengagumi Naruto, namun tidak pernah membuat pergerakkan yang berarti, karena tahu, beberapa tahun lalu Naruto begitu terpaku pada Ino dan berusaha untuk mendapatkan hati Ino. Ino tersenyum, penantian panjang gadis itu membuahkan kebahagiaan. Dialah yang menang, dia yang menikah dengan Naruto.
Ino juga tahu kalau Hyuuga Hinata merupakan gadis baik yang berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan baik juga. Hubungan mereka berdua pasti akan terjalin dengan bahagia dan baik-baik saja. Ino sudah tidak perlu menata hatinya untuk menyiapkan diri hadir di pernikahan Naruto, toh begitu dirinya meminta Naruto untuk pergi, saat itu juga ia sudah siap dengan hal ini.
Seminggu kemudian, Ino datang sendiri sebagai tamu. Teman-temannya sudah berkumpul di sana. Sakura tidak bisa menemaninya karena dia diminta untuk menjadi pengiring pengantin perempuan.
Ino datang dengan gaun keluaran desainer terkenal berwarna lilac yang terlihat sangat pas dan indah di tubuhnya.
"Astaga, Ino!"
Pekikkan Temari membuat semua pasang mata yang ada di pernikahan yang digelar intim dan sederhana itu menoleh pada pintu masuk yang terdapat Ino berdiri di sana. Beberapa pasang mata memasang mata terkejutnya, tidak menyangka kalau gadis yang setahun lalu menolak lamaran pemuda yang akan menikah hari ini, dan datang ke pernikahan pemuda yang ia tolak.
Temari berjalan cepat ke arah Ino, lalu memeluk gadis itu dengan erat. "Kau kembali dari Los Angeles kapan?"
"Minggu lalu." Ino memberikan cengiran lebarnya.
"Astaga! Kenapa tidak mengatakan apa-apa?"
"Kejutan!"
Temari memutar bola matanya menanggapi Ino. Teman-temannya mulai mengerubunginya, menanyakan kabarnya yang selama setahun ini pergi ke Los Angeles. Dirinya bahkan sempat untuk bercakap-cakap dan bertukar pelukkan sebentar dengan kedua orang tua Naruto.
Semua itu berhenti ketika upacara pernikahan akan dimulai. Ino duduk dengan tenang dibarisan kedua, bersebelahan dengan Temari. Ino belum sempat untuk mengobrol dengan Naruto. Melihat Naruto dengan gagahnya berdiri di altar, menunggu Hinata, membuatnya tersenyum kecil. Pandangan mereka sempat tertukar, Naruto sedikit terkejut namun selanjutnya seulas senyum ia lemparkan pada Ino. Ino menggerakkan mulutnya, berkata tanpa suara.
"Selamat."
Setelah para pengiring pengantin masuk dan berdiri menemani Naruto dan Pendeta di altar, semua hadirin berdiri, menanti kedatangan Hinata.
Hinata muncul dengan Ayahnya, sebuah gaun pengantin berwarna putih melekat ditubuhnya. Hinata tersenyum malu-malu melihat seluruh hadirin yang hadir di upacara pernikahannya. Naruto menunggu di altar dengan sebuah senyuman menghiasi wajah tampannya.
Ino menatap Hinata, lalu bergantian menatap Naruto. Melihat keduanya begitu bahagia, membuatnya sama sekali tidak menyesali keputusannya sama sekali.
Hinata berjalan hingga mencapai altar, Ayahnya melepaskan genggamannya pada putri sulungnya. Mencium kening Hinata dengan penuh kasih sayang lalu menyerahkannya pada Naruto. Mempercayakan putri sulungnya kepada pemuda Namikaze tersebut.
"I now pronounce you husband and wife."
Seluruh hadirin yang ada di sana bertepuk tangan dengan riuh, sementara Naruto tengah mencium Hinata dengan mesra. Ino ikut bertepuk tangan dengan hebohnya. Turut berbahagia pada pasangan Namikaze yang baru itu.
"Lihat kan, Naruto. You find her, she's gonna patched your heart that I shred one year ago."
Naruto dan Hinata membalikkan badannya menghadap para tamu undangan lalu senyum bahagia terpancar dari keduanya.
"She didn't leave you like I did, after all, you won't remember what happened one year ago. You already found the real thing, and she's standing right next to you."
Ino menghapus air mata haru nya yang mengalir dari sudut matanya.
.
.
a/n: wow oke i know it's a sin that i post this after a looongggg timeee, but haven't post any updates regarding 'l'amour' nor 'Epiphany'...
percayalah aku lagi mentok banget nulis kedua itu meski udah ke tulis setengah untuk chapter selanjutnya, terus aku sebenernya udah nulis banyak ide buat one shot, tapi entah kenapa untuk yang ini harus banget aku selesain dan aku posting, gatel banget tangan ini buat posting. anyway, sejujurnya ini aku nekat nulis karena tuh sebenernya lagi kepikiran skripsi terus, aku gak bisa fokus sama banyak hal di dunia nyata, jujur ini short escape banget nulis ini, aku berharap setelah semua hal di dunia nyata tuntas, aku akan update cerita lain lagi. dan omg ini menjelang tahun baru! hahaha, kaget banget udah mau 2021 weyyy 2020 ini terasa sangat... hmmm gitu deh ah tau deh
oiya kenapa ini harus banget langsung aku tulis dan aku posting, soalnya kepikiran teruss! ini terinspirasi dari lagu champange problems nya Taylor Swift, dari album terbarunya (yes kaget banget tanggal 11 desember kemaren dia keluarin album baru lagi, WITHIN 5 MONTHS FROM PREVIOUS ALBUM, ADSGKAJASKH WHATTTTT) yakni evermore. dua album terbaru taylor sebenernya banyak ngasih aku inspirasi untuk cerita-cerita yang aku tulis, karena kesannya dreamy sekali dan bisa dieksplore jadi banyak ide lagi dari lagu-lagu itu. dan aku suka banget lagu champange problems iniii huhuhuh, bener-bener kayak ngasih pandangan dari 'sang penolak' bangettt
dan kenapa aku pilih Ino dan Naruto... kenapa ya? kepikirannya mereka aja, dan kayaknya kalau naro bukan Naruto di sini feelsnya agak beda, hmm... jadi yasudahdeh ku pilih saja mereka bertiga untuk jadi tokoh dicerita ini. yaudahdeh kebanyakan author notenyaa, semoga kalian sukaaa
mind to review?
