Shingeki no Kyojin belongs to Hajime Isayama. No profit gained from this fanwork. Dedicated to #MariBerpuisiLagi. Prompt: tak ada sisa selain kehampaan abadi yang merasuk jiwa.


Tak Seindah Puisi


"Kau tahu, Levi, kenyataannya hubungan kita tidak seindah puisi-puisimu."

Kalimat Mikasa membuyarkan imajinasi Levi: bahwa pada satu episode, setidaknya mereka bisa tertawa bahagia. Tetapi nyatanya ia harus tetap ditampar oleh keadaan; ia tak pandai bernegosiasi, merasa gagal sepenuhnya sebagai laki-laki sebab Levi cuma bisa menerima. Ah, apa yang bakal dikatakan Mikasa apabila ia menahan tangannya, atau mengucapkan aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi. Levi justru mendadak bisu sebagaimana orang dungu.

"Hubungan kita tidak akan berhasil."

Aku tahu. Aku tahu.

"Kau tahu kenapa, Levi?"

Levi memandang anggur merah yang masih penuh dalam gelas. Lantas, perlahan, ia memandang Mikasa—dan perempuan itu memandangnya pula, lurus-lurus.

"Karena kau hidup dalam duniamu sendiri."

Levi pulang. Langkah kakinya gontai, ia seakan melayang-layang dan tahu-tahu sudah berbaring di atas ranjang lapuknya. Langit-langit kamar, jaring laba-laba, serangga yang terjebak di sana, ia menyaksikan semua itu tanpa minat.

Tetapi, Mikasa, bukankah masing-masing dari kita hidup dalam dunia kita sendiri?

Dadanya seperti habis dilubangi.

Dan bukankah karena itu pula kita merasa cocok?

"Kita memang menjalani hidup dalam dunia masing-masing, setidaknya kita saling memiliki. Ya, begitulah kira-kira. Setidaknya ketika aku kesepian, aku kesepian bersamamu. Setidaknya ketika kau merasa duniamu runtuh, duniamu runtuh bersamaku. Setidaknya, setidaknya…" Levi bermonolog. Ia kesulitan tidur, membayangkan skenario yang tidak akan pernah terjadi di kehidupan nyata.


Serupa apa kekasih impian bagimu, Perempuan?

Aku yang melarat ini cuma bisa menawarkan kata-kata

Kata-kata yang tampaknya tak berguna

Sebab mereka lenyap; berlarian, tanpa sempat kuucapkan


Hari bergulir dan Levi menghabiskannya bersama kehampaan. Sejak awal ia memang merasa hidupnya adalah kesia-siaan; tak punya asa untuk berpijak, tak punya ambisi untuk menggapai apa pun. Ia hanya menjalani hidup sebagaimana hidup, dengan penuh kesia-siaan. Levi telah lama kehilangan hasrat, ia sama sekali tidak menginginkan apa-apa.

Bahkan ketika Mikasa pergi, ia tidak memiliki kemampuan untuk menahan. Bagaimana kalau kita begini atau begitu dulu, baru setelah itu memutuskan ke depannya. Ah. Kebisuannya lenyap saat ia mengatakan selamat tinggal, tanpa sampai jumpa lagi. Levi jadi berpikir, ia saja menyerah menghadapi dirinya sendiri, lebih-lebih Mikasa.

Satu kali mereka pernah berpisah, kemudian takdir mempertemukan mereka kembali hanya untuk merasakan perpisahan untuk yang kedua kali. Apakah romansa memang serumit ini? Atau justru terlalu sederhana, sampai-sampai Levi mual memikirkannya. Ia semakin tidak tahu mau apa—manusia itu, sebetulnya, mau apa dalam hidup? Ia kehilangan kemauan sepenuhnya, sehingga ia berpikir barangkali ia cuma tinggal tunggu mati.


Aku mencipta ruang; hampa, abadi

Di sana aku tak menemukan aku—atau kau, Perempuan

Hanya bayang-bayang, angan yang enggan hilang

Puisi-puisi yang katamu indah

Tak seperti kita; menggelepar mati tanpa arti

Kau takkan temukan aku pada mata pria lain

Kau akan temukan aku pada tiap-tiap aksara

Yang kujahit di kepalamu

Dengan kalimat pembuka:

Perempuan, hubunganmu dengan sosok asing, takkan seindah puisi-puisiku.[]


22:00 – December 29, 2020