Summary: Oda yang bertanya apakah dia buta, Shimazaki yang tahu-tahu punya geretan, serta Akutagawa yang tersandung buku. Kegelapan memungkinkan terungkapnya beberapa hal 'kan? Yang tidak akan muncul di bawah terang.


Bungou to Alchemist belong to DMM Games


Ketika Akutagawa yang asli sukses transmigrated bareng Kan, Kume, dan Hori, energi yang dibutuhkan terlalu besar dan tiba-tiba, sehingga beberapa lampu ruangan toshokan jadi padam.

"Hei, ini lampunya mati atau aku jadi buta?" Oda mengkonfirmasi, ketika koridor yang mereka lewati mendadak gelap.

"Lampunya mati, deh." Dan yang duluan menyahut.

"Odasaku, pakai kacamataku, nih, biar ngelihatnya lebih terang." Terdengar suara Ango melepaskan kacamata. Yang setelahnya, Oda bisa merasakan bahunya ditepuk-tepuk oleh si pembicara.

"Enggak perlu, lagian itu kacamata malah bikin tambah gelap, kan," tolak Oda kalem.

Ango berkilah bahwa memakai kacamata hitam dapat mempertajam penglihatan. Dibalas dengan Oda mengulas bahwa warna kacamata Ango juga bukan hitam.

Lawan bicaranya ingin menyanggah balik, tapi keburu Dazai yang duluan angkat suara.

"Ngomong-ngomong, Odasaku ...," ucap pemuda serba merah itu dengan nada ragu. Dia berjalan beberapa langkah di depan yang lain, sambil membantu Akutagawa berjalan, menggantikan Shuusei yang bilang mau beres-beres.

"Apaan, Dazai-kun?"

"Sebelumnya pernah begitu? Penglihatanmu ... maksudku."

Oda mengerjap, lalu buru-buru paham tentang apa yang dikhawatirkan Dazai. "Ah, enggak kok, enggak. Sejak di sini, aku baik-baik saja, jadi jangan cemas!"

Karena Oda yang selalu menampilkan dirinya baik-baik saja itulah, Dazai jadi tidak bisa berhenti memikirkan. Sementara dia juga sering bikin khawatir orang, dalam artian yang berbeda. Jadilah Ango diam-diam selalu mengawasi keduanya. Tidak sering berkomentar, tetapi memastikan keduanya aman dengan caranya sendiri.

"Ango," panggil Dan, yang tahu-tahu berjalan sejajar dengan Ango, padahal dari tadi paling belakang. "Sudah, menyerah saja, soal promosi kacamatanya."

"Oh, iya." Ango baru sadar kalau dia belum memasang kembali benda tersebut. Mumpung gelap, mungkin dia bisa manfaatkan situasi ini untuk tersenyum selebar-lebarnya tanpa ketahuan. Karena bakal sulit bagi pria itu, mengungkapkan perasaan lega secara terang-terangan.


Shuusei sedang menyapu serpihan kayu penjara, yang jadi berantakan tanpa dia tahu detail kejadiannya seperti apa. Yang jelas, Shimazaki tahu-tahu bilang kalau ruang tahanan rusak, dan malah memberi sapu padanya.

"Mati lampu?" gumam Shuusei. Dia berhenti menyapu dan berniat mengambil senter ke kamar, tetapi tahu-tahu Shimazaki yang dari tadi menonton saja sambil menyandar ke dinding, sudah lebih dulu menyalakan api dengan geretan.

"Lanjut saja, Shuusei, tinggal dikit, kan."

"Benar juga."

Sebentar, sejak awal, kenapa dia yang mesti membersihkan kekacauan ini? Shuusei sudah terbiasa sebenarnya, tetapi kadang dia ingin protes juga.

"Shimazaki,"

"Ya?"

"Bukannya itu geretan punya Akutagawa-san?"

Shimazaki memiringkan kepalanya, memasang ekspresi merenung. "Ah, iya. Tadi aku meminjamnya."

"Kau yakin bukan mengambilnya tanpa izin?"

"Hehe ..."

Shuusei menghela napas. "Kenapa kau melakukan itu?"

"Iseng saja."

"Sempat-sempatnya ..."

"Tapi kebetulan jadi berguna, kan?"

Shuusei menemukan nada bangga dari pertanyaan Shimazaki, yang tidak pada tempatnya. Jadi, sekali lagi dia hanya bisa menghela napas.


Brak!

Bunyi jatuh yang heboh itu berasal dari tumpukan buku yang tidak sengaja Akutagawa tabrak. Beberapa dari mereka jadi menyebar di lantai, sementara Akutagawa sendiri juga terduduk. Dia merasa beruntung karena tidak jatuh menimpa buku-buku tersebut. Bahkan kalau pun itu bukunya Shimazaki Touson, dia juga akan merasa tidak enak membuatnya lecek.

Ruangan Neko yang dipenuhi serakan buku kebetulan juga gelap. Makanya, Akutagawa heran kenapa tiga orang lainnya bisa santai saja berjalan tanpa tersandung apa-apa.

"Kita harus cari si palsu itu secepatnya!" Kan yang buru-buru, dari tadi memang berjalan paling depan. Hori mengiyakan, sambil menyusul dengan cekatan. Sedangkan Kume ragu apakah Akutagawa perlu dibantu, atau baiknya dia duluan saja. Jadi, selagi menimbang-nimbang, pria bertopi cokelat itu tetap berdiri di tempat.

Akutagawa bangkit, menepuk-nepuk pakaiannya beberapa kali, lalu lanjut berjalan lagi.

"Perhatikan langkahmu, Akutagawa-kun." Kume berpesan, yang begitu mulutnya menutup, lagi-lagi tampaknya Akutagawa tersandung.

"Apanya yang bisa diperhatikan, kalau semuanya hitam begini?" sahut Akutagawa, setengah hati membela diri. Faktanya, memang cuma dia yang dari tadi tersangkut di sana-sini. Meski begitu, memang benar Akutagawa tidak mengerti, tentang bagaimana cara rekan-rekannya terus maju seperti tidak ada halangan sama sekali.

"Tidak tahu lah. Aku duluan."

"Kume--"

Kume menghentikan langkahnya. Akutagawa memalingkan muka, gengsi.

"Duluan sana."

Kume sebal, tapi juga tidak tegaan untuk benar-benar meninggalkan. Jadilah dia berjalan lambat-lambat, sambil sengaja menghentakkan sepatu. Setengahnya biar Akutagawa bisa mudah mengikuti, setengahnya memang sekalian melampiaskan emosi.

Dan begitu sampai ke tempat yang lampunya sudah menyala, Kume cepat-cepat menyusul Hori dan Kan, sementara Akutagawa tetap berjalan dengan ritme yang sama.

"Menjauh darinya."

"Kalian ..."

"Enggak dengar, ya? Menjauh darinya sekarang juga." Kan mengulang perintahnya. Ekspresi bingung Dazai tidak membuatnya memberi penjelasan lebih lanjut. Yah, lagipula, tidak butuh bicara panjang lebar, kalau alasan dari kata-katanya itu akan segera muncul.

"Bicara apa sih? Akutagawa-sensei ..." Dazai mengerjap, melihat sosok Akutagawa yang asli keluar dari bayangan tempat gelap. "Eh ..." Bukan salahnya jadi kehilangan kata-kata.

"Kelamaan," gumam Kume.

"Kenapa juga mesti lari-lari," balas Akutagawa

"Lari dengan berjalan cepat itu berbeda."

"Tapi tujuan akhirnya sama."

Hori menggeleng. "Bisa tidak kalian ngobrolnya tidak sambil melihat tembok?"

Dazai masih terpana. "Akutagawa-sensei punya kembaran? Sejak kapan! Kenapa aku enggak pernah tahuu! Apa dulu yang satunya dicoret dari KK?!"

"Bukan begitu!" Kan menggeplak kepala Dazai, dianggapnya sebagai upaya yang dibutuhkan untuk menenangkan anak itu.

"Jadi gimana ...?"

"Sudah jelas kan, yang sekarang sedang kau papah itu shinshokusha."

"Jelasnya dari mana!"

"Dari mana-mana!"

Ini Kan niat menjelaskan atau tidak, sih? Walaupun secara seimbang, Dazai juga tidak terlihat seperti akan mudah diyakinkan. Untungnya Neko tahu-tahu muncul dan mengambil alih pengambilan keputusan.

End.


[Soal Akutagawa kesandung mulu itu, gegara cerita Rea-san soal Akutagawa yang memang gitu pas datang ke tempat Natsume bareng Kume--

Rasanya dulu, Vira pernah ngajak (?) untuk coba-coba buat AkuKume, entah ini masuk hitungan atau tidak.

Btw, terima kasih buat yang sering review. Seringnya itu berpengaruh untuk melanjutkan chapter--tapi yang ini oneshot sih.

Ah, maaf kalau OOC--]


Omake

"Kalian nyadar ada yang berbeda gak?" tanya Kume pada Akutagawa dan Hori, sementara Kan dan Dazai sedang sahut-sahutan berpendapat.

"Apanya?" tanggap Hori, tidak langsung menangkap maksud pembicaraan Kume, yang memang belum bisa ditarik kesimpulannya.

"Antara di tempat kita terjebak, dengan pas sampai di sini."

"Hmm, jelas berbeda sih." Hori mengerutkan kening. Di tempat mereka tadi, semuanya hanya warna putih yang luasnya tidak berujung. Tidak ada apa-apa, sehingga bisa dibilang asli membosankan. Di toshokan tentu saja tidak sama. Baru datang saja, mereka langsung berpapasan dengan bungou lain.

"Bukan tempatnya maksudku, tapi kitanya." Kume merevisi kalimat. Yang Hori jadinya mesti berpikir ulang.

Akutagawa tiba-tiba paham, dan sebenarnya punya pilihan untuk menyuarakan tebakannya keras-keras. Namun, melihat ekspresi Kume yang serba canggung begitu, dia jadi mengurungkan niat.

"Tacchanko, aku nyusul Kan, ya," katanya sambil berjalan menghampiri muridnya itu. Mengusap-usap kepala Hori yang rada bingung kenapa tahu-tahu diperlakukan begitu.

"Akutagawa-san--"

Akutagawa berbisik pelan, memotong protes Hori. "Kayaknya Kume lapar. Bisa tidak kamu ajak dia makan sesuatu?"

"Ah ..." Begitu rupanya. Hori buru-buru mengangguk paham. "Baiklah!"

Anggap saja Akutagawa sedang berterimakasih, karena Kume menungguinya di tempat gelap tadi. Meskipun ketika makan kare bareng Hori pun, Kume sendirinya terganggu akibat jahe merah di atas nasi.