Haikyuu belong to Furudate Haruichi
Fic ini punya saya.
Warning :
Sho-ai, twincest, typo, dan kalau mengharap cerita yang bagus, aku sudah berusaha.
.
.
Osamu batuk. Atsumu panik. Suna kena gebuk.
.
.
Gak suka jangan baca, saya sudah wanti-wanti. Terimakasih.
.
.
.
Batuk. Atsumu sering memperhatikan belakangan ini Osamu sering mengalami batuk. Saat mereka makan, Osamu menjadi sangat ceroboh memasukkan makanan ke dalam mulut. Saat sedang minum juga Osamu begitu cepat tersedak dalam dua atau tiga tegakan. Awalnya ini tidak mengganggu Atsumu, namun saat tengah malam ia merasa Osamu batuk-batuk seorang diri. Batuk itu terasa tidak menyenangkan baginya.
"Samu, orang bilang kembar itu terhubung batin dan fisiknya. Tapi aku bilang itu bohong."
Mereka sedang makan siang, Osamu hanya makan sedikit dan itupun cuma sepotong roti. Bukan onigiri seperti biasanya. Atsumu hanya mengernyitkan dahi sementara ia masih makan.
"Tidak paham," jawab Osamu singkat, lalu batuk keluar dari mulutnya. Osamu menutup mulut sehingga yang keluar tidak begitu nyaring. Si adik sampai menutup mata saat menahan batuknya, dan satu tangannya memegang dada.
'Sesakit itukah jika hanya tersedak? Tapi dia tidak tersedak. Dia bahkan sudah selesai makan,' batin Atsumu.
"Ini, minum." Atsumu menyodorkan botol minum air mineral dan langsung ditegak hampir setengah. Pandangannya tidak bisa lepas dari si adik, napasnya yang sedikit tersengal dan wajahnya yang memucat untuk sesaat.
"Kalau kau sakit aku akan membawamu ke dokter."
"Oh ya Tsumu, aku tidak bisa ikut latihan."
"Jadi kau benar-benar sakit??!" Atsumu bangkit, ia mencondongkan tubuhnya dari seberang meja untuk meraih dahi Osamu dan mengecek suhunya. Tidak panas tapi wajah Osamu masih sedikit pucat.
"Hanya sedikit tidak enak badan," jawab Osamu sambil menyingkirkan tangan si kakak. Atsumu menjadi berisik di kantin dan hampir semua orang menatap mereka berkat keterkejutannya. Ia akhirnya mengalah dan duduk kembali. Masih ada beberapa suapan, Atsumu kembali melanjutkan makan.
"Oke."
.
.
Tengah malam dan setiap tengah malam, Atsumu masih mendengar suara batuk Osamu. Berulang dan rasanya semakin hari semakin sering. Ia ingin bangkit dan menghampiri adiknya, tapi keinginan itu tertahan dan sepanjang malam ia hanya berpura-pura tidak mendengar apapun.
"Samu bolos latihan lagi??" Atsumu memprotes. Ia tampak kesal bukan karena si adik membolos latihan tapi karena seluruh tim tahu bahwa Osamu pulang lebih dulu, sementara ia tidak. Alhasil selama latihan pikirannya terpecah.
"Atsumu, istirahat. Kontrol mu payah dan tidak stabil. Kita tidak bisa kerja sama kalau kau seperti itu. Pergilah duduk." Kita memerintah di tengah latihan tanding. Atsumu menatap sekeliling, ia ingin memprotes bahwa dirinya baik-baik saja, tapi saat menyadari tidak ada teriakan Osamu di sana ia sadar dan beranjak dari lapangan menuju tempat duduk.
"Sial. Sial. Sial," rutuk Atsumu. Ia menutup kepalanya dengan handuk hingga pandangannya tertutup dan suaranya tidak menggema ke seluruh ruangan.
"Osamu sedang sakit. Ia pulang sebelum kelas selesai dan bilang akan ke dokter hari ini. Jadi mungkin besok tidak akan masuk. Aku tidak mau bilang ini tapi Osamu mengundurkan diri dari tim."
Adalah Suna yang duduk di samping Atsumu, berkata dengan tanpa keseganan. Matanya menatap ke lapangan saat Atsumu terbelalak menatap marah sekaligus tidak percaya.
'buagh'
Atsumu terengah, emosi memuncak dan kepalan tangannya seakan belum puas sudah mengenai pelipis Suna. Mereka kini jadi pusat perhatian, Kita meneriakkan nama Atsumu untuk berhenti dan Aran segeran menjauhkan Atsumu dari Suna.
"Kenapa??!! KENAPA DIA TIDAK BILANG PADAKU??!" Atsumu mengamuk, ia berusaha melawan tubuh Aran yang lebih besar. Tapi emosi yang tidak stabil membuat Atsumu hanya melayangkan pukulan tanpa tenaga dan dalam satu tepukan di tengkuk, ia pingsan.
"Itu yang terbaik," kata Kita membenarkan tindakan Aran.
.
.
"Aku pulang." Atsumu dengan lesu memasuki rumah. Kepalanya pusing setelag sadar dari pingsan dan berakhir dengan omelan Kita. Ia juga terpaksa harus meminta maaf pada Suna atas lebam di wajah datar tersebut.
"Tsumu, selamat datang," jawab Osamu dari dalam kamar mereka. Ada onigiri dalam piring di depan Osamu dalam balutan piyama tidur yang sedang bermain game.
Atsumu tidak berkata-kata, ia terdiam memaku di ambang pintu menatap si adik. Yang di tatap masih fokus dalam permainan dan untuk waktu yang cukup lama ia harus menjeda permainannya dan menoleh pada Atsumu.
"Kau tidak masuk? Sebentar lagi makan malam, mama akan marah kalau kau belum ganti baju."
Atsumu hanya menunduk, ia menjatuhkan tasnya di sembarangan dan mengambil tempat duduk di ranjang. Ranjang bawah adalah milik Osamu.
"Kau ... keluar dari tim?" tanya Atsumu masih dengan menunduk dalam. Ia mencoba untuk tenang, berharap Osamu akan menyangkal.
"Umm, dalam waktu dekat juga sepertinya aku akan berhenti sekolah."
Atsumu terdongak, ekspresi yang sama saat ia memukul Suna siang ini. Atsumu bukan tipe yang sabar, ia mendekat pada si adik, meraih kerah piyamanya dan membentak di depan wajah.
"Osamu bodoh!! Apa yang kau pikirkan berkata begitu??! Kalau kau ada masalah denganku, katakan!!"
Osamu hanya berpaling, melepaskan perlahan cengkeraman sang kakak. "Dengan Tsumu. Uhh ..." Osamu menahan batuknya. Ia menarik napas dan menahannya membuat wajah itu sedikit memucat, lalu menghembuskan napas perlahan.
"Duduk, aku akan cerita."
"Kau ... sakit? Kenapa aku tidak tahu? DAN KENAPA AKU BAHKAN TIDAK MERASAKAN APAPUN??! BUKANNYA KITA KEMBAR HAH??!!"
'Buagh'
"Ssh, aku bilang duduk. Tsumu." Satu pukulan telak ke pelipis Atsumu, ia langsung diam seperti anak anjing. Akhirnya mengalah untuk duduk dan mereka bersila berhadapan.
"Aku dan Mama pergi ke dokter hari ini. Ada radang di paru-paruku. Salah satu cara mengobatinya dengan operasi. Tapi kemungkinannya kecil, daripada begitu aku akan memperpanjang hidupku dengan sedikit aktivitas."
Hening, ucapan Osamu masih tidak tercerna dengan baik. Atsumu diam dan meraih onigiri milik adiknya. Memakan gumpalan nasi itu dengan rakus hingga mulutnya penuh. Tidak cukup ratu gumpalan nasi ia menambahkan satu lagi ke dalam mulutnya. Hidungnya mencoba menarik napas namun agaknya menjadi sulit.
"Tsumu ..."
Atsumu menggeleng, pipinya menggembung hingga memerah. Atsumu berhenti mengunyah, membiarkan manisnya nasi berdiam di mulutnya. Pandangannya mulai kabur dan setetes air menuruni pipinya.
"Hiks ... hiks ..."
"Tsumu, kau tidak lucu kalau menangis," goda Osamu. Alih-alih marah Atsumu justru mendongak dan menatap si adik dengan airmata berlinang.
"Kau tidak akan mati kan? Samu jangan matiiii ..."
Atsumu yang penuh amarah beberapa saat yang lalu berubah menjadi Atsumu yang kekanakan dan menangis dalam pelukan Osamu. Si adik tersenyum tipis sambil menepuk punggung si kakak dengan lembut.
.
.
Mau tidak mau Atsumu terbiasa dengan Osamu yang tidak lagi datang untuk latihan. Jika Osamu merasa dirinya cukup baik hari itu, ia akan melihat Atsumu berlatih. Saat ada pertandingan pun Osamu akan berusaha untuk menghadiri. Setiap pulang dari latihan Atsumu akan duduk di samping Osamu sambil bertanding video game sambil bercerita tentang apa yang ia lakukan untuk persiapan pertandingan.
Beberapa kali Osamu terbatuk, meski tidak terlihat parah tapi Atsumu melihat batuk Osamu tampak menyakitkan.
"Besok, aku ingin kau datang di pertandingan dan aku akan menang. Jadi, sekarang pergilah tidur."
Osamu meninju pelan bahu si kakak. "Perhatian eh?" goda Osamu.
"Karena aku kakak!! Samu bodoh."
"Ya ya ya, selamat malam Tsumu. Hati-hati kalau naik."
Batuk Osamu semakin menjadi-jadi. Setiap tengah malam, Atsumu tidak lagi ingin berpura-pura tidur sekarang. Maka ia turun dari ranjangnya dan menghampiri Osamu dari balik selimutnya.
"Samu! Kau baik-baik saja? Samu!"
Atsumu berseru, ia menyibak selimut si adik terkejut mendapati begitu banyak kelopak bunga. Osamu bangkit dengan susah payah, meraih inhaler di dekat ranjangnya dan mencoba menenangkan napasnya sendiri. Sementara Atsumu terduduk lemas di lantai.
"Bunga? Ini pasti bercanda."
"Tsumu ... menurutmu aku harus operasi? Tapi sayang sekali kalau aku kehilangan perasaan ini. Hehe."
"Jangan tertawa Samu, ini tidak lucu."
Denting suara jam dinding di rang tenang rumah mereka terdengar sampai ke kamar guna memecah keheingan. Dentingnya menandakan waktu pukul dua dini hari. Atsumu masih tidak berkata apapun. Osamu masih terbatuk-batuk kecil.
Si kakak mendongak, menatap pada Osamu yang setiap kali batuk, keluar kelopak bunga dari mulutnya.
"Lihat Tsumu, kelopak bunganya indah, kan?" kata Osamu sambil menunjukkannya pada Atsumu.
"Siapa dia? Gadis mana yang diam-diam kau sukai? Kau tidak sejelek itu jika berani mengungkapkan cinta. Apa dia begitu berarti sampai kau tidak mau mengatakannya?"
Osamu bangkit dari ranjang, mengibaskan selimut dan mengumpulkan kelopak bunga di atas kasurnya. Ia mengambil kantong dari kotak bawah ranjangnya guna menjadi wadah kelopak-kelopak bunga tersebut.
"Aku baik-baik saja. Kalau diungkapkan nanti jadi masalah. Karena kita sudah bersama sejak lahir. Tsumu gak mau berantem serius denganku kan? Aku juga gak mau."
Osamu selesai dengan kantong penuh dengan kelopak bunga, ia keluar dari kamar. Batuknya ditahan sedalam mungkin akan kedua orangtuanya tidak terusik.
Atsumu ikut beranjak dan membuntuti Osamu yang keluar dari rumah ke tempat pembuangan sampah terdekat. Begitu Osamu selesai dengan sampahnya ia terkejut karena Atsumu mengikutinya.
"Bilang!! Siapa orang??! Siapa orang yang bahkan lebih berarti dari diriku?!! Kau tidak boleh menderita karena orang lain Samu. Aku tidak terima." Atsumu memojokkan Osamu ke dinding samping rumah mereka. Sejak di kamar Atsumu enggan berteriak karena khawatir dengan orang tuanya. Di luar rumah menjadi kesempatan baginya. "Aku akan memaksamu operasi jika kau tidak mengatakan siapa dia."
Untuk pertama kalinya dalam hidup Osamu bersama dengan Atsumu, ia ketakutan. Atsumu begitu serius dengan ucapannya. Tatap matanya bukan si kakak yang kekanakan dan bodoh seperti biasanya.
"Aku tidak bisa Tsumu."
"KATAKAN!!"
Osamu terbatuk, ia menggeleng dan terus terbatuk. Batuk kecil berubah menjadi batuk yang intens. Atsumu masih bersikeras dengan keinginannya tanpa menghiraukan batuk Osamu.
Si adik semakin menunduk, napasnya mulai tersengal dan gejala kesulitan bernapas mulai tampak. Atsumu tidak punya pilihan lain, ia tidak lagi bisa memaksakan kehendaknya. Osamu tidak akan menjawab.
"Samu, hei kau baik-baik saja kan?" tanya Atsumu dengan perasaan panik. Batuk Osamu tidak kunjung berhenti, tubuhnya melorot hingga terduduk di jalanan. Si adik berkeringat dan saat Atsumu menyentuhnya terasa dingin yang tidak wajar.
"Samu bertahanlah. Samu ..."
Atsumu semakin panik, ia menggendong si adik dan membawanya ke dalam rumah. Ia berteriak pada kedua orang tuanya sementara Osamu semakin melemas.
Mereka semua panik, dan dini hari itu mereka semua mengantarkan si bungsu ke rumah sakit.
Atsumu adalah yang paling bandel sejak kecil. Kedua orangtuanya pun hampir-hampir kewalahan dengan sikapnya. Dengan adanya Osamu, Atsumu jadi lebih bisa tenang. Si adik bisa mengajak si kakak untuk ikut tenang bersamanya. Tapi saat Atsumu diminta untuk kembali pulang ia menolak dan tetap duduk di ruang tunggu hingga bisa diijinkan untuk bertemu dengan Osamu.
Orang tuanya tidak punya pilihan. Menjelang matahari terbit, barulah Osamu sadar dalam keadaan stabil. Sementara' kedua orangtuanya mengurus kebutuhan Osamu, Atsumu yang menemani si adik.
"Tsumu maaf. Kau ada pertandingan hari ini."
"Aku tidak akan pergi!! Kalau aku pergi dan Samu ..."
Osamu menampar Atsumu pelan, hampir tidak ada tenaga.
"Aku belum akan mati. Gimana kalau taruhan?"
"Apa?" tanya Atsumu ketus.
"Kalau kau menang, aku akan bilang dia siapa dan akan melakukan operasi. Tapi kalau kau kalah ... aku akan tetap begini."
"JANJI YA!! AKU AKAN MENANG HARI INI!!"
Dengan semangat Atsumu beranjak dari rumah sakit. Bukan karena ia ingin Osamu melakukan apa yang akan dikatakannya, ia hanya ingin adiknya tidak menderita.
"Orang bilang saudara kembar itu berbagi batin dan fisik. Mungkinkah kita berbagi perasaan suka yang sama, Tsumu?" ucap Osamu seorang diri.
END
