Kurobas punyanya Fujimaki T, ane cuma minjem tokohnya doang.

Main pair = AkaKuroAka

Setting-nya di SMP Teikou, ini cerita cuma three shot bae :D tadinya mo bikin oneshoot tapi berhubung nyampe lebih dari 4k word, walhasil dibagi-bagi menjadi tiga chap. Ehehe.

Yup, moga fik ini dapat menghibur lo-lo pada Xp

.

.

.

Mereka berubah. Tak ada lagi yang namanya kerja sama tim. Tak ada lagi yang disebut kebersamaan. Tak ada lagi yang disebut teman.

Mereka satu tim, tapi mereka selalu berpencar. Tak pernah bertegur sapa lagi. Mereka hanya akan bermain bersama ketika ada turnamen nasional.

Kuroko Tetsuya adalah bagian dari mereka. Meski ia hanya pemain cadangan yang jarang turun ke lapangan.

Biasanya ketika pulang latihan, mereka akan pulang bersama. Saling bercanda dan tak jarang juga mampir ke konbini untuk membeli es krim loli sambil memainkan sebuah game. Atau bermain street basket di tepi jalan sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Kini semua itu hanya menjadi sebuah kenangan. Kuroko rindu dengan kebersamaan mereka.

Semenjak tim terpecah belah begini, Kuroko selalu pulang sendirian. Ia jarang tersenyum lagi. Tiap latihan basket pun rasanya seperti berlatih sendiri. Aomine Daiki yang biasanya memberi semangat malah absen hampir setiap latihan berlangsung.

Kise Ryouta yang biasanya menempelinya seperti perangko sambil berceloteh dengan suara cemprengnya, sejak saat itu mulai ikutan bolos latihan. Cowok pirang itu beralasan dengan adanya jadwal pemotretan yang padat.

Apalagi Murasakibara Atsusi. Cowok kelewatan tinggi itu pun hampir tak pernah dijumpainya, kecuali saat ada turnamen.

Sedangkan Midorima Shintaro si wakil kapten memang yang paling rajin berlatih basket. Sekaligus satu-satunya orang yang tidak berubah seperti yang lainnya. Sayangnya, Kuroko tidak begitu akrab dengannya.

Pun dengan si kapten, Akashi Seijuuro. Yang menurut Kuroko merupakan dalang dibalik perpecahan tim.

Semenjak Akashi berubah kepribadian, semuanya menjadi kacau. Kuroko tidak tahu kenapa bisa Akashi menjadi sosok se-annoying ini. Padahal dulu Akashi tidak begitu.

Akashi yang Kuroko kenal adalah Akashi yang baik hati, easy going, selalu berusaha untuk mempererat kerja sama dan kebersamaan tim, serta jangan lupakan dengan senyumannya yang selalu terukir di bibirnya.

Tapi sekarang, sosok malaikat Akashi seolah menjelma menjadi iblis. Akashi yang sekarang seperti tidak memiliki perasaan sama sekali dan membiarkan tim inti seperti Aomine, Murasakibara, Kise dan Midorima untuk membebaskan kehadiran dalam latihan. Serta memecah belah tim. Lalu senyumannya kini menjelma menjadi seringai kejam.

Kuroko benci Akashi yang sekarang. Gara-gara Akashi, Kuroko jadi malas latihan. Gara-gara Akashi, Kuroko kehilangan kontak dengan teman SD-nya akibat dipermainkan oleh tim inti basket yang diketuai oleh Akashi. Padahal saat itu Kuroko meminta pada Akashi untuk tidak mempermainkan tim basket temannya itu. Akashi sih hanya mengangguk mengiyakan saja, nyatanya malah menjatuhkan mental teman Kuroko dengan mencetak sepuluh kali lipat dari point tim teman Kuroko.

Intinya Kuroko benci Akashi yang sekarang. Maka mulai saat ini, Kuroko akan berhenti bermain basket. Kuroko sudah muak dengan si kapten merah itu.

"Tetsu-kun, kudengar kau keluar dari klub basket, apa itu benar?" Momoi Satsuki si gadis yang menjadi manager tim basket bertanya saat istirahat berlangsung. Gadis itu sampai repot-repot mendatangi kelasnya.

"Iya, Momoi-san. Aku sudah tidak akan bermain basket lagi," jawab Kuroko datar.

Momoi menunduk sedih. Matanya berkaca-kaca. "Tapi, kenapa?" katanya bergetar.

Kuroko memalingkan wajahnya. Sejujurnya Kuroko tidak tega melihat seorang cewek manis macam Momoi tampak ingin menangis begini. Kuroko jelas tahu alasannya. Momoi juga sama sepertinya. Cewek bersurai pink itu tidak suka kalau teman-temannya menjadi berjauhan begini.

"Maaf, Momoi-san. Aku tidak bisa mengobrol denganmu. Aku sedang sibuk. Bye!" Kuroko buru-buru berbalik memasuki kelasnya. Tak mau terlalu lama di hadapan cewek itu. Kuroko tidak tahan melihat ekspresi Momoi.

T.T.T.T.T.T

Setelah Kuroko berlalu, setetes cairan bening meluncur dari mata Momoi, membasahi pipinya. Momoi dengan cepat pergi dari kelas Kuroko bersama suara isakan kecil dari mulutnya.

Momoi sedih melihat Kuroko tampak biasa saja. Padahal dari sorot matanya yang kosong, Momoi dapat melihat kesepian, sakit hati, kecewa dan rasa sedih di dalamnya. Momoi tahu perasaan Kuroko.

Ini tidak boleh dibiarkan. Momoi harus membantu Tetsu-kun-nya.

Karena itulah, beberapa hari kemudian, Momoi tengah memegang sebotol minuman susu vanilla. Itu bukan sekedar susu vanilla biasa. Momoi mendapati minuman ini dari seorang dukun.

Seulas senyuman atau seringai terbit di bibir Momoi. Dengan minuman ini, kebersamaan tim akan terjalin kembali.

Momoi ingat kata-kata si dukun yang berucap bahwa barang siapa yang meminum minuman itu akan menjadi orang yang paling disayangi dan diperhatikan.

Dalam kasus ini, Momoi ingin memberikan minuman itu pada Kuroko agar teman-teman basketnya mau bersama Tetsu-kun-nya lagi. Dengan begitu Kuroko tidak akan merasakan kesepian lagi. Dengan begitu mereka bakal bersama lagi.

Dan ketika hal itu terjadi, Momoi yakin Tetsu-kun-nya pasti mau bergabung lagi ke klub basket. Dengan begitu, Momoi bisa lebih dekat lagi dengan si doi.

"Kikiki." Momoi terkikik geli membayangkannya.

Berhubung hari ini hari minggu dan dengan susah payah serta sedikit pemaksaan, Momoi mengumpulkan para pemain tim inti basket di maji burger. Awalnya beberapa di antara mereka menolak mentah-mentah ajakannya. Terutama si Aomine Daiki. Cowok berkulit eksotis yang menjadi sahabat semenjak oroknya itu begitu susah diajak berkumpul bersama, tapi setelah diancam akan melaporkan majalah porno koleksi Aomine pada ibunya pun pada akhirnya Aomine mau juga, tuh.

Kini Momoi tengah berdiri di depan pintu Maji burger, menunggu sang target. Di dalam sudah ada Aomine, Kise, Midorima dan Murasakibara. Mereka tampak tidak mengobrol satu sama lain.

Dari yang Momoi lihat, Aomine terlihat tak memperdulikan eksistensi tiga temannya tersebut dan lebih memilih menatapi orang-orang yang berlalu lalang dibalik kaca restoran itu.

Sedangkan Kise sedari tadi pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal biasanya cowok pirang itu yang paling berisik di antara yang lainnya.

Lalu Murasakibara yang pada dasarnya bodo amat dengan keadaan sekelilingnya dan lebih mementingkan beberapa snack di tangannya, saat ini lebih tak peduli lagi. Entahlah Momoi tidak bisa membedakan tingkah si cowok kelewatan tinggi itu saat ini dengan yang biasanya.

Lalu Midorima si cowok berkacamata itu pun sibuk dengan lucky item berupa gantungan kunci berbentuk hello kitty-nya.

Momoi menghela napas. Tinggal menunggu Kuroko dan Akashi yang belum hadir. Dalam hati Momoi berdoa semoga rencananya ini dapat mengembalikan kebersamaan mereka lagi.

"Momoi-san."

Momoi terlonjak kaget di tempatnya. Ia langsung berpaling ke sumber suara.

"Te-Tetsu-kun?! Ya ampun kau membuatku kaget saja. Dan sejak kapan kau ada di situ, sih?" tanya Momoi pada si target yang entah sejak kapan berada di dekatnya. Ah, Momoi lupa kalau eksistensi Kuroko memang kadang tidak bisa dideteksi akan keberadaannya.

"Lima menit yang lalu aku sudah berada di sini, kok." Kuroko menjawab datar. Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang asing buat Kuroko. Semua orang selalu saja terkejut dengan kehadirannya. Mungkin hanya Akashi satu-satunya orang yang selalu tahu dengan eksistensinya. Mengingat hal itu membuat Kuroko tiba-tiba merasa eneg. Sebentar lagi orang itu akan dijumpainya.

Sejujurnya Kuroko tidak sudi berkumpul bersama yang lainnya, terutama si kapten merah itu. Kuroko sudah dibuat sakit hati, kecewa dan marah pada mereka. Tapi, karena tidak tega menolak keinginan Momoi, dengan terpaksa Kuroko mendatangi tempat ini.

"Tetsu-kun, ini-" Momoi menyodorkan sebotol susu vanilla kesukaan Kuroko. Seulas senyuman mencurigakan tersungging di bibir si cewek pink itu, "-aku berikan khusus untukmu."

Mata Kuroko menyipit waswas. Meski begitu ia tetap menerima minuman itu. Kuroko mana mungkin menolak minuman kesukaannya ini. Terlebih dari Momoi yang sudah susah payah mengumpulkan mereka semua. Kuroko tentu harus menghargai perjuangan Momoi.

"Terima kasih, Momoi-san."

Momoi mengangguk kecil. Netranya masih lekat menatapi Kuroko. Seolah sedang menunggu Kuroko untuk segera meminum minuman itu.

Kuroko adalah seorang observan. Maka tatapan mencurigakan dari Momoi tak luput darinya. Karena itulah, Kuroko akan pura-pura meminumnya.

Ia membuka tutup botol itu dengan gerakan slow mottion. Sepasang manik blue-nya sesekali melirik Momoi yang masih menatapnya lekat. Secara perlahan-lahan yang sengaja Kuroko lakukan, bibir botol itu didekatkan dengan bibir kuroko.

Tatapan Momoi semakin memicing seperti tak sabar menunggu Kuroko meminumnya. Dalam hati, Kuroko terkekeh geli melihat tampang Momoi yang menurutnya lucu.

Kuroko akhirnya menempelkan bibirnya dengan bibir botol tanpa menyusup isinya. Wajah Momoi langsung cerah. Ia mengira Kuroko sudah meminum beberapa teguk.

Di saat bersamaan, sebuah mobil lamborgini datang dari persimpangan jalan dan berhenti di tempat parkir restoran tersebut.

Momoi dan Kuroko mengalihkan perhatian ke arah si mobil yang sudah dipastikan ada Akashi di dalamnya. Dan benar saja, selang satu menit berlalu, Akashi turun dari mobil itu lewat pintu penumpang dengan si sopir yang membukanya.

Cowok merah itu berbincang dengan si sopir terlebih dahulu sebelum kemudian menghampiri mereka berdua.

"Akashi-kun," sapa Momoi begitu Akashi berada tepat di depan mereka. Akashi hanya mengangguk sebagai responsnya.

Tidak seperti Momoi yang menyapanya, Kuroko justru memalingkan wajahnya begitu tatapan mata Akashi tertuju padanya.

"Ayo masuk," ucap Momoi setelah melihat tingkah mereka berdua. Ia tersenyum miris. Tapi, sebentar lagi hal ini tidak akan terjadi lagi. Momoi mencuri pandang pada Kuroko. Ia sudah tidak sabar lagi dengan efek minuman itu.

...

Keadaan begitu canggung dan berat di meja besar yang terdiri dari tujuh kursi itu. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mau membuka pembicaraan.

Momoi berdehem. Sedari tadi ia melirik-lirik Kuroko. Kok, efeknya belum muncul ya?

Mungkin sebentar lagi. Momoi berdiri dari kursinya. "Ano, lebih baik aku pesankan makanannya dulu ya, teman-teman. Kalian tunggulah di sini," katanya agak canggung.

"Momoi-san." Kuroko menahan lengan Momoi yang hendak berbalik. "Biar aku saja yang mengambilnya," lanjut Kuroko datar.

Momoi yang tidak tahu harus bagaimana pun akhirnya mengiyakan saja.

Kuroko melirik mereka dari ujung matanya. Setelah memastikan ia benar-benar jauh darinya, Kuroko pun mulai menjalankan aksinya.

Kuroko tahu kalau minuman dari Momoi pasti ada apa-apanya. Tapi Kuroko percaya kalau minuman ini tidak beracun. Sabenarnya Kuroko penasaran mengenai sesuatu apakah yang ada dalam minuman ini.

Karena Kuroko tidak mau jadi korban, maka Kuroko memindahkan isi botol ini dalam salah satu gelas secara acak untuk mereka. Entah siapa yang mendapatkannya, Kuroko tidak peduli yang penting ia selamat.

Dan ternyata minuman itu mendarat dengan manis di depan tempat Akashi duduk. Entah kenapa Kuroko merasakan senang. Kuroko hanya bisa berdoa semoga minuman dari Momoi tidak sampai membuat si kapten merah itu is deat di tempat.

"Jadi, apa tujuan lo sabenarnya, Satsuki?" Aomine Daiki yang sudah tidak tahan dengan keheningan ini pun pada akhirnya membuka suara. Perhatian yang lain otomatis tertuju pada Aomine, lalu berpaling ke Momoi.

Seperti ketahuan tengah mencuri, Momoi yang sedari tadi fokus melirik-lirik Kuroko langsung terlonjok di tempat.

"Eh, apa? Ta-tadi kau bilang apa, Dai-chan?" tanyanya gelagapan.

Aomine mengernyit heran dengan tingkah sobatnya. "Lo kenapa, sih? Daritadi ngelirikin si Tetsu mulu."

"Ahaha, si-siapa yang melirik Tetsu-kun? A-aku tidak, kok." Momoi tertawa kaku. Sedangkan Kuroko yang tahu maksud dari tingkah Momoi pun hanya terkekeh dalam hati.

Pasti cewek itu tengah menanti sesuatu terjadi pada Kuroko. Padahal Kuroko sendiri juga sedang menunggu apa yang akan terjadi pada Akashi yang saat ini sibuk mengunyah burgernya. Kuroko menanti si merah meminum minumannya.

"Lo aneh tau gak? Tapi, gue gak peduli, sih. Intinya, tujuan lo ngumpulin kita-kita gini mo apa?" ulang Aomine sambil mengorek-orek telinganya dengan jari kelingking.

Momoi langsung ilfil dan menabok lengannya sambil berkata, "Dai-chan jijik, ih!". Si cowok berkulit eksotis itu mengusap-usap lengannya yang berdenyut akibat tabokan Momoi, Aomine hanya bisa merengut dan menggerutu.

Lalu Momoi berdehem. Ia mulai menjelaskan. "Umm, jadi begini teman-teman. Sabenarnya tujuanku mengumpulkan kalian di sini itu untuk mempererat hubungan pertemanan kita. Yeah, kalian tahu sendirilah, semenjak kalian bertambah jago dalam bermain basket, kita jadi jarang berkumpul kembali. Tidakkah kalian sadari? Jadi, ayo kita perbaiki hubungan pertemanan kita. Terus terang saja, aku merasa tidak nyaman melihat kalian tidak akrab begini," jelas Momoi panjang lebar.

Yang lain langsung terdiam. Melirik satu sama lain, terkecuali si Murasakibara yang tetap berekspresi seperti orang mengantuk. Mulutnya tak berhenti bekerja menyemil snack-nya.

"Err." Kise akhirnya buka suara. "Aku menghargai usahamu itu Momoicchi, tapi-" manik topaz Kise menatap satu persatu teman-temannya dengan tatapan skeptis. "-entahlah."

"Entahlah kenapa, Ki-chan? Kita masih bisa memperbaikinya 'kan? Kita hanya perlu sering bersama saja. Dengan begitu sedikit demi sedikit kita bisa akrab seperti dulu lagi." Momoi tak mau usahanya sia-sia. Lalu ia melirik lagi pada Kuroko. Ini kok efeknya gak muncuk-muncul ya? Jangan-jangan, Momoi ditipu oleh dukun gadungan itu?!

Grr! Momoi geregetan.

"Ehem!" Semua pasang mata kini tertuju pada si kacamata yang barusan berdehem. "Kurasa ucapan Momoi ada benarnya, nanodayo. Sejujurnya aku juga tidak nyaman kita jadi seperti ini hanya karena kita menjadi lebih jago dalam bermain basket dan dengan mudah bertanding melawan tim yang selalu terlihat lemah dari kita, bukan berarti hubungan pertemanan kita menjadi putus begini. Selain itu-" Modorima memalingkan wajahnya pada si kapten merah yang kebetulan duduk di sampingnya. "-Akashi, bisakah kau atur ulang mengenai menu latihan? Salah satu dari kita tidak boleh ada yang bolos lagi, nanodayo."

Akashi tidak menjawab. Dia hanya melirik dengan kedua mata berbeda warnanya.

"Wah, Midorimacchi tumbenan ngomong jujur-ssu," sahut Kise yang mulai kembali ke sifat aslinya. Melihat hal itu membuat Momoi dan Kuroko menjadi sumringah.

"Bu-bukan maksudku begitu, nanodayo." Midorima langsung gelagapan. Ia mendorong kacamatanya dengan gugup.

"Kalau begitu percuma saja." Aomine memberi pendapat yang membuatnya menjadi pusat perhatian. "Gue gak mau latihan lagi. Gue males kalau latihan tanding bareng dengan orang yang permainan basketnya tidak sebanding dengan gue," lanjutnya sambil membuang muka.

"Kau pikir kau sehebat apa sih, nanodayo?! Kalau begitu kau kan bisa lawan aku, Kise, Murasakibara atau Akashi yang selevel denganmu! Jangan hanya karena pelatih mengijinkanmu bolos latihan dan kau malah sesuka hatinya tidak pernah latihan lagi!" ucap Midorima ngegas. Ia memang paling tidak suka dengan orang yang tidak disiplin macam Aomine dan Murasakibara.

"Halah, ngomong apaan sih lo. Lo nggak tahu perasaan jadi orang yang selalu berusaha keras dan menang tapi lawannya selalu terlalu lemah. Dan lo pikir kita selevel gitu, hah? Lo kan cuma jago di shooting doang! memangnya lo bisa ngelawan gue?! Yang benar saja?!" Aomine lebih ngegas lagi. Ia menggebrak meja dan berdiri dari duduknya. Saat itu suasana mulai menjadi panas.

"Dai-chan. Tenangkan dirimu." Momoi langsung memeluk lengan sobatnya dengan mata berkaca-kaca. Tapi, Aomine tidak peduli.

"Cih, sombong! Kau kan belum mencoba melawanku, nanodayo!" Midorima masih berusaha untuk tenang.

"Midorima-kun," lirih Momoi mencoba menenangkannya juga. Namun hasilnya nihil.

"Mine-chin benar. Aku sendiri merasakan apa yang dirasakannya. Asal kalian tahu, selama ini aku tidak pernah bermain serius. Meski begitu aku tetap menang. Padahal aku juga ingin bermain serius, tapi kalau lawannya terlalu lemah, aku jadi males juga buat main basket." Kini giliran Murasakibara yang berkomentar sambil memakan burgernya.

"Kata siapa kau selalu menang? Kau kan pernah dikalahkan Akashi, nanodayo! Jangan sombong juga kau!" Midorima berdiri dari duduknya menghadap Murasakibara dengan sorot mata penuh emosi. Rupanya ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.

Murasakibara menghentikkan kunyahannya dan balas menatapnya tajam. "Itu berbeda lagi! Aka-chin atau kalian kan satu tim denganku. Yang kumaksud itu adalah pemain basket yang lainnya. Mereka itu terlalu lemah. Mau latihan atau turnamen pun sama saja!"

"Woi, woi, tenanglah kalian semua. Jangan bertengkar di sini." Kise yang tidak tahan melihat Momoi sudah bercucuran air mata pun ikutan melerai.

Sedangkan Kuroko tidak memperdulikan pertengkaran itu. Kuroko hanya ingin cepat-cepat pulang. Ia tidak suka berada di situasi seperti ini.

"Tetap saja kau tidak boleh ikutan bolos latihan seperti Aomine, nanodayo!"

"Hee?! Terserah aku, dong! Mido-chin itu kan hanya wakil kapten. Aka-chin yang seorang kapten saja memperbolehkan aku bolos, tuh!"

"Kau!-"

"Hentikkan pertengkaran kalian!" perintah si kapten yang sedari tadi hanya menjadi pendengar. Mereka langsung terdiam.

Akashi menggenggam gelas minumannya. Diam-diam mata Kuroko langsung berkilat. Akashi yang tidak menyadarinya mulai menyeruput minumannya dengan nikmat. Satu tegukkan masuk melewati tenggorokannya. Lalu ia berkata, "Hargailah usaha Satsuki. Kita di sini bukan untuk bertengkar. Setidaknya kalau kalian ingin berdebat lakukan dengan tenang," nasehat sang kapten yang dengan ajaibnya langsung dituruti oleh mereka.

"Dan mengenai usulan Shintaro dengan berat hati aku katakan bahwa aku tidak bisa memaksa kalian untuk ikut latihan. Seperti yang sudah pernah kukatakan dan apa yang dikatakan Daiki memang benar. Percuma saja latihan. Kemampuan kita sudah berbeda dengan lainnya. Kita tidak bisa menyeimbangkan lagi. Lalu soal Satsuki, silakan saja kalian sering berkumpul bersama. Kurasa tidak ada salahnya mempererat hubungan pertemanan. Tapi, maaf aku tidak bisa sering berkumpul begini, agenda kegiatanku banyak," lanjut Akashi dengan songongnya.

Tiba-tiba atmosfere disekitar mereka berubah menjadi hangat. Kuroko mengerjap. Apakah efek minuman itu dapat mengubah kepribadian seseorang? Tapi, Akashi masih terlihat seperti Akashi yang sekarang. Matanya bahkan masih belang. Tidak sehangat yang dulu. Lalu kenapa mendadak suasananya jadi agak aneh begini?

Kuroko memperhatikan Akashi. Seperti ada sesuatu yang membuat Kuroko tak bisa berpaling dari sang kapten. Kebencian yang tiap kali muncul ketika melihat sang kapten, kini mulai sirna. Digantikan oleh perasaan kagum seperti yang dulu pernah dirasakannya.

Surai merah itu, mata rubi-gold itu, dan wajah rupawan itu, kenapa Kuroko baru menyadari betapa Akashi begitu sempurna di matanya?

Akashi menarik ponselnya yang bergetar. Lalu mengutak-atiknya sebentar sebelum kemudian berdiri dari duduknya. "Sepertinya aku tidak bisa lama-lama berada di sini. Satu jam lagi aku harus mengikuti les biola. Aku perlu bersiap-siap terlebih dahulu."

Kuroko hendak mencegah kepergian Akashi, namun ia kalah cepat dengan Midorima yang sekarang tengah mencengkram lengan sang kapten.

Akashi tampak kebingungan. Sepasang alisnya bertaut menatap Midorima keheranan. "Shintaro, ada apa?"

Midorima memperbaiki letak frame kacamatanya yang pada dasarnya memang sudah benar dengan gugup sebelum berkata, "Ano, mau aku antarkan?"

"Ha?" Akashi melongo. Kuroko entah setengah sadar menatap kesal pada Midorima.

Namun, ternyata bukan hanya Kuroko saja yang menatapnya kesal, bahkan yang lainnya pun memasang semacam ekspresi ... cemburu?

"Tidak bisa-ssu! Akashicchi lebih baik pulang bersamaku saja. Kita kan searah. Kebetulan tadi aku dapet telepon dari manager untuk pemotretan siang ini-ssu!" Si pirang berdiri menghampiri Akashi dan mengambil lengan Akashi yang menganggur.

"Kau bohong, nanodayo! Daritadi kau tidak memegang ponsel, tuh. Jadi sejak kapan managermu menelpon?!" Midorima menarik Akashi sampai si merah terdorong dan menabrak dadanya.

"Ouch!" Akahi mengaduh. Hidungnya berasa berdenyut karena berbenturan dengan tulang dada Midorima.

Melihat itu, Murasakibara mengambil tubuh Akashi dalam sekali raup ke dalam pelukannya. "Mido-chin, kau itu bagaimana sih! Aka-chin jadi kesakitan begini."

"Maaf Akashi. Apa hidungmu baik-baik saja?" ucap Midorima merasa bersalah. Ia tidak tahu kalau tarikannya akan menyebabkan si merah membentur tubuhnya.

Akashi yang masih setengah shock dengan tingkah teman-temannya hanya terdiam sambil menyentuh hidungnya yang berdenyut.

"Teme! Kalau lo lagi kesal, jangan bawa-bawa Akashi sampai dia lo sakiti gitu, woi!" sahut Aomine mencengkram kerah Midorima.

Midorima yang tidak terima disalahkan pun langsung menepis tangan Aomine. "Aku tidak sengaja, nanodayo! Itu bukan salahku!"

"Eh, sudahlah kalian. Berhenti!" Momoi berdiri di antara Aomine dan Midorima untuk menghentikkan pertengkaran mereka. Cewek itu malu karena mereka semua sekarang menjadi pusat perhatian para pengunjung Maji burger.

"Mereka berisik-ssu. Ayo Akashicchi. Lebih baik kita pulang sa -loh, mana Akashicchi?" Kise celingukan mencari si rambut merah yang menghilang entah ke mana.

Murasakibara ikutan celingukan. Setahunya, tadi Akashi masih berada dalam pelukannya, kok tiba-tiba hilang sih?

"Nah loh? Tetsu-kun juga tidak ada?"

...

Ketika mereka tengah sibuk berdebat, Kuroko dengan kemampuan misdirection-nya langsung membawa Akashi keluar dari Maji burger.

Akashi menghela napas. Ia melirik Kuroko dengan wajah datar, tapi tidak sedatar si baby blue. "Terima kasih, Tetsuya."

Kuroko mengukir senyuman tipis. "Sama-sama, Akashi-kun."

Akashi melanjutkan langkahnya dengan Kuroko. Netra rubi-gold-nya melirik pintu restoran itu dari kejauhan. "Ada yang aneh dengan mereka. Apa kau mengetahui sesuatu, Tetsuya?"

Saat Akashi mengalihkan perhatian pada Kuroko, ternyata cowok yang lebih mungil darinya itu tengah memperhatikkannya dengan tatapan kagum. Kaguuum?

Salah satu alis merah Akashi berkedut kesal. Sepertinya yang bertingkah aneh bukan hanya Midorima, Kise, Murasakibara maupun Aomine. Rupanya Kuroko juga tampak aneh. Padahal seingat Akashi, saat mereka bersitatap di depan maji burger tadi saja, Kuroko tampak enggan menatapnya.

Bukan hanya saat di depan Maji burger sih. Tepatnya semenjak tim inti terpecah belah, Kuroko memang sudah tidak sudi untuk menatapnya lagi. Lalu kenapa sekarang mendadak jadi begini? Begitu juga dengan yang lainnya. Apa yang sabenarnya terjadi?

"Err, Tetsuya?" panggil Akashi untuk menyadarkan si baby blue agar tidak menatapnya begitu. Karena Akashi merasa risi dan mulai bergidik.

Sumpah, tatapan kagum Kuroko berasa horror di mata Akashi. Akashi sudah terbiasa dengan wajah tanpa ekspresi yang biasanya Kuroko pasang. Jadi ketika Kuroko menatapnya begitu, membuatnya menjadi terkesan creepy.

"Iya, Akashi-kun."

"Eum, sebaiknya sampai di sini saja kau mengantarku, oke? Aku pergi ya. Bye!" Akashi langsung berlalu dari hadapan Kuroko sambil berlari. Mengabaikan si cowok babyface itu yang memanggil-manggil namanya.

...

Rupanya keanehannya bukan berhenti di situ saja. Ketika Akashi memasuki mension rumahnya, beberapa buttler langsung menyambutnya dengan suka cita. Memang setiap hari mereka begitu, sih. Dan itu kan memang sudah tugas mereka. Tapi, kali ini berbeda. Para buttler itu sampai saling berebut untuk meminta perhatiannya.

Bukan hanya mereka, bahkan ayahnya yang biasanya tidak peduli terhadap kehadirannya pun hari itu merupakan pertama kalinya Akashi melihat senyuman serta perhatian sang ayah.

Akashi sempat dibuat tertegun. Ayahnya tersenyum setelah dua belas tahun dia hidup. Saking tidak percayanya, Akashi menampar wajahnya sendiri. Apa ia sedang bermimpi? Tapi kenapa tamparannya begitu terasa berdenyut? Berarti ini nyata.

Fenomena langka seperti ini tentu saja tidak akan Akashi sia-siakan. Melupakan keanehan orang-orang disekitarnya barusan, Akashi memilih untuk menikmati moment-moment langka bersama sang ayah.

"Tou-san, aku senang akhirnya Tou-san mau memperhatikanku seperti ini," ucap Akashi malam itu setelah mereka makan malam bersama. Sekarang anak dan ayah itu tengah bermain shogi bersama.

Akashi Masaomi, tersenyum teduh sembari mengacak rambut merah sang anak. "Apapun untukmu, Nak."

Akibat luapan bahagia yang tak terdefinisikan menyebabkan mata belangnya berubah seperti dulu lagi menjadi sepasang iris rubi yang mempesona. Kepribadian asli Akashi pun mulai bangkit kembali.

Pipinya bersemu merah mendapati perlakuan sang ayah. Ia tak bisa menahan seulas senyuman lebar di bibirnya.

.

.

.

Tbc di sini coooy! :'D