Malam ini Kuroko tak bisa tidur. Ia telah mencoba berbagai cara agar matanya dapat terpejam, namun selalu gagal.

Ini semua berkat kejadian di Maji burger itu. Kuroko tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa perasaan marah, kecewa dan kesalnya pada si kapten itu bisa menghilang begitu saja? Kenapa setelah itu wajah sang kapten terus menggentayangi pikirannya hingga saat ini? Kuroko tidak mengerti. Atau jangan-jangan inilah efek dari minuman yang diberikan Momoi?

Kuroko terdiam. Ia mencerna baik-baik. Jadi, apa tujuan Momoi memberikan minuman itu padanya?

Jika, minuman itu tidak diminum Akashi, apakah yang lainnya bakal memperhatikannya seperti yang terjadi pada sang kapten?

Entah Kuroko harus bersyukur atau menyesal telah memberikan minuman itu pada Akashi.

...

AkaKuroAkaKuroAkaKuro

...

Kuroko perlu informasi lebih detil. Maka keesokan harinya saat jam istirahat teng berbunyi, Kuroko menyempatkan diri untuk mampir ke kelas Momoi. Yang tentu saja disambut kelewatan senang oleh gadis pink itu.

"Tetsu-kun," panggil Momoi dengan senyuman manisnya.

Kuroko hanya merespons datar. Tanpa basa-basi, ia langsung mengutarakan kedatangannya menemui Momoi. Kuroko menjelaskan dari ketika Momoi memberikan minuman itu padanya tapi gagal, karena Kuroko sudah curiga. Lalu Kuroko tak lupa menceritakan bahwa pada akhirnya minuman itu di teguk oleh Akashi. Si gadis pink itu sempat dibuat terdiam dan gugup karena ketahuan merencanakan sesuatu pada Kuroko serta kaget setelah diberi tahu bahwa Akashilah yang meminumnya.

Pantas saja kemarin teman-temannya bersikap aneh terhadap Akashi. Momoi sendiri pun juga sempat merasa aneh pada dirinya sendiri saat menatap Akashi. Saat itu Akashi terlihat sangat berkilau dan 'uwah' sekali di matanya. Untungnya Momoi masih dapat mengendalikan diri untuk tidak tergoda mendekati Akashi dan memberinya perhatian lebih macam yang lainnya.

"Maafkan aku, Tetsu-kun. Tujuanku memberikan minuman itu padamu agar kau kembali ke klub basket dan tidak dicueki lagi oleh mereka serta kalian bisa akrab seperti dulu lagi. Aku tidak tahu kalau minuman itu malah berakhir di tangan Akashi-kun."

Kuroko menggeleng kecil, "Ini bukan salahmu, Momoi-san. Terima kasih sudah mau berusaha agar aku dan mereka bisa akrab lagi. Tapi, kalau aku boleh memberi saran, lebih baik Momoi-san jangan menggunakan cara seperti itu. Lagipula, menyatukan kami lagi itu kurasa sangat impossible sekali."

Mengingat wajah teman-teman basketnya saja, Kuroko sudah eneg. Apalagi kalau bertemu. Kemarin saja, Kuroko merasa tidak nyaman sekali berada di dekat mereka. Soalnya Kuroko sudah sakit hati dengan sikap mereka yang suka mempermainkan tim lawan. Tapi anehnya, semenjak Akashi meminum minuman itu, Kuroko tidak bisa membenci Akashi lagi. Tampaknya minuman dari Momoi benar-benar mempengaruhi yang lainnya begitu juga dirinya.

"Kurasa Momoi-san harus mengembalikan sesuatu dalam Akashi-Kun sehingga orang-orang tidak terpengaruh untuk tergoda padanya. Karena aku harusnya tetap tidak suka padanya," lanjutnya.

"Ja-jadi, Tetsu-kun benar-benar gak mau lagi masuk klub basket, nih?" Si gadis pink menunduk sedih. Dalam hati ia tidak mau menyetujui ucapan Kuroko barusan. Momoi ingin mereka kembali akrab lagi. Momoi tak suka jika pertemanan mereka terpecah belah begini hanya karena mereka semakin hebat dalam permainan basket.

"Maaf, Momoi-san. Aku tetap tidak akan masuk ke ... -Akashi-kun?" Kuroko menghentikkan ucapannya kala netranya menangkap sosok bersurai merah yang berjalan dari persimpangan koridor menuju ke kelasnya. Wajah si merah itu tampak begitu cerah dan ceria. Seulas senyuman tersungging di bibirnya. Auranya pun tak sedingin biasanya. Yang ini lebih hangat sama seperti dulu. Bahkan secara imajiner terdapat efek bling-bling plus guguran bunga-bungaan di sekitar si kapten basket itu. Kuroko melongo.

Momoi mengikuti arah pandang Kuroko. Dan saat itu juga, Momoi merasa pipinya menghangat begitu mendapati senyum Akashi.

'Akashi-kun tersenyum?!' Momoi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengusap-usap kedua matanya barang kali ia salah lihat. Tapi, tidak! Momoi jelas melihat perubahan dalam diri sang kapten. Akashi seperti kembali ke kepribadiannya yang dulu. Apa ini efek dari minuman itu juga? Tapi seingat Momoi, dukun itu bilang hanya akan membuat orang yang meminumnya menjadi disayang oleh yang lainnya. Bukan mengubah kepribadian seperti ini 'kan?

"Oh, hai. Selamat pagi, Kuroko, Momoi," sapa Akashi dengan senyuman pemikat hati yang tidak lepas dari bibirnya semenjak tadi. Hari ini Akashi sedang bahagia dikarenakan Ayahnya mau mengantarnya berangkat sekolah. Padahal biasanya Akashi hanya diantar oleh sopir pribadi. Dan sang ayah bilang mulai saat ini, beliau yang akan mengantar jemputkan dirinya. Tentu saja itu membuat Akashi senangnya luar biasa.

"Pa-pagi," jawab Kuroko agak terpana. Kebahagiaan Akashi seolah menular padanya. Kuroko menarik kata-katanya mengenai kebenciannya terhadap Akashi. Sekarang Kuroko senang melihat Akashi benar-benar kembali menjadi Akashi yang dulu. Lihat saja matanya yang kini sudah tidak belang lagi. Akashi juga tidak memanggil nama kecilnya. Serta jangan lupakan senyuman itu. Senyuman yang sangat Kuroko sukai dan begitu dirindukan.

Kedua tangan Kuroko mengepal. Ia menggigit bibir bawahnya. Ada keinginan untuk menerjang sang kapten dalam dekapannya saat ini juga. Namun Kuroko berusaha untuk tidak melakukan hal itu. Ini pasti salah satu efek dari minuman Momoi. Kalau begitu Kuroko harus tidak terpengaruh. Kuroko harus kuat iman.

Akashi pergi melanjutkan langkah ke kelasnya bersama beberapa gadis yang dengan ajaibnya menjadi fans dadakan -Kuroko sempat dibuat kesal dengan pemandangan itu. Namun, Kuroko cepat-cepat menggeleng. Mengalihkan fokusnya pada Momoi untuk bertanya serius mengenai solusi dari permasalahan ini.

"Jadi, Momoi-san. Katakan padaku bagaimana cara mengembalikan Akashi-kun?"

Momoi yang semenjak kepergian Akashi masih sempat-sempatnya berdadah-dadah ria meski yang di dadah-dadahi telah menghilang dibalik kumpulan para gadis.

"Momoi-san!" Kuroko menaikkan satu oktav suaranya yang sukses membuat Momoi langsung tersadar.

"Eh, oh, tadi kau bilang apa, Tetsu-kun? hehe."

Kuroko terdiam dengan wajah datar andalan. Lalu mengulang pertanyaannya. "Bagaimana cara mengembalikan Akashi-kun, Momoi-san?"

"Oh itu." Momoi nyengir untuk beberapa saat sebelum kemudian ikutan terdiam, tapi dengan campuran shock di dalamnya begitu mengingat cara menghilangkan efek minuman itu. Mendadak sebuah memory tentang kata-kata si dukun kembali berputar dalam kepalanya. Begini flashback-nya ...

...

" ... Jadi ini minuman dapat membuat seseorang yang biasanya tak peduli menjadi peduli dan yang benci menjadi tak benci, ya?" konfir Momoi seusai penjelasan sang dukun berjenggot putih.

Dukun itu mengangguk. "Ho'oh, neng."

"Oh oke, oke. Terima kasih ya kakek dukun. Tapi, btw, ini minuman berefek sampai kapan?"

Si dukun aki-aki itu mengelus-elus jenggot putihnya. Dengan wajah super kalem, ia menjawab, "Bisa jadi selamanya. Namun, efek itu akan menghilang jika si pemberi minuman harus melakukan 'anu' dengan si penerimanya." Aki-aki itu menyatukan lalu melepaskan kelima jari tangan kanan dengan kelima jari tangan kirinya sampai beberapa kali.

Otak Momoi me-loading hingga satu menit berlalu untuk mengetahui maksud si aki-aki barusan. Wajahnya langsung merona begitu ia membayangkan akan melakukan 'anu' dengan si doi ketika suatu hari nanti Momoi ingin menghilangkan efeknya, berhubung Momoi yang akan menjadi pemberi minuman itu pada Kuroko nanti.

...

Sayang sungguh disayang, pada kenyataannya Kuroko yang menjadi pemberi dan Akashi yang berperan menjadi penerimanya. Itu artinya, jika ingin menghilangkan efek minuman itu, Kuroko harus melakukan 'itu' dengan Akashi.

Wajah tanpa ekspresi yang biasanya dipasang Kuroko langsung hancur menjadi shock yang lebih shock dari ekspresi Momoi begitu mendengar penjelasan tersebut.

"Ya-yang benar saja, Momoi-san?!" ucap Kuroko membajaj, maksudnya bergetar gitu. :'D

Momoi menunduk suram. Setengah hatinya tidak terima jika Kuroko pada akhirnya akan melakukannya dengan si kapten basket. Momoi tidak menyangka kalau rencananya bakal menjadi seperti ini. "Ma-maaf, Tetsu-kun."

...

Dua hari berlalu dan selama itu pula, Kuroko berusaha menjaga jarak dengan si merah Akashi. Ini sangat berbahaya buatnya. Kuroko menyadari kalau dirinya tidak bisa menahan diri untuk terkagum-kagum pada Akashi saat berada di dekatnya. Maka dengan cara inilah Kuroko menanganinya. Ia harus menjaga jarak dengan Akashi supaya rasa kagumnya tidak muncul.

Jika yang lain tidak menyadari tingkah Kuroko, maka berbeda dengan Akashi. Si kapten basket itu menyernyit bingung dengan kelakuan aneh Kuroko akhir-akhir ini.

Sabenarnya bukan hanya Kuroko saja yang bertingkah aneh, sih. Babu-babunya, eh, maksudnya teman-teman basketnya yang lain juga demikian. Mereka jadi sering caper alias cari perhatian padanya. Akashi sih tidak peduli. Yang penting mereka tetap mengikuti semua perintahnya maka itu tidak masalah. Meski pada awalnya Akashi merasa risi diperhatikan dengan berlebihan oleh teman-temannya, tapi pada akhirnya Akashi menikmati saja.

Terkadang Akashi akan memanfaatkan mereka untuk hal-hal kecil seperti menyuruh mereka mengambilkan minuman, memijiti kakinya, dan lain-lain dengan tanpa bantahan. Mereka bahkan terlihat tak keberatan diperlakukan seenaknya oleh Akashi. Akashi senang. Ia merasakan hidup seperti seorang raja yang dimanja oleh para budak-budaknya. Ah, hidup itu indaaah.

Tapi, dari pengamatan Akashi, Kuroko menjadi lebih aneh dari yang lainnya. Mungkin dia satu-satunya yang tidak mau mendekatinya. Apa cowok baby blue itu kembali benci padanya? Namun anehnya, saat tidak sengaja berhadapan langsung dengannya, Kuroko tampak senang-senang saja.

Akashi mengedikkan bahunya tidak peduli. Bukan urusannya juga. Namun, kenapa ada perasaan gak nyaman ya? Rasanya ada yang tidak lengkap tanpa si pemain bayangan itu. Uwah, perasaan apakah ini?

:D:D:D

Lama kelamaan, orang-orang di sekeliling Akashi semakin bertingkah berlebihan. Kuroko yang melihat dari kejauhan merasa terusik.

Contoh salah satunya, saat bel istirahat berbunyi, Kuroko berniat membeli makanan di kantin sendirian. Tapi, sialnya, Kuroko harus membatalkan niatannya ketika melihat penampakan berupa kerumunan siswa siswi yang didominasi oleh para cewek tengah bergerombol menyesakkan seisi kantin.

Awalnya Kuroko bingung. Memangnya apa yang terjadi sampai kantin begitu ramai?

Pertanyaan itu langsung terjawab oleh beberapa cewek yang meneriaki nama si kapten basket. Saat itu juga Kuroko langsung balik badan.

Selain itu ada pula kejadian yang membuat Kuroko ingin meninju seseorang.

Kejadiannya saat ia berangkat sekolah. Kuroko tidak sengaja melihat mobil Akashi yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berpijak.

Kuroko langsung menghentikkan langkahnya dan bersembunyi dibalik tiang listrik sambil menunggu kepergian si merah dari sana.

Namun, saat itu juga, sepasang manik biru bulat milik Kuroko membola begitu melihat seseorang yang turun dari pintu kemudi mobil sedang menepuk-nepuk kepala Akashi dengan wajah macam om-om pedo. Lalu Akashi membalasnya dengan mengukir seulas senyuman paling bahagia di sepasang bibirnya.

Ada perasaan tidak suka melihat pemandangan menyesakkkan itu. Entah kenapa perasaan marah, iri dan cemburu begitu membuncah dalam diri Kuroko. Pertanyaan-pertanyaan berupa, siapa om-om itu? Apa om-om itu supir Akashi? Kok seorang supir sampai segitunya memperlakukan si majikan? Kenapa Akashi begitu bahagia pada orang yang Kuroko anggap supir itu? Kenapa Akashi tidak protes diperlakukan begitu oleh seorang supir? Kenapa bukan dirinya saja yang disenyumi? Kenapa? Kenapa? Kenapa woi!

Nah loh, kok, Kuroko bisa mikir begitu?

Kuroko membenturkan kepalanya beberapa kali pada tiang listrik begitu sadar dengan apa yang dipikirkannya. Padahal Kuroko sudah jaga jarak dengan Akashi, tapi kenapa dia masih terpengaruh efek minuman itu, sih?!

Kuroko tidak tahu saja kalau itu bapaknya Akashi.

...

Harinya yang suram menjadi lebih suram. Kuroko jadi gegana alias gelisah, galau dan merana.

Kalau dipikir-pikir, rencana Momoi untuk membuat teman basketnya akrab lagi memang sudah setengah terwujud sih. Buktinya Aomine, Murasakibara, Kise, dan Midorima jadi sering bersama. Tapi kalau lagi ada Akashi, doang. Dan mereka seperti caper gitu dengan Akashi. Sedangkan yang dicaperi malah memanfaatkan mereka untuk kesenangannya sendiri. Tidakkah Akashi sadar kalau Kuroko tidak suka ada orang lain yang dekat-dekat dengan Akashi?

Eh, tunggu sebentar. Kenapa Kuroko mikir begini lagi?!

Wah, gawat nih. Efek minuman itu benar-benar warbyazah. Saking warbyazah-nya, Kuroko sampai jadi begini.

Ini tidak boleh dibiarkan. Kuroko harus menghentikkan kegilaan ini. Tapi, tapi, tapi ... masa iya, Kuroko harus melakukan 'itu' dengan Akashi, sih?!

Kulit putih pucat Kuroko semakin memucat begitu membayangkan jika ia benar-benar melakukan hal itu pada Akashi.

"Momoi-san, sabenarnya aku sudah tidak tahan lagi melihat Akashi-kun diperhatikan sampai segitunya oleh banyak orang. Aku tidak tahu kenapa aku jadi terkesan cemburu pada orang-orang yang menempeli Akashi. Aku tidak mau jadi seperti ini. Aku ingin seperti dulu saja. Tidakkah ada cara lain untuk menghilangkan efek itu?" ucap Kuroko mengeluarkan semua uneg-unegnya dengan curhat pada si gadis pink.

Akashi memang sudah berkepribadian seperti dulu lagi seperti yang Kuroko harapkan sebelum semua ini terjadi. Namun kalau jadinya malah membuat Kuroko galau begini, Kuroko lebih memilih untuk membiarkan Akashi menjadi Akashi bermata belang saja. Meski Kuroko tidak suka Akashi yang itu, tapi setidaknya ia tidak perlu merasakan perasaan aneh ini lagi.

Dahi Momoi mengerut dalam. Cewek itu tidak tahu mau menjawab apa. "Entahlah, Tetsu-kun. Mbah dukun itu bilang cuman begitu caranya."

Kuroko terdiam lama. Lalu ia mengacak-acak surai birunya yang lembut dan tersisir rapi menjadi berantakan. Kuroko mulai frustasi. Sepertinya hanya itu saja solusinya.

Merasa tidak ada yang perlu dikatakannya lagi pada Momoi, Kuroko berpamitan untuk pergi ke kelasnya.

Momoi memandang punggung si pemain bayangan yang tampak lesu itu. Ia jadi semakin tidak tega. Momoi harus menbatu Tetsu-kun-nya. Walau bagaimana pun ini kan ulahnya. Mungkin Momoi perlu datang ke mbah dukun itu lagiuntuk mencari solusi lainnya.

...

Tbc

Chap dua segini dulu ya coy!

Btw, makasih buat yg udah baca di chap sebelumnya loh ya. Ane seneng pake banget kalo ada yg nge-review, ehehe #peluk cium