"DAZAI OSAMU, KEMBALIKAN PONSELKU!"

Teriakan menggelegar itu datang dari kelas 11 MIPA 2 yang sedang ramai gara-gara jam istirahat. Tak lama kemudian, seorang pemuda berhelai cokelat dengan seragam berantakan berlari keluar seraya tertawa-tawa, diikuti seorang gadis berkacamata yang kelihatan kesal sekali. Tanpa memerdulikan siswa-siswi lain yang memperhatikan, keduanya berkejar-kejaran di sepanjang koridor kelas 11 MIPA.

"DAZAI!!!"

"Gak mau, huahahahahahaha!" Pemuda yang dipanggil Dazai itu tertawa lagi. Kunikida makin kesal, sontak menambah kecepatan supaya Dazai bisa terkejar. Dazai juga sama—menambah kecepatannya, bahkan berani masuk ke koridor kelas 11 Sosial yang isinya kebanyakan preman sekolah itu (walau sebenarnya Dazai tidak perlu khawatir, karena ia kenal baik pentolan kelas 11 Sosial 3 yang katanya hobi memimpin tawuran lawan SMK di sebelah SMA mereka).

Kejar-kejaran antar warga kelas biasa dengan ketua kelasnya ini sebenarnya dikarenakan ponsel Kunikida yang tiba-tiba ada dalam genggaman Dazai. Kunikida menitipkan ponselnya untuk di-recharge di salah satu stop kontak di kelas pada salah satu temannya selama ia pergi ke ruang guru. Begitu kembali tahu-tahu ponselnya ada pada Dazai, sudah lepas dari kabel charger, dan sedang dipakai selfie-selfie narsis macam selebgram masa kini.

"Kembalikan, Dazai!"

Tersisa dua menit sekian detik sebelum bel berakhirnya istirahat berbunyi. Mengingatnya membuat si gadis berkuncir kembali mempercepat laju sementara Dazai di depan sana masih berlari dengan tawa yang minta ditabok.

Jarak antar keduanya yang makin menipis membuat Kunikida berhenti berteriak memanggil. Tangannya dengan cekatan mencekal kerah seragam Dazai, lantas menariknya dan membantingnya di tempat—terima kasih pada judo yang dipelajarinya bertahun-tahun sampai meraih sabuk hitam, Kunikida dapat melakukan semuanya dengan mudah.

Kejar-kejaran tersebut akhirnya berhenti. Dazai mengaduh, mengeluhkan bokong yang mendarat duluan di atas semen.

"Kunikida jahat ih!"

"Biarin." Kunikida mendengus. Karena Dazai sudah tak bisa apa-apa Kunikida langsung merebut ponselnya tanpa pikir dua kali. Gallery langsung dibuka, sekitar belasan foto selfie Dazai Osamu yang berpose (sok) ganteng tanpa dasi abu-abu terpampang dalam folder kamera.

Dazai merengut. "Fotoku jangan dihapus," pintanya.

Dahi Kunikida mengernyit. "Apa untungnya nyimpen fotomu, coba?"

"Aku kan ganteng, kali aja nanti minat." Cengirannya yang seolah tanpa dosa itu langsung disambut jitakan tak tanggung-tanggung. Dazai mengaduh lagi, sementara Kunikida langsung mengantongi ponselnya dan menyeret Dazai buat kembali ke kelas. Bel masuk baru saja berbunyi tadi.

Tidak ada yang tahu, bahwa begitu Kunikida membersihkan gallerynya dari foto-foto selfie Dazai, salah satunya tetap ia simpan dan disembunyikan di folder lain. Yah, diam-diam ia mengakui perkataan pemuda itu sebelum dijitaknya, sebenarnya.

.

.

.

Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka and Harukawa Sango

[note: Indo!AU, school!AU, fem!Kunikida]

special for kunikidaderai's birthday (Dec 28)

Thank you for reading!

.

.

.

Ini nulis apaan ga tau lagi sudah. Buat ultahnya Derai sebenernya, samaan ama promptnya yg kemaren2, "ketampanan" :')

Pokoknya, habede Derai! :D Moga panjang umur, sehat selalu, yang baek2 pokoknya :D