Mungkin dahulu saat masih berada di sekolah dasar dan menengah, semua orang menganggap keluarga Hinata adalah keluarga keturunan ningrat nan kaya. Kehidupannya penuh dengan cinta. Apa pun yang gadis itu inginkan, pasti akan dengan sangat mudahnya tersedia. Bahkan gadis itu seringkali dipanggil dengan putri manis dari Hyuuga.
Ditilik secara klise, banyaknya cerita akan manusia terlahir ningrat tidak merasakan apa yang namanya bahagia. Kata mereka, pasti bakal terkekang selamanya. Namun tidak juga, Hinata merasa biasa-biasa saja.
Lagi pula, Hyuuga memang tidak semewah yang dipikirkan orang-orang di luar sana. Daripada mewah, Hyuuga lebih tepat dikatakan sebagai sekumpulan manusia kuno yang masih setia mempertahankan budaya. Upacara minum teh yang biasa disebut dengan chanoyu, dalam keseharian Hinata adalah hal yang sangat biasa mereka lakukan tiap bulannya. Di rumah besar bergaya tradisional milik keluarganya bahkan memiliki chashitsu, dan gadis itu bahkan memiliki kemampuan untuk otemae—yang sudah dikuasainya sejak lama.
Namun, hampir tiga tahun ini Hinata tak lagi berada di Kyoto—sebuah tempat yang diselamatkan oleh Henry Stimson dari target bom atom Amerika pada tahun 1945 dikarenakan penuh dengan kultural pula sejarah penting yang mungkin tidak akan bisa didapatkan kembali jikalau harus luluh lantak. Gadis itu berusaha keras untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta ternama—Waseda jurusan International Liberal Studies dengan berfokus pada Hubungan Internasional.
Saat Hinata berada di sini, Tokyo, semuanya sama. Tak lagi ada pandangan bahwa Hinata anak keturunan ningrat dan perbedaan dalam bersikap dengan sang gadis.
Agak sulit memang untuk mendapatkan restu dari keluarga, apalagi Hinata itu anak perempuan dan gadis yang menjadi cerminan dari mendiang sang ibu. Hiashi—ayah Hinata—sempat menolak, tetapi setelah memohon dan berusaha keras untuk menunjukkan potensinya; ayahnya pun luluh. Dengan catatan bahwa tiap minggunya Hinata seringkali dikunjungi oleh Neji—sepupu laki-lakinya yang memang kini tinggal di Tokyo. Sepupunya itu memang seringkali mengunjunginya bahkan sesekali menginap. Namun, Hinata sama sekali tidak keberatan. Neji adalah mahasiswa tahun terakhir Universitas Tokyo, universitas yang bahkan berada di tingkat atas dari universitasnya. Sepupunya itu tak pernah berisik ataupun melaporkannya macam-macam. Karena pada dasarnya, Hinata juga tidak pernah melakukan catatan kriminal dan kenakalan sedikit pun selama ini. Bahkan akhir-akhir ini, Neji juga jarang datang karena sibuk dengan skripsinya. Dan tentu, Hinata akan begitu juga tahun depan. Mungkin saja gadis itu tak lagi bisa membaca novel dengan santainya seperti sekarang.
Matanya kembali membaca kata per kata cerita yang tersaji, bukan dengan kanji, hiragana, ataupun katakana—Hinata memilih untuk membaca novel berbahasa Inggris yang merupakan bahasa asli karya tersebut. Hingga sebuah suara memecah sunyi di telinga sang gadis.
Sekarang Sedang Jatuh Cinta (c) faihyuu
Naruto (c) Kishimoto Masashi
Rated T
Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC, dsb.
Terinspirasi dari lagu JKT48/AKB48 yang berjudul sama, Sekarang Sedang Jatuh Cinta (Tadaima Renaichuu). Walau tidak benar-benar terlalu mirip dengan lagunya, hehehe.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
Fanfiksi ini ditulis merayakan ultahnya waifu sang Nanadaime Hokage—Uzumaki Naruto, yang tersayang Uzumaki Hinata dan untuk memeriahkan #EventNHIndo (Because of NaruHina).
"Hinata." Gadis itu mendongak, mendapati rambut kuning cerah milik Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang sangat suka tersenyum. Naruto yang Hinata kenali sebagai teman satu angkatannya, mereka juga memiliki beberapa kelas yang sama.
"Ya, Naruto-kun. Ada apa?" Senyum Hinata mengurva, pipinya sedikit memerah karena merasa malu—sang pemudi baru menyadari bahwa posisinya dan si Uzumaki terlampau dekat. Kini mereka berada di perpustakaan universitas yang hening. Oleh karena itu, suara Naruto terdengar pelan dan bahkan pemuda itu seakan-akan merapatkan diri ke arah sang gadis agar dapat didengar jelas tanpa memicu keributan.
Pemuda itu mengeluarkan laptop dari tasnya, menghidupkan kembali perangkat yang tadinya diatur untuk tidur sebentar dan menunggu loading. Dan Hinata bisa melihat wajah samping sang pemuda yang tampak dekat dan indah. Gadis itu tercekat.
"Aku ingin bertanya," Dengan cepat Hinata mengalihkan pandangannya ke arah laptop sang Uzumaki, Naruto kini mengarahkan kusornya untuk masuk ke dalam sebuah perangkat lunak pengolah kata sejuta umat. "Makalah sejarah benar dibuat seperti ini 'kan?"
Sekilas Hinata dapat melihat judul yang dipilih sang pemuda; Diskriminasi Ras dalam Karya Sastra. Membuat Hinata yang memang mencintai sejarah dan tahu berapa hal yang kiranya berhubungan dengan judulnya menjadi penasaran juga akan apa isi makalah Naruto. "Bisa kulihat lagi sebentar?"
"Tentu." Naruto menggeser laptop ke arah gadis itu.
Sementara Hinata kini terfokus pada makalah di program pengolah kata, meresapi tiap bab dan menangkap hal-hal yang kiranya penting. Kebetulan sang gadis memang sudah menyelesaikan tugas itu sejak awal, bahkan sudah dikumpulkan dan menerima nilai yang lumayan memuaskan.
"Ah, aku tidak tahu kalau Hinata sedang membaca buku The Bluest Eye juga. Kebetulan, ya."
Segera suara itu membuat sang dara Hyuuga menoleh, dan mendapati Naruto memegang buku yang memang sedari tadi dibaca olehnya. Baru menyadari pula bahwa buku yang dibacanya juga tersebut jelas dalam makalah milik si Uzumaki.
The Bluest Eye yang merupakan sebuah sensasi pada masanya. Karya sastra yang mengangkat isu diskriminasi rasial kulit hitam dengan latar waktu tahun 1960-an. Tentu makalah Naruto relevan dengan novel yang sedari tadi Hinata baca.
"U-uhm, kebetulan, ya. Omong-omong, sudah benar, Naruto-kun. Hanya saja aku masih menemukan beberapa kutipan yang tahunnya agak lama. Apa bisa diganti dengan kutipan tahun yang lebih baru? Ini tugas Ebisu-sensei, loh."
Naruto menahan pekikan, pemuda itu tampak konyol di mata Hinata. Namun hal itu tak dapat mengenyahkan rasa berdebar-debar di dada sang gadis.
"Terima kasih, Hinata. Astaga, kalau tidak dikoreksi olehmu dulu, bisa-bisa Ebisu-sensei bakal mengomel dan menjadikan kelas minggu depan ceramah dadakan tentang kevalidan sumber karya tulis."
Gadis itu hanya bisa tersenyum geli, sedikit mengingat bahwa dosen yang menugaskan mereka untuk membuat makalah ini merupakan seseorang yang lumayan perfeksionis dan agak galak soal orisinalitas karya tulis para mahasiswa.
Sang pemuda Uzumaki mulai berkutat pada laptopnya, dan Hinata agak ragu untuk kembali menyalami diksi demi diksi yang ditorehkan seorang pemenang nobel kesustraan tahun 1993, Toni Morisson. Karena bagaimanapun juga, buku ini nyatanya sudah dibacanya lebih dari lima kali—dan pemandangan pemuda bermata biru asli di sampingnya ini benar-benar tidak bisa membuat fokus.
Maka Hinata mimilih rencana B, rencana yang baru saja terbersit dalam benak sang gadis.
Pura-pura membaca buku, dan memerhatikan wajah Naruto yang kini benar-benar berada di samping dirinya. Tangan mereka hampir bersentuhan di atas sebuah meja panjang yang sama, dan bahkan Hinata berharap agar detak jantungnya tak terdengar jelas oleh pemuda di sampingnya ini.
Sesekali pula gadis itu sedikit menahan tawa karena gerutuan sang pemuda. Entah agak sulit menemukan sumber yang valid ataupun gumaman kelaparan dan ingin menyantap tonkotsu ramen—Naruto dan ramen memang tak dapat terpisahkan, pemuda yang agak nyentrik itu bahkan selalu menyebutkan makanan favoritnya itu ketika berkenalan dengan semua orang.
Baiklah, ini sebuah pengakuan atas sebuah perasaan.
Hinata jatuh cinta.
Kepada siapa? Tentu saja, bukankah sudah jelas?
Hinata jatuh cinta pada Uzumaki Naruto, pemuda yang berada di sampingnya ini.
Gadis itu hanya bisa memendam dalam hati seluruh perasaan dan afeksi, tak berani mengucap apalagi melakukan. Hinata tahu, dia merupakan gadis pemalu dan memiliki keberanian yang mungkin hanya sebesar kacang polong.
Naruto tampak seperti musim panas, walaupun nyatanya pemuda itu lahir di musim gugur. Rambutnya kuning cerah, bagai matahari. Matanya sebiru langit cerah di musim panas yang menyenangkan.
Apalagi senyum Naruto, senyum yang bebas dan luwes dalam melengkungkan kurva bibir. Senyum yang terasa selalu mengandung kebaikan dan ketulusan. Tawa renyah ataupun suara pemuda yang entah mengapa selalu membuat Hinata merasakan ketenangan dan dilimpahi kebahagiaan.
Jangan lupakan juga dengan semangat tinggi yang dimiliki sang Uzumaki. Pemuda itu memang bukan tergolong manusia-manusia pintar yang mendominasi Waseda saat ini, tetapi pemuda itu seorang pekerja keras yang selalu Hinata kagumi. Naruto selalu berusaha melakukan yang terbaik di dalam hidupnya. Pemuda itu seorang blasteran Jepang-Amerika yang kini tinggal seorang diri di Tokyo. Ya, Hinata tahu dan hal ini sudah dikonfirmasi sendiri oleh yang bersangkutan; Naruto adalah seorang yatim-piatu semenjak sekolah dasar. Pemuda itu sebenarnya bisa saja menikmati hidup enak bersama dengan para saudara dari pihak sang ayah di Amerika sana daripada di Jepang, tempat sang ibu berasal. Namun, Naruto lebih memilih untuk tinggal di sini sejak sekolah menengah dan berjuang dengan segala kehidupannya seorang diri. Begitu pula, Hinata sering menemukan Naruto yang bekerja sampingan di salah satu konbini setiap pulang kampus sampai tengah malam.
Bisa dibilang, selain jatuh cinta pada rupa—Hinata juga jatuh cinta dengan segala yang melekat pada sang Uzumaki. Dari kelebihan, bahkan pula kekurangan sang pemuda.
Hinata menjadikan selalu Naruto panutan, setelah gadis itu mengenal bagaimana cerita pemuda itu.
Manik kecubung pucat milik sang Hyuuga kembali melirik pemuda di sampingnya secara diam-diam. Hinata mengurvakan tubir.
Begini saja cukup. Sang gadis Hyuuga sudah merasa bahagia dengan hubungan mereka sekarang; sebatas teman.
"Hinata," Ketika suara itu memanggilnya, maka manik gandaria keperakan bertemu dengan biru langit cerah musim panas yang menyapa. Hinata yakin wajahnya mungkin semerah kepiting rebus sekarang. Gadis itu berdoa agar Naruto tak menyadari bahwa dirinya tadi menatap diam-diam sang pemuda.
"A-ada apa?"
"Apakah hari Sabtu nanti kau ada waktu?"
"Eh?"
•••
Di sinilah Hinata sekarang. Di sebuah kafe sederhana yang nyatanya menjadi favorit sang gadis karena kelezatan pastri yang ditawarkan, apalagi ada gulungan kayu manis. Mungkin kafe itu belum terlalu terkenal, menjadikan tak banyak orang yang tahu. Namun Hinata bisa menjamin kualitas cita-rasa.
Sepotong gulungan kayu manis dan americano menemani sang gadis. Biasanya Hinata bakal berkutat pula dengan tugas atau baca-bacaan yang lumayan berat, tetapi hari ini tidak seperti itu.
Kecubung pucat Hinata menangkap visualisasi pemuda yang dikenalinya sebagai pembuat janji kemarin hari, dengan tergopoh-gopoh Naruto hadir dan duduk di hadapan sang Hyuuga. Wajah Hinata memerah dengan nakalnya.
"Maaf, Hinata. Aku terlambat, ya?"
Dengan segera Hinata menggeleng, "Tidak, kebetulan aku memang datang terlalu awal dari janji temu, kok."
"Syukurlah, hehehe. Tadi aku merasa agak terlambat karena habis dipanggil oleh manajer konbini. Biasalah, gajian." Pemuda itu terkekeh pelan saat mengatakannya.
Katakanlah Hyuuga Hinata seperti gadis sekolah menengah yang baru saja ditembak oleh pemuda yang disukai. Namun memang begitulah keadaan Hinata akhir-akhir ini.
Ajakan yang terdengar seperti ajakan kencan terucap bagai lagu cinta dari bibir Naruto tiga hari yang lalu, saat keduanya bertemu di perpustakaan kampus nan sepi. Dan bukanlah suatu kebohongan jikalau saat sampai di apartemen sederhana yang dihuninya, Hinata menjerit bahagia sendirian seperti orang gila. Bahkan gadis itu juga tidak tidur selama langit masih menjadi gelap pada hari kemarin. Untung saja hari ini memang sedang menjadi kawannya sang Dewi Fortuna, tidak ada kelas—karena hari ini memang hari Sabtu.
Maka dari itu pula americano yang menemaninya kali ini, bukan latte atau café au lait. Namun tak masalah, Hinata juga cinta kafein selain cinta pastri. Kopi hitam arabika saja kini telah berkawan dengan lidah gadis itu semenjak mengenal yang namanya begadang. Pula gadis itu sengaja datang lebih cepat untuk mempersiapkan dirinya untuk menemui sang Uzumaki. Entah sekadar mengatur suara dan menahan diri agar tidak meledak-ledak.
"Aku tidak tahu kalau kau suka kopi," Naruto kembali bersuara, setelah pemuda itu memesan latte dan croissant. "Americano lagi, pahit. Aku tidak terlalu suka."
Hinata tersenyum, sudah menjadi rahasia umum jikalau Naruto terkadang memiliki selera yang kekanak-kanakan. Pemuda itu lebih menyukai coklat manis, gula-gula, dan semacamnya. Selain ramen yang memang sudah menjadi keseharian pemuda itu, pastinya.
Selera Naruto memang sedikit tidak sehat, dan suatu hari Hinata berharap agar pemuda itu dapat memperbaiki pola makannya. Kalau bisa sih, dengan dirinya.
Baiklah, wajah Hinata mulai memerah lagi ketika memikirkannya.
"T-tidak sesuka itu sih. Hanya saja kafein itu perlu saat nugas."
"Nugas memang menyebalkan," Naruto tertawa kecil. "Dan gulungan kayu manis, jangan bilang kau selalu memesan ini tiap ke kafe?"
Hinata menunduk, wajahnya makin memerah. Ketika Naruto tak terpisahkan oleh ramen, maka Hinata pula tak terpisahkan dari gulungan kayu manis kesukaannya. Gadis itu sangat suka gulungan kayu manis, sampai-sampai mempresentasikan pastri itu ketika membahas Eropa Utara. Jangan lupakan juga fakta bahwa sebelum kelas berlangsung, setidaknya banyak orang dapat menemukan gadis itu selalu menyantap gulungan kayu manis di salah satu bagian dari halaman Waseda yang luas.
Tawa Naruto makin renyah ketika Hinata tak mampu untuk bersuara. "Tidak apa-apa, kok. Gulungan kayu manis memang enak, kurasa aku sedikit suka. Walau enggak sesuka sama ramen."
"Y-ya, mau bagaimana lagi. Aku suka gulungan kayu manis sejak aku kecil dan kenal pastri. Omong-omong, Naruto-kun memangnya mau mencari buku yang seperti apa?"
Hinata harus mengingatkan dirinya lagi, ini bukan kencan. Naruto hanya meminta bantuannya untuk menjelajahi Jinbocho, kawasan di Tokyo yang terkenal sebagai pusat toko buku bekas. Kebetulan, hampir tiap dua minggu sekali Hinata selalu menghabiskan waktunya untuk menjelajahi dan menemukan buku-buku menarik di sana. Naruto yang akhir-akhir ini tertarik untuk menambah bahan bacaan berkata bahwa pemuda itu ingin menjelajahi Jinbocho dan menemukan toko maupun bacaan yang menarik. Karena hal itulah Hinata menjadi pilihan sang pemuda.
"Karena makalahku kemarin membahas tentang Toni Morisson si penerima Nobel. Aku jadi penasaran dengan karya-karya penerima Nobel yang lain, apa Hinata bisa memberikanku rekomendasi?" Lontaran kata dan pertanyaan itu tersuarakan, tepat setelah Naruto beranjak tak sampai bermenit-menit untuk mengambil pesanannya yang baru siap. Dan Hinata tersenyum tipis melihat Naruto yang tampak serius memotong croissant dengan garpu.
"Kebetulan sekali, aku memang sedang mencari karya Boris Pasternak jika ada."
Naruto menghentikan suapannya pada croissant. "Boris Pasternak? Sepertinya aku pernah mendengar."
"Penulis dari Uni Soviet yang mendapatkan Nobel Kesustraan tahun 1958, atas karyanya yang membahas kehidupan Uni Soviet."
"Wah, pasti dia penulis yang berbakat."
Senyum Hinata sedikit menjadi kecut. "Ya. Namun setelah mendapatkan Nobel, pamor beliau menjadi turun. Uhm, menjadi jatuh miskin. Dan bisa dibilang penghargaan Nobel yang didapatkannya tidak diakui Uni Soviet. Bahkan Uni Soviet menyuruhnya untuk menolak penghargaan itu, tetapi komite Nobel tidak mempedulikan penolakan dan tetap memasukkannya ke dalam daftar penerima."
Kali ini mata safir benar-benar menatap kecubung pucat. Membuat si pemilik manik sewarna gandaria itu merasakan pipinya makin memanas.
"Eh? Kenapa?"
Hinata menutupi kegugupannya dengan menyesap americano sejenak, dan gadis itu sedikit berdeham. Perasaan campur aduk menghunjam diri sang gadis.
"Pihak Uni Soviet beranggapan karya yang dituliskan oleh Boris Pasternak terlalu menampilkan kehidupan keras dari komunis. Karena itu juga, perjalanan karirnya menjadi tidak mulus."
"A-aku mengerti," Naruto tampak agak tidak nyaman ketika mendengarnya. Hinata rasa wajar saja, Naruto melewati masa kecilnya di Amerika. Dan bayang-bayang nama suatu hal yang disebutkannya tadi, mungkin agak membuat pemuda yang sangat menjunjung tinggi kebebasan ini tidak nyaman. "Hinata tahu banyak, ya."
Cold War.
Sabit mengurva lagi di bibir Hinata. Selama setengah jam ke depan mereka berdua bercengkrama sebelum akhirnya memutuskan untuk berpergian dengan bus.
.
Toko-toko buku di Jinbocho memiliki bau yang menyenangkan dan menenangkan. Bibliosmia, namanya. Aroma buku tua yang selalu berhasil membuat Hinata merasa hangat dan betah. Dan gadis Hyuuga itu senang ketika melihat Naruto yang tampak nyaman mengelilingi tempat ini.
Safir pemuda itu tak pernah redup sinarnya. Lengkungan bibir manis dan penuh dengan aura ceria sepertinya tidak bisa lepas dari sang pemuda.
Di tangan mereka, sudah terdapat bungkusan yang menjadi alasan mengapa mereka hadir kemari. Hinata berhasil mendapatkan dua karya Boris Pasternak dengan edisi terbitan lama, bahkan kertas di buku-buku yang dibeli sang gadis sudah mulai agak menguning dan menguarkan aroma khas. Sementara si Uzumaki mendapatkan terbitan lumayan baru dari buku berjudul lapar karya Knut Hamsun si penerima Nobel tahun 1920 dan mencoba mendalami diksi khas kehidupan malam dari The Flowers of Evil karya Baudelaire.
Langit pun kelihatannya telah membangunkan alarm dalam diri Hinata, bahwa kebersamaannya dengan Naruto akan berhenti sebentar lagi. Hal itu membuat sang gadis merasakan sedikit sesak dan tidak mau berpisah di dalam hati.
Hinata tahu, dirinya benar-benar seperti remaja tanggung masa sekolah menengah yang sedang kasmaran. Padahal usianya telah melewati angka 20, bukan lagi remaja belasan tahun dengan seragam yang lucu-lucu. Namun begitulah yang terjadi, gadis itu tidak bisa menolak fakta bahwa lebih dari lima jam yang dilaluinya bersama sang Uzumaki selalu berhasil membuat jantungnya berdetak kencang, perutnya terasa diisi oleh ribuan kupu-kupu, dan wajahnya mungkin selalu terlihat memerah.
"Ah, tidak terasa sudah jam segini." Naruto berceletuk halus. Memang, jam telah menunjukkan pukul tiga sore. Makan siang sudah terlewat hampir tiga jam lamanya, fakta bahwa mereka belum menyantap apa pun membuat perut Naruto sedikit meringis dan bersuara.
Sang gadis Hyuuga terkekeh geli, sedangkan sang pemuda Uzumaki yang kini memiliki rona merah di wajah sawo matangnya.
"Mau makan ramen? Kebetulan aku juga lapar." Dan kini Hinata bersuara, memberanikan dirinya sendiri untuk memperlama waktu yang dilaluinya bersama sang Uzumaki. Semoga saja pemuda itu juga merestui.
"Tentu saja. Ayo, biar nanti aku yang mentraktirmu!" Cengiran rubah mengembang. Hinata tersenyum senang.
"Tidak usah, biar aku saja yang mentraktir—"
"—tidak, tidak. Biar aku saja yang mentraktirmu."
Mereka berdua terlibat pertentangan manis tentang siapa yang akan membayar ramen pengganti makan siang mereka yang terlambat. Pertentangan yang diselingi gelak tawa sembari menunggu bus untuk pergi ke kedai ramen langganan sang Uzumaki. Hinata yang masih memiliki keinginan besar untuk membayarkan makan siang mereka yang terlambat, dan Naruto yang bersikukuh bahwa hal tersebut adalah tanggung jawabnya—apalagi fakta bahwa pemuda itu merasa senang telah mendapatkan buku dan memang habis gajian, bahkan katanya pemuda itu mendapatkan bonus.
Dari kejauhan, mereka berdua tampak seperti pasangan yang tengah saling bertengkar manja. Hinata sendiri tak paham mengapa dirinya bisa begitu luwes hari ini mengekspresikan perasaan dan keinginannya di hadapan pemuda yang ia cintai. Gugup memang masih menghantui, begitu juga dengan debaran-debaran nan menyenangkan masih mendarah daging. Namun, Hinata suka itu semua dan berharap waktu berhenti sejenak.
Dari kejauhan, manik kecubung pucat Hinata menangkap bus yang mulai mendekat. Begitu juga dengan Naruto.
"Busnya sudah tiba, semoga sepi." Gumam sang pemuda. Dan Hinata hanya dapat mengangguk pelan.
Bus itu pun akhirnya berhenti. Namun sepertinya doa Naruto tak terkabul, karena banyak penumpang yang turun dari bus itu. Dan kedua anak Adam ini juga baru menyadari bahwa lumayan banyak orang yang sama seperti mereka, menunggu bus.
Rupanya kalau sedang kasmaran, dunia rasanya milik berdua. Yang lain rasanya seperti tidak terlihat. Hinata meringis malu.
—GREP
Hinata merasa tangannya digenggam oleh seseorang, dan manik kecubung pucat itu menemukan bahwa Uzumaki Naruto-lah yang kini sedang menggenggam tangannya.
"Jangan jauh-jauh dariku. Ini sedang ramai, Hinata kecil sekali, sih. Takutnya terbawa arus." Naruto mengatakannya dengan nada sedikit menggoda. "Tidak apa-apa, 'kan?"
Membuat Hinata merasakan bahwa dirinya sewaktu-waktu bisa saja meledak, gadis itu memang tidak menjawab. Namun keberanian dalam tindakan yang muncul.
Gadis Hyuuga itu menggenggam balik tangan sang Uzumaki. Tangan Naruto yang terasa besar dan hangat, membawa perasaan Hinata pada sebuah kenyamanan.
Dan Hinata hanya bisa menahan jeritan hatinya ketika Naruto makin mengeratkan genggaman mereka.
.
Dua porsi tonkotsu ramen tersaji. Hinata dengan ukuran sedang, dan Naruto dengan ukuran paling jumbo. Keduanya menikmati ramen itu dengan bahagia. Sesekali pula Hinata menyampirkan anak-anak rambut yang tampak menganggu ke belakang telinga.
Ketika sang gadis Hyuuga kembali melahap ramen dengan anggunnya, tak menyadari adanya anak rambut yang kembali jatuh—tangan kokoh milik sang Uzumaki lah yang melaksanakan hal remeh-temeh tersebut.
Remeh-temeh, tetapi mampu membuat nyawa Hinata hampir tercabut.
"Rambut Hinata lapar juga, ya?" Pemuda itu terkekeh dan menyesap teh hijau dingin yang menjadi teman makan ramen mereka kali ini.
Hyuuga Hinata hampir tersedak karena perlakuan itu. Namun hanya cicitan kecil mengucapakan terima kasih yang terdengar dari bibir sang gadis. "T-terima kasih."
"Sama-sama. Omong-omong, aku yang bayar nanti, ya. Aku 'kan yang selesai makan duluan. Hehehe."
Memang, mangkuk milik sang Uzumaki telah bersih. Berbeda dengan mangkuk sang gadis Hyuuga yang masih tersisa sedikit mie dan topping narutomaki. Dalam bus tadi, mereka menyepakati yang membayar makan siang nan terlambat hampir tiga jam lamanya ini adalah siapa pun yang menghabiskan ramen terlebih dahulu. Dan Naruto lah orang itu. Tadinya sih, Hinata juga sempat menyarankan untuk patungan saja, tetapi pemuda Uzumaki menggeleng menolak; Naruto mengatakan traktiran ini pasti bakal dimenangkannya dan pemuda itu juga berkata bahwa, traktiran ini sebagai ucapan terima kasih.
"Pelan-pelan saja, kalau mau tambah bilang." ucap Naruto sangat santai sembari mulai mengunyah gyoza yang juga mereka pesan sebagai teman makan ramen.
Wajah Hinata benar-benar sudah permen apel sekarang, gadis itu hanya menggeleng pelan. "T-tidak, aku tidak mau tambah, kok. Sudah kenyang."
Hening sejenak. Hinata berhasil menghabiskan ramen dan menyesap teh hijau dinginnya. Dengan patah-patah gadis itu melirik pemuda yang ada di sebelahnya.
"Hinata." Naruto memanggilnya tiba-tiba, dan Hinata merasa hari ini dia juga seringkali mendapat serangan jantung dadakan.
"Y-ya?"
"Terima kasih, ya."
Kali ini benak sang gadis dipenuhi pertanyaan. "Untuk apa?"
Naruto tersenyum, membuat Hinata merasa seperti tersengat.
"Tentu saja karena kau sudah menemaniku hari ini."
Mendengar hal itu, kini Hinata lah yang tersenyum. "Harusnya aku yang berterima kasih, Naruto-kun. Biasanya aku akan mengelilingi Jinbocho sendirian tanpa teman, 'kan sama sekali tidak seru. Kali ini ada Naruto-kun, makanya terasa menyenangkan. Lagi pula, semangkuk ramen juga sudah mengenyangkan perutku, kok. Terima kasih, ya, Naruto-kun. Kau teman yang baik."
"...hanya teman, ya." Pelan, gumaman itu sangat pelan. Mungkin kedai ramen ini memang sedang lumayan ramai, tak bisa dibilang sunyi. Namun Hinata tetap dapat mendengarnya dengan jelas. Apalagi fakta bahwa jarak mereka saat ini sangat-sangat dekat, hampir sedekat keadaan mereka di dalam bus yang selalu berhasil membuat Hinata berharap-harap agar detak jantungnya tak dapat didengar pemuda di sebelahnya ini.
Gadis itu menjadi bertanya-tanya, apa maksudnya pernyataan dalam gumaman pemuda itu tadi?
Apakah dia tidak senang saat Hinata menganggapnya teman, ataukah—
—sebuah asa bagi perasaan sang gadis?
Enam tahun masa sekolah menengahnya, Hinata habiskan dengan menjadi siswi sekolah khusus pendiam yang takut untuk bersuara di Kyoto. Namun, kali ini Hinata memberanikan diri untuk setidaknya memanggil sang pemuda sekarang.
"N-Naruto-kun."
"Hmm?" Naruto menoleh, pipinya masih menggembung karena masih mengunyah gyoza. Lucu, Hinata melihatnya seperti hamster yang pernah dipelihara Hanabi sang adik ketika makan camilan kesukaan Hinata.
"Y-yang tadi, apa maksudnya?"
Apakah pemuda di sampingnya ini, memiliki perasaan yang sama?
Semua orang punya harapan, 'kan?
.
.
Selesai?
.
.
Chasitsu: ruang yang dipakai dalam upacara minum teh.
Otemae: semacam seni dalam menyajikan teh dalam upacara minum teh.
A/n: /lap keringet/ akhirnya selesai. Tolong ini hanya OS. Jangan minta sekuel, ya. Karena bingung mau dilanjutkan apa.
Omong-omong, HAPPY BASUDAY HINATA! UwU ~ Ratu hatinya Uzumaki Naruto, dan mama dari dua krucil gumush Boruto dan Himawari. Terima kasih telah menjadi inspirasi saya selama ini. ( ..‿.. )
Mohon maaf, itu kursinya tolong diturunkan dahulu pembaca yang terhormat. Saya hanya sedikit ingin bercanda saja. Masih ada sedikit tambahan di bawah author note ini. Semoga memuaskan.
.
.
"Sakura-chan, aku sedang menyukai seorang gadis."
Ketika suara agak cempreng itu terdengar, manik zamrud milik Sakura membulat. Jemarinya yang tadi setia berdansa di atas keyboard dan kusor terhenti.
"...bukan aku, 'kan?"
Decakan yang terdengar itu membuat rasa penasaran Sakura menunggu hingga melewati ubun-ubun bahkan.
"Siapa gadis yang kurang beruntung itu?"
"Ish," Naruto mencebik kesal. Pemuda itu mengunyah biskuit yang tadinya sengaja sang gadis Haruno beli dan letakkan untuk sekadar menemaninya dalam mengerjakan tugas. "Teman kampusku. Satu jurusan bahkan."
"Adik tingkat? Atau kakak tingkat?"
"Seangkatan."
Jeritan terdengar. Dan tawa meledak dari seorang pemuda.
"Berisik, Dobe!" Suara dingin seorang pemuda lainnya menyapa telinga kedua anak manusia itu. Dan Sakura hanya bisa terkekeh sembari mengucapkan maaf pada Sasuke sang pemilik suara tadi.
"Maaf, Sasuke-kun."
"Hey, Sakura-chan juga menjerit! Tetapi kenapa hanya aku saja yang kena, ttebayo?!"
Uchiha Sasuke yang kini sedang berada di dalam satu ruangan, tetapi memilih berada di pojok untuk menghindari sang pacar merah muda dan sohib kuningnya nan berisik. Pemuda Uchiha itu memang akan menjalani wawancara daring dengan perusahaan tempatnya magang nanti.
"Pulang saja ke apartemenmu, Dobe."
"Kalau begitu usir juga Sakura-cha—AW!"
Sebuah buku lumayan tebal kedokteran melayang di atas kepala sang Uzumaki. Garis bawahi kata lumayan. Karena jika setebal buku-buku kedokteran lainnya, mungkin Naruto bakal mati.
"Ceritakanlah, dengan suara yang pelan. Atau aku akan membuat pipimu biru."
Bibir Naruto mengerucut. Salah memang dia menceritakan perasaannya kepada Sakura, apalagi di apartemen lumayan mewah milik Sasuke. Banyak sekali aturannya. Mereka berdua memang sahabat baiknya, Uchiha Sasuke yang kini mengambil jurusan ekonomi di universitas Tokyo itu setidaknya merupakan rivalnya dari sekolah menengah bahkan sampai saat ini. Ya, walaupun rival secara sepihak, sih. Dan gadis merah muda di hadapannya ini adalah Haruno Sakura, gadis yang pernah menjadi sasaran gombal rasa suka monyetnya semasa sekolah menengah dahulu karena gadis itulah yang paling vokal mendukung sang Uchiha muda daripada dirinya. Sakura yang kini mengambil studi kedokteran di universitas yang sama dengan sang pacar.
Namun, mau bagaimana lagi, hanya hari Sabtu dan Minggu lah hari libur milik sang Uzumaki. Hari Senin sampai dengan Jumat, pemuda itu sibuk dengan kuliah dan bekerja sampingan di konbini.
Omong-omong, dalam lingkup persahabatan ini, Naruto-lah yang paling muda di antara mereka. Yang paling-paling juga badungnya. Dan ketika Naruto tiba-tiba saja berkata menyukai seorang gadis, tentu saja Sakura dan juga Sasuke—pemuda itu kini hanya mengenakan satu earphone untuk menutup telinganya—sangat-sangat penasaran dengan cerita yang akan terlontar dari pemuda Uzumaki itu.
"Jadi, aku sedang menyukai seorang gadis. Hmm, mungkin juga...ke dalam tahap cinta."
Mata Sakura memicing serius. "Lalu?"
Dan sang gadis Haruno harus menahan jeritannya ketika menemukan sahabat kuningnya yang nakal keterlaluan itu merona. Iya, merona. Terdapat rona merah di pipi bergaris milik pemuda Uzumaki itu.
"Dia gadis yang sangat baik dan rajin. Pintar, pokoknya." Naruto sengaja memberi jeda. "Dia juga cantik dan sangat manis, pipinya agak tembam sih, tetapi tidak juga gemuk. Pipinya juga suka sekali merona, lucu deh, mengingatkanku akan Oshin. Rambutnya nila panjang, aku bertaruh bahwa rambutnya tebal dan sangat halus. Uhm, kalau dilihat dari barang-barang yang selalu digunakannya, dia kelihatannya suka warna ungu pastel. Namun, ya, memang warna itu benar-benar juga melekat padanya. Matanya memang ungu pucat, sedikit ada kesan perak. Dan matanya juga bulat bagai leci, jadi kadang aku melihat matanya seperti bulan purnama. Matanya melengkapi malam dengan warna rambutnya."
Sakura terlihat sangat antusias, tugasnya terbengkalai begitu saja. Naruto yang berdiksi apik, tetapi tidak terlalu gombal murah seperti yang pemuda itu lakukan padanya dahulu sangat menarik untuk didengar. Membuat sang gadis Haruno merasa kagum pada siapa pun yang berhasil membuat sahabat karibnya—bahkan pemuda yang Sakura anggap sebagai adik laki-lakinya ini jatuh cinta sebegini dalamnya. Apalagi, pandangan safir itu nampak meneduh ketika menceritakan hal itu. Sesuatu yang sangat asing, tetapi membahagiakan.
"Dia suka sekali dengan gulungan kayu manis. Dia juga suka dengan beberapa pastri, tetapi aku selalu dapat menemukannya yang sedang makan gulungan kayu manis, sih. Bahkan, saking cintanya dia dengan gulungan kayu manis—dia mempresentasikan hal itu ketika materi tentang Eropa Utara berlangsung."
"Seperti kau dan ramen?"
Entah sudah berapa menit waktu yang terlewat, tetapi Sasuke bahkan telah menyelesaikan wawancara singkat kurang dari lima menit. Karena pada kenyataannya, Sasuke hanya ditelepon video untuk memastikan keaslian data-data saja. Bahkan pemuda itu juga bergabung di samping kekasihnya dan melontarkan pernyataan bernada pertanyaan.
Naruto mengangguk, "Dia juga..."
Kedua pasangan gagak dan musim semi setia menunggu.
"Wangi tubuhnya terasa berbeda daripada gadis-gadis yang lain. Baunya lembut. Seperti harum aromaterapi lavendel, tetapi juga terdapat harum seperti vanila. Bau yang selalu membuatku merasakan detak jantungku berdebar dengan keras tiap kali kami berdekatan. Suaranya juga sangat lembut dan halus. Aku selalu ingin mendengar suaranya, apalagi saat dia memanggil namaku. Omong-omong, dia itu juga polyglot. Bahasa Inggrisnya sih jangan ditanya. Dia juga bisa berbahasa Mandarin, bahasa Indonesia, bahasa Korea, dan sedikit bahasa Spanyol. Keren kan? Dosen bahasaku selalu saja memujinya tiap waktu, tetapi dia memang layak mendapatkannya.
"Terus, dia itu juga sangat suka membaca. Aku selalu menemukannya sedang membaca karya-karya sastra berdiksi tinggi dengan beragam bahasa yang sedang ia baca di perpustakaan kampus atau di kafe dekat Waseda. Bahkan pernah aku random sekali menemukannya sedang membaca buku tebal berbahasa Mandarin entah untuk apa. Dia juga manusia yang pertama kali mengumpulkan tugas dan nilai ujiannya pun selalu memuaskan. Berbeda denganku yang pas KKM saja sudah bersyukur setengah mati. Oh, saking randomnya pertemuanku dengan dia—aku pernah melihatnya sedang fokus membaca sesuatu laptopnya, kukira tugas. Namun saat aku mengintip sedikit, aku terkejut ketika dia sedang membaca jurnal-jurnal ilmiah ataupun artikel berbahasa Inggris keluaran Oxford, Hardvard, Stanford—pokoknya universitas kelas dunia yang terkenal bagusnya itu, lho! Terus dia juga orangnya sabar sekali, baik hati juga. Aku tahu bahwa selama ini dia selalu membantu seseorang dengan tulus. Dia juga sangat sabar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar pelajaran karena aku memang bodoh. Dan senyumnya, aku suka sekali saat dia tersenyum. Wajahnya yang sudah manis, jadi makin manis. Rasanya aku bisa minum kopi tanpa gula. Untung saja aku kelihatannya tidak memiliki penyakit diabetes!"
Wow, percakapan sepihak dan agak terkesan berputar itu kemudian diakhiri dengan Naruto yang benar-benar memerah malu. Merahnya sampai ke telinga, bahkan Sasuke berpikiran bahwa merah wajah Naruto hampir semera tomat kesukaannya. Pemuda itu juga menutup wajah dengan kedua telapak tangan saking malunya, dan menahan jerit-jerit cempreng—tetapi tak mematikan kesan maskulin lelaki yang beranjak dewasa di sana.
"Baiklah, kau membicarakannya tanpa jeda dan tampak sangat bucin. Kau sedang jatuh cinta, bukan sekadar suka lagi menurutku." Sakura menahan tawa. "Dan kurasa kau memang perlu bantuan kami."
.
[ Sakura-chan, Teme. Gilaaaaa! Tadi dia kan membantuku memeriksa makalahku. Di perpustakaan universitas yang benar-benar harus menjaga kesunyian. Jarak kami begitu dekat! Tangan kami rasanya hampir-hampir bersentuhan, hampir bersentuhan saja aku merasakan bahwa tangannya halus! Dia juga harum banget, astagaaa! Aku menahan diri dengan pura-pura menggumam susah cari referensi dan pengin tonkotsu ramen saking menahan agar namanya tidak tersebut olehku.
Aku juga, berhasil mengajaknya. Aku melakukan saran Sakura-chan minggu lalu; mengajak dia pergi jalan-jalan saat dia tidak sibuk, atau sekadar refreshing bersama. Kami akan jalan-jalan ke Jinbocho saat hari Sabtu nanti. Terima kasih juga Teme, setidaknya sudah menyebut nama distrik itu. YANG TERNYATA HINATA SUKA SEKALI PERGI KE SANA —
—buat refreshing. Ini sih, rasanya seperti sambil menyelam minum air. Ingatkan aku buat mentraktir kalian ramen di Ichiraku, kapan-kapan. Thank you yawwwww ( •‿• )
Btw, doakan aku kawan-kawan!
—U. N ]
.
[ GUYS, I DID IT. Maaf tidak ada bunga dan tempat indah yang romantis. Hanya ada kedai ramen yang sedikit ramai dan mangkuk kosong, teh hijau dingin, dan gyoza. Namun, Hinata bilang tidak apa-apa. Dia menangis saat aku bilang, aku suka dia. Kukira dia enggak suka banget sama aku sampai-sampai nangis begitu. Ternyata...
DIA JUGA SUKA PADAKU! ASFJDKLLL
Aku nembak dia dengan bilang, "Hinata, karena kita saling suka... Kita pacaran, yuk!" Benar-benar tidak keren. Apalagi saat aku bilang begitu, ada anak kecil yang duduk di belakang kami nangis lumayan kencang.
Namun, Hinata mengangguk dan tersenyum manisssssss sekali. Doakan aku semoga tidak kena diabetes, kawan-kawan. (•ω •) ~
Pajaknya jadi semangkuk ramen jumbo dan gyoza, ya. Mumpung aku juga lagi dapat bonus, hehehe. Doa kalian manjur sekali.
—U.N ]
.
Mereka merasakan perasaan yang sama. Sekarang sedang saling jatuh dalam cinta.
