Nakahara Chuuya merasakan pahanya agak berat ketika kesadaran pelan-pelan membawanya kembali.
Rasa-rasanya juga ada yang memainkan tangannya di bawah sana. Jari-jemari kecil yang halus, namun terkesan rapuh. Chuuya membuka matanya perlahan-lahan. Cahaya matahari yang terlalu silau membuatnya mengerjap-ngerjap sebentar sebelum akhirnya terbuka sempurna. Ada suara tawa anak kecil, dan tangannya masih dimainkan. Chuuya menoleh.
Yang menyambutnya adalah helaian hitam yang nampak halus. Ada yang duduk di atas pangkuannya, rupanya. Tawa itu terdengar lagi, jauh lebih ceria ketimbang sebelumnya. Butuh beberapa saat untuk Chuuya memahami siapa yang duduk di pangkuannya saat ini.
"... Fumiya ..."
Pelukan hangat serta-merta Chuuya berikan. Demi apapun Chuuya betul-betul rindu pada anak lelaki sulungnya. Pada Fumiya yang ia sayangi. Fumiya yang manis. Fumiya yang ...
Chuuya menghela napas kecil. Nama sang anak kembali ia bisikkan, pelan. Tangan Chuuya masih memeluknya, sementara kepalanya terbenam pada helaian rambut sang anak. Chuuya tersenyum tipis.
"Ayah punya cerita. Mau dengar?" Meski anak berusia setahun lebih mustahil menjawabnya dengan kata-kata, Chuuya tetap bicara. Pemuda berhelai pirang itu menutup matanya sejenak. "Ayah bakal cerita tentang apa yang Ayah lewati belakangan ini. Tapi, jangan pergi dulu."
Jangan pergi lagi.
Anaknya tertawa lagi. Tawa polos yang betul-betul Chuuya rindukan. Rasa-rasanya Chuuya tidak ingin kehilangan lagi.
.
.
.
Spring will come again, people said
Yet I am heartsick
Nothing will happen when spring comes;
That child will not come again
.
.
.
"Chuuya-kun tidurnya pulas, ya?"
Selesai memasangkan selimut yang tadi dibawakan oleh Dazai, Miyazawa Kenji mundur. Dazai Osamu di sebelahnya hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataan sang penulis cerita anak-anak seraya memperhatikan Chuuya.
"Padahal cuacanya dingin banget, lho." Dazai menggumam seraya memegangi kedua bahunya sendiri, mempraktikkan gerakan orang yang sedang kedinginan.
Kenji terkekeh. "Tapi aku nggak tega bangunin," sahutnya.
"Siapa yang tega, coba?"
Wajah Nakahara Chuuya yang begitu damai ketika tertidur jarang-jarang bisa dilihat. Entah dia memimpikan apa, Dazai dan Kenji hanya mampu menerka-nerka.
.
.
.
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
.
.
.
Berawal dari fanart (ku), terus lanjut ke diskusi bareng Namari-san. Jadinya begini, agak melenceng (lagi) dari diskusi kemaren sjshjssjshsjh (dan untuk judul ... mohon tafsirkan sendiri /woi)
btw, sekadar trivia (yg lupa kukasih di fic November kemaren), Fumiya nama anak sulungnya Nakahara-sensei, tapi usianya cuman nyampe sekitar 2 tahun :" Ini yang bikin Nakahara-sensei sakit-sakitan sampe meninggal, beliau sayang banget sama anaknya :")
(trivia lagi, puisi yang kuselipin di tengah tadi juga karyanya Nakahara-sensei. Spring Will Come Again (aku ga tau judul Jepangnya, maaf :"), yang ditulis setelah Fumiya meninggal)
