Querencia Chapter 9 : Sleepover
Soonhoon slice of life fanfiction
Starring : Kwon Soonyoung; Lee Jihoon; Kim Mingyu; Jeon Wonwoo
Mature 17+
.
.
Happy Reading^^
.
.
.
Minggu pagi di kediaman pasangan Soonyoung dan Jihoon sedikit lebih berisik dari biasanya. Sebenarnya rumah mereka memang selalu berisik dengan keluhan Soonyoung dan omelan Jihoon—tapi hari ini cenderung double berisiknya. Hal ini dikarenakan Soonyoung sedang memanggil arsitek kenalan nya untuk membangun sebuah mini bunker bawah tanah yang entah apa gunanya. Soonyoung beralasan ini semua merupakan bagian dari mitigasi gempa-padahal semua orang tau fakta bahwa tidak ada gempa di korea.
Jihoon sedang menonton televisi di ruang tengah ketika sebuah mesin bor raksasa datang dan menghasilkan suara yang luar biasa kencang. Jihoon hilang fokus tentu saja. Volume tv yang ditonton nya kalah telak dengan mesin bor yang sekarang mulai menggerogoti tanah halaman belakang. Soonyoung kemudian datang dan duduk disamping istrinya yang sudah memasang wajah grumpy tak tertolong.
"Jihoon aku ngerti kamu tidak suka berisik."
"Kalau sudah tahu kenapa diperjelas lagi?"
Kalimat Jihoon memang selalu menohok. Soonyoung tersenyum bodoh sebelum menjawab, "oleh karenanya aku ingin mengajakmu menginap di rumah Mingyu."
Kim Mingyu merupakan rekan satu tim basket Soonyoung semasa sma. Mereka menghabiskan waktu sebagai sahabat begitu lama sampai akhirnya Soonyoung rela memberikan jabatan sekretaris dan wakil direktur ke teman nya yang satu itu. Mingyu memang merupakan anak baik yang kebetulan pula menjabat sebagai tunangan dari sahabat karib Jihoon yakni Jeon Wonwoo. Jadi tidak heran kalau kedua pasangan itu sangat mengenal baik Soonyoung dan Jihoon bahkan menganggap mereka sebagai rekan sedarah.
"Aku tadi sudah meminta izin dengan Mingyu dan ia setuju, mereka memperbolehkan kita menginap disana sampai bunker rumah kita jadi."
Soonyoung selalu peduli akan keselamatan dan kenyamanan Jihoon dan itu semua terbukti hampir setiap hari.
"Aku sudah merapihkan semua keperluan mu di mobil jadi kita tinggal jalan saja."
Jihoon tentu saja tidak akan menolak. Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia berkunjung ke kediaman Mingyu dan Wonwoo—mungkin sudah lima bulan lebih Jihoon tidak berkunjung. Ia lebih terbiasa berjumpa dengan Wonwoo di rumah sakit dan Mingyu di kantor.
"Baiklah ayo kita pergi, terimakasih Soonyoung."
Jihoon tersenyum kecil sebelum pergi meninggalkan sofa dan mengecup pipi suaminya. Kemudian Jihoon terburu menaiki anak tangga karena malu akan kelakuan nya barusan. Yang dicium mah senang-senang aja—justru sangat lega karena Jihoon tidak jadi marah padanya. Kalau sampai marah kan jadi ribet urusannya.
Mereka sampai di garasi mobil ketika Wonwoo datang menyapa dengan senyum ramah khas pemuda Changwon. Jihoon yang turun dari mobil langsung memeluk erat Wonwoo karena bagaimanapun juga mereka adalah sahabat sejati yang tak pernah lekang oleh waktu (eh apasih ko gajelas).
"Dimana Mingyu?" Jihoon bertanya sembari mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu. Soonyoung kemudian menyusul dengan sebuah laptop kerja bergeliat di paha.
"Mengerjakan apa yang sudah Soonyoung perintahkan."
Soonyoung yang merasa nama nya disebut langsung memberi penjelasan "Ah itu, ada meeting di kantor hari ini dan Mingyu datang sebagai perwakilan perusahaan, Ji. Aku hanya ingin memantau saja sebab sebentar lagi ia akan naik jabatan."
Mingyu memang sudah direncanakan untuk segera menempati jabatan Soonyoung sebagai direktur perusahaan. Soonyoung sendiri akan mengambil alih perusahaan sepenuhnya sebagai seorang ceo setelah dua tahun sebelumnya melatih diri untuk bermain pintar dalam investasi dengan bimbingan ayahnya yang memang akan segera pensiun.
"hei Soonyoung, pergilah istirahat di lantai dua. Aku ada urusan dengan Jihoon." Seru Wonwoo mencoba mengusir Soonyoung dari ruang tamu. Jihoon yang mendengarnya hanya cekikikan.
Soonyoung berdeham sebentar sebelum menjawab "baiklah aku pergi, jangan mengajarkan Jihoon yang tidak-tidak won, aku akan mengawasi."
Soonyoung dengan awkwardnya pergi dengan laptopnya ke lantai dua. Wonwoo mencibiri omongan Soonyoung barusan tapi entahlah tidak jelas sebab hanya Jihoon yang bisa mendengar.
"kamu mau ngomongin apa?"
Jihoon membuka pembicaraan sembari meluruskan kaki di sofa. Wonwoo memperbaiki posisi duduknya agar lebih leluasa bergibah dengan Jihoon. Tipikal sahabat sejati banget.
"menurutmu apalagi? Tentu saja keputusan mu."
Wonwoo tentu saja menyinggung perihal keputusan Jihoon akan status profesinya sebagai dokter
Jihoon tersenyum tapi sesungguhnya ia tidak tau mau jawab apa.
"Apa respon soonyoung setelah kau beritahu?"
"Soonyoung bilang ia setuju saja, tapi entah mengapa aku ragu jika ia benar-benar rela."
Wonwoo menghela nafas panjang dan meraih telapak tangan Jihoon untuk digenggam. "Soonyoung pasti tahu kalau kau melakukan semua ini untuk dia. Apa menurutmu ia tidak akan curiga setelah kau terang-terangan ingin berhenti jadi dokter padahal dulu kamu lah yang paling ngotot ingin jadi dokter?"
Wonwoo ada benarnya juga, pikir Jihoon.
"Pikirkanlah dengan baik, Jihoon. Kamu bukan orang yang keras kepala seperti Soonyoung jadi seharusnya kamu mengerti bagaimana konsekuensi yang akan kau terima jika benar ingin berhenti."
Alasan Jihoon ingin berhenti menjadi dokter sebenarnya simple saja, Ia ingin meluangkan waktu lebih lama dengan Soonyoung dan ingin lebih dekat dengan peran nya sebagai Istri rumah tangga. Jihoon merasa selama ini ia terlalu asik dengan profesi nya sampai tidak punya waktu untuk menjalani kewajibannya di rumah.
"Entahlah Won, aku masih belum bisa mengambil keputusan."
Jihoon melepaskan genggaman tangan Wonwoo ketika seorang laki-laki tinggi tiba-tiba membuka pintu utama kemudian melemparkan senyum lebar khas orang bodoh Anyang.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Itu suara Mingyu menggema di ruang tamu.
"Temuilah Soonyoung di lantai dua, Ia sedang sibuk memantau hasil meeting mu tadi."
Singgungan Wonwoo menyadarkan Mingyu untuk segera menemui Soonyoung dan meminta penilaian tentang cara kerja nya barusan. Maka tanpa perintah dua kali Mingyu langsung melesat menaiki tangga setelah sebelumnya mengecup dan mengacak-acak rambut wonwoo. Jihoon yang melihatnya sempat hampir muntah pelangi.
QUERENCIA
Soonyoung masih sibuk dengan laptop kerjanya ketika Mingyu datang dengan dua buah botol beer. Mingyu sebenarnya tidak ingin melihat—tapi apalah daya ia terlanjur melihat aktivitas Soonyoung yang ternyata sedang sibuk menonton video dengan sosok yang dikenalnya sebagai objek utama.
"Hyung, sedang menonton apa?"
Soonyoung menoleh, melihat Mingyu membawa sebotol beer membuatnya haus. lantas ia langsung merebut salah satu botol nya untuk diminum.
"sedang menontoni Jihoon tentu saja."
Mingyu semakin tertarik dengan tontonan Soonyoung jadi tanpa perlu meminta izin ia ikut menimbrung Soonyoung menonton video dominan warna putih itu. Mingyu tersenyum kecil ketika sadar video apa yang sedang disaksikan Soonyoung.
"bukankah ini video ketika Jihoon hyung pertama kali bekerja di rumah sakit?"
Soonyoung hanya mengangguk
Mingyu sebenarnya juga mengetahui perkara permasalahan Jihoon yang ingin berhenti menjadi dokter. Tentu saja Wonwoo yang menceritakannya. Dan melihat aktivitas yang dilakukan Soonyoung sekarang membuat Mingyu mengerti apa yang sedang dipikirkan bos nya sedari tadi.
"Apa kau yakin akan membiarkan ia berhenti begitu saja, hyung?"
Soonyoung menegak kembali botol beer sebelum mengesah "tidak mungkin aku sebodoh itu membiarkan Jihoon berhenti."
"Tapi yang kudengar dari wonwoo.. malah sebaliknya."
Hening sebentar, Soonyoung terlihat sedang memikirkan jawaban yang tepat.
"Itu karena aku tidak bisa menolak permintaannya, gyu. Aku takut Jihoon kecewa dengan penolakan ku."
Mingyu tentu saja terkejut mendengar jawaban Soonyoung barusan. Ia tidak pernah menyangka Soonyoung bakal berubah jadi senaif ini demi menjaga Jihoon tetap bahagia.
"Hyung, apa kau tidak sadar betapa naifnya kau sekarang?"
Soonyoung sebenarnya tersinggung. Tetapi okelah ia ingin mendengar penjelasan lanjut soal 'label' yang barusan Mingyu berikan
"Aku mengerti kau hanya ingin membahagiakan Jihoon hyung. Tetapi jika memang sepeti itu langkah yang kau pilih, bukankah itu sama saja kau tidak peduli dengan Jihoon hyung?"
Mingyu menyesap beer botolannya, "bukankah dengan kau yang membiarkan Jihoon hyung berhenti kerja, sama saja kau membiarkan Jihoon mengubur kerja keras nya selama ini?…"
"... Jika itu terjadi pada Wonwoo, aku tidak akan pernah mengatakan setuju. Apalagi dengan alasan super sepele seperti Jihoon hyung punya."
Soonyoung menggaruk tenguknya yang tidak gatal, "lantas aku harus apa?"
Mingyu tersenyum. Ia mengetuk-ngetuk meja kaca disampingnya guna mendapat atensi penuh dari bos besarnya.
"Mudah saja, hyung. Jika memang kau tidak setuju dengan rencananya, katakan saja. Anggap saja itu sebagai saran. Dalam suatu hubungan, yang namanya nasehat dan saran itu sangat diperlukan."
Mingyu menepuk pundak Soonyoung, memberikan sedikit dukungan. Soonyoung nya sih hanya terdiam meskipun sebenarnya ia sangat setuju akan pernyataan Mingyu barusan. Sepertinya ini semua terjadi hanya karena ia terlalu takut kehilangan Jihoon. Ia hanya terlalu takut menghadapi kemungkinan terburuk atas hubungan nya selama ini. Ia hanya terlalu takut Jihoon pergi darinya sehingga ia memilih untuk mengambil langkah mudah yang sebenarnya sangat gegabah.
Soonyoung dan Jihoon sudah mempersiapkan diri untuk tidur di kamar setelah tadi berpesta ria dengan Mingyu dan Wonwoo di halaman belakang. Mereka mengadarkan pesta mini barberku sembari bercerita mengenai tingkah laku konyol pasangan masing-masing. Soonyoung sudah pasti menjadi tersangka yang paling banyak catatan hidup konyolnya.
Sekarang Soonyoung sudah tertidur diatas ranjang selagi Jihoon masih sibuk berganti piyama setelah tadi berendam air hangat.
"Jihoon, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Satu kalimat yang selalu berhasil membuat Jihoon anxious sekaligus penasaran.
Maka dari itu Jihoon dengan cepat berganti pakaian kemudian ia langsung mendaratkan tubuhnya tepat di samping Soonyoung. Soonyoung tersenyum manis kemudian langsung menarik Jihoon kepelukan nya.
"Bicaralah, Soonyoung. Aku mendengarkan."
Sudah hampir dua tahun mereka menikah tetapi Soonyoung tidak akan pernah bosan mengatakan bahwa Jihoon itu cantik sekali. Dari jarak sedekat ini ia dapat melihat dengan jelas Rambut kecoklatan berwangi strawberri dengan hidung bangir serta bongkahan pipi tebal yang selalu menjadi kelemahan Soonyoung bahkan sejak delapan tahun yang lalu ketika status mereka masih sebatas teman sekolah.
"Aku tidak mau kamu berhenti bekerja sebagai dokter, Ji."
Soonyoung pikir Jihoon akan bereaksi terkejut akan ucapan nya barusan—tetapi nyatanya Jihoon tetap bersikat tenang seakan menuntut penjelasan lebih dengan sedikit anggukan.
"Aku tau kamu hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama denganku. Aku mengerti kalau kamu hanya ingin menghabiskan lebih banyak peran sebagai istri rumah tangga tanpa terbagi fokus dengan pekerjaanmu."
Soonyoung mengenggam tangan Jihoon kemudian mengecupnya "Tetapi sejujurnya, aku tidak mau melihatmu bersusah payah untuk membahagiakan ku sampai harus mengobarkan cita-citamu seperti itu."
"Jihoon yang ku tahu adalah Jihoon yang cerdas dengan keinginan kuat menjadi harapan semua orang. Aku selalu bahagia kalau mengingat fakta bahwa kamu berhasil meraih itu semua."
"Aku sudah sangat bahagia bahkan hanya dengan fakta bahwa kamu mau menikah dengaku, Ji. Kamu tidak perlu lagi mencoba membahagiakan ku sebab aku sudah sangat bahagia selama ini."
Soonyoung mengakhiri segala luapan emosi nya dengan kalimat menenangkan yang diakhiri dengan kecupan singkat di kening istirnya. Jihoon tersentuh, tentu saja. Selama ini ia berpikir bahwa Soonyoung terlalu apatis dengan jalan hidupnya sampai terkadang ia mempertanyakan apakah Soonyoung masih mencintainya.
Nyatanya, kadar Cinta seorang Kwon Soonyoung memang tidak pernah berubah.
"Oke, Soonyoung. Mulai minggu depan, dokter Kwon Jihoon akan kembali lagi."
Jihoon kemudian mendorong pelan Soonyoung agar terlentang sempurna sebelum bibir manisnya melahap habis bibir Soonyoung. Awalnya Jihoon hanya mengecup singkat tetapi suaminya itu terus melanjutkan pangutan dengan hisapan dalam di kedua bibirnya. Dengan perlahan Soonyoung mendominasi permainan sehingga sekarang Jihoon harus puas akan kukungan Soonyoung diatasnya.
"kamu yakin ingin bercinta sekarang? Disebelah persis kamar Mingyu dan Wonwoo."
"Lantas mengapa? Bukankah kita sudah pernah tertangkap basah sekali?"
Omongan Soonyoung barusan mengingatkan Jihoon akan kejadian memalukan tiga tahun lalu ketika Mingyu memerogoki mereka sedang oral sex. Jihoon langsung tersipu sendiri.
"then go ahead, fuck me, Kwon."
Selanjutnya, kalian bisa menebak sendiri bukan? Soonyoung tetap nekat menggejot habis Jihoon hingga subuh datang. Tanpa sepengetahuan mereka Mingyu dan Wonwoo sudah menduga hal ini sehingga mereka langsung kabur ke kamar dibawah untuk melakukan 'hal' yang sama.
.
.
.
.
.
To be continued
Minggu depan chapter terakhir.
