Adalah kebiasaan seorang Kikuchi Kan untuk membangunkan Akutagawa Ryuunosuke tiap pagi, menyeretnya dari kasur kesayangan sekaligus mengajaknya sarapan—kalau pintu kamarnya tidak dikunci. Namun, hari ini ada yang berbeda.

Kamar Akutagawa tidak terkunci. Ketika Kan masuk, yang menyambutnya hanya hening dan cahaya matahari yang menembus jendela kamar. Keadaan kamar yang tumben-tumbenan rapi membuat pria itu cukup terkejut. Akan tetapi ada satu yang lebih menarik perhatian Kan lebih dari apapun.

Akutagawa tidak ada di sini.

"Ryuu?" Memanggilnya jelas hanya menciptakan kesia-siaan, karena yang bersangkutan tidak ada di sini. Ini pukul tujuh pagi, tidak biasanya ia tidak ada di kamarnya pagi-pagi begini.

Tunggu.

Akutagawa tidak ada di sini.

Tidak ada.

Pagi.

Hilang.

"Ryuu?!" Buru-buru Kan berlari keluar. Akutagawa yang tidak ada di kamarnya pada pukul 7 pagi bisa berarti apa saja, termasuk hal buruk. Kan jelas panik.

Bagaimana kalau tiba-tiba ada masalah?

"Eh, Kan?"

Kepanikan Kan lamat-lamat melenyap kala suara orang yang dicari-carinya tertangkap telinga. Sepasang iris sewarna oak merahnya mendapati sosok Akutagawa yang baru saja datang dari arah berlawanan, tangannya membawa bakul yang isinya tak begitu Kan perhatikan.

"Kan ngapain?" Akutagawa memiringkan kepala, bingung.

"Huh? Oh." Kan balas menatap Akutagawa. "Tadinya mau membangunkanmu—aku cukup kaget kau sudah bangun dan kamarmu rapi. Omong-omong ... dari mana?"

Akutagawa terkekeh. "Oh," gumamnya. "Habis mandi, hehe."

"Oh, habis mandi ... Hah?"

Dahi Kan berkedut dalam. Tunggu, ia tidak salah dengar?

"Kenapa, Kan?"

"M-mandi?" Barangkali ia salah dengar, atau gara-gara belum sarapan, makanya kepalanya mengatakan bahwa Akutagawa bilang dia baru selesai mandi. Kali ini Kan betul-betul memasang telinganya, berusaha memastikan agar ia tidak salah dengar.

Benar-benar di luar ekspektasinya, Akutagawa mengangguk, mengiyakan. "Iya, habis mandi," ucapnya mengulang.

Kan terperengah. "Ryuu, ngapain kau mandi pagi, coba?" Tak lama, ia terdiam "... Tunggu sebentar ... KAU MANDI?!"

Sungguh, Kikuchi Kan betulan dibuat terkejut pagi ini.

~o~

Tak Biasa

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

for Kikuchi Kan's birthday (Dec 26)

Happy reading!

~o~

"Wajahmu kayak habis ketemu hantu, Hiroshi."

Lamunan Kan terbuyar ketika Naoki berceletuk demikian. Baru sadar juga bahwa salah satu dari sepasang sumpit yang semula dipegangnya terjatuh dari genggaman, membuatnya buru-buru mengambilnya kembali lalu dipakai buat menyumpit nasi. Namun ketika netranya kembali melihat objek yang sedari tadi diperhatikannya, Kan diam lagi.

Naoki mengerutkan kening.

"Liatin siapa, sih?" Arah pandang Kan diikuti. Sosok berhelai biru panjang yang tumben satu meja dengan kelompok Buraiha menarik perhatiannya. Bukannya dapat jawaban, Naoki justru dapat pertanyaan baru. "Akutagawa, kah?"

Kan mengangguk tertahan.

"Kenapa dia?"

"Justru aku mau bertanya begitu," balas Kan pelan.

Naoki gagal paham. Kan menghela napas, kemudian menceritakan apa yang ia dapati sebelum pergi ke aula makan pagi ini. Mendengarnya membuat Naoki diam sebentar, namun tak lama kemudian tawanya pecah.

"Lah, bagus dong, dia beres-beres kamarnya sendiri terus mandi tanpa disuruh," kekehnya. "Ya meski ini masih pagi, tapi kayaknya sesekali mandi pagi ga masalah."

"Justru itu!" Kan membalas setengah frustasi. "Aneh, gak, sih? Kayak ... kayak bukan Ryuu ..."

Naoki memilih untuk menghabiskan lauk sarapannya yang tersisa sebelum membalas. "Santai, Hiroshi, santai," ucapnya kalem. "Nggak perlu mikir yang aneh-aneh. Anggep aja ... dia lagi rajin?"

"Tapi ini bukan hari Kamis ..."

"Kamu pikir ilham buat jadi rajin datangnya cuman tiap Kamis?"

"... Ya nggak juga sih ..."

"Nah, kan?" Naoki tertawa lagi. "Omong-omong, boleh pinjem uang? Nanti kubalikin deh."

Mengabaikan permintaan Naoki yang sudah terlalu biasa, Kan kembali memerhatikan Akutagawa yang sekarang mengobrol dengan Dazai Osamu di meja sana.

Agaknya Naoki benar—ia tidak perlu memikirkan hal yang aneh-aneh untuk sekarang. Toh, Akutagawa masih baik-baik saja di sini.

~o~

Tidak ada jadwal penyucian buku untuk hari ini. Beberapa penulis yang sedang senggang memilih buat membantu Shuusei dan Kyouka membereskan hiasan Natal sisa pesta dua malam lalu—mohon jangan tanya kenapa baru dibereskan sekarang. Kan sebenarnya mau ikut membantu, namun urung kala matanya bertemu pandang dengan sepasang iris sewarna langit yang menunggunya di ujung koridor, dengan batangan putih yang ujungnya terbakar terselip di bibir.

"Ah, Kan." Akutagawa tersenyum begitu mendapati kehadiran Kan. Rokok di sela bibirnya ia ambil sejenak. "Mau jalan-jalan, gak?"

"... Huh?"

Dan, begitulah.

Siang ini cuacanya tidak sepanas musim panas—cenderung dingin, tentu saja. Kan dan Akutagawa berjalan beriringan, sesekali memerhatikan pepohonan yang daunnya rontok semua, atau hiasan-hiasan Natal yang belum ada dibereskan oleh yang memasang. Bau tembakau dari Akutagawa yang tengah merokok samar-samar tercium.

"Kan."

"Hm?"

"Makan siang di luar saja, yuk?"

Kan mengangguk saja. Mumpung masih di luar, makan di salah satu tempat makan sebelum pulang ke toshokan sepertinya ide bagus—sudah masuk waktunya makan siang, omong-omong. Obrolan kecil mewarnai perjalanan keduanya, yang mana selanjutnya terputus di depan kedai soba.

Aroma hangat menyambut kala keduanya memasuki kedai. Dua kursi kosong yang letaknya agak dalam jadi pilihan untuk duduk. Kan yang memesan, sementara Akutagawa memeriksa sesuatu di sakunya sebelum kembali duduk tegak.

"Tadi kupesankan tsukimi soba—dingin-dingin begini enaknya makan yang hangat, kan? Kau tidak masalah dengan itu?" Kan bertanya memastikan.

Akutagawa mengangguk. "Nggak apa-apa, kok," jawabnya.

"Hmm ..."

Kan meregangkan tubuhnya sebentar. Suara sang pemilik kedai yang sedang memasak menjadi latar utama, sementara tawa anak-anak yang sedang berkejar-kejaran di luar kedai samar-samar terdengar.

"Kan, tahu nggak? Tadi pagi air buat ngebilasnya dingin banget," gumam Akutagawa setengah mengeluh.

Kan meliriknya. "Memang dingin, Ryuu," balasnya. Lagipula orang macam apa yang mandi pagi-pagi di tengah musim dingin begini, coba? Bahkan pada musim lainnya Kan lebih memilih mandi pada sore atau malam hari ketimbang pagi.

Omong-omong soal mandi, Kan masih penasaran soal kejadian tadi pagi.

Mendapati Akutagawa tahu-tahu mau mandi tanpa perlu diseret merupakan keajaiban tersendiri. Cenderung mencurigakan sebenarnya, Kan jadi was-was sendiri. Yang di sebelahnya ini betulan Akutagawa, kan?

"Ryuu." Pada akhirnya Kan memanggilnya.

Akutagawa menoleh. "Ya?"

"Kau ... Ryuu, kan?"

Orang-orang yang tak mengerti dengan isi hati Kan sekarang pasti akan tertawa sekarang. Akutagawa termasuk ke dalam golongan orang-orang itu—sebelum ketahuan tertawa ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, meski tahu itu sia-sia karena Kan pasti tahu.

"Ini aku, ini aku." Ia terkekeh. "Kan kenapa, sih, tiba-tiba ...?"

"Aku kaget, oke." Kan mendengus. "Ryuu yang kukenal malas mandinya sudah keterlaluan soalnya."

"Jahat ih."

"Biarin."

"Fufu." Akutagawa terkekeh lagi.

Paman pemilik kedai soba yang sedari tadi memasak pesanan mereka datang dengan nampan berisi dua mangkuk tsukimi soba. Keduanya mengucapkan terima kasih sebelum mulai melahap makanan masing-masing dengan tenang.

~o~

Ketika Kan hendak mengambil dompet untuk membayar kala mereka sudah selesai, Akutagawa mencegatnya.

"Tidak usah, Kan."

Dahi Kan mengernyit. "Huh?"

Tangan kiri Akutagawa beralih pada kantung pakaiannya. Dari sana ia mengeluarkan dompet miliknya, lalu beralih pada sang pemilik kedai. "Berapa semuanya, Tuan?"

Sang pemilik kedai menyebutkan harga, kemudian Akutagawa membayarnya. Selama transaksi berlangsung Kan hanya bisa terdiam.

Tumben sekali.

"Terima kasih, Tuan. Sobanya enak sekali, fufu." Suara Akutagawa memecah lamunan Kan. Akutagawa beranjak lebih dulu, lalu menatap Kan. "Ayo, Kan."

"U-uhm ..."

Barangkali mereka bakal kembali ke toshokan sekarang. Tidak ada tempat lain yang ingin dikunjungi, lebih baik pulang lalu melakukan kegiatan-entah-apa—mungkin main shogi, Kan ingin taruhan dengan Yoshikawa atau siapapun yang mau menemaninya main nanti.

Namun, sebelum itu, ada yang ingin dia ketahui.

Tidak, dia memang harus tahu.

"Ryuu."

Akutagawa menoleh ketika namanya lagi-lagi dipanggil. "Iya, Kan?"

"Kau ... beneran Ryuu, kan?" Seumur-umur baru kali ini Kikuchi Kan merasa idiot. Pertanyaannya sekilas memang lucu sekali, namun Kan benar-benar ingin memastikan.

Tidak lucu kalau yang ada di sebelahnya sekarang ternyata bukan Akutagawa Ryuunosuke betulan.

Akutagawa memiringkan kepalanya. "Kan kenapa? Capek? Atau jangan-jangan sakit?"

"Jawab saja pertanyaanku."

"Ya ... ini aku, kan?" Akutagawa masih tak mengerti. "Kan sudah kujawab di kedai tadi."

"Bukan, bukan itu." Kan menatap Akutagawa. "Ini semua, maksudku ..."

"Ng?"

"Kau bangun pagi, beres-beres kamar sendiri, bahkan mandi tanpa perlu kuseret! Yang tadi di kedai soba juga ..." Beberapa jam lalu ia memang menyakini ucapan Naoki, bahwa semua ini pasti hal bagus—tidak, ini memang hal baik sebenarnya. Hanya saja ...

... rasanya agak aneh.

Akutagawa mengerjap-ngerjap di sebelahnya. Mulutnya membisu, akan tetapi matanya masih menatap Kan yang menantikan jawaban.

"... Gimana jawabnya, ya ..."

"Ryuu?"

Akutagawa terkekeh. "Ya ..." Ia menggantung ucapannya sebentar. "... Ini ulang tahunnya Kan, soalnya."

Sekali saja Akutagawa ingin membuat segalanya berbeda. Bangun pagi sendiri, membereskan kamar tanpa perlu disuruh, mandi tanpa harus diseret (jujur Akutagawa agak benci dengan yang satu ini), lalu jadi orang membayar semuanya ketika makan di luar. Sekali saja, Akutagawa ingin Kan tahu bahwa ia bisa mengandalkan diri sendiri.

Kan terdiam begitu Akutagawa selesai bicara. Tidak tahu harus berkata apa. Berapa kali ia terkejut hari ini?

"Ya ampun, kau ..." Kan berdecak kecil.

Akutagawa terkekeh lagi. "Kan kaget, kan? Aku berhasil."

"Ya, ya, terserahmu." Kan menghela napas. Setidaknya pertanyaannya sejak tadi pagi akhirnya terjawabkan. "Omong-omong, mau sampai kapan?"

"Ng ..." Akutagawa diam sebentar. "Secepatnya?"

"... Ryuu tetap Ryuu, ya." Kali ini, Kan yang terkekeh.

-end-

Ini iseng ngide bareng Ivy-san tadi subuh sebenernya (iya sekarang udah malem, skhsjsjsjks moga ga telat) (dan iya, ini agak melenceng dari yg waktu itu dibicarain :" ). Jadinya gini, maaf kalo gaje ato OOC huhu :"

Btw, habede Kan! :D