"APA APAAN INI?!"
Pekikan Haechan adalah yang pertama kali terdengar ketika ia melihat beberapa orang berpakaian serba hitam dan berpostur tinggi besar tengah merusak kedai makanan milik ayahnya. Sedangkan ayah Haechan sendiri tengah berlutut seraya memohon ampun pada seseorang yang sepertinya adalah pimpinan mereka.
Sosok berbadan tegap dengan wajah tampan namun dingin itu menatap Haechan dengan mengintimidasi, Haechan sangat muak melihat ekspresi sombong pria itu
"Ayahmu memiliki hutang kepadaku nona Lee, dan setiap kali ayahmu mengulur waktu maka bunga yang dibebankan akan semakin besar" sosok itu berujar
Haechan mengepalkan tangannya, menghampiri pria itu seakan menantangnya
"ku pikir kau itu adalah pria kaya raya. Namun nyatanya kau tidak lebih dari seorang lintah darat yang tercekik masalah ekonomi"
Sosok itu menunduk, menatap Haechan yang hanya sebatas dadanya dan membalas tatapan tajam gadis itu
"Begitulah cara kerja kehidupan nona Lee, yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin"
Sungguh! Haechan benci ketika orang itu berbisik di telinganya lalu mengulas senyum miring yang memuakkan
Haechan memukul dada pria itu dengan emosi yang membludak dan mendongak untuk menatap obsidian tajam milik pria itu
"Kau dan segala tingkah sialanmu bajingan!"
Pria itu, Mark Lee
Mencengkeram erat tangan Haechan yang memukul dadanya hingga gadis itu tak bisa berkutik
"Berani melawanku gadis kecil?"
Haechan memicingkan matanya tidak suka ketika Mark berhasil membuat gerakannya terhenti
"Aku akan membayar secepatnya dan enyah saja kau brengsek!"
Bukan Haechan namanya jika ia bisa dihentikan. Nyatanya tubuhnya memang berhenti bergerak namun bibirnya akan tetap memuntahkan lahar panas
Mark yang tidak suka jika ada yang mengganggu pekerjaannya langsung mencengkeram erat dagu Haechan hingga Haechan merasa hentakan kecil dari tangan kasar Mark mampu meremukkan rahangnya
"Kau memang gadis yang tidak tahu malu—"
"Tuan, ku mohon lepaskan Haechan. Aku berjanji akan membayar secepatnya" ayah Haechan kembali memohon keringanan pada Mark
Mark menyeringai, sebuah ide hinggap di kepalanya
"Hutangmu akan ku anggap lunas jika anakmu ikut denganku"
Mark tersenyum tipis melihat reaksi Haechan yang masih ada di jangkauannya. Gadis itu mendelik tidak terima
Sedangkan ayah gadis itu kembali memohon kepada Mark agar tidak membawa putri semata wayangnya
"Aku akan melakukan apapun asal jangan pisahkan aku dengan anakku tuan"
Mark berdecih. Enak sekali jika berbicara batin Mark
"Aku minta kau melunasi hutangmu saat ini juga, bagaimana?"
Ayah Haechan nampak terkejut. Haechan hanya bisa diam ketika Mark dengan kurang ajarnya masih mencengkeram dagunya hingga ia kesulitan untuk bicara
"T—tapi tuan.. aku belum memiliki u—"
"Itu berarti haechan ikut denganku"
Mark berujar pongah ketika ayah Haechan tak mampu menjawab ucapannya. Melihat keterdiaman mereka Mark mengulas senyum miring yang sialnya membuat wajahnya semakin tampan.
"Aku anggap itu sebagai jawaban ya"
"KYAAA! LEPASKAN AKU BAJINGAN!"
Dan Mark langsung memikul Haechan dipundak layaknya karung beras. Hingga gadis itu memukul punggungnya dan menggerakkan kakinya dengan brutal menendang apa saja
Dari kemaren kepikiran mau buat ini sampe kebayang bayang ditempat kerja
Oiya ada yang mau ikut donasi?
Gaskeun lah!
—markeurius26. 3:52 p.m 2020.08.15
