"Aw!"

Mark menghempaskan tubuh Haechan dikursi penumpang dengan kasar. Haechan meringis pelan karena kepalanya sempat terantuk sisi mobil yang keras.

Dasar pria kasar! Batin haechan

"Sekarang kau milikku. Jadi jangan pernah mencoba untuk lari dariku atau kau akan tahu akibatnya"

Haechan beringsut mundur ketika sosok Mark semakin maju untuk mengintimidasinya melalui tatapan nya yang tajam begitu juga dengan aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya, seakan memberitahu jika Mark mampu mendominasi segala hal. Meskipun begitu Haechan tidak gentar untuk menatap tepat di matanya.

"Pengakuan sepihak itu tidak adil! Aku pihak paling dirugikan disini!"

Haechan memekik tertahan. Seluruh emosinya telah meningkat drastis. Memuncaki persentase teratas batas rasional emosi manusia. Yang jelas Haechan amat sangat benci keadaan ini. Apalagi dengan sosok yang menatapnya dengan remeh itu.

"Memangnya aku peduli?"

Rasanya Haechan ingin menancapkan kukunya di wajah pria yang sedang menaikkan sebelah alisnya dengan bibir mengulas seringaian.

Mark semakin mempersempit jarak diantara mereka hingga Haechan tersudut dan tak mampu menggerakkan tubuhnya selain kepalanya layaknya siput. Mark mencengkeram kedua tangan Haechan dalam satu genggaman tangannya lalu mendekatkan wajahnya kearah Haechan

"Kau harus selalu ingat ini, melawanku sama saja dengan menguras lautan. Sia-sia"

Mark menarik paksa tangan Haechan agar gadis itu mengikuti langkah tergesa memasuki mansion miliknya.

Haechan mendengus kala bibir bibir milik maid yang sedang berjajar menyambut kepulangan majikannya itu secara terang-terangan menggunjing dirinya meskipun suara mereka terdengar samar. Seakan akan Haechan adalah jalang ekslusif milik Mark yang dibawa pulang.

Heol, Haechan tidak sudi

Mereka menaiki tangga melingkar di sayap kanan mansion milik Mark. Meniti satu persatu anak tangga dengan tergesa lalu Mark membawa Haechan menuju salah satu pintu berwarna putih dan ketika pintu itu terbuka, Haechan tercengang

Seberapa kaya sih Mark Lee ini?!

Ruangan berwarna dominan putih itu terlihat mewah dan berkelas. Dengan furniture yang didominasi dari kayu bercat putih. Ranjang berukuran king itu amat sangat empuk dan lembut. Jika melihat ke sisi kanan maka kau akan menemukan balkon kecil yang menyuguhkan pemandangan taman indah milik si sialan Mark bajingan Lee ini.

Lamunan Haechan buyar kala Mark membanting tubuhnya kearah ranjang hingga ia rasa tubuhnya ikut memantul pelan. Namun sebelum Haechan tertarik ke dunia nyata ia sudah lebih dulu dikungkung dengan kedua lengan berotot milik Mark.

"setiap kali kita bercinta kau bisa mengangsur 10% hutang ayahmu, dengan catatan kau harus dengan suka rela mengangkang dihadapanku"

Mark berbisik dengan suara rendahnya yang membuat Haechan meremang. Namun ketika sadar apa yang diucapkan oleh Mark, Haechan tanpa segan menendang selangkangan milik Mark hingga pria itu mengaduh dan terguling dari ranjang.

"Kau fikir aku jalangmu hah?! Kau bisa merendahkanku dengan kata kata busukmu! tapi tidak dengan aset masa depanku!"

Haechan berteriak dengan air mata mengalir. Ayolah, siapa yang tidak terhina ketika seorang pria dengan kurang ajarnya melakukan hal itu.

Haechan bangkit dari ranjang dan dengan tergesa berlari menuju pintu yang sialnya telah terkunci. Mark berjalan semakin dekat dan Haechan semakin panik menggerakkan knop pintu

"Ayolah.. ku mohon" lirih Haechan

"Kau tidak akan bisa lari kemanapun Lee Haechan!" Mark dengan amarah yang membumbung tinggi dengan spontan bangkit dan mengejar Haechan.

"Akh! Lepaskan aku sialan!"

Mark menghempaskan tubuh Haechan ke pintu dengan sebelah tangannya mencengkram rahang Haechan. Membuat gadis itu mendongak dengan rasa sakit menjalar dari rahang ke seluruh tubuhnya.

"Berani beraninya kau menendang selangkangan ku lalu berusaha ingin kabur hm? Tidak akan ku biarkan"

"Ku mohon lepaskan aku"

Pertahanan terakhir Haechan runtuh. Dengan sisa harga diri yang tak lebih tinggi dari sepatu miliknya Haechan harus rela mengemis kerelaan hati pria itu agar mau membebaskannya.

Dengan berujar susah payah Haechan menyuarakan isi hatinya. Pun air mata yang tak berhenti mengalir membuat Mark semakin muak. Ia tidak suka ekspresi mengiba milik gadis ini.

"Setelah tadi meneriakiku kau Sekarang memohon padaku? Haha lucu sekali" Mark tertawa sinis pada Haechan yang masih dalam posisi terdesak di dinding

"Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan ku lepas begitu saja Lee Haechan"

Mark melepaskan cengkraman pada rahang Haechan lalu mendekatkan wajahnya untuk meraup bibir plum Haechan yang sedari tadi menggodanya untuk mencicipi kedua belah lunak itu. Nafas panas itu semakin dekat menerpa wajah Haechan membuat Haechan semakin membenci pria itu hingga ke tulang dan memilih untuk membuang muka ke samping.

Mark terbelalak. Baru kali ini Mark merasa terhina ketika ada seorang gadis yang menolak ciumannya yang bahkan putri presiden pun berlutut dibawah kakinya agar bisa menikmati ciuman darinya itu walau hanya sebentar.

PLAK!

"Siapa yang menyuruhmu untuk menghindar hah?!"

Mark menampar pipi Haechan dengan kuat hingga Haechan merasa pipi nya kebas dan sudut bibirnya robek. Air mata kembali menggenang mengingat tak ada seorang pun yang pernah berbuat sekasar ini padanya.

"Sekarang lihat akibatnya jika kau menolak!"

"T-tunggu! Hey!"

Mark merobek kasar kemeja lusuh Haechan hingga sebagian kancingnya berjatuhan dan menggelinding dilantai. Mata Mark semakin tertutup kabut nafsu ketika melihat dua bongkahan kenyal yang terlindungi bra berwarna hitam yang kontras dengan warna kulitnya.

Haechan menyilangkan tangannya didada dengan tubuh merosot ke lantai guna melindungi diri dari predator macam Mark Lee ini.

Namun Mark dengan tega menarik Haechan agar berdiri lalu menyeretnya ke ranjang. Kembali mengungkung tubuh mungil itu sebelum sang empunya melarikan diri kembali

"Hiks.. lepaskan aku!"

Haechan meronta kala Mark dengan seenaknya kembali merobek bra miliknya disusul celana jeans dan celana dalamnya. Mark yang terlalu risih mendengar Haechan yang sedari tadi meminta untuk dilepaskan langsung menyumpal mulut Haechan dengan sapu tangan miliknya dan tak lupa mengikat kedua tangan Haechan dengan dasi hitam miliknya.

"Well, seharusnya dari awal aku mengambilmu dari pak tua itu.. kau terlalu menggoda untuk dilewatkan"

Haechan menggeliat risih ketika jemari kasar Mark mulai menelusuri tubuh telanjangnya. Dimulai dari leher, turun ke tulang selangkanya, turun lagi kearah bongkahan dadanya tak lupa untuk menggoda si sensitif yang berada di puncak dada Haechan.

Haechan membuang muka dengan mata tertutup ketika melihat Mark kembali melecehkan dadanya. Air mata masih tak kunjung berhenti. Haechan merasa dirinya sudah kotor. Apalagi dia diperlakukan seperti ini oleh orang paling kotor yang pernah ia ketahui.

Mark menyunggingkan senyum miring penuh kepuasan kala Haechan lebih memilih untuk diam ketimbang kembali memberontak seperti tadi. Sehingga acara menyusunya tidak terganggu.

"Kau lihat? Dadamu sangat pas dalam genggaman tanganku"

Haechan tak merespon ketika pria itu meremas dadanya dengan pelan. Seolah olah sedang membuai Haechan sebelum dihempaskan oleh kenyataan

Mark berdecih ketika tak mendapati respon berarti dari gadis dibawahnya. Mark kembali mencengkram rahang Haechan agar gadis itu mau menatapnya.

"Kenapa kau tidak merespon apapun yang ku lakukan padamu hah?! Kau ingin aku langsung ke intinya saja? Baiklah"

Mark menghempaskan dagu Haechan dengan kasar. Bangkit dari atas tubuh Haechan lalu melepaskan ikat pinggangnya dengan gerakan yang sarat akan kemarahan.

Haechan menggelangkan kepalanya ribut. Ia tidak mau diperlakukan seperti seorang budak seks oleh Mark. Memprotes pun percuma karena Haechan tak bisa berteriak dan tubuhnya juga terikat.

Dengan kaki yang menendang-nendang udara Haechan mencoba untuk mempertahankan pertahanan terakhir dirinya. Namun tenaga Haechan tetaplah tidak sebanding dengan milik Mark. Karena pria itu telah menahan kedua paha Haechan dengan kuat dan terbuka lebih lebar. Hingga Mark bisa melihat celah sempit yang mampu membawanya merasakan apa yang namanya surga dunia.

"Inilah akibatnya jika kau terus menerus melawanku Nona Lee"

Jleb!

Haechan memejamkan matanya erat dan memekik tertahan. Kewanitaannya belum siap menerima barang asing milik Mark yang ukurannya tidak main-main. Haechan tersedu ketika Mark dengan tega menggerakkan pinggulnya lalu berkata..

"Woah.. jadi aku yang pertama untukmu? Pantas rasanya lebih sempit dari para jalang di club malam"

Mark sedikit berbangga diri ketika melihat bercak merah yang mengotori kejantanannya. Karena jujur, ini adalah kali pertama Mark melakukan seks dengan gadis perawan.

"Hiks.. hng.. hiks"

Haechan masih dengan tangisannya yang tak kunjung berhenti karena Mark memperlakukannya dengan kasar layaknya binatang. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. Ayolah, kewanitaan Haechan belum dilumasi secara sempurna namun Mark lebih dulu melesakkan penisnya kedalam sana.

"Ugh.. kau yang terbaik sayang"

Mark memutar tubuh Haechan dengan paksa dalam posisi menungging tanpa melepaskan tautan mereka. Mark menahan pinggang Haechan ketika ia dengan semangat menggempur lubang milik Haechan dengan ritme yang kasar.

Haechan menyembunyikan wajahnya dibantal, menangisi nasibnya yang tragis seperti ini. Diperlakukan layaknya jalang oleh pria brengsek ini.

"Hmmpph!"

Mark menampar bongkahan padat yang bergerak seirama dengan gerakan pinggulnya hingga berbekas seperti telapak tangannya. Haechan meraung dalam hati, rasanya sungguh perih dan mungkin ia akan tidak bisa berjalan dalam waktu beberapa hari ke depan.

Tak hanya sekali, namun berkali kali Mark menampar pantat Haechan hingga bekas merah begitu kontras dengan kulitnya.

Kaki Haechan melemas, ia tidak sanggup lagi untuk bertahan. Hingga Haechan akhirnya jatuh dan Mark masih setia memegangi pinggang kecil Haechan dan melesakkan penisnya lebih dalam untuk mengejar klimaksnya yang sangat luar biasa.

"Ugh.. hah.."

Mark menghela nafas lega karena cairan sperma berharganya telah berpindah tempat menuju rahim Haechan dengan sisanya yang mengalir bersama darah perawan milik Haechan.

Mark menarik diri dan memperbaiki posisi Haechan yang sangat berantakan. Haechan pingsan, dan Mark tersenyum puas melihatnya. Mengenakan kembali celananya lalu meninggalkan Haechan sendirian dengan kondisi mengenaskan. Berjalan angkuh menuju pintu lalu menghempaskannya dengan bisikan lirih yang tertinggal.

"Itulah akibatnya jika kau membangkang Lee Haechan"


Jangan banyak berharap sama adegan nganunya ಥ‿ಥ

Aku amatiran ಥ‿ಥ