Haechan terbangun dengan rasa sakit mendera seluruh tubuhnya. Haechan mencoba bangun dan bibirnya secara spontan mendesis karena sengatan rasa perih dari area selangkangannya.
Haechan memperhatikan tubuh polosnya. Dia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi. Masa depannya telah terenggut dengan keji oleh manusia brengsek bernama Mark Lee itu.
Haechan menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya sampai batas dagu. Duduk meringkuk dan menangisi semua yang telah terjadi.
Bahu kecil itu bergetar naik turun dengan isakan yang menyayat hati. Haechan merasa dirinya kotor, tak pantas lagi untuk bertahan disini atau hidup diatas bumi tapi menanggung derita separah ini.
Tapi, jika ia mati sekarang dia belum bisa membalaskan dendam ya pada manusia keji satu itu.
Haechan mengusap cepat air matanya dan kembali ke posisi tidurannya meskipun harus menahan pekikan karena tubuhnya terasa remuk redam dan area selangkangannya ngilu, kala mendengar suara kunci yang diputar lalu Haechan kembali berpura pura masih memejamkan mata.
Sosok yang memasuki kamar Haechan adalah Mark, dia menenteng paperbag brand ternama lalu meletakkannya di nakas tepat disebelah Haechan.
Mark memperhatikan wajah Haechan yang membengkak dan memerah akibat tamparannya semalam. Tangan besar Mark mengelus pelan pipi itu lalu mengoleskan gel dingin yang mampu mengobati bengkak dan lebam itu.
"Ngh?"
Haechan melenguh, lebih tepatnya pura pura agar Mark tidak menyadari jika sejak pria itu hendak memasuki kamar, Haechan sudah lebih dahulu terbangun.
Mark menghentikan aksinya lalu memperhatikan Haechan yang masih mengerjapkan matanya mencoba memfokuskan penglihatannya.
"Aku membawakan mu baju ganti. Ambil saja diatas meja itu lalu mandi. Lalu temui aku di meja makan" Setelah berujar demikian Mark kembali meninggalkan Haechan sendirian.
Haechan mendengus "dasar bajingan kaya raya! Seenaknya saja memerintahku. Apa dia tidak memikirkan seberapa perihnya selangkanganku ketika berjalan!" Lalu mengomel
Haechan menyeret tubuhnya untuk bangkit dan berjalan tertatih seperti nenek nenek menuju kamar mandi
"Apa apaan ini?! Kenapa si brengsek itu memberikan baju kurang bahan seperti ini?!"
Haechan memekik ketika melihat baju yang berada dalam paperbag tadi dan memakainya.
Haechan mengerang kesal. Pasti ada maksud terselubung tentang baju ini. Ya, pria itu pasti ingin menidurinya di meja makan! Pikir Haechan.
Meskipun Haechan terlihat cantik dan seksi namun Haechan bukanlah seseorang yang hobi mengumbar bentuk tubuhnya. Dia lebih suka memakai kemeja dan celana jeans yang simple dan nyaman.
"Aku tidak yakin dia masih memiliki pemikiran yang waras setelah ini" gumam Haechan sebal
"Lebih baik aku segera menemui si bajingan itu dan bersembunyi dari hormonnya yang ganas itu" Haechan bergidik ngeri ketika bayangan semalam melintas dipikirannya.
Mark yang mendominasi dirinya dan aura tajam pria itu seakan membekas dihati Haechan. Bukannya Haechan mulai mengagumi pria itu, tidak. Haechan hanya memendam perasaan kesal luar biasa karena membuat pengalaman pertamanya terasa begitu buruk.
Haechan membuka pintu kamar dan disuguhi pemandangan seorang pria yang tengah menunggunya seraya memainkan ponselnya dan bersandar didinding tepat disebelah kanan pintu.
"Oh, kau sudah selesai?" Pria itu bertanya
"Kalau belum aku tidak akan berada disini bajingan" balas Haechan tajam
Pria itu, Mark terkekeh geli "aku suka perlawanan mu melalui kata kata kasarmu itu"
"Itu bukan hal yang patut dibanggakan tuan brengsek! Sekarang apa yang kau mau?!" Haechan menaikkan nada suaranya
Ia sudah tersulut sejak Mark memberikan tatapan yang begitu melecehkan harga dirinya. Mark berdecak lalu menarik tangan Haechan menuju ruang kerja miliknya yang berada di lantai dasar.
"Yak! Kau mau membawaku kemana?! Aduh! Pelan pelan! Selangkanganku perih- KYAAA!!"
Protes Haechan sama sekali tak digubris oleh Mark. Tetapi Mark tanpa kata langsung membopong tubuh Haechan dengan sebelah tangannya seakan akan dia tengah mengangkat seorang anak kecil. Pria itu masih diam hingga tiba di ruang kerja miliknya.
"Duduk" perintah Mark
"Tapi ap-"
"Ku bilang duduk Lee Haechan!"
Mark menggeram. Ia tidak suka ada bantahan dalam setiap perintahnya. Apalagi hanya seorang wanita bernama Haechan ini. Yang mana dalam sekali pukulan dia akan habis.
Haechan terdiam. Dan dengan terpaksa dia mengikuti perintah Mark. Ingat, Haechan terpaksa oke?
Mark memutari meja. Duduk di kursi kebesarannya lalu membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map.
"Baca dan tanda tangani kontrak ini Haechan" Mark mendorong map itu mendekat kearah Haechan.
Haechan perlahan lahan membuka map itu seakan membuka catatan dosanya. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya mulai memburu ketika membaca poin poin kontrak itu.
• setiap kali bercinta hutang pihak pertama akan berkurang sebesar 10% percintaan dilakukan jika kedua belah pihak saling menyetujui.
• pihak kedua akan memfasilitasi pihak ketiga
• selama hutang belum lunas pihak ketiga dilarang untuk melarikan diri atau hutang akan kembali ke jumlah awal beserta bunganya.
"Kenapa isi kontraknya seperti ini?!" Protes Haechan
Mark menaikkan sebelah alisnya "bukankah itu menguntungkan mu?"
"Menguntungkan apanya?! Aku terlihat seperti jalang disini!" Haechan masih menyalak garang
Mark menaikkan sudut bibirnya hingga terulas sebuah senyum tipis. Oke, ingatkan Mark jika dia tak pernah tersenyum pada siapapun meskipun senyum yang nampak samar ini.
"pikiranmu terlalu sempit Haechan. Kau yang beranggapan seperti itu. Bukan aku"
Haechan meniup poninya kesal "tapi tetap saja-"
"Cepat tanda tangani Haechan" ujar Mark mulai jengah dengan tingkah Haechan yang terlalu berbelit Belit itu
Haechan mendelik "aku belum membacanya sampai habis Mark!"
Mark mendengus "oh akhirnya kau memanggil namaku dengan benar"
Haechan memutar bola matanya malas "kurasa itu bukanlah hal yang patut dibanggakan"
"Apapun yang keluar dari mulutmu merupakan kebanggaan tersendiri bagiku" ujar Mark ringan ditutup dengan kedipan pada Haechan.
Haechan bergidik "dasar gila!"
Mark menahan senyum ketika melihat Haechan yang begitu serius membaca kontrak itu. Entahlah, Haechan begitu manis,cantik dan seksi disaat yang bersamaan. Membuat Mark merasakan perasaan asing yang hadir di rongga dadanya.
Perasaan asing yang mampu mencairkan kebekuan hatinya. Perasaan asing yang menghangatkan jiwanya. Namun Mark rasa terlalu tabu jika itu disebut cinta. Karena memang sejak awal Mark tidak pernah percaya akan eksistensi sebuah cinta.
Dahi Haechan berkerut kala sampai pada bagian kontrak ayahnya dengan Mark. Jadi apa ayahnya ini menjadikan Haechan tumbalnya?
Haechan tak habis pikir. Kenapa ayahnya melakukan hal ini?
Jika pihak pertama tidak mampu mengembalikan pinjaman dari pihak kedua maka pihak kedua boleh mengambil barang berharga milik pihak pertama sebagai jaminan selama pihak pertama belum mampu melunasi.Pihak pertama Pihak kedua ( Lee Jun ) ( Mark Lee )
Yang terakhir kali Haechan lihat adalah isi kontrak yang dibuat ayahnya dengan si biadab ini. Dan total uang pinjaman itu sangatlah banyak dengan angka nol yang berderet panjang.
Haechan tidak tahu untuk apa ayahnya meminjam uang sebanyak itu namun kehidupan mereka akhir akhir ini sangatlah standar. Cenderung biasa saja malah
"Apa kau ingin tahu kenapa ayahmu bisa meminjam uang sebanyak itu padaku?" Mark memajukan wajahnya hingga Haechan terkesiap.
"Dia memberi modal pada seorang janda agar bisa membuka usaha. Dan ayahmu melakukan itu karena wanita itu adalah kekasih ayahmu dimasa lalu. Mereka mencoba merangkai kembali hubungan yang sempat kandas dulu"
Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Haechan. Akalnya mendoktrin jika ucapan Mark itu busuk. Dia hanya mengelabuinya, hanya menghasutnya. Namun di lubuk hati yang paling dalam Haechan sedikit khawatir tentang itu.
"Kau pasti sangat mengenalnya Haechan. Apalagi anak dari wanita itu selalu membuat masalah denganmu"
Haechan mengerutkan keningnya, ia seperti mendapat hint dari kalimat Mark tadi
"Siapa?"
"Yuri, Han Yuri"
Maap kalo kontraknya gak masuk akal gitu, aku ngaco ಥ‿ಥ
Harusnya ada fotonya disini:(
Buat yang kepo fotonya bisa diliat di wattpadku:
Btw, kalo update lewat hp berantakan banget ಥ‿ಥ
