Pergi Mandi

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC, typo, gaje parah, malu2in, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Kikuchi Kan (26/12/2020).


Kesadaran yang tersentak akibat mimpi menyebabkan Kikuchi Kan terbangun. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit yang berarti, alarm alami dalan tubuh Kan bekerja baik. Biarpun kenangannya perihal bunga tidur, masih tersisa banyak kesamaran yang harus dibenahi.

Rasa-rasanya wajib sekali Kan merekonstruksi mimpi satu ini. Seakan-akan direstui seisi dunia nyata juga paralel pula, ia dengan cepat menyambungkan serpihannya. Lengkap. Terasa seratus persen tepat, tetapi Kan justru tepuk kening. Sebisa mungkin benaknya kurang ingin membocorkannya, sehingga habis-habisan merenungkan itu sendirian. Barulah keluar kamar yang tiba-tiba disambut suara meledak party popper.

"Happy birthday, Kan!"

Konfeti mewarna-warnikan udara pagi yang masih bertema musim salju. Kue cokelat yang meriahnya sederhana dengan sebatang lilin saja langsung disodorkan. Tidak membiarkan Kan masih kaget akan potongan kertas yang menyangkut di kepalanya, dan ia pun meniupnya diiringi nyanyian riang. Mereka benar-benar niat mengerumuninya, Kan pikir. Seolah-olah tahu kapan Kan tidur, lalu bangun jam segini yang amat tepat sasaran.

"Sekarang setelah meniup lilin, waktunya mengatakan permohonan!" seru Hori Tatsuo gembira. Padahal jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi lebih beberapa menit, kali. Musim dingin yang tidak sekali pun mematikan semangat mereka dengan salju, membuat Kan sungguh-sungguh terharu.

"Permohonan, ya ... sebenarnya sederhana saja, sih." Dagunya Kan usap. Hori makin penasaran begitu pun anggota-anggota Shinshichou lainnya, dan ada pula Dazai Osamu yang ikut karena diajak Akutagawa Ryuunosuke. Sayup-sayup Akutagawa merasa Kan sempat menyiratkan tatapan kepadanya. Akan tetapi Akutagawa belum curiga. Senyuman Kan sebetulnya kian lebar karena itu.

"Aku hanya ingin Ryuu mandi, kok. Sederhana banget, 'kan? Apalagi sekarang masih pagi. Pas banget waktunya."

Yang lainnya menyambut keinginan tersebut, bak keindahan yang hanya turun untuk dipuja seribu tahun sekali. Si pembawa kue, yakni Akutagawa itu sendiri, sekujur tubuhnya mendadak meremang tidak enak. Kini senyuman Kan yang lebar terang-terangan menemui Akutagawa. Tiba-tiba pula telunjuk Akutagawa mengarah pada sebuah sudut yang aneh. Berusaha menyembunyikan dan diam-diam mengeksekusi niat untuk kabur.

"Lihat, deh, di sana kayaknya ada sesuatu yang aneh."

"Di sini yang aneh itu kau, Akutagawa-kun. Dikira kami bakal tertipu apa?"

"Ih, Kume! Seriusan. Ada sesuatu yang aneh di situ." Akutagawa tetap mengotot bersama keringat dingin yang membanjiri tubuh. Memaksa sedemikian rupa pun Masao Kume tetap menatapi Akutagawa, walau setidaknya Hori dan Dazai percaya. Yamamoto tepuk jidat mendengar keduanya berseru, "Mana, mana, mana?" tanpa kecurigaan apa-apa.

"Benar, deh, kayaknya. Sesuatu bergerak-gerak gitu, deh. Iya, kan, Hori-sensei?"

"Ya. Samar-samar kayak ada yang bergerak. Jangan-jangan cerita Yakumo-san benar lagi." Mengenai makhluk kegelapan yang bersembunyi di sudut-sudut lorong, kemudian siapa pun yang lewat akan dimakan. Yakumo mendongengkannya di hari natal kemarin. Diprotes habis-habisan gara-gara ceritanya belok 180 derajat–awal-awal mengharukan padahal, serius.

"Mana, deh? Awas saja kalau Akutagawa-kun sampai ka–"

Masih dengan kue di tangan Akutagawa kabur secepat kilat. Ternyata hanya laba-laba besar yang tampak di mata, dan ketika rasa penasaran mereka terpuaskan, penyesalan pun terbit. Setelah agak ribut, Hori menyarankan supaya semuanya segera mengajar Akutagawa. Tiada yang tidak setuju seharusnya. Namun Kan menolak saran tersebut, dan berkata ia akan melakukannya sendiri.

"Bakal berhasil emangnya?" tanya Dazai sangsi. Tangannya terlipat di depan dada. Lumayan dongkol, karena pecinta nomor satu Akutagawa-sensei malah tak dilibatkan. Kemungkinan gagalnya pasti seratus persen itu.

"Berhasil, lah. Kan enggak bodoh macam Dazai-kun."

"Tapi tadi aku juga percaya, lho." Wajah sendu Hori gurat. Kepanikan sempat melanda Kume, tetapi tidak jadi mendapati ekspresi mengesalkan Dazai minta digeprak.

"Hati Hori-kun itu suci dan murni. Wajar dia percaya sama Akutagawa-kun. Jadi, Hori-kun itu enggak bodoh kayak Dazai-kun."

"LAH?! BEGITU AMAT! KUME-SENSEI PILIH KASIH, IH! GELUT KITA GELUT!"

Perdebatan itu dimenangkan oleh Yamamoto pada akhirnya. Jurus ceramah ia keluarkan, mengakibatkan Dazai dan Kume harus mendengarkannya. Karena Hori bilang dia pun ingin menjadi pendengar, Yamamoto memutuskan orasi dua jam nonstop.


Tumpukan salju di luar perpustakaan membuat tempat persembunyian makin terbatas. Saking kehabisan ide, dan rasa takutnya hanya bisa memukul-mukul Akutagawa keras-keras, ia memutuskan bersembunyi di bawah meja. Meringkuk dalam-dalam, sambil mencicitkan harapan yang amat lemah.

Mudah saja bagi Kan untuk menemukan eksistensi Akutagawa. Kuenya berada di atas meja, sedangkan Akutagawa-nya berada di bawah. Kan berjongkok dan melihat Akutagawa. Telunjuknya berulang-ulang menyentuh tangan Akutagawa yang terlipat. Dewi fortuna pun lebih mengabulkan harapan Kan agar ia memperoleh atensi Akutagawa. Iris aquamarine yang memelas itu menatap Kan. Bisunya berdoa Kan mau sedikit lunak hati.

"Kau benar-benar seorang anak yang manis, Ryuu," ujar Kan iseng. Kelakuannya yang bersembunyi seperti ini menyerupai bocah yang takut-takut, karena membawa telur besar dari ibu guru, bukan? Tetapi Akutagawa tidak terima. Mengerucutkan bibir yang mengundang tawa Kan tertawa.

"Walaupun Kan diam-diam membawaku ke onsen, aku bisa langsung tahu, lho. Sia-sia sa–"

Suara Kume yang memanggil-manggil Kan terjaring dari kejauhan. Akutagawa kembali mencoba bersembunyi, dengan membenamkan paras pada perempatan lutut. Netra violet-nya agak menyipit, menemukan Akutagawa terlalu besar untuk kolong meja yang mungil. Menatap kepada Dazai untuk persetujuan pun sia-sia, jelas. Sinar di kedua bola matanya sudag menjelaskan sambil melompat-lompat, betapa imutnya tingkah Akutagawa.

"Ada apa, Kume?"

"Begini. Tadi aku, Dazai-kun, Yamamoto-kun sama Hori-kun sepakat, kalau kami mau merayakan ulang tahunmu di onsen. Sekarang Yamamoto-kun sama Hori-kun lagi memberitahu yang lain."

Gagasan tersebut lahir dadakan, menilik baik Kume maupun Dazai ogah mendengarkan ceramah ala ibu-ibu punya Yamamoto. Untungnya dia setuju. Ikhlas melupakan tentang khotbah berjam-jam yang merupakan, cara tak menyenangkan untuk melelehkan dingin di badan.

"Ide bagus, tuh. Kalian benar-benar serius, ya, untuk mengabulkan permohonanku."

"Serius, dong! Aku, kan, mau menggosok punggung Akutagawa-sensei. Benar-benar tahun yang dipenuhi berkah ini mah."

Merayakan natal dengan obrolan dan kado yang hangat, lalu disambung ulang tahun Kan yang jalan-jalan ke onsen–namanya apa jika bukan berkah? Sebelum dihampiri siapa pun Akutagawa rebah di atas karpet. Memeluk tubuhnya sendiri seolah-olah dingin hendak meremukkan tulangnya, di mana lagi-lagi Dazai tertipu. Untungnya Kume menyuruh Hori menemani Yamamoto. Mana tahan dia melihat Hori yang baik hati dibodohi sandiwara Akutagawa yang padahal kelewat payah.

"K-k-kayaknya ... a-aku ... sakit ..."

"Sakit gara-gara mendengar kata onsen, maksudmu? Sudahlah, Akutagawa-kun. Terima saja nasibmu dan kita pergi ke onsen. Hari ini ulang tahun Kan, lho. Masa kau tega enggak mau mengabulkan permohonan dia."

"Curang amat mainnya kayak begitu."

"Nah, kan, lancar bicaranya. Jangan kasih ampun, Kan. Entar malah melunjak yang ada." Nada bicara Kume sebelas-dua belas menyamai provokator. Salah Akutagawa juga yang menguras habis kesabaran Kume. Pasti Kan pun sependapat, sehingga harusnya ia tak repot-repot mengecek suhu tubuh Akutagawa.

"Maunya, sih, begitu. Namun kurasa, Ryuu benar-benar sakit."

"L-lho ...? Kan enggak salah bicara?"

"Sedikit demam. Aku akan membawanya ke kamar. Lalu Dazai, tolong potong kuenya dan bawakan ke kamar Ryuu. Sama obat juga, ya."

"Siap, Kikuchi-sensei!"

Sama seperti kondisi Kume, bungou lainnya pun terkejut melihat Kan memapah Akutagawa. Usai Akutagawa yang mencurigakan dan Kan yang membingungkan, lenyap dari sudut pandang, mereka cukup ribut bahwa Akutagawa pasti berbohong. Keengganan sang penulis Rashomon terhadap mandi adalah rahasia umum. Kenapa pula Kan percaya saja? Kekisruhan ini pun serempak mengira Kan tertular kebebalan Dazai.

"Pagi-pagi sudah bersemangat begini. Anak muda memang beda, ya." Natsume Soseki bergabung dengan pembicaraan. Tanpa ba-bi-bu Kume menghampiri guru mengarangnya ini. Mau habis-habisan melapor soal kenakalan Akutagawa yang mencapai taraf parah.

"Rencananya kami mau merayakan ulang tahun Kan di onsen. Terus Akutagawa-kun malah pura-pura sakit. Dia harus dimarahi, Sensei. Saya yakin Sensei bisa meyakinkan Akutagawa-kun."

"Kan enggak bodoh, kok. Kita tunggu saja, ya. Sekarang rileks dulu makan mochi panggang."

Ajakan memakan mochi panggang paling disetujui oleh Ozaki Kouyou. Entahlah Kume salah apa kepada dunia. Daritadi rasanya seperti dikutuk, ketika yang ia katakan selalu dipatahkan secara paksa, atau berbelok ke arah tak terduga.


Obat dan kue yang telah dipotong, Dazai berikan pada Kan. Sampai akhir wajahnya kecut pedas, karena yang mendapatkan panggungnya tetap saja Kan seorang. Dazai malah diusir keluar yang sebagai bukti bahwa ia jengkel; mustahil memaafkan Kan, pintunya dibanting sewaktu ditutup.

Setidaknya Akutagawa berhasil mengelak dari onsen, tetapi kelegaan terpendam dalam dada ternyata tidak serta-merta bangkit. Melihat Kan hanya duduk di samping Akutagawa tanpa niat beranjak itu agak horor. Tiba-tiba pula Kan mengangkat piring berisi potongan kue yang terbilang besar. Dibelah kecil-kecil menggunakan sendok oleh Kan, lantas ia menyodorkannya kepada Akutagawa.

"... apa?"

"Buka mulutmu, Ryuu. Aku mau menyuapkan kuenya padamu."

"Jangan repot-repot, ah, Kan. Lagian aku masih bisa makan sen–"

Mumpung celah terbuka sewaktu mulut Akutagawa membantah, Kan langsung memasukkan kuenya. Kata-kata yang belum usai yang diberi makan rasa cokelat itu berhenti keberatan. Justru meminta dengan sendirinya agar manis yang lumer tersebut diberikan lagi padanya. Tampak canggung membuat Kan tertawa kecil macam sebelumnya. Ternyata beginilah ceritanya, apabila ia melihat Kan ketawa seolah-olah karena Akutagawa seorang.

Entahlah yang membuat candu itu memang cokelat di dalam kue, ataukah karena Kan yang menyuapi Akutagawa, ia tidak tahu. Perasaan Akutagawa adalah mosaik yang kehilangan satu dan seluruh pecahannya. Fragmen-fragmen tersebut lantas hidup, sebab Akutagawa bernapas di hadapannya. Bukan lagi seni dekorasi bidang dengan kepingan bahan keras berwarna, melainkan gambarannya nyata yang tak hanya menempel di dinding hati Akutagawa.

Mungkin selama ini, wajah Kan memang mosaik yang hati Akutagawa buat secara sembunyi-sembunyi. Bangkit, sebab akhirnya hanya berkesempatan merasai Kan seorang, atau entahlah, karena lebih seperti lukisan mosaik tersebut tibanya tiba-tiba.

Sebelum meninggal dan dipanggil kemari sebagai representasi jiwa penulis, Akutagawa tentunya pernah jatuh cinta dan menikah, walaupun dengan wanita. Pertanyaannya ialah, apakah mencintai pria juga begini? Entah sejak kapan hatinya hanya melihat satu paras saja, begitu? Akutagawa kira lebih menggebu-gebu macam mengawali perang, mungkin?

"Setengahnya lagi buat Kan saja. Maaf merepotkanmu." Suapan yang selanjutnya Akutagawa tolak sesopan mungkin. Sekarang ini piringnya diserahkan ke Akutagawa yang diterimanya penuh keheranan. Kan membuka mulut lebar-lebar meminta Akutagawa balik menyuapinya.

"Serius?"

"Iya, dong. Tentunya aku juga mau makan kuenya."

"Kenapa ... enggak makan sendiri?"

"Penasaran saja, apakah rasanya akan berbeda kalau kau menyuapiku?"

"Hahaha. Kan lucu. Iya, deh, tetapi sekali saja, ya." Potongan kuenya Kan kunyah perlahan-lahan. Ini adalah rasa manis yang normal yang cukup pandai menyenangkan lidah. Dahi Kan tetap saja mengernyit, soalnya ia belum menemukan yang dicari.

"Coba lagi. Kalau hanya sekali belum terasa perbedaannya."

Perkataan Kan lagi-lagi sekadar Akutagawa turuti. Ujung-ujungnya malah semua kue cokelat yang tersisa Akutagawa suapkan pada Kan. Hanya terpatri rasa puas di wajah Kan, dilanjut ia berkata semuanya baru terasa lain, jika Akutagawa melakukannya hingga akhir. Tuduhan bahwa Kan sebatas mengerjai Akutagawa digantikan oleh senyuman kecil. Jika Kan bilang begitu Akutagawa harus apa memangnya?

"Baiklah. Sekarang waktunya untuk mengecek suhu tubuhmu."

"E-enggak perlu, Kan! Istirahat sebentar juga sehat, kok." Pura-puranya malah terbongkar yang ada. Hanya saja Kan tak mengindahkan penolakan Akutagawa. Sibuk mengecek termometer yang mungkin terselip di laci nakas.

"Tahu begini aku suruh Dazai membawakan termometer. Pakai tangan kurang pasti, sih, tetapi tenang saja."

"Tenang saja kenapa?"

"Ada cara lain untuk mengecek suhu tubuhmu. Diam saja dan perhatikan, Ryuu."

Dengan gerakan lembut yang nyaris tidak kasatmata, Kan mendekatkan wajahnya pada Akutagawa. Merasai udara miliknya adalah musim semi yang mengembuskan hangat, kendatipun Kan lahir pada hari-hari bersalju yang berat. Akutagawa hanyalah selembar bunga yang menunggu dan menunggunya, ketika Kan memegang dagu Akutagawa. Angin itu mengecup rapuh di tubuhnya. Menyatukan mereka dalam lupa yang melupakan nyata.

Namun, kenyataan yang mereka lupakan dan tanggalkan itu tidak serta-merta hilang. Selama Kan menjelma angin yang mengecup Akutagawa; menggantung hidupnya pada kerapuhan sehelai bunga ini; dunia akan selalu lahir–memanggil keduanya sebagai muda yang segera tak bisa apa-apa, jika nanti mulai terpisah karena mengucapkan sampai jumpa.

Hidung mereka pun turut saling mengasihi dengan menyentuh. Kan semakin mendalami Akutagawa yang mekarnya kian liar. Akutagawa juga terus, terus, serta terus menenggelamkan dirinya pada Kan. Sangat percaya, sekalipun di dunia yang keduanya ciptakan ini tiada napas atau bernapas, hidup tetap dapat hidup.

"Ryuu benar-benar panas, ya. Berarti sekarang aku juga tertular demammu. Bagaimana caramu bertanggung jawab?"

Ketika pagutannya dilepaskan Akutagawa pun berantakan. Tidak bisa merapikan napasnya sendiri yang berserakan, ataupun wajahnya yang merahnya lemah; menuntut pertanggungjawaban agar ia dikembalikan seperti semula. Mengetahuinya Kan menjatuhkan sebuah kecupan pada kening Akutagawa. Menyadari itu tak cukup untuk membuat Akutagawa utuh, Kan sampai naik ke atas ranjang. Memberinya peluk

"Ranjangnya enggak muat. Numpang istirahat di atas tubuhmu, ya."

"Memangnya bisa begitu? Yang ada aku tambah sakit, dong."

"Sekarang kita sama-sama deman. Pasti tidak apa-apa." Dada Akutagawa dijadikan bantal. Ujung rambutnya sampai Kan cari, lalu jemarinya mainkan dengan berbagai cara. Nanti berpilin di telunjuknya. Helai Akutagawa bersandar pada ujung-ujung jari Kan yang lantas ia elus-elus. Terakhir dikecup menggunakan bibir Kan lagi yang wangi cokelatnya dua kali lipat.

"Berat, Kan."

"Mau tukeran posisi kalau begitu?"

"Tidak begitu juga maksudku. Lagian kenapa Kan tiba-tiba melakukan ini?" Tanpa sadar Akutagawa sudah memalingkan wajah. Perasaan sewaktu Kan menindih perutnya merupakan keanehan yang sangat ajaib. Bahwa mengeluh berat pun Akutagawa nyaman-nyaman saja, dan lapang dada menerimanya.

"Anggap saja pelayanan khusus. Sekarang giliranku bertanya, ya. Kenapa kau mengajak Dazai juga?"

"Hmm, ya ... kalian pernah bertengkar perihal diriku yang lain, bukan? Demi melindungi taint Akutagawa, Dazai-kun sampai melawan kalian bersama anggota Buraiha lainnya. Aku yakin kalian sudah berbaikan. Jadi, sekalian saja."

"Bukan karena Ryuu ingin memanfaatkan Dazai agar bisa kabur, kalau-kalau terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan?"

"Tentu saja tidak begitu, Kan. Bukan berarti aku sudah menyangka, Kan kepingin aku mandi." Meski dibandingkan siapa pun, memang benar yang paling getol mengajak Akutagawa. Semestinya telah jelas. Namun, mana mungkin juga Akutagawa mau membayangkannya, sekalipun ia dibayar gila-gilaan.

"Ingat soal kamar mandi di paling pojok?"

"Jarang dipakai, 'kan? Kenapa memangnya?"

"Mending ke onsen atau kamar mandi itu? Pilih salah satu, Ryuu."

Firasat Akutagawa buruk. Dibandingkan sebelumnya juga Kan lebih menegakkan tubuh. Menaruh sebelah tangannya pada bahu kanan Akutagawa, tetapi tidak ada kata berhenti yang singgah. Perlahan-lahan dengan gerakan yang lagi-lagi seolah-olah tiada namun ada, Kan sudah menurunkan yukata yang Akutagawa kenakan. Menampilkan pundaknya yang telanjang, juga kulit dadanya yang masih malu-malu–tonjolan yang membusung itu.

"Jika di kamar mandi aku akan melepaskan pakaianmu seperti ini. Sekalian kumandikan. Kelihatannya Ryuu akan menikmatinya, deh."

Berhati-hati Kan turun dari tubuh Akutagawa. Tanpa aba-aba pula ia mengangkat Akutagawa yang spontan menutup wajah. Kata-katanya masih kalang kabut di kerongkongan, padahal Kan telah berjalan bahkan memutar kenop. Parahnya lagi bungou yang lain terang-terangan berniat memonitor kamar Kan. Syok bukan main mendapati keduanya macam ... pasusu (Pasangan suami-suami) baru menikah?

"Ke onsennya jadi, kok. Sekarang aku mau memandikan Ryuu lebih du–", "I-ikut ..." potong Akutagawa lirih. Jarinya yang lentik tampak menggemaskan, tatkala meremas

"Ikut ke ... onsen ..."

"Akhirnya kau semakin menjadi pria sejati, Ryuu! Kalau begitu ayo langsung ke onsen. Pertama-tama minum air dulu. Ryuu pasti haus."

Pergelangan tangan Akutagawa digenggam. Seulas bisikannya diam-diam berujar, "Aku enggak akan kabur, kok", yang cukup hanya didengar langit-langit lorong. Mulut Kume rasa-rasanya jatuh ke jurang terdalam. Gagap sekali ketika menunjuk punggung mereka yang lenyap ditelan jarak, di mana Yamamoto sekadar mengidikkan bahu. Jangan tanyakan kondisi jiwa Dazai yang mengenaskan. Sakaguchi Ango langsung menyuruh Oda Sakunosuke mendekat untuk sesuatu.

"Oke. Kutebak mereka habis seks." Blak-blakan banget memang. Dilihat dari yukata Akutagawa yang salah satu bagian bahunya melorot, pasti Kume pun berpikir sama sebenarnya.

"Jadian, sih, menurutku. Nanti kalau Ango salah, minum seratus botol susu, ya, sesuai perjanjian."

"Perjanjiannya berlaku buatmu juga, lho. Ingat juga kalau kita salah dua-duanya, sama-sama minum seratus botol susu."

"KOK KALIAN MALAH TARUHAN KAYAK BEGITU, SIH, PAS TEMANNYA LAGI SEDIH? AUK AH. ANGO SAMA ODASAKU JAHAT."

"Kagak begitu, Dazai! Oi, Dazai!" seru Ango yang terus meneriakkan nama Dazai. Tangisannya malah kian kencang, membuat Dan Kazuo yang paling telat bangunnya bertanya-tanya.

Katakanlah bahwa keberhasilan Kan itu berasal dari mimpi yang menjamah tidurnya semalam, walau ia sadar terlampau berlebihan. Di perjalanan menuju onsen Kan menyempatkan diri meminta maaf. Hanya ditemukan suaranya saja pun pipi Akutagawa memerah, dan mempercepat ritme melangkah. Kan yang seolah-olah paham jadi menepuk jidat. Niatnya membuat Akutagawa mandi malah berujung perasan yang serius.

"Mendadak teringat masa lalu. Kalau coba kuingat-ingat juga, aku suka sama dia karena apa, ya?"

Apa pun itu, intinya tahun ini merupakan ulang tahun Kan yang tergila. Entahlah ia harus berterima kasih pada alur mimpinya atau tidak.


Tamat.


A/N: Asli. malu banget. tapi tetep aku publish karena aku udah malu 300x juga tiap publish fic, tapi yang ini parah banget. ini cuma ide random sebenernya. awal2 juga bingung, "ini abis kan mau aktgw mandi terus apa?". karena kepikiran romance yaudah kueksekusi kek gini. cuma romance-nya cringe parah. ini juga Kan nya ooc banget sih. gini amat ya punya ide. gini amat ya cara eksekusinya. aduh aku tidak sanggup menghadapi fandom ini lagi.

Tetapi tetep thx buat yang udah baca (meski eneg), fav, follow, review, atau numpang lewat doang. tahun depan kalo aku masih di sini dan inget kan ultah tanggal segini, aku mau bikin yang lebih baik.