Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.

Genre : Drama/Romance

Pairing : Sesshoumaru/Kagome

Rate : T

Canon Divergence

.


Helaan napas dan uap melesat dari mulut Kagome yang sedikit terbuka. Ia menolehkan kepala pada deretan kereta besi yang perlahan berhenti dari arah kanan. Dengan kepala tertunduk, ia melintasi trotoar. Sesampainya di seberang jalan, ia melewati begitu saja orang yang menunggunya.

Kini, langkah Kagome diiringi pria bertubuh tegap. Gadis itu mengeratkan mantel cokelatnya dan melilitkan syal merah ke leher. Keluar dari perangai aslinya, si sulung Higurashi berkata pelan, "Apa sih sebenarnya masalahmu?"

Tidak ada jawaban. Melalui ekor mata, Kagome menangkap lirikan datar dari sosok yang ada di sisinya. "Oh, iya, aku lupa, kau terlahir sempurna, mana mungkin kau punya masalah. Satu-satunya orang yang memiliki masalah di sini adalah aku." Dengan lirih, ia menambahkan, "Dan kau tahu benar bahwa masalah terbesarku adalah kamu."

Walaupun pendengaran silumannya sangatlah sensitif, lelaki yang memakai kemeja putih berlapis setelan biru gelap dan long coat abu-abu itu tak serta-merta merespons. Ia hanya terus berjalan. Tiba-tiba, langkah gadis berusia dua puluh tiga tahun itu berhenti. Kagome mendongak, sudut-sudut bibirnya tertarik ke bawah untuk sesaat, sebelum ia memejamkan mata dan mengatur ekspresinya senormal mungkin. "Tolong," ucapnya lemah. "Tinggalkan saja aku sendiri."

Kaki pria berambut pendek berwarna hitam sebatas telinga itu ikut terhenti. Ia berpaling dan membalas, "Sesshoumaru ini telah berjanji dan akan menepati."

Jawaban itu sudah sangat dihafal oleh Kagome. Puluhan kali sudah ia mendengar hal tersebut dari Daiyoukai berusia ratusan abad itu. Ia pernah meminta pada Sesshoumaru untuk melupakan, mengabaikan, dan membatalkan ikrarnya. Akan tetapi, pria itu berkata bahwa hal itu tidaklah mungkin. Sebab, harga diri seorang pria sejati tak hanya terletak pada tindakan, tapi juga lisan.

Kagome membuka kembali indera penglihatannya. Ia menatap dengan penuh harap pada lawan bicaranya. Meski warna rambut, tanda bulan di dahi, dan dua garis magenta di pipi tertutup oleh mantra. Tetapi, garis muka dan ketampanan itu tetaplah ciri Sesshoumaru yang dikenalnya dari era feodal.

Perempuan itu memilih untuk kian menepi dari sisi jalan dan berhenti di depan taman yang sudah sepi. Langkahnya diikuti oleh Sesshoumaru.

Beberapa saat, Kagome berdiri diam sambil menatap ujung sepatu sebelum memandang lurus pria yang entah bagaimana selalu muncul kala asanya pupus sejak lima tahun lalu. "Kau akan menyanggupi permohonannya dan menjagaku sepanjang hidupmu."

Tidak ada reaksi, putra Inu no Taisho itu seakan tak mendengar.

Suara Kagome berat menahan tangis, "Sesshoumaru," ia mengambil jeda untuk memilah kata, "Sejak Naraku masih menyebarkan kejahatan di sengoku jidai, aku sangat menghargaimu sebagai sekutu, kawan, dan kakak dari laki-laki yang kucintai."

Penyandang Bakusaiga yang kini hidup membaur dengan manusia itu sibuk menerka maksud yang hendak diungkapkan oleh sang miko.

Gadis itu menelan ludah sebelum berkata, "Sebagai bagian kawanan yang kau lindungi, maukah kau melakukan sesuatu untukku?"

Di zaman modern itu, Sesshoumaru memiliki beberapa perusahaan besar di Jepang. Ia dengan mudah mengabulkan keinginan Kagome, itu jika tuntutannya adalah materi. Tapi tidak, ia tahu benar bahwa bukan harta yang akan dipinta perawan kuil itu.

"Berjanjilah padaku bahwa kau akan menyanggupinya!" desak Kagome.

Intuisi Sesshoumaru menangkap niat gadis itu. Dengan yakin ia bersuara, "Tidak."

Dengan nada bergetar, Kagome yang tak lagi peduli dengan satu-dua orang yang lalu lalang di sekitarnya lantas membalas, "Aku bahkan belum mengatakan apa-apa, mengapa secepat itu kau menolaknya?"

Angin musim dingin berembus kencang, kepingan-kepingan putih berjatuhan dari langit.

Mata pria itu memicing.

Bola mata gadis itu berair.

Kedua tangan Kagome terkepal di sisi tubuh. "Aku hanya ingin kau meninggalkanku sendiri. Biarkan aku hidup normal, izinkan aku melupakan masa lalu, bantu aku melupakan segalanya. Aku tak ingin lagi merasa sakit karena kehilangannya," di akhir kalimat, suaranya bergetar oleh kepiluan.

Tepat seperti terkaannya. Masih dengan nada datar dan air muka teduh, Sesshoumaru menyahut, "Tidak." Sekelebatan memori tentang akhir hayat sang adik terlintas di benak. Seraya menatap puluhan mobil yang melesat secepat kilat di kejauhan, lelaki itu berujar, "Jika benar-benar mencintainya, kau tidak harus melupakannya."

"Aku tidak tahu lagi apa yang bisa membuatmu paham." Dahi Kagome berkerut. "Keputusanku ini adalah yang terbaik untuk kita."

"Kau ingin Sesshoumaru ini menjauh?"

Kagome menguatkan diri kala menyambut sepasang permata cemerlang nan menusuk sukma. Lehernya terasa kaku kala mengangguk.

"Hn."

"kau akan menyanggupinya?"

"Jika itu kehendakmu.''

Rangkaian aksara dari Sesshoumaru membuat lutut Kagome lemas seketika. Dayanya bagai terkuras tanpa sisa.

Kala itu, ada pertanyaan besar dalam dada sang shikon miko? Apakah benar perpisahan yang ia inginkan? Jika bukan, apa yang sebenarnya ia butuhkan? Mengapa belum apa-apa ia sudah merana? Mungkinkah ia sanggup kehilangan untuk yang kedua kalinya?

Kagome memejamkan mata, wajahnya berkerut di tengah, menahan pedih. Napasnya terasa berat, dadanya pun asak. Setelah beberapa lama, ia kembali menatap dunia. Yang pertama dilihatnya adalah kemuraman yang tertera di kedalaman netra emas. Pemandangan itu membuat hatinya terasa sakit.

Pada saat itu juga, shikon miko itu tidak lagi berpikir sebelum berkata. Ia hanya meluapkan segala yang terpendam di lubuk hati. "Entah mengapa, kali pertama aku bertemu denganmu di zaman ini, aku merasa sedih. Selama ini, aku selalu bertanya-tanya, apa yang aku rasa? Tak butuh lama untuk mengetahui jawabannya."

Gadis itu menarik napas sebelum melanjutkan dengan suara yang terancam tangis. "Kau mungkin akan benci bila mendengarnya, tapi ... bagiku kau mirip dengannya." Satu nama hanyou itu masih saja berat untuk diucapkan oleh Kagome. "Warna rambutmu, matamu. Sifat kalian sepintas terlihat bagaikan bumi dan langit. Namun, aku meyakini bahwa engkau sama dalam hal menyembunyikan perhatian dan memiliki kepedulian besar kepada orang di sekeliling kalian."

Suara Kagome mulai sedikit parau, "Sesshoumaru, kau ada saat aku menantinya. Bertahun-tahun kuhidup di atas harapan hampa. Ketika aku akhirnya menerima ketiadaannya lagi di bumi ini, kau menjadi tempat utamaku 'tuk bersandar."

"Menghabiskan waktu denganmu, meski dalam kesunyian, membuatku merasa damai. Kau seakan membawa kenyamanan masa lalu. Kau mengusir kegundahan dan membuat jiwaku tenang. Aku bisa merasa bahagia dengan diriku sendiri." Kagome tertawa kecil dalam gundah. "Lama-kelamaan, aku selalu ingin bersamamu. Dan itu ... " ia menengadahkan kepala.

Mata Kagome terpaku pada permadani malam bertabur bintang sebelum kembali menatap laki-laki yang telah membuatnya hari-harinya kembali cerah. Ia pun menyelesaikan kalimatnya dalam satu hela napas, "Kau membuatku berpikir keras satu bulan ini. Sungguh!" ia mengangguk. "Apa yang sebenarnya kumiliki untukmu? Apakah itu rasa sayang sebagai sahabat? Atau ... "

Kagome tersenyum sendu. "Pada awalnya, aku tak terlalu memikirkannya. Karenamu, aku senang dapat mengenang dia tanpa merasa terpuruk. Namun, waktu terus bergulir. Rasa yang kumiliki padamu semakin tumbuh. Tak mungkin lagi aku menikmati waktu bersamamu tanpa ingin menjadi lebih dekat. Ketika aku mengakui perasaan yang kumiliki untukmu, saat itu pula rasa bersalah menghantamku. Tak pelak, aku merasa kecewa pada diriku sendiri. Aku layaknya orang jahat yang memanfaatkanmu demi kenyamanan diri sendiri. Selain itu, aku merasa berkhianat padanya. Hatiku telah terbagi."

Gadis itu tersenyum kecil atas apa yang baru saja terlintas di benak. "Dan sekarang, aku tak ingin membebani diriku. Aku ingin terbebas dari rasa bersalah, aku akan jujur pada diriku sendiri, juga padamu."

"Inuyasha adalah laki-laki pertama yang kukagumi sepenuh hati." Setelah ribuan hari berlalu, akhirnya Kagome berhasil mengucapkan nama hanyou yang menjadi cinta pertamanya.

Sesshoumaru mengakar di tempat, ia menyimak.

"Aku ingin selalu berada di sisinya, melihatnya tersenyum, tertawa, aku ingin melihatnya berbahagia." Iris biru kelabu tergenang oleh rasa haru. "Aku ingin segala yang terbaik untuknya, mencintainya pun sebuah kebahagiaan tersendiri."

Tetes demi tetes kristal bening meluncur dari safir indah perempuan itu. "Dan sekarang, kuakui bahwa semua rasa istimewa itu pun kupersembahkan untukmu. Walau sampai kapan jua, aku akan selalu mencintai dan mengingat Inuyasha. Akan tetapi, yang kini bertahta di hatiku adalah dirimu, Sesshoumaru."

Bola mata inu youkai itu melebar sepersekian detik, tapi hal itu luput dari penglihatan lawan bicaranya.

Kagome meraup udara banyak-banyak. Ia sadar bahwa ia baru saja menyatakan perasaan pada seorang siluman jantan yang mungkin saja aseksual. "Maaf ... " ucap Kagome disela isaknya. Bulir kesedihan menganak sungai di pipinya. Dengan menggunakan telapak tangan, ia sibuk menghapus jejak tangis hingga ...

Kedua lengan Sesshoumaru terentang dan menarik Kagome ke dalam pelukan. Ia mendekap tubuh sang miko erat-erat. Satu tangannya menangkup kepala gadis itu, sedangkan yang lain mengusap punggung.

Beberapa detik lamanya, Kagome menikmati kehangatan rengkuhan pria itu. Kendati demikian, ia tahu bahwa ia tidak boleh terbuai. Kenyataan dan impian sering kali tak sejalan. Ia sudah siap membunuh perasaannya untuk kali kedua. Oleh karena itulah, Kagome berupaya memasang topeng riang dan menjaga jarak.

Kagome tersenyum, mereka kembali terpisah selangkah. "Aku-" ia baru saja hendak bersuara saat Sesshoumaru pun memutuskan untuk melisankan segala kegelisahan yang sudah sejak lama menaungi sanubarinya.

"Kagome, kau meraih penghormatanku sejak awal pertemuan kita. Aku memandangmu sebagai sekutu yang dapat diandalkan. Walaupun saat itu aku tak bersedia mengakuinya, bahkan pada diriku sendiri. Sifatmu yang berapi-api, tindakanmu yang pantang mundur, tidak kenal takut bahkan kepadaku, sejatinya membuatku tergugah." Ia berhenti sejenak.

"Pada waktu itu, aku tak tahu apakah rasa itu adalah dorongan untuk membunuhmu atau desakan lainnya. Butuh ratusan tahun tanpa kehadiranmu agar ku berkuasa mengartikannya."

Kagome menengadah, ia mengindahkan dengan sungguh-sungguh.

Sedetik, raut menawan pria itu dilanda kebimbangan. Tatkala pandangan mereka kembali bersirobok, keraguan lantas binasa, ia menyerah pada sentimental khas manusia yang indah. "Sesshoumaru ini telah berjanji dan akan menepati. Tetapi, bukan itu alasan utamaku. Yang membuatku ingin menjagamu adalah kehendak terdalamku untuk senantiasa berada di sisimu, Kagome."

Ia meresapi tiap kata yang Sesshoumaru lisankan dengan saksama. Butuh beberapa detik untuk Kagome memahami bahwa, garis waktu terkadang memang menghadirkan rasa sakit serta pil pahit. Namun, takdir kerap kali menyiapkan hadiah terindah yang tanpa disadari, sudah lama ada di depan mata. Dan, semesta mempersatukan mereka dalam waktu yang tepat.

"Se-Sesshoumaru ... "

Bersamaan dengan kejujuran diri, bongkahan besar yang tertahan di rongga dada terlerai sudah dari raga keduanya. Kelegaan tak terhingga serta merta menyerbu. Insan lain yang lewat di sekeliling mendadak buram sebelum menghilang, yang ada di dunia hanyalah mereka berdua.

Kagome menghamburkan diri, ia membenamkan muka ke dada pria itu. Sang miko tertawa dan menangis disaat bertepatan. Tangannya merenggut mantel di punggung pemilik Tenseiga. Sesshoumaru pun menyambut gadis itu dengan hela napas puas, suka cita, dan pelukan mesra.

Menit terlewati. Kagome mundur sedikit 'tuk menatap rupa pria yang merajai hatinya. Momen itu, kelopak mata Sesshoumaru setengah terbuka, sepasang emas menatapnya dengan kelembutan, penuh magis. Jarak tertepis, wajah mereka semakin dekat, dekat, dan semakin dekat. Tangan besar Sesshoumaru melingkar di pinggang dan yang satu menangkup bagian belakang kepala Kagome. Bibir mereka berbenturan perlahan. Pertautan pertama dihadiahkan dengan dalam, menggetarkan, dan penuh perasaan.

Kala terberai, Sesshoumaru dan Kagome memandang satu sama lain dengan penuh arti. Sinar mata keduanya memancarkan ikatan cinta. Ikrar baru untuk yang terkasih terjalin melalui bahasa kalbu. Bersama hingga akhir hayat, adalah janji mereka.

.

~Fin~

.