Disclaimer: All the characters belong to Hajime Isayama. No material profit is taken by making this story.
Note: AU, 1694 words (story only).
Other: Champagne Problems by Taylor Swift has inspired me for making this kind of story. I recommend you to listen to this while reading this.
patching up this thing
.
by oceansmyth
Armin duduk sendirian di sana, mengisi kompartemen yang hanya dipendari lampu yang cahayanya redup. Dagu ditopang di tangan, tangah ditaruh di atas ambang jendela, punggung disandarkan ke bangku penumpang yang setengah empuk. Matanya masih melihat ke luar jendela, pemandangan tanah kosong yang disesaki alang-alang terbentang luas sampai bertemu di ujung garis horizon sana, dan lama-kelamaan bertransisi jadi deretan pohon-pohon cemara yang tampak hitam dimakan gelap. Tatapannya masih sama, seperti satu jam yang lalu. Tatapan bosan. Tatapan kosong.
Sewaktu Annie bilang terkadang kau tak bisa memberikan alasan, Armin menangkap kilat di matanya; ada sesuatu di balik iris birunya yang ia anggap cantik. Tangan kirinya bertaut dengan tangan kanan Annie, tangan kanannya disimpan di pinggangnya. Kaki mereka menapaki lantai, mengikuti irama musik waltz di latar. Jarak mereka dekat, itu yang Armin pikir, padahal tidak. Itu bukan jarak di mana Armin bisa menangkap maksud dari semua perkataan Annie di malam itu, tetapi dia merasa sudah mendengarnya; merasa mengerti, padahal tidak. Entah karena suara Annie kurang jelas lantaran berinterferensi dengan suara musik, atau memang ekspetasinya membodohinya terlalu dalam. Bukan pula jarak di mana Armin bisa meraup tubuh Annie ke dalam dekapannya, mencium bibir Annie yang dipoles lipstik merah.
Maaf.
Begitu bisik Annie di hadapannya, nadanya ringan tapi terdengar menusuk. Pikirannya keburu beku begitu tangan kanan Annie lepas dari genggamannya dan pinggangnya bebas dari tenggeran tangan kanannya. Kenapa? dan tunggu dulu tertahan di ujung lidah. Malam itu punggung Annie terlihat tegak; seiring dengan melebarnya bilangan detik, mengecil dan melebur di kerumunan ballroom. Armin hanya berdiri di tempat, tidak mengejar. Malam itu dia merasa banyak mata di wajahnya.
Permintaan maaf, karena setelah kejadian itu, besoknya Annie berhenti membuat kesalahan. Dia sudah tidak pernah muncul lagi, sudah dua hari. Dia sudah pamit lewat kata-kata yang sempat membuat Armin bingung, lewat kata maaf yang tiba-tiba mampir ke dalam telinganya. Armin tidak marah, tidak pernah boleh.
Malam ini sepi, hanya ada samar-samar suara dengkuran dari penumpang yang entah di mana posisinya dan suara deru mesin yang melaju di atas rel besi. Armin tidak tahu apa ini lebih buruk dari hingar bingar kota London yang dijejali oleh berita kekalahan Jerman yang masih diperbincangkan atau berita kematian Adolf Hitler dan istrinya Eva Braun yang dibincangkan dari mulut ke mulut di pagi hari saat berdiri di platform stasiun. Mau telinganya diringkuk senyap ataupun dirundung bising, untuk saat ini rasanya sama saja. Kosong.
Udara dingin menyusup ke celah-celah gerbong kereta dan merembes ke permukaan mantel coklat yang tidak dia tanggalkan. Dingin, tetapi Armin tidak bergidik. Entah karena pengaruh tiga teguk sampanye yang dia minum diam-diam di tengah sepi, atau dia memang sudah mati rasa. Sendiri saja, ditemani gelap dan sunyinya malam di bulan November yang perlahan membeku. Tidak ada percikan dan ciptratan dari botol sampanye yang dibuka secara serampangan dan suara riuh yang merebak dari teman-teman bodohnya.
Hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan, 'kan? Setidaknya untukku begitu, diucapkan pada Armin oleh Annie yang dibalut gaun krem yang meringkus lekukan tubuhnya, disaput terangnya iluminasi ballroom. Terdengar seperti retorika, jawabannya tampak jelas di mata, tetapi Armin menolak untuk mengakui karena baginya tidak begitu. Sebelum bisa menjawab, Annie malah minta maaf. Wajah Annie malam itu masih tertinggal di memorinya, masih terlihat cantik. Annie selalu cantik; tidak banyak berubah, dia masih terlihat sama seperti di foto yang Armin selipkan di dompetnya. Armin belum membuang foto itu, belum tega, belum siap.
Armin merogoh saku mantelnya, mencari-cari sebuah pemantik usang pemberian sang kakek. Dirabanya sebuah kertas, sobekan karcis sepertinya. Didapatnya sebuah cincin—milik ibunya, yang seharusnya sudah melingkar di jari manis Annie. Dia mendengus, padahal belum sempat melamar, tetapi sudah ditolak duluan. Dia merasa tolol. Pemantik digenggam, sebatang rokok disematkan di bibir, disulut tiga detik kemudian. Ujung rokok menyala, merah warnanya.
Aku kira kautahu, Annie suka bilang begitu, diikuti kepulan asap rokok yang dihembuskan oleh mulutnya. Rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan tengah Armin kembali disesap, satu napas sekaligus asap dihembuskan. Biasanya, setelah bilang begitu, ada senyum tertinggal di wajah Annie. Seperti mengajak berjenaka, tetapi nadanya sedikit serius bercampur santai. Armin suka itu. Sampai sekarang, masih.
Akan tetapi, terakhir kali Annie bilang begitu—seminggu yang lalu, wajahnya datar sampai akhir. Ada nada ketus yang mengalun sembunyi-sembunyi. Aku kira kautahu, harus Armin jawab tidak. Armin memang betul-betul tidak tahu. Armin tidak tahu kalau Annie mau berhenti, apalagi jika tidak ada alasan yang jelas begini. Apalah otak genius yang selalu orang puji kalau tidak bisa dipakai untuk mengerti problematika yang romansa ini? Armin kembali mendengus, sampanyenya kembali diteguk, hangat menerjang tenggorokan.
Terkadang kau tak bisa tahu alasannya—iya, iya, tapi memangnya sesulit itu hanya untuk memberikan sebuah alasan yang rasional? Logika Armin diacak-acak. Annie bagaikan ranjau yang kalau salah merespon, kau akan kacau. Annie tidak pernah bilang apa-apa padanya. Selalu seperti itu. Seperti dia yang tidak pernah protes pada Armin yang suka tidur di atas meja kerjanya dengan lampu masih menyala. Atau, dia yang tidak pernah mengeluh pada Armin yang sering datang terlambat ke acara makan malamnya lantaran terlalu asyik mengolah data eksperimen di laboratoriumnya. Juga, dia yang tidak pernah menyalak pada Armin yang suka memeluknya erat dari belakang begitu mereka tidur satu ranjang. Annie selalu begitu, tidak pernah banyak bicara jika dia pikir itu hal yang tidak perlu. Dan, dia pikir semua yang terjadi belakangan ini tidak perlu diutarakan sebab dia berasumsi Armin nanti tahu sendiri, sadar sendiri.
Realitanya, Armin bingung. Dia pikir ini bisa dibicarakan baik-baik, tidak perlu sampai sejauh ini. Mereka sudah lima tahun kenal satu sama lain, dua tahun sudah menjalin hubungan. Masing-masing dari mereka tahu, sangat tahu bagaimana cara menghadapi satu sama lain. Hal ini konyol. Malam itu tatapan mata Annie menerobos mata Armin yang irisnya senada, raut wajahnya menuntut Armin untuk paham.
Pemandangan di luar jendela yang manik birunya tangkap tidak jauh beda sejak keberangkatannya dari stasiun. Hitam dan hitam lagi, selewat terlihat pendaran-pendaran cahaya dari jendela perumahan di ujung sana. Seorang pria paruh baya melongok dari pintu kompartemennya, seorang kondektur. Hanya anggukan kepala dan senyum tipis yang dia berikan sebelum kembali berjalan ke depan, Armin tidak membalas senyumnya. Sudut bibirnya terlalu berat untuk diangkat.
Kereta berhenti di stasiun kedua setelah dua jam perjalanan berlangsung, cahaya kuning dari lampu stasiun menyorot silau dari pinggir. Dilihatnya hanya dua tiga orang yang berdiri di platform, petugas stasiun. Lima menit selanjutnya, kereta kembali beroperasi. Lajunya tenang, sesekali getaran merambat ke tubuh Armin karena rel yang tidak mulus. Rokok pertama sudah habis disesap, menyisakan tiga senti sebelum apinya dipadamkan. Sampanyenya sudah habis setengah botol, tetapi dia belum dibekuk rasa mabuk, pun kantuk. Kata-kata Annie malam itu masih berputar di benaknya, meskipun sudah setengah mati Armin lupakan.
"Sialan."
Dia tidak tahu harus bilang apa pada teman-temannya soal hubungan dia dan Annie. Dia tidak tahu harus apakan perasaannya. Dibuang? Andai semudah itu. Dia jatuh terlalu dalam, kini merayap keluar terlihat sulit. Ini bukan sulit yang membuatnya tertantang, seperti konundrum adanya gelombang gravitasi di ruang angkasa sana. Ini sulit yang membuatnya pasrah, seperti hilang arah.
Akan tetapi, kalau memang hubungan mereka sudah tak bisa dipertahankan, lebih baik berpisah daripada memegang duri sembari dengan tololnya percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Armin tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun dia sendiri masih tidak paham kenapa harus berakhir seperti ini. Masih tidak paham di mana letaknya duri-duri dalam hubungannya. Dia kira selama ini mereka berdua baik-baik saja. Dia kira Annie tidak akan pernah pergi.
Benar-benar membingungkan.
Dia tidak mau berpikir lagi.
Alasan Annie pergi begitu buram, abu-abu, dan misterius.
...
"Aku kira selama ini kautahu," Annie menyesap rokoknya, asap dihembuskan ke dalam udara malam London yang sibuk, "aku merasa bodoh, Armin. Baru sadar."
Sewaktu mata Armin melirik wajah Annie dari sudut matanya, ada senyum yang dipasang di sana. Wajah Annie masih cantik, tidak luntur dimakan waktu. Armin ikut menyesap rokoknya, kepulan asap membumbung di antara mereka. Dia ikut tersenyum di antara bunyi klakson yang bising di bawah sana dan gaduh yang meriuh di dalam bar.
Dan setelah dua tahun, Armin masih dibuat bingung. Konundrum ini berlangsung lama. Ini kali pertama mereka kembali bertemu. Matanya bertemu dengan mata Annie yang duduk tenang di balkon, gelas alkohol digenggam di tangan kirinya. Kilatan mata biru Annie masih cerah, tetapi tampak kosong. Masing-masing dari mereka menarik pandangnya ke depan, seperti menghindar.
"Aku juga. Dari semua orang yang pernah kutemui, aku kira kau. Kau tiba-tiba begitu, mana mungkin aku tahu."
"Aku kira, aku bisa kalau itu bukan denganmu."
Aku juga tidak disuarakan, menggantung di lidah. Armin hanya tertawa kecil, antara tertawa miris dan sinis.
"Kenapa tertawa? Kau mengejekku?"
Armin mendengus geli. "Jangan asal menyimpulkan."
Pandangnya ditaruh pada langit gelap kota London, beberapa bintang terlihat menggantung di atas sana. Cahayanya kalah dari lampu-lampu bangunan yang menderang. Annie juga melakukan hal yang sama sambil menopang lengannya pada meja di depannya, duduk bersisian dengannya. Armin merasa semua memori terulang, duduk di balkon bar sambil berbincang hal bodoh karena setengah dilanda mabuk. Rasanya dia ingin kembali seperti dulu, mencuri ciuman dari bibir Annie dan mendapat delikan dari mata tajamnya. Dia ingin melakukannya lagi.
Rambut pirang Annie dibelai angin malam, berantakan. Armin gatal, rambut sampingnya menghalangi wajah Annie. Jemarinya menyusup ke dalam helainya, menyisir pelan. Annie tidak protes, dari raut wajahnya dia tidak keberatan. Dia terlihat menikmati sampai Armin kembali menarik tangannya. Senyum masih tertahan di sana, manis.
Satu napas ditarik, dihembuskan bersamaan dengan asap rokok yang menyembul dari mulut. Armin masih tidak percaya kalau hari ini benar-benar ada, di kala dia kembali menikmati malam bersama Annie.
Rasanya seperti Armin kembali lagi pada gadis itu, kembali untuknya, setelah dua tahun ditinggal tanpa kejelasan yang pasti. Rasanya kali ini dia bisa meraup Annie dari dunia, merengkuhkan tubuhnya pada pundak gadis itu untuk ratusan kali.
"Jangan melakukan hal yang tidak jelas begitu lagi," Armin bicara, nadanya ringan, "nanti kita sama-sama jadi kacau lagi."
Menyentuh dagu Annie, Armin membuatnya mendongak dan memajukan wajahnya, memangkas jarak di antara keduanya. Bibir Annie yang dipoles lipstik tipis memabukkan, juga bau nikotin yang menempel padanya dan samar-samar rasa alkohol di lidahnya. Annie tidak menolak, Armin merasa menang.
Seperti ini saja, sudah cukup bagi Armin.
Mau bagaimanapun, Armin hanya ingin kembali pada Annie. Dia masih, dan akan terus menyukai Annie.
Malam itu, cincin milik ibu Armin melingkar di jari manis Annie. Begini saja, sudah cukup bagi mereka.
fin.
A/N:
thank you for reading this. kritik, saran, atau review apa pun akan sangat diapresiasi.
