Guard Post Merdeka

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Leopard2RI

Selamat membaca


"Hey Boruto, Natal sebentar lagi tiba. kau hendak liburan kemana?"

Kalimat pertanyaan pembuka obrolan dilontarkan oleh seorang pria dengan rambut kuncir hitam legam berseragam Militer Malvinas pada seorang pria yang ia panggil dengan nama Boruto di sampingnya.

"He? kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

Boruto, balik bertanya pada si pria berambut kuncir.

"Jawab saja apa susahnya sih!"

Si Pria berkuncir menatap Boruto dengan pandangan sewot. kesal dengan jawaban tak memuaskan yang keluar dari mulut pria berambut kuning itu.

Boruto terkekeh geli melihat ekspresi si pria berambut kuncir. sudah 4 tahun mereka bersahabat, tapi tak sedikitpun ia bosan untuk membuat pria ini kesal atas kebodohan yang ia buat.

"Yahhhhhh, mungkin kembali ke rumah. berkumpul bersama keluargaku. Ayah, ibu dan Himawari juga bibi Tsunade.."

"Memang ada apa?" sambung Boruto.

"Tidak, tidak ada apa-apa. aku hanya iseng bertanya"

Si Pria berkuncir menggosok kedua telapak tangannya satu sama lain untuk menghilangkan rasa dingin. hari ini cuaca memang seolah Dzolim pada mereka semua. Pagi tadi hujan deras, tadi siang hujan badai, malam ini dingin seperti di kutub.

Demi Tuhan jika ia bisa mengendalikan cuaca maka ia buat Pagi hari selalu cerah dan malam hari selalu hujan. agar ia bisa beraktivitas dengan tenang saat pagi hari karena cuaca bersahabat dan bisa tidur dengan nyenyak di malam hari sembari ditemani suara hujan.

Malam hari ini Boruto dan Shikadai—nama pria berambut kuncir itu, sedang menjalankan tugas piket mingguan di salah satu menara pengawas perbatasan Indonesia-Malaysia. mereka berdua tergabung dalam Satgas Merah Putih dari TNI-AD yang bertugas mengamankan jalur perbatasan dari penyelundup atau penyusup yang berniat masuk atau keluar dari wilayah Indonesia tanpa izin.

Menara pengawas yang mereka tempati bernama Guard Post Merdeka, atau sering disingkat GP 1945. Menara pengawas ini menjadi satu satunya menara pengawas yang terdapat di sektor D yang membentang 1 kilometer dari ujung Guard Post Merdeka ke menara terdekat selanjutnya.

Keduanya masih muda, sekitar 22 tahun dengan pangkat Sersan satu. sudah masuk bulan ke 9 mereka ditugaskan di Kalimantan. satu Minggu lagi mereka akan pulang ke rumah masing-masing. sekaligus mengambil jatah cuti Natal yang jumlah harinya bahkan kurang dari jumlah seluru jari di satu telapak tangan manusia normal.

"Hei Shikadai, kau ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu!"

Shikadai menoleh malas pada Boruto. iris jadenya mengerjap lambat. tanda kesadarannya sudah diambang batas.

"Hmm" jawab Shikadai sekenanya.

"Kau ingat seorang gadis yang pernah kuceritakan padamu dulu?"

Erangan malas dilempar Shikadai sebagai respon atas pertanyaan Boruto. leher pria itu sudah tak mampu lagi menahan beban kepalanya yang semakin menunduk karena kantuk.

"Namanya Sarada. dan tadi sore ia mengajakku makan siang di rumahnya!"

"Lalu kau tahu apa yang selanjutnya terjadi???"

Boruto menggoyang pundak Shikadai yang mulai terlelap.

"Aku berhasil menyetubuhi nya! MENYETUBUHI GADIS CANTIK ITU SHIKAAAA..!!"

"Terus?"

Tungkai kaki Boruto menghajar tulang selangka Shikadai hingga pria itu terjatuh dari kursi tempat ia duduk. pria berkuncir itu tersadar dari kantuknya dan kini mengerang kesakitan.

"Anjing, kau kenapa sih!"

Shikadai memegangi lututnya yang terkena serangan telak Boruto. sementara si Pelaku hanya memandangi nya dengan raut wajah antagonis.

"Kau yang kenapa! aku sedang bercerita malah kau cuek bebek gitu, Brengsek kau"

"Ceritamu tidak penting dan tidak ada manfaatnya dalam hidupku, Boruto" balas Shikadai yang masih terkapar di lantai setelah jatuh dari tempat ia duduk gara gara ulah pria berambut kuning itu.

Boruto menarik kerah seragam Shikadai, membantunya untuk kembali bangkit dan duduk di kursi.

20 menit berlalu. jam digital Boruto menunjuk angka 2.58. sudah hampir masuk masa subuh dan hanya mereka berdualah tanda eksistensi manusia di tempat ini. suasana sangat hening, tidak ada suara jangkrik yang saling bersahutan di hutan belakang menara, bahkan hembusan angin yang menerpa ranting dan dahan pohon pun tidak terdengar di telinga. hanya suara hembusan nafas dirinya dan Shikadai yang saling berpacu satu sama lain.

"Boruto..."

"Ya?"

"Menurutmu kenapa TNI membangun pos disini?"

Shikadai mengeratkan pelukan tubuhnya pada senapan SS-1 yang ia sandang. suhu udara begitu dingin walau Jaket dan kaus tangan sudah mereka berdua kenakan.

"Sudah jelas kan? untuk mengawasi para penyelundup yang berniat masuk"

Jawaban yang masuk akal. tapi bukan jawaban yang memuaskan untuk pria jenius seperti Shikadai.

"Kalau itu aku tahu, maksutku, kenapa mereka mendirikan pos yang terisolir dari perkampungan bahkan dengan pos TNI yang lain?"

"Pos terdekat milik Tentara Malaysia saja berjarak ratusan meter dari sini"

Boruto menoleh malas. kenapa si sialan ini selalu menuntut jawaban yang rinci dan rumit. tidakkah ia tahu Boruto sedang mengantuk dan kedinginan hingga malas untuk sekedar berpikir.

"Cih, cari tahu saja sendiri" respon tak ramah ditujukan pada Shikadai. "Sudahlah, tetap fokus. Shift jaga kita sebentar lagi selesai"

"Tehe, apa kau takut Boruto?"

"Sapa yang takut setan! aku ngantuk"

Beberapa saat kemudian mereka berdua kembali hening.

Keheningan tak berlangsung lama setelah suara gesekan daun dan ranting terdengar dari arah hutan di depan pos tempat mereka berdua berjaga. Shikadai berinisiatif menyorot lampu senter ke sumber suara sedang Boruto mengawasi dari balik teropong.

"Apa itu?"

Sekarang tak hanya suara, semak semak dimana sumber suara itu terdengar juga ikut bergerak. seperti ada sesuatu yang hidup sedang bergerak di antara semak dan pepohonan disana.

Netra Boruto menangkap siluet orang yang tengah berjalan di tengah deretan pepohonan. namun tak hanya satu siluet, tapi ada sekitar 7 hingga 10 siluet yang terlihat di lensa teropong miliknya. mereka berbaris layaknya dalam formasi tempur.

"BERHENTI DI TEMPAT!"

Shikadai dan Boruto menodongkan senapan dan menyorot lampu senter pada siluet yang tadi Boruto lihat.

"BERHENTI DAN ANGKAT TANGAN KEATAS. JANGAN BUAT PERGERAKAN APAPUN!" teriakan Boruto menggema dalam radius beberapa meter dari pos nya. lebih dari cukup untuk bisa didengar oleh sekumpulan orang yang kini tengah berada di bawah bidikan senapan mereka berdua

Salah seorang dari kumpulan itu mengangkat salah satu tangannya. dirinya memakai seragam bermotif corak berwarna coklat dan hijau tua seperti macan tutul. sebuah baret merah menutupi bagian atas kepala. sedang tangan yang satu menenteng senapan Kalashnikov.

Gerakan yang dilakukan orang itu serentak diikuti oleh yang lain. mereka ikut mengangkat kedua tangan, menuruti perintah Boruto.

"Mereka punya senjata" ucap Shikadai begitu ia dan Boruto turun ke bawah dan menghampiri sekumpulan orang yang mereka curigai sebagai penyusup itu.

"Tak sekedar punya senapan Laras panjang saja tapi juga senapan mesin.."

Boruto menunjuk salah seorang dari kumpulan yang membawa sepucuk senapan mesin ringan buatan Russia.

"Kalian siapa? kenapa mendekati area perbatasan sambil membawa senjata?" tanya Boruto kepada seorang pria yang nampaknya pemimpin kumpulan itu.

Pria itu menatap Boruto sembari telapak tangan kanannya ia julurkan ke depan. hendak berjabat tangan dengannya.

"Lettu Arif..."

Boruto menyambut jabatan tangan pria itu. menggoyangkannya pelan sebagai ungkapan ramah tamah.

"Lettu? dari Battalion mana?"

Kini Shikadai yang berinisiatif melemparkan pertanyaan.

"Battalion 1.." balas pria itu pendek.

Boruto dan Shikadai saling berpandangan. mereka tidak mendapat laporan tentang pergerakan unit Battalion TNI lain di wilayah ini. tidak satupun, bahkan Shikadai baru pertamakali mendengar ada unit langsung dari Battalion yang sedang bertugas disini.

Belum selesai keduanya bertanya tiba-tiba salah seorang dari pasukan tadi menghampiri dan menawarkan sebungkus rokok dari kantung seragamnya.

"Rokok?"

"Iya, ini Lucky Strike. enak sekali"

Ragu. baik Boruto dan Shikadai tidak menerima tawaran rokok dari pria itu. rasa curiga masih hinggap di benak mereka tentang siapa orang-orang ini.

"Aku akan melapor pada komandan piket terlebih dahulu. kalian tetap disini!"

Boruto meraih perangkat komunikasi militer yang ia bawa, menyambungkan jaringan pada sang Komandan yang berjarak beberapa Kilometer dari tempat ia berdiri sekarang. saat Boruto sedang sibuk dengan alat komunikasi nya Shikadai memperhatikan para pasukan itu. otak cerdasnya mengabsen setiap detail dari seragam yang dikenakan para prajurit itu sebagai bahan laporan tugas jaga nanti.

"Halo, disini Serigala Putih, anda bisa dengar kami ganti..?"

Jaringan sempat bermasalah saat Boruto membuka komunikasi dengan Komandan piketnya.

"Ya, Markas disini. ada laporan apa?"

"Saya Sersan satu Boruto, Kompi Serigala dari GP 1945, hendak melaporkan pergerakan pasukan TNI tak dikenal di wilayah jaga kami, ganti.."

"Pergerakan Pasukan TNI tak dikenal? apa kau berhasil menghentikan mereka?"

Boruto menoleh sebentar pada Shikadai lalu pada pasukan tak dikenal yang mereka pergoki.

"Siap, berhasil pak!"

"Bagus, bisa kau korek Informasi mengenai asal unitnya? kurang ajar sekali keluyuran di malam hari. pasti mereka mau kabur dari mess!!"

Boruto menoleh sekali lagi pada Shikadai dan pasukan tak dikenal tadi.

"Lettu Arif, bisa kau ulangi asal unitmu tadi? sekalian nama kesatuannya!" pinta Boruto pada pemimpin pasukan yang bernama Arif.

Ada jeda cukup lama setelah Boruto meminta Arif untuk menyebutkan asal unit dan kesatuan nya.

"Hei, apa kau tidak dengar?! tolong sebut-

"Kau yakin ingin mendengar asal kesatuan kami Boruto?"

Arif bertanya dalam nada datar. suaranya mendadak parau dan dingin. Shikadai memundurkan langkahnya, merasa ada sesuatu yang salah. namun Arif tetap mematuhi arahan Boruto untuk menyebutkan asal unit dan kesatuannya.

"Lettu Arif, Battalion 1, Resimen Para Komando Angkatan Darat..."

Tepat setelah Arif mengatakan itu jaringan komunikasi dengan markas pusat mendadak terputus dan diikuti bau hangus bercampur busuk menyengat disertai jerit kesakitan terdengar dari arah Guard Post Merdeka.

Mulai pagi hari itu Boruto dan Shikadai tak akan pernah lagi bisa merayakan Natal maupun hari besar lain bersama keluarga mereka.

*

*

*

*

Karena kemenangan dan rasa dendam akan kegagalan waktu yang lalu, maka dilampiaskanlah semuanya sehingga banyak anggota yang bertempur dengan berdiri tanpa menghiraukan tembakan-tembakan musuh. Lettu Arif beserta 10 anggota peletonnya bertempur hingga nafas terakhir mereka di tengah kepungan pasukan Inggris dan Malaysia saat Konfrontasi tahun 1964.

Jenazah mereka tak pernah ditemukan hingga sekarang. Pasukan Inggris menghujani posisi mereka dengan bom dan roket yang tak terhitung jumlahnya. kemungkinan besar jenazah mereka sudah bercampur dengan tanah tanpa sisa satu tulang pun.

Namun banyak yang beranggapan bahwa mereka masih hidup dan akan terus berkeliaran untuk menuntaskan misi mereka yang belum selesai di dunia ini