Bungo Stray Dogs belongs to Kafka Asagiri and Sango Harukawa
[Soukoku]
He Wasn't There, Before
For #ChristmasForYou #BSRMySnowman
Otak dan hati seorang manusia itu sejalan dan beberapa kali menimbulkan sebuah anomali; kadang ketika kita mencoba mengabaikan sesuatu, yang ada malah makin kepikiran.
Bisa jadi, itu pertanda.
Tanda dari masa lalu yang menuntut keinginan yang tak tercapai.
*
Chuuya ingat tapi tak mengetahui nama apalagi mengenalnya. Sosok anak berambut cokelat yang selalu duduk sendirian di luar ketika salju turun tiap malam natal, 25 Desember, di setiap tahun. Dari jendela kamar asrama, Chuuya hanya bisa memandanginya dan kembali menutup tirai. Kemudian, ia akan bergelung nyaman dalam selimut hangatnya sembari berusaha melupakan apa yang baru saja dilihatnya.
Namun, sebagian besar diri Chuuya penasaran; penasaran akan anak itu. Sama seperti tahun sebelumnya, rasa penasaran itu menguap dalam lelap. Hilang keesokan harinya.
Di tahun berikutnya, malam bersalju pada 25 Desember. Chuuya menumpuk kotak dan menjadikannya sebagai pijakan melihat keluar jendela. Anak itu kembali hadir. Kali ini, ia menumpuk tiga bola salju dengan ukuran yang semakin keatas semakin kecil. Ranting yang ditemukan di sekitar ditempelkan pada bola salju tengah, tiga batu berukuran sedang disusun membentuk figur mata dan hidung. Sebuah manusia salju.
Anak berambut cokelat itu sadar tengah diperhatikan. Ia mengadah dan menemukan Chuuya yang mengamatinya dari balik jendela. Sadar karena kepergok mengintip, Chuuya jadi gelagapan. Ia terjatuh karena hilang keseimbangan.
Chuuya meringis sambil mencoba bangkit kembali. Ia menapak pijakannya lagi dan melihat sosok berambut cokelat itu tak lagi di sana. Hanya ada manusia salju alakadarnya yang bertahan di tengah dinginnya malam.
Namun, Chuuya menemukan sesuatu. Di kaca jendelanya, ada tulisan. Dua suku kata, namun Chuuya tak dapat membacanya karena bentuknya aneh. Akhirnya, ia hanya menuliskan ulang di kertas. Mungkin akan bertanya esok hari kepada sang Ibunda.
*
Tahun ini, usia Chuuya memasuki angka sepuluh. Empat tahun sudah ia tinggal di panti asuhan ini, berharap suatu hari akan ada pasangan yang mengadopsinya. Karena itu, ia merelakan permen dan mainan di malam natal demi keinginan yang selalu diidam-idamkannya; sebuah keluarga. Ketika menulis surat permintaan di malam natal, Chuuya tak pernah bosan menggambar tiga figur seadanya tiap tahun. Di tengah adalah dirinya yang tersenyum lebar dalam lingkar ikatan yang baru.
Hingga keinginannya pun terwujud. Seorang wanita berambut jingga—hampir mirip dengan milik Chuuya datang untuk mengadopsinya. Wanita itu ditemani seorang pria berambut panjang dengan tatapan hangat. Sempurna; figur sebuah keluarga yang selalu diidam-idamkan olehnya. Ia bukan satu-satunya anak yang diadopsi oleh pasangan itu. Seorang anak perempuan yang lebih muda dari Chuuya juga ikut.
Chuuya tak masalah, malah lebih senang memiliki saudara. Meskipun sama sekali tak ada ikatan darah di antara mereka. Dan itulah saat ketika ia kembali teringat sosok anak berambut cokelat yang selalu dipantaunya dari jendela asrama. Chuuya bahkan tak mengenalnya, tapi anak itu selalu melekat dalam pikirannya.
"Kau sudah siap, Chuuya?" Wanita berpakaian tradisional itu menepuk bahunya pelan. Chuuya kecil menoleh kemudian mengangguk semangat. Ia mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya dan berkata akan mengunjungi mereka kapan-kapan. Lalu, di sana, ada figur anak itu.
Penampilannya sedikit berbeda dari sebelumnya, entahlah. Atau memang Chuuya yang tak pernah jeli dan sadar bahwa di tubuh anak tersebut terlilit perban sampai leher serta di bagian kepala yang menutupi mata kanannya. Tatapan mereka bertemu kala itu. Anak itu sadar akan Chuuya begitupun sebaliknya.
Chuuya menyadari sesuatu. Ia keluarkan kertas yang sebelumnya berisi huruf yang tak dapat dibacanya. Benar. Tulisan itu terbalik.
Dazai Osamu.
Waktu seakan berhenti hingga bahunya kembali ditepuk.
"Ayo pergi, Chuuya."
Chuuya mengalihkan pandangan dari anak itu dan mengikuti wanita yang menggandengnya. Ketika ia kembali berbalik sekilas, sosok anak itu tak lagi di sana.
Semenjak hari itu, Chuuya tak lagi bertemu dengannya; seorang anak berambut cokelat yang selalu diselubungi aura misteri. Tak ada lagi malam natal di mana ia duduk memperhatikan apa yang dilakukan seorang anak kecil di tengah salju yang turun.
*
Ada satu hari di mana Chuuya mengunjungi panti asuhan. Hari itu, usianya menginjak angka dua puluh.
"Chuuya? Ini kau? Ya ampun, kau sudah besar, ya?" Ibundanya memeluk Chuuya penuh suka cita.
Mereka terlibat dalam percakapan kecil, mengenang masa di mana Chuuya masih tinggal di panti asuhan tersebut.
"Bagaimana kabar orang tua dan adikmu?"
"Mereka baik, Kyouka sudah masuk sekolah menengah atas."
Wanita itu mengangguk-angguk sambil memuji Tuhan atas karunia bahwa anak-anaknya dulu kini telah bernasib lebih baik. Beberapa anak kecil berusia sekitar delapan tahun bermain bersama di luar ketika salju sedang turun. Sang Ibunda memperingatkan mereka untuk segera masuk sebelum cuaca semakin dingin.
"Kudengar kalian pindah ke Yokohama. Aku bermaksud mengunjungimu tapi rumahnya sudah kosong."
Chuuya meringis. "Begitulah, maaf karena tidak memberitahumu terlebih dahulu."
Sang Ibunda mengibaskan tangan. "Tidak masalah. Di manapun kau berada, yang penting kau sukses. Aku senang melihat anak-anakku bisa bernasib baik."
Chuuya kembali memperhatikan anak-anak itu. Mereka tampak sangat bahagia bermain dengan salju. Ada seorang anak yang membuat manusia salju di sana. Hal itu mengingatkan Chuuya akan tujuan utamanya datang ke mari.
"Oh iya, aku ingin bertanya. Apakah dulu ada seorang anak yang bernama Dazai Osamu? Kira-kira seumuran denganku. Dia berambut cokelat dan agak tinggi."
Mendengar pertanyaan Chuuya, Ibunda terdiam. Ia bergerak tak nyaman dan hal itu membuat Chuuya merasa sedikit curiga.
"Bagaimana dia sekarang? Apa dia sudah diadopsi atau kuliah, kerja di suatu tempat? Boleh aku minta alamat atau kontaknya?"
Sang Ibunda menatap Chuuya dengan alis berkerut, bukan respons yang ia perkirakan. Wanita itu menarik napas panjang kemudian mengembuskan napas pelan.
"Chuuya ... Dazai sudah tidak ada di sini sejak tiga belas tahun yang lalu."
Chuuya mengerjap, bingung. Jelas-jelas dalam ingatannya ia melihat anak itu saat akan meninggalkan panti asuhan dan usia Chuuya sepuluh tahun. Yang artinya sepuluh tahun dari saat ini.
"Dazai ... dia meninggal karena hipotermia di usianya yang ke tujuh tahun. Orang-orang menemukan anak itu di samping manusia salju yang dibuatnya. Anak yang malang itu ... dia sudah tak terselamatkan lagi."
Sang Ibunda dapat melihat Chuuya yang menjadi kaku.
"Kalian dulu sangat akrab, sampai-sampai ketika waktunya tidur kalian selalu menuntut untuk tidur sekamar."
"Ini tidak masuk akal. Lalu, kenapa aku tidak bisa mengingatnya?"
Sang Ibunda berpindah ke sisi Chuuya. Ia mengusap lembut bahu lelaki itu.
"Chuuya, kau pernah tertabrak mobil dan ingatanmu menghilang. Chuuya dan Dazai saat itu sedang bermain di luar, tapi Dazai tidak bisa menyelamatkanmu."
Chuuya benar-benar tidak percaya ini. Bagaimana bisa ingatan itu bisa menghilang tanpa bekas sedikitpun?
"Sejak saat itu, Dazai tidak pernah lagi bermain denganmu. Bahkan untuk menemuimu saja enggan. Ibunda sudah berusaha menjelaskan bahwa ini bukan salahnya, tapi ... Ibunda juga terlambat menyadarinya."
Jika Dazai telah meninggal 13 tahun lalu, maka seharusnya dia tidak di sana; di luar kamar Chuuya membuat manusia salju atau ketika Chuuya akan diadopsi.
Lalu, siapa yang ia lihat saat itu?
End
A.n :
Agak melenceng si, masak tema natalan malah jadi agak gloomy XD
